Tampilkan postingan dengan label Story of a Song. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story of a Song. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

The Lies We Live In


 
"Ada bagian masa lalumu yang belum selesai..."
"Bagian mana?"
"Tanya dirimu, hatimu lebih tahu..."
"Apa perlunya? Apa itu masalah untukmu?"
"Kadang-kadang itu jadi masalah buatku. Lagipula kamu tak peduli."
"Kamu cemburu...?"
"............"

Percakapan terakhir pada suatu senja penghabisan itu membuatku teringat lagi padanya. Aku masih mengingkari kenyataan bahwa memang ada bagian masa laluku yang belum selesai. Bagai noktah kecil dalam tirai hati. Aku tidak mau mengakui kalau aku masih belum bisa melepaskan semua ingatan tentang perempuan yang menangis ketika kutinggalkan sore itu. Ketika semua yang mampu dihadirkan mimpi perlahan membias dalam keremangan senja. Dan kini, perempuan lain hadir dalam hidupku hanya untuk sekedar mengingatkan perihal masa lalu itu.

Aku yakin ia tidak sedang merasa seperti Inez yang batal menikah dengan Francis Lim, hanya gara-gara Francis masih punya masa lalu yang belum selesai dengan Retno.* Ah, sudahlah. Hidup ini tidak seperti novel walau kadang diperlukan waktu yang panjang untuk menyudahinya dan kejutan-kejutan hebat sebagai bumbu cerita.

"Kadang tidak perlu benar-benar jahat untuk jadi penjahat..."
"Kata siapa? Apa itu sindiran buatku?"
"Ya, jika kau merasa..."
"Lantas?"
"Tidak perlu memaksa melupakan bila memang tak sanggup"
"Kamu cemburu?"
"........."

Aku rasa berkomitmen itu mudah dan bukan sesuatu yang 'sakral'. Komitmen adalah bagaikan memilih barang di etalase toko. Kalau suka, ambil. Kalau memang tidak, ya sudah jangan dibeli. Dalam komitmen, yang dibutuhkan hanya kesungguhan untuk menjalani hidup bersama tanpa harus melupakan diri masing-masing. Toh, kita masih bisa tetap jadi diri sendiri. Tetapi, apakah meninggalkan segala ingatan tentang masa lalu adalah bagian dari komitmen itu juga?

Semua orang punya rahasia masing-masing. Aku dan dia sama saja. Kita sama-sama pernah punya lubang di hati. Aku rasa kita berdua telah sama dewasa. Bicara dengan logika walau terkadang perempuan itu cenderung melibatkan emosinya.

"Sudah berapa lama kamu berhenti menemuinya?"
"Sejak aku mengenalmu"
"Gombal"

Aku memang pernah menginginkannya. Aku memang selalu rindu padanya. Pada tatap hangat dan senyuman yang merekah indah setiap pagi. Pada semua momen bersama yang terlalu indah dilepaskan. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa aku pula yang menghentikan perasaan itu. Aku memang meninggalkan luka padanya, itu memang salahku. Lagipula, aku tidak akan memaafkan diriku bila aku sampai hati memainkan perasaannya. Aku sedang tidak ingin serius apalagi sampai harus memegang komitmen. Untuk apa? Dengan diriku saja aku masih belum bisa berkomitmen apalagi dengan dia.

"Kamu masih ingat perjumpaan kita?"
"Masih, bagaimana bisa aku lupa?"
"Apakah itu suatu penyangkalan?"
"Tentu tidak. Kamu tentu tahu betapa hebatnya ingatanku."
"Apa itu sebabnya kamu masih belum bisa lepas darinya?"
"Apakah kamu minta penjelasan?"
"Things happens for a reason..."
"Not everything in common..."
"Ah, tentu kamu masih ada rasa..."
"Itu untukmu..."
"Is that a compliment?"
"Akuilah, kamu cemburu?"

Perempuan itu terdiam lagi. Senyum tipisnya merekah seakan penuh kemenangan. Perlahan ia hirup aroma kopi Aceh pesanannya. Betapa sederhananya menemukan kebahagiaan dalam hidup ini walau hanya dalam aroma kopi.

