Tampilkan postingan dengan label Story of a Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story of a Journey. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2013

Kisah Lainnya

Jadi, hidup telah memilih, menurunkan aku ke bumi

Buku ini dimulai dengan penggalan lirik lagu “Langit Tak Mendengar”. Satu lagu Peterpan favorit saya sepanjang masa bersama satu lagu lain, “Mungkin Nanti”. “Langit Tak Mendengar” adalah lagu terbaik Peterpan semasa formasi lengkap. Komposisi musiknya penuh. Liriknya juga tidak dangkal. Lagu itu bersama ‘Mungkin Nanti” yang telah direcycle dijadikan pengisi soundtrack film "Alexandria". Lagu itu sempat muncul pula dalam iklan sebuah operator telepon selular.


Membaca ‘Kisah Lainnya’ sama juga dengan bernostalgia kembali ke era keemasan Peterpan. Perjalanan Peterpan disajikan secara lengkap mulai sejak dirilisnya single “Mimpi Yang Sempurna” dari album kompilasi ‘Kisah 2002 Malam’ hingga pergantian anggota dan segenap sensasi yang melingkupinya tidak luput dari rekaman peristiwa ini. Tidak hanya itu saja, segenap latar belakang di balik berdirinya band ini juga turut mengambil bagian. Juga bagaimana proses personil dalam mengawali karir mereka masing-masing bersama Peterpan.

Walaupun cerita dalam buku didominasi oleh narasi Ariel, tetapi “Kisah Lainnya” tetap menampilkan band ini dalam komposisinya yang utuh. Masing-masing personil pun menyuarakan segala kegelisahannya di masa istirahat panjang itu. Termasuk cerita dibalik kolaborasi mereka dengan musisi kenamaan lainnya seperti Idris Sardi dan Henri Lamiri, serta Karinding Attack dan Momo 'Geisha'.

Buku ini ibarat catatan pribadi dari sang vokalis. Ariel tidak hanya piawai dalam menulis lagu. Ariel pun pandai merangkai kata. Selama menjalani masa penahanannya di Rutan Bareskrim dan LP Kebon Waru, Ariel banyak menulis dan membuat sketsa. Buku ini pun diwarnai catatan Ariel yang serupa dengan prosa maupun gambar sketsa karyanya.

Pada saat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati
Itu adalah pasangan hidupmu
Itu adalah takdirmu
Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan
Itu adalah pelengkap hidupmu
Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

Catatan Personal

Saya melihat kembalinya anggota Peterpan ke kancah musik Indonesia tersusun dengan rapi. Walaupun sang frontman mendekam di penjara, beberapa anggota lainnya masih bisa berkarya. Bahkan, naik panggung lagi bersama vokalis-vokalis dari band lain dalam rangkaian tur mengunjungi komunitas penggemar mereka. Single ‘Dara’ milik Ariel terbukti mampu menjembatani proses kembalinya Peterpan. Harapan penggemar serta kebutuhan untuk meraih rasa percaya diri yang sempat hilang berhasil menumbuhkan keyakinan mereka untuk kembali ke panggung.

Proses pembuatan album “Suara Lainnya” membuktikan bahwa mereka masih mampu berkarya. Ketika album itu dirilis, Ariel memang belum bebas dan tidak hadir. Ada perasaan kosong yang menghinggapi mereka karena sang vokalis tidak ada disitu. Namun, sukses besar malam itu semakin membuat percaya diri mereka kembali. Hidup terus berjalan. Ariel bebas. Perjalanan pun mereka mulai lagi. Belakangan, mereka membuat identitas baru, NOAH.

Overall, “Kisah Lainnya” tidak hanya menawarkan sebuah ‘pengakuan’ dan cerita mereka sepanjang 2010-2012. “Kisah Lainnya” membawa pembaca pada sebuah dimensi labirin proses perjalanan kehidupan yang tidak selalu menyenangkan. Kata Tommy Page, life is full with lots of up and down. Selalu ada hikmah dibalik sebuah cerita.

Judul       : Kisah Lainnya
Penulis     : Ariel, Uki, Lukman, Reza, David
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun      : 2012
Tebal       : 228 hal.
Genre      : Memoar-Musik

Medan Merdeka Barat, 7 November 2013.

Jumat, 12 Juli 2013

Kerinduan Yang Rapuh - Serial #CerpenSMA Eps.1

Pengantar

Sebagai pembuka, beberapa hari lalu saya sengaja menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk membuka kembali file-file tugas sekolah SMA. Menarik, karena saya menemukan sebuah kumpulan cerpen yang pernah saya buat waktu itu. Tidak terlalu banyak memang, namun saya rasa sudah waktunya cerpen-cerpen itu menemukan pembaca mereka yang sesungguhnya.

