Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2015

Ted 2: Ted is BACK!

There are no chicks with dicks, Johnny, only guys with tits.  
Ted

Courtesy: www.imdb.com
Sejak menonton seri perdana ‘Ted’, film ini sudah menyita perhatian dengan explicit content dalam ceritanya. Teddy Bear yang sangat spesial ini bukan sekedar boneka yang bisa bicara dan berinteraksi dengan manusia. Lebih dari itu, Ted kelihatan sebagai sosok manusia dalam bentuk boneka Teddy Bear yang lucu. Hanya saja, beruang lucu nan imut ini bukanlah sosok yang tepat untuk teman tidur anak-anak.

Sekuel ini menyoal personifikasi Ted. Masih diperankan oleh Seth MacFarlane, Ted dan kekasihnya, Tami-Lynn (Jessica Barth), akhirnya menikah. Setahun pertama pernikahan mereka berjalan normal. Memasuki tahun berikutnya, masalah mulai banyak mendera mereka. Serangkaian perselisihan dan cekcok adalah keseharian mereka hingga keduanya tidak saling bicara di tempat kerja.

Atas saran seorang teman, Ted berbicara mengenai keinginannya untuk memiliki seorang bayi. Sejak saat itu, keduanya mulai rukun kembali dan menjalani berbagai program demi mendapatkan keturunan. Masalah utama yang harus mereka hadapi selain Ted yang tidak memiliki penis adalah Ted dinyatakan sebagai properti, bukan sebagai manusia yang memiliki akal dan jiwa.

Courtesy: www.imdb.com
 Masalah yang pertama bisa selesai karena John (Mark Wahlberg) bisa membantu menjadi donor sperma setelah mereka gagal mendapat sperma milik Tom Brady, pemain NFL terkenal. Namun, tidak secepat itu. Ternyata, usaha yang mereka lakukan menjadi sia-sia karena tidak dibenarkan oleh undang-undang. Semua dokter yang mereka datangi menganggap Ted bukanlah manusia melainkan hanya sebuah properti sehingga tidak bisa mendapatkan donor sperma.

Atas dasar itulah mereka mengajukan tuntutan ke pengadilan agar Ted bisa mendapatkan pengakuan sebagai manusia. Usaha mereka berlanjut hingga menemukan sosok Samantha (Amanda Seyfried), pengacara yang mau membantu mereka atas dasar kesetaraan (equality). Sebelum persidangan dimulai, sudah ada konspirasi untuk memenangkan pihak tergugat dimana nanti bila Ted dinyatakan secara resmi sebagai properti, sebuah perusahaan mainan akan mengakuisisi hak ciptanya dan menjualnya ke seluruh dunia.

Ted kembali bertemu dengan musuh lamanya. Bila pembaca masih ingat di seri sebelumnya, si pengagum misterius ini hadir lagi dan menjadi bagian dari konspirator. Ted berhasil lolos dan melanjutkan persidangan lanjutan dengan mendapat bantuan dari seorang pengacara dengan reputasi meyakinkan, Patrick Meighan (Morgan Freeman). Teddy Bear memang dibuat untuk membuat bahagia semua anak-anak di dunia. Begitupun sekuel Ted ini, Ted mengalami sebuah happy ending. Ted dinyatakan sebagai manusia dan secara resmi diberikan hak-hak dan kewajiban warga negara kepadanya.

Catatan Singkat Kolumnis Dadakan

Anyway, ending semacam ini tentu mudah ditebak oleh para penggemar film. Tidak ada pula hal lain yang istimewa pada film yang dirilis tanggal 26 Juni lalu ini. Sayangnya, film ini bernasib sama seperti ‘Fifty Shades of Grey’ yang tidak tayang di Indonesia. Penikmat film khususnya penggemar Ted harus maklum karena tidak lulus sensor (menurut standar Badan Sensor Film).

Saya cukup menikmati setiap scene ‘Ted 2’. Kekonyolan tingkah laku Ted dan John Bennett adalah hiburan tersendiri bagi setiap penggemar Ted. Hal itu semakin menjadi-jadi kala Samantha si pengacara juga adalah penikmat ganja sehingga mereka bisa menikmatinya bersama-sama.

And you know what, jangan menonton film ini bersama anak di bawah umur. Saya khawatir mereka akan dewasa sebelum waktunya.


Judul           : Ted 2
Sutradara    : Seth MacFarlane
Cast            : Mark Wahlberg, Jessica Barth, Seth MacFarlane, Amanda Seyfried, Morgan Freeman
Durasi        : 115 menit
Tahun         : 2015
Produksi     : Universal Pictures
Genre         : Komedi Dewasa


Sentul, 27 Juli 2015.

Jumat, 18 Oktober 2013

The Naked Kitchen (2008)

Can you love two people at same time?


Ahn Mo-Rae (Shin Min-Ah) sedang berusaha mencari hadiah diberikan pada suaminya, Han Sang-In (Kim Tae-Woo) pada hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Mo-Rae pergi melihat-lihat ke sebuah galeri seni untuk menemukan sebuah hadiah sempurna untuk selalu mereka kenang. Di galeri, Mo-Rae bertemu dengan seseorang tak dikenal yang baru sekali itu dijumpainya. Entah apa yang merasuki mereka, keduanya bercinta. Mo-Rae tidak dapat menahan godaan dari si pria tak dikenal ini. Kelak mereka akan saling mengenal.

Mo-Rae terus dihantui perasaan bersalah. Mo-Rae dilanda kebimbangan, antara menyimpan rapat-rapat rahasia itu atau malah berkata jujur pada Sang-In. Keakraban dan kedekatan yang terjalin sejak mereka masih kecil membuat Mo-Rae tidak punya pilihan selain berkata jujur. Sang-In rupanya mau mendengarkan, namun ia tidak mau mendengar cerita itu lebih jauh dan tidak mau membahasnya sama sekali. Kontan, hal itu membuat Mo-Rae semakin merasa bersalah. Bagaimanapun, Mo-Rae menyadari bahwa Sang-In akan mengetahuinya suatu hari nanti.

