Tampilkan postingan dengan label Edisi Cinta Monyet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi Cinta Monyet. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

Bukan Sakit Biasa

"Orang emang nggak selamanya ada di bawah. Nggak selamanya kalo udah jatuh mesti tertimpa tangga. nggak selamanya juga lagi lari dikejar musuh, akhirnya nyusruk ke lubang. Ada kalanya nasib di bawah, terus bisa naik lagi sedikit-sedikit."

Setidaknya, paragraf diatas adalah satu dari sekian banyak quote dalam buku ini. Inti persoalannya sederhana. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari keluarga Lupus pun ada banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Courtesy: www.goodreads.com

Anyway, Lupus ABG kembali hadir dengan 12 kisah baru. Plus, tips-tips keren yang bakal bikin kamu tambah kece. Cerita-cerita jayus khas Lupus sudah pasti jadi menu utama buku ini. Jangan heran kalau kelakuan Papi yang superpedit itu berubah disini. Selain itu, konteks cerita juga mulai menyesuaikan dengan laju zaman. Ada cerita tentang Papi yang hampir menabrak seorang Nenek, yang menyebrang jalan sambil mendengarkan lagu Raisa, Apalah (Arti Menunggu).

Cerita berjudul "Perpustakaan Kita" barangkali jadi satu bagian eksepsional disini. Bersama "Aids, Aids, Aids... Ciaaat!" kedua cerita ini merangkum kegelisahan dan respon kaum muda atas yang terjadi dalam lingkungannya. Kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dan upaya mengembalikan fungsi rekreasional dari perpustakaan. Khusus untuk ini, perlu diberikan apresiasi tersendiri karena Lupus berhasil mengikuti roda zaman sekaligus menggugah kepedulian kaum muda.



Pharmindo, 18 Januari 2014.

Jumat, 12 Juli 2013

Kerinduan Yang Rapuh - Serial #CerpenSMA Eps.1

Pengantar

Sebagai pembuka, beberapa hari lalu saya sengaja menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk membuka kembali file-file tugas sekolah SMA. Menarik, karena saya menemukan sebuah kumpulan cerpen yang pernah saya buat waktu itu. Tidak terlalu banyak memang, namun saya rasa sudah waktunya cerpen-cerpen itu menemukan pembaca mereka yang sesungguhnya.

Serial #CerpenSMA ini akan dimulai sejak tulisan pertama ini terbit. Semua cerpen telah mengalami  proses editing yang terbatas pada kesalahan penempatan tanda baca dan tipografi. Tidak ada perubahan dalam alur dan pemilihan kata-kata. Saya serahkan pada pembaca untuk menilai tulisan saya. Bagi saya, kumpulan cerpen itu tadi adalah tonggak awal sejarah kepenulisan saya, jauh sebelum blog ini dibuat.

Saya berharap pembaca dapat menikmatinya. Khusus untuk ini, terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih.

Paninggilan, 12 Juli 2013


KERINDUAN YANG RAPUH

Andhita tercinta,

Didalam surat ini aku tuliskan sebuah cerita saat aku telah jauh darimu. Suratku ini akan berisikan kerinduanku padamu. Andhita, apakah kamu akan ikhlas untuk menerima dan membacanya?.

Andhita, akan kuceritakan  betapa rindunya diriku saat kau tak disisiku menemaniku. Mengapa? Karena aku sangat mengharapkanmu untuk kembali bersama menikmati segala kenangan yang pernah kita lalui.


 
27 Juni 2001, tahukah Dhita, hari itu aku sungguh-sungguh kecewa, hari itu aku sadar bahwa kita tak akan pernah bertemu kembali. Aku tak bisa menerima kenyataan itu. Tetapi Andhita, kaupun tahu aku harus terus maju untuk meraih masa depanku. Tak hanya diriku saja tapi dirimu juga.
 
Aku juga masih ingat saat kau melihatku berjalan berdua dengan seseorang yang kini telah menjadi mantan kekasihku. Akupun mengerti perasaanmu Andhita, aku juga tahu kalau hatimu menyimpan sedikit luka karena kejadian itu. Apakah kamu tahu juga kalau selama ini aku pun terluka? Seseorang itulah yang sering membuatku terluka, terluka karena ia berusaha untuk menjauhkan dirimu dari hatiku. Andai waktu itu aku dapat menemanimu, maka tak akan ada lagi luka bagi kita berdua.
 
Namun kini Andhita, aku kehilangan perasaan itu. Aku kehilangan jejak cerita kita, saat kita masih bersama. Aku bahkan tak tahu kini dimana dirimu berada, entah di belahan dunia mana. Tetapi Andhita, aku takkan pernah kehilangan sesuatu dari dirimu yang sampai saat ini menjadi sesuatu yang berharga bagi diriku. Apakah kamu tahu Andhita? Senyummu. Senyummu itulah yang selalu menguatkanku dan mengabadikan dirimu di hatiku.
 