Serial #CerpenSMA ini akan dimulai sejak tulisan pertama ini terbit. Semua cerpen telah mengalami  proses editing yang terbatas pada kesalahan penempatan tanda baca dan tipografi. Tidak ada perubahan dalam alur dan pemilihan kata-kata. Saya serahkan pada pembaca untuk menilai tulisan saya. Bagi saya, kumpulan cerpen itu tadi adalah tonggak awal sejarah kepenulisan saya, jauh sebelum blog ini dibuat.

Saya berharap pembaca dapat menikmatinya. Khusus untuk ini, terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih.

Paninggilan, 12 Juli 2013


KERINDUAN YANG RAPUH

Andhita tercinta,

Didalam surat ini aku tuliskan sebuah cerita saat aku telah jauh darimu. Suratku ini akan berisikan kerinduanku padamu. Andhita, apakah kamu akan ikhlas untuk menerima dan membacanya?.

Andhita, akan kuceritakan  betapa rindunya diriku saat kau tak disisiku menemaniku. Mengapa? Karena aku sangat mengharapkanmu untuk kembali bersama menikmati segala kenangan yang pernah kita lalui.


 
27 Juni 2001, tahukah Dhita, hari itu aku sungguh-sungguh kecewa, hari itu aku sadar bahwa kita tak akan pernah bertemu kembali. Aku tak bisa menerima kenyataan itu. Tetapi Andhita, kaupun tahu aku harus terus maju untuk meraih masa depanku. Tak hanya diriku saja tapi dirimu juga.
 
Aku juga masih ingat saat kau melihatku berjalan berdua dengan seseorang yang kini telah menjadi mantan kekasihku. Akupun mengerti perasaanmu Andhita, aku juga tahu kalau hatimu menyimpan sedikit luka karena kejadian itu. Apakah kamu tahu juga kalau selama ini aku pun terluka? Seseorang itulah yang sering membuatku terluka, terluka karena ia berusaha untuk menjauhkan dirimu dari hatiku. Andai waktu itu aku dapat menemanimu, maka tak akan ada lagi luka bagi kita berdua.
 
Namun kini Andhita, aku kehilangan perasaan itu. Aku kehilangan jejak cerita kita, saat kita masih bersama. Aku bahkan tak tahu kini dimana dirimu berada, entah di belahan dunia mana. Tetapi Andhita, aku takkan pernah kehilangan sesuatu dari dirimu yang sampai saat ini menjadi sesuatu yang berharga bagi diriku. Apakah kamu tahu Andhita? Senyummu. Senyummu itulah yang selalu menguatkanku dan mengabadikan dirimu di hatiku.
 
Andhita tersayang,
 
Didalam hatiku kaulah yang terindah kau telah menjadi sekuntum bunga yang mekar tiada hentinya didalam hatiku sampai kapanpun, karena kaulah bunga pertama yang kusimpan di dalam ladang cinta hatiku. Andhita, pernah kucoba untuk menepis bayanganmu yang selalu memaksaku 'tuk merindumu, namun ku tak pernah bisa. Belum lagi dalam kesendirianku ini, belum kutemukan bunga-bunga lain sebagai pendampingmu, aku belum bisa Andhita.
 
Andhita yang manis,
 
Aku ingin bertanya padamu, “ Masihkah kau menyimpan hadiah yang kuberikan?”, aku yakin kamu tentu masih menyimpannya. Andhita, untuk mendapatkan  sesuatu itu aku harus menempuh perjalanan yang tak pernah kuharapkan, tapi demi seorang Andhita, aku tak peduli. Andhita, saat itu hujan seakan ditumpahkan dari langit, akupun resah karena belum kutemukan sesuatu itu, aku takut mengecewakanmu, demi kebahagiaanmu Andhita, aku pun terus mencari walau dalam keadaan basah kuyup. Saat telah kutemukan langit mendung pergi dan matahari kembali bersinar dan menghidupkan kembali harapanku pada dirimu.Akhirnya aku pun bahagia melihatmu menerima dan menyukainya. Dari caramu mengucapkan terima kasih, aku tahu kamu sangat senang.
 
Itulah Andhita, seberkas kerinduanku padamu. Andhita setelah membaca suratku ini, kuharap kau dapat membalasnya. Ceritakanlah padaku tentang indah warna-warni duniamu.
 
Sebelum kuakhiri suratku ini, maafkanlah aku Andhita yang telah tega membiarkanmu pergi begitu saja. Pergilah Andhita, kejarlah keinginanmu karena masih banyak waktu, dan tak usah kau pikirkan lagi lelaki ini yang tebaik dan sangat sayang padamu. Maafkan aku sekali lagi, karena kata-kataku ini yang mungkin terlalu gombal bagimu.
 
Andhita, izinkanlah aku mengirimkan kerinduanku padamu dengan cium, peluk dan bisikan terhangat dari tempat yang terindah di dunia.
 