"Kadang terlintas untuk cemburu, tapi buat apa? Toh aku tahu kamu tidak akan kembali pada masa lalumu."
"Mengapa kamu begitu yakin? Aku bisa saja melakukannya."
"Aku percaya kamu takkan pernah bisa melakukannya"
"Mengapa tidak?"
"Aku ini bukan apa-apa sehingga seandainya kehilangan dirimu pun aku rela, tak ada yang abadi walau memang kadang terlalu sulit menerima kenyataan... Sebab jarum jam tak pernah berputar ke kiri."

Kalimat terakhirnya cukup membuatku merasa bersalah. Aku tidak pernah meragukan dirinya. Sudah terlalu banyak 'pertengkaran' semacam ini. Suatu proses atas nama pendewasaan. Kami pun cukup sadar untuk melewati gerimis berkerikil tajam ini. Bukan suatu alasan untuk menyerah dan berpisah.

Ada ribuan tanya. Bukankah mencintainya adalah hal terbaik yang bisa kulakukan? Setelah reda semua gelisah, aku berhasil memenangkan hatinya. Sebuah pertempuran rasa yang tak mudah. Aku adalah kepingan hatinya yang berserakan. Kepingan-kepingan yang kini menyatu menjadi puzzle yang utuh dan menjelma dalam sosok diriku.

Dalam keremangan senja gerimis benar-benar menutup hari serupa tirai bioskop tanda usai pertunjukan. Lampu temaram jalanan mulai menghiasi sudut kota. Pekerja kantoran mulai berhamburan, sebagian menutupi kepala sebisa mereka. Pertanda episode kehidupan segera dimulai kembali.

"Memang sulit untuk menutup masa lalu, apalagi tentang dia.."
"Maksud kamu?"
"Selesai tidak selesai itu hanya dipikiranmu saja. Aku tidak tahu apa-apa."
"Apakah itu mengubah sesuatu?"
"Mungkin saja!"
"Apa itu?"
"Mungkin tidak ada bedanya. You do well and I'll live mine."

Ingatanku kembali pada Inez, yang mungkin punya sejuta tanya tentang mengapa Francis meninggalkannya hanya demi sebuah masa lalu yang tertinggal dan belum selesai. Bukanlah masa lalu itu adalah akhir dan kita hanya diperbolehkan untuk menengok sebentar. Bukan lantas tinggal kembali dan menjalaninya sementara melupakan hari ini. Masa lalu hanyalah sejarah kecil dalam rangkaian perjalanan panjang bernama hidup.

Aku tersadar ketika perempuan itu memelukku erat dalam guyuran gerimis. Aroma perpisahan mulai mewangi. Aku harap bukan, mungkin itu sisa parfumnya. Perempuan itu bergegas mengejar taksi. Dalam hitungan detik, perempuan itu menuju belantara kemacetan. Macet di Jakarta adalah bagai dosa yang takkan berakhir. Kulangkahkan kaki, sambil bergumam dalam hati: I'm all alone, and life is very long.

Ponselku berbunyi. Yup. Malam ini aku ada kencan dengan Cinta. Yeah!


 Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 14 Februari 2012.

*baca cerita Francis Lim dan Retno dalam buku “Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona!” karya Adhitya Mulya (et.al), Gagasmedia, 2007.
 *cerpen dimuat dalam "The Greatest Love of All: Tribute to Whitney Vol. 2"

Jumat, 28 Oktober 2011

Sunday Morning Call

Barangkali, bila musik bisa jadi suatu terapi mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi satu terapi bagi saya. Semoga lekas sembuh.

*

Dekade lalu, sekitar tahun 2000, Oasis kembali meluncurkan album terbaru mereka saat itu: Standing in the Shoulder of a Giants dengan merilis single terbaru dari album tersebut yaitu Go Let It Out dan Sunday Morning Call. Waktu itu saya masih SMP dan memang sedang menggandrungi band-band beraliran alternative. Apalagi, teman sekelas banyak juga yang ngefans dengan band-band Britpop seperti Blur dan Oasis.

Ada beberapa momen yang entah secara sengaja atau tidak malah terasosiasikan dengan lagu Sunday Morning Call. Pertama kali nonton video klip Sunday Morning Call, saya sudah jatuh cinta dengan liriknya. Itu terjadi dalam masa peralihan sekitar tengah tahun 2001, ketika saya lulus SMP dan secara resmi dipanggil anak SMA!