Andhita tersayang,
 
Didalam hatiku kaulah yang terindah kau telah menjadi sekuntum bunga yang mekar tiada hentinya didalam hatiku sampai kapanpun, karena kaulah bunga pertama yang kusimpan di dalam ladang cinta hatiku. Andhita, pernah kucoba untuk menepis bayanganmu yang selalu memaksaku 'tuk merindumu, namun ku tak pernah bisa. Belum lagi dalam kesendirianku ini, belum kutemukan bunga-bunga lain sebagai pendampingmu, aku belum bisa Andhita.
 
Andhita yang manis,
 
Aku ingin bertanya padamu, “ Masihkah kau menyimpan hadiah yang kuberikan?”, aku yakin kamu tentu masih menyimpannya. Andhita, untuk mendapatkan  sesuatu itu aku harus menempuh perjalanan yang tak pernah kuharapkan, tapi demi seorang Andhita, aku tak peduli. Andhita, saat itu hujan seakan ditumpahkan dari langit, akupun resah karena belum kutemukan sesuatu itu, aku takut mengecewakanmu, demi kebahagiaanmu Andhita, aku pun terus mencari walau dalam keadaan basah kuyup. Saat telah kutemukan langit mendung pergi dan matahari kembali bersinar dan menghidupkan kembali harapanku pada dirimu.Akhirnya aku pun bahagia melihatmu menerima dan menyukainya. Dari caramu mengucapkan terima kasih, aku tahu kamu sangat senang.
 
Itulah Andhita, seberkas kerinduanku padamu. Andhita setelah membaca suratku ini, kuharap kau dapat membalasnya. Ceritakanlah padaku tentang indah warna-warni duniamu.
 
Sebelum kuakhiri suratku ini, maafkanlah aku Andhita yang telah tega membiarkanmu pergi begitu saja. Pergilah Andhita, kejarlah keinginanmu karena masih banyak waktu, dan tak usah kau pikirkan lagi lelaki ini yang tebaik dan sangat sayang padamu. Maafkan aku sekali lagi, karena kata-kataku ini yang mungkin terlalu gombal bagimu.
 
Andhita, izinkanlah aku mengirimkan kerinduanku padamu dengan cium, peluk dan bisikan terhangat dari tempat yang terindah di dunia.
 

Bandung, 22 September 2003

Senin, 26 Maret 2012

Antologi Rasa



Persahabatan dan cinta adalah bumbu yang saling melengkapi. Dimana ada sahabat disana ada cinta. Kisah persahabatan empat orang sahabat karib, Keara, Harris, Ruly, dan Denise mengingatkan pada empat sahabat di Traveler's Tale. Farah, Retno, Francis, dan Jusuf. Kisah mereka pun tidak jauh berbeda. Hanya saja, empat sahabat di Antologi Rasa ini tidak mengalami cinta yang melingkar diantara sesama karakter. Keara mencintai Ruly, Ruly mencintai Denise, Harris mencintai Keara, Denise mencintai suaminya. Ada link yang putus disitu. Sedangkan, Traveler's Tale melibatkan perasaan yang saling bertautan antara tokoh-tokohnya. Farah mencintai Francis, Francis mencintai Retno, Jusuf mencintai Farah, Retno mencintai Francis tapi terhalang keyakinan.

Keara, Harris, Ruly, Denise, Panji, Dinda dan para pemeran pendukung lainnya terlibat dalam suatu kompleksitas manusia modern khas kaum urban metropolitan. Rutinitas pekerjaan dan rumitnya hubungan persahabatan ketika cinta mulai menancap pada rasa adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dihindari dan selalu menuntut untuk dijalani.

Keara, mencintai seorang Rully Wilantaga. Lelaki sempurna yang hanya ada dalam pikirannya. Sama seperti Farah Babedan, Keara menyimpan perasaannya saja tanpa mampu mengungkap satu kalimat sederhana. Sesederhana, i love you. Itu adalah hal yang mustahil. Sayangnya, Rully hanya menyimpan cintanya pada Denise. Walau Denise telah menikah.

Begitupun, Haris Risjad. Sahabat Keara yang jatuh cinta juga pada sosok Keara, sahabatnya. Semua yang Harris lakukan untuk Keara tak lain karena perasaannya. Sebagai bentuk atau perwujudan rasa sayang pada Keara yang hanya dia tahu saja. Menemani Keara untuk pindah dari panggung ke panggung di sela-sela F1 Grand Prix di Singapore, membawakan sarapan bubur ayam dan menikmatinya di mobil bersama Keara sebelum bekerja. Itu hanyalah sedikit dari wujud perasaannya.

Siapa bilang persahabatan tidak menemukan ujian atas kesetiaan seorang sahabat. Harris melakukan sebuah kesalahan dalam persahabatan yang mereka bina selama ini. Ada semacam aturan. Sahabat tidak akan meniduri sahabatnya sendiri. But, Harris just did that to Keara. Satu scene yang cukup menaikkan tensi cerita.

