Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2015

Di Kaki Bukit Cibalak




Saya termasuk pembaca yang bersyukur dengan terbitnya edisi cetak ulang dari karya-karya Ahmad Tohari. Sebut saja, Kubah, Senyum Karyamin, Mata Yang Enak Dipandang, hingga Di Kaki Bukit Cibalak. Saya tidak lagi perlu bertanya-tanya kapan bisa membaca karya beliau yang dulu hanya bisa ditemui dalam bibliografi. Judul lainnya, saya rasa tinggal hanya menunggu waktu saja untuk diterbitkan kembali. Republished atau reprinted. 

Secara umum, Ahmad Tohari masih meninggalkan signature individunya yang khas dan detail mengenai latar belakang cerita dalam konteks kehidupan di pedesaan yang sederhana. Latar yang digunakan untuk bukunya ini kurang lebih sama dengan suasana alam yang kental dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-Jantera Bianglala-Lintang Kemukus Dini Hari. Novel ini terhitung novel singkat. Tentu bagi pembaca yang sudah mafhum dengan novel lain karya beliau. 

Berlatar pada tahun 1970-an dimana pembangunan yang digaungkan Orde Baru terasa hingga ke desa Tanggir. Desa yang begitu damai hingga akhirnya penuh kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur. Imbasnya, desa Tanggir menjadi sorotan setelah seorang warganya yang tidak mampu berobat mendapat simpati begitu besar usai kemunculan beritanya di sebuah harian lokal yang terbit di Yogyakarta. 

Adalah Pambudi, putra desa Tanggir yang tersingkir usai berselisih dengan Kepala Desa yang berhasil mengantar Mbok Ralem menuju kesembuhan penyakitnya. Usahanya di kota besar itu kemudian malah menjadi pukulan baginya karena sang Kepala Desa tidak senang dengan teguran dari Pak Camat, yang juga mendapat teguran dari atasannya, Pak Bupati.

Sekembalinya dari urusan dengan Mbok Ralem, Pambudi juga menemui dirinya dalam ancaman fitnah yang dilancarkan mantan koleganya di Koperasi Desa, Poyo. Ia membuat pencatatan laporan keuangan palsu yang membebankan hilangnya kas Koperasi atas nama Pambudi. 

Pambudi merasa tidak ada lagi gunanya untuk melalukan 'perlawanan' di desanya sendiri. Ia dengan berat hati meninggalkan desanya dan pergi ke Yogyakarta. Sebuah keputusan yang tidak mudah karena harus meninggalkan tambatan hatinya, Sanis. 

Petualangannya di Yogyakarta membawa Pambudi pada petualangan baru dalam hidupnya. Ia sudah bertekad untuk ikut ujian masuk kuliah. Ia juga sempat bekerja pada seorang pedagang arloji dan akhirnya berlabuh kembali ke harian 'Kalawarta'. 

Keberhasilannya di Yogya bukan tanpa tragedi. Pambudi harus merelakan Sanis diperistri oleh sang Kepala Desa yang culas dan bajul itu. Kendati begitu, Pambudi lagi-lagi harus mengalami pergulatan batin yang juga tidak mudah kala berhadapan dengan Mulyani, anak pemilik toko arloji majikannya dulu. 

Ahmad Tohari menyajikan sebuah cerita ringan yang sarat konflik tanpa meninggalkan ciri khasnya: alam pedesaan, tokoh anti-hero, dan kesewenangan penguasa. Sekilas, rasanya seperti membaca 'Orang-Orang Proyek' namun dengan jalan cerita yang lebih pendek. Novel ini seakan ingin bercerita bahwa sekecil apapun pengorbanan akan mendapatkan hasil walaupun menuntut pengorbanan lainnya.


Judul        : Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis     : Ahmad Tohari
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Tebal        : 192 hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Fiksi-Nove

Dharmawangsa, 28 Juni 2015

Sabtu, 22 Agustus 2015

Rahvayana 2: Ada Yang Tiada

Sebaiknya dunia yang tak ada harus tetap kita adakan. Kalau perlu, kita ada-adakan. Caranya, yang tidak ada itu harus kita ada-adakan manfaatnya.



Kisah lanjutan dari Rahvayana edisi perdana, Aku Lala Padamu ini masih bercerita soal si ‘Aku’ yang tak henti-hentinya mengagumi Sinta. Sejak pertemuan pertama pada gerimis di Borobudur hingga Rahvayana akhirnya benar-benar melanglang buana tampil di gedung pertunjukan legendaris dunia. ‘Aku’ masih menulis surat-suratnya pada Sinta walau kadang Sinta tak lantas langsung membalasnya.

Saya tidak perlu menjelaskan lagi soal pembebasan pakem Rama-Sinta dari cerita Ramayana yang sudah terlanjur beredar dan kita semua maklum dibuatnya. Rama mengumpulkan pasukannya untuk merebut kembali Dewi Sinta. Pada “Rahvayana 2”, permainan sang Resi Sujiwo Tejo semakin mendetail untuk mengungkapkan apa saja yang terjadi diantara Rama-Sinta. Ia berhasil membuat kedua tokoh itu menampakkan sisi hitam-putihnya.

Pengalaman bersama ”Rahvayana 2” ini benar-benar menjadi suatu perjalanan yang menyenangkan. Menyenangkan karena akhirnya saya dapat gambaran mengenai sosok seorang Indrajit bila memang benar ada dalam kehidupan nyata. Sang pemilik Aji Sirep yang lebih sakti dari milik Wibisana ini menemani si ‘Aku’ sejak dari dalam kereta dari Guangzhou, lalu ke Tembok China dimana si ‘Aku’ mendalang untuk lakon Rahwana dan Sinta diiringi  repertoar yang sakral dan kuno, Gending Ayak-Ayak Slendo Manyuro.

Sinta Gugat

Seluruh perjalanan dan petualangan dalam “Rahvayana 2”; Guangzhou, Tembok Cina, Bali, Siberia, Anna Karenina, Himalaya, dst. Pada ujungnya memang hanya soal Rahwana, Sinta, dan Rama. Menjelang akhir cerita, mulai halaman 233 hingga 234, usai Rama berhasil menemui Sinta setelah dibuat tidak berdaya oleh Lawa dan Kusa, dua anak kembarnya yang ikut Sinta mengasingkan diri ke hutan Dandaka, Sinta ‘menggugat’ eksistensi Rama dalam seluruh lakon Rama-Sinta ini.

“Katanya, Rama hanyalah buih. Ia bergerak atas kehendak samudra Siwa. Kenapa cinta Tuhan kepadaku melalui Rama begitu naif? Masih ia syak wasangkai kesucianku setelah 12 tahun hidup bersama Rahwana di Alengka?”

Sinta masih melanjutkan gugatannya.

“Apakah cinta tak ubahnya dengan pengadilan, yang setiap pihak harus membuktikan segalanya?”

Gugatan Sinta menarik simpati para siluman di Dandaka. Bahkan ada yang mulai menangis.

“Rama, sebetulnya kau mencintaiku atau mencintai dirimu sendiri sehingga kau begitu hirau dengan gosip rakyatmu bahwa aku sudah tak suci lagi setelah hidup bersama Rahwana”

Gugatan Sinta pun berakhir.

“Perang Alengka-Kosala kau canangkan bukan demi cintamu kepadaku, Rama, melainkan demi ketersinggungganmu sebagai seorang lelaki dan seorang kesatria!”

Lagi-lagi, saya harus mempertanyakan Rama. Mengapa Dewi Sinta yang dicurigai sudah tidak suci lagi? Apakah karena dominasi maskulinitas terhadap feminitas Sinta? Lantas, mengapa Rama sendiri menangis di balik bukit kala Hanuman membawakan kalung titipan Sinta  untuk dipakai olehnya sekaligus untuk membuktikan kesetiaannya? Dalam hal ini, memang cinta Rama kepada Sinta perlu dipertanyakan. Bila perlu, diadakan lagi penelitian lebih jauh mengenai hal ini. Apakah sebegitu bersyaratnya cinta Sri Rama terhadap Dewi Sinta.

Barangkali memang Rahwana yang tetap bisa mencintai Sinta, apapun keadaannya. Rahwana memang menyembah dan memuji titisan Dewi Widowati itu dengan caranya sendiri. Rahwana menyembah Zat yang ada itu melalui segenap tirakatnya. Rahwana tetap menjunjung dan mencintai Sinta, walau Sinta berubah menjadi Janaki dan Waidehi.

Hanya Sekedar Komentar

Muatan lain yang jadi titik berat lanjutan ‘Aku Lala Padamu’ ini adalah satu soal filosofis tentang ada dan tiada. Pembaca bisa menilai sendiri persoalan filosofis yang rupanya sempat hinggap di kepala sang Resi Sujiwo Tejo. Soal cover buku, saya rasa ‘Aku Lala Padamu’ memang cenderung ‘lebih serius’ dalam menggarap hubungan antara cover dengan jalan cerita.

“Ada Yang Tiada” punya cover yang cenderung lebih ngepop dan santai. Tiga orang gadis naik mobil sedan kap terbuka. Mungkin, mereka naik sedan Mercy Tiger tahun 70-an dan melintasi jalanan Melawai hingga pinggiran pantai California sana. Entah mengapa, saya membayangkan perempuan-perempuan itu adalah Gwen Stefani, Mariana Renata, dan Katy Perry, sang pelantun ‘California Girls’. Entah. Entah mengapa. Seperti ada yang tiada.


Judul        : Rahvayana2: Ada Yang Tiada
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 304 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Fiksi-Novel Sejarah


Medan Merdeka Barat, 18 Juni 2015
hari pertama shaum 1436H, ditemani Tragedy dari Bee Gees

Senin, 27 Juli 2015

Slilit Sang Kiai

Courtesy: www.caknun.com

Saya agak keheranan waktu pertama kali menjumpai buku Emha dengan judul seperti ini. Tadinya, saya pikir slilit milik Sang Kiai ini punya kesaktian atau makrifat. Entah digunakan untuk apa. Barulah saya pahami kemudian ketika benar-benar membaca tulisan yang diangkat jadi judul seluruh buku ini. Ternyata, gara-gara slilit seorang Kiai batal masuk surga.

Begini ceritanya. Seorang Kiai telah makan daging di sebuah kenduri, waktu itu ia sibuk meladeni orang yang ingin bersalaman dengan dirinya, ia tak sempat untuk menyingkirkan slilit daging di giginya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Pak Kiai mengambil seujung potongan bambu dari pagar tetangganya untuk membuang slilit daging di gigi Pak Kiai, layaknya tusuk gigi.

Kemudian, Pak Kiai meninggal dunia. Lalu ada seorang santri yang mimpi bertemu dengan Pak Kiai yang tertahan di pintu surga. Dalam mimpinya Pak Kiai berkata, "Dosa-dosaku telah Allah ampuni kecuali satu. Aku tidak sempat meminta izin pemilik rumah untuk mengambil sedikit dari bambunya untuk kujadikan tusuk gigi. itu membuatku sangat repot di alam kubur."

