Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2016

Para Priyayi

Courtesy: www.goodreads.com

Catatan Pembuka
Another monumental works from Umar Kayam. Saya harus akui bahwa buku ini punya daya jangkau yang luas dan lintas generasi.

Sudah lama sekali saya mengidamkan buku ini. Terlebih setelah berhasil mendapatkan "Mangan Ora Mangan Kumpul". "Para Priyayi" selalu menggelitik rasa penasaran saya. Tentang bagaimana status priyayi itu berkembang menjadi sebuah identitas yang memiliki tingkatan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Setidaknya, saya membutuhkan gambaran tentang hal itu, dimana priyayi telah menjadi semacam gengsi kelas dalam tatanan hidup bermasyarakat.

Saya belum sampai pada halaman setengah buku ini. Namun, sudah cukup memiliki gambaran bagaimana priyayi itu "dilestarikan". Saya juga belum sampai pada jawaban, apakah yang dimaksud dengan priyayi itu sendiri? Apakah sebuah status kelas dalam masyarakat? Apakah hanya sekedar istilah dan sebutan bagi para kaum elite birokrasi? Lantas apa bedanya dengan birokrat? Apakah priyayi ini jalan hidup atau hanya sebuah gaya hidup belaka?

Apapun itu jawabannya, saya masih harus menamatkan buku ini terlebih dahulu. Sebagai kewajiban untuk memahami secara utuh seorang priyayi menurut penuturan Umar Kayam.


Para Priyayi

Membaca beberapa halaman pembukaan buku ini sama rasanya dengan membaca karya-karya Ahmad Tohari. Perasaan khas pedesaan yang timbul turut menjadi satu nuansa yang tidak terlupakan. Tidak hanya itu saja. Para penulis seperti mereka pandai mengolah rasa dalam tulisannya sehingga gairah pedesaan itu begitu hidup dan remarkable. Mereka menjadikan desa menjadi sebesar dunia-dengan segala permasalahannya.

Saya lebih senang menandai "Para Priyayi" ini sebagai sebuah roman, bukan novel. Umar Kayam berhasil meletakkan segala macam permasalahan priyayi, sejak awal mula trah keluarga dibangun hingga perjalanan melintas masa. Dengan berbagai sudut pandang yang dinamis, "Para Priyayi" tidak memandang priyayi sebagai satu hal yang statis. Ia menjelma bukan hanya sebagai kata benda, tetapi juga menjadi sebuah kata kerja.

Kehidupan Ndoro Seten diceritakan begitu gamblang; lengkap dengan segala permasalahan kehidupan sehari-hari. Ketiga anaknya berhasil menjadi priyayi seperti yang didambakannya. Sebuah penghargaan dan status sosial yang punya tempat tersendiri di lingkup sosiologis masyarakat pedesaan.

Konflik mulai meninggi ketika keturunan para priyayi ini berkembang sesuai zamannya. Bahkan hingga ada yang tersangkut kasus G30S/PKI. Cara Umar Kayam mengakhiri kemelut-kemelut ini terkesan tidak tergesa-gesa, melainkan berhasil memunculkan solusi dalam konteks kepriyayian. Pun, dengan demikian kepriyayian yang sedari awal sudah dibangun tidak lantas hilang begitu saja diretas zaman. Just like any romantic roman, the stories ends with happy ending.

Memang dibutuhkan stamina membaca yang tinggi untuk menyelesaikan roman ini. Namun, itu semua akan terbayar dengan permainan alur cerita dan konflik yang apik. Umar Kayam memadukan filosofi Jawa dan kepriyayian sesuai dengan zamannya. Nilai-nilai yang tidak lekang dimakan usia adalah satu nilai tambah untuk karya-karya semacam ini.


Judul       : Para Priyayi
Penulis    : Umar Kayam
Penerbit   : Pustaka Utama Grafiti
Tahun      : 2008
Tebal       : 337 hal.
Genre      : Roman Klasik-Sastra Indonesia


Medan Merdeka Barat-Cipayung, 30 Oktober 2016.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Rahvayana 2: Ada Yang Tiada

Sebaiknya dunia yang tak ada harus tetap kita adakan. Kalau perlu, kita ada-adakan. Caranya, yang tidak ada itu harus kita ada-adakan manfaatnya.



Kisah lanjutan dari Rahvayana edisi perdana, Aku Lala Padamu ini masih bercerita soal si ‘Aku’ yang tak henti-hentinya mengagumi Sinta. Sejak pertemuan pertama pada gerimis di Borobudur hingga Rahvayana akhirnya benar-benar melanglang buana tampil di gedung pertunjukan legendaris dunia. ‘Aku’ masih menulis surat-suratnya pada Sinta walau kadang Sinta tak lantas langsung membalasnya.

Saya tidak perlu menjelaskan lagi soal pembebasan pakem Rama-Sinta dari cerita Ramayana yang sudah terlanjur beredar dan kita semua maklum dibuatnya. Rama mengumpulkan pasukannya untuk merebut kembali Dewi Sinta. Pada “Rahvayana 2”, permainan sang Resi Sujiwo Tejo semakin mendetail untuk mengungkapkan apa saja yang terjadi diantara Rama-Sinta. Ia berhasil membuat kedua tokoh itu menampakkan sisi hitam-putihnya.

Pengalaman bersama ”Rahvayana 2” ini benar-benar menjadi suatu perjalanan yang menyenangkan. Menyenangkan karena akhirnya saya dapat gambaran mengenai sosok seorang Indrajit bila memang benar ada dalam kehidupan nyata. Sang pemilik Aji Sirep yang lebih sakti dari milik Wibisana ini menemani si ‘Aku’ sejak dari dalam kereta dari Guangzhou, lalu ke Tembok China dimana si ‘Aku’ mendalang untuk lakon Rahwana dan Sinta diiringi  repertoar yang sakral dan kuno, Gending Ayak-Ayak Slendo Manyuro.

Sinta Gugat

Seluruh perjalanan dan petualangan dalam “Rahvayana 2”; Guangzhou, Tembok Cina, Bali, Siberia, Anna Karenina, Himalaya, dst. Pada ujungnya memang hanya soal Rahwana, Sinta, dan Rama. Menjelang akhir cerita, mulai halaman 233 hingga 234, usai Rama berhasil menemui Sinta setelah dibuat tidak berdaya oleh Lawa dan Kusa, dua anak kembarnya yang ikut Sinta mengasingkan diri ke hutan Dandaka, Sinta ‘menggugat’ eksistensi Rama dalam seluruh lakon Rama-Sinta ini.

“Katanya, Rama hanyalah buih. Ia bergerak atas kehendak samudra Siwa. Kenapa cinta Tuhan kepadaku melalui Rama begitu naif? Masih ia syak wasangkai kesucianku setelah 12 tahun hidup bersama Rahwana di Alengka?”

Sinta masih melanjutkan gugatannya.

“Apakah cinta tak ubahnya dengan pengadilan, yang setiap pihak harus membuktikan segalanya?”

Gugatan Sinta menarik simpati para siluman di Dandaka. Bahkan ada yang mulai menangis.

“Rama, sebetulnya kau mencintaiku atau mencintai dirimu sendiri sehingga kau begitu hirau dengan gosip rakyatmu bahwa aku sudah tak suci lagi setelah hidup bersama Rahwana”

Gugatan Sinta pun berakhir.

“Perang Alengka-Kosala kau canangkan bukan demi cintamu kepadaku, Rama, melainkan demi ketersinggungganmu sebagai seorang lelaki dan seorang kesatria!”

Lagi-lagi, saya harus mempertanyakan Rama. Mengapa Dewi Sinta yang dicurigai sudah tidak suci lagi? Apakah karena dominasi maskulinitas terhadap feminitas Sinta? Lantas, mengapa Rama sendiri menangis di balik bukit kala Hanuman membawakan kalung titipan Sinta  untuk dipakai olehnya sekaligus untuk membuktikan kesetiaannya? Dalam hal ini, memang cinta Rama kepada Sinta perlu dipertanyakan. Bila perlu, diadakan lagi penelitian lebih jauh mengenai hal ini. Apakah sebegitu bersyaratnya cinta Sri Rama terhadap Dewi Sinta.

Barangkali memang Rahwana yang tetap bisa mencintai Sinta, apapun keadaannya. Rahwana memang menyembah dan memuji titisan Dewi Widowati itu dengan caranya sendiri. Rahwana menyembah Zat yang ada itu melalui segenap tirakatnya. Rahwana tetap menjunjung dan mencintai Sinta, walau Sinta berubah menjadi Janaki dan Waidehi.

Hanya Sekedar Komentar

Muatan lain yang jadi titik berat lanjutan ‘Aku Lala Padamu’ ini adalah satu soal filosofis tentang ada dan tiada. Pembaca bisa menilai sendiri persoalan filosofis yang rupanya sempat hinggap di kepala sang Resi Sujiwo Tejo. Soal cover buku, saya rasa ‘Aku Lala Padamu’ memang cenderung ‘lebih serius’ dalam menggarap hubungan antara cover dengan jalan cerita.

“Ada Yang Tiada” punya cover yang cenderung lebih ngepop dan santai. Tiga orang gadis naik mobil sedan kap terbuka. Mungkin, mereka naik sedan Mercy Tiger tahun 70-an dan melintasi jalanan Melawai hingga pinggiran pantai California sana. Entah mengapa, saya membayangkan perempuan-perempuan itu adalah Gwen Stefani, Mariana Renata, dan Katy Perry, sang pelantun ‘California Girls’. Entah. Entah mengapa. Seperti ada yang tiada.


Judul        : Rahvayana2: Ada Yang Tiada
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 304 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Fiksi-Novel Sejarah


Medan Merdeka Barat, 18 Juni 2015
hari pertama shaum 1436H, ditemani Tragedy dari Bee Gees

Kamis, 28 Mei 2015

Lupa Endonesa

"Saya yakin orang Indonesia masih percaya pada kebaikan dan kejujuran. Tapi, saya nggak yakin mereka percaya bahwa kebaikan dan kejujuran bisa mereka jadikan jalan untuk mencapai cita-cita..." - Hal.138

Personally, ini adalah buku Sujiwo Tejo pertama yang saya tamatkan. Saya beli sepaket dengan dua buku lainnya yaitu dwicarita Rahvayana. Saya kira buku ini merupakan kumpulan artikel atau cerita soal lunturnya rasa berbangsa dan bertanah air Indonesia dari Sang Dalang Edan yang rupanya pernah mengenyam hidup sebagai wartawan. Namun, saya menemukan satu bentuk pengalaman yang baru dalam mentafakuri kehidupan sejarah bangsa melalui buku ini. 