Keara, yang mencoba bangkit setelah memutuskan persahabatan dengan Harris, mencoba bermain-main dengan perasaannya.  Bukan untuk serius. Hanya sebagai pelepasan dan sekedar lari dengan kenyataan. Bahwa dirinya masih bisa bermain dengan Panji adalah suatu kenikmatan tersendiri. Ketika Rully tidak lagi menjadi pilihan dan hanya jadi angan semu belaka. Terlebih, ketika sahabat terbaiknya, Harris Risjad telah mengecewakannya.

Setelah melalui berbagai peristiwa takdir, cinta memang akan selalu menemukan jalannya sendiri. Denise, akan selalu dicintai suaminya. Kegigihan Harris untuk mengembalikan kepercayaan Keara membuahkan hasil yang sempurna. Semua orang akan kembali pada takdirnya masing-masing. Seperti Rully, yang entah sadar atau tidak bahwa cintanya pada Denise sudah gagal sejak pertama kali bertemu. Seperti cinta Komako pada Shimamura*.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membuka halaman awal Antologi Rasa, pikiran saya langsung merujuk buku Traveler's Tale karya kolaboratif empat penulis (@adhityamulya , @istribawel , Alaya Setya, Iman Hidajat). Kisah empat orang sahabat yang saling mencintai namun sama-sama terlalu takut untuk mengungkapkannya. Suatu kenyataan yang sangat realita pun ternyata mampu hadir dalam ranah fiksi. Suatu kenyataan yang justru menyimpan core values dari Antologi Rasa. Ika Natassa sangat berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dalam ceritanya, sendirian. Pembaca tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya seorang penulis menciptakan empat tokoh berbeda dalam satu kepalanya saja. Termasuk detail cerita menjadi nilai tambah dalam membangun kerangka dan konteks cerita dalam imajinasi pembaca.

Melalui latar cerita berbumbu gaya hidup dan tren kosmopolis urban metropolitan, Ika Natassa berhasil menggambarkan detail cerita menjadi lebih hidup dan meriah. Seakan kita semua mengalaminya sehari-hari. Tidak salah bila Antologi Rasa seakan selalu 'memaksa' pembacanya untuk membuka halaman demi halaman. Selalu penasaran untuk mengetahui kelanjutan cerita sampai akhir. Menikmati sketsa adegan-adegan cerita yang filmis ditambah iringan lagu-lagu dari The Cardigans dan John Mayer semakin menambah kemeriahan rasa.

Saya pribadi lebih menyukai detail-detail dalam cerita yang membuat buku ini layak mendapatkan tag sebagai 'page turner'. Diantaranya adalah pada saat Harris dan Keara berangkat ke Singapore saat berlangsungnya Singapore F1 Grand Prix. Maklum, sampai saat ini saya masih jadi Fans McLaren Mercedes. Semua detail disana cukup membuat saya tersenyum sendiri saat membaca kelakuan mereka berdua disana. Scene favorit saya adalah menjelang ending cerita. Ketika Harris memeluk Keara di mobil usai membuatnya menangis karena pertanyaannya pada Keara. tentang kenapa Keara tidak berterus terang pada Rully.

Persahabatan tetaplah suatu entitas sederhana yang kolektif, dimana individu yang terlibat didalamnya, dengan segenap kompleksitasnya, turut berbaur memberi warna dalam ikatan kebersamaan. Mungkin terselip cinta didalamnya. Tetapi, itu bukan sumber masalah utamanya. Jujur terhadap perasaan sendiri, hal sederhana lainnya yang justru sulit terungkap. Antologi Rasa, setidaknya mengajarkan kita bagaimana memaknai cinta dan berdamai dengan segenap perasaan lainnya dalam ikatan persahabatan.

Judul: Antologi Rasa
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Tebal: 328 hal.
Genre: Novel Pop

Pharmindo-Paninggilan, 14 Maret 2012.

*baca novel "Snow Country" karya Yasunari Kawabata.

Sabtu, 31 Desember 2011

Test Pack


Judul: Test Pack
Penulis: Ninit Yunita
Penerbit: Gagasmedia
Tahun: 2005
Tebal: 230 hal.
Genre: Novel
Delivery date: Desember 2010

Sama seperti Empat Musim Cinta, buku ini juga ditandatangani oleh penulisnya langsung. Betapa bangganya saya saat menerima kiriman paket dua buku ini. Karena selain membantu meningkatkan penghasilan dan penjualan dari pasangan Suami Gila dan Istri Bawel ini saya juga punya sesuatu untuk dibanggakan: tanda tangan penulis. Sama rasanya ketika Prof. Budi Darma dan DR. Seno Gumira Ajidarma sudi menandatangani buku mereka yang saya punyai.
Test pack, sebuah novel metropolitan, ringan dan menghibur. Namun, makna yang dikandung novel ini sangatlah besar. Tidak sesederhana memaknai komitmen antar dua manusia demi janji setia yang telah terucap. Pembaca harus mampu sesensitif mungkin untuk merasakan perjuangan demi mempertahankan komitmen diluar semua pretensi, praduga, dan prasangka yang senantiasa lekat menghampiri. Cerita yang dikemas rapi ini adalah wujud representasi kehidupan manusia modern dengan segala kompleksitasnya sehingga fiksi ini dianggap mewakili suatu realitas kenyataan yang benar-benar dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Sepanjang tahun ini, saya belum mampu juga untuk membuat resensi buku ini karena yang ada di pikiran saya saat itu adalah kebingungan yang sangat.* Saya tidak ingin lantas menjadi orang yang sok tahu dengan hanya menafsir sebuah novel yang membahas kehidupan rumah tangga. Padahal, saya hanya perlu membaca makna dan pertanda akan arti sebuah kesetiaan dalam komitmen berumah tangga. Beberapa pertanyaan yang sepertinya sengaja diselipkan dalam cerita rasanya sayang bila dilewatkan begitu saja. Barangkali, pembaca harus lebih dari siap untuk jujur pada diri sendiri untuk menjawab pertanyaan tersebut.