Bandung, 22 September 2003

Kamis, 10 Mei 2012

Menoreh Janji di Tanah Suci

Perjalanan, kemana pun tujuannya, adalah perjalanan menuju diri sendiri. Pencarian makna diri dalam ruang dan waktu yang tak pernah sama. Mencari arti dibalik hakikat penciptaan dan segala hal yang menafsirkan ayat-ayat Tuhan. Perjalanan spiritual yang membutuhkan lebih dari sekedar kesadaran untuk jujur terhadap diri sendiri. Perjalanan menuju titik dasar dalam jiwa. Berbalut pada harap dan ridho Yang Maha Kuasa.

Perjalanan haji sebagai tingkatan ibadah tertinggi di Rukun Islam bagi sebagian orang hanyalah mimpi belaka. Ongkos Naik Haji yang cenderung naik setiap tahun belum lagi ditambah kondisi inflasi adalah satu tantangan. Belum lagi, situasi sosio-religius masyarakat kita yang cenderung menganggap berhaji adalah suatu kewajiban bagi mereka yang mampu secara materi.

Padahal, bila dikaji lebih dalam, kata ‘mampu’ ini ditafsirkan sebagai penegasan bahwa ‘mampu’ bukan lagi bermakna harfiah sekedar bisa mencukupi dalam hal materi saja. Kata ‘mampu’ disini berarti mampu secara jiwa dan ragawi, secara maknawi, untuk mengelola hati dan perasaan terutama dalam kesiapan memenuhi panggilan Allah SWT.

Berhaji adalah persimpangan antara ikhtiar, tawakkal, dan harapan. Segala makna peribadahan terkulminasi dalam ibadah haji. Keberserahan diri kepada Yang Maha Kuasa diuji di Tanah Para Nabi, Tanah Haram. Melalui berbagai kejadian yang tidak disengaja, akhirnya Allah SWT telah berkenan memanggil hambanya. Seorang penulis prolifik, Pipiet Senja, untuk memenuhi panggilanNya. Allah SWT telah memberikan karuniaNya kepada Pipiet Senja untuk mengalami suatu kebesaran atas namaNya.

Buku ini banyak bercerita tentang kejadian-kejadian yang dialami Pipiet Senja dalam perjalanannya ke Tanah Suci. Dua kali. Umroh dan haji. Ditulis dengan gaya yang santai membuat pembacaan buku ini tidak terkesan terlalu serius. Bahkan, dengan cara tersebut membuat pembaca lebih mudah untuk mengambil ibroh (pelajaran) dan hikmah dari cerita-cerita Pipiet Senja. Pembaca seakan diajak mengalami sendiri peristiwa-peristiwa di Tanah Suci. Mulai dari kekaguman penulis ketika pertama kali melihat Baitullah, merasakan susahnya masuk Raudhah, hingga rangkaian ibadah haji besar. Bermalam di Mina, wukuf di Arafah, sampai Tawaf Wada’.

Penuturan yang apa adanya khas Pipiet Senja membuat pembaca tidak akan kesulitan mencerna kisah-kisah dalam buku. Simak berbagai pengalaman yang didapat Pipiet Senja bersama rombongannya di Tanah Suci. Cerita-cerita seputar kelakuan jamaah haji Indonesia serta jamaah lainnya dari segenap penjuru dunia menjadi sajian tersendiri yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Bahkan, beberapa diantaranya akan membuat kita terperangah dan tidak jarang malah berkaca pada diri sendiri. Terutama, ketika Tanah Suci memberlakukan ayat “Sesungguhnya aku tergantung pada prasangka hambaKu”. Entah keajaiban atau kesialan bisa menghampiri sebegitu cepatnya.

Lebih jauh, Pipiet Senja mengajak pembaca untuk senantiasa mentafakkuri hikmah dibalik pengalaman yang didapatnya. Catatan yang lebih tepat disebut memoar ini memberikan gambaran bahwa sejatinya berhaji adalah bukan sekedar memenuhi panggilan Allah SWT, bukan sekedar unjuk kepunyaan materi, bukan sekedar ritual ibadah belaka. Berhaji adalah bukan perjalanan biasa. Dibutuhkan lebih dari sekedar iman untuk melaksanakannya. Kita akan dibuat lebih yakin akan kebesaran Allah SWT. Kita akan semakin yakin bahwa janji Allah SWT itu benar adanya. Keikhlasan, tawakkal, tawaddhu, dan kepasrahan, menyublim dalam wujud pengharapan pada Sang Maha Pencipta.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Awalnya, saya menandai buku ini dalam daftar wishlist buku yang akan dibeli dan dibaca. Namun, keinginan untuk membacanya belum sebesar nafsu ingin menamatkan Nagabumi II. Saya memang punya keinginan untuk pergi umroh. Entah kapan. Tidaklah terlalu salah punya keinginan seperti itu. Toh, namanya juga ibadah. Hingga suatu saat saya tersadar bahwa saya juga merasakan hal yang sama seperti Pipiet Senja. Tepat ketika sahabat saya, Adit, berterus terang untuk berangkat umroh bersama ibundanya tengah bulan April ini. Akibatnya, saya merasa harus segera menamatkan pembacaan buku ini.