Tulisan ini punya muatan pesan yang amat dalam. Betapa slilit yang remeh itu telah merepotkan seorang Kiai yang selalu dipersepsikan mudah menggapai surga. Betapa hal kecil yang amat remeh pun ternyata dapat menghalangi kita dari jalan kebaikan bila diperolah dengan cara yang tidak benar dan tidak disukai Allah SWT. Bayangkan saja bagaimana runyamnya para koruptor dan para maling duit rakyat ketika menghadapi hari penghisaban.

Dari kisah tersebut, kemudian Emha menjelaskan perkara-perkara lainnya semacam itu yang tidak saja melulu habluminallah tetapi juga habluminannas. Tulisan Emha muncul dengan cermat dan cerdas dalam menganalisa etika sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

"Slilit Sang Kiai" hadir kembali dalam wujud cetak ulang setelah lahir pertama kali pada tahun 1991. Buku ini tetap memiliki nilai relevansi yang tinggi dengan kondisi saat ini. Bagaimanapun adanya, kehidupan ini tidak bersifat parsial-statis tetapi kontekstual dinamis. Walaupun sudah tidak lagi aktual, namun nilai kontekstualnya tetap terjaga.

Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 29 Mei 2015.

Kamis, 28 Mei 2015

Lupa Endonesa

"Saya yakin orang Indonesia masih percaya pada kebaikan dan kejujuran. Tapi, saya nggak yakin mereka percaya bahwa kebaikan dan kejujuran bisa mereka jadikan jalan untuk mencapai cita-cita..." - Hal.138

Personally, ini adalah buku Sujiwo Tejo pertama yang saya tamatkan. Saya beli sepaket dengan dua buku lainnya yaitu dwicarita Rahvayana. Saya kira buku ini merupakan kumpulan artikel atau cerita soal lunturnya rasa berbangsa dan bertanah air Indonesia dari Sang Dalang Edan yang rupanya pernah mengenyam hidup sebagai wartawan. Namun, saya menemukan satu bentuk pengalaman yang baru dalam mentafakuri kehidupan sejarah bangsa melalui buku ini. 



Lupa Endonesa menggugat kehidupan bangsa ini pada satu periode sejarah yang dilambangkan dengan sosok seorang Presiden dari tanah Pacitan. Segenap persoalan negeri kala itu digamblangkan sedemikian rupa. Sujiwo dengan gagah menulis hal-hal yang malu-malu, memalukan, dan tidak memalukan tentang persoalan kehidupan bangsa Indonesia. Semua ceritanya, menyiratkan bahwa kita ini memang lupa berbangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Sujiwo menggunakan banyak perumpamaan dalam menyampaikan kritiknya atas satu keadaan tertentu. Kemunculan tokoh-tokoh punakawan dan main cast Mahabharata-Ramayana adalah satu unsur penyeimbang cerita. Betapa kenyataan masih bisa bermain dengan fiksi. Lepas dari pakem pewayangan pada umumnya. Penulisnya juga tidak lupa melibatkan para tokoh pewayangan itu dengan unsur modernitas yang kekinian.

Sepintas, cerita-cerita dalam buku ini terlihat sebagai cerita pendek karena selain habis dibaca sekali duduk mereka juga mempunyai unsur fiksi yang kental. Andai pun tidak dianggap sebagai cerpen, tidak salah juga bila kisah-kisah tuturan Sujiwo ini masuk kategori memoar. Memoar bergerak, dari satu kisah ke kisah lain dalam titimangsa yang sama.

Ada dua cerita yang jadi favorit saya disini. “Lakone Hanuman Ambassador” sebagai tandingan dari lakon “Hanuman Duta” dan “Jajak Pendapat para Dewa”. Sujiwo menjadikan seluruh tulisannya sebagai kritik sosial atas segenap peristiwa dengan mengawinkan unsur hiburan dan politik. Tulisannya ini bisa jadi hiburan bagi rakyat yang memang sudah kekurangan bahan tertawaan sekaligus kritik bagi pemimpin bangsa ini kelak di masa mendatang, agar sejarah tidak kembali terulang.

Judul        : Lupa Endonesa
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 218 hal.
Tahun       : 2012
Genre       : Cerita Pendek-Memoar


Dharmawangsa - Medan Merdeka Barat, 11 Mei 2015.

Kamis, 16 April 2015

Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu

“Tuhan, berikanlah zaman kala bendhu setiap hari, supaya besok pagi saya bisa tetap berkarya.”

Kira-kira begitulah bunyi doa seorang karikaturis setiap hari. Pengharapan setiap harinya adalah sebuah inspirasi baru dari suatu zaman atau masa yang ditinggali dan dijalaninya. Karya yang dibuatnya setiap hari adalah bukan hanya sebuah pesan belaka. Gambar yang dibuatnya menjadi sebuah saluran untuk menyuarakan pendapat dan menyebarluaskannya pada khalayak ramai.

Ketika saluran untuk menyampaikan pendapat atau kritik tersumbat, maka karikatur merupakan salah satu jawabannya. Satir yang dituangkan ke dalam gambar membuat daya kritik menjadi tidak langsung, sehingga tidak terlalu terasa menyakitkan. Sejak kemunculannya yang pertama, Panji Koming menjadi saluran untuk mengemukakan ketidakberdayaan. Saat zaman membuat sulit untuk menyampaikan pendapat atau kritik, karikatur menjadi penting dan bermakna.



Kritikan melalui karikatur tetap mempunyai tempatnya sendiri. Hanya, pengukuran kualitas menjadi lebih berat karena yang dituntut bukan hanya alur cerita yang mengalir ataupun komposisi gambar yang lebih mengena tetapi kualitas kritikan yang lebih cerdas.

Panji Koming membuat kita jadi semakin melek informasi. Panji Koming selalu cerdik dalam menemukan sudut pandang yang unik dalam menatap sebuah peristiwa sosial dan politik. Walaupun, mengambil rentetan peristiwa Zaman Majapahit, tetap saja dengan mudah kita mengaitkannya dengan fakta-fakta kontemporer.

Sejak Orde Baru masih bertahta, Panji Koming cenderung tampil serba tersamar dan cenderung tiarap. Ada kesengajaan adegan untuk dikaitkan kepada penguasa negara. Hingga masa orde reformasi dengan segala keterbukaan saat ini, Panji Koming tidak serta merta mengubah tutur ucapnya. Panji Koming tetap hadir dalam kemasan yang bijaksana, santun, nylekit, dan mengusung atmosfir budaya Jawa, guyon parikeno.

Kala Bendhu merupakan keberadaan dalam pemikiran masyarakat Jawa tentang zaman yang terkutuk dan sangat tidak menyenangkan. Kurang lebih, masyarakat secara umum dikuasai kebendaan. Dalam pandangan kartunal, zaman Kala Bendhu disebutkan sebagai zaman culun dan menyebalkan. Bagi kartunis, hal ini jadi lahan berkembangnya kreativitas yang sangat luas, aneh dan beragam. 

Pada edisi ini, Panji Koming mengambil plot Indonesia tahun 2003 hingga 2007. Zaman yang lebih memekik daripada Orde Baru, dimana peninggalan sisa-sisa Orde Baru belum sepenuhnya surut. Tahun-tahun yang penuh dengan tebaran peraturan dan tuaian pelanggaran. Penuh dengan lagu tanpa nada, penuh dengan nada tanpa suara. Penuh dengan penyanyi tanpa manusia. Ibarat telur diujung tanduk. Panji Koming menggiring kita untuk melihat keatas, bagiamana para pengatur negeri ini...membiarkan telur nangkring di ujung tanduk.

Judul        : Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu
Penulis     : Dwi Koendoro Br
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tebal        : 144 Hal.
Tahun       : 2008
Genre       : Karikatur-Komedi


Dharmawangsa, 26 Maret 2015.

Minggu, 08 Maret 2015

Sang Penghasut

Asterix lagi-lagi berhasil menggagalkan penyerbuan Romawi ke Galia kendati Julius Caesar telah mengutus seorang penghasut. Si Penghasut ditugaskan untuk merusak tatanan masyarakat Galia dengan taktik adu domba. Si Penghasut berhasil menjalankan tugasnya. Bahkan Asterix dan Obelix sendiri hampir menjadi korbannya kalau bukan karena keakraban mereka.



Dengan keadaan kacau balau di Galia, pasukan Romawi akhirnya menyerbu. apalagi setelah Si Penghasut berhasil meyakinkan Panglima Romawi bahwa ia telah menemukan ramuan jamu ajaib buatan dukun Galia. Menyadari kelengahannya, Galia kembali bersatu. Mereka tidak akan membiarkan pasukan Romawi mengacak-acak mereka.

Benar saja, pasukan Romawi mengalami kekalahan telak. Kontra intelejen yang dilakukan Asterix dan Obelix ke kamp pasukan Romawi menghasilkan strategi pertahanan yang bagus. Setelah kalah telak, Si Penghasut kembali dipenjara. Kali ini, dengan kesalahan yang berlipat: menyebabkan kekalahan Romawi.

Dharmawangsa, 8 Maret 2015.

Selasa, 03 Maret 2015

Sepotong Hati Yang Baru

Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna
(Sepotong Hati Yang Baru, hal. 51)


Awalnya

Sudah lama saya tahu bahwa Tere Liye adalah seorang penulis yang cukup produktif. Saya sendiri tidak begitu tahu persis kapan Tere Liye merilis karyanya yang pertama. Yang jelas, hingga saya menamatkan pembacaan buku ini, kesannya sebagai penulis produktif belum berubah dalam imaji saya.

“Sepotong Hati Yang Baru” adalah perkenalan saya yang pertama dengan sosok kepenulisan Tere Liye. Terima kasih kepada istri saya yang mengantarkan saya pada karya-karya Tere Liye. Ada beberapa buku yang judulnya saya cukup kenal menghiasi rak di kamarnya. Akhirnya, akhir bulan ini saya putuskan untuk mulai membaca buku-buku itu satu per satu. Dimulai dari yang paling tipis.

Edisi Perkenalan

Kumpulan cerpen ini berisi delapan cerita pendek yang lumayan panjang. Maksudnya, tanpa mengurangi takdir cerpen yang hanya habis dibaca sekali duduk, beberapa cerita didalamnya punya alur yang sangat detail dan dinamis. Saya kagum pada kekuatan penceritaan dan gaya bahasa sang penulis. Dengan begitu padu, menjadikan buku ini tidak sekedar kumpulan cerpen biasa.

Cerpen pertama “Hiks, Kupikir Itu Sungguhan” berkisah tentang kisah muda-mudi yang berada di ambang kegalauan masa mudanya. Tere Liye berhasil mengangkat sebuah fenomena kecil menjadi objek cerita yang ringan namun nyata dan ada dalam keseharian kita. Terlebih dengan boomingnya media sosial, terutama Facebook, membuat cerita ini begitu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang sebuah perasaan bernama GR alias gede rasa.

“Kisah Sie Sie”
adalah cerpen yang menurut saya cukup dinamis dan lugas dalam penceritaan. Dengan alurnya yang demikian, saya merasa seperti membaca sebuah kisah nyata di tabloid khusus perempuan. Penulis mengangkat satu fenomena yang telah terjadi berulang-ulang di Singkawang, Kalimantan Barat. Soal pernikahan WNI keturunan/peranakan Tionghoa dengan WNA yang sengaja datang kesana. Alasan ekonomi seringkali menjadi faktor yang menyebabkan para perempuan muda disana rela untuk diperistri orang asing dan dibawa ke negaranya. Saya kagum dengan tokoh Sie Sie yang menepati janjinya untuk mencintai suaminya apa adanya walau harus mengalami berbagai penolakan dan siksaan.