Pharmindo, 31 Desember 2011.

*cerita ini selesai ditulis hanya beberapa jam menjelang pergantian tahun 2011.

Jumat, 16 Juli 2010

Jemputan Pak Tata (Cinta Monyet #5)

Kalau saja Pak Tata tidak menarik jemputan sambil pulang-pergi mengajar mungkin tidak akan ada cerita. Cerita tentang R, perempuan lain yang selalu ada di Hijet abu-abu itu. Pak Tata, guru Fisika, yang nanti akan segera menjelma jadi tokoh dengan gelar Pak Dollar rupanya cukup tahu siapa saja orang yang bisa ikut mobilnya. Tentu saja, anak-anak kolega dan tetangga. Ketika itu pula saya menyadari bahwa R tinggal tidak jauh dari rumah saya.

Singkat cerita, kadang-kadang sambil menunggu angkot, jemputan sialan itu lewat. Kadang juga, beberapa anak laki-laki manja yang ikut jemputan itu meneriaki kami. Tentu saja kami balas ulah mereka sambil memberi salam pada perempuan-perempuan di dalam lewat lambaian tangan. Suatu tindakan bodoh yang nantinya akan saya sesali. Terlalu bodoh rasanya kalau hanya untuk menunggu kesempatan setiap jemputan lewat dan memberi salam.


Bajai pasti berlalu, begitupun jemputan Pak Tata. Rasanya tidak pernah ada kesempatan untuk sekedar ngobrol sepulang sekolah dengan anak-anak jemputan. Tanpa terasa saya semakin penasaran dengan R dan selalu mencoba untuk mengaguminya. Akibat tindakan bodoh itu pula saya terperangkap dalam suatu keadaan yang tidak pernah saya sadari.

Suatu siang, sebelum dentang bel sekolah, N memanggil saya yang kebetulan lewat samping mobil Pak Tata sehabis dari kantin. “Anggi, kamu sukanya sama P atau G?”, kurang lebih begitulah pertanyaan dari N. FYI, P bukan anak jemputan Pak Tata tetapi G yang justru ikut jemputan dan mereka berdua sekelas. Perlu pembaca ketahui juga bahwa saat itu mereka berdua naksir saya pada saat yang bersamaan.

Di balik jemputan Pak Tata, saya hanya menjawab sambil berlalu dan tersenyum tanpa jawaban meninggalkan N dan P. Terus terang, saya kaget karena mengapa harus P dan G bukannya R. Sorenya, N masih bertanya pertanyaan yang sama. Kalau waktu itu saya tahu G akan berubah seperti saat ini tentu saya akan jawab G. Tetapi, tidak ada yang tahu perubahan itu kapan terjadi. Saya masih berlalu dan menganggap itu pertanyaan tidak penting.

Padahal, kenyataannya saya malah menutupi perasaan saya yang masih dongkol. Saya mengingkari kenyataan bahwa ada dua orang perempuan menaksir saya pada saat yang bersamaan. Saya tidak punya jawaban untuk mereka berdua. Lagipula, ini bukan pilihan ganda, yang bisa saja R jadi pilihan ketiga atau keempat.



Paninggilan, 16 Juli 2010. 01.57



Senin, 12 Juli 2010

Cinta Monyet#4: Hari Pertama

ku terantuk wajah sayu... hari itu bukan sabtu...*

Hari pertama di SMP adalah sebuah kejutan. Berangkat pagi-pagi menuju Jalan Semar. Yang istimewa, teman-teman rumah yang juga kakak kelas ikut nyamper ke rumah. So, we have a walk together dan berpisah di gerbang sekolah. Seperti biasa, ritual pagi itu dimulai dengan bertemu dan berkumpul kembali dengan kawan-kawan SD. Bersama-sama melirik setiap jendela kelas barangkali ada nama masing-masing disana. Tak lama kemudian, kami harus menyadari bahwa ada sebagian dari kami yang tidak akan bersama lagi.

Kalau saya bilang hari pertama itu adalah kejutan maka itu pun tak terlalu salah. Saya bertemu dengan banyak kenalan baru. Sekalipun begitu, dibenak saya masih terbayang wajah E dan A. Kejutan lainnya, saya pingsan pada saat upacara bendera. Entah karena masuk angin padahal sudah sarapan, saya tumbang. Seketika pemandangan disekeliling saya berubah. Ada banyak kunang-kunang. Mirip seribu kunang-kunang di Manhattan**.

