Tampilkan postingan dengan label Story of People. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story of People. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2015

Catatan Seorang Ahli Forensik

Kebenaran, sedalam apapun disembunyikan ia akan menampakkan dirinya. Kesan itulah yang saya dapat dari pembacaan buku ahli forensik yang sangat berpengalaman mengolah berbagai kasus besar di Indonesia. Saya kagum, bahwa dengan kesibukannya beliau masih mampu menuliskan pengalamannya menangani kasus-kasus besar. Sebut saja Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi. Lagi, mengenai kasus kematian aktivis HAM, Munir. Usaha beliau dalam menyibak fakta-fakta tersembunyi patut diacungi jempol dan diapresiasi setinggi-tingginya, ditengah usaha pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyembunyikannya.



Buku ini dibuka dengan pengantar dari pengacara kondang (yang kini tersandung kasus) O. C. Kaligis dan kriminolog Adrianus Meliala. Pendapat mereka sangat membantu dalam pembacaan kisah-kisah penulis karena dapat menjembatani pengalaman awam pembaca terhadap penulis. Penulis sendiri dengan pengalaman yang cukup panjang dalam berkiprah di bidang kedokteran forensik menyuguhkan tulisan-tulisan yang logis, ilmiah, dan faktual.
Menarik untuk menyimak penuturan penulis pada bab pertama. Penulis mengungkapkan berbagai temuannya seputar tragedi Semanggi, kematian aktivis buruh Marsinah, keanehan seputar peristiwa meninggalnya Bung Karno, hingga tragedi penembakan Nasruddin dan misteri dibalik meninggalnya aktivis HAM, Munir. Beliau menulis banyak soal kejanggalan-kejanggalan dan fakta tersembunyi dalam semua kasus tersebut. Ada banyak temuan-temuan yang faktual namun entah bagaimana mereka tidak pernah tersampaikan atau tampil menghiasi media massa. Dengan begitu, hilangnya nyawa dan selesainya kasus berhenti pada kesimpulan sementara semata. Tanpa mengindahkan fakta-fakta yang menyebabkan terjadinya kejadian-kejadian tersebut.
Memasuki bab selanjutnya, penulis menghadirkan sekelumit kisah tentang keterlibatan bidang kedokteran forensik dengan perkara kepolisian. Penulis agaknya sengaja membuat pendekatan yang lebih ilmiah agar peran kedokteran forensik dapat diterima sebagai sesuatu yang wajar dan masuk akal dalam mengungkapkan satu kasus kejahatan/kriminal atau kecelakaan. Penulis mengambil contoh kasus dari beberapa kejadian penting yang melibatkan kasus kematian karena penembakan, ledakan, dan kecelakaan pesawat. Pada bab kedua ini, penulis lebih memberikan penekanan terhadap manfaat dan kegunaan kedokteran forensik.
Penulis juga tidak melepaskan perhatiannya kepada kasus kejahatan narkotika dan psikotropika serta pengaruh alkohol dalam kedokteran forensik. Penulis mengungkap juga satu kasus besar soal narkotika yang melibatkan Zarina, sang Ratu Ekstasi. Pada bab ketiga ini, penulis tidak terlalu banyak menulis pengalamannya.

Pengalaman penulis tidak terbatas hanya pada kasus kriminal yang melibatkan orang dewasa. Penulis juga mengungkap beberapa kasus yang pernah ditanganinya dalam hal kekerasan seksual dan kejahatan terhadap anak. Dalam bab ini, penulis banyak mengungkapkan pendapatnya mengenai kasus bayi tertukar, bayi hasil dari aborsi, pedofilia. Termasuk, kasus mutilasi anak dengan modus yang sama sekali baru dimana pelaku memotong korbannya dalam beberapa bagian dan disebar di berbagai tempat.
Bab 5 ditandai dengan judul yang menyatakan kedokteran forensik sebagai “pisau” ilmiah. Namun, bab ini lebih membahas seputar hal-hal teknis dari kedokteran forensik itu sendiri. Untuk membedakannya dengan bab-bab sebelumnya. Pada bab terakhir, penulis memberikan keterangannya sekali lagi pada beberapa kasus pembunuhan, mutilasi, kematian Marsinah, hingga kematian Fathurahman Al Ghozi, tertuduh teroris yang meninggal di Filipina dan sempat membuat hubungan Jakarta-Manila menegang beberapa tahun silam.
Harus diakui bahwa tidak banyak ahli yang mampu menuliskan berbagai pengalamannya selama berkecimpung dalam satu bidang keahliannya. Adalah satu kekhususan dimana penulis mampu menuliskan beberapa kasus penting yang turut melibatkannya dalam pemeriksaan forensik. Perlu dicermati bahwa penulis menyertakan fakta-fakta yang jarang atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh publik. Saya mencermati pada kasus Munir, keterangan yang diberikan pada buku adalah sama dengan keterangan yang penulis berikan pada wawancara atau pun coverage media cetak lainnya. Dengan demikian, tidaklah terlalu salah bila buku dilabeli voice of voiceless.

Judul          : Indonesia X-Files
Penulis       : Abdul Mun'im Idries
Penerbit      : Noura Books
Tahun         : 2013
Tebal          : 359 hal.
Genre         : Memoar-Kedokteran Forensik


Halim Perdanakusuma, 26 November 2015.

Selasa, 03 Maret 2015

Mengenang Rinto Harahap

Bila kau seorang diri, jangan engkau bersedih...

Sebelum saya menyelesaikan memoar perjalanan tiga negeri bersama Istri, datang sebuah kabar duka. Rinto Harahap tutup usia. Beberapa tahun lalu ketika Robin Gibbs tutup usia, saya menulis obituari untuknya disini.  Agaknya, kehilangan yang sama juga saya rasakan. Dengan demikian, tak berlebihan rasanya bila saya mengapresiasi beberapa karya beliau yang melekat dalam ingatan. Saya berterima kasih pada Bapak karena telah mengenalkan saya pada hal yang demikian.



Penyanyi dan pencipta lagu legendaris ini meninggal di Singapura 9 Februari lalu pada usia ke-65. Legenda musik kelahiran Sibolga, 10 Maret 1949 ini adalah maestro jagad musik Indonesia. Kita semua tidak asing lagi dengan lagu-lagu ciptaanya yang tak lekang dimakan zaman. Sebagai legenda, Rinto Harahap telah mengalami pengalaman-pengalaman bermusik yang lengkap sepanjang hidupnya. Mulai dari menjadi pemain band bersama The Mercy’s, mendirikan perusahaan rekaman Lollypop Record, hingga menjadi pencipta lagu.
Lagu-lagu Kenangan

Banyak lagu Rinto Harahap yang juga melegenda. Lirik yang puitis dengan makna yang dalam serta mudah diingat menjadikan lagu-lagu tersebut tetap abadi di hati para penggemarnya. Thanks to Youtube. Mudah saja untuk kita untuk bernostalgia sejenak ke masa lalu, pada satu masa dimana lagu-lagu itu mencapai masa keemasannya.

Katakan Sejujurnya



Lagu ini dinyanyikan oleh Christine Panjaitan dan segera menjadi hits. Personally, saya suka liriknya. Bercerita tentang kisah dua manusia yang saling mencinta namun akhirnya terpisah juga karena satu perbedaan. Pada satu kolom komentar di Youtube, lagu ini seakan mengisahkan kandasnya kisah cinta Christine Panjaitan dengan Ikang Fawzi. Saya sendiri belum mengkonfirmasi kebenaran isu itu. Andai saja dulu sudah ada Cek & Ricek atau Silet, tentu jadi lebih mudah untuk mengetahui kebenaran dan kesesuaian hal itu.

Hati Yang Luka

Siapa yang tak kenal lagu ini? Lagu Betharia Sonata ini terkenal di kalangan kami yang anak-anak dengan lirik ‘uo uo’-nya. Dulu..bersumpah janji di depan saksi..uo...uo... Tidak diragukan lagi bila lagu ini adalah masterpiece Rinto Harahap untuk yang kesekian kalinya.

Dingin

Kau janjikan berbulan madu ke ujung dunia...
Kau janjikan sepatu baru dari kulit rusa...

Hetty Koes Endang pun turut merasakan sentuhan tangan dingin Rinto Harahap. Lagu ini juga sempat jadi hits. Entah karena liriknya atau karena memang dari dulu yang namanya galau itu sudah ada dan melanda beberapa orang dari generasi orang tua kita. Who knows? :D

Benci Tapi Rindu

Lagu ini tidak hanya membawa Diana Nasution pada pencapaian karir musiknya. Lagu ini juga kian abadi karena sering dijadikan pameo (tulisan) di balik bak truk pasir. Liriknya pun sederhana namun menghadirkan paradoks. Sakitnya hati ini....namun aku rindu....

Jangan Sakiti Hatinya
Masihkah kau ingat, sayang...
Gadis yang pernah kau sayang...

Lirik sederhana dan mudah diingat ini menjadi hits milik Iis Sugianto. Lagu mellow yang punya pesan sangat jelas ini bahkan dinyanyikan kembali dengan beat rock hasil recycle dari Andi /rif.

Gelas Gelas Kaca

Aroma kesedihan dalam penantian yang sendu adalah ciri khas yang melekat pada Nia Daniaty dengan hits miliknya ini.  Dulu, Bapak sering memutar lagu ini. Entah karena apa atau memang hanya ingin mengajari saya bahwa suara Nia Daniaty memang merdu.

Bila Kau Seorang Diri

Satu lagu yang jadi favorit terakhir dalam tulisan ini adalah lagu hits yang dinyanyikan oleh Nur Afni Octavia. Liriknya romantis, serasa Rinto benar-benar mengeksplorasi perasaan seorang kekasih yang sedang dilanda sepi.
Konklusi

Seorang penulis mati ketika karyanya terbit. Dan seperti layaknya seorang musisi, karya mereka akan terus hidup dalam ingatan pembaca dan pendengarnya. Karyanya akan terus dikenang dan dinyanyikan kembali dengan partitur yang sama. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Selamat jalan, Rinto Harahap. Terima kasih telah mengenalkan kami pada cinta yang merdu.

Dharmawangsa, 15 Februari 2015.

Kamis, 14 November 2013

Kisah Lainnya

Jadi, hidup telah memilih, menurunkan aku ke bumi

Buku ini dimulai dengan penggalan lirik lagu “Langit Tak Mendengar”. Satu lagu Peterpan favorit saya sepanjang masa bersama satu lagu lain, “Mungkin Nanti”. “Langit Tak Mendengar” adalah lagu terbaik Peterpan semasa formasi lengkap. Komposisi musiknya penuh. Liriknya juga tidak dangkal. Lagu itu bersama ‘Mungkin Nanti” yang telah direcycle dijadikan pengisi soundtrack film "Alexandria". Lagu itu sempat muncul pula dalam iklan sebuah operator telepon selular.