“Sepotong Hati Yang Baru” kiranya mewakili seluruh penjiwaan atas penulisan buku ini. Banyak alasan yang menyebabkan seseorang patah hati. Tak terkecuali, satu keputusan yang diambil menjelang hari pernikahan yang menghancurkan semua imaji tentang cinta dan kebahagiaan itu sendiri. Bagaimanapun susahnya, si Aku dalam cerita ini berhasil menumbuhkan sepotong hati yang baru untuk mengganti sepotong lainnya yang terlanjur dibawa pergi sang mantan kekasih. Dengan potongan hatinya yang baru ini, ia berhasil menolak si mantan untuk kembali mengikat janji. Sebuah pembalasan yang setimpal. Siapa menabur, maka dia akan menuai.

Legenda Sam Pek dan Eng Tay yang tersohor itu kini diceritakan kembali dalam “Mimpi-Mimpi Sampek Engtay”. Tere Liye menulis kembali cerita ini dengan detail yang cukup istimewa. Saya teringat kembali sebuah yel yel wajib di kalangan mahasiswa, “Mahasiswa Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Khusus untuk Sam Pek dan Eng Tay berlaku “Dua Cinta Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” walau kadang maut akhirnya memisahkan. Moral dari cerita tentang ketulusan adalah hal yang selalu menarik untuk diceritakan kembali, apapun bentuknya.

“Itje Noerbaja & Kang Djalil” adalah cerpen yang unik. Saya kembali teringat pada kalimat-kalimat pengantar cerpen dalam kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Sepotong Senja Untuk Pacarku” dimana terdapat kalimat dengan ejaan lama. Hal ini saya temukan kembali pada cerpen ini. Cerpen yang berkisah tentang usaha pergerakan dari para babu dan centeng di zaman kolonial Belanda. Kisah romantis dan heroik ini seakan mengingatkan kita kembali pada sejarah yang tak tercatat.

“Kalau Semua Wanita Jelek” adalah cerita yang berbau feminin. Seorang perempuan tentu mendambakan tubuh ideal yang diterjemahkan dalam bahasa umum sebagai langsing atau kurus. Terkadang, hal yang demikian itu menyesatkan. Bahwa sesungguhnya kecantikan itu relatif. Mungkin benar adanya pepatah lama itu, kecantikan sesungguhnya terpancar dari hati.

Seperti halnya legenda Sam Pek dan Eng Tay, kisah Sri Rama dan Shinta tidak pernah selalu kadaluwarsa untuk diceritakan kembali. “Percayakah Kau Padaku?” adalah gugatan untuk Rama. Ketulusan cinta rama pada Shinta diuji disini. Personally, kisah Rama-Shinta sejatinya adalah kisah romantis karena mereka saling mencintai. Namun, belakangan ini saya memang meragukan ketulusan Rama pada Shinta. Bisa jadi Rahwana lah yang benar-benar mencintai Shinta dengan tulus. Kalau Rama masih cinta pada Shinta , mengapa ia mesti meragu pada Shinta yang telah diculik dan diselamatkannya dari api cinta Rahwana?

“Buat Apa Disesali...”
adalah sebuah kisah cinta klasik (entah juga klise) yang menimpa Hesty dan Tigor. Bagian terbaik cerita ini adalah sisipan lirik lagu yang dinyanyikan sepenuh jiwa oleh Rita Effendy, ‘Selamat Jalan Kekasih”.

Konklusi

Secara keseluruhan, saya menikmati pembacaan perkenalan saya dengan Tere Liye. Buku ini adalah buku sekuel dari serial ‘Berjuta Rasanya’. Tak harus membaca edisi pertama untuk memahami edisi sekuel ini. Tulisannya tidak hanya mengalir dengan bahasa yang mudah dipahami. Penulis pun piawai dalam memainkan karakter sekaligus menyertakan beberapa pelajaran dan makna yang hidup ini sediakan.

Judul        : Sepotong Hati Yang Baru
Penulis     : Tere Liye
Penerbit    : Mahaka Publishing
Tahun       : 2012
Tebal        : 206 hal.
Genre       : Kumpulan Cerpen



Dharmawangsa, 28 Februari 2015.

Minggu, 31 Agustus 2014

Mereka Bilang, Saya Monyet!

Kesan pertama dalam pembacaan kumpulan cerpen ini adalah sebuah kelugasan dalam bertutur cerita. Melihat rentang waktu penulisan cerpen-cerpen didalamnya, bisa dikatakan bahwa semua cerpen tersebut adalah sebuah breakthrough dalam ranah sastra Indonesia, pada saat itu. Bentuk penceritaan yang kemudian menjadi satu alternatif dalam penuturan cerita. Kisah-kisah kelam yang tak pernah tersampaikan hingga kebahagiaan semu adalah sepenggal saja dari kiasan eksploratif yang disampaikan si penulis.



Selain "Waktu Nayla" yang menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2003, kumpulan cerpen ini tidak henti-henti menghadirkan kejutan. Saya kagum ketika penulisnya mampu membuat cerita seperti dalam cerpen "Namanya, ...". Tokoh si penulis yang dinamai 'Memek' sangat berada diluar kelaziman, bahkan tabu untuk beberapa kalangan. Namun, sekali lagi, dunia fiksi adalah ruang yang memungkinkan terjadinya kemungkinan semacam itu. Fiksi hidup dalam kepala pembacanya.

Cerpen lain yang tidak lazim adalah "SMS". Cerpen berisi petikan SMS dari sepasang kekasih yang saling bermain api adalah satu bentuk penulisan yang tidak umum. Keluwesan fiksi berhasil dimainkan dengan apik oleh si penulis. Gaya penulisan semacam ini tidak menyalahi kodrat cerpen sebagai turunan fiksi.

Cerpen "Asmoro" kiranya mengingatkan saya pada satu cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul "Sukab Menggiring Bola". Adjani terus berlari bagai Sukab yang terus menggiring bola hingga ke ujung dunia. Adakah hubungan diantara keduanya? Selain karena SGA disebut dalam halaman pembuka dari sang penulis. SGA yang telah memberikan "ilmu" dan keberanian untuk menulis cerpen-cerpen yang demikian.

Begitupun dengan cerpen "Wong Asu" yang terinspirasi dari cerpen "Legenda Wongasu" milik SGA. Keduanya tidak menceritakan hal yang sama. Namun, pada akhirnya pembaca dapat menilai mengapa tokoh-tokoh mereka mesti menjadi 'asu'.

Kiranya, pembaca dapat membaca kedua cerpen SGA tersebut dan menguji kebenaran hipotesa saya.

Daftar Cerita:

- Mereka Bilang, Saya Monyet!
- Lintah
- Durian
- Melukis Jendela
- SMS
- Menepis Harapan
- Waktu Nayla
- ... Wong Asu
- Namanya,...
- Asmoro
- Manusya dan Dia

Judul        : Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penulis     : Djenar Maesa Ayu
Penerbit    :Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2012
Tebal        : 150 hal.
Genre       : Kumpulan Cerpen


Medan Merdeka Barat, 18 Agustus 2014.

Sabtu, 01 Maret 2014

Love Classic

Kisah cinta dalam komik ini adalah sebuah kisah cinta klasik antara dua manusia. Mereka ditakdirkan selalu bersama hingga keduanya membohongi perasaan mereka masiing-masing.

Aoi dan Reiichirou saling memendam rasa hingga perpisahan nampak di depan mata. Reiichirou yang selama ini bekerja sebagai guru pribadi bagi Aoi harus pindah ke Tokyo atas perintah Maruya Kikuji, ayah Aoi. Aoi yang tidak ingin kehilangan Reiichirou berusaha membuktikan pada ayahnya bahwa pelajaran yang selama ini diberikan oleh Reiichirou tidak sia-sia. Walaupun begitu, Reiichirou tetap harus pergi. Ia tidak pergi sendirian, ia mengajak Aoi turut serta. Sebuah kisah cinta yang klasik.

It can happens to anyone of us. You are getting close with somebody new, you may hate him as you go deeper, but yet you will love him very much by the way he/she treats you.


 
Komik ini juga punya 'bonus' kecil seputar penciptaan karakter-karakter yang ikut bermain. Chie Shimada menceritakan bagaimana proses penciptaan Reiichirou dan Aoi, juga si kembar adik Aoi dan Samasuke, karakter tandingan untuk Reiichirou. Tak hanya itu, adegan rapat penentuan supaya komik ini bisa terbit pun menjadi gimmick menarik. Tidak hanya sekedar membaca komik, pembaca pun sengaja diedukasi untuk mengetahui sedikit cerita dibalik layar sebuah penerbitan komik.

Judul        : Love Classic
Penulis     : Chie Shimada
Penerbit    : m&c! Comic
Tahun       : 2012
Genre        : Komik-Romance


Paninggilan, 1 Maret 2014.

Kamis, 13 Februari 2014

Bukan Sakit Biasa

"Orang emang nggak selamanya ada di bawah. Nggak selamanya kalo udah jatuh mesti tertimpa tangga. nggak selamanya juga lagi lari dikejar musuh, akhirnya nyusruk ke lubang. Ada kalanya nasib di bawah, terus bisa naik lagi sedikit-sedikit."

Setidaknya, paragraf diatas adalah satu dari sekian banyak quote dalam buku ini. Inti persoalannya sederhana. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari keluarga Lupus pun ada banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Courtesy: www.goodreads.com

Anyway, Lupus ABG kembali hadir dengan 12 kisah baru. Plus, tips-tips keren yang bakal bikin kamu tambah kece. Cerita-cerita jayus khas Lupus sudah pasti jadi menu utama buku ini. Jangan heran kalau kelakuan Papi yang superpedit itu berubah disini. Selain itu, konteks cerita juga mulai menyesuaikan dengan laju zaman. Ada cerita tentang Papi yang hampir menabrak seorang Nenek, yang menyebrang jalan sambil mendengarkan lagu Raisa, Apalah (Arti Menunggu).

Cerita berjudul "Perpustakaan Kita" barangkali jadi satu bagian eksepsional disini. Bersama "Aids, Aids, Aids... Ciaaat!" kedua cerita ini merangkum kegelisahan dan respon kaum muda atas yang terjadi dalam lingkungannya. Kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dan upaya mengembalikan fungsi rekreasional dari perpustakaan. Khusus untuk ini, perlu diberikan apresiasi tersendiri karena Lupus berhasil mengikuti roda zaman sekaligus menggugah kepedulian kaum muda.



Pharmindo, 18 Januari 2014.

Kamis, 14 November 2013

Kisah Lainnya

Jadi, hidup telah memilih, menurunkan aku ke bumi

Buku ini dimulai dengan penggalan lirik lagu “Langit Tak Mendengar”. Satu lagu Peterpan favorit saya sepanjang masa bersama satu lagu lain, “Mungkin Nanti”. “Langit Tak Mendengar” adalah lagu terbaik Peterpan semasa formasi lengkap. Komposisi musiknya penuh. Liriknya juga tidak dangkal. Lagu itu bersama ‘Mungkin Nanti” yang telah direcycle dijadikan pengisi soundtrack film "Alexandria". Lagu itu sempat muncul pula dalam iklan sebuah operator telepon selular.