Selain itu juga, saya ingin mempunyai gambaran jelas tentang apa-apa saja yang harus dipersiapkan selama beribadah di Tanah Suci. Satu cara yang efektif yaitu dengan membaca memoar ini. Saya rasa tidak terlalu sulit bagi seorang penulis untuk menceritakan kembali pengalaman-pengalaman yang dialami disana. Akan mudah rasanya bagi saya untuk memahami semua itu melalui tulisan santai dan tidak melulu serius namun sarat akan makna, pengalaman, dan hikmah.

Harus saya akui bahwa karya yang kesekian dari Pipiet Senja ini adalah satu karunia untuk mengobati keringnya jiwa saya akhir-akhir ini. Buku ini adalah buku pertama yang berhasil membuat saya menitikkan air mata. Bulu roma saya merinding pada saat membaca halaman-halaman awal buku ini. Semua itu terjadi begitu saja di dalam bis yang membawa saya kembali ke Jakarta.

Saya bisa bayangkan keadaan yang digambarkan Pipiet Senja. Betapa keadaan beliau saat itu sangat tidak memungkinan untuk bisa memenuhi panggilan Allah SWT. Bahkan, berharap pun tidak. Tetapi, justru disitulah Allah SWT menunjukkan kebesaranNya. Tanpa disangka, takdir, harapan, dan keinginan bertemu di satu persimpangan atas nama nasib anak manusia.

Rasanya, ada banyak sentuhan emosional dalam proses penciptaan buku memoar ini. Sesuatu yang tadinya tidak akan pernah mungkin tiba-tiba bisa berubah menjadi suatu kenyataan, senyata-nyatanya. Pipiet Senja tidak pernah bermimpi dapat menunaikan ibadah umroh dan haji apalagi dengan dukungan finansial dari pihak-pihak yang tak terduga. Sebuah pelajaran berharga bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Bahwa rezeki kita masih 'nyangkut' di tangan-tangan yang Allah SWT kehendaki.

Membaca buku ini sama juga dengan menebalkan kembali keyakinan kita kepada Allah SWT. Allah SWT ingin memberi pelajaran bahwa janganlah sekali-kali berputus asa dari rahmatNya. Sebab, ketika saat itu tiba maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan. Wallahu’alam bis shawab.

Judul         : Menoreh Janji di Tanah Suci: Catatan Haji dan Umroh Pipiet Senja
Penulis      : Pipiet Senja
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit        : Agustus 2011
Tebal        : 247 hal.
Genre       : Memoar

 Pharmindo-Paninggilan, 10 April 2012.

Selasa, 22 Februari 2011

Le Memoire du Soir (3)

Semarak langit semburat keemasan menyambut kepergianku. Ya, senja di kotamu benar-benar semarak. Dengan kilap langit keemasan dan bara mentari di ujung sana. Sungguh senja yang sempurna untuk memulai suatu perjalanan.

Sayang, engkau sedang tidak disampingku. Tidak ada pertemuan antara rinduku dengan indah binar dua matamu. Hanya ada peluh rindu yang berkejaran dengan resah serupa gelisah. Dalam ingatan yang pekat. Saling berkejaran dalam memori.

Engkau serupa melati dibalik pelangi. Mewangi isi relung hati. Kadang kau rasa tak peduli, tentang dirimu yang selalu kukagumi. Engkau menawan, engkau rupawan. Lincah buatku penasaran.

Menjelang malam, aku lihat bulan menggantung penuh. Cahayanya semburat terangi langit Ibukota yang tak pernah terlalu tua. Adakah sama denganmu, di kotamu? Apakah kau tatap juga purnama yang sedang kupandangi?

Aku rasa, inilah penutupan terindah untuk semua cita hari ini. Pintaku, jalani terus impianmu hingga kau yakini betul jalan yang kau tempuh. Raih semua harap yang pernah kau sebut dalam doamu. Aku masih tetap ada, untukmu mengadu bila kelak hilang arah.

Ik het jou lief, felicita.



Pharmindo-Karawang-Paninggilan. 20 Feb 2011.

Rabu, 19 Januari 2011

Le Memoir du Soir

Aninda,

Entah cepat atau lambat, aku tahu saat seperti ini akan terjadi. Saat meninggalkan kota ini dengan segenap perasaan yang tertinggal. Tertinggal pada hatimu atau malah disela-sela rerumputan di perbukitan Utara itu. Ini bukan pertama kali, tapi sudah untuk kesekian kalinya. Kini, semua itu kembali menyeruak dalam ingatan. Mengiringi deru mesin-mesin, pada suatu sore di terminal yang tak rapi.

Aku pernah membayangkan bahwa saat ini memang akan tiba. Melaju mengejar mimpi-mimpi kosmopolis-artifisial buatan ibukota dengan bis paling eksekutif yang pernah ada. Impianku melaju didera deru mesin yang saling berkejaran dengan parau suaramu. Usai kau ucapkan salam perpisahan kita di ujung jalan itu. Menangiskah kau kemarin?