Membaca ‘Kisah Lainnya’ sama juga dengan bernostalgia kembali ke era keemasan Peterpan. Perjalanan Peterpan disajikan secara lengkap mulai sejak dirilisnya single “Mimpi Yang Sempurna” dari album kompilasi ‘Kisah 2002 Malam’ hingga pergantian anggota dan segenap sensasi yang melingkupinya tidak luput dari rekaman peristiwa ini. Tidak hanya itu saja, segenap latar belakang di balik berdirinya band ini juga turut mengambil bagian. Juga bagaimana proses personil dalam mengawali karir mereka masing-masing bersama Peterpan.

Walaupun cerita dalam buku didominasi oleh narasi Ariel, tetapi “Kisah Lainnya” tetap menampilkan band ini dalam komposisinya yang utuh. Masing-masing personil pun menyuarakan segala kegelisahannya di masa istirahat panjang itu. Termasuk cerita dibalik kolaborasi mereka dengan musisi kenamaan lainnya seperti Idris Sardi dan Henri Lamiri, serta Karinding Attack dan Momo 'Geisha'.

Buku ini ibarat catatan pribadi dari sang vokalis. Ariel tidak hanya piawai dalam menulis lagu. Ariel pun pandai merangkai kata. Selama menjalani masa penahanannya di Rutan Bareskrim dan LP Kebon Waru, Ariel banyak menulis dan membuat sketsa. Buku ini pun diwarnai catatan Ariel yang serupa dengan prosa maupun gambar sketsa karyanya.

Pada saat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati
Itu adalah pasangan hidupmu
Itu adalah takdirmu
Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan
Itu adalah pelengkap hidupmu
Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

Catatan Personal

Saya melihat kembalinya anggota Peterpan ke kancah musik Indonesia tersusun dengan rapi. Walaupun sang frontman mendekam di penjara, beberapa anggota lainnya masih bisa berkarya. Bahkan, naik panggung lagi bersama vokalis-vokalis dari band lain dalam rangkaian tur mengunjungi komunitas penggemar mereka. Single ‘Dara’ milik Ariel terbukti mampu menjembatani proses kembalinya Peterpan. Harapan penggemar serta kebutuhan untuk meraih rasa percaya diri yang sempat hilang berhasil menumbuhkan keyakinan mereka untuk kembali ke panggung.

Proses pembuatan album “Suara Lainnya” membuktikan bahwa mereka masih mampu berkarya. Ketika album itu dirilis, Ariel memang belum bebas dan tidak hadir. Ada perasaan kosong yang menghinggapi mereka karena sang vokalis tidak ada disitu. Namun, sukses besar malam itu semakin membuat percaya diri mereka kembali. Hidup terus berjalan. Ariel bebas. Perjalanan pun mereka mulai lagi. Belakangan, mereka membuat identitas baru, NOAH.

Overall, “Kisah Lainnya” tidak hanya menawarkan sebuah ‘pengakuan’ dan cerita mereka sepanjang 2010-2012. “Kisah Lainnya” membawa pembaca pada sebuah dimensi labirin proses perjalanan kehidupan yang tidak selalu menyenangkan. Kata Tommy Page, life is full with lots of up and down. Selalu ada hikmah dibalik sebuah cerita.

Judul       : Kisah Lainnya
Penulis     : Ariel, Uki, Lukman, Reza, David
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun      : 2012
Tebal       : 228 hal.
Genre      : Memoar-Musik

Medan Merdeka Barat, 7 November 2013.

Senin, 11 November 2013

Juara Sejati Bernama King


Luar biasa! Kesan pertama yang saya tangkap dari beberapa bab awal. Biografi memoar perjalanan seorang maestro bulutangkis ini ditulis dengan apa adanya. Kesan setiap cerita didalamnya tidak hanya berkisah soal kesuksesan. Berbagai kisah kegagalan Liem Swie King diceritakan dengan jujur. Termasuk, cerita soal kekalahannya yang dianggap sebagai 'pemberi jalan' untuk gelar ke-8 All England bagi Rudy Hartono.

Cerita perjalanan Liem Swie King di dunia bulu tangkis tidak selalu penuh dengan kesuksesan. Terutama setelah kekalahan pertamanya usai 33 bulan tak terkalahkan di berbagai kejuaraan. Kekalahan tersebut didapatnya usai skorsing 3 bulan dari PB PBSI akibat kelalaiannya pada SEA Games X tahun 1979 di Jakarta. Akibatnya, King dinyatakan kalah WO. King tampil sebagai pribadi yang sportif yang dengan jujur mau mengakui kesalahannya. Satu hal yang tidak mudah, mengingat status King sebagai Juara All England. King dengan mudah bertutur soal  satu fase proses perjalanan dimana ia mencoba untuk bangkit dan meraih kembali percaya dirinya.

Lintasan memori soal kedigdayaan bangsa Indonesia di kancah perbulutangkisan dunia juga menyisakan setangkup haru. Beberapa kali saya hampir menitikkan air mata dan merinding membayangkan betapa gempitanya kejayaan Indonesia waktu itu. All England, Piala Thomas, Piala Uber, dan Kejuaraan Dunia adalah menu utama santapan khusus bagi atlit bulu tangkis Indonesia. Sayangnya, atlit bulu tangkis Indonesia masa kini belum mengambil pelajaran dari kisah Liem Swie King. Indonesia kini jauh tertinggal dari negara-negara pesaingnya.

King's Smash. Courtesy: www.badmintoncentral.com
Buku ini menghadirkan sosok Liem Swie King sebagai pribadi yang utuh. Mulai dari kisah perjalanan hidupnya, bagaimana hubungan King dengan keluarga, perkenalan pertamanya dengan bulu tangkis, jatuh bangun King di arena, hingga alasan-asalan dibalik pengunduran dirinya dari dunia yang telah diidamkannya sejak kecil.

King juga menuturkan kisahnya bersama Robert Budi Hartono, pemilik perusahaan rokok Djarum yang cukup berpengaruh dalam karir profesionalnya. Sebagai penyeimbang, testimoni dari rekan, kawan, pelatih, dan wartawan olahraga ikut mengisi cerita sehingga pembaca dengan mudah memahami sisi lain dari King.

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk mengakrabi pribadi King yang cenderung pendiam dan dingin. Beberapa testimonial dan catatan dokumentasi media turut dihadirkan sebagai panduan bagi pembaca untuk lebih objektif dalam 'membaca' King. Selebihnya, pembaca diajak kilas balik sejenak ke masa-masa keemasan bulu tangkis nasional. Catatan emas yang diraih putra-putri terbaik bangsa itu kini menanti untuk diulang kembali. King mengajarkan pada kita bahwa juara sejati selalu bersedia berbuat lebih.

Judul       : Panggil Aku King
Penulis     : Robert Adhi Ksp
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2009
Tebal       : 456 hal.
Genre      : Biografi-Memoar

Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 6 November 2013.

Jumat, 12 Juli 2013

Kerinduan Yang Rapuh - Serial #CerpenSMA Eps.1

Pengantar

Sebagai pembuka, beberapa hari lalu saya sengaja menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk membuka kembali file-file tugas sekolah SMA. Menarik, karena saya menemukan sebuah kumpulan cerpen yang pernah saya buat waktu itu. Tidak terlalu banyak memang, namun saya rasa sudah waktunya cerpen-cerpen itu menemukan pembaca mereka yang sesungguhnya.

Serial #CerpenSMA ini akan dimulai sejak tulisan pertama ini terbit. Semua cerpen telah mengalami  proses editing yang terbatas pada kesalahan penempatan tanda baca dan tipografi. Tidak ada perubahan dalam alur dan pemilihan kata-kata. Saya serahkan pada pembaca untuk menilai tulisan saya. Bagi saya, kumpulan cerpen itu tadi adalah tonggak awal sejarah kepenulisan saya, jauh sebelum blog ini dibuat.

Saya berharap pembaca dapat menikmatinya. Khusus untuk ini, terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih.

Paninggilan, 12 Juli 2013


KERINDUAN YANG RAPUH

Andhita tercinta,

Didalam surat ini aku tuliskan sebuah cerita saat aku telah jauh darimu. Suratku ini akan berisikan kerinduanku padamu. Andhita, apakah kamu akan ikhlas untuk menerima dan membacanya?.

Andhita, akan kuceritakan  betapa rindunya diriku saat kau tak disisiku menemaniku. Mengapa? Karena aku sangat mengharapkanmu untuk kembali bersama menikmati segala kenangan yang pernah kita lalui.


 
27 Juni 2001, tahukah Dhita, hari itu aku sungguh-sungguh kecewa, hari itu aku sadar bahwa kita tak akan pernah bertemu kembali. Aku tak bisa menerima kenyataan itu. Tetapi Andhita, kaupun tahu aku harus terus maju untuk meraih masa depanku. Tak hanya diriku saja tapi dirimu juga.
 
Aku juga masih ingat saat kau melihatku berjalan berdua dengan seseorang yang kini telah menjadi mantan kekasihku. Akupun mengerti perasaanmu Andhita, aku juga tahu kalau hatimu menyimpan sedikit luka karena kejadian itu. Apakah kamu tahu juga kalau selama ini aku pun terluka? Seseorang itulah yang sering membuatku terluka, terluka karena ia berusaha untuk menjauhkan dirimu dari hatiku. Andai waktu itu aku dapat menemanimu, maka tak akan ada lagi luka bagi kita berdua.
 
Namun kini Andhita, aku kehilangan perasaan itu. Aku kehilangan jejak cerita kita, saat kita masih bersama. Aku bahkan tak tahu kini dimana dirimu berada, entah di belahan dunia mana. Tetapi Andhita, aku takkan pernah kehilangan sesuatu dari dirimu yang sampai saat ini menjadi sesuatu yang berharga bagi diriku. Apakah kamu tahu Andhita? Senyummu. Senyummu itulah yang selalu menguatkanku dan mengabadikan dirimu di hatiku.
 
Andhita tersayang,
 
Didalam hatiku kaulah yang terindah kau telah menjadi sekuntum bunga yang mekar tiada hentinya didalam hatiku sampai kapanpun, karena kaulah bunga pertama yang kusimpan di dalam ladang cinta hatiku. Andhita, pernah kucoba untuk menepis bayanganmu yang selalu memaksaku 'tuk merindumu, namun ku tak pernah bisa. Belum lagi dalam kesendirianku ini, belum kutemukan bunga-bunga lain sebagai pendampingmu, aku belum bisa Andhita.
 
Andhita yang manis,
 
Aku ingin bertanya padamu, “ Masihkah kau menyimpan hadiah yang kuberikan?”, aku yakin kamu tentu masih menyimpannya. Andhita, untuk mendapatkan  sesuatu itu aku harus menempuh perjalanan yang tak pernah kuharapkan, tapi demi seorang Andhita, aku tak peduli. Andhita, saat itu hujan seakan ditumpahkan dari langit, akupun resah karena belum kutemukan sesuatu itu, aku takut mengecewakanmu, demi kebahagiaanmu Andhita, aku pun terus mencari walau dalam keadaan basah kuyup. Saat telah kutemukan langit mendung pergi dan matahari kembali bersinar dan menghidupkan kembali harapanku pada dirimu.Akhirnya aku pun bahagia melihatmu menerima dan menyukainya. Dari caramu mengucapkan terima kasih, aku tahu kamu sangat senang.
 