Membaca ‘Kisah Lainnya’ sama juga dengan bernostalgia kembali ke era keemasan Peterpan. Perjalanan Peterpan disajikan secara lengkap mulai sejak dirilisnya single “Mimpi Yang Sempurna” dari album kompilasi ‘Kisah 2002 Malam’ hingga pergantian anggota dan segenap sensasi yang melingkupinya tidak luput dari rekaman peristiwa ini. Tidak hanya itu saja, segenap latar belakang di balik berdirinya band ini juga turut mengambil bagian. Juga bagaimana proses personil dalam mengawali karir mereka masing-masing bersama Peterpan.

Walaupun cerita dalam buku didominasi oleh narasi Ariel, tetapi “Kisah Lainnya” tetap menampilkan band ini dalam komposisinya yang utuh. Masing-masing personil pun menyuarakan segala kegelisahannya di masa istirahat panjang itu. Termasuk cerita dibalik kolaborasi mereka dengan musisi kenamaan lainnya seperti Idris Sardi dan Henri Lamiri, serta Karinding Attack dan Momo 'Geisha'.

Buku ini ibarat catatan pribadi dari sang vokalis. Ariel tidak hanya piawai dalam menulis lagu. Ariel pun pandai merangkai kata. Selama menjalani masa penahanannya di Rutan Bareskrim dan LP Kebon Waru, Ariel banyak menulis dan membuat sketsa. Buku ini pun diwarnai catatan Ariel yang serupa dengan prosa maupun gambar sketsa karyanya.

Pada saat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati
Itu adalah pasangan hidupmu
Itu adalah takdirmu
Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan
Itu adalah pelengkap hidupmu
Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

Catatan Personal

Saya melihat kembalinya anggota Peterpan ke kancah musik Indonesia tersusun dengan rapi. Walaupun sang frontman mendekam di penjara, beberapa anggota lainnya masih bisa berkarya. Bahkan, naik panggung lagi bersama vokalis-vokalis dari band lain dalam rangkaian tur mengunjungi komunitas penggemar mereka. Single ‘Dara’ milik Ariel terbukti mampu menjembatani proses kembalinya Peterpan. Harapan penggemar serta kebutuhan untuk meraih rasa percaya diri yang sempat hilang berhasil menumbuhkan keyakinan mereka untuk kembali ke panggung.

Proses pembuatan album “Suara Lainnya” membuktikan bahwa mereka masih mampu berkarya. Ketika album itu dirilis, Ariel memang belum bebas dan tidak hadir. Ada perasaan kosong yang menghinggapi mereka karena sang vokalis tidak ada disitu. Namun, sukses besar malam itu semakin membuat percaya diri mereka kembali. Hidup terus berjalan. Ariel bebas. Perjalanan pun mereka mulai lagi. Belakangan, mereka membuat identitas baru, NOAH.

Overall, “Kisah Lainnya” tidak hanya menawarkan sebuah ‘pengakuan’ dan cerita mereka sepanjang 2010-2012. “Kisah Lainnya” membawa pembaca pada sebuah dimensi labirin proses perjalanan kehidupan yang tidak selalu menyenangkan. Kata Tommy Page, life is full with lots of up and down. Selalu ada hikmah dibalik sebuah cerita.

Judul       : Kisah Lainnya
Penulis     : Ariel, Uki, Lukman, Reza, David
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun      : 2012
Tebal       : 228 hal.
Genre      : Memoar-Musik

Medan Merdeka Barat, 7 November 2013.

Senin, 11 November 2013

Juara Sejati Bernama King


Luar biasa! Kesan pertama yang saya tangkap dari beberapa bab awal. Biografi memoar perjalanan seorang maestro bulutangkis ini ditulis dengan apa adanya. Kesan setiap cerita didalamnya tidak hanya berkisah soal kesuksesan. Berbagai kisah kegagalan Liem Swie King diceritakan dengan jujur. Termasuk, cerita soal kekalahannya yang dianggap sebagai 'pemberi jalan' untuk gelar ke-8 All England bagi Rudy Hartono.

Cerita perjalanan Liem Swie King di dunia bulu tangkis tidak selalu penuh dengan kesuksesan. Terutama setelah kekalahan pertamanya usai 33 bulan tak terkalahkan di berbagai kejuaraan. Kekalahan tersebut didapatnya usai skorsing 3 bulan dari PB PBSI akibat kelalaiannya pada SEA Games X tahun 1979 di Jakarta. Akibatnya, King dinyatakan kalah WO. King tampil sebagai pribadi yang sportif yang dengan jujur mau mengakui kesalahannya. Satu hal yang tidak mudah, mengingat status King sebagai Juara All England. King dengan mudah bertutur soal  satu fase proses perjalanan dimana ia mencoba untuk bangkit dan meraih kembali percaya dirinya.

Lintasan memori soal kedigdayaan bangsa Indonesia di kancah perbulutangkisan dunia juga menyisakan setangkup haru. Beberapa kali saya hampir menitikkan air mata dan merinding membayangkan betapa gempitanya kejayaan Indonesia waktu itu. All England, Piala Thomas, Piala Uber, dan Kejuaraan Dunia adalah menu utama santapan khusus bagi atlit bulu tangkis Indonesia. Sayangnya, atlit bulu tangkis Indonesia masa kini belum mengambil pelajaran dari kisah Liem Swie King. Indonesia kini jauh tertinggal dari negara-negara pesaingnya.

King's Smash. Courtesy: www.badmintoncentral.com
Buku ini menghadirkan sosok Liem Swie King sebagai pribadi yang utuh. Mulai dari kisah perjalanan hidupnya, bagaimana hubungan King dengan keluarga, perkenalan pertamanya dengan bulu tangkis, jatuh bangun King di arena, hingga alasan-asalan dibalik pengunduran dirinya dari dunia yang telah diidamkannya sejak kecil.

King juga menuturkan kisahnya bersama Robert Budi Hartono, pemilik perusahaan rokok Djarum yang cukup berpengaruh dalam karir profesionalnya. Sebagai penyeimbang, testimoni dari rekan, kawan, pelatih, dan wartawan olahraga ikut mengisi cerita sehingga pembaca dengan mudah memahami sisi lain dari King.

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk mengakrabi pribadi King yang cenderung pendiam dan dingin. Beberapa testimonial dan catatan dokumentasi media turut dihadirkan sebagai panduan bagi pembaca untuk lebih objektif dalam 'membaca' King. Selebihnya, pembaca diajak kilas balik sejenak ke masa-masa keemasan bulu tangkis nasional. Catatan emas yang diraih putra-putri terbaik bangsa itu kini menanti untuk diulang kembali. King mengajarkan pada kita bahwa juara sejati selalu bersedia berbuat lebih.

Judul       : Panggil Aku King
Penulis     : Robert Adhi Ksp
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2009
Tebal       : 456 hal.
Genre      : Biografi-Memoar

Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 6 November 2013.

Jumat, 18 Oktober 2013

The Naked Kitchen (2008)

Can you love two people at same time?


Ahn Mo-Rae (Shin Min-Ah) sedang berusaha mencari hadiah diberikan pada suaminya, Han Sang-In (Kim Tae-Woo) pada hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Mo-Rae pergi melihat-lihat ke sebuah galeri seni untuk menemukan sebuah hadiah sempurna untuk selalu mereka kenang. Di galeri, Mo-Rae bertemu dengan seseorang tak dikenal yang baru sekali itu dijumpainya. Entah apa yang merasuki mereka, keduanya bercinta. Mo-Rae tidak dapat menahan godaan dari si pria tak dikenal ini. Kelak mereka akan saling mengenal.

Mo-Rae terus dihantui perasaan bersalah. Mo-Rae dilanda kebimbangan, antara menyimpan rapat-rapat rahasia itu atau malah berkata jujur pada Sang-In. Keakraban dan kedekatan yang terjalin sejak mereka masih kecil membuat Mo-Rae tidak punya pilihan selain berkata jujur. Sang-In rupanya mau mendengarkan, namun ia tidak mau mendengar cerita itu lebih jauh dan tidak mau membahasnya sama sekali. Kontan, hal itu membuat Mo-Rae semakin merasa bersalah. Bagaimanapun, Mo-Rae menyadari bahwa Sang-In akan mengetahuinya suatu hari nanti.

Usai makan malam di hari jadi perkawinan mereka, datanglah sahabat lama Sang-In. Park Do-Ree (Joo Ji Hoon), seorang chef yang kembali ke Korea atas inisiatif Sang-In yang mengajaknya untuk membuka restoran. Sang-In sendiri telah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai pialang saham untuk menjalani passionnya selama ini, yaitu menjadi seorang juru masak dan membuka restoran sendiri. Untuk itulah Sang-In membutuhkan Do-Ree. Sang-In sengaja memanggil Do-Ree pulang dari Paris untuk tinggal di rumahnya.

Sebuah kebetulan bahwa pada saat perkenalan itulah Mo-Rae menyadari bahwa Do-Ree adalah pria yang bercinta dengannya di galeri seni. Mo-Rae semakin merasa tidak nyaman. Kini, tugasnya bukan hanya menyimpan rapat-rapat rahasia antara dirinya dengan Do-Ree, tapi juga harus menahan perasaan aneh yang terjadi antara mereka berdua.


Kisah cinta segitiga dalam satu atap dimulai. Sang-In sengaja memberi keleluasaan pada Mo-Rae untuk menemani Do-Ree berkeliling di sekitar tempat tinggal mereka. Kedekatan mereka berdua akhirnya terjalin semakin akrab. Berkali-kali Do-Ree mengungkapkan cintanya pada Mo-Rae. Do-Ree mencoba meyakinkan Mo-Rae bahwa cinta antara dirinya dengan Sang-In bukan cinta yang sebenarnya. Do-Ree meyakini cinta Mo-Rae kepada Sang-In adalah sesuatu yang ‘given’, terbentuk dari perasaan yang pelan-pelan tumbuh sejak mereka kecil. Do-Ree meragukan cinta Sang-In pada Mo-Rae. Namun, Mo-Rae tetap pada pendiriannya. Ia merasakan sesuatu yang lain pada Do-Ree namun ia tidak mau mengungkapkannya.

Pada satu kesempatan, Sang-In mulai mencurigai affair antara Mo-Rae dengan Do-Ree. Sang-In juga memiliki bukti kedekatan mereka akibat kecerobohan Kim Seon-Woo (Jeon Hye Jin II), sahabat Mo-Rae. Hal itu langsung membuat Sang-In menghajar Do-Ree habis-habisan. Do-Ree pun menyerang balik Sang-In dengan mengakui apa yang telah dilakukannya lalu mengungkapan perasaanya kepada Mo-Rae. Usai berkelahi habis-habisan, Sang-In menyadari bahwa semua pilihan ada pada Mo-Rae. Mo-Rae harus memilih, Sang-In yang telah bersama dengannya sejak lama atau pada totally complete stranger seperti Do-Ree. Mo-Rae tidak memilih namun ia memiliki pilihan hatinya sendiri.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


The Naked Kitchen adalah film pertama Shin Min-Ah yang saya tonton. Sebelumnya, saya sudah dibuat jatuh cinta pada Min-Ah dengan aktingnya di seri drama ‘My Girlfriend is A Gumiho’ dan ‘Ahrang and The Magistrate’ lalu pada suaranya yang ikut mengisi soundtrack Gumiho.