Lupa Endonesa menggugat kehidupan bangsa ini pada satu periode sejarah yang dilambangkan dengan sosok seorang Presiden dari tanah Pacitan. Segenap persoalan negeri kala itu digamblangkan sedemikian rupa. Sujiwo dengan gagah menulis hal-hal yang malu-malu, memalukan, dan tidak memalukan tentang persoalan kehidupan bangsa Indonesia. Semua ceritanya, menyiratkan bahwa kita ini memang lupa berbangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Sujiwo menggunakan banyak perumpamaan dalam menyampaikan kritiknya atas satu keadaan tertentu. Kemunculan tokoh-tokoh punakawan dan main cast Mahabharata-Ramayana adalah satu unsur penyeimbang cerita. Betapa kenyataan masih bisa bermain dengan fiksi. Lepas dari pakem pewayangan pada umumnya. Penulisnya juga tidak lupa melibatkan para tokoh pewayangan itu dengan unsur modernitas yang kekinian.

Sepintas, cerita-cerita dalam buku ini terlihat sebagai cerita pendek karena selain habis dibaca sekali duduk mereka juga mempunyai unsur fiksi yang kental. Andai pun tidak dianggap sebagai cerpen, tidak salah juga bila kisah-kisah tuturan Sujiwo ini masuk kategori memoar. Memoar bergerak, dari satu kisah ke kisah lain dalam titimangsa yang sama.

Ada dua cerita yang jadi favorit saya disini. “Lakone Hanuman Ambassador” sebagai tandingan dari lakon “Hanuman Duta” dan “Jajak Pendapat para Dewa”. Sujiwo menjadikan seluruh tulisannya sebagai kritik sosial atas segenap peristiwa dengan mengawinkan unsur hiburan dan politik. Tulisannya ini bisa jadi hiburan bagi rakyat yang memang sudah kekurangan bahan tertawaan sekaligus kritik bagi pemimpin bangsa ini kelak di masa mendatang, agar sejarah tidak kembali terulang.

Judul        : Lupa Endonesa
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 218 hal.
Tahun       : 2012
Genre       : Cerita Pendek-Memoar


Dharmawangsa - Medan Merdeka Barat, 11 Mei 2015.

Kamis, 16 April 2015

Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu

“Tuhan, berikanlah zaman kala bendhu setiap hari, supaya besok pagi saya bisa tetap berkarya.”

Kira-kira begitulah bunyi doa seorang karikaturis setiap hari. Pengharapan setiap harinya adalah sebuah inspirasi baru dari suatu zaman atau masa yang ditinggali dan dijalaninya. Karya yang dibuatnya setiap hari adalah bukan hanya sebuah pesan belaka. Gambar yang dibuatnya menjadi sebuah saluran untuk menyuarakan pendapat dan menyebarluaskannya pada khalayak ramai.

Ketika saluran untuk menyampaikan pendapat atau kritik tersumbat, maka karikatur merupakan salah satu jawabannya. Satir yang dituangkan ke dalam gambar membuat daya kritik menjadi tidak langsung, sehingga tidak terlalu terasa menyakitkan. Sejak kemunculannya yang pertama, Panji Koming menjadi saluran untuk mengemukakan ketidakberdayaan. Saat zaman membuat sulit untuk menyampaikan pendapat atau kritik, karikatur menjadi penting dan bermakna.



Kritikan melalui karikatur tetap mempunyai tempatnya sendiri. Hanya, pengukuran kualitas menjadi lebih berat karena yang dituntut bukan hanya alur cerita yang mengalir ataupun komposisi gambar yang lebih mengena tetapi kualitas kritikan yang lebih cerdas.

Panji Koming membuat kita jadi semakin melek informasi. Panji Koming selalu cerdik dalam menemukan sudut pandang yang unik dalam menatap sebuah peristiwa sosial dan politik. Walaupun, mengambil rentetan peristiwa Zaman Majapahit, tetap saja dengan mudah kita mengaitkannya dengan fakta-fakta kontemporer.

Sejak Orde Baru masih bertahta, Panji Koming cenderung tampil serba tersamar dan cenderung tiarap. Ada kesengajaan adegan untuk dikaitkan kepada penguasa negara. Hingga masa orde reformasi dengan segala keterbukaan saat ini, Panji Koming tidak serta merta mengubah tutur ucapnya. Panji Koming tetap hadir dalam kemasan yang bijaksana, santun, nylekit, dan mengusung atmosfir budaya Jawa, guyon parikeno.

Kala Bendhu merupakan keberadaan dalam pemikiran masyarakat Jawa tentang zaman yang terkutuk dan sangat tidak menyenangkan. Kurang lebih, masyarakat secara umum dikuasai kebendaan. Dalam pandangan kartunal, zaman Kala Bendhu disebutkan sebagai zaman culun dan menyebalkan. Bagi kartunis, hal ini jadi lahan berkembangnya kreativitas yang sangat luas, aneh dan beragam. 

Pada edisi ini, Panji Koming mengambil plot Indonesia tahun 2003 hingga 2007. Zaman yang lebih memekik daripada Orde Baru, dimana peninggalan sisa-sisa Orde Baru belum sepenuhnya surut. Tahun-tahun yang penuh dengan tebaran peraturan dan tuaian pelanggaran. Penuh dengan lagu tanpa nada, penuh dengan nada tanpa suara. Penuh dengan penyanyi tanpa manusia. Ibarat telur diujung tanduk. Panji Koming menggiring kita untuk melihat keatas, bagiamana para pengatur negeri ini...membiarkan telur nangkring di ujung tanduk.

Judul        : Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu
Penulis     : Dwi Koendoro Br
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tebal        : 144 Hal.
Tahun       : 2008
Genre       : Karikatur-Komedi


Dharmawangsa, 26 Maret 2015.

Minggu, 08 Maret 2015

Sang Penghasut

Asterix lagi-lagi berhasil menggagalkan penyerbuan Romawi ke Galia kendati Julius Caesar telah mengutus seorang penghasut. Si Penghasut ditugaskan untuk merusak tatanan masyarakat Galia dengan taktik adu domba. Si Penghasut berhasil menjalankan tugasnya. Bahkan Asterix dan Obelix sendiri hampir menjadi korbannya kalau bukan karena keakraban mereka.



Dengan keadaan kacau balau di Galia, pasukan Romawi akhirnya menyerbu. apalagi setelah Si Penghasut berhasil meyakinkan Panglima Romawi bahwa ia telah menemukan ramuan jamu ajaib buatan dukun Galia. Menyadari kelengahannya, Galia kembali bersatu. Mereka tidak akan membiarkan pasukan Romawi mengacak-acak mereka.

Benar saja, pasukan Romawi mengalami kekalahan telak. Kontra intelejen yang dilakukan Asterix dan Obelix ke kamp pasukan Romawi menghasilkan strategi pertahanan yang bagus. Setelah kalah telak, Si Penghasut kembali dipenjara. Kali ini, dengan kesalahan yang berlipat: menyebabkan kekalahan Romawi.

Dharmawangsa, 8 Maret 2015.

Selasa, 03 Maret 2015

Sepotong Hati Yang Baru

Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna
(Sepotong Hati Yang Baru, hal. 51)


Awalnya

Sudah lama saya tahu bahwa Tere Liye adalah seorang penulis yang cukup produktif. Saya sendiri tidak begitu tahu persis kapan Tere Liye merilis karyanya yang pertama. Yang jelas, hingga saya menamatkan pembacaan buku ini, kesannya sebagai penulis produktif belum berubah dalam imaji saya.

“Sepotong Hati Yang Baru” adalah perkenalan saya yang pertama dengan sosok kepenulisan Tere Liye. Terima kasih kepada istri saya yang mengantarkan saya pada karya-karya Tere Liye. Ada beberapa buku yang judulnya saya cukup kenal menghiasi rak di kamarnya. Akhirnya, akhir bulan ini saya putuskan untuk mulai membaca buku-buku itu satu per satu. Dimulai dari yang paling tipis.

Edisi Perkenalan

Kumpulan cerpen ini berisi delapan cerita pendek yang lumayan panjang. Maksudnya, tanpa mengurangi takdir cerpen yang hanya habis dibaca sekali duduk, beberapa cerita didalamnya punya alur yang sangat detail dan dinamis. Saya kagum pada kekuatan penceritaan dan gaya bahasa sang penulis. Dengan begitu padu, menjadikan buku ini tidak sekedar kumpulan cerpen biasa.

Cerpen pertama “Hiks, Kupikir Itu Sungguhan” berkisah tentang kisah muda-mudi yang berada di ambang kegalauan masa mudanya. Tere Liye berhasil mengangkat sebuah fenomena kecil menjadi objek cerita yang ringan namun nyata dan ada dalam keseharian kita. Terlebih dengan boomingnya media sosial, terutama Facebook, membuat cerita ini begitu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang sebuah perasaan bernama GR alias gede rasa.

“Kisah Sie Sie”
adalah cerpen yang menurut saya cukup dinamis dan lugas dalam penceritaan. Dengan alurnya yang demikian, saya merasa seperti membaca sebuah kisah nyata di tabloid khusus perempuan. Penulis mengangkat satu fenomena yang telah terjadi berulang-ulang di Singkawang, Kalimantan Barat. Soal pernikahan WNI keturunan/peranakan Tionghoa dengan WNA yang sengaja datang kesana. Alasan ekonomi seringkali menjadi faktor yang menyebabkan para perempuan muda disana rela untuk diperistri orang asing dan dibawa ke negaranya. Saya kagum dengan tokoh Sie Sie yang menepati janjinya untuk mencintai suaminya apa adanya walau harus mengalami berbagai penolakan dan siksaan.

“Sepotong Hati Yang Baru” kiranya mewakili seluruh penjiwaan atas penulisan buku ini. Banyak alasan yang menyebabkan seseorang patah hati. Tak terkecuali, satu keputusan yang diambil menjelang hari pernikahan yang menghancurkan semua imaji tentang cinta dan kebahagiaan itu sendiri. Bagaimanapun susahnya, si Aku dalam cerita ini berhasil menumbuhkan sepotong hati yang baru untuk mengganti sepotong lainnya yang terlanjur dibawa pergi sang mantan kekasih. Dengan potongan hatinya yang baru ini, ia berhasil menolak si mantan untuk kembali mengikat janji. Sebuah pembalasan yang setimpal. Siapa menabur, maka dia akan menuai.

Legenda Sam Pek dan Eng Tay yang tersohor itu kini diceritakan kembali dalam “Mimpi-Mimpi Sampek Engtay”. Tere Liye menulis kembali cerita ini dengan detail yang cukup istimewa. Saya teringat kembali sebuah yel yel wajib di kalangan mahasiswa, “Mahasiswa Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Khusus untuk Sam Pek dan Eng Tay berlaku “Dua Cinta Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” walau kadang maut akhirnya memisahkan. Moral dari cerita tentang ketulusan adalah hal yang selalu menarik untuk diceritakan kembali, apapun bentuknya.