Aninda,

Tahukah engkau? Dulu, aku selalu menatap getir matahari sore yang selalu mengantar senja. Dibalik jendela bis sambil menatap keluasan semesta. Sesekali terbayang wajah-wajah sahabat dan semua yang pernah mengisi hati ini. Ah, betapa kenyataan memang tidak selalu menyenangkan.

Rasanya sangat tidak pantas bila aku mengeluh pada Tuhan. Ini hanya bagian kecil dari jutaan potongan scene kehidupan yang tentu masih berlanjut. Kalau aku menyerah dan kalah saat ini, aku justru malu pada diriku sendiri. Betapa masih banyak orang yang pernah lebih menderita dibandingkan dengan aku yang disiksa perasaanku sendiri. Yeah, sometimes i'm afraid of myself.

Aninda,

Aku belum pahami betul apa maksud semua ini. Apakah ini hanya ujian godaan religi ataukah hanya sekedar momen penguras rasa? Rasa dimana gelisah tak pernah pudar.



Pharmindo-Leuwi Panjang-Paninggilan 16-18 Januari 2011.



Minggu, 02 Januari 2011

Selasa, 28 Desember 2010

The Pace (2)

Life is just a blast, it movin' really fast, so you better stay on top or life'll kick you in the ass...*

Kamis, 9 Desember 2010

Perjalanan ke Banjarmasin adalah satu yang selalu berkesan. Utamanya kalau bicara tentang persiapan. Tujuan perjalanan kali ini adalah untuk mempresentasikan draft pekerjaan sesuai dengan due date yang ada dalam kontrak perjanjian. Untuk itu, memang sudah seharusnya dokumen-dokumen kerja disiapkan sehari sebelumnya. Tapi, justru itulah yang membuat perjalanan ini selalu berkesan.

Rupanya, saya masih terjerat kebiasaan lama untuk menyelesaikan laporan menjelang dini hari, pukul 01.00 laporan dan semua dokumen baru selesai dipersiapkan. Makanya, saya hanya punya sedikit saja waktu istirahat karena pukul 04.00, taksi yang akan mengantar kami ke Bandara akan sudah standby sejak pukul 03.30.

Dengan mata yang masih pedas, tim yang cuma dua orang ini melangkah gontai untuk sekedar menyegarkan diri. Adzan subuh pun belum di telinga ketika kami menyusuri tol yang sepi. Jalanan kosong berteman lampu temaram seperti menapaki ketiadaan. Usai sholat subuh dan check-in kami melanjutkan istirahat di boarding lounge.

Cuaca memang tidak terlalu cerah ketika pesawat take-off. Karena memang masih mengantuk, kami sepakat untuk tidur saja sepanjang penerbangan 1,5 jam. Lumayan, untuk menambal jam tidur. Lagipula, pramugari dengan belahan rok sampai paha itu tidak akan sengaja membangunkan kami kecuali untuk hal yang benar -benar penting.

Singkat cerita, landasan di Bandara Syamsudin Noor menyisakan basah sisa hujan semalam. Aroma tanah basah dan memori Pakutik saling berkejaran. Cacing dalam perut pun mulai bernyanyi minta diisi. Tidak banyak pilihan memang untuk sarapan pagi di foodcourt bandara. Kalau saja kami dijemput, tentu saya akan lebih memilih sarapan di rumah makan Soto Banjar di Martapura. Saya lupa namanya tapi kalau saja diberi kesempatan kembali kesana saya masih ingat tempatnya.

Akhirnya, kami makan di foodcourt yang punya menu soto banjar. Walau harus kena injury time 15 menit. Sambil menunggu, saya mengenang kembali perjalanan pertama ke Banjarmasin, sarapan di D*nkin Donat, menunggu jemputan, tanda tangan kontrak, makan siang di RM Depot Madina (recommended, potongan ikan patin bakarnya gede banget!), lanjut ekstraksi data ke BPN Banjarmasin (harap dicatat: Bandara Syamsudin Noor terletak di Banjarbaru, sekitar 25 KM dari Banjarmasin), kembali ke Banjarbaru, makan malam di RM Asian, dan menghabiskan malam sambil menonton pertandingan Brazil.

Tugas ini memang terhitung berat semenjak Senior Geologist kami "dipinjam" oleh Rekanan. Terlebih lagi pengalaman saya di bidang pertambangan masih minim bahkan hampir nihil, kecuali pertambangan data di bidang Information Retrieval yang biasa disebut Data Mining. Alhasil, saya hanya punya modal PD Tingkat Dewa untuk berhadapan dengan komite penilai perusahaan mitra.