Pelajaran pertama dari film ini adalah: Live your passion. Sang-In sengaja meninggalkan pekerjaannya yang mapan hanya untuk menjalani kehendak hatinya yang lain, yang akan membuat dirinya sepenuhnya utuh dengan menjalankan bisnis barunya di bidang kuliner.

Selanjutnya, kemelut cinta segitiga Sang In-Mo Rae-Do Ree memberikan suatu sudut pandang bahwa mencintai seseorang adalah sebuah proses yang tak hanya ‘given’ saja. Tetapi juga membutuhkan hubungan dua arah, dimana keduanya saling merasa terikat dan saling mencintai sepenuh hati.

Anyway, kehebatan unsur film ini terletak pada inti cerita yang berpusat pada kisah cinta segitiga, tanpa mengurangi esensi dari sebuah culinary passion. Keduanya merupakan perpaduan bumbu utama yang menghadirkan perasaan geregetan dan penasaran.

Judul           : The Naked Kitchen
Sutradara    : Hong Ji Young
Cast            : Shin Min Ah, Kim Tae Woo, Joo Ji Hoon, Jeon Hye Jin II
Tahun         : 2008
Produksi     : CJ Entertainment


Pharmindo, 24 Agustus 2013.

Note: images taken from www.hancinema.net

Sabtu, 28 September 2013

Cinta di Atas Perahu Cadik


Mukadimah

Sudah sejak 2008 lalu saya memendam keinginan untuk membaca buku ini. Maklum, dalam kumpulan cerpen terbaik ini ada cerpen dari penulis favorit. Sebut saja, Seno Gumira Ajidarma dan Budi Darma. Serta tidak ketinggalan, Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu. Seringkali saya hanya mampu menatapi buku ini setiap mampir ke toko buku langganan di Palasari. Tanpa mampu menggenggamnya hingga ke meja kasir.

Lima tahun kemudian, saya berhasil menamatkan pembacaan buku ini. Saya rasa ada alasan mengapa Tuhan baru mempertemukan kembali kami sekarang ini. Agaknya, saya telah membuktikan apa yang pernah ditulis SGA dalam cerpen 'Linguae': Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lama pun selama aku mencintainya.

Catatan Empat Cerpen

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen terbaik dari Seno Gumira Ajidarma yang berjudul sama dengan judul buku. Kisah seorang Sukab dan Hayati yang saling mencintai walau keduanya telah sama berpasangan. Berlatar kehidupan masyarakat nelayan pesisir, cerita ini seakan-akan mewakili kenyataan hidup yang berlangsung sehari-hari. Kecuali, bila pembaca menggugat hilangnya Sukab dan Hayati selama tujuh hari itu sebagai hal yang tidak masuk akal.

Cerpen lain yang menjadi favorit dalam buku ini adalah 'Kisah Pilot Bejo' yang ditulis oleh Budi Darma. Kisah seorang pilot bernama Bejo yang selalu 'bejo' dalam menerbangkan pesawat. Budi Darma agaknya mengambil sebuah realita yang kemudian dituangkannya kembali dalam bentuk sebuah cerita pendek. Pembaca tentu sudah lebih paham bila membaca metafora dan analogi yang disajikan oleh Budi Darma. 'Kisah Pilot Bejo' memberikan kita gambaran bahwa dunia penerbangan di negeri kita pernah mengalami hal yang demikian.

'Gerhana Mata', dari Djenar Maesa Ayu adalah cerita yang saya sukai dari segi penuturan dan bahasa. Pemilihan diksi yang tepat menjadi kunci cerpen ini untuk merebut hati saya.

"Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan." 

Betapa sebuah dunia dapat menjadi nyata dalam gelap. Hanya dalam gelap sang narator dalam cerita dapat merasakan cinta. Selebihnya, saya mendapat nuansa realitas yang kental dalam cerpen ini. Pertemuan sepasang kekasih yang terlarang adalah sebuah bumbu kehidupan metropolitan. Atas nama cinta, semuanya terjadi.

Cerpen 'Tukang Jahit' dari Agus Noor sudah menyentak sejak paragraf awal. Jarum dan benang si tukang jahit yang konon diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya adalah satu unsur kejutan yang mau tidak mau sukses menggiring pembaca untuk terus melanjutkan pembacaan atas cerpen ini. Tukang jahit ini bukan tukang jahit sembarangan. Tukang jahit ini adalah satu-satunya yang tersisa dari sekian banyak tukang jahit yang pernah berjaya di kota itu. Ia tidak hanya menjahitkan pakaian. ia juga mampu menjahit kebahagiaan.

Sepintas, cerita ini mengingatkan saya pada cerpen SGA lainnya yaitu 'Manusia Gerobak'. Baik SGA maupun Agus Noor menceritakan manusia gerobak dan tukang jahit yang sama-sama muncul setiap menjelang lebaran. Saya tidak heran akan hal seperti ini. Kalau pembaca sudah sering menbaca karya mereka, tentu akan dapat menarik suatu benang merah atas keduanya.

Cerpen Lainnya

Cerpen lain dalam buku ini juga memiliki nilai dan pesannya masing-masing. 'Lampu Ibu' yang ditulis Adek Alwi bercerita tentang kekuatan dan ketegaran seorang Ibu. Terutama, ketika satu anaknya tersangkut kasus korupsi dan jatuh sakit. Ada nilai moral yang dapat diambil dari cerita itu. Terlebih, kasih Ibu tiada batasnya, tak terhingga sepanjang masa.

Cerita tentang legenda tukang nasi goreng bernama Koh Su pun tak kalah menariknya. Kerinduan akan rasa dan segenap misteri yang menyelubungi Koh Su menjadi bumbu yang membuat cerpen ini semakin menarik dan penasaran. Cerpen 'Koh Su' tulisan Puthut EA ini harus disimak betul sampai akhir cerita bila memang pembaca penasaran soal asal usul Koh Su dan bumbu nasi goreng ajaibnya.

Romantisme masa lalu turut juga dihadirkan oleh Wilson Nadeak lewat 'Serdadu Tua dan Jipnya'. Kisah seorang pensiunan yang menghabiskan sisa hidupnya dengan memelihara sebuah jip Willys tua ini menjadi suatu romantika tersendiri. Romantika itu hadir dalam segenap konflik antara si serdadu tua dengan istrinya. Namun, penulisnya berhasil mengubah haluan sehingga akhir (ending) dari cerita ini tidak selesai disitu.

'Sinai' dari Dewi Ria Utari dan 'Belenggu Salju' dari Triyanto Tiwikromo adalah dua cerpen satir yang cenderung gelap. Keduanya bercerita tentang gelapnya jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah keabadian. Sedang, 'Bigau' yang ditulis Damhuri Muhammad, lebih mengangkat unsur dan nilai legenda tradisional. 'Bigau' bercerita tentang seorang jagoan yang memiliki kesaktian yang diperolehnya lewat sebuah cara yang hanya dia saja yang mampu melakukannya. Konflik muncul ketika ia harus mewariskannya.

'Lak-Uk Kam' dari Gus Tf Sakai bercerita soal penjaga mercusuar yang selalu sendirian setiap bertugas. Tiga bulan sekali ia dirotasi ke mercusuar-mercusuar lain. Tiga bula sekali pula ia merasakan kesendirian yang sama.

GM Sudarta muncul dalam kumpulan cerpen ini. Sebagaimana telah kita kenal sebelumnya, GM Sudarta adalah seorang kartunis dengan karyanya yang mashur yaitu 'Oom Pasikom'. Cerpen 'Candik Ala' yang ditulisnya mengingatkan saya pada lirik pembuka pada lagu Koes Plus, "Melati Biru'. Cerpen ini bercerita soal kenangan seorang anak terhadap ayahnya. Dibumbui dengan candikala, suatu titimangsa dimana batas-batas gaib menjadi samar.

'Sepatu Tuhan' yang ditulis Ugoran Prasad, seketika mengingatkan kita kepada sepakbola, terutama soal piala dunia. Simak kisah sepatu Franz Beckenbauer dan si 'Tangan Tuhan' Maradona. Romantisme sepakbola dan melankoli persahabatan adalah dua unsur yang berpadu dalam cerpen ini.

Dua cerpen terakhir pun agaknya juga mengesankan bagi saya. 'Hari Terakhir Mei Lan' yang ditulis Soeprijadi  Tomodihardjo membawa pembaca pada suasana China dimasa penuh pergolakan. Sedangkan, 'Gerimis Yang Sederhana' dari Eka Kurniawan, yang sekaligus jadi cerpen terakhir, bercerita soal pertemuan dua orang. Yang membuat saya menyunggingkan senyum adalah kenyataan bahwa si pria menyembunyikan cincin kawinnya dan tak sengaja tercampur dengan recehan yang ia berikan pada pengemis. Betapa naifnya hidup ini bahwa masih saja ada cerita soal pria beristri yang menyembunyikan identitasnya setiap akan menemui seorang perempuan yang baru dikenalnya.

Konklusi

Sebuah cerpen berpacu dengan keterbatasan ruang cerita. Apalagi, ketika harus muncul dalam ruang media cetak koran. Penulis dituntut mampu membuat cerita pendek yang kaya dengan sintesa pengalaman dengan cara yang meyakinkan. Oleh karena itu, setiap cerpen yang muncul di hari Minggu ini memiliki konflik dari dunianya sendiri. Dunia yang terbentuk dalam keterbatasan ruang cerita. Sekalipun begitu, semuanya membuktikan bahwa dalam sebuah keterbatasan ada banyak ruang untuk sebuah cerita.


Paninggilan, 14 September 2013.


Kamis, 06 Juni 2013

Sang Penari dari Dukuh Paruk

Saya memang agak telat untuk menonton ‘Sang Penari’ setelah resmi dirilis 10 November 2011. Itu pun lewat hasil unduhan dari sebuah forum. Pun, membaca buku ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ sebelum edisi kompilasi trilogi bersama ‘Jantera Bianglala’ dan ‘Lintang Kemukus Dini Hari’, pemberian seorang sahabat. Pengalaman membaca buku kini tidak akan lagi sama. Maraknya visualisasi dan adaptasi cerita dari sebuah judul buku akhir-akhir ini menghadirkan suatu pengalaman lain dalam konteks pemaknaan sebuah karya, terutama sastra.


Tak terkecuali pada ‘Sang Penari’. Film yang digarap oleh Ifa Isfansyah dan skenario yang digarap bersama oleh Salman Aristo dan Shanty Harmayn ini menghadirkan sebuah pencitraan, pemaknaan, dan visualisasi gagasan atas apa yang penah dituliskan Ahmad Tohari dalam bukunya. Perlu dicatat, bahwa menampilkan kembali isi dari buku yang pernah mengalami pelarangan edar oleh Orde Baru ini bukanlah sesuatu yang mudah, as it is or as given.Terutama, menyesuaikan alur cerita agar tampil lebih singkat dari jalan cerita pada buku aslinya. Re-interpretasi terhadap karya Ahmad Tohari mutlak diperlukan.