Karena belum terbiasa dengan lingkungan pergaulan di SMA yang masih SMP-sentris, maksudnya hanya berteman dengan teman yang satu SMP, maka saya pun masih melakukan hal yang sama dengan sering main ke rumah seorang sahabat. Biar sekolah kami berbeda namun rumahnya dekat dengan sekolah saya sehingga setiap hari Jumat saya selalu mampir. Seperti biasa, sambil bermain komputer dan ngulik gitar saya selalu request lagu Sunday Morning Call, apalagi sahabat saya ini punya versi akustiknya. Hail The Gallagher's!

Selanjutnya, ada dua momen (seingat saya) yang soundtracknya adalah Sunday Morning Call. Pertama, pada hari dimana Masa Orientasi Siswa (MOS) berakhir. Entah kenapa kok saya jadi terngiang-ngiang lagu ini padahal waktu penutupan sempet naik panggung full band dengan memainkan lagu Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki setelah batal bawain lagu I Will Survive. Sembari berjalan pulang saya hanya memainkan lagu itu saja dalam kepala yang jengah ini. Saya merasa akan kehilangan suatu perasaan. Perasaan kagum yang entah apa namanya pada tutor kelompok kami. Do you feel what you're not supposed to feel?

Kedua, sekitar awal tahun 2002 dimana saya mengalami hari yang "sangat buruk" dengan Guru Matematika yang dengan suksesnya menempatkan angka 4 di kolom nilai Matematika. Mirip dengan nomor rumah saya. Setelah kejadian itu (kebetulan malam minggu) saya hanya bisa melamun galau menatap dinding kosong sambil bertanya-tanya: "Mengapa ini terjadi pada saya?". Saya datang ke sekolah untuk belajar dan mendapatkan sesuatu. Then, i was realized that i'm coming for nothing! Lagu itu mengalun pelan. ...Slip your shoes on and then out you crawl.... into the day that couldn't give you more.

*
Oasis - Sunday Morning Call

Here's another sunday morning call
You hear yer head-a-banging on the door
Slip your shoes on and then out you crawl
Into the day that couldn't give you more
But what for?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you don't get it for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever work out right
But it's ok, it's all right

When you're lonely and you start to hear
The little voices in your head at night
You will only sniff away the tears
So you can dance until the morning light
But at what price?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you can't get all for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
And I'm not sure if it'll ever work out right
If it'll ever, ever, ever works out right
Cos it never, never, never works out right

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you won't get help for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever, ever, ever work out right
if it will ever, ever, ever work out right
will it ever, ever, ever work out right





Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 28 Oktober 2011.


* Oasis's lyric provided by LetsSingIt

Selasa, 31 Mei 2011

Suatu Malam Aku Menulis

Airplane, take you away again...
Are you flying above where we live...*)

Ya. Pesawat buatan Perancis itu pula yang membawamu ke peraduan. Kembali ke pelukan Bunda. Merangkai rindu dalam akhir pekan yang terlalu singkat. Tak kulihat dulu barang sejenak. Manis senyum diatas bibir bergincu tipis yang melambaikan salam perpisahan.

Aku dengar lagu di radio butut itu. Aku akan pergi tuk selamanya. Bukan tuk meninggalkanmu sementara. Aku pasti tak kembali pada dirimu. Tapi kau jangan harap, aku takkan kembali.**) Mirip lagu yang pernah kita nyanyikan. Dulu, waktu kita masih bersama. Saling membuka rasa dan bercerita cita.

Kini, hanya pesan darimu yang jadi penanda rindu. Pesan-pesan yang tertinggal di kotak masuk dan masih enggan kuhapus satu per satu. Ternyata kusadari satu hal. Bahwa lebih mudah untuk mengusap wajahmu dan menyeka air mata daripada menghapus semua pesan itu.

Senja perlahan menghampiri. Butiran gerimis menambah resah yang selalu hadirkan kenangan. Kenapa kita menciptakan kenangan kalau ternyata malah tidak bisa melepasnya? Harusnya kita, aku dan kamu mampu hadapi semua.

Ketika malam semakin larut, aku coba menulis. Entah sajak, puisi, atau hanya catatan biasa. Mungkin untukmu, mungkin untuknya.