“Itje Noerbaja & Kang Djalil” adalah cerpen yang unik. Saya kembali teringat pada kalimat-kalimat pengantar cerpen dalam kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Sepotong Senja Untuk Pacarku” dimana terdapat kalimat dengan ejaan lama. Hal ini saya temukan kembali pada cerpen ini. Cerpen yang berkisah tentang usaha pergerakan dari para babu dan centeng di zaman kolonial Belanda. Kisah romantis dan heroik ini seakan mengingatkan kita kembali pada sejarah yang tak tercatat.

“Kalau Semua Wanita Jelek” adalah cerita yang berbau feminin. Seorang perempuan tentu mendambakan tubuh ideal yang diterjemahkan dalam bahasa umum sebagai langsing atau kurus. Terkadang, hal yang demikian itu menyesatkan. Bahwa sesungguhnya kecantikan itu relatif. Mungkin benar adanya pepatah lama itu, kecantikan sesungguhnya terpancar dari hati.

Seperti halnya legenda Sam Pek dan Eng Tay, kisah Sri Rama dan Shinta tidak pernah selalu kadaluwarsa untuk diceritakan kembali. “Percayakah Kau Padaku?” adalah gugatan untuk Rama. Ketulusan cinta rama pada Shinta diuji disini. Personally, kisah Rama-Shinta sejatinya adalah kisah romantis karena mereka saling mencintai. Namun, belakangan ini saya memang meragukan ketulusan Rama pada Shinta. Bisa jadi Rahwana lah yang benar-benar mencintai Shinta dengan tulus. Kalau Rama masih cinta pada Shinta , mengapa ia mesti meragu pada Shinta yang telah diculik dan diselamatkannya dari api cinta Rahwana?

“Buat Apa Disesali...”
adalah sebuah kisah cinta klasik (entah juga klise) yang menimpa Hesty dan Tigor. Bagian terbaik cerita ini adalah sisipan lirik lagu yang dinyanyikan sepenuh jiwa oleh Rita Effendy, ‘Selamat Jalan Kekasih”.

Konklusi

Secara keseluruhan, saya menikmati pembacaan perkenalan saya dengan Tere Liye. Buku ini adalah buku sekuel dari serial ‘Berjuta Rasanya’. Tak harus membaca edisi pertama untuk memahami edisi sekuel ini. Tulisannya tidak hanya mengalir dengan bahasa yang mudah dipahami. Penulis pun piawai dalam memainkan karakter sekaligus menyertakan beberapa pelajaran dan makna yang hidup ini sediakan.

Judul        : Sepotong Hati Yang Baru
Penulis     : Tere Liye
Penerbit    : Mahaka Publishing
Tahun       : 2012
Tebal        : 206 hal.
Genre       : Kumpulan Cerpen



Dharmawangsa, 28 Februari 2015.

Minggu, 31 Agustus 2014

Mereka Bilang, Saya Monyet!

Kesan pertama dalam pembacaan kumpulan cerpen ini adalah sebuah kelugasan dalam bertutur cerita. Melihat rentang waktu penulisan cerpen-cerpen didalamnya, bisa dikatakan bahwa semua cerpen tersebut adalah sebuah breakthrough dalam ranah sastra Indonesia, pada saat itu. Bentuk penceritaan yang kemudian menjadi satu alternatif dalam penuturan cerita. Kisah-kisah kelam yang tak pernah tersampaikan hingga kebahagiaan semu adalah sepenggal saja dari kiasan eksploratif yang disampaikan si penulis.



Selain "Waktu Nayla" yang menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2003, kumpulan cerpen ini tidak henti-henti menghadirkan kejutan. Saya kagum ketika penulisnya mampu membuat cerita seperti dalam cerpen "Namanya, ...". Tokoh si penulis yang dinamai 'Memek' sangat berada diluar kelaziman, bahkan tabu untuk beberapa kalangan. Namun, sekali lagi, dunia fiksi adalah ruang yang memungkinkan terjadinya kemungkinan semacam itu. Fiksi hidup dalam kepala pembacanya.

Cerpen lain yang tidak lazim adalah "SMS". Cerpen berisi petikan SMS dari sepasang kekasih yang saling bermain api adalah satu bentuk penulisan yang tidak umum. Keluwesan fiksi berhasil dimainkan dengan apik oleh si penulis. Gaya penulisan semacam ini tidak menyalahi kodrat cerpen sebagai turunan fiksi.

Cerpen "Asmoro" kiranya mengingatkan saya pada satu cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul "Sukab Menggiring Bola". Adjani terus berlari bagai Sukab yang terus menggiring bola hingga ke ujung dunia. Adakah hubungan diantara keduanya? Selain karena SGA disebut dalam halaman pembuka dari sang penulis. SGA yang telah memberikan "ilmu" dan keberanian untuk menulis cerpen-cerpen yang demikian.

Begitupun dengan cerpen "Wong Asu" yang terinspirasi dari cerpen "Legenda Wongasu" milik SGA. Keduanya tidak menceritakan hal yang sama. Namun, pada akhirnya pembaca dapat menilai mengapa tokoh-tokoh mereka mesti menjadi 'asu'.

Kiranya, pembaca dapat membaca kedua cerpen SGA tersebut dan menguji kebenaran hipotesa saya.

Daftar Cerita:

- Mereka Bilang, Saya Monyet!
- Lintah
- Durian
- Melukis Jendela
- SMS
- Menepis Harapan
- Waktu Nayla
- ... Wong Asu
- Namanya,...
- Asmoro
- Manusya dan Dia

Judul        : Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penulis     : Djenar Maesa Ayu
Penerbit    :Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2012
Tebal        : 150 hal.
Genre       : Kumpulan Cerpen


Medan Merdeka Barat, 18 Agustus 2014.

Senin, 30 Juni 2014

Hanya Salju dan Pisau Batu

Habis lalap terbitlah terong

Sebuah Kesan Pembacaan


Membaca judulnya saya sudah dibuat bingung. Apakah ada hubungan antara salju yang selalu turun di musim dingin dengan sebuah pisau batu? Apakah benar pisau batu itu bisa digunakan memotong sebuah batu? Atau malah hanya sebuah judul iseng yang mengambil inisial dari nama mereka berdua. Bagi pembaca yang mulai bingung, sila abaikan saja kalimat pembuka saya tadi.

Secara sederhana, Happy Salma dan Pidi Baiq memulai sebuah proses yang entah mereka namakan apa. Saling bersahutan, mungkin saja. Korespondensi, bisa juga. Saya tidak mampu mendefinisikan kategori fiksi dalam buku ini. Bila mau dimasukkan ke dalam golongan novel, ceritanya mampu berdiri sendiri sebagai sebuah cerita pendek. Mau dibilang kumpulan cerpen, semua cerita pendek didalamnya malah membentuk satu kesatuan unsur yang tidak bisa dipisahkan. Kesulitan semacam ini mengingatkan saya pada buku “9 dari Nadira” tulisan Leila S. Chudori.

Agaknya, buku yang ditulis dengan hasil korenspondensi penulisnya memang sangat jarang. Terlebih, bila banyak hal-hal absurd yang tidak penting ikut mengemuka dan anehnya bisa membuat pembaca tertawa. Happy Salma dengan sabar menulis semua yang ingin dituliskannya. Sedang, Pidi Baiq hanya membalas semampu dan semaunya. Agak tidak imbang memang, namun dengan begitu keseimbangan dapat tercapai.

Pidi Baiq mampu mengimbangi permainan kata Happy Salma. Berbagai metafor yang Happy Salma gunakan dapat dicounter Pidi Baiq dengan lebih lugas. Bila pembaca mengharapkan sesuatu yang lebih cerdas dari buku ini niscaya tidak akan berhasil. Lebih parah, membaca buku ini agak menggoyang tingkat kecerdasan. Syukur-syukur pembaca tidak mengalami penurunan tingkat kecerdasan mendadak.
 
Buku ini juga mengingatkan saya pada film “The Lakehouse” yang diperankan oleh Keanu Reeves dan cinta-gue-sepanjang-masa Sandra Bullock. Keduanya saling berbalas surat hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka. Entah, apakah Pidi Baiq dapat bertemu dengan Happy Salma di akhir cerita atau malah pada saat buku ini dirillis. Yang jelas, hanya lewat kata, keduanya mampu mempertemukan hal-hal yang cenderung absurd dan tidak pernah kita bayangkan atau alami sebelumnya.

Judul           : Hanya Salju dan Pisau Batu
Penulis        : Happy Salma dan Pidi Baiq
Penerbit      : Qanita
Tahun          : 2010
Tebal          : 225 hal.
Genre         : Fiksi 

Paninggilan, 18 Juni 2014

Sabtu, 01 Maret 2014

Love Classic

Kisah cinta dalam komik ini adalah sebuah kisah cinta klasik antara dua manusia. Mereka ditakdirkan selalu bersama hingga keduanya membohongi perasaan mereka masiing-masing.

Aoi dan Reiichirou saling memendam rasa hingga perpisahan nampak di depan mata. Reiichirou yang selama ini bekerja sebagai guru pribadi bagi Aoi harus pindah ke Tokyo atas perintah Maruya Kikuji, ayah Aoi. Aoi yang tidak ingin kehilangan Reiichirou berusaha membuktikan pada ayahnya bahwa pelajaran yang selama ini diberikan oleh Reiichirou tidak sia-sia. Walaupun begitu, Reiichirou tetap harus pergi. Ia tidak pergi sendirian, ia mengajak Aoi turut serta. Sebuah kisah cinta yang klasik.

It can happens to anyone of us. You are getting close with somebody new, you may hate him as you go deeper, but yet you will love him very much by the way he/she treats you.


 
Komik ini juga punya 'bonus' kecil seputar penciptaan karakter-karakter yang ikut bermain. Chie Shimada menceritakan bagaimana proses penciptaan Reiichirou dan Aoi, juga si kembar adik Aoi dan Samasuke, karakter tandingan untuk Reiichirou. Tak hanya itu, adegan rapat penentuan supaya komik ini bisa terbit pun menjadi gimmick menarik. Tidak hanya sekedar membaca komik, pembaca pun sengaja diedukasi untuk mengetahui sedikit cerita dibalik layar sebuah penerbitan komik.

Judul        : Love Classic
Penulis     : Chie Shimada
Penerbit    : m&c! Comic
Tahun       : 2012
Genre        : Komik-Romance


Paninggilan, 1 Maret 2014.