Itulah Andhita, seberkas kerinduanku padamu. Andhita setelah membaca suratku ini, kuharap kau dapat membalasnya. Ceritakanlah padaku tentang indah warna-warni duniamu.
 
Sebelum kuakhiri suratku ini, maafkanlah aku Andhita yang telah tega membiarkanmu pergi begitu saja. Pergilah Andhita, kejarlah keinginanmu karena masih banyak waktu, dan tak usah kau pikirkan lagi lelaki ini yang tebaik dan sangat sayang padamu. Maafkan aku sekali lagi, karena kata-kataku ini yang mungkin terlalu gombal bagimu.
 
Andhita, izinkanlah aku mengirimkan kerinduanku padamu dengan cium, peluk dan bisikan terhangat dari tempat yang terindah di dunia.
 

Bandung, 22 September 2003

Minggu, 17 Februari 2013

Karamazov Bersaudara dan Sejarah Kecil Rusia

Komik ini mungkin sengaja dihadirkan ke hadapan saya agar saya bisa melakukan pembacaan awal dan mengambil suatu awalan cerita bagi penamatan buku aslinya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Memang tidak tepat untuk membandingkan keduanya secara langsung. Yang satu hadir sebagai manga representatif sedangkan satu lagi tampil sebagai wujud aslinya. Menarik. Untuk kemudian melakukan perbandingan atas keduanya secara singkat.



Setidaknya, gambaran keadaan kehidupan di Rusia semasa masa kekaisaran ditampilkan dalam bentuk populis sesuai dengan kaidah manga. Dimana penggambaran dan karakterisasi yang disesuaikan dengan figur orang-orang Rusia. Beberapa scene bahkan lazim dijumpai seperti dalam komik Jepang. Komik ini dibuat dengan kaidah membaca yang mirip manga aslinya dengan 300-an lebih halaman. Cukup atau tidak untuk merepresentasikan buku aslinya, saya belum bisa berpendapat karena saya pun belum menamatkan buku aslinya.

Cerita kehidupan di Rusia tidak jauh berbeda dengan negara maju lainnya. Dimana orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Kesenjangan yang jauh antara tuan tanah dan kalangan proletar membawa Rusia pada suatu pergolakan pemikiran. Aksi untuk menentang kemapanan dan kebobrokan birokrasi diekspresikan dalam berbagai macam aktivitas. Kalangan rohaniawan pun tidak kalah memiliki andil sebagai penyeimbang di dalam masyarakat yang semakin materialistis. Agaknya, sampai disini kita dapat melakukan penafsiran awal tentang akar-akar sosialisme dan komunisme.

Fyodor Karamazov sebagai Tuan Tanah sekaligus bangsawan kaya yang selalu berbuat seenaknya terbunuh. Kisah terbunuhnya bangsawan bejat ini menarik seisi kota untuk menghadiri persidangan atas kematiannya. Dimitri, anak sulung Fyodor dituding sebagai pembunuhnya, sesuai kesaksian Gregor, pembantu setia Fyodor. Alyosha, si bungsu Karamazov, tidak percaya bahwa Dimitri melakukannya. Alyosha hadir sebagai saksi yang meringankan tuduhan. Lain halnya dengan Ivan, adik Dimitri dan kakak dari Alyosha. Ivan tiba-tiba hadir untuk menyatakan siapa pembunuh ayahnya itu. 

Semljakov, anak dari hasil perkosaan Fyodor dengan seorang perempuan tidak dikenal adalah pelaku pembunuhan itu. Kesaksiannya itu tidak berakibat bagus bagi nasib Dimitri maupun Ivan sendiri. Dimitri tetap dihukum atas tuduhan pembunuhan terhadap ayahnya dan dibuang ke Siberia bersama kekasihnya, Grushenka. Sedangkan, Ivan menjadi gila karena tekanan bertubi-tubi yang muncul dari dalam dirinya. Perlu dicatat, Ivan ini seorang atheis yang tidak percaya sama sekali akan Tuhan. Tuhan tidak ada, katanya. Alyosha kembali pada kehidupannya yang semula sebagai rahib.

Sangat menarik untuk membaca sebuah tafsiran atas sebuah karya masterpiece dunia. Menarik pula untuk melihat bagaimana sebuah buku dengan tebal hampir 800-an halaman lebih dirangkum menjadi kurang dari setengah halaman buku aslinya. Tentu dibutuhkan kejelian dan ketelitian untuk memperingkas semua jalan cerita.

Sejarah Kecil Rusia

Pada intinya, sebagai karya sastra yang ditulis pada masa dimana Rusia tidak lagi mengalami pengekangan atas ekspresi individu, The Karamazov Brothers hadir untuk membawa kembali ingatan pada suatu masa yang telah lama dilewati. Tentang ketidakadilan kehidupan yang dialami sebagian besar masyarakat kecil petani. Kemajuan yang dicapai dalam bidang pertanian hanyalah kedok semata untuk memperkaya kaum bangsawan pemilik tanah. Pemerintah pun tidak mampu berbuat apa-apa karena desakan kaum borjuis yang begitu menggeliat. Agama yang selama ini selalu menjadi penyeimbang antara kebendaan dengan kehidupan kadang hanya menjadi "pelarian" bagi kaum proletar tertindas. Agama hadir sebagai jalan keluar bagi mereka untuk tetap memiliki harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Melalui komik ini, realitas kehidupan sosial kemasyarakatan Rusia ditampilkan secara sederhana sebagai refleksi atas keadaan pada waktu itu serta imbasnya terhadap pengaruh besar Negeri Tirai Besi pada perkembangan paham sosialisme dan komunisme di seluruh dunia. Tiga bersaudara Karamazov adalah sebuah contoh kecil dari sebuah figur besar yang lazim di Rusia saat itu. Betapa sejarah telah mencatat Revolusi di Rusia telah mengalami beberapa periode dengan pencapaiannya masing-masing sejak kematian Tsar Nicholas II. Sebut saja, misalnya Revolusi Bolsyhevik hingga kemudian glasnost dan prestroika yang merdu didengungkan Mikhail Gorbachev.

Terakhir, Dimitri, Ivan, dan Alyosha; Tiga bersaudara Karamazov ini saya anggap layaknya trio "Tiga Penguak Takdir" Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Tiga bersaudara ini adalah tokoh utama dalam permainan cerita kehidupan di Rusia, dengan segala permasalahannya dan berusaha menguak takdir masing-masing.

Judul        : Karamazov Bersaudara
Penulis     : Fyodor Dostoevsky, Variety Art Works
Penerbit   : Elex Media Komputindo
Tahun      : 2010
Tebal       : 384 hal.
Genre      : Komik

Paninggilan, 17 Februari 2013.
-di hari ulang tahun Ibu-

Sabtu, 09 Februari 2013

Dua Sastrawan Jepang

Menarik untuk mengetahui selayang pandang literatur Jepang melalui tulisan Edwin McClellan. Penulis secara khusus memang menempuh jalur studi di bidang literatur Jepang. Sehingga, penyampaian tentang kedua tokoh besar dalam sejarah perkembangan sastra Jepang dapat diulas dengan objektif.


Buku ini cenderung berkesan sebagai buku semi-biografi. Natsume Soseki dan Shimazaki Toson dihadirkan dalam fragmen-fragmen kecil mengenai sejarah kehidupan personal mereka. Pengalaman-pengalaman mereka disajikan kembali ke hadapan pembaca mulai pengaruh restorasi Meiji hingga kehidupan mereka selama menempuh pendidikan gaya barat di luar negeri. Beberapa karya mereka menampilkan muatan-muatan perasaan mereka selama periode tersebut. Tak heran bila kemudian Botchan karya Soseki meraih banyak penghargaan dan banyak diterjemahkan di berbagai negara.

Walaupun tulisan penulis tidak secara utuh menghadirkan imaji atas kedua sastrawan Jepang itu namun pembaca memperoleh gambaran penuh tentang kedua sosok sastrawan Jepang itu. Misal saja, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan karya-karya mereka. Menarik karena Edwin McClellan sepertinya sengaja membongkar semua hal yang berkaitan dengan cerita lain dibalik penciptaan karya mereka. Hal ini menjadi nilai tambah bagi pembaca untuk memahami pribadi personal dan karya mereka secara lebih detil.

Judul        : Two Japanese Novelists: Soseki & Toson
Penulis     : Edwin McClellan
Penerbit   : Tuttle Publishing
Tahun      : 2004
Tebal       : 180 hal.
Genre      : Kesusasteraan Jepang

Bogor, 6 Februari 2013.

Sabtu, 26 Januari 2013

Sketsa Sejarah Republik

Tidak salah bila Rosihan Anwar dinobatkan menjadi seorang dari empat saksi sejarah terkemuka Indonesia selain BM. Diah, Mochtar Lubis, dan Jakob Oetama.



Rosihan Anwar membuka kembali catatan kecilnya yang tersebar dalam berbagai publikasi di media cetak nasional. Melalui catatan-catatan itu Rosihan Anwar mencatat segala detail peristiwa yang terjadi dalam sejarah republik. Beberapa artikel pembuka membawa pembaca untuk memahami lebih baik mengenai Timor Timur dan Aceh. Rosihan Anwar banyak menulis tentang riwayat yang menjadi asal-muasal sejarah Timor-Timur sejak jadi bagian provinsial dari Portugis. Kemudian, semua bagian sejarah yang sekarang nampak sudah di"peti es"kan dicairkan kembali. Tentang bagaimana hubungan keinginan rakyat Timor serta pengaruh hegemoni Amerika Serikat dalam usahan integrasi Timor ke dalam kedaulatan NKRI. Menarik, karena membuka wawasan lebih jauh sehingga pembaca dapat membuat perbandingan dengan "fakta" sejarah yang selalu dimunculkan lewat buku-buku pelajaran sejarah.

Sama halnya dengan masalah Aceh. Aceh yang dulunya dijuluki Lumbung Republik, karena memang Aceh pernah menjadi basis modal untuk perjuangan republik, mengalami pergolakan dalam hubungannya dengan Republik. Pergolakan internal yang mengakibatkan munculnya separatis GAM menimbulkan isu utama soal perpecahan republik yang masih berusia muda ini. Lewat tulisan khasnya, kita dihadapkan pada detail-detail disekitar konflik tersebut. Mulai dari Daud Beureuh hingga Hassan Tiro.

Menjelang akhir, ada sebuah catatan yang ditulis kembali, mengenai insiden 27 Juli 1996. Dengan alasan keterbukaan dan situasi yang mulai kondusif maka 6 tahun kemudian Rosihan Anwar membuka kembali catatannya soal peristiwa tersebut. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat kediaman pribadi Rosihan Anwar yang terletak berdekatan dengan lokasi kejadian. Melalui catatan itu, Rosihan Anwar menjadi saksi bahwa konflik kepentingan pemerintah terhadap hal apapun yang merongrong kekuasaan masih mendominasi. Setelah sekian lama bungkam akhirnya Rosihan Anwar mau menulis nama-nama pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Overall, banyak sekali lintasan waktu dan peristiwa yang terekam dari pena Rosihan Anwar. Seperti judulnya: Sejarah Kecil (Petite Histoire), Rosihan Anwar mengajak kita berkelana, berkeliling menyusuri petak-petak kecil yang menyimpan sejarah besar. Tidak sedikit korelasi antara kejadian-kejadian yang selama ini telah diketahui bersama dengan potongan sketsa-sketsa kecil itu. Dengan demikian, sejarah bukan lagi hal yang bersifat statis.