Masihkah aku menginginkanmu? Bila setiap pagi masih berharap senyummu
Masihkah aku menginginkanmu? Bila masih tega mengharapkanmu

Masihkah aku menginginkanmu? Bila asa itu masih ada

Masihkah aku menginginkanmu? Bila harap tak pasti resah tak peduli

Masihkah aku menginginkanmu? Takkan ku menanti bila harus mengerti

Masihkah aku menginginkanmu?
Sedang cinta aku tak punya



Sudirman-Thamrin, 27 April 2011.


*) dari lirik lagu Sleeps With Butterfly, dinyanyikan oleh Tori Amos
**) adaptasi dari lagu Aku Pasti Kembali, ciptaan Maia, direcycle oleh Pasto

Kamis, 02 Desember 2010

It's Just The Life We Can't Repeat?

Suatu malam, sambil menyelesaikan laporan-laporan yang tercecer tanpa sengaja saya menemukan lagu ini. Lagu lama dari The Offspring, band punk rock asal Amerika Serikat. Thanks God It's 4Shared! Sudah lama sekali saya mencari judul lagu ini. Karena, waktu pertama kali mendengar dan menyimak videonya sekitar tahun 2005 saya tidak terlalu ingat lirik apalagi judulnya. Saya pernah iseng-iseng mencoba download karena saya pikir judulnya "Self Esteem". Kepedean. Padahal setelah selesai diunduh, lead intro-nya jauh banget, beda. So, saya salah. Sejak saat itu, perhatian saya terpecahkan. Hanya menyisakan sedikit penasaran. Berharap tahu suatu saat nanti.

Finally, God's hands works with His own pattern. Sambil menyusuri kembali laman www.letssingit.com, situs langganan untuk mencari lirik lagu, saya iseng lagi mengklik lirik "Can't Repeat" karena rasanya saya pernah mendengar yang ini. Betul saja, pilihan saya tidak salah. Setelah selesai mengunduh filenya, saya bisa memastikan bahwa memang lagu ini yang saya cari.

Menyimak kembali lagu ini artinya sama saja dengan menatap kembali lembaran-lembaran kehidupan yang telah saya lalui. Semua itu telah terlalui dan tidak akan bisa kembali terulang. Seperti apa yang mereka bilang, "Memories are bittersweet... The good times we can‘t repeat..". Yeah, bittersweet. Seperti judul lagu Olivia Ong. Hal positifnya adalah bahwa hidup ini tidak akan terulang kedua kalinya. Episode kehidupan akan terus berjalan tanpa harus menunggu aktornya beres shooting atau tidak sekalipun. Roda-roda nasib terus berputar, perjalanan panjang semakin membentang.





Ini liriknya, sekaligus sebagai pengingat untuk sekedar "mengaca" kembali. Bahwa, life goes on, so now we must move ahead, despite our fear and dread. Be positive!

I woke the other day
And saw my world has changed

The past is over but tomorrow‘s wishful thinking

I can‘t hold onto what‘s been done

I can‘t grab onto what‘s to come

And I‘m just wishing I could stop, but


Life goes on

Come of age

Can‘t hold on

Turn the page


Time rolls on

Wipe these eyes

Yesterday laughs

Tomorrow cries


Memories are bittersweet

The good times we can‘t repeat

Those days are gone and we can never get them back

Now we must move ahead

Despite our fear and dread

We‘re all just wishing we could stop, but


Life goes on

Come of age

Can‘t hold on

Turn the page


Time rolls on

Wipe your eyes

Yesterday laughs

Tomorrow cries


With all our joys and fears

Wrapped in forgotten years

The past is laughing as today just slips away

Time tears down what we‘ve made

And sets another stage

And I‘m just wishing we could stop




Paninggilan, 2 Desember 2010. 20.26

* video yang diembed adalah bukan versi resmi channel The Offspring on Youtube.

Jumat, 15 Oktober 2010

Kapan Lagi Saya Nyanyikan Lagu Ini Sambil Menatap Wajahnya?

7. Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang dia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah melupakannya, karena saat-saat itu ialah saat yang berharga untuknya. dan saat itu, matanya pasti berkaca. karena saat bersamamu tidak selalu terulang.*


Belum juga seminggu perasaan itu pergi. Belum juga seminggu rasa itu usai. Entah kenapa, tiba-tiba pula, saya jadi begitu ingin menyanyikan lagu ini. Sambil menatap wajahnya, di layar ponsel, di album facebook.



Moshimo Negai ga kanau nara
Toiki o Shiroi bara ni Kaete
Aenai hi ni wa
Heya jyuu ni Kazarimasyou
Anata wo omoi nagara

Darling, I want you Aitakute
Tokimeku koi ni Kakedashi sou nano
Maigo no you ni Tachisukumu
Watashi o sugu ni Todoketakute

Daiyaru mawashite Te o tometa
I’m just a woman fall in love

If my wishes can be true
Will you change my sighs
To roses, whiter roses
Decorate them for you
Thinking ’bout you every night
And find out where I am
I am not livin’ in your heart

Darling, I need you Doushitemo
Kuchi ni dasenai Negai ga aru no yo
Doyou no yoru to nichiyou no
Anata ga itsumo hoshii kara

Darling, you love me Ima sugu ni
Anata no koe ga Kikitaku naru no yo
Ryoute de Hoo o Osaetemo
Tohou ni kureru Yoru ga kirai



A song and lyric from Olivia Ong, Koini Ochite (Fall In Love). Album Koini Ochite (Japanese Domestic Market, 2008)



Paninggilan, 15 Oktober 2010. 19.03


*) dikutip dari sini

Sabtu, 18 September 2010

Lagu Itu

Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu...*)

Betul benar itu terjadi padaku. Saat yang paling menyenangkan dalam hidupku itu pula yang rupanya menghantarkan lagu itu melewati gendang telingaku. Begitulah, entah mengapa selalu terbayang wajahmu setiap saat lagu itu diputar. Aku tidak pernah tahu sejak kapan itu terjadi padaku. Kiranya, apa karena aku masih ada rasa padamu.

Lagu itu bukanlah lagu syahdu sebagaimana lantunan suara merdu Christine Panjaitan, Dian Pisesha, atau Iis Sugianto yang selalu mengantarku ke peraduan. Bukan. Bukan itu kan? Tentu saja. Mungkin saja telinga dan lidahmu bakal kelu kalau terlalu sering nguplek dengan lagu jadul.

Aku pikir kau memang menyukai lagumu itu bukan saja karena kau memang menyukai musikalitasnya tetapi juga barangkali terselip memori indah dibalik liriknya. Seperti rasa bahagia milikku yang menyangkut dalam setiap bait lagu On My Own milik Whitney Houston pada makan siang bersama kita waktu itu.


And i am not afraid to try it on my own...
I don't care if i'm right or wrong...



Ah, rasanya tidak perlu kuceritakan kembali perihal kejadian siang itu. Bukankah kita berdua sama-sama menikmati makan siang yang paling spesial? Walau menunya cuma ayam bakar dan jus mangga tetapi tetap kesan itu tak berubah hingga hari ini.

*

Tentu aku tidak perlu tahu kenangan macam apa pula yang ikut menempel lekat dalam lagumu itu. Aku juga tidak perlu tahu apakah lagu itu juga tentang dirinya. Sebuah nama laki-laki lain dalam secarik surat** yang pernah tak sengaja kau sebutkan di depan hidungku. Hadirkan resah. Sentuh rasa tiba-tiba. Mungkinkah aku cemburu?



Pharmindo, 14 September 2010. 21:43


*) dari lirik lagu ''Kugadaikan Cintaku'', dinyanyikan oleh Gombloh.

** dari judul buku Budi Darma, ''Laki-laki Lain Dalam Secarik Surat'', Bentang Pustaka, 2008.

Senin, 12 Juli 2010

Kiss in the Air

Have you ever seen the rose? Sometimes when we touch
In the fields of gold seem all true colors
I believe that there was something there
Being close to you
Between love fools
And someone kiss me

*

Is this all about you and me?
Since I feel the earth move
Did I say something to you?
Have I told you lately?
Since we never can say goodbye

Tomorrow, by the end of this day
Almost here, there and everywhere
Bittersweet feelings that you can’t avoid

Did you ever ask me something?
No, I can’t go for that (no can do)
Ain’t no sunshine through above us
Between the Luka, among the stars