Usai makan malam di hari jadi perkawinan mereka, datanglah sahabat lama Sang-In. Park Do-Ree (Joo Ji Hoon), seorang chef yang kembali ke Korea atas inisiatif Sang-In yang mengajaknya untuk membuka restoran. Sang-In sendiri telah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai pialang saham untuk menjalani passionnya selama ini, yaitu menjadi seorang juru masak dan membuka restoran sendiri. Untuk itulah Sang-In membutuhkan Do-Ree. Sang-In sengaja memanggil Do-Ree pulang dari Paris untuk tinggal di rumahnya.

Sebuah kebetulan bahwa pada saat perkenalan itulah Mo-Rae menyadari bahwa Do-Ree adalah pria yang bercinta dengannya di galeri seni. Mo-Rae semakin merasa tidak nyaman. Kini, tugasnya bukan hanya menyimpan rapat-rapat rahasia antara dirinya dengan Do-Ree, tapi juga harus menahan perasaan aneh yang terjadi antara mereka berdua.


Kisah cinta segitiga dalam satu atap dimulai. Sang-In sengaja memberi keleluasaan pada Mo-Rae untuk menemani Do-Ree berkeliling di sekitar tempat tinggal mereka. Kedekatan mereka berdua akhirnya terjalin semakin akrab. Berkali-kali Do-Ree mengungkapkan cintanya pada Mo-Rae. Do-Ree mencoba meyakinkan Mo-Rae bahwa cinta antara dirinya dengan Sang-In bukan cinta yang sebenarnya. Do-Ree meyakini cinta Mo-Rae kepada Sang-In adalah sesuatu yang ‘given’, terbentuk dari perasaan yang pelan-pelan tumbuh sejak mereka kecil. Do-Ree meragukan cinta Sang-In pada Mo-Rae. Namun, Mo-Rae tetap pada pendiriannya. Ia merasakan sesuatu yang lain pada Do-Ree namun ia tidak mau mengungkapkannya.

Pada satu kesempatan, Sang-In mulai mencurigai affair antara Mo-Rae dengan Do-Ree. Sang-In juga memiliki bukti kedekatan mereka akibat kecerobohan Kim Seon-Woo (Jeon Hye Jin II), sahabat Mo-Rae. Hal itu langsung membuat Sang-In menghajar Do-Ree habis-habisan. Do-Ree pun menyerang balik Sang-In dengan mengakui apa yang telah dilakukannya lalu mengungkapan perasaanya kepada Mo-Rae. Usai berkelahi habis-habisan, Sang-In menyadari bahwa semua pilihan ada pada Mo-Rae. Mo-Rae harus memilih, Sang-In yang telah bersama dengannya sejak lama atau pada totally complete stranger seperti Do-Ree. Mo-Rae tidak memilih namun ia memiliki pilihan hatinya sendiri.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


The Naked Kitchen adalah film pertama Shin Min-Ah yang saya tonton. Sebelumnya, saya sudah dibuat jatuh cinta pada Min-Ah dengan aktingnya di seri drama ‘My Girlfriend is A Gumiho’ dan ‘Ahrang and The Magistrate’ lalu pada suaranya yang ikut mengisi soundtrack Gumiho.

Pelajaran pertama dari film ini adalah: Live your passion. Sang-In sengaja meninggalkan pekerjaannya yang mapan hanya untuk menjalani kehendak hatinya yang lain, yang akan membuat dirinya sepenuhnya utuh dengan menjalankan bisnis barunya di bidang kuliner.

Selanjutnya, kemelut cinta segitiga Sang In-Mo Rae-Do Ree memberikan suatu sudut pandang bahwa mencintai seseorang adalah sebuah proses yang tak hanya ‘given’ saja. Tetapi juga membutuhkan hubungan dua arah, dimana keduanya saling merasa terikat dan saling mencintai sepenuh hati.

Anyway, kehebatan unsur film ini terletak pada inti cerita yang berpusat pada kisah cinta segitiga, tanpa mengurangi esensi dari sebuah culinary passion. Keduanya merupakan perpaduan bumbu utama yang menghadirkan perasaan geregetan dan penasaran.

Judul           : The Naked Kitchen
Sutradara    : Hong Ji Young
Cast            : Shin Min Ah, Kim Tae Woo, Joo Ji Hoon, Jeon Hye Jin II
Tahun         : 2008
Produksi     : CJ Entertainment


Pharmindo, 24 Agustus 2013.

Note: images taken from www.hancinema.net

Kamis, 06 Juni 2013

Sang Penari dari Dukuh Paruk

Saya memang agak telat untuk menonton ‘Sang Penari’ setelah resmi dirilis 10 November 2011. Itu pun lewat hasil unduhan dari sebuah forum. Pun, membaca buku ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ sebelum edisi kompilasi trilogi bersama ‘Jantera Bianglala’ dan ‘Lintang Kemukus Dini Hari’, pemberian seorang sahabat. Pengalaman membaca buku kini tidak akan lagi sama. Maraknya visualisasi dan adaptasi cerita dari sebuah judul buku akhir-akhir ini menghadirkan suatu pengalaman lain dalam konteks pemaknaan sebuah karya, terutama sastra.


Tak terkecuali pada ‘Sang Penari’. Film yang digarap oleh Ifa Isfansyah dan skenario yang digarap bersama oleh Salman Aristo dan Shanty Harmayn ini menghadirkan sebuah pencitraan, pemaknaan, dan visualisasi gagasan atas apa yang penah dituliskan Ahmad Tohari dalam bukunya. Perlu dicatat, bahwa menampilkan kembali isi dari buku yang pernah mengalami pelarangan edar oleh Orde Baru ini bukanlah sesuatu yang mudah, as it is or as given.Terutama, menyesuaikan alur cerita agar tampil lebih singkat dari jalan cerita pada buku aslinya. Re-interpretasi terhadap karya Ahmad Tohari mutlak diperlukan.