Saya tiba-tiba jadi pusat perhatian. Beruntunglah saya karena saya bisa siuman secepatnya. Ketika sepasang mata menoleh, meninggalkan tanya pada sejumput asa. Saya memulai hari pertama sekolah dengan kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Tetapi, saya sadari bahwa kemudian hal itu justru membuat saya jadi pusat perhatian dan bahan obrolan. Sehingga, saya dengan mudah dikenal oleh banyak orang. Kalau waktu itu sudah ada twitter, barangkali pingsannya saya akan jadi trending topic.

Memulai hari pertama dengan perasaan yang tidak menentu membuat saya sedikit malu. Dengan kepolosan anak ingusan saya berhasil melewati hari itu dengan baik. Punya banyak kawan baru dan juga dikenal guru-guru. Dasar anak ingusan, saya pun tidak melewatkan momen-momen untuk sekedar ngeceng anak baru. Sebagai sesama murid baru, hal itu belum dilarang lho oleh Depdikbud.

Ada banyak wajah. Wajah tanpa nama. Mengusik rasa. Hanya ingin sekedar tahu. Terima kasih untuk kesan yang tertinggal.


Paninggilan, 12 Juli 19.25

* dari lirik lagu "Bukan Sabtu", dinyanyikan oleh Kahitna, Album Sampai Nanti (1998)
**dari judul kumpulan cerpen Umar Kayam,”Seribu Kunang-kunang di Manhattan.”


Sabtu, 10 Juli 2010

Cinta Monyet #3: The Soundtrack (Lihat, Dengar, Rasakan)

Bicara tentang kenangan, seperti yang saya pernah sebutkan sebelumnya adalah pekerjaan yang tidak mudah karena harus menggali kembali sisa-sisa memori penuh debu. Akan tetapi, ada kalanya situasi seperti itu bisa menjadi lebih mudah. Saya bicara tentang pengelolaan kesan. Bagi saya, untuk mengingat satu dan banyak peristiwa lainnya sepanjang hidup saya ini, ada banyak variabel yang bisa melengkapinya. Yang paling gampang adalah dengan musik.

Tidaklah terlalu salah bila kita secara pribadi punya soundtrack pribadi yang secara khusus mengingatkan pada momen-momen khusus, tertentu, dan special. Ibarat episode hidup kita ini adalah film bioskop maka musik dan lagu yang pernah mengalun sepanjang film adalah soundtracknya. Masing-masing tentu membawa kisah dan lika-likunya masing-masing.

Sampai Nanti, Album Ketiga Kahitna

Seperti saya yang mencandu berat sama Kahitna. Semenjak kemunculan mereka lewat single perdana “Cerita Cinta” saya mendadak suka. Bagaimana tidak, untuk jiwa yang masih melayang-layang, lirik mereka begitu kuat dan bermakna sekali untuk yang sedang mengalami cinta monyet. Walau tidak pernah punya full album 1 dan 2 tetap saja Kahitna selalu dihati. Album ke-3 dirilis tahun 1998, the year of excitements. Tahun itu juga saya punya kaset album itu, full album. Semua jadi lebih semarak dengan Setahun Kemarin dan Sampai Nanti-yang ada Cut Tari di video klipnya.

Saat cerita ini ditulis, lagu-lagu dalam album itu kembali diputar dalam format MP3. Mengingatkan kembali pada semua tingkah laku bodoh saya kepada E, W, A, Ne, dan I. Semua itu akan tambah semarak lagi dengan idola lainnya, The Moffatts. Pokoknya waktu itu wannabe rockstar family band ini lagi ngetop banget. Album pertamanya, A New Beginning dirilis dalam dua versi di Indonesia, versi original recording dan live version ditambah satu packaging album, For You Indonesia.

Album Perdana The Moffatts, Chapter I: A New Beginning

Selain Kahitna, saya benar-benar menggilai The Moffatts. Saya hampir hafal semua lagu hitsnya. Miss You Like Crazy, I’ll be There for You, If Life is so Short, Girl of My Dreams termasuk If You Only Knew, hasil kolaborasi dengan Gil Ofarim, yang berasal dari tanah Bavaria. Kalau dilihat lagi kebelakang rasanya memuakkan. Geuleuh lah kata Orang Sunda mah. Tapi, saya sadar bahwa itu semua bagian dari masa lalu saya. Bahkan, kaset A New Beginning baru saya beli waktu kelas 2 SMP, tahun setelah masa-masa itu terlewati, itu juga karena seorang teman yang lagi butuh uang.

Soundtrack lainnya? Ada. Kebetulan waktu itu Sheila On 7 baru muncul dengan single Kita. Namun, momen-momen semasa SD sudah terlewati sehingga mereka baru masuk dalam hitlist saya untuk periode Cinta dalam Celana Biru alias masa-masa SMP. Mereka nanti akan mengiringi kisah saya dengan nama-nama lain yang pernah terukir dalam hati ini. Nama-nama yang sempat merajut asa. Asa untuk sekedar merasa.