Kamis, 13 Februari 2014

Bukan Sakit Biasa

"Orang emang nggak selamanya ada di bawah. Nggak selamanya kalo udah jatuh mesti tertimpa tangga. nggak selamanya juga lagi lari dikejar musuh, akhirnya nyusruk ke lubang. Ada kalanya nasib di bawah, terus bisa naik lagi sedikit-sedikit."

Setidaknya, paragraf diatas adalah satu dari sekian banyak quote dalam buku ini. Inti persoalannya sederhana. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari keluarga Lupus pun ada banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Courtesy: www.goodreads.com

Anyway, Lupus ABG kembali hadir dengan 12 kisah baru. Plus, tips-tips keren yang bakal bikin kamu tambah kece. Cerita-cerita jayus khas Lupus sudah pasti jadi menu utama buku ini. Jangan heran kalau kelakuan Papi yang superpedit itu berubah disini. Selain itu, konteks cerita juga mulai menyesuaikan dengan laju zaman. Ada cerita tentang Papi yang hampir menabrak seorang Nenek, yang menyebrang jalan sambil mendengarkan lagu Raisa, Apalah (Arti Menunggu).

Cerita berjudul "Perpustakaan Kita" barangkali jadi satu bagian eksepsional disini. Bersama "Aids, Aids, Aids... Ciaaat!" kedua cerita ini merangkum kegelisahan dan respon kaum muda atas yang terjadi dalam lingkungannya. Kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dan upaya mengembalikan fungsi rekreasional dari perpustakaan. Khusus untuk ini, perlu diberikan apresiasi tersendiri karena Lupus berhasil mengikuti roda zaman sekaligus menggugah kepedulian kaum muda.



Pharmindo, 18 Januari 2014.

Sabtu, 28 September 2013

Cinta di Atas Perahu Cadik


Mukadimah

Sudah sejak 2008 lalu saya memendam keinginan untuk membaca buku ini. Maklum, dalam kumpulan cerpen terbaik ini ada cerpen dari penulis favorit. Sebut saja, Seno Gumira Ajidarma dan Budi Darma. Serta tidak ketinggalan, Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu. Seringkali saya hanya mampu menatapi buku ini setiap mampir ke toko buku langganan di Palasari. Tanpa mampu menggenggamnya hingga ke meja kasir.

Lima tahun kemudian, saya berhasil menamatkan pembacaan buku ini. Saya rasa ada alasan mengapa Tuhan baru mempertemukan kembali kami sekarang ini. Agaknya, saya telah membuktikan apa yang pernah ditulis SGA dalam cerpen 'Linguae': Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lama pun selama aku mencintainya.

Catatan Empat Cerpen

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen terbaik dari Seno Gumira Ajidarma yang berjudul sama dengan judul buku. Kisah seorang Sukab dan Hayati yang saling mencintai walau keduanya telah sama berpasangan. Berlatar kehidupan masyarakat nelayan pesisir, cerita ini seakan-akan mewakili kenyataan hidup yang berlangsung sehari-hari. Kecuali, bila pembaca menggugat hilangnya Sukab dan Hayati selama tujuh hari itu sebagai hal yang tidak masuk akal.

Cerpen lain yang menjadi favorit dalam buku ini adalah 'Kisah Pilot Bejo' yang ditulis oleh Budi Darma. Kisah seorang pilot bernama Bejo yang selalu 'bejo' dalam menerbangkan pesawat. Budi Darma agaknya mengambil sebuah realita yang kemudian dituangkannya kembali dalam bentuk sebuah cerita pendek. Pembaca tentu sudah lebih paham bila membaca metafora dan analogi yang disajikan oleh Budi Darma. 'Kisah Pilot Bejo' memberikan kita gambaran bahwa dunia penerbangan di negeri kita pernah mengalami hal yang demikian.

'Gerhana Mata', dari Djenar Maesa Ayu adalah cerita yang saya sukai dari segi penuturan dan bahasa. Pemilihan diksi yang tepat menjadi kunci cerpen ini untuk merebut hati saya.

"Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan." 

Betapa sebuah dunia dapat menjadi nyata dalam gelap. Hanya dalam gelap sang narator dalam cerita dapat merasakan cinta. Selebihnya, saya mendapat nuansa realitas yang kental dalam cerpen ini. Pertemuan sepasang kekasih yang terlarang adalah sebuah bumbu kehidupan metropolitan. Atas nama cinta, semuanya terjadi.

Cerpen 'Tukang Jahit' dari Agus Noor sudah menyentak sejak paragraf awal. Jarum dan benang si tukang jahit yang konon diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya adalah satu unsur kejutan yang mau tidak mau sukses menggiring pembaca untuk terus melanjutkan pembacaan atas cerpen ini. Tukang jahit ini bukan tukang jahit sembarangan. Tukang jahit ini adalah satu-satunya yang tersisa dari sekian banyak tukang jahit yang pernah berjaya di kota itu. Ia tidak hanya menjahitkan pakaian. ia juga mampu menjahit kebahagiaan.

Sepintas, cerita ini mengingatkan saya pada cerpen SGA lainnya yaitu 'Manusia Gerobak'. Baik SGA maupun Agus Noor menceritakan manusia gerobak dan tukang jahit yang sama-sama muncul setiap menjelang lebaran. Saya tidak heran akan hal seperti ini. Kalau pembaca sudah sering menbaca karya mereka, tentu akan dapat menarik suatu benang merah atas keduanya.

Cerpen Lainnya

Cerpen lain dalam buku ini juga memiliki nilai dan pesannya masing-masing. 'Lampu Ibu' yang ditulis Adek Alwi bercerita tentang kekuatan dan ketegaran seorang Ibu. Terutama, ketika satu anaknya tersangkut kasus korupsi dan jatuh sakit. Ada nilai moral yang dapat diambil dari cerita itu. Terlebih, kasih Ibu tiada batasnya, tak terhingga sepanjang masa.

Cerita tentang legenda tukang nasi goreng bernama Koh Su pun tak kalah menariknya. Kerinduan akan rasa dan segenap misteri yang menyelubungi Koh Su menjadi bumbu yang membuat cerpen ini semakin menarik dan penasaran. Cerpen 'Koh Su' tulisan Puthut EA ini harus disimak betul sampai akhir cerita bila memang pembaca penasaran soal asal usul Koh Su dan bumbu nasi goreng ajaibnya.

Romantisme masa lalu turut juga dihadirkan oleh Wilson Nadeak lewat 'Serdadu Tua dan Jipnya'. Kisah seorang pensiunan yang menghabiskan sisa hidupnya dengan memelihara sebuah jip Willys tua ini menjadi suatu romantika tersendiri. Romantika itu hadir dalam segenap konflik antara si serdadu tua dengan istrinya. Namun, penulisnya berhasil mengubah haluan sehingga akhir (ending) dari cerita ini tidak selesai disitu.

'Sinai' dari Dewi Ria Utari dan 'Belenggu Salju' dari Triyanto Tiwikromo adalah dua cerpen satir yang cenderung gelap. Keduanya bercerita tentang gelapnya jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah keabadian. Sedang, 'Bigau' yang ditulis Damhuri Muhammad, lebih mengangkat unsur dan nilai legenda tradisional. 'Bigau' bercerita tentang seorang jagoan yang memiliki kesaktian yang diperolehnya lewat sebuah cara yang hanya dia saja yang mampu melakukannya. Konflik muncul ketika ia harus mewariskannya.

'Lak-Uk Kam' dari Gus Tf Sakai bercerita soal penjaga mercusuar yang selalu sendirian setiap bertugas. Tiga bulan sekali ia dirotasi ke mercusuar-mercusuar lain. Tiga bula sekali pula ia merasakan kesendirian yang sama.

GM Sudarta muncul dalam kumpulan cerpen ini. Sebagaimana telah kita kenal sebelumnya, GM Sudarta adalah seorang kartunis dengan karyanya yang mashur yaitu 'Oom Pasikom'. Cerpen 'Candik Ala' yang ditulisnya mengingatkan saya pada lirik pembuka pada lagu Koes Plus, "Melati Biru'. Cerpen ini bercerita soal kenangan seorang anak terhadap ayahnya. Dibumbui dengan candikala, suatu titimangsa dimana batas-batas gaib menjadi samar.

'Sepatu Tuhan' yang ditulis Ugoran Prasad, seketika mengingatkan kita kepada sepakbola, terutama soal piala dunia. Simak kisah sepatu Franz Beckenbauer dan si 'Tangan Tuhan' Maradona. Romantisme sepakbola dan melankoli persahabatan adalah dua unsur yang berpadu dalam cerpen ini.

Dua cerpen terakhir pun agaknya juga mengesankan bagi saya. 'Hari Terakhir Mei Lan' yang ditulis Soeprijadi  Tomodihardjo membawa pembaca pada suasana China dimasa penuh pergolakan. Sedangkan, 'Gerimis Yang Sederhana' dari Eka Kurniawan, yang sekaligus jadi cerpen terakhir, bercerita soal pertemuan dua orang. Yang membuat saya menyunggingkan senyum adalah kenyataan bahwa si pria menyembunyikan cincin kawinnya dan tak sengaja tercampur dengan recehan yang ia berikan pada pengemis. Betapa naifnya hidup ini bahwa masih saja ada cerita soal pria beristri yang menyembunyikan identitasnya setiap akan menemui seorang perempuan yang baru dikenalnya.

Konklusi

Sebuah cerpen berpacu dengan keterbatasan ruang cerita. Apalagi, ketika harus muncul dalam ruang media cetak koran. Penulis dituntut mampu membuat cerita pendek yang kaya dengan sintesa pengalaman dengan cara yang meyakinkan. Oleh karena itu, setiap cerpen yang muncul di hari Minggu ini memiliki konflik dari dunianya sendiri. Dunia yang terbentuk dalam keterbatasan ruang cerita. Sekalipun begitu, semuanya membuktikan bahwa dalam sebuah keterbatasan ada banyak ruang untuk sebuah cerita.


Paninggilan, 14 September 2013.


Minggu, 17 Februari 2013

Karamazov Bersaudara dan Sejarah Kecil Rusia

Komik ini mungkin sengaja dihadirkan ke hadapan saya agar saya bisa melakukan pembacaan awal dan mengambil suatu awalan cerita bagi penamatan buku aslinya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Memang tidak tepat untuk membandingkan keduanya secara langsung. Yang satu hadir sebagai manga representatif sedangkan satu lagi tampil sebagai wujud aslinya. Menarik. Untuk kemudian melakukan perbandingan atas keduanya secara singkat.