Semua berjalan lancar setidaknya sampai waktu makan siang tiba. Jamuan makan siang dengan ragam menu ikan pun terbilang baik, di restoran Simpangan, tak jauh dari batas kota Martapura-Banjarbaru. Kalau saja rencana pekerjaan ini masih berlanjut hingga esok mungkin saya lebih memilih di Restoran Seafood Asian. Saya bersyukur masih mempunyai waktu jeda untuk sekedar mempersiapkan diri fokus ke permasalahan pekerjaan. Sedikit tegang memang namun saya tetap percaya bahwa Tuhan pun tidak akan tinggal diam menyaksikan hamba-Nya yang sedang ditimpa kegalauan (emangnya saya ini siapa? Hehehe).

Berkat andil "Tangan Tuhan" yang bekerja dengan caraNya sendiri saya tetap merasa PD. Setelah makan siang, kami kembali membahas hal-hal yang belum sempat dikoreksi bersama. Bab per bab, dengan kantuk yg mulai menggila. Data eksplorasi, sebaran cadangan batubara, data kependudukan, analisa investasi dan keuangan, menjadi menu wajib selanjutnya. Masih dengan kantuk yang mulai padam. Menjelang adzan maghrib (WITA) kami semua sudah menyepakati data-data yang akan direvisi kemudian. Entah kapan, akhir tahun atau awal tahun sepertinya saya masih harus kembali untuk menyelesaikan beberapa dari sesuatu yang tertunda. Rupanya, diluar sana hujan turun lebih deras. Lebih deras dari hujan-hujan di Pakutik. Segera saja kami pamit diantar mobil ke hotel tempat kami akan menginap.

Ada beberapa pilihan untuk menghabiskan malam di Banjarbaru. Namun, pilihan selalu jatuh pada Hotel Rahayu, persis di depan SPBU dan Bank Mandiri Banjarbaru. Hujan belum juga reda dan malam baru saja membuka mata. Rintik gerimis sesaat mengingatkan kami bahwa kami berada ratusan kilometer jauhnya dari Pondok Indah Mall. Artinya, memang sedikit pilihan untuk makan malam. Untung saja, tak jauh di seberang hotel ada warung seafood pinggir jalan yang selalu ramai. Setidaknya, sudah setengah jam ini saya perhatikan dari jendela hotel. Kami pun segera turun untuk makan malam di warung itu.

Usai makan malam, kami belanja keperluan perbekalan untuk besok. Mengingat pesawat kami yang first flight in the morning itu, tidak menyisakan banyak waktu bagi kami untuk sekedar mencari sarapan. Di supermarket sebelah hotel itu pun kami belanja, sambil menatap aneh pada gerobak tukang baso tusuk tak jauh dari tempat parkir. Kami putuskan untuk mampir sejenak sambil ikut menikmati baso tusuk.

Saya jadi ingat, dulu di Pakutik setiap sore selalu ada tukang baso tusuk yang mangkal di depan lapangan badminton. Anehnya, selalu banyak penggemarnya, tidak pernah sepi. Bedanya, disini basonya lebih besar. Satu porsi dijual seharga Rp. 8.000,-, sudah lengkap dengan baso sapi ukuran sedang 3 butir dan 1 baso besar, pilihannya bisa dipotong atau tetap dengan versi original. Yang membedakan dengan bakso lainnya adalah cara makan saja. Namanya bakso tusuk ya makannya ditusuk sambil dicocol ke dalam saus atau kecap tidak memakai kuah. Habis sudah penasaran. Lain lubuk lain ilalang. Lain daerah lain baksonya.

Malam makin meninggi, 22.30 WITA. Mungkin dirumahmu masih pukul 21.30 dan kantuk belum pasti akan segera menyerangmu. Rintik gerimis belum juga usai. Kota semakin sepi. Satu-satu terdengar laju kendaraan yang menapak basah. Entah pukul berapa, kami pun tertidur dengan TV dan AC yang sengaja tidak dimatikan. Just a half way to go home.


10 Desember 2010

Alarm mulai berdendang pukul 04.00. Saya segera mandi dan bersiap sholat subuh sementara rekan saya masih pulas. Rencananya, mobil travel yang akan membawa kami ke Bandara akan tiba pukul 04.30. Usai checkout, kami segera menunggu di lobby hotel. Udara sekitar masih dingin ditemani sisa-sisa gerimis semalam. Masih dengan kantuk yang menggila, kami menuju Bandara yang ternyata sudah menampakkan denyut kesibukan.

Walaupun sudah tiba di Bandara pukul 05.20 ternyata antrian untuk check-in sudah padat merayap. Saya tidak tahu apa jadinya bila kami telat barang lima menit. Mungkin, we will be the last to go. Thanks God, rupanya ada loket yang sengaja dibuka untuk menghandle antrian. Tiket sudah confirmed, bayar airport tax plus retribusi daerah, it’s time to waiting (again). Tak lama kemudian, pintu keberangkatan dibuka dan kami diperbolehkan menaiki pesawat. Entah kenapa, yang terngiang di benak saya hanyalah lagu Michael Buble, “...let me go home..... i’m just too far from where you are...”, padahal baru sehari saja menapak kembali di Bumi Lambung Mangkurat.