‘Sang Penari’ bertutur tentang cerita cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Indonesia pada pertengahan 1960-an. Dukuh Paruk namanya. Pedukuhan yang masih menganut nilai-nilai lokal-tradisional dalam tata kehidupannya ini menganggap ‘ronggeng’ bukan sekedar seni dan tradisi belaka. Ronggeng dalam tata hidup masyarakat Dukuh Paruk adalah sebuah bentuk pengabdian terhadap leluhur mereka, Eyang Sacamenggala. Maka begitu Srintil kehilangan ibunya yang ronggeng itu karena insiden ‘tempe bongkrek’, Dukuh Paruk mengalami stagnansi dalam kehidupannya. Gairah penduduk seakan hilang, tidak ada lagi berkah Eyang Sacamenggala.

Srintil (Prisia Nasution) hanyalah seorang anak kecil biasa yang senang bermain bersama dengan teman-temannya, Rasus (Oka Antara) dan kawan-kawan. Kadang, Srintil menari kala sedang bersama Rasus. Sejak itu, Srintil semakin lekat bersama Rasus. Diam-diam, Nyai Kartaredja (Dewi Irawan) pun menaruh hati bahwa suatu saat kelak cucunya itu menjadi ronggeng. Rasus tidak bisa menahan Srintil.


Rasus tahu bahwa Srintil akan menjadi ronggeng. Rasus mencoba menerima kenyataan dengan memberikan keris peninggalan Ibu Srintil kepada Srintil. Keris itu dipercaya sebagai pertanda bahwa Srintil dipercaya leluhurnya untuk menjadi ronggeng. Kehidupan Dukuh Paruk kembali bergairah setelah Srintil didaulat menjadi ronggeng dan harus menjalani ritual ‘bukak klambu’.

Rasus semakin tidak bisa menerima kenyataan itu. Beruntung, Srintil pun tidak rela keperawanannya diserahkan pada orang lain. Maka, mereka pun bercinta sebelum ‘bukak lambu’ digelar. Rasus sekali lagi menyatakan keberatannya pada Srintil. Namun, keputusan Srintil untuk menjadi ronggeng sudah bulat. Tidak ada kata mundur. Zaman pun kemudian bergerak, di mana Rasus harus memilih; loyalitas kepada negara atau cintanya kepada Srintil.


Dalam situasi yang semarak kembali itu, menyusuplah seorang antek partai komunis, Bakar (Lukman Sardi). Bakar mencoba melakukan propaganda di Dukuh Paruk. Warga yang pengetahuannya terbatas itu sedikit-sedikit dan perlahan mulai melakukan apa yang dikehendaki Bakar. Rasus merasa ada yang aneh saat kembali mengunjungi Dukuh Paruk. Pengaruh komunis bawaan Bakar telah begitu kuat di Dukuh Paruk. 


Bakar dengan cerdik memanfaatkan ronggeng untuk propaganda partainya. Kartaredja sempat dibuat ragu dengan pementasan ronggeng yang didukung oleh partai komunis walau akhirnya berhasil meyakinkan kakek Srintil agar mau tampil di kota. Apalagi setelah makam Eyang Sacamenggala dirusak sekelompok orang tidak dikenal. Padahal, itu merupakan fitnah yang dilakukan oleh Bakar dan partainya.

Sampai adegan ini, saya sangat terkesan dengan visualiasi teks pada bab yang sama. Perusakan makam itu dianggap sebagai pertanda bahwa Srintil harus kembali meronggeng. Sebuah keputusan yang kelak membawa Dukuh Paruk pada pergolakan sejarah.


Roda waktu pun berputar. Dukuh Paruk dinyatakan ‘merah’. Dengan demikian, operasi penumpasan pun digelar. Warga Dukuh Paruk yang tidak tahu apa-apa itu apalagi soal pergolakan di ibukota negara menjadi korban. Mereka dipaksa meninggalkan Dukuh Paruk dan resmi menjadi tahanan politik. Seluruhnya menjadi tersangka kecuali Sakum, si penabuh kendang.

Rasus, yang masih memendam rindu pada Srintil mencoba untuk kembali ke Dukuh Paruk. Usai menghadapi ‘gempuran’ dan komandannya (Tio Pakusadewo), Rasus tidak menemukan apa-apa lagi di Dukuh Paruk, kecuali Sakum. Lewat beberapa petunjuk, Rasus pergi ke tempat para tahanan dari Dukuh Paruk ditahan. Setibanya disana, Rasus berhasil menemukan Srintil. Malang, Rasus hanya dapat melihat Srintil pergi. Srintil digiring untuk dibawa ke tempat lain.

Sebagai penutupan, dikisahkan bertahun-tahun kemudian Rasus telah mendapat kenaikan pangkat. Namun, kenangan tentang Srintil tidak pernah padam. Rasus tahu dimana harus mencari Srintil. Saat itu, pemerintahan telah beralih ke tangan Orde Baru. Dukuh Paruk pun tinggal cerita, tak terkecuali ronggeng yang hanya sebuah tontonan yang dijajakan belaka. Dalam sebuah kesempatan di Pasar Dawuan, Rasus bertemu kembali dengan Srintil yang sedang ‘ditanggap’ oleh beberapa orang saja. Srintil merasa ketakutan dan segera pergi dengan Sakum. Namun, Rasus sempat menggenggam tangan Srintil, menyelipkan kembali keris pusaka yang dulu pernah ia berikan pada Srintil.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Kisah cinta Srintil dan Rasus awalnya adalah sebuah cerita cinta sederhana. Namun, akhirnya terpisah oleh jalinan takdir itu sendiri. Rasus yang merasa kecewa karena Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng menemukan pelariannya dalam wujud ketentaraan. Rasus dan Srintil pernah mencoba untuk mengkompromikan takdir mereka. Srintil tidak mampu menghindar dari ‘indang’ ronggeng yang diyakini telah memilihnya. Rasus sendiri tidak dapat berbuat banyak karena ia telah menjadi seorang tentara.

Saya bisa memberi nilai sempurna untuk interpreasi teks ke dalam citra visual untuk film ini. Latar belakang pengambilan gambar dan adegan yang menghadirkan nuansa alami khas Banyumasan tidak bisa dipisahkan dengan konteks ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ dan melekat kepadanya sebagai sebuah kesatuan identitas. Terlebih, ada beberapa detail dalam buku yang diangkat ke dalam cerita. Hebatnya, visualisasi dalam film persis dengan yang saya bayangkan dalam imajinasi personal. Sebagai contoh, potongan dialog dengan kata-kata seperti “asu buntung” kerap muncul sebagai sumpah serapah. Tak ketinggalan, adegan ketika Srintil mengencingi jampi-jampi yang ditanam di dekat kamarnya.  Overall, film ini tidak kehilangan detail dalam teks ‘Ronggeng Dukuh Paruk’.

Saya juga melihat totalitas akting yang diberikan oleh pemeran-pemeran film ini yang very exceptional. Prisia Nasution mampu mendalami karakter seorang Srintil yang tumbuh dewasa dan menjadi ronggeng. Sementara, Oka Antara konon ‘mempersiapkan’ dirinya dengan diet ketat dalam jangka waktu yang lama untuk memerankan Rasus, agar dapat memaknai karakter Rasus sebagai bocah yang sering kelaparan, tidak bisa membaca, dan memiliki tatapan nanar. Termasuk menyesuaikan logat bicara Banyumasan. Pun, sama halnya dengan Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, dan Tio Pakusadewo.

Tidak heran, bila kemudian ‘Sang Penari’ mendulang berbagai pujian dari kritikus. Tak lupa, Ahmad Tohari menyebut ‘Sang Penari’ sebagai adaptasi yang layak untuk karyanya. Pada Festival Film Indonesia 2011, film ini meraih 10 nominasi dan berhasil memenangkan 4 piala citra. Semuanya untuk penghargaan utama. Penghargaan Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Ifa Isfansyah, Aktris Terbaik untuk Prisia Nasution, dan Aktris Pendukung Terbaik untuk Dewi Irawan. Hebatnya lagi, ‘Sang Penari’ pun muncul di situs database film imdb.com. Walau sinopsisnya tidak selengkap di Wikipedia, namun bagi saya itu sudah cukup. Informasi yang dimuat IMDB sudah cukup lengkap untuk sebuah film terbaik dari Indonesia.

Walaupun ‘Sang Penari’ berangkat dari suatu sejarah masa yang sudah lama terlupakan (untuk tidak menyebutnya sengaja diabaikan) namun relevansinya dengan keadaan saat ini tetap terjaga. Kisah percintaan, dari mana pun asal dan sumbernya, tetap membawa suatu nuansa tersendiri. Pergolakan yang mewarnai perjalanan bangsa pun sama dengan gejolak dalam hati. Kadang, cinta tidak hanya sebatas perasaan. Terlalu banyak dimensi yang menaunginya. Seperti kisah cinta Rasus dan Srintil.



Judul        : Sang Penari
Sutradara  : Ifa Isfansyah
Cast          : Prisia Nasution, Oka Antara, Dewi Irawan, Slamet Rahardjo,
                  Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Happy Salma
Tahun        : 2011
Produksi    : Salto Films



Paninggilan, 6 April 2013.

Minggu, 10 Maret 2013

Zero Dark Thirty: An American Revenge

“I'm going to smoke everyone involved in this op and then I'm going to kill bin Laden.” 
 – Maya (Jessica Chastain)

Osama bin Laden adalah sosok yang mengubah konstelasi peradaban dunia sejak peristiwa 9/11. Rentetan peristiwa yang tak urung mengubah kondisi geopolitik dunia, dimulai dengan invasi ke Afghanistan tahun 2001, dan penyerbuan terhadap Irak tahun 2003. Okupansi yang masih terus berlangsung hingga hari ini. Segenap pemboman dibelahan dunia lain seperti di London 2005 pun dikaitkan dengan tokoh utama Al Qaeda ini. Sehingga kepalanya dihargai sangat tinggi oleh para pemburunya.


Zero Dark Thirty menampilkan thriller khas Amerika. Konspiratif dan provokatif. Ketegangan dimulai sejak scene pertama. Interogasi atas tahanan yang dianggap sebagai penyiksaan ditampilkan sebagai sesuatu yang biasa terjadi. Sang interogator tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik.

Cerita terus berlanjut. Kegagalan demi kegagalan mengikuti misi CIA dalam melindungi ‘homeland’. Serangan bom bunuh diri kian marak. Al Qaeda mengaku bertanggungjawab atas semua kejadian itu. Puncaknya, bom bunuh diri yang dilakukan seorang martir Al Qaeda di field base operation CIA. CIA semakin dibuat kebingungan dalam menentukan target besar yang mereka cari, Osama bin Laden.


Sudah jadi rahasia umum bahwa Osama bin Laden bersembunyi di suatu tempat yang rahasia. Suatu tempat terpencil yang tetap masih bisa membuatnya berhubungan dengan dunia luar. Persembunyian Osama di Abbottabad, Pakistan pun akhirnya berhasil ditemukan oleh CIA. Namun, butuh waktu sekitar 100 hari lebih sebelum akhirnya para pemimpin CIA mengambil tindakan atas informasi intelijen itu.