Judul       : Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia; jilid 1
Penulis     : Rosihan Anwar
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2004
Tebal       : 328 hal.
Genre      : Sejarah


Paninggilan, 26 Januari 2013.

Jumat, 11 Januari 2013

Markesot Bertutur

Artikel dalam Markesot Bertutur ini hadir rutin seminggu sekali dan dimuat di harian Surabaya Post dari tanggal 26 Februari 1989 hingga 1 Januari 1992. Markesot Bertutur menangkap fenomena kehidupan sosial kemasyarakatan yang terjadi saat itu. Misal saja, pembangunan waduk, hingga persoalan sosial lainnya seperti SDSB dan korupsi yang selalu jadi lagu lama. Markesot tidak hanya bertutur soal urusan dalam negeri saja. Urusan konstelasi politik di luar negeri turut menjadi sorotannya. Pembaca bisa ‘menikmati’ celoteh Markesot seputar persoalan Perang Teluk, George Bush, Saddam Hussein, hingga hubungan antara Kuwait dengan Irak. Dibagi ke dalam delapan bab, tuturan Markesot ini disusun sesuai konteks tertentu sejalan dengan bahan perbincangan yang menyorot berbagai problematika bangsa yang belum terpecahkan.



Dalam buku ini dapat dijumpai beberapa judul aneh, maksudnya diluar kelaziman. Namun justru itulah yang kemudian menjadi ciri khas guyonan ala Markesot serta memperkuat karakter Markesot, seperti:
- Man Rabbuka: Mercy, Rabbi (tulisan ini mengingatkan saya pada cerpen ‘Man Rabbuka’ karya AA Navis)
- Pangeran Samber Proyek
- Korupsi Struktural
- Undang-Undang Tidak Sama dengan Firman Tuhan
- Ilmu Tangan Kosong, Ilmu Kantong Bolong
- Diana yang Priayi, Charles yang Njawani

Markesot tidak selalu membahas hal-hal yang ‘berat’ saja. Sebagai lelaki ia juga tidak jarang membahas hal-hal yang berhubungan dengan sifat laki-laki. Seperti dicontohkan dalam potongan berikut:
“Makin malam biasanya mereka makin cantik. Terutama pada jam-jam mereka akan pulang, wah, cantiknya bukan main. Pokoknya ketika perempuan akan pergi dari kita, jadi cantik. Juga cantik tidaknya wanita itu tergantung situasi batin kita. Kalau pas gairah berumah tangga menggebu-gebu, memancar kecantikan kaum wanita. Apalagi pas punya uang lebihan yang kira-kira bisa untuk nonton, rasanya mereka cantik-cantik bukan main. Tapi anehnya, kalau sudah beberapa kali diajak nonton, cantiknya berkurang. Kalau sudah lama tidak diajak, kok cantik lagi...” (hal. 80)

Pada lain waktu, ketika sedang sangat serius merenungi sesuatu yang diluar jangkauan kemampuannya, Markesot pun piawai dalam menempatkan filsafat mbambung yang melingkupinya.
"Orang berhak hidup dengan pandangannya sendiri sepanjang dia sanggup menjaga jarak, tenggang rasa, dan toleran terhadap pandangan lain di sekitarnya. Kamu boleh beranggapan bahwa hidup ini tidak ada manfaatnya sehingga mati itu lebih baik. Akan tetapi, kamu mulai bersalah jika pendapatmu itu kamu paksakan umpamanya dengan cara membunuhi orang lain". (Hal. 94)

Markesot pun mampu mendeteksi dan membuat sebuah sintesis atas permasalahan korupsi yang tidak pernah selesai hingga saat ini ia dilahirkan kembali.
"Jadi ada tiga macam pendorong korupsi: keterpaksaan, hukum korupsi struktural, serta hedonisme, yakni keinginan untuk bermewah-mewah. Di Indonesia ini, ada ketimpangan yang sangat njomplang antara perolehan ekonomi normal dan iming-iming hidup mewah." (Hal. 162)


Menemukan kembali nilai-nilai kehidupan melalui sekumpulan tulisan tidak jarang kembali mengasah rasa. Mengasah kepekaan jiwa untuk istiroh sejenak, menata hati dan kembali menjiwai makna-makna illahiyah dalam setiap hikmah. Begitulah, Markesot Bertutur hadir kembali dalam wujud tata rupa yang baru ini.

Markesot Bertutur kaya akan nilai-nilai kehidupan sosial kemasyarakatan. Nilai-nilai itu adalah fondasi yang kuat bagi siapa saja yang mau memaknainya sebagai suatu ikhtiar menuju kesalehan sosial. Relevansi konteksnya dengan keadaan saat ini juga lantas menjadikan The Tale of Markesot ini panduan untuk kita dalam menata kembali konstruksi kehidupan sosial kemasyarakatan kita.

Walau tanpa disertai keterangan waktu dari setiap artikelnya, dengan delapan bab yang disajikan, Markesot Bertutur tetap menunjukkan relevansinya dengan konteks keadaan kekinian. Memang disayangkan, karena dengan keterangan waktu tersebut pembaca dapat lebih mudah menyesuaikan frame of reference dan field of experience mereka dengan konteks waktu saat artikel itu ditulis sehingga lebih mudah untuk melakukan pemaknaan kontekstual terhadap artikel-artikel Emha. Namun, hal itu tidak lantas menjadi cacat Markesot Bertutur. Penyusunan artikel dalam delapan bab dan korelasinya dengan subjek tertentu yang tertata dengan sistematis tetap menjamin kontekstualitas antar teks.

Suasana Diskusi Markesotan. Image courtesy: www.caknun.com
 
Emha Ainun Nadjib dalam diskusi Markesotan. Image courtesy: www.caknun.com

Penerbitan kembali Markesot Bertutur ini disambut dengan diskusi Markesotan yang digelar di Pendopo Kadipiro Yogyakarta pada 5 November 2012. Diskusi ini menampilkan Emha Ainun Nadjib sebagai penulis buku, Kuskridho Ambardi (Dosen Fisipol UGM) dan Andityas Prabantoro (Chief Editor Penerbit Mizan) dan diskusi dipandu oleh Toto Rahardjo (Progress).

Hadirnya Markesot Bertutur pada tahun 2012 ini untuk menyapa kembali para pembaca, karena obrolan Markesot dan kawan-kawan Konsorsium Para Mbambung (KPMb) ternyata tetap memiliki relevansi dengan berbagai peristiwa kekinian di negeri ini.

Judul        : Markesot Bertutur
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Penerbit Mizan
Tahun        : 2012
Tebal        : 471 hal.
Genre        : Sosial-Politik-Budaya


Pharmindo, 29 Desember 2012.

Kamis, 10 Mei 2012

Menoreh Janji di Tanah Suci

Perjalanan, kemana pun tujuannya, adalah perjalanan menuju diri sendiri. Pencarian makna diri dalam ruang dan waktu yang tak pernah sama. Mencari arti dibalik hakikat penciptaan dan segala hal yang menafsirkan ayat-ayat Tuhan. Perjalanan spiritual yang membutuhkan lebih dari sekedar kesadaran untuk jujur terhadap diri sendiri. Perjalanan menuju titik dasar dalam jiwa. Berbalut pada harap dan ridho Yang Maha Kuasa.

Perjalanan haji sebagai tingkatan ibadah tertinggi di Rukun Islam bagi sebagian orang hanyalah mimpi belaka. Ongkos Naik Haji yang cenderung naik setiap tahun belum lagi ditambah kondisi inflasi adalah satu tantangan. Belum lagi, situasi sosio-religius masyarakat kita yang cenderung menganggap berhaji adalah suatu kewajiban bagi mereka yang mampu secara materi.

Padahal, bila dikaji lebih dalam, kata ‘mampu’ ini ditafsirkan sebagai penegasan bahwa ‘mampu’ bukan lagi bermakna harfiah sekedar bisa mencukupi dalam hal materi saja. Kata ‘mampu’ disini berarti mampu secara jiwa dan ragawi, secara maknawi, untuk mengelola hati dan perasaan terutama dalam kesiapan memenuhi panggilan Allah SWT.

Berhaji adalah persimpangan antara ikhtiar, tawakkal, dan harapan. Segala makna peribadahan terkulminasi dalam ibadah haji. Keberserahan diri kepada Yang Maha Kuasa diuji di Tanah Para Nabi, Tanah Haram. Melalui berbagai kejadian yang tidak disengaja, akhirnya Allah SWT telah berkenan memanggil hambanya. Seorang penulis prolifik, Pipiet Senja, untuk memenuhi panggilanNya. Allah SWT telah memberikan karuniaNya kepada Pipiet Senja untuk mengalami suatu kebesaran atas namaNya.

Buku ini banyak bercerita tentang kejadian-kejadian yang dialami Pipiet Senja dalam perjalanannya ke Tanah Suci. Dua kali. Umroh dan haji. Ditulis dengan gaya yang santai membuat pembacaan buku ini tidak terkesan terlalu serius. Bahkan, dengan cara tersebut membuat pembaca lebih mudah untuk mengambil ibroh (pelajaran) dan hikmah dari cerita-cerita Pipiet Senja. Pembaca seakan diajak mengalami sendiri peristiwa-peristiwa di Tanah Suci. Mulai dari kekaguman penulis ketika pertama kali melihat Baitullah, merasakan susahnya masuk Raudhah, hingga rangkaian ibadah haji besar. Bermalam di Mina, wukuf di Arafah, sampai Tawaf Wada’.

Penuturan yang apa adanya khas Pipiet Senja membuat pembaca tidak akan kesulitan mencerna kisah-kisah dalam buku. Simak berbagai pengalaman yang didapat Pipiet Senja bersama rombongannya di Tanah Suci. Cerita-cerita seputar kelakuan jamaah haji Indonesia serta jamaah lainnya dari segenap penjuru dunia menjadi sajian tersendiri yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Bahkan, beberapa diantaranya akan membuat kita terperangah dan tidak jarang malah berkaca pada diri sendiri. Terutama, ketika Tanah Suci memberlakukan ayat “Sesungguhnya aku tergantung pada prasangka hambaKu”. Entah keajaiban atau kesialan bisa menghampiri sebegitu cepatnya.