Setidaknya, gambaran keadaan kehidupan di Rusia semasa masa kekaisaran ditampilkan dalam bentuk populis sesuai dengan kaidah manga. Dimana penggambaran dan karakterisasi yang disesuaikan dengan figur orang-orang Rusia. Beberapa scene bahkan lazim dijumpai seperti dalam komik Jepang. Komik ini dibuat dengan kaidah membaca yang mirip manga aslinya dengan 300-an lebih halaman. Cukup atau tidak untuk merepresentasikan buku aslinya, saya belum bisa berpendapat karena saya pun belum menamatkan buku aslinya.

Cerita kehidupan di Rusia tidak jauh berbeda dengan negara maju lainnya. Dimana orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Kesenjangan yang jauh antara tuan tanah dan kalangan proletar membawa Rusia pada suatu pergolakan pemikiran. Aksi untuk menentang kemapanan dan kebobrokan birokrasi diekspresikan dalam berbagai macam aktivitas. Kalangan rohaniawan pun tidak kalah memiliki andil sebagai penyeimbang di dalam masyarakat yang semakin materialistis. Agaknya, sampai disini kita dapat melakukan penafsiran awal tentang akar-akar sosialisme dan komunisme.

Fyodor Karamazov sebagai Tuan Tanah sekaligus bangsawan kaya yang selalu berbuat seenaknya terbunuh. Kisah terbunuhnya bangsawan bejat ini menarik seisi kota untuk menghadiri persidangan atas kematiannya. Dimitri, anak sulung Fyodor dituding sebagai pembunuhnya, sesuai kesaksian Gregor, pembantu setia Fyodor. Alyosha, si bungsu Karamazov, tidak percaya bahwa Dimitri melakukannya. Alyosha hadir sebagai saksi yang meringankan tuduhan. Lain halnya dengan Ivan, adik Dimitri dan kakak dari Alyosha. Ivan tiba-tiba hadir untuk menyatakan siapa pembunuh ayahnya itu. 

Semljakov, anak dari hasil perkosaan Fyodor dengan seorang perempuan tidak dikenal adalah pelaku pembunuhan itu. Kesaksiannya itu tidak berakibat bagus bagi nasib Dimitri maupun Ivan sendiri. Dimitri tetap dihukum atas tuduhan pembunuhan terhadap ayahnya dan dibuang ke Siberia bersama kekasihnya, Grushenka. Sedangkan, Ivan menjadi gila karena tekanan bertubi-tubi yang muncul dari dalam dirinya. Perlu dicatat, Ivan ini seorang atheis yang tidak percaya sama sekali akan Tuhan. Tuhan tidak ada, katanya. Alyosha kembali pada kehidupannya yang semula sebagai rahib.

Sangat menarik untuk membaca sebuah tafsiran atas sebuah karya masterpiece dunia. Menarik pula untuk melihat bagaimana sebuah buku dengan tebal hampir 800-an halaman lebih dirangkum menjadi kurang dari setengah halaman buku aslinya. Tentu dibutuhkan kejelian dan ketelitian untuk memperingkas semua jalan cerita.

Sejarah Kecil Rusia

Pada intinya, sebagai karya sastra yang ditulis pada masa dimana Rusia tidak lagi mengalami pengekangan atas ekspresi individu, The Karamazov Brothers hadir untuk membawa kembali ingatan pada suatu masa yang telah lama dilewati. Tentang ketidakadilan kehidupan yang dialami sebagian besar masyarakat kecil petani. Kemajuan yang dicapai dalam bidang pertanian hanyalah kedok semata untuk memperkaya kaum bangsawan pemilik tanah. Pemerintah pun tidak mampu berbuat apa-apa karena desakan kaum borjuis yang begitu menggeliat. Agama yang selama ini selalu menjadi penyeimbang antara kebendaan dengan kehidupan kadang hanya menjadi "pelarian" bagi kaum proletar tertindas. Agama hadir sebagai jalan keluar bagi mereka untuk tetap memiliki harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Melalui komik ini, realitas kehidupan sosial kemasyarakatan Rusia ditampilkan secara sederhana sebagai refleksi atas keadaan pada waktu itu serta imbasnya terhadap pengaruh besar Negeri Tirai Besi pada perkembangan paham sosialisme dan komunisme di seluruh dunia. Tiga bersaudara Karamazov adalah sebuah contoh kecil dari sebuah figur besar yang lazim di Rusia saat itu. Betapa sejarah telah mencatat Revolusi di Rusia telah mengalami beberapa periode dengan pencapaiannya masing-masing sejak kematian Tsar Nicholas II. Sebut saja, misalnya Revolusi Bolsyhevik hingga kemudian glasnost dan prestroika yang merdu didengungkan Mikhail Gorbachev.

Terakhir, Dimitri, Ivan, dan Alyosha; Tiga bersaudara Karamazov ini saya anggap layaknya trio "Tiga Penguak Takdir" Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Tiga bersaudara ini adalah tokoh utama dalam permainan cerita kehidupan di Rusia, dengan segala permasalahannya dan berusaha menguak takdir masing-masing.

Judul        : Karamazov Bersaudara
Penulis     : Fyodor Dostoevsky, Variety Art Works
Penerbit   : Elex Media Komputindo
Tahun      : 2010
Tebal       : 384 hal.
Genre      : Komik

Paninggilan, 17 Februari 2013.
-di hari ulang tahun Ibu-

Selasa, 05 Februari 2013

Un Soir du Paris: Menguak Rahasia Perempuan

Sangat jarang sebuah buku yang diterbitkan penerbit besar mengangkat tema lesbian. Seakan menuntut pengakuan melalui kumpulan cerpen ini. Hal ini tentu menarik sebab hal yang demikian itu masih dianggap tabu untuk masyarakat beradat ketimuran. Diluar semua perdebatan mengenai tema lesbian, kumpulan cerpen ini hadir untuk menguak sebuah dunia yang belum terjamah. Ini menjadi bukti bahwa imajinasi dan interpretasi atas kaum lesbian muncul sebagai refleksi realitas sehari-hari.



Beragam cerita dituliskan dan menghadirkan imajinya masing-masing. Tentang sebuah cinta yang "terlarang". Sebagai favorit saya memilih cerpen dengan judul "Tahi Lalat di Punggung Istriku". Selain cerpen dari Seno Gumira Ajidarma tentunya yang sudah duluan dibaca.Mata Indah karya @clara_ng pun tidak kalah dalam menghadirkan nuansa cinta terlarang dengan konflik yang apik. Sedikit horor namun tetap menarik.

Overall, segenap cerita tentang lesbian dalam buku ini menguak sisi-sisi yang belum sepenuhnya terkuak oleh tabu khayalak luas. Walaupun dalam pengantar buku telah disebutkan bahwa kebanyakan cerita belum tampil "menggigit" untuk menghadirkan lebih banyak konflik. Dengan demikian, sastra telah menampakkan wujudnya sebagai refleksi realita kehidupan. Dengan mencatatnya kedalam kumpulan cerpen ini, usaha untuk mendokumentasikan kaum lesbian menjadi lebih bermakna dalam menghadapi hegemoni konstruksi sosial yang berlaku di tengah masyarakat.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Awalnya, saya pikir saya akan menemukan sebuah imaji terindah untuk sebuah petang di kota Paris. Ternyata saya salah. Kumpulan cerpen ini mengangkat sebuah fenomena yang selama ini hanya terdengar hembusannya saja tanpa pernah nampak di permukaan. Sebuah fenomena yang benar-benar ada namun tidak lantas lantang diteriakkan. Entah karena konstruksi sosial dalam masyarakat yang belum mengizinkannya.

Menikmati tulisan-tulisan tentang cinta sesama perempuan buat saya bukanlah hal yang pertama. Pernah saya menulis sebuah cerpen bertema sama yang lantas diterbitkan oleh sebuah penerbit independen. Pun, ketika ternyata cerpen SGA tentang dua perempuan dengan HP-nya dimuat disini. Mengingatkan saya pada cerpen SGA lainnya (yang juga bertema sama) yaitu Lelaki Terindah.

Khusus untuk buku ini saya memberikan apresiasi khusus karena tidak banyak karya serupa.


Bogor, 5 Februari 2013.

Sabtu, 26 Januari 2013

Sketsa Sejarah Republik

Tidak salah bila Rosihan Anwar dinobatkan menjadi seorang dari empat saksi sejarah terkemuka Indonesia selain BM. Diah, Mochtar Lubis, dan Jakob Oetama.



Rosihan Anwar membuka kembali catatan kecilnya yang tersebar dalam berbagai publikasi di media cetak nasional. Melalui catatan-catatan itu Rosihan Anwar mencatat segala detail peristiwa yang terjadi dalam sejarah republik. Beberapa artikel pembuka membawa pembaca untuk memahami lebih baik mengenai Timor Timur dan Aceh. Rosihan Anwar banyak menulis tentang riwayat yang menjadi asal-muasal sejarah Timor-Timur sejak jadi bagian provinsial dari Portugis. Kemudian, semua bagian sejarah yang sekarang nampak sudah di"peti es"kan dicairkan kembali. Tentang bagaimana hubungan keinginan rakyat Timor serta pengaruh hegemoni Amerika Serikat dalam usahan integrasi Timor ke dalam kedaulatan NKRI. Menarik, karena membuka wawasan lebih jauh sehingga pembaca dapat membuat perbandingan dengan "fakta" sejarah yang selalu dimunculkan lewat buku-buku pelajaran sejarah.

Sama halnya dengan masalah Aceh. Aceh yang dulunya dijuluki Lumbung Republik, karena memang Aceh pernah menjadi basis modal untuk perjuangan republik, mengalami pergolakan dalam hubungannya dengan Republik. Pergolakan internal yang mengakibatkan munculnya separatis GAM menimbulkan isu utama soal perpecahan republik yang masih berusia muda ini. Lewat tulisan khasnya, kita dihadapkan pada detail-detail disekitar konflik tersebut. Mulai dari Daud Beureuh hingga Hassan Tiro.

Menjelang akhir, ada sebuah catatan yang ditulis kembali, mengenai insiden 27 Juli 1996. Dengan alasan keterbukaan dan situasi yang mulai kondusif maka 6 tahun kemudian Rosihan Anwar membuka kembali catatannya soal peristiwa tersebut. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat kediaman pribadi Rosihan Anwar yang terletak berdekatan dengan lokasi kejadian. Melalui catatan itu, Rosihan Anwar menjadi saksi bahwa konflik kepentingan pemerintah terhadap hal apapun yang merongrong kekuasaan masih mendominasi. Setelah sekian lama bungkam akhirnya Rosihan Anwar mau menulis nama-nama pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Overall, banyak sekali lintasan waktu dan peristiwa yang terekam dari pena Rosihan Anwar. Seperti judulnya: Sejarah Kecil (Petite Histoire), Rosihan Anwar mengajak kita berkelana, berkeliling menyusuri petak-petak kecil yang menyimpan sejarah besar. Tidak sedikit korelasi antara kejadian-kejadian yang selama ini telah diketahui bersama dengan potongan sketsa-sketsa kecil itu. Dengan demikian, sejarah bukan lagi hal yang bersifat statis.