Take off. Yeah, we’ll be in Jakarta right away. Karena hanya awan mendung menggantung di sisi jendela lebih baik saya tidur saja. Saya terbangun ketika pramugari yang roknya belah 3/4 paha itu membangunkan saya untuk memperbaiki posisi duduk. Kiss landing, we’re on Cengkareng now. Kok masih mendung ya?

Sambil sarapan, saya melamun dan membayangkan apa yang akan saya lakukan weekend besok. Tak hanya itu saja, saya juga segera mempersiapkan laporan perjalanan dinas untuk segera disimpan di kantor. Mudah-mudahan, weekend ini akan berakhir di Bandung. Itulah yang ada di benak kami berdua.

Saya pikir perjalanan kembali ke kantor akan jadi sesuatu yang biasa saja. Tapi, bukankah justru hidup itu sendiri sudah tidak seperti biasanya? Benar saja, saya mendapat telepon untuk segera merapat ke Ditjen Minerbapabum di Tebet. Padahal, taksi kami masih terjebak macet usai keluar tol di Karang Tengah. Alhasil, kami segera masuk tol dalam kota via Meruya yang macetnya juga minta ampun. Ya sudahlah, saya masih punya waktu istirahat tambahan sambil deg-degan membayangkan urusan di Ditjen. Khawatir? Ya, sangat.

Selesai urusan di Ditjen, kami berdua segera kembali ke kantor. Mengingat ini hari Jum’at kami tentunya berharap tiba sebelum waktu Shalat Jum’at. Rupanya, waktu tidak mengizinkan sehingga kami harus turun di depan masjid yang biasa menggelar Jum’atan. Masih dengan peralatan dan muka yang kusut.

Tak perlu kami ceritakan apa yang kami lakukan saat khutbah Jum’at. Yang pasti kami kembali ke kantor dan segera merapihkan hasil pekerjaan kemarin lalu segera beristirahat. Kalau tidak terlalu lelah, sore ini mungkin kami ke Bandung. Besok saya ada janji dengan seorang kawan. Apa yang terjadi selanjutnya memang bukan kejutan lagi. Kami berdua masih nguplek data sampai tengah malam karena meeting baru selesai menjelang pukul 23.00 Waktu Bagian Republik Ciledug. Memang kadang sesuatu berada di luar kendali kita. Apa yang direncanakan memang belum tentu sesuai kenyataan. Tetapi, bukankah hal-hal seperti itu yang juga menjadikan hidup ini sesuatu yang worth living?

Bandung? Masih ada Sabtu pagi.



Banjarbaru-Tebet-Paninggilan, 10 Desember 2010.

*) OST Mission Impossible II, Limp Bizkit - Take A Look Around

Sabtu, 04 Desember 2010

Saya Tidak Percaya Bahwa Saya Menulis Hal Yang Demikian Eps. 4

To: xxxx_mmmmmm@yxxxx.com
Subject: Surga Pada Semangkok Soto: Kebahagiaan Untuk Sahabat Kita



Dear Mi Amigos,

Kebahagiaan bisa ditemukan pada apa saja. Bukan pada secangkir kopi Starbucks (yang digulain sekilo juga tetep ga manis) atau pada manisnya roti coklat Breadtalk.

Kebahagiaan bisa datang kapan saja, entah ketika baru gajian atau pas lagi cengkak. Pas lagi rieut nyusun skripsi atau pas lagi mimpi.

Kebahagiaan bisa datang dimana saja. Kita tidak selalu harus ke Paris untuk tahu artinya bahagia*, justru teman kita yang satu ini menemukan kebahagiaannya di warung soto pinggir jalan saja.

Kebahagiaan bisa datang dan pergi sesukanya, tak peduli engkau bakal sakit ketika ditinggalkannya, karena ia akan tetap tega.



Bukit Pakar Timur, 2 Agustus 2008.


-telah mengalami proses editing dari postingan e-mail-

*pada salah satu cerpen SGA didalam "Dunia Sukab" Gramedia, 2001

Selasa, 14 September 2010

Malam Terakhir

Tarawih malam terakhir semalam tadi hanya menyisakan sepi dalam balutan kantuk yang semakin menjadi. Dalam 11 rakaat yang entah masih ada pahalanya atau malah nilainya tergerus kantuk itu sendiri.

Tuhanku, apalah yg sudah kulakukan untukmu di Ramadhan yang kesekian kalinya ini? Adakah setiap huruf dalam lantunan ayat-ayat itu bernilai pahala seperti yang telah kau janjikan?

Tuhanku, Ramadhanku kali hanya berisi keyakinan semu. Khattam pun tak mampu. Masih terhenti di deretan ayat An-Nisa. Masihkah ada nilainya bila semua itu menuju padaMu?

Tuhanku, aku berharap semua kelakuanku di RamadhanMu yang akan segera berlalu ini tidak lantas menambah dukaMu yang abadi. Entah harus berapa lafadz maaf harus terucap ke haribaanMu.