‘Sang Penari’ bertutur tentang cerita cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Indonesia pada pertengahan 1960-an. Dukuh Paruk namanya. Pedukuhan yang masih menganut nilai-nilai lokal-tradisional dalam tata kehidupannya ini menganggap ‘ronggeng’ bukan sekedar seni dan tradisi belaka. Ronggeng dalam tata hidup masyarakat Dukuh Paruk adalah sebuah bentuk pengabdian terhadap leluhur mereka, Eyang Sacamenggala. Maka begitu Srintil kehilangan ibunya yang ronggeng itu karena insiden ‘tempe bongkrek’, Dukuh Paruk mengalami stagnansi dalam kehidupannya. Gairah penduduk seakan hilang, tidak ada lagi berkah Eyang Sacamenggala.

Srintil (Prisia Nasution) hanyalah seorang anak kecil biasa yang senang bermain bersama dengan teman-temannya, Rasus (Oka Antara) dan kawan-kawan. Kadang, Srintil menari kala sedang bersama Rasus. Sejak itu, Srintil semakin lekat bersama Rasus. Diam-diam, Nyai Kartaredja (Dewi Irawan) pun menaruh hati bahwa suatu saat kelak cucunya itu menjadi ronggeng. Rasus tidak bisa menahan Srintil.


Rasus tahu bahwa Srintil akan menjadi ronggeng. Rasus mencoba menerima kenyataan dengan memberikan keris peninggalan Ibu Srintil kepada Srintil. Keris itu dipercaya sebagai pertanda bahwa Srintil dipercaya leluhurnya untuk menjadi ronggeng. Kehidupan Dukuh Paruk kembali bergairah setelah Srintil didaulat menjadi ronggeng dan harus menjalani ritual ‘bukak klambu’.

Rasus semakin tidak bisa menerima kenyataan itu. Beruntung, Srintil pun tidak rela keperawanannya diserahkan pada orang lain. Maka, mereka pun bercinta sebelum ‘bukak lambu’ digelar. Rasus sekali lagi menyatakan keberatannya pada Srintil. Namun, keputusan Srintil untuk menjadi ronggeng sudah bulat. Tidak ada kata mundur. Zaman pun kemudian bergerak, di mana Rasus harus memilih; loyalitas kepada negara atau cintanya kepada Srintil.


Dalam situasi yang semarak kembali itu, menyusuplah seorang antek partai komunis, Bakar (Lukman Sardi). Bakar mencoba melakukan propaganda di Dukuh Paruk. Warga yang pengetahuannya terbatas itu sedikit-sedikit dan perlahan mulai melakukan apa yang dikehendaki Bakar. Rasus merasa ada yang aneh saat kembali mengunjungi Dukuh Paruk. Pengaruh komunis bawaan Bakar telah begitu kuat di Dukuh Paruk. 


Bakar dengan cerdik memanfaatkan ronggeng untuk propaganda partainya. Kartaredja sempat dibuat ragu dengan pementasan ronggeng yang didukung oleh partai komunis walau akhirnya berhasil meyakinkan kakek Srintil agar mau tampil di kota. Apalagi setelah makam Eyang Sacamenggala dirusak sekelompok orang tidak dikenal. Padahal, itu merupakan fitnah yang dilakukan oleh Bakar dan partainya.

Sampai adegan ini, saya sangat terkesan dengan visualiasi teks pada bab yang sama. Perusakan makam itu dianggap sebagai pertanda bahwa Srintil harus kembali meronggeng. Sebuah keputusan yang kelak membawa Dukuh Paruk pada pergolakan sejarah.


Roda waktu pun berputar. Dukuh Paruk dinyatakan ‘merah’. Dengan demikian, operasi penumpasan pun digelar. Warga Dukuh Paruk yang tidak tahu apa-apa itu apalagi soal pergolakan di ibukota negara menjadi korban. Mereka dipaksa meninggalkan Dukuh Paruk dan resmi menjadi tahanan politik. Seluruhnya menjadi tersangka kecuali Sakum, si penabuh kendang.

Rasus, yang masih memendam rindu pada Srintil mencoba untuk kembali ke Dukuh Paruk. Usai menghadapi ‘gempuran’ dan komandannya (Tio Pakusadewo), Rasus tidak menemukan apa-apa lagi di Dukuh Paruk, kecuali Sakum. Lewat beberapa petunjuk, Rasus pergi ke tempat para tahanan dari Dukuh Paruk ditahan. Setibanya disana, Rasus berhasil menemukan Srintil. Malang, Rasus hanya dapat melihat Srintil pergi. Srintil digiring untuk dibawa ke tempat lain.

Sebagai penutupan, dikisahkan bertahun-tahun kemudian Rasus telah mendapat kenaikan pangkat. Namun, kenangan tentang Srintil tidak pernah padam. Rasus tahu dimana harus mencari Srintil. Saat itu, pemerintahan telah beralih ke tangan Orde Baru. Dukuh Paruk pun tinggal cerita, tak terkecuali ronggeng yang hanya sebuah tontonan yang dijajakan belaka. Dalam sebuah kesempatan di Pasar Dawuan, Rasus bertemu kembali dengan Srintil yang sedang ‘ditanggap’ oleh beberapa orang saja. Srintil merasa ketakutan dan segera pergi dengan Sakum. Namun, Rasus sempat menggenggam tangan Srintil, menyelipkan kembali keris pusaka yang dulu pernah ia berikan pada Srintil.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Kisah cinta Srintil dan Rasus awalnya adalah sebuah cerita cinta sederhana. Namun, akhirnya terpisah oleh jalinan takdir itu sendiri. Rasus yang merasa kecewa karena Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng menemukan pelariannya dalam wujud ketentaraan. Rasus dan Srintil pernah mencoba untuk mengkompromikan takdir mereka. Srintil tidak mampu menghindar dari ‘indang’ ronggeng yang diyakini telah memilihnya. Rasus sendiri tidak dapat berbuat banyak karena ia telah menjadi seorang tentara.