Judul       : Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia; jilid 1
Penulis     : Rosihan Anwar
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2004
Tebal       : 328 hal.
Genre      : Sejarah


Paninggilan, 26 Januari 2013.

Senin, 14 Januari 2013

Sebuah Lorong di Kotaku

Sabar dan lapangkanlah dadamu. Jangan selalu mau cepat marah. Ambillah bumi ini sebagai contoh. Dia kita injak, kita ludahi, kita belah, kita tusuk dan kita lukai dengan berbagai alat. Tetapi dia selalu sabar dan diam, selalu memberi kita makanan lezat dan berguna. (hal.76)

Sebagai pembuka Serial Kenangan, Sebuah Lorong di Kotaku menceritakan masa-masa awal kehidupan seorang Nh. Dini yang terekam kuat dalam memorinya. Dini bercerita dengan gaya bertutur yang jujur. Membuka semua tabir yang menyelimuti dirinya. Segala kenangan masa kecil yang terekam masih jelas dalam benaknya. Kelak, semua cerita yang disajikan dalam buku beliau lainnya, akan menemukan benang merah historis dengan memoar dari serial kenangan ini.


Cerita dimulai sejak Dini menempati rumah yang dipilih ibunya di Semarang. Rumah yang menyimpan banyak cerita itu meninggalkan kenangan yang mengakar kuat pada Dini. Dini kecil tumbuh sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Dini besar di lingkungan keluarga besar yang memegang teguh adat istiadat tradisi Jawa halus. Mungkin itu sebabnya, ada pengaruh dari hal itu pada gaya menulis yang serba teratur.

Permasalahan utama dalam diri Dini mencuat menjelang pertengahan buku ini. Ketika itu, Dini sekeluarga pergi berlibur ke rumah Kakeknya di desa Tegalrejo. Semua kejadian yang berlangsung sejak keberangkatan seluruh anggota keluarga hingga selesainya liburan itu sangat membekas dalam diri Dini. Betapa Kakeknya ternyata menaruh perhatian terhadapnya. Tidak seperti yang Dini bayangkan sebelumnya.

Kehidupan alam pedesaan di desa Tegalrejo menarik perhatian Dini. Barangkali pula itu sebabnya, Nh. Dini menulis serial berikutnya yang berjudul “Langit dan Bumi Sahabat Kami”. Kemudian, Dini mulai masuk sekolah. Bekal pendidikan yang dienyamnya di rumah dari sang Ibu turut dibawanya serta ke sekolah sehingga tak pelak Dini menjelma menjadi anak  yang penurut, penuh dengan tata krama.

Kekuatan ingatan Dini teruji ketika melukiskan kembali suasana perang. Pada saat itu, Jepang mencanangkan Perang Pasifik dengan pengeboman ke Pearl Harbour. Jepang berusaha menaklukkan sebanyak mungkin kekuatan Sekutu yang bercokol di Asia Tenggara. Belanda berusaha sekuat mungkin untuk menahan gempuran Jepang. Namun, pada akhirnya Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati.

Menjelang datangnya serangan yang sudah ramai diramalkan akan terjadi, Dini sekeluarga mengungsi ke kampung sebelah. Sementara, sang Ayah tinggal di rumah mereka guna memastikan keamanan disana. Perang secara besar-besaran tidak (atau belum) terjadi di Semarang. Semua kejadian dimana Dini mendengar desing-desing bom yang jatuh dari pesawat pembom, kemudian dentuman dari tangsi-tangsi polisi Belanda yang dibom Jepang, terekam dalam memori Dini. Hal ini sangat penting untuk mencoba menggali kembali sudut pandang sejarah dari seorang penutur yang mengalami masa perang tersebut.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Sampul buku edisi pertama, 1978

Sebuah Lorong di Kotaku membuka daftar bacaan saya pada tahun 2013 ini. Agaknya, pengalaman dengan karya Nh. Dini sebelumnya membuat saya terangsang untuk kembali menikmatik karya berikutnya. Saya sengaja memilih buku pembuka Serial Kenangan ini untuk mendapatkan imaji tentang sosok Nh. Dini, tentang hal-hal apa saja yang berkecamuk dalam pikirannya sejak awal. Bisa dikatakan, saya sedang mencari bentuk prototipe pertama karya seorang Nh. Dini. Hal ini saya anggap perlu untuk kemudian bisa melanjutkan pembacaan atas karya Nh. Dini lainnya.

Sebuah Lorong di Kotaku adalah buku ketiga dari Nh. Dini yang saya baca setelah "Argenteuil" dan "Namaku Hiroko". Yang paling berkesan sepanjang pengalaman membaca buku ini adalah (lagi-lagi) gaya penulisan Nh. Dini yang mengalir. Segala latar dan kejadian diceritakan dengan detail yang mengagumkan. Tentu, ini merupakan kekuatan tersendiri bagi seorang Nh. Dini. Pengalaman serupa memang masih saya rasakan. Pengalaman tersebut selalu membuat rasa penasaran itu muncul lagi. 

Saya ingin menemukan interkoneksi dari buku-buku Nh. Dini. Baik dari Seri Kenangan maupun seri Novelet. Saya yakin ada hubungan antara keduanya. Bila boleh membuat hipotesis sementara, Seri Kenangan sebagai memoar perjalanan kehidupan Nh. Dini memuat kisah sepanjang episode kehidupan merupakan suatu landasan/kerangka bagi Seri Novelet. Fragmen-fragmen dari Seri Kenangan dimunculkan kembali secara detil melalui Seri Novelet. Jadi, keduanya tampil sebagai suatu esensi yang terpisah tetapi sesungguhnya merupakan satu bagian entitas yang tak terpisahkan.

Judul           : Sebuah Lorong di Kotaku
Penulis        : Nh. Dini
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2009 (terbit pertama kali tahun 1978)
Tebal           : 108 hal.
Genre          : Novel Memoar – Seri Kenangan Nh. Dini #1

Paninggilan, 9 Januari 2013.
di hari ulang tahun seorang perempuan yang pernah mengisi hati

Rabu, 09 Januari 2013

Anak Tanah Air: Sebuah Kronik Kebudayaan

“Karena itu, lebih baik jangan ikut-ikutan politik. Yang penting bagi seniman....”
“Mencipta!”


Tidak banyak roman yang berlatar sejarah perjalanan bangsa. Apalagi sampai harus menceritakan segala persoalan yang menyangkut kesenian. Perkembangan kesenian di Indonesia mengalami pasang surut pada masa-masa awal kemerdekaan. Pergolakan ideologis antara kaum nasionalis, agamis, dan komunis menjadikan kesenian sebagai peluru bagi perjuangan ideologis mereka.

Pergulatan antar wacana kesenian dari masing-masing golongan menyebabkan para seniman yang berkecimpung di dalamnya harus menentukan sikap. Sebuah pilihan atas keberpihakan pada tujuan kesenian itu sendiri. Tak pelak, kenyataan tersebut menjadi duduk persoalan yang menarik untuk dibahas.


Roman ini dengan jenius mengangkat problematika kesenian di masa itu. Lukisan sebagai objek dari kesenian yang menginduk pada seni lukis telah lebih dulu mendapat tempat bila dibandingkan dengan khazanah seni lainnya di negeri kita.

Tersebutlah, Ardi, seorang anak muda yang rela meninggalkan kampungnya untuk menempuh kehidupan barunya di kota bersama pamannya. Di kota itu, Ardi tumbuh sebagai pemuda yang mencintai seni terutama seni lukis. Dengan bakatnya itu, tidak terlalu sulit bagi kawan-kawan di sekelilingnya untuk menemukan mutiara yang terpendam. Kelak, Ardi pun mendapati jalannya sendiri untuk menjadi seorang pelukis.

Kehidupan sekolah yang dijalaninya tidak menghalangi upayanya. Bersama komunitas pelukis, Ardi mengembangkan bakatnya. Tahun demi tahun berlalu. Ardi telah mengalami metamorfosa. Impian untuk sekolah lebih tinggi ditinggalkannya. Ia hanya mau melukis dan jadi pelukis saja. Sebuah pilihan yang sampai saat ini masih dipandang sebelah mata.

Tekad kuatnya itu lantas menjadikannya seorang ilustrator handal. Walau begitu, Ardi tetap ingin mendapat pengakuan dan apresiasi terhadap dirinya sebagai pelukis. Lika-liku perjalanan hidup mengantarkan dirinya pada Hermin. Seorang gadis penikmat seni yang tahu betul menghargai sebuah karya seni lukis. Setelah mengenal beberapa lama, mereka menjalin suatu hubungan tanpa status (mengikuti istilah keren ABG saat ini). Pergumulan cinta dan perasaanya dengan Hermin tidak berlangsung lama. Hermin lantas mencampakkan Ardi karena ia sendiri telah terikat pada pria yang lain. Seseorang dari masa lalu yang tumbuh bersama Ardi, Asep Suwangsa.

Dalam kegamangannya, Ardi mulai surut langkah. Terlebih, usai menerima tawaran Suryo untuk bersama-sama menandatangani persetujuan atas Konsepsi Presiden. Ardi mulai berpolitik tanpa ia sadari. Keadaan ini menyebabkan berbagai kesulitan datang bertubi-tubi menghampirinya. Ardi masih tidak sadar bahwa sebagian kawannya menganggap ia bergabung dengan sayap organisasi partai politik yang saat itu didominasi partai komunis. Ardi kehilangan peluang untuk menyelenggarakan pameran tunggal karena sikap politiknya itu. Lantas, Ardi pun kehilangan pekerjaannya. Tidak ada lagi majalah, tabloid, atau penerbit buku yang meminta ilustrasinya.

Ketika harapan hampir padam, Suryo datang kembali padanya. Menawarinya untuk tetap mengadakan pameran tunggal sekaligus memberi pekerjaan pada suatu majalah bulanan.
Perhelatan pameran tunggal Ardi pun sukses. Pameran tunggalnya banyak mendapat apresiasi dari para seniman penggiat Lekra. Ardi merasa telah mendapat apresiasi yang sepantasnya. Ideologi kesenian yang harus berpihak pada rakyat telah menjadi ciri karya-karya lukisannya.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Tidaklah salah apabila karya Ajip Rosidi ini disebut sebuah roman. Anak Tanah Air dengan jelas menggambarkan detail-detail penceritaan Ajip Rosidi terhadap suatu fenomena tertentu. Masalah utama dari roman ini sudah jelas dapat ditemukan pada paragraf ini:
“Tetapi, apakah seniman harus tetap tak ambil peduli kepada keadaan tanah airnya? Keadaan bangsanya? Apakah seniman harus merasa cukup asal dia dapat mencipta dan mendapat tepuk tangan dari pengagumnya, padahal tanah airnya sendiri menuju jurang kehancuran?” (hal. 285)

Inilah yang menjadikan roman ini istimewa. Setidaknya, sampai menjelang setengah buku, belum nampak persoalan utama. Pembaca digiring untuk menerka-nerka apa yang menjadi subjek utama cerita dalam roman ini. Pengalaman pembaca akan diuji hingga tiga per empat buku terlampaui. Hingga menemukan berbagai persoalan tentang kesenian di masa revolusi pasca kemerdekaan.