Lebih jauh, Pipiet Senja mengajak pembaca untuk senantiasa mentafakkuri hikmah dibalik pengalaman yang didapatnya. Catatan yang lebih tepat disebut memoar ini memberikan gambaran bahwa sejatinya berhaji adalah bukan sekedar memenuhi panggilan Allah SWT, bukan sekedar unjuk kepunyaan materi, bukan sekedar ritual ibadah belaka. Berhaji adalah bukan perjalanan biasa. Dibutuhkan lebih dari sekedar iman untuk melaksanakannya. Kita akan dibuat lebih yakin akan kebesaran Allah SWT. Kita akan semakin yakin bahwa janji Allah SWT itu benar adanya. Keikhlasan, tawakkal, tawaddhu, dan kepasrahan, menyublim dalam wujud pengharapan pada Sang Maha Pencipta.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Awalnya, saya menandai buku ini dalam daftar wishlist buku yang akan dibeli dan dibaca. Namun, keinginan untuk membacanya belum sebesar nafsu ingin menamatkan Nagabumi II. Saya memang punya keinginan untuk pergi umroh. Entah kapan. Tidaklah terlalu salah punya keinginan seperti itu. Toh, namanya juga ibadah. Hingga suatu saat saya tersadar bahwa saya juga merasakan hal yang sama seperti Pipiet Senja. Tepat ketika sahabat saya, Adit, berterus terang untuk berangkat umroh bersama ibundanya tengah bulan April ini. Akibatnya, saya merasa harus segera menamatkan pembacaan buku ini.

Selain itu juga, saya ingin mempunyai gambaran jelas tentang apa-apa saja yang harus dipersiapkan selama beribadah di Tanah Suci. Satu cara yang efektif yaitu dengan membaca memoar ini. Saya rasa tidak terlalu sulit bagi seorang penulis untuk menceritakan kembali pengalaman-pengalaman yang dialami disana. Akan mudah rasanya bagi saya untuk memahami semua itu melalui tulisan santai dan tidak melulu serius namun sarat akan makna, pengalaman, dan hikmah.

Harus saya akui bahwa karya yang kesekian dari Pipiet Senja ini adalah satu karunia untuk mengobati keringnya jiwa saya akhir-akhir ini. Buku ini adalah buku pertama yang berhasil membuat saya menitikkan air mata. Bulu roma saya merinding pada saat membaca halaman-halaman awal buku ini. Semua itu terjadi begitu saja di dalam bis yang membawa saya kembali ke Jakarta.

Saya bisa bayangkan keadaan yang digambarkan Pipiet Senja. Betapa keadaan beliau saat itu sangat tidak memungkinan untuk bisa memenuhi panggilan Allah SWT. Bahkan, berharap pun tidak. Tetapi, justru disitulah Allah SWT menunjukkan kebesaranNya. Tanpa disangka, takdir, harapan, dan keinginan bertemu di satu persimpangan atas nama nasib anak manusia.

Rasanya, ada banyak sentuhan emosional dalam proses penciptaan buku memoar ini. Sesuatu yang tadinya tidak akan pernah mungkin tiba-tiba bisa berubah menjadi suatu kenyataan, senyata-nyatanya. Pipiet Senja tidak pernah bermimpi dapat menunaikan ibadah umroh dan haji apalagi dengan dukungan finansial dari pihak-pihak yang tak terduga. Sebuah pelajaran berharga bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Bahwa rezeki kita masih 'nyangkut' di tangan-tangan yang Allah SWT kehendaki.

Membaca buku ini sama juga dengan menebalkan kembali keyakinan kita kepada Allah SWT. Allah SWT ingin memberi pelajaran bahwa janganlah sekali-kali berputus asa dari rahmatNya. Sebab, ketika saat itu tiba maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan. Wallahu’alam bis shawab.

Judul         : Menoreh Janji di Tanah Suci: Catatan Haji dan Umroh Pipiet Senja
Penulis      : Pipiet Senja
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit        : Agustus 2011
Tebal        : 247 hal.
Genre       : Memoar

 Pharmindo-Paninggilan, 10 April 2012.

Selasa, 21 Juni 2011

Lady Antebellum: a short story



Lady Antebellum is a country music group formed in Nashville, Tennessee in 2006. The trio is composed of Charles Kelley (lead and background vocals), Dave Haywood (background vocals, guitar, piano, mandolin) and Hillary Scott (lead and background vocals). The group made its debut in 2007 as guest vocalists on Jim Brickman's single "Never Alone", before signing to Capitol Records Nashville and releasing "Love Don't Live Here".

The song, which nearly reached the top due to its breakthrough performance by the group peaked at #3 on the Hot Country Songs chart in May 2008, served as the first single to the group's self-titled debut album. Certified platinum in the U.S., the album also includes the singles "Lookin' for a Good Time" and "I Run to You", the latter of which became the group's first Number One in July 2009.

"Need You Now," was released in mid-2009 and was the first single off the band's new album released in January 2010; it was also the group's second number one single. "American Honey", the second single from Need You Now, was released in January 2010, and became their 4th top 10 single, as well as their third #1 single. "Our Kind of Love", the album's third single, was released in May 2010, and became their fourth consecutive Number One on the Hot Country Songs chart.

Lady Antebellum has been awarded Top New Duo or Group in 2009 by the Academy of Country Music and New Artist of the Year in 2008 by the Country Music Association. They were nominated for two Grammy Awards at the 2009 51st Grammy Awards; and two more at the 2010 52nd Grammy Awards.Of these nominations, they took home the award for Best Country Performance by Duo or Group with Vocals for "I Run to You". More recently on April 18, 2010, the group was awarded Top Vocal Group, Song of the Year ("Need You Now"), and Single of the Year ("Need You Now") at the 45th ACM Awards.


Source: click here

Selasa, 31 Mei 2011

Salah

Apakah kau tak pernah tahu, betapa indahnya dirimu...*

Tiba-tiba aku merasa bahwa lagu itu, lagu yang selalu terngiang saat aku masih mengharapkanmu, yang selalu kubayangkan betapa benar indahnya dirimu itu, adalah sebuah kesalahan. Rupanya, perasaanku (saat itu) terlalu besar padamu. Sehingga kabutnya menutupi akal sehat dan logika. Ya, karena itu pula aku sudah terlalu sering membuat penyangkalan. Bahwa segala sesuatu harus diperjuangkan, bagaimanapun caranya. Tapi, agaknya aku pun lupa, "some battles can't be won"**. Dan itu adalah dirimu.

Mungkin waktu itu, aku terlalu gelap mata sehingga berani menjanjikanmu bahagia. Bahagia yang hanya kita saja. Kebahagiaan dalam memberi. Memberimu keabadian tentang rasa yang (mungkin) pernah tumbuh di sela-sela harapan dalam hati.

Sebelum aku benar-benar sadari bahwa semua itu hanya fatamorgana semata. Hilang begitu saja, tanpa bekas.

I dont know much, but i know i love you..***

Kini kusadari betul bahwasanya dirimu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan terindah? Tidak juga, tapi tetap saja aku kecewa. Aku kecewa bukan karena dirimu yang menjelma jadi kesalahan itu. Tapi, aku kecewa pada diriku sendiri. Betapa mudahnya diriku untuk bertekuk lutut pada imaji asa dan harap yang kau beri. Padahal, semua itu tidak ada artinya bagimu. Tidak ada sama sekali. Bahkan pada semua kenangan yang kau lekatkan pada bimbangku.

Lagu itu adalah penanda. Penanda kelemahanku padamu. Diriku yang (waktu itu) selalu berusaha meyakinkanmu. Dengan segala galau dalam jiwa yang mendesah. Ada rasa untukmu. Ada harap yang ingin kutambatkan pada labuhan hatimu.

Sebelum kusadari bahwa takdir dan nasib telah bersekongkol. Kongkalikong, untuk menjeratku dalam suatu penyangkalan. I'm on a denial. Great denial. Penyangkalan agung yang membutakan segenap intuisi.




Till you do me right, i dont even wanna talk to you, i dont even wanna hear you speak my name...****

Kadang kita harus bercermin dari hari kemarin. Walaupun, ada sedikit perasaan aneh dan muak bila harus mengingat semua tentangmu, tentangnya, terlebih tentang perasaanku. Dalam penyangkalan, yang bisa kulakukan hanyalah meyakinkan diriku lagi. Bahwa, segala macam pertanda yang Dunia berikan sudah cukup untuk mengakhiri rasa itu, padamu.

Harusnya aku cukup sadar ketika lagu itu mengalun pelan setiap kali terbersit tanya tentangmu. Dan aku sudah cukup merasa menjadi orang paling goblok sedunia untuk menyangkal kembali semua pertanda itu. Nasib, biarpun terkadang lebih keras dari baja tapi rupanya ia masih memberiku banyak pilihan. Biarlah kucoba lagi mencari bunga penggantimu. Bahkan diantara keping-keping hati ini.

*

I love you always forever, near and far closing together..*****

Lain lubuk lain ikannya. Lain wanita, lain lagunya. Begitulah adanya. Biar lirik itu jadi penanda masa. Bahwa, kelak pernah ada cerita antara kita. Minimal, aku saja yang merasa.

Lagu itu selalu merdu untukku. Untukku yang selalu menunggu di dekat tangga hanya untuk tahu siapa dirimu. Kelak, aku selalu menunggumu disitu pada waktu tertentu, juga hanya untuk melihat wajahmu.

Pada suatu siang yang indah, setelah malam galau yang berlalu begitu saja, aku berhasil mengenalmu lebih dekat. Bermodal sedikit nekat. Mungkin kau kaget. Tapi, aku yakin itu bukan yang pertama bagimu.

Aku tidak perlu bilang bahwa aku menginginkanmu. Kau pun sepertinya tahu dari caramu menghindariku. Kalau bukan karena kabar dari Bunda sore itu, mungkin saat ini aku belum berhenti untuk merangkul hatimu, membawanya berlayar berkain layar cita.

Kini, yang tersisa darimu hanyalah sebuah tingkah dan kesan yang sempat tertinggal. Betapa merdunya lagu itu telah berganti dengan tingkahmu. Tanpa senyum, lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur.******



Paninggilan, 29 Mei 2011. 01.17


* dari lirik lagu "Menikah", dinyanyikan oleh Java Jive

** kutipan dari buku "The Enemy - Jack Reacher Series #8", ditulis oleh Lee Child, Dell Publishing, 2004

*** dari lirik lagu "Don't Know Much", dinyanyikan oleh Aaron Neville dan Linda Ronstadt

**** dari lirik lagu "Till You Do Me Right", dinyanyikan oleh After 7 feat. Babyface

***** dari lirik lagu "I Love You Always Forever", dinyanyikan oleh Donna Lewis

****** dengan ingatan pada lirik lagu Iwan Fals, "Pesawat Tempur".

Minggu, 10 Oktober 2010

The Pace

Ready for the pace of life...

Begitulah kata zodiak hari kemarin tentang peruntungan saya. Dalam keadaan setengah mengantuk saya sedikit menyadari bahwa mungkin esok akan ada kejutan untuk saya. Mungkin juga itu semua akan mencampuraduk perasaan saya. Siapa tahu? Anak SD juga tahu, tomorrow still a mystery.

Paginya teriakan dua anak kecil (anaknya Paman saya) membangunkan saya dari keheningan panjang (mimpi apa saya semalam...?). Langit gelap mega berarak mendung melintas. Tak lama hujan turun. Tentu diawali dengan guludug (gemuruh campur kilat). Waw, rencana hari ini sepertinya batal.