Saya bisa memberi nilai sempurna untuk interpreasi teks ke dalam citra visual untuk film ini. Latar belakang pengambilan gambar dan adegan yang menghadirkan nuansa alami khas Banyumasan tidak bisa dipisahkan dengan konteks ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ dan melekat kepadanya sebagai sebuah kesatuan identitas. Terlebih, ada beberapa detail dalam buku yang diangkat ke dalam cerita. Hebatnya, visualisasi dalam film persis dengan yang saya bayangkan dalam imajinasi personal. Sebagai contoh, potongan dialog dengan kata-kata seperti “asu buntung” kerap muncul sebagai sumpah serapah. Tak ketinggalan, adegan ketika Srintil mengencingi jampi-jampi yang ditanam di dekat kamarnya.  Overall, film ini tidak kehilangan detail dalam teks ‘Ronggeng Dukuh Paruk’.

Saya juga melihat totalitas akting yang diberikan oleh pemeran-pemeran film ini yang very exceptional. Prisia Nasution mampu mendalami karakter seorang Srintil yang tumbuh dewasa dan menjadi ronggeng. Sementara, Oka Antara konon ‘mempersiapkan’ dirinya dengan diet ketat dalam jangka waktu yang lama untuk memerankan Rasus, agar dapat memaknai karakter Rasus sebagai bocah yang sering kelaparan, tidak bisa membaca, dan memiliki tatapan nanar. Termasuk menyesuaikan logat bicara Banyumasan. Pun, sama halnya dengan Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, dan Tio Pakusadewo.

Tidak heran, bila kemudian ‘Sang Penari’ mendulang berbagai pujian dari kritikus. Tak lupa, Ahmad Tohari menyebut ‘Sang Penari’ sebagai adaptasi yang layak untuk karyanya. Pada Festival Film Indonesia 2011, film ini meraih 10 nominasi dan berhasil memenangkan 4 piala citra. Semuanya untuk penghargaan utama. Penghargaan Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Ifa Isfansyah, Aktris Terbaik untuk Prisia Nasution, dan Aktris Pendukung Terbaik untuk Dewi Irawan. Hebatnya lagi, ‘Sang Penari’ pun muncul di situs database film imdb.com. Walau sinopsisnya tidak selengkap di Wikipedia, namun bagi saya itu sudah cukup. Informasi yang dimuat IMDB sudah cukup lengkap untuk sebuah film terbaik dari Indonesia.

Walaupun ‘Sang Penari’ berangkat dari suatu sejarah masa yang sudah lama terlupakan (untuk tidak menyebutnya sengaja diabaikan) namun relevansinya dengan keadaan saat ini tetap terjaga. Kisah percintaan, dari mana pun asal dan sumbernya, tetap membawa suatu nuansa tersendiri. Pergolakan yang mewarnai perjalanan bangsa pun sama dengan gejolak dalam hati. Kadang, cinta tidak hanya sebatas perasaan. Terlalu banyak dimensi yang menaunginya. Seperti kisah cinta Rasus dan Srintil.



Judul        : Sang Penari
Sutradara  : Ifa Isfansyah
Cast          : Prisia Nasution, Oka Antara, Dewi Irawan, Slamet Rahardjo,
                  Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Happy Salma
Tahun        : 2011
Produksi    : Salto Films



Paninggilan, 6 April 2013.

Minggu, 10 Maret 2013

Zero Dark Thirty: An American Revenge

“I'm going to smoke everyone involved in this op and then I'm going to kill bin Laden.” 
 – Maya (Jessica Chastain)

Osama bin Laden adalah sosok yang mengubah konstelasi peradaban dunia sejak peristiwa 9/11. Rentetan peristiwa yang tak urung mengubah kondisi geopolitik dunia, dimulai dengan invasi ke Afghanistan tahun 2001, dan penyerbuan terhadap Irak tahun 2003. Okupansi yang masih terus berlangsung hingga hari ini. Segenap pemboman dibelahan dunia lain seperti di London 2005 pun dikaitkan dengan tokoh utama Al Qaeda ini. Sehingga kepalanya dihargai sangat tinggi oleh para pemburunya.


Zero Dark Thirty menampilkan thriller khas Amerika. Konspiratif dan provokatif. Ketegangan dimulai sejak scene pertama. Interogasi atas tahanan yang dianggap sebagai penyiksaan ditampilkan sebagai sesuatu yang biasa terjadi. Sang interogator tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik.

Cerita terus berlanjut. Kegagalan demi kegagalan mengikuti misi CIA dalam melindungi ‘homeland’. Serangan bom bunuh diri kian marak. Al Qaeda mengaku bertanggungjawab atas semua kejadian itu. Puncaknya, bom bunuh diri yang dilakukan seorang martir Al Qaeda di field base operation CIA. CIA semakin dibuat kebingungan dalam menentukan target besar yang mereka cari, Osama bin Laden.


Sudah jadi rahasia umum bahwa Osama bin Laden bersembunyi di suatu tempat yang rahasia. Suatu tempat terpencil yang tetap masih bisa membuatnya berhubungan dengan dunia luar. Persembunyian Osama di Abbottabad, Pakistan pun akhirnya berhasil ditemukan oleh CIA. Namun, butuh waktu sekitar 100 hari lebih sebelum akhirnya para pemimpin CIA mengambil tindakan atas informasi intelijen itu.

Atas prakarsa Maya (Jessica Chastain) informasi keberadaan Osama dapat ditindaklanjuti. Serangan ke Abbottabad akan dilakukan oleh pasukan khusus NAVY SEAL dengan menggunakan dua helikopter Apache yang telah dimodifikasi ‘stealth mode’. Menarik, karena dua helikopter ini disimpan di Area 51 Nevada AFB.



Penyerbuan pun dilakukan. Satu helikopter gagal mendarat dengan sempurna. Walau begitu, tanpa kehilangan personil, NAVY SEAL tetap menerobos markas persembunyian Osama. Tidak ada perlawanan berarti. Kecuali, beberapa tembakan dari pengawal Osama. Adegan kekerasan muncul sepanjang penyerbuan dan pembunuhan terhadap terrorists suspect. Hingga akhirnya NAVY SEAL berhasil memastikan Osama bin Laden telah berhasil dibunuh.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Pertama kali mengetahui peristiwa penyerbuan untuk memburu Osama bin Laden pada Mei 2011 ini akan difilmkan yaitu waktu saya menonton “Habibie dan Ainun” awal bulan Januari kemarin. Dalam trailer film, sudah nampak beberapa adegan yang jelas-jelas bakal menunjukkan rating film ini sebagai Restricted, Parental Guidance. Sejak itu, saya berspekulasi bahwa Zero Dark Thirty adalah sebuah film dokumenter. Ternyata, saya salah. Film ini adalah sebuah thriller.


