Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2011

Lonely Loner Symphony (2)


Aku bukan siapa-siapa dan tak seharusnya merasa apa.
Satu peristiwa sejarah terlewati.
Tentang sebuah nama.
Bahagiamu... Bahagiaku pasti...
Selamat mengarungi warna-warni gelombang dunia satu kayuh berdua.
Just like i used to be,
I'm all alone...
And, life is very long...


Cirebon-Jakarta, 11 Juli 2011

Lonely Loner Symphony



A Great Loner walking alone and made a journey himself
Walking through the memory lane of her
Shattering the sky
God always knows why
Life happens,
Everytime, everywhere


Paninggilan, 8 Juli 2011.


Sabtu, 16 April 2011

Sisa Hujan Semalam

sisa hujan semalam masih terasa
pada lengkung pucat bulan sabit
sebelah bintang pagi langit selatan
gerimis menawan pagi

sisa hujan semalam tinggalkan mimpi pada rumput basah
pada harap selintas
senyummu pagi ini
ada kesan tertinggal


Parung, 31 Maret 2011

Kamis, 10 Maret 2011

Sepasang Mata di Halte Busway

Sepasang mata menatapku tajam
Pada pagi selintas, mentari di ujung mega

Sepasang mata menatapku tajam
Entah karena seragam lusuh ini
atau headset ponsel butut itu

Sepasang mata menatapku tajam
Memaksa mencari makna
Bagai cinta tak terlacak, di bait-bait acak*


Medan Merdeka Barat,8 Maret 2011

* dari judul puisi Hasan Aspahani, "Cinta Tak Terlacak, di Bait-bait Acak", Harian Kompas Minggu, 6 Maret 2011.

Rabu, 26 Januari 2011

Usai Merenda Malam

Rindu yang mereda
Tinggal gelisah dalam tanya
Akankah sama jadinya
Mengenang dahulu
Atau, selesai dari masa lalu


Paninggilan, 23 Januari 2011. 23.46

Sabtu, 22 Januari 2011

The Wishes



It's been a year since those wishes
Nothing's been written
Keeping silence
in reminiscing places


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 19 Januari 2010.

Kamis, 13 Januari 2011

Una Verso y Poema Esta Manana

Bolehkah aku duduk disini?
Sendiri menemani sendiri
Mengurai resah menambal sepi
Menandai mimpi memindai hari

Bolehkah aku duduk disini?
Sendiri meyakini arti hari
Merangkai jarak rindu pada kepingan mimpi
Tiga musim basah dalam lembaran sepi

Bolehkah aku duduk disini?

*

Sementara menunggu jawabmu, kuhadirkan seribu tanya, mengapa pelangi enggan nampak di ujung langit utara. Usai hujan gelisah melanda kota yang tak pernah terlalu tua, tempat labuhan mimpi-mimpi kosmopolis-artifisial.

Ah, sementara duduk, akan kubuatkan juga rumah untukmu dari sisa-sisa dinding hati. Menjelmakan mahakarya. Rumah terindah untuk anak-anak kita nanti. Tempat mereka bermain dan belajar mengucap "Ibu...".

Sementara pada dinding kamar kulukis engkau disitu. Peretas rindu sejak dari kalbu. Pada gerimis selintas, kau tak tahu. Jarak merentang hanya sejengkal tatap sayu.

Karena itu, biarkan aku belajar mencintai resahmu*). Ketika hidup telah dikatakan pada lembar-lembar sepi. Ketika aku merasa lelah berjuang dengan kata-kata dan suara.

Bagai rintik (entah hujan, entah gelisah) yang saling berkejaran di jalan-jalan kota, kata-kata ingin mencintaimu bertebaran sebebas puisi menjelma paragraf bisu.



Medan Merdeka Barat, 13 Januari 2010

*) Adaptasi dari puisi Sulaiman Djaya, Silence Memoir, Majalah Sastra Horison, Desember 2010.