Saya memang agak telat untuk
menonton ‘Sang Penari’ setelah resmi dirilis 10 November 2011. Itu pun
lewat hasil unduhan dari sebuah forum. Pun, membaca buku ‘Ronggeng Dukuh
Paruk’ sebelum edisi kompilasi trilogi bersama ‘Jantera Bianglala’ dan
‘Lintang Kemukus Dini Hari’, pemberian seorang sahabat. Pengalaman
membaca buku kini tidak akan lagi sama. Maraknya visualisasi dan
adaptasi cerita dari sebuah judul buku akhir-akhir ini menghadirkan
suatu pengalaman lain dalam konteks pemaknaan sebuah karya, terutama
sastra.

Tak
terkecuali pada ‘Sang Penari’. Film yang digarap oleh Ifa Isfansyah dan
skenario yang digarap bersama oleh Salman Aristo dan Shanty Harmayn ini
menghadirkan sebuah pencitraan, pemaknaan, dan visualisasi gagasan atas
apa yang penah dituliskan Ahmad Tohari dalam bukunya. Perlu dicatat,
bahwa menampilkan kembali isi dari buku yang pernah mengalami pelarangan
edar oleh Orde Baru ini bukanlah sesuatu yang mudah, as it is or as
given.Terutama, menyesuaikan alur cerita agar tampil lebih singkat dari
jalan cerita pada buku aslinya. Re-interpretasi terhadap karya Ahmad
Tohari mutlak diperlukan.

‘Sang
Penari’ bertutur tentang cerita cinta yang terjadi di sebuah desa
miskin Indonesia pada pertengahan 1960-an. Dukuh Paruk namanya.
Pedukuhan yang masih menganut nilai-nilai lokal-tradisional dalam tata
kehidupannya ini menganggap ‘ronggeng’ bukan sekedar seni dan tradisi
belaka. Ronggeng dalam tata hidup masyarakat Dukuh Paruk adalah sebuah
bentuk pengabdian terhadap leluhur mereka, Eyang Sacamenggala. Maka
begitu Srintil kehilangan ibunya yang ronggeng itu karena insiden ‘tempe
bongkrek’, Dukuh Paruk mengalami stagnansi dalam kehidupannya. Gairah
penduduk seakan hilang, tidak ada lagi berkah Eyang Sacamenggala.
Srintil
(Prisia Nasution) hanyalah seorang anak kecil biasa yang senang bermain
bersama dengan teman-temannya, Rasus (Oka Antara) dan kawan-kawan.
Kadang, Srintil menari kala sedang bersama Rasus. Sejak itu, Srintil
semakin lekat bersama Rasus. Diam-diam, Nyai Kartaredja (Dewi Irawan)
pun menaruh hati bahwa suatu saat kelak cucunya itu menjadi ronggeng.
Rasus tidak bisa menahan Srintil.
Rasus
tahu bahwa Srintil akan menjadi ronggeng. Rasus mencoba menerima
kenyataan dengan memberikan keris peninggalan Ibu Srintil kepada
Srintil. Keris itu dipercaya sebagai pertanda bahwa Srintil dipercaya
leluhurnya untuk menjadi ronggeng. Kehidupan Dukuh Paruk kembali
bergairah setelah Srintil didaulat menjadi ronggeng dan harus menjalani
ritual ‘bukak klambu’.
Rasus
semakin tidak bisa menerima kenyataan itu. Beruntung, Srintil pun tidak
rela keperawanannya diserahkan pada orang lain. Maka, mereka pun
bercinta sebelum ‘bukak lambu’ digelar. Rasus sekali lagi menyatakan
keberatannya pada Srintil. Namun, keputusan Srintil untuk menjadi
ronggeng sudah bulat. Tidak ada kata mundur. Zaman pun kemudian
bergerak, di mana Rasus harus memilih; loyalitas kepada negara atau
cintanya kepada Srintil.
Dalam
situasi yang semarak kembali itu, menyusuplah seorang antek partai
komunis, Bakar (Lukman Sardi). Bakar mencoba melakukan propaganda di
Dukuh Paruk. Warga yang pengetahuannya terbatas itu sedikit-sedikit dan
perlahan mulai melakukan apa yang dikehendaki Bakar. Rasus merasa ada
yang aneh saat kembali mengunjungi Dukuh Paruk. Pengaruh komunis bawaan
Bakar telah begitu kuat di Dukuh Paruk.
Bakar
dengan cerdik memanfaatkan ronggeng untuk propaganda partainya.
Kartaredja sempat dibuat ragu dengan pementasan ronggeng yang didukung
oleh partai komunis walau akhirnya berhasil meyakinkan kakek Srintil
agar mau tampil di kota. Apalagi setelah makam Eyang Sacamenggala
dirusak sekelompok orang tidak dikenal. Padahal, itu merupakan fitnah
yang dilakukan oleh Bakar dan partainya.
Sampai
adegan ini, saya sangat terkesan dengan visualiasi teks pada bab yang
sama. Perusakan makam itu dianggap sebagai pertanda bahwa Srintil harus
kembali meronggeng. Sebuah keputusan yang kelak membawa Dukuh Paruk pada
pergolakan sejarah.
Roda
waktu pun berputar. Dukuh Paruk dinyatakan ‘merah’. Dengan demikian,
operasi penumpasan pun digelar. Warga Dukuh Paruk yang tidak tahu
apa-apa itu apalagi soal pergolakan di ibukota negara menjadi korban.
Mereka dipaksa meninggalkan Dukuh Paruk dan resmi menjadi tahanan
politik. Seluruhnya menjadi tersangka kecuali Sakum, si penabuh kendang.