Beberapa detik kemudian, komputer menampilkan message "BOOTMGR is missing. Failed to load. Ctrl+Alt+Del to reboot". Sialan, alamat pertanda tak baik. Inikah awal maksud dari ramalan itu? Seandainya hidup ini adalah sebuah sistem seperti komputer yang punya dua kombinasi sakti: tentu saja Ctrl+Alt+Del (shutdown) dan Ctrl+Z (undo), akan jadi favorit. Barangkali hanya Tuhan sajalah yang akan kecewa karena pekerjaannya terinterupsi oleh sistem (yang juga ciptaanNya) tersebut.

Satu jam berlalu. Keringat mulai mengucur. Terpaksa recovery manager harus turun tangan sekalian install ulang. Data available for erase? Delete data? Yes. Enter. OMG, saya sedikit lengah. Akibatnya, file-file musik dan video mesum Ar*el vs CT ikut lenyap. Semoga Tuhan memberkati komputer yang baru diinstall ulang ini.

Sampai akhirnya si Blackie berhasil loading sempurna, hujan mulai berhenti. Mentari mulai nampak. Selamat menjelang siang, dunia. Eh, ternyata eh ternyata, si DVD-ROM sialan malah ikut pensiun. So, Pak Bos yang dapat laporan tentang hal ini segera mengajak saya untuk jalan-jalan. Cuci mata katanya. Sekalian mampir ke Service Center. Terima kasih, saya akan membatalkan agenda saya. Padahal ada satu janji yang harus saya lunasi. It's ok lah, jangkrik Boss!.

Singkat cerita everything's totally under control. Dari mulai mengatasi macetnya Jakarta sampai turun naik ke lantai 25. Termasuk waktu pit stop makan di Mayestik. Sip lah, you're the best, Boss!

Sore mengawali senja pembukaan. Semburat kekuningan di kaki langit nampak semarak. Entah apalagi yang akan terjadi. What will be, will be. Kutipan dari teman sebelah meja waktu SMA di kelas IPA (sok penting banget ya kesannya :D)



(sampai disini Penulis berhenti sebentar bersiap-siap mereka ulang kejadian sebelum tulisan ini ditulis sambil mengambil nafas dalam-dalam.)


Kabar berikutnya yang benar-benar memacu "pace" dr jantung ini adalah..eng ing eng... Nama laki-laki lain dalam secarik surat. Surat pendek berjudul SMS (gak penting banget, sumpah :D). Seperti judul lagu dangdut saja. OMG, Eau My God*. Rupanya yang datang bukan sekedar kabar.

Tak lama kemudian terjadi beberapa peristiwa yang tidak bisa dihindari. Bagai satu sekuensial khas komik yang tak terelakkan. Mulai dari bahasan tentang tweets "gak penting" demi memenuhi kebutuhan informasi followers (sounds like judul skripsi). Percakapan di telpon yang lagi-lagi "gak penting" tapi tetap berarti buat yang di ujung sana. Hingga ditutup oleh renungan tentang hal-hal "cemen" yang seharusnya tidak sampai melibatkan Tuhan.

Menjelang dini hari, saya semakin menyadari bahwa segala kemungkinan dalam hidup ini memang tidak terhindari. Segalanya kadang terjadi begitu cepat. They always get you. The problem is apakah semua itu berada dalam keseimbangan tata kosmos kemestian atau malah kita yang harus menyesuaikan. Segalanya masih mungkin terjadi dan setiap kemungkinan memiliki probabilitas masing-masing untuk berubah dalam variabel yang entah konstan atau dinamis. Dan malam pun makin merambat menuju sepertiganya membawa akhir cerita.



Mayestik-Paninggilan, 9-10 Oktober 2010.


*diucapkan Jenson Button jauh sebelum jadi Juara Dunia F1, ketika akan menjajal tikungan terkenal, Eau Rouge atau Air Merah, di Sirkuit Spa-Franchorchamps, Belgia, medio 2000. Ada di Majalah F1 Racing edisi tahun yang sama tapi saya lupa bulannya. Mohon pembaca maklum adanya.

Minggu, 03 Oktober 2010

Catatan di Minggu Pagi

Menikmati hari Minggu dengan bangun siang tentu sangat menyenangkan. Tetapi, bila dibangunkan oleh raungan mesin dan klakson dari loper koran bisa jadi sesuatu yang mengganggu. Bisa jadi juga satu hal yang tidak menyenangkan. Dan itu terjadi pada saya.

Tentu banyak alasan mengapa banyak orang membaca koran di pagi hari. Ada yang memang karena hanya punya waktu di pagi hari. Ada yang memang kebiasaan baca di pagi hari. Ada juga yang mengikuti formalitas semata, seperti yang Pak Edwin pernah bilang waktu belajar Komunikasi Massa.

Saya tidak pernah punya kolom favorit yang selalu saya tunggu setiap minggunya. Saya tidak mengidolakan satu kolom bagaikan subscribed threads di forum-forum yang saya ikuti. Walaupun begitu saya selalu punya kolom yang setidaknya harus sempat dibaca atau disimak biar kata itu cuma kolom Teka Teki Silang atau pun komik strip seperti Panji Koming.

Saya juga tidak perlu tahu mengapa kolom Sastra, Kesenian, dan Kebudayaan ditempatkan pada hari Minggu. Apakah untuk memanjakan para penikmat sastra, seni, dan budaya yang hanya punya waktu luang di hari Minggu, saya rasa saya tidak perlu tahu juga. Yang saya tahu, dengan mata yang masih pedas saya membaca liputan wawancara tentang kebudayaan bersama Ajip Rosidi. Sosok seorang tokoh dalam ranah sastra daerah dan nasional yang semakin saya akrabi semenjak membaca karya beliau yang berjudul, “Orang dan Bambu Jepang”.

Beliau juga yang semenjak tahun 1999 ikut menggagas Hadiah Sastra Rancage, yang kini tidak hanya terbatas pada penulis Sunda saja, tetapi juga penulis dari Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Perlu dicatat, itu dilakukan beliau tanpa (berharap) dukungan dari Pemerintah.


Beberapa Catatan



"Budaya Tak Pernah Diperhatikan..."

Sejak negara Indonesia didirikan, budaya tak pernah diperhatikan, itu kalau kebetulan pejabatnya mempunyai perhatian.

Kebudayaan hanya embel-embel apalagi sekarang kebudayaan dimasukkan dalam pariwisata, artinya kebudayaan hanya dimasukkan sebagai komoditas yang bisa dijual.

Mereka tidak pernah memikirkan bahwa kebudayaan itu merupakan salah satu bagian dari pembangunan bangsa. Mereka merasa cukup dengan memberikan hadiah pada seniman atau lembaga yang bergerak di bidang kesenian. Hanya itu saja.

Membaca petikan diatas, saya teringat akan sesuatu. Saya cukup miris dengan kenyataan bahwa masalah kebudayaan bangsa yang sejatinya menjadi urusan pemerintah ternyata tidak pernah mendapat perhatian serius dan seringkali terpinggirkan. Zaman Orde Baru, Kebudayaan menjadi satu dengan Pendidikan dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rasanya masuk akal bila masalah pendidikan dan kebudayaan berada satu atap dibawah lembaga yang menaunginya. Setidaknya, pendidikan akan membuat orang tersadar akan masalah khazanah kebudayaan bangsanya. Itu menurut logika sederhanacsaya yang masih perlu diuji keabsahannya.

Sedangkan kini, masalah kebudayaan kembali dipisahkan dengan masalah pendidikan dan dilebur ke dalam urusan pariwisata. Bergabung dalam Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Dari kedua-duanya, kebudayaan tidak pernah mendapat tempat pertama. Selalu berada setelah subjek yang pertama. Hal itu mengindikasikan (lagi-lagi) Pemerintah memang tidak pernah serius mengenai urusan kebudayaan ini. Barangkali, Pemerintah hanya peduli dengan Visit Indonesia Year yang jelas-jelas demi usaha meningkatkan bisnis pariwisata dengan menjual kebudayaan-kebudayaan masyarakat yang layak dijual (menurut hitung-hitungan dagang). Bisa saja, keresahan yang diungkapkan oleh Ajip Rosidi itu benar adanya. Sekali lagi, itu menurut logika sederhana saya yang masih bisa terbantahkan, maklum saya hanya rakyat biasa.

Dari sekian petikan wawancara dalam kolom ini, rasanya saya sependapat lagi dengan beliau mengenai masa depan Indonesia. Saya pesimis? Tidak. Realistis? Ya. Seperti bisa disimak pada petikan berikut:

Bagaimana Anda melihat negeri ini ke depan?
Saya sudah putus asa. Dalam otobiografi saya katakan saya tidak melihat masa depan Indonesia. (Dalam otobiografi Hidup Tanpa Ijazah, Ajip menulis "Aku tidak melihat ada fajar yang akan merekah di sebelah depan yang dekat...")

Apakah itu tidak pesimistis?

Banyak orang mengatakan begitu. Saya kira, saya tidak pesimistis, tapi realistis. Saya tidak mengharapkan yang muda akan mengubah kultur politik kita. Sudah berapa generasi dari '66, '98 yang muda masuk, tapi kalau sudah masuk mereka ikut juga. Saya lakukan saja apa yang dapat saya lakukan, dan saya tidak pernah meminta pada Pemerintah.



Paninggilan, 3 Oktober 2010. 21.15

Sumber Bacaan: Ajip Rosidi dalam kolom Persona, harian Kompas, Minggu 3 Oktober 2010.


Jumat, 13 Agustus 2010

Menantang Diktator, Menantang Takdir (Edisi Sejarawan Dadakan)

Judul Buku : Menantang Diktator: Konspirasi Rahasia Anti-Hitler
Penulis : Darma Aji
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2006
ISBN : 9789797091996
Genre : Sejarah Dunia










Conspiracy without solidity will be nothing

Membaca kembali catatan sejarah peninggalan Third Reich dengan simbol kejayaan Nazi dan Adolf Hitler tentu masih sangat menarik untuk diperbincangkan. Perlawanan terhadap rezim yang menjalankan kekuasaan dengan diktatorisme dan totalitarian menjadi sangat tdak mudah. Terlebih lagi, Angkatan Bersenjata Jerman terikat sumpah setia pada Fuehrer.

Menggalang kesatuan ide dan kesepakatan politis demi mencapai tujuan bersama, yaitu bersatunya kembali Jerman dan runtuhnya rezim Nazi seringkali gagal karena tidak kokohnya fondasi konspirasi yang mereka buat sendiri. Dengan demikian, sampailah mereka pada ide untuk membunuh Hitler dan Himmler. Namun, merencanakan pembunuhan Hitler pun bukan perkara yang mudah. Banyak Jenderal masih memegang sumpah setianya pada Fuehrer dan banyak pula yang beranggapan bahwa berkonspirasi membunuh pemimpin Negara adalah suatu tindakan pengkhianatan terhadap Negara.