Atas prakarsa Maya (Jessica Chastain) informasi keberadaan Osama dapat ditindaklanjuti. Serangan ke Abbottabad akan dilakukan oleh pasukan khusus NAVY SEAL dengan menggunakan dua helikopter Apache yang telah dimodifikasi ‘stealth mode’. Menarik, karena dua helikopter ini disimpan di Area 51 Nevada AFB.



Penyerbuan pun dilakukan. Satu helikopter gagal mendarat dengan sempurna. Walau begitu, tanpa kehilangan personil, NAVY SEAL tetap menerobos markas persembunyian Osama. Tidak ada perlawanan berarti. Kecuali, beberapa tembakan dari pengawal Osama. Adegan kekerasan muncul sepanjang penyerbuan dan pembunuhan terhadap terrorists suspect. Hingga akhirnya NAVY SEAL berhasil memastikan Osama bin Laden telah berhasil dibunuh.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Pertama kali mengetahui peristiwa penyerbuan untuk memburu Osama bin Laden pada Mei 2011 ini akan difilmkan yaitu waktu saya menonton “Habibie dan Ainun” awal bulan Januari kemarin. Dalam trailer film, sudah nampak beberapa adegan yang jelas-jelas bakal menunjukkan rating film ini sebagai Restricted, Parental Guidance. Sejak itu, saya berspekulasi bahwa Zero Dark Thirty adalah sebuah film dokumenter. Ternyata, saya salah. Film ini adalah sebuah thriller.


Sayangnya, saya tidak menemukan banyak adegan tembak menembak seperti dalam serial film intelijen seperti The Bourne Quartology dan James Bond. Kebanyakan adegan dalam film ini menampilkan beberapa persoalan internal CIA, seperti kapan mereka akan mengambil tindakan, dan segenap kegagalan CIA dalam menemukan ancaman ‘imminent threat’.

Zero Dark Thirty adalah sebuah istilah “slang language” dalam konteks militer, untuk waktu yang disebut sebagai “early hours of the morning before dawn”. Relevansinya dengan film ini adalah bahwa peristiwa penyerbuan ke markas terakhir Osama dilakukan pada tengah malam hingga pukul 2 pagi pada tanggal 2 Mei 2011. Istilah ini juga melambangkan selubung kegelapan dan kerahasiaan yang merundungi satu dekade usaha penangkapan Osama bin Laden.

Zero Dark Thirty seakan menjadi legitimasi bagi tindakan Amerika Serikat dalam memberantas  terorisme global. Segala tindakan yang mengancam keamanan dalam negeri sekaligus hegemoni Amerika Serikat di panggung dunia akan mereka lumat habis, tak terkecuali. Sebuah balas dendam a la Amerika terhadap semua yang Al Qaeda pernah lakukan atas mereka. Bagaimanapun, sejarah tetap mencatat bahwa perburuan terhadap Osama bin Laden adalah sebuah perjalanan panjang dalam sejarah umat manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Judul           : Zero Dark Thirty
Sutradara    : Kathryn Bigelow
Cast            : Jessica Chastain, Jason Clarke, Reda Kateeb, Joel Edgerton, Jennifer Ehle
Tahun         : 2013
Produksi     : Columbia Pictures

Paninggilan, 9 Maret 2013.

Minggu, 03 Maret 2013

Doorstoot Naar Djokja

“Jatuhnya Ibu Kota karena serangan Belanda, tidak berarti akhir perjuangan kita. Tetapi dari situ, justru rakyat Indonesia akan memulai perjuangannya yang sengit dan ulet, dan sama sekali tidak mengenal ampun. Republik akan tetap terus berdiri, meski para pemimpin negara ditangkap musuh. Prinsip pokoknya, rakyat akan tetap melanjutkan perjuangan..” 
  Menteri Penerangan, Moh. Natsir – hal. 73

Prolog

Pembacaan atas buku ini diniatkan sejak membaca buku “Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir” terbitan Tim Buku TEMPO, Desember 2012. Buku kecil yang memuat riwayat singkat Panglima Besar Soedirman, karir kepemimpinan militer, hingga kontroversi yang melingkupinya. Sebagian isi buku bercerita soal Agresi Militer Belanda ke-2 yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Simon Spoor, Panglima KNIL, dengan sandi Operatie Kraai (Operasi Gagak) ke jantung republik di Yogyakarta.



Sebuah artikel menyebutkan bahwa satu referensi yang secara detil mengungkapkan soal Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, adalah buku ini, Doorstoot Naar Djokja yang ditulis oleh Julius Pour. Atas asalan itulah, pembacaan atas buku ini dilangsungkan sebagai ‘sambungan’ cerita sebelumnya dari buku Panglima Besar Soedirman.

Naar Djokja

Doorstoot Naar Djokja, bila diterjemahkan secara bebas (mengacu pada Google Translate) adalah Tusukan ke Jogja. Barangkali, itu sebabnya dinamakan Operatie Kraai atau Operasi Gagak. Serangan ke jantung Republik dilangsungkan sejak 19 Desember 1948 pukul 00.00. Ribuan prajurit KNIL (Koninklijke Netherlands Indische Lager-Tentara Hindia Belanda) didukung puluhan pesawat tempur mengudara dari Lapangan Udara Andir di Bandung menuju sasaran Lapangan Terbang Maguwo Yogyakarta.


Simon Hendrik Spoor, Panglima KNIL

Serangan ke Maguwo dilaksanakan oleh KST (Korps Speciale Troopen-Korps Pasukan Khusus) untuk segera menduduki lapangan terbang dan membuat jembatan udara dengan pasukan kiriman dari  Kalibanteng Semarang. Sebelum berangkat terbang, pasukan para KST melagamkan mars untuk menaikkan moral mereka “..naar Djokja.. naar Djokja..”.

Penyerbuan mendadak ke Yogyakarta ini tidak pernah diduga oleh Pemerintah Republik sebelumnya. Berhubung Komisi Tiga Negara (KTN) masih berada di Kaliurang, Yogyakarta. Pengalaman lebih dahulu membuktikan bahwa Belanda akan kembali mengulang hal serupa seperti yang dilakukannya pada Agresi Militer ke-1, 21 Juli 1947. 

Pesawat Bomber KNIL di Lapangan Terbang Andir, Bandung

Saat itu, Belanda mengumumkan bahwa pasukannya telah melintasi garis demarkasi Van Mook pada pukul 00.00. Berdasarkan kenyataan itu, Kolonel TB Simatupang mencoba meyakinkan Bung Hatta. Secara logis, Bung Hatta meyakinkan bahwa kemungkinan Belanda menyerang sangat tidak masuk akal. Sedangkan, para pemimpin militer sudah melihat kemungkinan akan datangnya serangan Belanda sehingga militer telah menyiapkan Perintah Siasat dari Panglima Besar Soedirman.

Melalui siaran radio hari Sabtu, 18 Desember 1948, Wakil Agung Mahkota Kerajaan Belanda, Dr. Louis Van Beel, mengeluarkan maklumat bahwa ia akan mengumumkan sesuatu pada esok pagi. Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak para pemimpin Republik. Tidak biasanya pengumuman dari Belanda datang pada hari Minggu. Kecurigaan terhadap kemungkinan serangan pun semakin meningkat.

Pengambilan keputusan yang berjalan alot di KTN antara kedua negara bersengketa telah membuat Belanda memainkan intrik. Saluran komunikasi sengaja diputus. Kemudian, Van Beel juga ‘memainkan’ surat Merle Cochran, komisioner KTN. Sehingga, Perdana Menteri Dr. Drees di Den Haag pun tidak mempunyai pilihan lain selain memberi otorisasi kepada Simon Spoor untuk melaksanakan Aksi Polisionil (sebutan Belanda untuk tindakan agresi militer ke Republik Indonesia) setelah menimbang semua laporan ia terima.

Sabtu malam pukul 21.00, Jusuf Ronodipuro dipanggil menghadap ke Istana Rijswijk (kini Istana Merdeka) dalam kapasitasnya sebagai perwakilan delegasi Republik. Dalam kesempatan itu, Jusuf menerima sebuah surat dari Wakil Agung Mahkota bahwa Pemerintah Kerajaan Belanda merasa telah tidak terikat dengan perjanjian Renville.

 “The said agreement should be terminated and is considered as no longer binding as from Sunday, 19 December, 1948, 00.00 hours Batavia time.” (hal.15)

Peran Delegasi Republik di Batavia dalam menyiarkan berita soal penyerangan ini sangat penting. Mereka kemudian menyusun laporan soal kejadian itu dan segera mengirimkan telegram kepada Duta Besar Republik Dr. Soedarsono dan Menteri Keuangan Alex Maramis yang sedang berada di New Delhi, India, melalui saluran telegram milik Konsulat Jenderal India di Jakarta. Sehingga, pada hari Minggu keesokan harinya All India Radio di New Delhi sudah dapat menayangkan berita bahwa tentara Belanda telah menyerang dan membom Yogyakarta.

Minggu, 19 Desember 1948. Pesawat pertama pengangkut KST berangkat dari Andir, Bandung. Menyusul pesawat lainnya yang terang setiap satu menit. Pukul 08.00 pagi Dr. Louis Beel membacakan pengumuman yang isinya serupa dengan suratnya kepada Delegasi Republik di Batavia. Sedangnya, 3,5 jam sebelum pidato Beel dibacakan, tepat pukul 05.15 Landasan Udara Magoewo sudah dihujani bom oleh tiga pesawat pengebom taktis B-25. Hal ini menandai serangan pengecut dari pihak Belanda sebelum dikeluarkannya pernyataan perang.

 
Pesawat Bomber KNIL menuju Yogyakarta

Pemboman terus berlanjut hingga KST berhasil menyelasaikan tugasnya dan pasukan tentara KNIL bersama Marinir dari KM (Koninklijke Marine- Angkatan Laut Kerajaan Belanda) dapat menyerbu ke Yogyakarta. Dengan kondisi demikian, Presiden Soekarno segera mengadakan rapat kabinet guna menentukan langkah apa yang akan diambil oleh Pemimpin Republik. Dalam sebuah catatan, rapat kabinet tersebut dihadiri oleh Panglima Besar Soedirman. Namun, Panglima Besar tidak ikut masuk di ruang rapat melainkan menunggu di ruang tamu Istana Presiden. Hal ini menjadi indikasi awal bagi anak judul buku ini, yaitu pertikaian pemimpin sipil-militer.

Briefing Koninklijke Marine, 18 Desember 1948*


Keputusan telah diambil. Bung Hatta mengirim telegram untuk memberikan mandat kepada Menteri Urusan Kemakmuran, Syafruddin Prawiranegara yang sedang berada di Bukittinggi untuk membuka Pemerintahan Darurat Republik seandainya pemimpin Republik di Yogyakarta ditahan Belanda. Kemudian, pesan itu juga diteruskan bahwa Menteri Keuangan Alex Maramis yang sedang berada di India untuk membuka Exile Government.