Persoalan kebudayaan pada masa revolusi pasca kemerdekaan atau dengan kata lain pada saat Demokrasi Terpimpin mengerucut pada pertikaian dua kelompok besar: Manifes Kebudayaan (Manikebu) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Mengacu pada MLBL, telah terjadi pembakaran dan pelarangan atas karya-karya seniman Manikebu dan juga penahanan terhadap mereka.

Kesenian pada saat itu hanya menjadi satu peluru bagi perjuangan ideologis belaka. Kesenian menjadi satu alat bagi Presiden Sukarno untuk tetap memantapkan kekuasaannya. Untuk itu, ia tentu membutuhkan segenap dukungan tak terkecuali dari kaum kiri/komunis. Termasuk para seniman yang sepaham dengan jalan perjuangannya yang dituangkan dalam Konsepsi Presiden. Keadaan ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan masyarakat yang menuntut Presiden untuk segera membenahi hal-hal mendasar soal kehidupan berbangsa

Relevansi sejarah pun mengatakan demikian. Sukarno yang dengan istilah-istilah besarnya malah tidak berhasil membuat satu kemajuan apapun. Tidak ada kemajuan dalam semua bidang kehidupan.   Laju inflasi tidak tertahankan sehingga rakyat pun sangat sulit untuk makan menyebabkan pergolakan-pergolakan paada semua bidang kehidupan. Mengenai hal ini agaknya pembaca yang budiman dapat membuka kembali memoar Mohammad Hatta yang terkumpul dalam buku “Demokrasi Kita”.

Karena saya terlebih dahulu menamatkan Kubah (Ahmad Tohari) dan Mochtar Lubis Bicara Lurus (Ramadhan KH-ed), saya menemukan suatu benang merah atas segala peristiwa yang terjadi saat itu. Bila Kubah membahas persoalan seorang tahanan politik yang ingin kembali ke tengah masyarakat usai komunis dimusnahkan dari bumi pertiwi maka relevansinya dengan MLBL dan roman ini menjadi satu substansi yang saling melengkapi. Latar belakang waktu dalam Kubah dan realitas yang disampaikan Mochtar Lubis dalam bukunya dapat menjadi narasi pendukung bagi roman Anak Tanah Air ini. Bahwa pada suatu tertentu dalam perjalanan sejarah bangsa kita telah terjadi hal yang demikian. Dan itu adalah persoalan kesenian.

Melalui roman ini, Ajip Rosidi mencoba mengungkapkan kembali segala peristiwa penting yang terjadi pada masa Revolusi Kemerdekaan. Ajip Rosidi mengangkat kembali persoalan kehidupan seniman-utamanya pelukis- serta hubungannya dengan situasi dan kondisi politik di Indonesia pada tahun-tahun itu. Ajip Rosidi meninggalkan penanda bagi kita, generasi penerus bangsa, untuk tetap membaca dan mengkaji sejarah republik demi masa depan kesatuan dan keutuhan bangsa.

Judul        : Anak Tanah Air
Penulis        : Ajip Rosidi
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 2008 (cet. 2)
Tebal        : 374 hal.
Genre        : Roman
Pharmindo, 24 Desember 2012.

Kamis, 05 Juli 2012

Konser

Judul       : Konser
Penulis    : Meiliana K. Tansri
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun     : 2009
Tebal      :296 hal.
Genre     : Novel Dewasa

Jika kau percaya, cinta akan datang padamu bila saatnya tiba
.

Kirana, pemain biola andalan Simfoni Bintang dengan predikat "rising star". Seorang gadis yang baru saja beranjak dari masa remajanya. Masa-masa yang seharusnya penuh suka cita andai saja ayahnya masih bersamanya. Kehilangan ayah tercinta adalah suatu pukulan telak bagi keluarganya. Kehidupan mereka tidak akan pernah lagi sama. Kenyataan hidup telah mengajarinya banyak hal. Kirana "dipaksa" menjadi dewasa sebelum waktunya.

Kirana dan Fajar adalah sesama rekan kerja di Simfoni Bintang yang dipimpin oleh Adji. Keduanya terlibat dalam jalinan rasa yang mengikat pada hati masing-masing. Perlahan, Kirana telah jatuh cinta pada Fajar, sang pianis andalan Simfoni Bintang. Fajar sendiri telah menikah dengan Elise. Pernikahan yang berlangsung dalam kepura-puraan belaka. Fajar tidak pernah mencintai istrinya sekalipun Elise sangat mencintainya. Pernikahan yang dilangsungkan hanya untuk memenuhi ambisi ego pribadinya belaka. Demi sebuah konser tunggal yang kelak akan disponsori oleh Sudarto, ayah Elise.

Petaka itu dimulai ketika Kirana dan Fajar mulai terlibat dalam hubungan yang lebih intens. Tidak hanya sekedar rekan kerja belaka. Seringkali, bayangan tentang Kirana menyeruak dibenaknya. Fajar pun seakan tidak kuasa. Rasa simpati Fajar terhadap segala kejadian pahit yang menimpa Kirana berubah menjadi benih-benih cinta diantara semak belukar hatinya. Fajar menyadari bahwa ia mencintai Kirana namun belum sepenuhnya bisa terlepas dari jerat pernikahannya dengan Elise. Kirana pun demikian. Rasa cintanya yang kian membuncah itu harus berhadapan dengan jurang pemisah bernama pernikahan. Kirana tidak sanggup membayangkan bahwa dirinya akan terjebak diantara Fajar dan Elise.

Elise, belakangan mulai curiga dengan perubahan yang terjadi pada Fajar. Fajar terlihat sering muram dan mulai susah tidur. Elise menangkap sesuatu pada benak Fajar. Sesuatu yang melebihi insting nalar perempuannya untuk mengendus sesuatu dibalik sikap Fajar yang semakin dingin. Elise mulai berhadapan dengan berbagai asumsi dan prasangka. Elise kemudian mencoba untuk membuktikan semuanya. Tidak perlu waktu lama untuk menyadari yang terjadi pada Kirana dan Fajar. Elise telah mendapatkan jawaban atas segala kekhawatiran yang selalu melandanya.

Tensi konflik-konflik dalam cerita semakin meningkat ketika Lydia, sosok Ibu yang begitu dicintai Kirana jatuh sakit dan harus dirawat. Kirana berusaha untuk tetap tegar menghadapi vonis kanker yang diderita Ibunya. Disinilah Kirana mengalami berbagai ujian. Kirana sudah berhasil menjaga jarak dengan Fajar setelah Elise melabraknya dan menggores Stradivarius kesayangannya. Kirana menganggap dirinya telah cukup dewasa untuk menghadapi semua itu. Namun, ukuran kedewasaan tidak hanya diukur dari sejauh mana Kirana mampu menghadapi semua belenggu dihadapannya. Ada banyak hal lain yang masih membutuhkan jam terbang pengalaman. Dalam perjuangannya itu, Kirana mulai menerima kenyataan untuk merelakan Ibunda tercinta ke pangkuan Tuhan.

Perkenalannya dengan Sastro, kolektor barang antik, telah menyelamatkan Kirana dari jeratan lain yang mengintainya. Kirana merasa sangat merasa berterima kasih dan berhutang budi padanya. Sesuatu yang harus dibayar mahal. Kirana menerima pinangan Sastro, seorang kaya raya seumuran ayahnya yang masih membujang. Suatu awal bagi babak baru kehidupan Kirana. Ia memutuskan berhenti bermain musik setelah menikah.

Memasuki akhir cerita, semua konflik yang dibangun sejak awal hingga pertengahan cerita menemukan benang merahnya masing-masing. Fragmen-fragmen dalam adegan Elise yang mengalami pendarahan sehingga menyebabkan kematiannya dan bayi yang dikandungnya, pesan terakhir Elise yang menagih janji ayahnya, fakta bahwa ayah Elise sebagai biang keladi dibalik hancurnya bisnis keluarga Kirana, hingga kehamilan Kirana yang menimbulkan konflik baru dalam pernikahannya dengan Sastro.

Kehilangan Elise membuat Fajar semakin menyadari bahwa dirinya memang telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Fajar telah menyia-nyiakan cinta dan segenap pengorbanan Elise. Konser terakhir yang digelar pun bertajuk “Fur Elise” sama dengan judul sebuah nomor klasik. Fajar tampil sepenuh hati dalam konsernya itu demi membahagiakan Elise yang telah menantinya di alam lain. Konser itu pula yang akhirnya membawa penyelesaian bagi tautan perasaan Fajar dan Kirana. Sedang, Sastro mulai bisa menerima kenyataan pada konflik yang mereka alami dalam pernikahanya bersama Kirana.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Awalnya, saya merasa bakal mendapat gambaran yang jelas tentang bagaimana sebuah konser atau resital piano berlangsung. Saya semakin yakin karena sampul depan buku ini memang menampilkan alat musik yang menjadikan Beethoven sebagai masetro, piano. Selama ini, yang ada dibenak saya tentang resital piano adalah konser Francis Lim di Amerika sana, yang saya baca dalam buku Traveler’s Tale.
Namun, keyakinan saya itu seketika berubah sebaliknya. Membaca sinopsis singkat di bagian belakang buku, rasanya ada sesuatu lain yang ditampilkan buku ini. Tidak melulu tentang musik. Sejenak, saya menangkap makna bahwa buku ini memberikan sesuatu yang lain. Masih tentang cinta dan konflik-konflik seputarnya, dan itu melibatkan orang ketiga.

Isu tentang perselingkuhan sudah ada lama sekali sejak pertama kali Tuhan menciptakan cinta dalam jalinan pernikahan. Perselingkuhan selalu menjadi isu  yang menarik untuk diikuti. Selalu menarik untuk mengikuti cerita cinta yang tidak hanya milik dua orang anak manusia. Isu yang tidak akan pernah membuat bosan karena banyak variasi yang bisa dilakukan untuk tetap mencintai seseorang, sekalipun itu terlarang.