Berbagai plot telah disiapkan guna menggulingkan rezim diktator yang semakin menenggelamkan Jerman dalam perang melawan Sekutu Barat dan Uni Soviet dibawah pimpinan Stalin. Plot pembunuhan Hitler disusun bersama dengan serangkaian rencana kudeta dan pengambilalihan kekuasaan di Ibukota Jerman saat itu, Berlin. Hanya saja, keberuntungan seringkali menaungi Hitler. Beberapa percobaan sempat mengalami kegagalan. Hitler pun semakin di atas angin dan semakin merasa bahwa tujuan mulia terhadap Third Reich adalah takdirnya.

Begitu pun usaha dari Kolonel Clauss von Stauffenberg pada 20 Juli 1944 yang membawa bom dalam koper dan meninggalkannya di ruang rapat markas Hitler di Wolfersschanze (Wolf’s Lair), Prusia Timur. Kisah heroik ini juga pernah difilmkan dengan judul Valkyrie (MGM, 2008) dan dibintangi oleh Tom Cruise yang memerankan sendiri Stauffenberg. Valkyrie sendiri adalah nama dewa dalam mitologi Jerman-Nordik yang juga namanya dijadikan sandi operasi pengambilalihan keamanan darurat dalam negeri bila sewaktu-waktu kepala Negara berada dalam keadaan bahaya.




Melalui buku ini, pembaca diajak lebih menyelami kejadian-kejadian konspirasi sepanjang berkuasanya Rezim Nazi dibawah komando Adolf Hitler, der Fuehrer. Pembaca juga akan mendapatkan wawasan tambahan sepanjang Perang Dunia II, tentang bagaimana taktik militer Jerman pasca D-Day di Normandia dan War of Stalingrad, dan juga apa dan siapa yang ikut berperan seputar masa-masa kelam dalam sejarah kemanusiaan. Lebih lengkap lagi bila pembaca juga menonton film dokumenter D Day 6.6.44 (2004) dan War of The Century: When Hitler Fought Stalin (2000) rilisan BBC Films sehingga objektivitas pembaca akan tetap terjaga dengan informasi dan arsip-arsip terbaru yang dirilis Rusia guna kepentingan riset.


Paninggilan, 13 Agustus 2010. 10.33

Kamis, 08 Juli 2010

Obituari 2 Maestro

Belum usai menuliskan isi kepala tentang Abdullah Totong Mahmud, baru saja saya mendapat kabar bahwa Achdiat Karta Mihardja meninggal dunia.

*

Ambilkan Bulan, Bu.


Beberapa bulan yang lalu, sekitar bulan Mei entah apa yang merasuki saya waktu itu, saya menjadi sangat ingin sekali mendengarkan lagu Ambilkan Bulan. Thanks God it’s 4shared. Menjelang tidur, saya selalu memutar lagu itu sebagai pengantar. Pertama kali mendengar tahu ada lagu anak-anak seperti itu kira-kira sekitar medio 1997. Entah Tasya atau siapa yang menyanyikannya, kalau tidak salah ingatan yang tersisa di kepala saya adalah model yang jadi Ibu si anak di video klipnya adalah Maudy Koesnaedi.


Adalah suatu perasaan yang mengagumkan untuk mengenang sang pencipta lewat karya-karyanya. Apalagi kalau ternyata karyanya abadi dan selalu menjadi pertanda zaman. Mengenai lagu itu juga ada alasan emosional sehingga saya tidak pernah bosan memaksa si Ngipod untuk memutarbalik playlist. Menurut saya, kekuatan lirik yang sangat dahsyat tercermin dari lagu ini. Saya sendiri tidak pernah punya pengalaman untuk sekedar memintakan bulan pada Ibu. Barangkali karena saya anak laki-laki jadi Ibu tidak pernah menjadi Ibu yang diperankan dalam video klip lagu ini.

Saya tidak menyangka bahwa ditengah guyuran hujan dan gemuruh dari langit pada siang 8 Juli kemarin bangsa Indonesia telah kehilangan seorang maestro lagu anak-anak. Mendengar kabar wafatnya Pak A.T. Mahmud saya hanya bisa diam sambil memutar lagu itu dikepala saya, berulang-ulang. Semoga bulan pun ikut menerangi jalan keabadian Pak Abdullah.

Lelaki kelahiran Palembang, 3 Februari 1930 yang juga sahabat Prof. Emil Salim semasa SMP itu kini telah tiada untuk selamanya. Namun, karyanya akan tetap abadi. Selalu dikenang sepanjang masa oleh mereka yang tak pernah lupa akar rumput bangsanya.

Achdiat K. Mihardja


Perkenalan saya dengan Begawan sastra yang satu ini dimulai dengan cerpen beliau yang dimuat dalam Tokoh-tokoh Cerita Pendek Indonesia hasil kompilasi Korrie Layun Rampan sekitar tahun 2005. Judul cerpennya saya lupa. Tetapi dari biografi singkat penulisnya sudah barang tentu beliau ini adalah satu dari sekian banyak maestro sastra Indonesia. Buktinya, beliau menjadi Guru Besar yang mengajar Kesusasteraan Indonesia di Australia National University (ANU). Biografi singkat itu juga yang selalu menyemangati saya supaya suatu saat nanti harus bisa berlabuh di ANU, Canberra atau Monash di Melbourne. Saya mengenal lebih dekat sosok beliau melalui Majalah Horison edisi bulan April 2010.

Beliau lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat pada tanggal 6 Maret 1911 dan wafat pada usia 99 tahun di Australia sana. Ia pernah mengenyam pendidikan AMS-A Solo dan Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Semasa mudanya, beliau pernah bekerja sebagai guru di perguruan Taman Siswa, Redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1956-1961), dan sejak 1961 hingga pensiun sebagai dosen kesusastraan Indonesia pada Australian National University, Canberra, Australia.


Hingga hari ini belum ada satu pun karya beliau yang saya baca secara penuh. Kecuali tulisan cerpennya di buku Korrie Layun Rampan tadi. Awal-awal menulis di blog saya sering mengutip judul novel beliau lainnya, Debu Cinta Bertebaran, untuk dimasukkan kedalam tulisan. Keduanya adalah karya fenomenal yang mengalami cetak ulang di dalam negeri dan luar negeri. Akan tetapi, barangkali Atheis lah yang merupakan karya terpenting dari beliau. Waktu di SMA, penggalan novel Atheis seringkali jadi bahan soal dan pertanyaan di LKS (Lembar Kerja Siswa) Bahasa Indonesia.

Pada masanya, Atheis yang ditulis sekitar tahun 1940-an mengemukakan masalah baru yang belum pernah dikemukakan sastrawan-sastrawan lain. Terlebih lagi pada masa itu atheisme mulai di kenal di Indonesia. Pemikiran Karl Marx dan Frederick Nietzsche merasuki ranah pembicaraan kaum intelektual. Atheis menjadi satu bukti respon dan keterlibatan beliau dalam diskusi tentang atheisme.

Satu lagi yang membuat Atheis akan selalu dikenang dan melegenda dalam sejarah sastra Indonesia adalah isinya yang membahas benturan nilai-nilai antara theisme dengan atheisme dalam tatanan masyarakat tradisional Indonesia. Ada konteks ikatan pertentangan budaya antara nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai modern serapan dari Barat. Implikasinya terlihat langsung pada benturan antara nilai-nilai kepercayaan pada Tuhan di satu sisi dan nilai-nilai penolakan terhadap Tuhan di sisi lain*).

Selamat jalan, Aki. Doa kami bersamamu. Terima kasih untuk telah jadi pembeda, antara mereka yang memilih jalan Tuhannya dan mereka yang mencoba membuat jalan sendiri menuju keabadian yang kekal.


Paninggilan, 8 Juli 2010. 23.35


*) dikutip dari Majalah Horison, April 2010

NB:
Profil A. T. Mahmud dapat dibaca di website Tokoh Indonesia
Crossposting dari blog tetangga

Setangkai Mawar di Dahan Lain (Cinta Monyet #2)

Setiap ku memandangmu merana hatiku... Terulang kisah rupa wajah sayu...*)

Sejak saya menulis tentang E di edisi perdana, tiba-tiba ingatan saya tentang masa-masa itu kembali mengalir begitu saja memenuhi benak ini. Sehingga saya harus menata kembali ingatan yang tidak seragam itu. Mengingat kembali tentang E berarti saya wajib mengenang juga sebuah nama. Nama yang kurang lebih sama dengan saya. Hanya saja, nama perempuan yang ini harus ditambah lagi satu huruf vokal dibelakangnya.

Entah sejak kapan saya memperhatikan A, anak perempuan berkacamata di SD tetangga itu. A SD I, saya SD II. Saya tidak tahu tepatnya namun harus saya akui saya memang diam-diam memperhatikannya. Dari kejauhan seringkali saya mengintip keluar jendela. Terutama kalau sekolah pagi karena kami akan bertukar kelas sehingga A pasti sedang menunggu diluar. Maka dari itu, disela-sela keinginan bersama E, kadang terlintas A begitu saja. Saya hanya menikmati kisah ini sendirian. Sebisa mungkin saya pendam supaya hanya saya dan Tuhan saja yang tahu.

Sepanjang pengamatan saya, A seringkali duduk sendirian menunggu kelas bubar. Jarang sekali A berbaur dengan teman sekelasnya. Memang ada beberapa orang yang sering dekat bersamanya, namun itu tidak banyak. Buat saya itu tidak menjadi soal yang penting saya bisa lebih fokus bila suatu saat tidak menemukannya di halaman sekolah. Asumsi saya waktu itu, A adalah seorang penyendiri, loner, solitary minded. Untuk ukuran anak SD saat itu ternyata hal seperti itu bisa jadi desas-desus tanpa sebab.


Saya menemukan kenyataan yang kurang mendukung perasaan saya. Sebab itu pula saya tidak bisa terang-terangan membiarkan perasaan saya untuk A karena E masih terlalu menarik untuk dilepas begitu saja. Dari percakapan dengan teman-teman, saya menyimpulkan bahwa mereka mempunyai pandangan lain terhadap A. Kasarnya, A mengidap suatu kelainan dan kata mereka juga itu bisa tercermin dari kacamatanya. Saya tidak percaya itu. Namun, dorongan untuk mengikuti omongan mereka terlanjur lebih besar untuk menghindari fakta bahwa saya menaruh perhatian pada A.

Padahal, untuk standar saya waktu itu, A tidaklah terlalu mengecewakan. Tidak terlalu tinggi bahkan terkesan pendek dengan tubuhnya yang mungil. Memakai tas punggung warna pink atau biru muda. Rambutnya panjang terurai, kadang dibuat buntut kuda sehingga menyerupai Deo Mi. Terakhir, bagian yang paling saya suka adalah fakta bahwa A berkacamata. Suatu kebiasaan yang kelak belum bisa saya hindari sampai saya menemukan A yang lain.

Keinginan saya untuk sekedar bisa mengobrol atau hanya sekedar berbasa-basi harus saya kubur pelan-pelan. Saya masih tetap menjaga rahasia terpendam ini. Terlebih lagi jangan sampai ada anggapan bahwa saya mengalihkan perhatian pada A hanya karena E terlanjur tidak mau bicara apa-apa lagi pada saya-bahkan untuk tugas kelompok sekalipun.