Paninggilan, 10 Juli 2010. 00.33

Kamis, 08 Juli 2010

Setangkai Mawar di Dahan Lain (Cinta Monyet #2)

Setiap ku memandangmu merana hatiku... Terulang kisah rupa wajah sayu...*)

Sejak saya menulis tentang E di edisi perdana, tiba-tiba ingatan saya tentang masa-masa itu kembali mengalir begitu saja memenuhi benak ini. Sehingga saya harus menata kembali ingatan yang tidak seragam itu. Mengingat kembali tentang E berarti saya wajib mengenang juga sebuah nama. Nama yang kurang lebih sama dengan saya. Hanya saja, nama perempuan yang ini harus ditambah lagi satu huruf vokal dibelakangnya.

Entah sejak kapan saya memperhatikan A, anak perempuan berkacamata di SD tetangga itu. A SD I, saya SD II. Saya tidak tahu tepatnya namun harus saya akui saya memang diam-diam memperhatikannya. Dari kejauhan seringkali saya mengintip keluar jendela. Terutama kalau sekolah pagi karena kami akan bertukar kelas sehingga A pasti sedang menunggu diluar. Maka dari itu, disela-sela keinginan bersama E, kadang terlintas A begitu saja. Saya hanya menikmati kisah ini sendirian. Sebisa mungkin saya pendam supaya hanya saya dan Tuhan saja yang tahu.

Sepanjang pengamatan saya, A seringkali duduk sendirian menunggu kelas bubar. Jarang sekali A berbaur dengan teman sekelasnya. Memang ada beberapa orang yang sering dekat bersamanya, namun itu tidak banyak. Buat saya itu tidak menjadi soal yang penting saya bisa lebih fokus bila suatu saat tidak menemukannya di halaman sekolah. Asumsi saya waktu itu, A adalah seorang penyendiri, loner, solitary minded. Untuk ukuran anak SD saat itu ternyata hal seperti itu bisa jadi desas-desus tanpa sebab.


Saya menemukan kenyataan yang kurang mendukung perasaan saya. Sebab itu pula saya tidak bisa terang-terangan membiarkan perasaan saya untuk A karena E masih terlalu menarik untuk dilepas begitu saja. Dari percakapan dengan teman-teman, saya menyimpulkan bahwa mereka mempunyai pandangan lain terhadap A. Kasarnya, A mengidap suatu kelainan dan kata mereka juga itu bisa tercermin dari kacamatanya. Saya tidak percaya itu. Namun, dorongan untuk mengikuti omongan mereka terlanjur lebih besar untuk menghindari fakta bahwa saya menaruh perhatian pada A.

Padahal, untuk standar saya waktu itu, A tidaklah terlalu mengecewakan. Tidak terlalu tinggi bahkan terkesan pendek dengan tubuhnya yang mungil. Memakai tas punggung warna pink atau biru muda. Rambutnya panjang terurai, kadang dibuat buntut kuda sehingga menyerupai Deo Mi. Terakhir, bagian yang paling saya suka adalah fakta bahwa A berkacamata. Suatu kebiasaan yang kelak belum bisa saya hindari sampai saya menemukan A yang lain.

Keinginan saya untuk sekedar bisa mengobrol atau hanya sekedar berbasa-basi harus saya kubur pelan-pelan. Saya masih tetap menjaga rahasia terpendam ini. Terlebih lagi jangan sampai ada anggapan bahwa saya mengalihkan perhatian pada A hanya karena E terlanjur tidak mau bicara apa-apa lagi pada saya-bahkan untuk tugas kelompok sekalipun.

Ada banyak kesempatan supaya saya bisa kenal dengan A. Sepulang sekolah sambil menuggu bel masuk atau saat les malam di sekolah dimana tidak ada lagi hijab antara anak SD I dan SD II. Sejak saat itu, setiap kali les malam digelar saya lebih sering membuktikan asumsi teman-teman saya itu. She’s not a loner tapi kenyataan bahwa tidak banyak orang yang dekat sebagaimana teman pada biasanya juga membuat saya goyah. Apakah betul A mengidap suatu kelainan, penyakit aneh misalnya. Saya belum bisa membuktikannya karena saya pun tidak yakin A seperti itu.

*

Biarlah aku menyimpan bayangmu
Dan biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih, namun tetap selalu ada
Disini....**)

Selebihnya, yang tersisa dari A hanyalah memori tentang sebuah nama. Sebuah nama yang selalu sendiri, jalani hari dalam keriangan masa anak-anak yang akan segera hilang. Sebuah nama yang entah sama berartinya dengan E. Tidak ada perpisahan dengan A. Bahkan dulu, saya tidak mau bertanya pada temannya yang lain, yang satu kelas dengan saya di SMP. Tetapi, seiring berjalannya waktu, kalau saat ini saya masih menginginkannya saya akan lebih tidak peduli lagi pada omongan orang tentang A.