Sayangnya, saya tidak menemukan banyak adegan tembak menembak seperti dalam serial film intelijen seperti The Bourne Quartology dan James Bond. Kebanyakan adegan dalam film ini menampilkan beberapa persoalan internal CIA, seperti kapan mereka akan mengambil tindakan, dan segenap kegagalan CIA dalam menemukan ancaman ‘imminent threat’.

Zero Dark Thirty adalah sebuah istilah “slang language” dalam konteks militer, untuk waktu yang disebut sebagai “early hours of the morning before dawn”. Relevansinya dengan film ini adalah bahwa peristiwa penyerbuan ke markas terakhir Osama dilakukan pada tengah malam hingga pukul 2 pagi pada tanggal 2 Mei 2011. Istilah ini juga melambangkan selubung kegelapan dan kerahasiaan yang merundungi satu dekade usaha penangkapan Osama bin Laden.

Zero Dark Thirty seakan menjadi legitimasi bagi tindakan Amerika Serikat dalam memberantas  terorisme global. Segala tindakan yang mengancam keamanan dalam negeri sekaligus hegemoni Amerika Serikat di panggung dunia akan mereka lumat habis, tak terkecuali. Sebuah balas dendam a la Amerika terhadap semua yang Al Qaeda pernah lakukan atas mereka. Bagaimanapun, sejarah tetap mencatat bahwa perburuan terhadap Osama bin Laden adalah sebuah perjalanan panjang dalam sejarah umat manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Judul           : Zero Dark Thirty
Sutradara    : Kathryn Bigelow
Cast            : Jessica Chastain, Jason Clarke, Reda Kateeb, Joel Edgerton, Jennifer Ehle
Tahun         : 2013
Produksi     : Columbia Pictures

Paninggilan, 9 Maret 2013.

Jumat, 13 Agustus 2010

Menantang Diktator, Menantang Takdir (Edisi Sejarawan Dadakan)

Judul Buku : Menantang Diktator: Konspirasi Rahasia Anti-Hitler
Penulis : Darma Aji
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2006
ISBN : 9789797091996
Genre : Sejarah Dunia










Conspiracy without solidity will be nothing

Membaca kembali catatan sejarah peninggalan Third Reich dengan simbol kejayaan Nazi dan Adolf Hitler tentu masih sangat menarik untuk diperbincangkan. Perlawanan terhadap rezim yang menjalankan kekuasaan dengan diktatorisme dan totalitarian menjadi sangat tdak mudah. Terlebih lagi, Angkatan Bersenjata Jerman terikat sumpah setia pada Fuehrer.

Menggalang kesatuan ide dan kesepakatan politis demi mencapai tujuan bersama, yaitu bersatunya kembali Jerman dan runtuhnya rezim Nazi seringkali gagal karena tidak kokohnya fondasi konspirasi yang mereka buat sendiri. Dengan demikian, sampailah mereka pada ide untuk membunuh Hitler dan Himmler. Namun, merencanakan pembunuhan Hitler pun bukan perkara yang mudah. Banyak Jenderal masih memegang sumpah setianya pada Fuehrer dan banyak pula yang beranggapan bahwa berkonspirasi membunuh pemimpin Negara adalah suatu tindakan pengkhianatan terhadap Negara.

Berbagai plot telah disiapkan guna menggulingkan rezim diktator yang semakin menenggelamkan Jerman dalam perang melawan Sekutu Barat dan Uni Soviet dibawah pimpinan Stalin. Plot pembunuhan Hitler disusun bersama dengan serangkaian rencana kudeta dan pengambilalihan kekuasaan di Ibukota Jerman saat itu, Berlin. Hanya saja, keberuntungan seringkali menaungi Hitler. Beberapa percobaan sempat mengalami kegagalan. Hitler pun semakin di atas angin dan semakin merasa bahwa tujuan mulia terhadap Third Reich adalah takdirnya.

Begitu pun usaha dari Kolonel Clauss von Stauffenberg pada 20 Juli 1944 yang membawa bom dalam koper dan meninggalkannya di ruang rapat markas Hitler di Wolfersschanze (Wolf’s Lair), Prusia Timur. Kisah heroik ini juga pernah difilmkan dengan judul Valkyrie (MGM, 2008) dan dibintangi oleh Tom Cruise yang memerankan sendiri Stauffenberg. Valkyrie sendiri adalah nama dewa dalam mitologi Jerman-Nordik yang juga namanya dijadikan sandi operasi pengambilalihan keamanan darurat dalam negeri bila sewaktu-waktu kepala Negara berada dalam keadaan bahaya.




Melalui buku ini, pembaca diajak lebih menyelami kejadian-kejadian konspirasi sepanjang berkuasanya Rezim Nazi dibawah komando Adolf Hitler, der Fuehrer. Pembaca juga akan mendapatkan wawasan tambahan sepanjang Perang Dunia II, tentang bagaimana taktik militer Jerman pasca D-Day di Normandia dan War of Stalingrad, dan juga apa dan siapa yang ikut berperan seputar masa-masa kelam dalam sejarah kemanusiaan. Lebih lengkap lagi bila pembaca juga menonton film dokumenter D Day 6.6.44 (2004) dan War of The Century: When Hitler Fought Stalin (2000) rilisan BBC Films sehingga objektivitas pembaca akan tetap terjaga dengan informasi dan arsip-arsip terbaru yang dirilis Rusia guna kepentingan riset.