Rasus,
yang masih memendam rindu pada Srintil mencoba untuk kembali ke Dukuh
Paruk. Usai menghadapi ‘gempuran’ dan komandannya (Tio Pakusadewo),
Rasus tidak menemukan apa-apa lagi di Dukuh Paruk, kecuali Sakum. Lewat
beberapa petunjuk, Rasus pergi ke tempat para tahanan dari Dukuh Paruk
ditahan. Setibanya disana, Rasus berhasil menemukan Srintil. Malang,
Rasus hanya dapat melihat Srintil pergi. Srintil digiring untuk dibawa
ke tempat lain.
Sebagai
penutupan, dikisahkan bertahun-tahun kemudian Rasus telah mendapat
kenaikan pangkat. Namun, kenangan tentang Srintil tidak pernah padam.
Rasus tahu dimana harus mencari Srintil. Saat itu, pemerintahan telah
beralih ke tangan Orde Baru. Dukuh Paruk pun tinggal cerita, tak
terkecuali ronggeng yang hanya sebuah tontonan yang dijajakan belaka.
Dalam sebuah kesempatan di Pasar Dawuan, Rasus bertemu kembali dengan
Srintil yang sedang ‘ditanggap’ oleh beberapa orang saja. Srintil merasa
ketakutan dan segera pergi dengan Sakum. Namun, Rasus sempat
menggenggam tangan Srintil, menyelipkan kembali keris pusaka yang dulu
pernah ia berikan pada Srintil.
Catatan Seorang Kolumnis Dadakan
Kisah
cinta Srintil dan Rasus awalnya adalah sebuah cerita cinta sederhana.
Namun, akhirnya terpisah oleh jalinan takdir itu sendiri. Rasus yang
merasa kecewa karena Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng menemukan
pelariannya dalam wujud ketentaraan. Rasus dan Srintil pernah mencoba
untuk mengkompromikan takdir mereka. Srintil tidak mampu menghindar dari
‘indang’ ronggeng yang diyakini telah memilihnya. Rasus sendiri tidak
dapat berbuat banyak karena ia telah menjadi seorang tentara.
Saya
bisa memberi nilai sempurna untuk interpreasi teks ke dalam citra
visual untuk film ini. Latar belakang pengambilan gambar dan adegan yang
menghadirkan nuansa alami khas Banyumasan tidak bisa dipisahkan dengan
konteks ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ dan melekat kepadanya sebagai sebuah
kesatuan identitas. Terlebih, ada beberapa detail dalam buku yang
diangkat ke dalam cerita. Hebatnya, visualisasi dalam film persis dengan
yang saya bayangkan dalam imajinasi personal. Sebagai contoh, potongan
dialog dengan kata-kata seperti “asu buntung” kerap muncul sebagai
sumpah serapah. Tak ketinggalan, adegan ketika Srintil mengencingi
jampi-jampi yang ditanam di dekat kamarnya. Overall, film ini tidak
kehilangan detail dalam teks ‘Ronggeng Dukuh Paruk’.
Saya
juga melihat totalitas akting yang diberikan oleh pemeran-pemeran film
ini yang very exceptional. Prisia Nasution mampu mendalami karakter
seorang Srintil yang tumbuh dewasa dan menjadi ronggeng. Sementara, Oka
Antara konon ‘mempersiapkan’ dirinya dengan diet ketat dalam jangka
waktu yang lama untuk memerankan Rasus, agar dapat memaknai karakter
Rasus sebagai bocah yang sering kelaparan, tidak bisa membaca, dan
memiliki tatapan nanar. Termasuk menyesuaikan logat bicara Banyumasan.
Pun, sama halnya dengan Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, dan Tio
Pakusadewo.
Tidak
heran, bila kemudian ‘Sang Penari’ mendulang berbagai pujian dari
kritikus. Tak lupa, Ahmad Tohari menyebut ‘Sang Penari’ sebagai adaptasi
yang layak untuk karyanya. Pada Festival Film Indonesia 2011, film ini
meraih 10 nominasi dan berhasil memenangkan 4 piala citra. Semuanya
untuk penghargaan utama. Penghargaan Film Terbaik, Sutradara Terbaik
untuk Ifa Isfansyah, Aktris Terbaik untuk Prisia Nasution, dan Aktris
Pendukung Terbaik untuk Dewi Irawan. Hebatnya lagi, ‘Sang Penari’ pun
muncul di situs database film imdb.com. Walau sinopsisnya tidak
selengkap di Wikipedia, namun bagi saya itu sudah cukup. Informasi yang
dimuat IMDB sudah cukup lengkap untuk sebuah film terbaik dari
Indonesia.
Walaupun
‘Sang Penari’ berangkat dari suatu sejarah masa yang sudah lama
terlupakan (untuk tidak menyebutnya sengaja diabaikan) namun
relevansinya dengan keadaan saat ini tetap terjaga. Kisah percintaan,
dari mana pun asal dan sumbernya, tetap membawa suatu nuansa tersendiri.
Pergolakan yang mewarnai perjalanan bangsa pun sama dengan gejolak
dalam hati. Kadang, cinta tidak hanya sebatas perasaan. Terlalu banyak
dimensi yang menaunginya. Seperti kisah cinta Rasus dan Srintil.
Judul : Sang Penari
Sutradara : Ifa Isfansyah
Cast : Prisia Nasution, Oka Antara, Dewi Irawan, Slamet Rahardjo,
Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Happy Salma
Tahun : 2011
Produksi : Salto Films
Paninggilan, 6 April 2013.