Ada banyak kesempatan supaya saya bisa kenal dengan A. Sepulang sekolah sambil menuggu bel masuk atau saat les malam di sekolah dimana tidak ada lagi hijab antara anak SD I dan SD II. Sejak saat itu, setiap kali les malam digelar saya lebih sering membuktikan asumsi teman-teman saya itu. She’s not a loner tapi kenyataan bahwa tidak banyak orang yang dekat sebagaimana teman pada biasanya juga membuat saya goyah. Apakah betul A mengidap suatu kelainan, penyakit aneh misalnya. Saya belum bisa membuktikannya karena saya pun tidak yakin A seperti itu.

*

Biarlah aku menyimpan bayangmu
Dan biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih, namun tetap selalu ada
Disini....**)

Selebihnya, yang tersisa dari A hanyalah memori tentang sebuah nama. Sebuah nama yang selalu sendiri, jalani hari dalam keriangan masa anak-anak yang akan segera hilang. Sebuah nama yang entah sama berartinya dengan E. Tidak ada perpisahan dengan A. Bahkan dulu, saya tidak mau bertanya pada temannya yang lain, yang satu kelas dengan saya di SMP. Tetapi, seiring berjalannya waktu, kalau saat ini saya masih menginginkannya saya akan lebih tidak peduli lagi pada omongan orang tentang A.



Paninggilan, 8 Juli 2010. 21.46

*) dari lirik lagu “Bila Saya”, dinyanyikan oleh Kahitna, album Permaisuri (2000)
**) dari lirik lagu “Biar Menjadi Kenangan”. Dinyanyikan oleh Reza Artamevia dan Masaki Ueda
^judul tulisan diadaptasi dari judul yang sama di blog selendang warna

Let Me Begin (Cinta Monyet #1)

Sekilas nampaklah engkau dibalik pintu... tersenyum dikau menusuk hatiku...*)

Sebetulnya, untuk menuliskan hal yang demikian saya masih kurang sreg, mungkin karena melibatkan makhluk Tuhan bernama monyet. Memangnya ada apa dengan monyet sehingga saya masih merasa seperti itu? Baiklah, tidak usah jadi pembahasan karena bukan tanpa maksud juga Tuhan menciptakan monyet. Kalau monyet tidak dipersilahkan turun ke dunia ini barangkali Darwin kehabisan teori untuk mengungkapkan idenya tentang evolusi manusia. Biar begitu, monyet juga memberi makna khusus bagi beberapa penulis. Satu yang saya tahu adalah Mahesa Djenar Ayu, dengan karyanya berjudul “Mereka Bilang Saya Monyet”. Menarik, karena Djenar tidak hanya mampu menulis tetapi juga mengadaptasinya ke layar lebar.

Merujuk pada judul diatas, asumsi umum yang berlaku di dunia kita saat ini adalah suatu masa dimana anak muda menjelang dewasa mulai mengenal dan ingin tahu apa itu cinta. Biasanya ini terjadi pada masa akhir SD berlanjut hingga SMP, dan SMA. Kalau kau mau percaya, hal seperti itu tidak hanya terjadi pada hidupmu yang sudah begitu, tetapi juga terjadi dalam dinamika kehidupan saya. Maka, ketika kau memintaku bercerita tentang mereka aku sempat bingung harus memulai dari mana. Jujur saja, terlalu banyak nama yang harus saya ingat dan sebut-sebut lagi sambil membuka berkas-berkas kenangan penuh debu disela-sela memori yang terbatas ini.

Awalnya hanya rasa biasa. Entah mengapa jadi suka. Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Begitulah yang saya baca dari buku pantun di perpustakaan SD kami yang baru direnovasi. Konon, ada beberapa lembar rupiah yang mengalir dari Yayasan yang dikelola Pak Habibie sehingga perpustakaan SD kami bisa berfungsi layaknya sebuah perpustakaan. Imbalannya, ada banyak buku tentang profil, biografi, dan kisah-kisah pencapaian lainnya di lemari yang masih bau gergaji itu.

Kembali ke pantun tadi. Saya masih belum menyadarinya ketika saya perlahan-lahan mulai menyukai seseorang dari masa lalu. Sebut saja teman TK, namanya F. Entah waktu masih kelas 5 atau di kelas 6, ingatan tentang F mulai pudar. Gantinya, saya mulai melirik teman sekelas. Sebut saja namanya E. E ini rupanya “bos” di kelompok kecil yang guru kami bentuk untuk setiap tugas kelompok. Entah sebab apa Bapak Guru yang baik itu mempersilahkan nama saya masuk di kelompoknya. Omaigat. That’s it.

Kalau saya pikir-pikir lagi, semua kejadian yang berasal dari pembagian kelompok itu hanyalah sebuah kesalahan. Waktu itu, di sekolah kami sedang ramai-ramainya setiap murid punya kameumeut, bahasa gaulnya ‘kecengan’. Saya perhatikan betul, si Ne ngeceng D, si W ngeceng A, dan masih banyak lagi. Kebetulan, dua orang pemalas di kelompok kami, saya dan N, lagi mengobrol karena si ketua kelompok terlalu sibuk dengan anak buahnya yang lain. N bilang E ngecengin saya. Saya tak lantas percaya karena saya tahu betul tidak ada tanda-tanda dari E. Tetapi, si N ini masih keukeuh punya informasi rahasia (maklum, dulu itu kalau sudah main rahasia bisa jadi sesuatu yang benar dan dapat dipercaya). Saya akhirnya menuruti saja dan diam-diam mulai memperhatikan E. And the story goes bang bang boom.

Musim penuh cinta betul-betul saya rasakan. Dari wanginya pun sudah bisa ditebak. Kelas kami selalu wangi setiap hari. Bukan karena semprotan pewangi ruangan rasa mawar melati. Semarak wewangian itu hadir semerbak dari kertas loose leaf warna-warni. Love is in the air. Rupanya,ada beberapa dari kawan kami yang berniat menulis surat cintanya yang pertama dan kesekian kalinya untuk kemudian dititipkan atau sengaja ditinggal di kolong meja. Siapa tahu sang pujaan yang membacanya.

Agak non-sense memang untuk jalan pikiran anak SD waktu itu. Walaupun begitu, saya tidak terbawa oleh arus deras saat itu karena beberapa teman lelaki saya juga melakukannya. Hanya untuk mengungkapkan kata-kata yang sekarang nilainya adalah: Gombal! Saya pikir saya lebih baik melakukannya di rumah saja sehingga mudah-mudahan kata-katanya akan lebih teratur sehingga membuat perasaan E senang.

*

Baiklah, aku tahu kau masih penasaran. Sebentar, aku nyalakan dulu jatah rokok dari atasanku. Surya Pro Mild. Tahan dulu, aku masih mau menyeruput kopi susu yang sedari tadi mulai dijilati semut-semut hitam sialan.

Semuanya terjadi begitu saja and everything’s messed up! Dunia anak-anak adalah dunia bermain betul-betul saya alami, rasakan, dan pahami. Karena sekolah siang, saya selalu bermain sejak Bapak berangkat kerja sampai menjelang jam 11 siang. Pada hari naas itu, saya lupa bahwa saya harus menulis surat untuk si E, pujaan hati yang kian hari kian mempesona dan membakar rasa di dada. Sehabis mandi, saya tidak punya waktu untuk berpikir mengenai apa yang harus saya tulis. Kata-kata itu seketika buyar ketika saya berlari menendang bola dalam terik matahari pagi tadi. Jadinya, menguap begitu saja dan saya benar-benar tidak punya ide.

Untung saja Tuhan menjadikan saya orang yang to the point (waktu itu). Dengan penuh percaya diri, pada selembar kertas loose leaf wangi bunga lily made in China dan bermotif daun-daun kering kecoklatan. Saya menulis: E, I L U. Lengkap dengan tanda hati yang tergores tipis. Saya lipat dan segera saya masukkan amplop dengan warna senada milik adik perempuan saya**). Saya masukkan ke dalam tas, dan saya berangkat sekolah naik sepeda GT yang garpu depannya sudah diganti (yang waktu itu juga lagi musim).

Seperti judul lagu John Paul Young, Love is in the Air

Sesampainya di sekolah, saya menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya pada E. Saya sudah lupa bagaimana tetapi E mau saja menerima surat cintaku yang pertama,***) tanpa curiga. Beberapa saat kemudian, E terlihat begitu marah. Surat itu pun dengan segera berubah jadi bola kecil dan E membuangnya ke arah jendela, lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur.****)

Mereka yang usil tentu saja mengetahui kalau saya sudah menyatakan perasaan saya ke E. Dan apa yang terjadi selanjutnya tidak pernah saya duga, bermimpi pun tidak pernah, mereka semua menertawakan saya. Hasilnya, seisi kelas tahu. Yang lebih parah, sejak saat itu E, tidak pernah mau lagi bicara sama saya walaupun masih satu kelompok. Saya memang telah membuatnya malu tetapi saya masih terus memikirkannya. Saya sadari bahwa saya masih mendambanya karena rasanya ada sesuatu yang membuat saya harus menaruh perhatian padanya.

Menjelang perpisahan SD, kami masih belum mau bicara. Tepatnya, E masih belum mau bicara sama saya. Makanya, waktu itu, sehabis acara paturay tineung atau Perpisahan (tanpa Prom Night), saya segera pulang ke rumah dan melewatkan banyak acara yang sudah disiapkan. Buat saya, acara perpisahan hanyalah keinginan sebagian orang saja supaya dianggap punya nama dan meninggalkan kesan yang baik terhadap sekolah. Saya kayuh sepeda sendirian, tanpa teman-teman yang biasa menemani. Matahari belum meninggi, jalanan tampak sepi dan sedikit berdebu. Belakangan, sikap saya itu saya sesali karena itu adalah saat-saat terakhir kita bisa bercengkerama dengan sahabat yang selalu menemani sejak kelas 1 hingga 6 tahun kemudian. Yang saya dengar, beberapa dari kami larut dalam kesedihan dan menangis. Mungkin itulah yang namanya perpisahan.

Sejak perpisahan itu dan kami masuk SMP, saya belum pernah bertemu lagi dengan E. Saya masih menyimpan penasaran karena saya tidak mampu menahan ego untuk segera pulang ke rumah dan melupakan semuanya. Padahal, saya masih punya satu kesempatan untuk memberikan penjelasan pada E. Saya masih beranggapan bahwa kami akan dipertemukan kembali karena pada hakikatnya saya dan E masih berada di batas kota dan kolong langit yang sama. Kalaupun terpisah, itu hanya masalah jarak saja.

*

Sampai suatu hari, takdir mempertemukan kami kembali. Dan E, masih belum mau bicara, hanya mampu menatap mata saya yang terlanjur berlalu karena malu.



Paninggilan, 8 Juli 2010. 15.46


*) dari lirik lagu lawas “Teringat Selalu”, dinyanyikan oleh Tetty Kadi

**) Saya sadari kemudian, Don’t try this at home!

***) dari lagu lawas “Surat Cintaku”, dinyanyikan oleh Vina Panduwinata

****) dari lagu “Pesawat Tempur”, dinyanyikan oleh Iwan Fals, Album “1910”


foto courtesy Picasaweb