Paninggilan, 13 Agustus 2010. 10.33

Selasa, 10 Agustus 2010

Inception: Kehidupan Ide dalam Pikiran


Judul : Inception
Sutradara : Christopher Nolan
Tahun : 2010
Produksi : Warner Bros Pictures
Genre : Action Thriller
Pemain : Leonardo Dicaprio, Tom Hardy, Ken Watanabe, Ellen Page, Joseph Gordon-Levitt

Your mind is the scene of crime

Awalnya adalah ide, suatu hal yang kecil dan menjadi fokus utama dalam film garapan Christopher Nolan yang juga menyutradarai The Dark Knight. Ide secara langsung berkaitan dengan pikiran. Begitu ide terlintas, pikiran pun akan segera merekamnya dan menentukan akan diapakan ide tersebut. Masalahnya, terkadang berbagai ide yang muncul hanya terlintas sesaat dalam kenyataan. Begitu jiwa dan raga ini beristirahat dalam tidur makan ide itu akan segera hilang, seperti Koes Plus bilang dalam lirik lagu Perasaan, “...betapa megah hidupku kau bilang, dalam tidurmu semua akan hilang...”.

Namun, siapa sangka kalau ide itu ternyata masih diputar ulang oleh pikiran melalui alam bawah sadar. Agaknya, untuk membahas hal ini lebih jauh diperlukan analisis mendalam dengan berbagai referensi dari Psikonanalisis yang dielu-elukan oleh Kaum Freudian, mereka pengikut sang juru alam bawah sadar, Sigmund Freud.

Menyimak film ini rasanya tidak berbeda jauh dengan The Ocean Gangs (Ocean’s Eleven, Ocean’s Twelve, dan Ocean’s Thirteen). Pemimpin aksi yang mendapatkan tugas istimewa harus mengumpulkan anggota tim terbaiknya agar misi dapat berhasil dan sukses. Bedanya, dalam Inception, Dom Cobb (Leonardo Dicaprio) dikisahkan masih menyimpan bayang-bayang masa lalu dari keahliannya bersama istrinya. Ingatan masa lalu yang belum sepenuhnya dihapus dan risiko pekerjaannya menjadi hal yang menarik dalam film ini.

Dom Cobb adalah seorang pencuri yang bekerja di dunia yang tidak nyata: dunia mimpi dan alam bawah sadar. Dom Cobb memiliki kelebihan untuk mencuri lewat kemampuan ekstraksi, yang memungkinkannya untuk mengambil berbagai informasi dan rahasia melalui alam bawah sadar. Dengan cara itulah, ketika pikiran berada dalam kondisi vulnerable Dom Cobb menjalankan aksinya.

Kemampuan itulah yang menyebabkannya memasuki dunia baru spionase korporat. Melalui usahanya, ia kemudian menjadi sorang pelarian internasional sehingga harus membayar semuanya dengan kehilangan keluarganya. Menyadari usahanya untuk terus berlari dan bersembunyi akan sia-sia, Cobb pun menerima tawaran Saito, pengusaha dari Jepang, yang membuat kesepakatan supaya Cobb bisa kembali pada kehidupan dan keluarganya seperti semula.

Pekerjaan yang diberikan Saito adalah sederhana. Cobb diminta untuk menanamkan ide didalam pikiran Robert Fischer (Cillian Murphy), sang pewaris kerajaan bisnis ayahnya, Walter Fischer (Pete Postlethwaite), yang juga saingan bisnis Saito. Saito khawatir ekspansi bisnis Fischer akan berpengaruh dalam pasaran energi internasional. Cobb harus menanamkan ide bahwa Fischer Jr tidak akan melakukan kebijakan untuk mengikuti jejak ayahnya.

Sepintas pekerjaan itu terlihat sangat mudah. Namun, Cobb harus menembus sampai 3 lapis mimpi agar ide yang ditanamkan itu menancap sempurna pada target. Bersama tim bentukan yang terdiri dari berbagai spesialis (bukan dokter spesialis) Cobb merancang suatu misi. Kali ini bukan misi pencurian ide tetapi penanaman ide. Pekerjaan ini adalah pekerjaan terakhir untuknya. Pekerjaan yang disebut impossible-inception. Jika mereka berhasil maka itu akan jadi kejahatan yang illegally perfect. Kesalahan dalam perencanaan dan perhitungan malah justru tidak hanya akan menimbulkan bahaya tetapi juga keselamatan mereka semua.


The Cobb's Winning Six Team

Overall, Inception menawarkan thrilling action plus imaginative sci-fi khas film-film Hollywood. Lengkap dengan adegan kejar-kejaran dan tembak-menembak. Juga tidak lepas dari plot cerita dengan alur yang berulang-ulang maju mundur sehingga penonton wajib mengikuti cerita dari awal hingga tamat. Konflik personal pelaku utama juga membuat penonton menebak-nebak. Menurut penulis, acting Dicaprio memang punya ciri khas dan cita rasa tersendiri.

Kalau saja pemeran utamanya diperankan oleh Brad Pitt, Matt Damon, atau Ben Affleck yang sering tampil dalam film bergenre sama akan terasa lebih gagah dan tegas. Barangkali, image yang terlanjur melekat pada pribadi masing-masing mereka memberikan daya tarik dan nilai tawar tersendiri juga bagi produser film. Terakhir, Kalau boleh menyarankan, film ini juga layak dibuat jadi game RPG dengan multi-ending seperti Legend of Legaia yang punya 5 ending di akhir cerita.



Catatan Akhir Seorang Kritikus Dadakan

Ide itu seperti virus. Ide bisa berkembang atau menghancurkanmu.

Quote yang menurut saya sangat bermakna. Bahwa seringkali ide-ide kecil dalam pikiran justru malah tidak kita sadari berawal dari inspirasi murni yang diterjemahkan oleh penulis script sebagai Pure Inspiration. Ide adalah hal kecil yang akan merubah segalanya. Simply little thing that changes everything. Sering juga tidak disadari bahwa ada ide atau gagasan berharga sangat mahal.

Jangan lupakan juga tentang pikiran (mind). Tanpa pikiran, suatu ide atau gagasan tadi hanya akan jadi kesia-siaan belaka. Pikiranlah yang sebenarnya menentukan kemana ide itu menuju dan akan jadi seperti apa ide nantinya. Pikiran memegang peranan yang sentral karena dapat membahayakan kepentingan luas. Ada semacam hukum kekekalan yang melingkupinya. Bila memang pikiran itu baik maka baik pula hasilnya, begitupun sebaliknya. Hal lainnya yang patut diwaspadai adalah kematian ide dalam pikiran. Barangkali karena pikiran sudah memang terlanjur menelan racun peradaban sehingga sulit sekali untuk mencerna ide menjadi sesuatu.