Paninggilan, 12 Juli 2010. 19.59

*taken from song lists in Olivia Ong's album: Kiss in The Air and Olivia Ong

Minggu, 30 Mei 2010

Ocarina

A song of ocarina near Montego Bay
Played in the moonlight reggae A big pipe reggae,
as implora for Girl from Key Biscayne
Amara de Hotel La Luna,
ocarina burning in Bonecas de Plata


30/05/10 14.14

Mencoba untuk sekedar menuliskan kembali dalam bentuk yang berbeda, judul-judul lagu dalam album Ocarina. Album instrumental yang dirilis pada 1991 dan dimainkan dengan apik oleh musisi Perancis, Diego Modena dan Jean-Phillipe Audin.


Cover Album (kaset) Ocarina

Saya tidak ingat pasti kapan saya punya albumnya. Kalau tidak salah, album ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1995-1996. Setelah saya dan Bapak saya menonton video klipnya di SCTV, Bapak saya segera membeli album ini. Apalagi, adik saya sangat suka dengan lagu Ocarina. Waktu itu, saya masih SD tetapi saya sudah bisa menikmati album ini.

Alunan melodi yang khas dari alat musik yang digunakan (ocarina, flute) membuat album ini cocok untuk didengarkan saat rileks. Pada cover kasetnya (versi Indonesia) terdapat tulisan "The Music for Distinguished People". Hal ini sempat menjadi perenungan, apakah dengan mendengarkan musik instrumental telah menjadikan saya sebagai orang yang "berbeda". Berbeda disini adalah dalam batas pengertian selera, karena tidak semua orang menyukai hal yang demikian.

Bagi saya, pengalaman dengan album ini adalah sama rasanya dengan menikmati album David Foster, "A Touch of David Foster (1992)". Saya merasakan perbedaan yang sangat dengan teman-teman ataupun anak-anak SD seusia saya. Saya terbiasa dengan musik-musik orang dewasa (kalau boleh menyebutnya seperti itu) dan saya pun mulai menyukainya, terutama setelah Peter Cetera ikut menyanyikan OST Karate Kids 2, film favorit saya. Thanks to my father and his audio devices especially his self-made amplifier.

Semasa SMP, sekitar tahun 2000-an saya rutin mendengarkan album ini. Dalam menjalani masa-masa penuh gejolak perasaan labil khas anak SMP, lagu-lagu dalam album ini cukup memberikan suatu perasaan yang menenangkan dan meneduhkan. Tak jarang lagu ini menjadi pengantar tidur siang. Yang paling menyenangkan adalah ketika saya mulai bisa memainkan suling rekorder. Selain lagu Menghitung Hari (Krisdayanti) yang selalu jadi lagu "kojo" untuk pamer dan unjuk kebolehan, saya pun mulai mengulik nada-nada lagu Implora di suling rekorder. Lumayan, bertambah satu lagi koleksi daftar lagu yang bisa saya mainkan dengan suling rekorder cap garputala.

Tetapi, saya hanya bisa memainkan lagu Implora itu sebagai lagu sunyi. Tidak ada satu orang teman pun yang tahu mengenai lagu yang saya mainkan. Ketika itu, ingatan tentang cover kaset kembali menyeruak. Dengan egoisnya, saya berkata dalam hati, "They dont know this beautiful song, not because the doesnt want to know, but i'm the distinguished ones.!"

Sekarang, disaat Google mampu menjadi Tuhan kedua di Internet (tergantung anda menempatkannya setelah Facebook atau tidak) ditambah dengan rusaknya cassette player, dan semakin murahnya mp3 player buatan China, membuat saya memiliki akses tidak terbatas dengan melodi-melodi kenangan dari Ocarina, terutama Hotel La Luna. Thanks God, it's 4shared. Que sera sera. Voila. Hanya dengan akses download, kini saya bisa mengulang untuk merasakan kembali apa terjadi pada masa itu. Tidak hanya itu saja, sekarang saya akan lihat apakah tulisan "The Music for Distinguished People" itu masih berlaku atau tidak.