Presiden beserta staf akan tinggal di Istana Presiden. Presiden Soekarno menyatakan tidak akan ikut bergerilya bersama Panglima Besar Soedirman, seperti sudah direncanakan sebelumnya bila Yogyakarta diserang musuh. Kenyataan tersebut melukai hati Panglima Besar Soedirman. Bahwa Soekarno ‘melanggar’ janjinya sendiri untuk ikut memimpin perjuangan gerilya. Dengan berbagai alasan, Panglima Besar Soedirman terpaksa menerima kenyataan bahwa Pemimpin Republik telah ‘menyerah’ kepada Belanda.

Pertempuran tidak hanya terjadi di Yogyakarta saja. Pertempuran guna menghalangi mobilisasi pasukan Belanda juga dilakukan di kota Solo, dipimpin oleh Komandan Wehrkreise (Kantong Militer) I, Letkol Ignatius Slamet Riyadi. Atas perintahnya, Solo kemudian dibumihanguskan dan pasukan Republik mengundurkan diri ke luar kota untuk melakukan perlawanan balasan secara mendadak.

Panglima Besar Soedirman dilantik sebagai Pemimpin Angkatan Perang


Serangan Belanda yang bertujuan meringkus Pemimpin Republik serta menghabisi tentara Republik ini berjalan begitu singkat sehingga pada Minggu siang, Soekarna beserta pemimpin lainnya yang masih berada di Istana ikut ditangkap Belanda. Soekarno, Sjahrir, dan Agus Salim diasingkan ke Parapat, Sumatera Utara. Sedangkan, Bung Hatta, Ali Sastroamidjoyo, Suryadarma, dan Moh. Roem, menyusul diasingkan ke pulau Bangka.

Dalam keadaan gerilya, Panglima Besar Soedirman menerima kabar bahwa Pemimpin Republik telah menyerah. Mereka ditangkap di Istana. Hal ini tentu sangat menyakitkan hati Panglima Besar. Bagaimanapun, mereka tidak melakukan perlawanan sedikit pun dan membiarkan diri mereka ditangkap musuh. Keadaan ini ikut memperburuk kondisi kesehatan Panglima Besar yang memang sudah ringkih.

Serangan Umum 1 Maret 1949

Perlawanan demi perlawanan pun terus dilakukan di berbagai kota. Belanda masih bernafsu untuk menghabisi Panglima Soedirman. Sedangkan, upaya diplomasi melalui PBB pun terus dilakukan. Dewan Keamanan diminta segera mengeluarkan resolusi terkait dengan agresi militer Belanda kepada suatu negara berdaulat. Sementara perjuangan diplomasi terus berlanjut, tentara Republik berusaha menyerbu kembali Yogyakarta. Serangan yang kemudian terkenal dengan sebutan “Serangan Oemoem 1 Maret 1949”, dipimpin oleh Komandan Wehrkreise III, Letnan Kolonel Soeharto, yang kelak menjadi Presiden selama 32 tahun.

Serangan itu dimulai usai bunyi sirine tanda jam malam berakhir. Letkol Soeharto mempimpin sendiri pasukannya untuk menyerbu Yogyakarta. Serangan tersebut berlangsung dengan sukses. Bukan saja mengejutkan tetapi juga terkoordinasi dengan cermat. Pertanyaan kemudian muncul, siapakah yang memberi otorisasi kepada Letkol Soeharto untuk melaksanakan serangan. Perintah Panglima Besar Soedirman kepada Sultan Hamengkubuwono IX, untuk tetap tinggal di kota dilaksanakan sepenuhnya oleh Sultan. Sehingga, Sultan dapat mudah berkoordinasi dengan Letkol Soeharto yang berhubungan dengan Sultan lewat kurir, bahkan bertemu sendiri dengan Sultan sehingga dicapai kesepakatan untuk melakukan serangan. Serangan ini juga berarti memberi pernyataan kepada dunia bahwa pasukan militer Republik masih ada. Dengan cerdik, ketika serangan dimulai, dari basis operasi radio di Wonosari, tersiar kabar bahwa pasukan Republik menyerang dan dapat menguasai Yogyakarta. Sebuah pukulan besar bagi Belanda yang kemudian menyerang Wonosari dengan sia-sia karena telah ditinggalkan pasukan Republik.

Letkol Soeharto melapor kepada Sultan Djokja
Melalui UNCI (United Nations Commision for Indonesia), perjuangan diplomasi Republik membuahkan hasil yaitu dengan dibebaskanny Pemimpin Republik. Pembebasan tersebut dilakukan setelah Belanda mendapatkan desakan bertubi-tubi dari komunitas internasional. Belanda sebagai negara penerima Marshall Plan yang digulirkan Amerika Serikat untuk membangun kembali perekonomian negara dicurigai menyalahgunakan dana tersebut untuk menyerang Indonesia, suatu tuduhan yang kemudian terbukti.

Kembalinya Panglima Besar dan Silang Pendapat

Persoalan kemudian mengemuka menjelang pelaksanaan gencatan senjata. Pada sidang kabinet 15 Juli, pemerintah secara terbuka menuduh pemimpin militer menyatakan gencatan senjata sulit dilakukan. Militer menganggap tidak ada jaminan bahwa Belanda akan datang ke KMB (Konferensi Meja Bundar).

10 Juli 1949, Panglima Besar Soedirman kembali ke Yogyakarta, meninggalkan persembunyian selama perjuangan gerilya berlangsung. Panglima Besar kembali ke Yogyakarta dengan dijemput oleh Letkol Soeharto. Ikut bersama rombongan adalah wartawan harian Pedoman, Rosihan Anwar. Petikan wawancara Rosihan Anwar dengan Panglima Besar segera dikirim ke Batavia.

Dalam catatannya, Rosihan Anwar menulis bahwa Jenderal Soedirman tidak menyetujui garis kebijaksanaan politik para pemimpin Republik yang berada di Bangka. Perjanjian Roem-Roijen yang diterima tanggal 7 Mei 1949, tracee-Bangka, seperti digariskan Soekarno, pada pokoknya akan menghentikan perang gerilya dan bersedia ikut dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, guna merundingkan penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Republik Indonesia Serikat, tidak dapat diterima sepenuhnya oleh Panglima Besar Soedirman. Akibatnya, guna menghindari kesan terjadinya perpecahan pendirian di pucuk pimpinan Republik, Panglima Besar Soedirman harus bisa diajak kembali ke Yogyakarta.

Panglima Besar Soedirman bersama Letnan Kolonel Soeharto

Panglima Besar Soedirman menampakkan dirinya kembali ke tengah khalayak yang menunggunya dengan pakaian sederhana yang selama itu digunakannya bergerilya, pakaian sederhana seorang petani Jawa dengan ditutupi mantel Tentara. Sebuah sikap yang jujur pada sejarah, mengutip penilaian TB Simatupang.

Panglima Besar Soedirman kemudian melapor ke Istana untuk bertemu Presiden dan Wakil Presiden. Setelah itu, Panglima Besar beranjak ke Alun-Alun Utara untuk menyambut parade pasukan. Sore itu, Panglima Besar Soedirman selalu berdampingan dengan Soehart, salah satu perwira militer kepercayaannya. Sosok yang memberikan jaminan pribadi sehingga Panglima Besar bersedia meninggal tempatnya memimpin perang gerilya.

Melalui berbagai pembicaraan, pada 1 Agustus 1949, gencatan senjata secara resmi diumumkan. Gencatan senjata itu adalah kebijakan politik yang konon sudah dirancang Presiden Soekarno dalam pengasingannya di Bangka.

Pada hari itu juga, Panglima Besar Soedirman menulis surat kepada Presiden Soekarno, yang pada intinya melukiskan akibat dari berubahnya kebijakan yang ditempuh para pemimpin politik. Sejumlah perwira militer telah mengalami geestelijke harakiri (bunuh diri jiwa). Meninggal akibat penderitaan batin. Panglima Besar menunjuk contoh Letjen Oerip Sumoharjo dan Kolonel Tjokronegoro. Kemudian, Panglima Besar juga meminta persetujuan atas pengunduran dirinya dari jabatan Panglima Besar Angkatan Perang dan Kepala Staf Angkatan Perang, disertai dengan opsi keluar sama sekali dari ketentaraan. Surat yang hendak dikirimkan oleh Kolonel AH Nasution itu kemudian dibaca dan Kolonel Nasution menemui Panglima Besar diruangannya. Kemudian, melalui pendapatnya yang menegaskan persatuan pemimpin republik, Panglima Besar batal mengirim surat itu.

Panglima Besar menitip pesan pada Kolonel Nasution, mengharapkan agar Presiden Soekarno sendiri yang memberikan pidato di radio untuk memerintahkan gencatan senjata, berikut kebijakan politik yang mendasarinya.

Sejak hati itu, meski tidak jadi mengundurkan diri, Panglima Besar Soedirman praktis menarik diri dari segala macam kegiatan kemasyarakatan. Presiden Soekarno sendiri sering merasa tidak nyaman, khusus pada sikapnya yang memaksa memberlakukan gencatan senjata yang tidak disetujui Panglima Besar Soedirman.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membaca kembali sejarah peristiwa yang menentukan keberlangsungan sebuah Republik adalah ibarat menyusun puzzle. Kemudian, kepingan puzzle yang berserakan itu kembali menyatu menjadi sebuah gambar utuh. Begitulah, pembacaan atas sejarah Republik ini dilangsungkan. Pembacaan yang menggabungkan kembali berbagai pengalaman sejarah lainnya.



Doorstoot Naar Djokja, dewasa ini menjadi sebuah referensi sekaligus catatan sejarah perjalanan bangsa yang hadir ditengah modernisasi yang dialami bangsa ini. Buku ini juga penuh dengan catatan sejarah pelakunya. Entah itu pejuang Republik, tentara KNIL, maupun anggota komisioner KTN. Seperti disebutka terlebih dahulu oleh penulisnya, maka catatan tambal sulam ini menjadi lebih bermakna karena pembaca disuguhkan kepada  bukti otentik melalui catatan yang bersifat personal itu.

Personally, saya menggarisbawahi beberapa nama yang kemudian tercatat dalam sejarah Republik sebagai ‘pengkhianat’. Pembentukan dewan-dewan bersenjata di beberapa daerah yang kemudian mencoba melakukan kudeta pasca diberlakukannya rasionalisasi angkatan perang adalah bukti ketidakpuasan militer terhadap kebijakan pemimpin politik. Memang pada akhirnya TNI berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Namun, sangat disayangkan bahwa Republik telah kehilangan putra-putra terbaiknya. Meniru ucapan Syafruddin Prawiranegara menjelang ajalnya “rasanya lebih sakit dijajah bangsa sendiri...”.

Pengalaman long-range reading bersama Doorstoot Naar Djokja telah membuka wawasan pada sebuah tabir yang melingkupi sejarah Republik. Lengkap dengan kiprah dan sepak terjang tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Khusus mengenai silang pendapat pemimpin militer-sipil, semuanya terletak di tangan pembaca. Siapa yang paling benar? Sejarah telah mencatat.

Judul        : Doorstoot Naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer
Penulis     : Julius Pour
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2009
Tebal       : 435 hal.
Genre      : Sejarah

 
Paninggilan, 3 Maret 2013.

* image courtesy Digitale Museale Collectie Nederland, http://www.netwerkoorlogsbronnen.nl