Hingga pada akhirnya, kita akan mengakui bahwa ide sekecil apapun akan tetap berharga. Itulah yang menyebabkan mahalnya isi kepala seseorang yang berhasil mengolah ide atau gagasan menjadi sesuatu yang bermakna dan berarti. Karena didalamnya, pikiran dan ide berhasil membentuk sebuah formasi kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan lekang oleh zaman.



Paninggilan, 10 Agustus 2010. 23.31


*dengan ingatan pada siang di XXI Gandaria City, St. 6- F9
** Image hasil repro dari www.imdb.com


Kamis, 22 Juli 2010

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta: Elegi Hari Nanti

Seorang pemuda muslim. Seorang gadis katolik. Will they live happily ever after?

Intisari dari film ini kurang lebih seperti disebutkan diatas. Tetapi, kesan pertama saya terhadap film ini adalah: Henidar Amroe is Back! Stunning! Rupanya, ia membuktikan ucapannya pada suatu interview di acara Just Alvin! Henidar is on-screen, yeah!


Film garapan Mizan Production ini mengangkat tema yang universal dan masih membalas isu yang sama, perbedaan. Perbedaan keyakinan antar tokoh-tokoh utama dalam film ini menjadi tema sentral yang menjadi roh dalam film garapan Benni Setiawan ini. Diceritakan bagaimana Rosid (Reza Rahadian) yang terobsesi menjadi seorang sastrawan wannabe inspired by W.S Rendra berhubungan dekat dengan Delia (Laura Basuki), seorang mahasiswi dari keluarga berada. Keberadaan sastra sebagai bumbu lain di film ini juga cukup membangkitkan kenangan penonton terhadap syair-syair Rendra. Saya terkesan dengan potongan dialog antara Rosid dengan Martha (Ira Wibowo), Ibu dari Delia, “Mama pikir setelah Rendra nggak ada lagi yang mau jadi sastrawan...”.

Hubungan Rosid dan Delia pun semakin berjalan selayaknya kaum muda yang sedang bercinta. Mereka cenderung menjalani perbedaan dengan apa adanya dan saling menghargai satu sama lain. Akan tetapi, konflik baru timbul ketika kedekatan mereka mulai beralih menjadi sesuatu yang serius. Ada beberapa adegan yang menampilkan rapuhnya nilai-nilai dan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita. Betapa kecurigaan dan prasangka terhadap sesuatu yang terlanjur melekat dalam keseharian kita menimbulkan gejolak dalam masyarakat.

Dalam satu adegan digambarkan bagaimana keributan yang terjadi hanya karena perkumpulan yang dibentuk Rosid dan teman-temannya. Kejadian itu pun akhirnya diselesaikan dengan jalan keributan, jalan yang selalu ditempuh beberapa warga masyarakat kita untuk menyelesaikan masalah. Hal ini menampakkan bahwa kebenaran itu bukan sesuatu yang mutlak dan ada di masing-masing kepala. Sehingga, terjadilah benturan yang tidak diinginkan atas dasar prasangka dan kehendak umum-yang kadang-kadang menyesatkan. Bila dicermati lagi, scene itu terkesan mirip dengan beberapa kejadian yang pernah terjadi sebelumnya di Indonesia ini. Kekerasan telah jadi bagian hidup di Negara yang warganya dikenal ramah dan damai.

Konflik utama dari keseluruhan cerita adalah ketika keseriusan Rosid untuk menikah dengan Delia mendapat tentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan: keluarga. Sampai disini, penonton seakan disadarkan kembali bahwa pernikahan adalah bukan hanya sekedar ikatan dua anak manusia, tetapi lebih dari itu. Pernikahan pun melibatkan dimensi-dimensi lain dalam ruang kehidupan seseorang, keluarga itu jelas faktor utama selain lingkungan yang ikut menentukan. Maka, ketika dua dunia meminta dipersatukan timbullah berbagai persoalan. Mulai dari orang tua Delia, Frans (Robby Tumewu) dan Martha yang berniat menyekolahkan Delia ke Amerika dan orang tua Rosid dengan mencarikan jodoh yang sealiran dengan mereka.

Prahara pun kembali muncul ketika 3 hati yang terlanjur bermain dengan perasaan itu bertemu satu sama lain. Nabila (Arumi Bachsin) yang tampil anggun dibalik kerudungnya, rupanya berhasil memikat hari Rosid. Namun, ketika Delia menanyakan tentang kesungguhan Rosid, maka Rosid pun terperangkap pada kenangan masa lalunya bersama Delia. Kesungguhan mereka kembali diuji.

Akhir cerita, Delia dan Rosid akhirnya sepakat pada takdir. Mereka biarkan takdir membawa nasib mereka masing-masing. Delia dan Rosid sepakat pada kata-kata mereka dulu, “Kita liat aja nanti...”.


Catatan Akhir Seorang Kritikus Dadakan

Pada akhirnya, Rosid, Nabila, dan Delia menjalani takdirnya masing-masing. Tidak satupun dari mereka bersatu kembali dalam satu ikatan. Memang nasib takdir tidak menentu. Hal ini semakin menegaskan bahwa ketika anda berpikir bahwa anda bisa mengendalikan segalanya justru yang terjadi adalah kebalikannya: everything’s out of control.

Dalam diskusi seusai pemutaran film Romo Benny Susetyo dan satu pembicara yang saya lupa namanya, mempersoalkan tentang ending dari film yang konon diangkat dari Novel Best Seller dengan judul yang sama. Bagi kedua komentator, selain jalan cerita yang memang mencerminkan perilaku masyarakat kita ditengah himpitan dan benturan antara nilai-nilai modernitas dengan budaya serta tradisi, ending dari film tadi haruslah jelas dan berujung pada satu kesimpulan (conclusion) agar tidak menimbulkan berbagai macam pretensi. Akhir cerita yang demikian tersebut diharapkan mampu memberikan suatu gambaran atau solusi bagi penonton yang kebetulan mengalami kejadian yang sama.