Detail Album



Title
: Ocarina
Year : 1991
Artists : Diego Modena, Jean-Phillipe Audin
Producer : Paul de Senneville
Label : Delphine Records


Website
: http://www.delphine-artists.co.uk/ocarina.htm
http://www.delphine-artists.co.uk/diego_modena.htm





Paninggilan, 30 Mei 2010. 16. 34


Rabu, 12 Mei 2010

Story of a Song: Keinginan



Keinginan

Tak kuasa kumenahan jenuh ini
Kian lama kian menyesak
Menyiksa dalam hampa
Seharusnya kau biarkan ku memilih
Agar tiada kendala antara kita
Yang menjadi penyesalan

Kuingin memahami segala
Yang menjadi beban di benakmu
Hilangkanlah prasangka
Seolah ku mengekang keinginan
Yang kau pendam

Mungkin sulit untuk dapat dimengerti
Ku seperti ingin selalu terbang tinggi
Jauh tinggi..
Cinta ini tak akan mungkin memudar
Kata hati tak akan mungkin berubah
Jadinya.. karenanya..

Kuingin mengikuti segala
Yang menjadi hasrat di hatimu
Hilangkanlah prasangka
Seolah ku mengekang keinginan yang kau pendam

Terbang tinggi
Kuingin selalu terbang tinggi
Jauh tinggi
Akan ku bawa terbang tinggi

(Vocal by Sophia Latjuba & Indra Lesmana, Lyric by Mira Lesmana, Video courtesy: youtube.com)


*****


Back to 90's, mengenang lagu ini sama juga dengan mengembalikan ingatan saya pada waktu SD. Betapa lagu ini menjadi satu lagu favorit yang selalu saya nantikan video klipnya. Maklum, dulu belum ada MP3 Player dan youtube, jadi saya hanya bisa menikmati lagu ini lewat video klip yang sering tayang untuk mengisi jeda waktu peralihan acara TV. saya juga belum jadi pendengar setia radio sehingga tidak pernah tahu apakah lagu ini sempat booming juga di radio. Yang pasti, Sophia Latjuba dengan rambut pendeknya tampil mengagumkan waktu itu.

Lagu ini masih tetap jadi favorit sampai youtube dan free MP3 sites muncul saat ini. Saya menemukan file MP3 lagu ini di komputer seorang teman kuliah. Ketika mendengarnya kembali muncul suatu perasaan yang ajaib galaunya. Mungkin kali ini saya memang lebih mengerti liriknya dibandingkan waktu SD dulu. Dulu, saya hanya menyukai kompoisisi musiknya saja dan tidak begitu mengerti liriknya.

Setelah menikmati kembali, saya coba untuk menangkap kegalauan dan keresahan dalam lagu ini. Saya pun sempat terhenti menjelang bagian akhir lagu ini.

Terbang tinggi
Kuingin selalu terbang tinggi
Jauh tinggi
Akan ku bawa terbang tinggi

Ada perasaan ajaib yang muncul. Suatu perasaan akan kebebasan yang masih terkekang oleh jenuh situasi dan keadaan. Ada kalanya, kebebasan yang kita inginkan dan selalu didambakan berawal dari perasaan terkekang, yang tentu saja menghalangi ruang gerak individu yang pada dasarnya adalah dinamis. Saya rasa, keinginan untuk selalu terbang tinggi bukan hanya untuk bebas dari kejenuhan semata, tetapi juga adalah besarnya hasrat individu untuk meraih apa yang diinginkan.

Semakin ajaib galaunya, karena saya teringat lagi pada lirik dari Koes Plus dalam lagu Perasaan:

betapa tinggi elang akan terbang,
lebih jauh lagi tinggi lamunan,

Pun ketika Sherina menyanyi merdu:

flying high to the mountain high*



Paninggilan, 16 Mei 2010. 08.11


*Sherina dalam lagu Better Than Love, album Sendiri (2007)

Minggu, 02 Mei 2010

Story of a Song: Bidam by Lee Yo Won

Title : Bidam (Sad Story)
Singer : Lee Yo Won
Album : OST. The Great Queen Seon Deok Special Part 2 (2009)