Konser lebih banyak bercita tentang konflik-konflik seputar pergulatan tokoh-tokohnya dengan kehidupan mereka masing-masing. Kirana, dengan segenap problematikanya yang mengharuskannya lebih dewasa dari orang dewasa. Fajar, yang harus mengakui sifat pengecut yang bersemayam dalam dirinya karena pernikahannya dengan Elise tidak pernah ditautkan oleh cinta sehingga mulai jatuh cinta pada sosok Kirana. Cerita yang berputar diantara tokoh-tokoh tersebut tidak lantas membuat buku ini kehilangan dimensi-dimensi lainnya. Latar cerita semakin menambahkan kesan yang kuat dalam membentuk imajinasi pembaca terhadap situasi-situasi yang dialami tokoh-tokoh cerita. Walaupun akhir cerita terkesan sedikit filmis dengan terkuaknya semua “rahasia”, semua itu tidak mengurangi kekuatan cerita yang berangkat dari ide yang sangat sederhana ini.

Yang patut dijadikan pelajaran dari buku ini adalah memaknai nilai-nilai keteguhan dan kesetiaan kaum perempuan. Keteguhan hati seorang perempuan ditampilkan dalam sosok Lydia dan Elise.  Lydia, dalam perjuangannya membesarkan ketiga buah hatinya. Pun, ketika berjuang melawan penyakit kanker yang menimpanya. Elise, walaupun tampak rapuh dibalik sikap manjanya ternyata sangat mencintai Fajar. Elise rela berkorban apa saja demi cintanya itu. Elise telah membuktikan bahwa cinta memang membutuhkan pengorbanan, sekalipun nyawa taruhannya. Elise meninggalkan dunianya dengan membawa cintanya. Cintanya masih menggema di sanubari sehingga membuat Fajar merasa sangat bersalah.

Sungguh tidak mudah bagi kaum istri untuk menerima kenyataan bahwa suami mereka berselingkuh. Namun, penolakan itu sama pahitnya dengan menyadari apa yang telah terjadi lalu mencoba berdamai dengan segala kecurigaan dan prasangka yang terlanjur mengisi relung hati. Sehingga, apapun pilihan atasnya menjadikan perempuan sebagai sosok yang lebih dari sanggup untuk mengatasi semua itu.

Melalui cerita ini, Meiliana berhasil membangun imaji tentang kekuatan seorang perempuan dalam menghadapi segenap prahara dan badai konflik dalam rumah tangga. Kekuatan yang berasal dari fitrah yang saling melengkapi peran kaum perempuan. Baik itu dalam konteks relasional dengan dunia sekitar mereka maupun dengan perasaan mereka sendiri. Perasaan dan intuisi yang seringkali jadi lawan abadi dalam menemukan pelangi di akhir badai.

Paninggilan, 22 April 2012.

Rabu, 11 April 2012

Winter to Summer; 11.369 km untuk satu cinta

Pernahkah kita membayangkan berada jauh dari rumah, merasa terasing, lalu kemudian bertemu dengan seseorang yang benar-benar mencintai kita sepenuh hati. Seseorang yang sangat begitu memahami perbedaan yang membentang dalam jarak dua dimensi budaya. Seseorang yang begitu tulus menerima segenap perbedaan itu tanpa kehilangan sedikit pun perasaan sayangnya

Berada 11.369 KM dari bumi pertiwi membawa satu pengalaman baru bagi Kirana. Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional yang mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Geneva. Pengalaman itu juga yang mengantarnya pada suasana dan kawan-kawan baru. Hingga pada akhirnya menemukan satu cinta pada sosok Manu.


Jatuh cinta di negeri orang rasanya bukan hal yang mudah. Jurang perbedaan antara timur dan barat yang begitu dalam terkadang jadi penghalang untuk sebuah perasaan atas nama cinta. Berbagai ujian siap menghadang. Ruang dan waktu takkan lagi sama kala jarak membentang.

Kirana, harus merelakan perasaan yang tertinggal untuk Manu di Paris ketika waktu itu tiba. Kirana harus kembali ke Indonesia untuk melanjutkan studinya. Sementara, Manu pun hanya bisa berjanji untuk menemui Kirana. Entah kapan, Kirana memegang janji Manu untuk menemuinya di Indonesia.

Perjalanan Euro Trip dengan Manu sebelum kepulangannya ke Indonesia adalah satu-satunya hal berharga yang akan terus diingat. Dalam perjalanan itulah Kirana dan Manu mengenal lebih dalam pribadi masing-masing. Manu, yang sejak awal menaruh hati pada Kirana, akhirnya menyatakan cintanya. Sementara, Kirana yang memang jatuh cinta, menerima Manu sepenuh hati. Cinta tidak pernah salah sejak saat itu. Cinta telah menemukan jalannya. Menuju pelabuhan kecil di sudut hati Manu dan Kirana.

Perpisahan selama empat tahun semakin menimbulkan gejolak dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang hubungan mereka. Apapun usaha keduanya untuk saling melupakan tidaklah cukup. Hati mereka memang tidak sanggup lagi berbohong. Bahwa mereka masih saling mencintai.

Kedatangan Manu ke Indonesia pun tidak berpengaruh banyak bagi perjalanan cinta mereka. Pertemuan dengan keluarga Kirana pun bukan malah memperbaiki semuanya seketika, cinta mereka menjadi anasir yang rumit. Kirana, dengan segenap pertimbangannya telah memutuskan untuk mengakhiri perasaan yang terlanjur larut dalam kebahagiaannya dengan Manu. Suatu akhir yang terus menghadirkan tanya di benak Manu. Suatu akhir yang tidak pernah bagi keduanya. Kirana tidak ingin Manu kehilangan prinsipnya walaupun Manu telah meyakinkan Kirana untuk menerima segalanya: asalkan bisa selalu bersama.

Membaca debut novel dari Icha Ayu ini sama juga dengan menikmati sebagian belahan Eropa. Pembaca tidak harus benar-benar menginjakkan kaki di benua biru itu. Lewat detail-detail yang tersaji dalam cerita, pembaca dihadapkan pada penjelajahan imajinasi tentang Eropa itu sendiri. Tentang seribu cahaya di Trocadero dan Eiffel, hujan musim dingin di Geneva, suasana musim semi di Brugge, hingga pojok-pojok sunyi kota Paris. Sentuhan-sentuhan seperti detail latar cerita yang mengambil tempat pada ruang-ruang publik yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya ikut memberi warna tersendiri.

Lebih jauh, novel ini setidaknya menghadirkan jawaban-jawaban untuk takdir cinta yang tak pernah adil karena terhalang sekian banyak perbedaan. Penerimaan terhadap diri sendiri, memaknai pilihan masing-masing atas dasar saling menghargai saja tidak pernah cukup. Cinta yang terjalin atas dasar saling membutuhkan dan saling memiliki yang diuji dengan konflik-konflik yang muncul dari luar individu. Persoalan keluarga dan latar belakang budaya seringkali jadi kerikil tajam yang harus dilalui. Suatu keadaan yang sering kali dijadikan alasan untuk menyerah lalu berpisah.

Lewat novel ini, kita disadarkan bahwa apapun pilihannya cinta akan menemukan dirinya sendiri dalam pergulatan takdir. Cinta akan menemukan jalan menuju kebahagiaannya sendiri. Karena sejatinya, cinta tak akan pernah bohong saat ia memutuskan dimana akan berlabuh.


Medan Merdeka Barat, 2 April 2012.

Selasa, 13 Maret 2012

Kereta Tidur


"Aku lebih takut pada hidup yang seperti lotre. Hidup adalah beratus-ratus mungkin. Mati, itu sesuatu yang pasti." - Hal. 43


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membaca karya Avianti Armand untuk pertama kalinya sungguh menghadirkan pengalaman yang berbeda dalam memaknai sepuluh cerpen yang disajikan Kereta Tidur. Kumpulan cerpen yang habis dibaca sekali duduk ini mengandung kekayaan terpendam dalam setiap rangkaian kata. Sederhana, lugas, dan banyak mengandung unsur kejutan. Mengingatkan pada kumpulan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, dimana imajinasi menjadi bahan bakar utama cerita sehingga tidak pernah kehilangan kejutan yang menakar pengalaman pembaca.

Agaknya, imajinasi pula yang membuat Kereta Tidur menjadi lebih hidup. Cerita-cerita didalamnya dituliskan dengan kekuatan fiksi imajinatif sehingga mengundang pemaknaan baru atas sebuah cerita. Sekalipun cerita-cerita itu adalah kenyataan dan realitas yang biasa ditemui sehari-hari.

Hal-hal yang mudah dijumpai seperti konflik cinta, masalah keluarga, pencarian diri melalui pertanyaan atas eksistensi manusia tersaji unik, indah, dan mengusik. Nilai-nilai kehidupan yang sangat biasa hadir dalam kenyataan sehari-hari. Bahkan telah menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari yang biasa dialami.

Dari segi penceritaan, kejutan yang tak pernah bisa diduga adalah satu bagian lain yang akan menguji pengalaman pembaca. Unsur-unsur kejutan dalam cerpen ini mencirikan gelombang baru dalam kepenulisan di Indonesia. Ketika konteks berpadu dalam realitas kenyataan sehari-hari dan dituliskan kembali dengan proses fiksi yang fiktif dan imajinatif. Tanpa sedikit pun kehilangan muatan pesan dan kesan yang ingin ditampilkan si penulis dalam karyanya.

Cerita yang menjadi favorit saya adalah cerpen berjudul "Tentang Tak Ada". Ditulis dengan sketsa penggalan adegan-adegan terpisah tetapi masih dalam batas keutuhan cerita. Isu tentang cinta, romantisme, dan perselingkuhan masih jadi tren penulisan untuk menggugat realitas kaum urban. Lainnya, kutipan tembang Jawa "Ilir-ilir" yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga dan diselipkan dalam cerita ikut memperkuat konteks cerita. Lompatan pengalaman dan alur cerita dari konflik cinta hingga kebudayaan membawa suatu pemaknaan baru atas sebuah cerita pendek yang utuh.

Avianti Armand, peraih cerpen terbaik versi Kompas tahun 2009 dengan cerpen "Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian", dalam kumpulan cerpen kedua miliknya ini mampu mengolah rasa dalam horison imajinasi. Menakar pengalaman pembaca lewat interaksi cerita-cerita yang dituliskan dalam berbagai konteks dan dimensi. Sehingga, tidak pernah kehabisan ruang jelajah untuk menemukan makna-makna yang tersirat dalam sepuluh cerita yang saling berkejaran.

Judul: Kereta Tidur
Penulis: Avianti Armand
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Tebal: 129 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen

Pharmindo, 11 Maret 2012.
Ditemani semilir hawa dingin Bandung