Paninggilan, 8 Juli 2010. 21.46

*) dari lirik lagu “Bila Saya”, dinyanyikan oleh Kahitna, album Permaisuri (2000)
**) dari lirik lagu “Biar Menjadi Kenangan”. Dinyanyikan oleh Reza Artamevia dan Masaki Ueda
^judul tulisan diadaptasi dari judul yang sama di blog selendang warna

Let Me Begin (Cinta Monyet #1)

Sekilas nampaklah engkau dibalik pintu... tersenyum dikau menusuk hatiku...*)

Sebetulnya, untuk menuliskan hal yang demikian saya masih kurang sreg, mungkin karena melibatkan makhluk Tuhan bernama monyet. Memangnya ada apa dengan monyet sehingga saya masih merasa seperti itu? Baiklah, tidak usah jadi pembahasan karena bukan tanpa maksud juga Tuhan menciptakan monyet. Kalau monyet tidak dipersilahkan turun ke dunia ini barangkali Darwin kehabisan teori untuk mengungkapkan idenya tentang evolusi manusia. Biar begitu, monyet juga memberi makna khusus bagi beberapa penulis. Satu yang saya tahu adalah Mahesa Djenar Ayu, dengan karyanya berjudul “Mereka Bilang Saya Monyet”. Menarik, karena Djenar tidak hanya mampu menulis tetapi juga mengadaptasinya ke layar lebar.

Merujuk pada judul diatas, asumsi umum yang berlaku di dunia kita saat ini adalah suatu masa dimana anak muda menjelang dewasa mulai mengenal dan ingin tahu apa itu cinta. Biasanya ini terjadi pada masa akhir SD berlanjut hingga SMP, dan SMA. Kalau kau mau percaya, hal seperti itu tidak hanya terjadi pada hidupmu yang sudah begitu, tetapi juga terjadi dalam dinamika kehidupan saya. Maka, ketika kau memintaku bercerita tentang mereka aku sempat bingung harus memulai dari mana. Jujur saja, terlalu banyak nama yang harus saya ingat dan sebut-sebut lagi sambil membuka berkas-berkas kenangan penuh debu disela-sela memori yang terbatas ini.

Awalnya hanya rasa biasa. Entah mengapa jadi suka. Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Begitulah yang saya baca dari buku pantun di perpustakaan SD kami yang baru direnovasi. Konon, ada beberapa lembar rupiah yang mengalir dari Yayasan yang dikelola Pak Habibie sehingga perpustakaan SD kami bisa berfungsi layaknya sebuah perpustakaan. Imbalannya, ada banyak buku tentang profil, biografi, dan kisah-kisah pencapaian lainnya di lemari yang masih bau gergaji itu.

Kembali ke pantun tadi. Saya masih belum menyadarinya ketika saya perlahan-lahan mulai menyukai seseorang dari masa lalu. Sebut saja teman TK, namanya F. Entah waktu masih kelas 5 atau di kelas 6, ingatan tentang F mulai pudar. Gantinya, saya mulai melirik teman sekelas. Sebut saja namanya E. E ini rupanya “bos” di kelompok kecil yang guru kami bentuk untuk setiap tugas kelompok. Entah sebab apa Bapak Guru yang baik itu mempersilahkan nama saya masuk di kelompoknya. Omaigat. That’s it.

Kalau saya pikir-pikir lagi, semua kejadian yang berasal dari pembagian kelompok itu hanyalah sebuah kesalahan. Waktu itu, di sekolah kami sedang ramai-ramainya setiap murid punya kameumeut, bahasa gaulnya ‘kecengan’. Saya perhatikan betul, si Ne ngeceng D, si W ngeceng A, dan masih banyak lagi. Kebetulan, dua orang pemalas di kelompok kami, saya dan N, lagi mengobrol karena si ketua kelompok terlalu sibuk dengan anak buahnya yang lain. N bilang E ngecengin saya. Saya tak lantas percaya karena saya tahu betul tidak ada tanda-tanda dari E. Tetapi, si N ini masih keukeuh punya informasi rahasia (maklum, dulu itu kalau sudah main rahasia bisa jadi sesuatu yang benar dan dapat dipercaya). Saya akhirnya menuruti saja dan diam-diam mulai memperhatikan E. And the story goes bang bang boom.

Musim penuh cinta betul-betul saya rasakan. Dari wanginya pun sudah bisa ditebak. Kelas kami selalu wangi setiap hari. Bukan karena semprotan pewangi ruangan rasa mawar melati. Semarak wewangian itu hadir semerbak dari kertas loose leaf warna-warni. Love is in the air. Rupanya,ada beberapa dari kawan kami yang berniat menulis surat cintanya yang pertama dan kesekian kalinya untuk kemudian dititipkan atau sengaja ditinggal di kolong meja. Siapa tahu sang pujaan yang membacanya.