Korean

baraboneun geudae nune garyeojin nunmuri boyeoyo
amureochi antago haedo alsuitjyo manhi himdeureotdangeol

naransaram, geureonsaram, saranghan cham gomaun geudae
honja ulgo geuriwohago, huhoehaneun nan babogatayo

i noraereul deutgo innayo ireon nae mam deullinayo
doragal su eomneun gireul tteonangeotcheoreom jeomanchi deo meolli inneyo
saranghaeyo saranghalgeyo orae orae gieokhaeyo
daeum sesang uri dasi mannalttaekkaji ichyeojiji anke

naransaram, geureonsaram, saranghan cham gomaun geudae
imi urin eogeutnan sarang, seuchyeogayo, aesseuji marayo

i noraereul deutgo innayo ireon nae mam deullinayo
doragal su eomneun gireul tteonangeotcheoreom jeomanchi deo meolli inneyo
saranghaeyo saranghalgeyo orae orae gieokhaeyo
daeum sesang uri dasi mannalttaekkaji ichyeojiji anke


English

I see the hidden tears in your eyes
Eventhough you say nothing’s wrong, I know
It was very hard for you

Someone like who I am
Thank you very much for loving me
Crying and dreading by yourself
I'm regret like a fool

Chorus:

Are you listening to this song?
Can you hear my feelings?
Like leaving to a path you can’t turn back
The distance is far away
I love you, I will love you forever
I will remember you forever
Until we meet again in the next realm
So I won’t forget you

Someone like who I am
Thank you very much for loving me
Already our love is not meant to be
It passes, don’t make an effort

*****


Mendengarkan lagu ini sepintas rasanya mirip dengan lagu D’Cinnamons, So Would You Let Me. Barangkali, terbawa suasana oleh siang yang mendung dan hujan yang membuat semua terasa begitu syahdu dan menyentuh. Ditambah lagi dengan kesendirian yang berteman sepi semakin membuat saya tersentuh. Kalau D’Cinnamons memulai lagunya dengan petikan gitar akustik, Bidam dimulai dengan permainan piano bertempo lambat. Kalau boleh berkomentar, rasanya sama galaunya.

Adalah suatu hal yang baru bagi saya untuk mendengarkan lagu berbahasa Korea. Memang ini bukan yang pertama. Semenjak drama televisi “Full House” tamat tidak pernah terbersit dalam benak saya untuk mencoba menikmati lagu Korea. Lagipula saya tidak begitu mengikuti drama-drama dari Korea. Seperti mengikuti sinetron saja rasanya.

Namun semua itu menjadi terbalik medio Februari kemarin. Tepatnya, sejak saya menyenangi sinetron berjudul “Surgeon Bong Dal Hee”, dimana penyanyi lagu ini, Lee Yo Won, jadi pemeran “Bong Dal Hee” dalam drama tersebut. Ini adalah kali pertama sejak era “Full House” dimana saya mulai menonton drama Korea lagi.Memang pada akhirnya drama itu tamat juga. Namun, kesan yang ditimbulkannya sangat dalam.

Memang lagu ini bukan OST Surgeon Bong Dal Hee melainkan drama lainnya yang masih dibintangi Lee Yo Won yaitu “The Great Queen Seon Deok”. Namun, demi alasan kesan yang tertinggal, saya memutuskan untuk mendownloadnya dan menikmatinya. Saya tidak cukup paham bahasa Korea, tetapi sedikit petunjuk dari sebuah blog sudah cukup untuk membantu menafsirkan isi dan maksud lagu tersebut.

Secara teknik vokal, Lee Yo Won masih terlihat biasa saja. Ada beberapa nada tinggi di bagian reff yang tidak dapat dicapai. Bagi pendatang baru yang memang tidak dibesarkan untuk jadi penyanyi saya rasa sudah cukup. Barangkali, kalau lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi profesional tentu akan lebih baik walau akan kehilangan sedikit kesan dari suara penyanyi aslinya.

Bagaimanapun, lagu ini telah memberikan nuansa yang berbeda dalam hidup saya yang semakin terasa datar ini. Barangkali, dengan adanya sesuatu yang baru ini semakin membuka mata, hati, telinga, dan pikiran saya terhadap berbagai macam pengalaman baru. Semakin saya mendengarkan lagu ini, semakin ingin saya menikmatinya dengan galau, sendirian saja.



Paninggilan, 2 Mei 2010, 14.45


*original lyrics and translation provided by princess-chocolates.blogspot.com