Akan tetapi, saya yakin bahwa ending yang ditampilkan dalam film sudah merupakan suatu keindahan tersendiri. Dalam satu tulisan, saya pernah membaca bahwa karya sastra yang baik adalah karya yang memberikan kesempatan bagi pembaca untuk menentukan kesimpulan masing-masing. Rasanya tidak berlebihan bila ending dari film ini kemudian berakhir dengan memberikan wacana bagi penonton, sama halnya seperti ciri karya sastra yang baik diatas.

Mempersoalkan perbedaan kini bukan lagi hal yang tabu. Perbedaan itu lumrah karena pada dasarnya kita mengalami pengalaman demikian setiap harinya. Tinggal bagaimana menyikapi perbedaan sebagai keberagaman dalam masyarakat yang multikultur. Dibutuhkan lebih sekedar sekedar pengertian dan pemahaman terhadap konteks keberagaman. Kesenjangan yang menimbulkan gesekan antara nilai-nilai modernitas gaya barat dan nilai-nilai tradisional, seperti terdapat dalam novel Atheis, dapat diminimalisir dengan berbagai cara, diantaranya dialog antar budaya. Menyikapi perbedaan dalam heterogenitas masyarakat mutlak diperlukan untuk mengembalikan dan menegakkan kembali nilai-nilai humanisme universal yang terlanjur pudar dalam wajah masyarakat kita.


Paninggilan, 21 Juli 2010 23.56


*dengan ingatan pada Nonton Bareng & Diskusi Film, 3 Hati: dua dunia, satu cinta, 10 Juli 2010 di Pondok Indah Mall.

crossposting dari tetangga selendangwarna

Selasa, 25 Mei 2010

My First Asian Movies

Examination 1977 (高考1977)


maka benarlah ketika Muhammad SAW berseru “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”



Cover Film


Ujian Masuk Perguruan Tinggi di China (Semacam SPMB atau UMPTN) dikenal sebagai Gaokao adalah suatu tes yang paling kompetitif bagi seluruh pelajar. Gaokao dinilai sebagai suatu hal yang telah merubah nasib kaum pelajar yang ingin meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini terjadi lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1977, dimana China memutuskan untuk membuka kembali sistem ujian masuk Gaokao setelah 10 tahun lamanya mengalami Cultural Revolution (Revolusi Budaya).

Berdasarkan catatan, lebih dari 5,7 juta rakyat China berusia 15 sampai 36 tahun mengikuti Gaokao pada tahun itu. Kelak, Gaokao 1977 akan mengubah kehidupan mereka (peserta ujian) dengan pencapaian yang mengagumkan di banyak bidang.

China memiliki banyak acara TV atau juga film yang bercerita tentang kelompok pelajar yang terbuang (atau sengaja dibuang, untuk kerja paksa ataupun proyek padat karya) oleh pemerintah pada kurun waktu 1960-1970an. Tetapi, tidak satu pun yang membawa masyarakat China lebih dekat pada kenyataan yang mereka alami. Hal ini tentu saja menimbulkan suatu keresahan terutama pada anggota masyarakat yang turut mengikuti ujian tahun 1977 itu karena barangkali ada fakta-fakta yang kini baru terkuak dan mungkin saja dulu sempat ditutupi oleh Pemerintah China sendiri. Teknik bercerita (storytelling) yang mengambil perspektif realistis dan sangat individual memberikan kontribusi yang besar dalam kesuksesan film mainstream seperti ini.

Cerita dimulai dengan datangnya berita tentang akan dibukanya kembali Ujian Negara (Gaokao) dimana telah menimbulkan dan memicu ketegangan diantara kelompok pelajar (yang terbuang) yang berasal dari beberapa daerah seperti Beijing dan Shanghai. Mereka ditugaskan untuk bekerja pada ladang perkebunan di Provinsi Heilongjiang selama 8 tahun. Beberapa diantara mereka ada yang telah menikah dengan penduduk lokal, dan ada juga yang kehilangan hidupnya karena menghabiskan waktu mudanya di tanah yang begitu asing sementara beberapa orang lainnya begitu ambisius dan berusaha keras untuk kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.

Peta Lokasi Provinsi Heilongjiang


Persahabatan yang kuat, cinta dan kebencian antara anak dan orang tua dengan latar belakang politik kontra revolusi, benturan ideologi antara pekerja dan otoritas perkebunan, pilihan yang sulit antara cinta dan kesetiaan, adalah elemen-elemen lain yang disajikan dalam film ini. Pesan lain yang ingin disampaikan melalui film ini adalah bahwa bukan hanya usaha pribadi semata untuk mengubah kehidupannya melalui pendidikan tetapi juga peran Pemerintah ikut mencerminkan penghargaan bangsa terhadap pendidikan dan keinginan kuat untuk memperoleh pengetahuan setelah periode yang chaotic selama satu dekade terakhir. Walaupun menampilkan periode sejarah yang traumatis, film ini cenderung memberikan inspirasi, dorongan serta membangkitkan semangat seiring dengan berakhirnya konflik dan elemen-elemen kemanusiaan yang muncul dari karakter pemain film ini cukup bisa dinikmati.

Poster Film

Dengan menyandang nama sebagai film epik rakyat, Examination 1977 merupakan film drama yang sentimental dan telah menghasilkan pendapatan kurang lebih lima juta yuan dalam empat hari pertama penayangannya sejak 3 April 2009 di seluruh China. Film ini diproduksi oleh Shanghai Film Group Corp dan dibintangi aktor veteran seperti Wang Xuebing, Sun Haiying, Zhou Xianxin, dan Zhao Youliang. Film ini adalah film pertama yang jadi pembuka diantara seri-seri film lainnya sebagai bentuk penghargaan terhadap Perayaan Ulang Tahun Negara China yang ke-60 pada bulan Oktober 2009 kemarin.



Paninggilan, 25 Mei 2010. 01.26