Agak non-sense memang untuk jalan pikiran anak SD waktu itu. Walaupun begitu, saya tidak terbawa oleh arus deras saat itu karena beberapa teman lelaki saya juga melakukannya. Hanya untuk mengungkapkan kata-kata yang sekarang nilainya adalah: Gombal! Saya pikir saya lebih baik melakukannya di rumah saja sehingga mudah-mudahan kata-katanya akan lebih teratur sehingga membuat perasaan E senang.

*

Baiklah, aku tahu kau masih penasaran. Sebentar, aku nyalakan dulu jatah rokok dari atasanku. Surya Pro Mild. Tahan dulu, aku masih mau menyeruput kopi susu yang sedari tadi mulai dijilati semut-semut hitam sialan.

Semuanya terjadi begitu saja and everything’s messed up! Dunia anak-anak adalah dunia bermain betul-betul saya alami, rasakan, dan pahami. Karena sekolah siang, saya selalu bermain sejak Bapak berangkat kerja sampai menjelang jam 11 siang. Pada hari naas itu, saya lupa bahwa saya harus menulis surat untuk si E, pujaan hati yang kian hari kian mempesona dan membakar rasa di dada. Sehabis mandi, saya tidak punya waktu untuk berpikir mengenai apa yang harus saya tulis. Kata-kata itu seketika buyar ketika saya berlari menendang bola dalam terik matahari pagi tadi. Jadinya, menguap begitu saja dan saya benar-benar tidak punya ide.

Untung saja Tuhan menjadikan saya orang yang to the point (waktu itu). Dengan penuh percaya diri, pada selembar kertas loose leaf wangi bunga lily made in China dan bermotif daun-daun kering kecoklatan. Saya menulis: E, I L U. Lengkap dengan tanda hati yang tergores tipis. Saya lipat dan segera saya masukkan amplop dengan warna senada milik adik perempuan saya**). Saya masukkan ke dalam tas, dan saya berangkat sekolah naik sepeda GT yang garpu depannya sudah diganti (yang waktu itu juga lagi musim).

Seperti judul lagu John Paul Young, Love is in the Air

Sesampainya di sekolah, saya menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya pada E. Saya sudah lupa bagaimana tetapi E mau saja menerima surat cintaku yang pertama,***) tanpa curiga. Beberapa saat kemudian, E terlihat begitu marah. Surat itu pun dengan segera berubah jadi bola kecil dan E membuangnya ke arah jendela, lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur.****)

Mereka yang usil tentu saja mengetahui kalau saya sudah menyatakan perasaan saya ke E. Dan apa yang terjadi selanjutnya tidak pernah saya duga, bermimpi pun tidak pernah, mereka semua menertawakan saya. Hasilnya, seisi kelas tahu. Yang lebih parah, sejak saat itu E, tidak pernah mau lagi bicara sama saya walaupun masih satu kelompok. Saya memang telah membuatnya malu tetapi saya masih terus memikirkannya. Saya sadari bahwa saya masih mendambanya karena rasanya ada sesuatu yang membuat saya harus menaruh perhatian padanya.

Menjelang perpisahan SD, kami masih belum mau bicara. Tepatnya, E masih belum mau bicara sama saya. Makanya, waktu itu, sehabis acara paturay tineung atau Perpisahan (tanpa Prom Night), saya segera pulang ke rumah dan melewatkan banyak acara yang sudah disiapkan. Buat saya, acara perpisahan hanyalah keinginan sebagian orang saja supaya dianggap punya nama dan meninggalkan kesan yang baik terhadap sekolah. Saya kayuh sepeda sendirian, tanpa teman-teman yang biasa menemani. Matahari belum meninggi, jalanan tampak sepi dan sedikit berdebu. Belakangan, sikap saya itu saya sesali karena itu adalah saat-saat terakhir kita bisa bercengkerama dengan sahabat yang selalu menemani sejak kelas 1 hingga 6 tahun kemudian. Yang saya dengar, beberapa dari kami larut dalam kesedihan dan menangis. Mungkin itulah yang namanya perpisahan.

Sejak perpisahan itu dan kami masuk SMP, saya belum pernah bertemu lagi dengan E. Saya masih menyimpan penasaran karena saya tidak mampu menahan ego untuk segera pulang ke rumah dan melupakan semuanya. Padahal, saya masih punya satu kesempatan untuk memberikan penjelasan pada E. Saya masih beranggapan bahwa kami akan dipertemukan kembali karena pada hakikatnya saya dan E masih berada di batas kota dan kolong langit yang sama. Kalaupun terpisah, itu hanya masalah jarak saja.

*

Sampai suatu hari, takdir mempertemukan kami kembali. Dan E, masih belum mau bicara, hanya mampu menatap mata saya yang terlanjur berlalu karena malu.



Paninggilan, 8 Juli 2010. 15.46


*) dari lirik lagu lawas “Teringat Selalu”, dinyanyikan oleh Tetty Kadi

**) Saya sadari kemudian, Don’t try this at home!

***) dari lagu lawas “Surat Cintaku”, dinyanyikan oleh Vina Panduwinata

****) dari lagu “Pesawat Tempur”, dinyanyikan oleh Iwan Fals, Album “1910”


foto courtesy Picasaweb