Tuhanku, RamadhanMu akan segera berlalu meninggalkan kami yang tertatih menuju ridhoMu. Tiada lain yang kami inginkan selain umur untuk kembali menyambut Ramadhan yang akan datang. Supaya kami bisa semakin menata diri dan berkaca atas segala kealpaan kami terhadapMu.

Tuhanku, diantara bulir-bulir hujan yang semisal dosa kami, kami serahkan kembali padaMu. Asalkan Engkau sedang tidak marah, apapun yang terjadi kami tidak peduli. Kami terimakan dan ridho atas segala keputusanMu.

Tuhanku, maafkan kami yang terlalu lancang untuk selalu mengemis dan meminta supaya doa-doa kami tidak menggantung di langitMu yang maha luas tak terkira. Maka, Ya Allah perkenankan kami (yang tak layak untuk surgaMu ini) untuk sekedar menikmati kesucian di awal bulan Syawal, yang sesungguhnya kami pun malu untuk menyambut hari kemenangan besok.

Tuhanku, di senja yang mendung ini, di ambang Syawal nan fitri, perkenankanlah kami untuk kembali pada kesucian. Seraya menyebut namaMu yang agung, mengumandangkan takbir penuh haru, sambil mengucap selamat jalan Ya Ramadhan. Mudah-mudahan, Engkau masih berbaik hati supaya kami bisa menyambutnya kembali. Barakallahi wa lakum.



Pharmindo, 09 September 2010. 17:55

Minggu, 08 Agustus 2010

Tentang Mimpi-mimpi di Pakutik

Ada mimpi datang dan pergi
Pada senja selintas di musim basah
Sedang kau pun tahu
Tak satu pun menuju padamu

Kau juga tahu
Tak ada rindu meluruh
Saat mimpi menyebut namamu
Hanya kosong yang entah semu




Sedang malam masih merambat
Menambat harap pada bintang
Di pojok langit utara
Gelap, dingin, (dan lagi-lagi) sepi



Pakutik, Sungai Pinang, 4 Agustus 2010. 22.19 WITA
*) dengan ingatan pada sekuen mimpi-mimpi yang berkejaran 3 hari berturut-turut

* crossposting dari tetangga, selendangwarna.blogspot.com

Senin, 12 Juli 2010

Cinta Monyet#4: Hari Pertama

ku terantuk wajah sayu... hari itu bukan sabtu...*

Hari pertama di SMP adalah sebuah kejutan. Berangkat pagi-pagi menuju Jalan Semar. Yang istimewa, teman-teman rumah yang juga kakak kelas ikut nyamper ke rumah. So, we have a walk together dan berpisah di gerbang sekolah. Seperti biasa, ritual pagi itu dimulai dengan bertemu dan berkumpul kembali dengan kawan-kawan SD. Bersama-sama melirik setiap jendela kelas barangkali ada nama masing-masing disana. Tak lama kemudian, kami harus menyadari bahwa ada sebagian dari kami yang tidak akan bersama lagi.

Kalau saya bilang hari pertama itu adalah kejutan maka itu pun tak terlalu salah. Saya bertemu dengan banyak kenalan baru. Sekalipun begitu, dibenak saya masih terbayang wajah E dan A. Kejutan lainnya, saya pingsan pada saat upacara bendera. Entah karena masuk angin padahal sudah sarapan, saya tumbang. Seketika pemandangan disekeliling saya berubah. Ada banyak kunang-kunang. Mirip seribu kunang-kunang di Manhattan**.

Saya tiba-tiba jadi pusat perhatian. Beruntunglah saya karena saya bisa siuman secepatnya. Ketika sepasang mata menoleh, meninggalkan tanya pada sejumput asa. Saya memulai hari pertama sekolah dengan kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Tetapi, saya sadari bahwa kemudian hal itu justru membuat saya jadi pusat perhatian dan bahan obrolan. Sehingga, saya dengan mudah dikenal oleh banyak orang. Kalau waktu itu sudah ada twitter, barangkali pingsannya saya akan jadi trending topic.

Memulai hari pertama dengan perasaan yang tidak menentu membuat saya sedikit malu. Dengan kepolosan anak ingusan saya berhasil melewati hari itu dengan baik. Punya banyak kawan baru dan juga dikenal guru-guru. Dasar anak ingusan, saya pun tidak melewatkan momen-momen untuk sekedar ngeceng anak baru. Sebagai sesama murid baru, hal itu belum dilarang lho oleh Depdikbud.

Ada banyak wajah. Wajah tanpa nama. Mengusik rasa. Hanya ingin sekedar tahu. Terima kasih untuk kesan yang tertinggal.


Paninggilan, 12 Juli 19.25

* dari lirik lagu "Bukan Sabtu", dinyanyikan oleh Kahitna, Album Sampai Nanti (1998)
**dari judul kumpulan cerpen Umar Kayam,”Seribu Kunang-kunang di Manhattan.”


Selasa, 29 Juni 2010

The Diary of a Traveler: Solitary Tour (2)

Perjalanan belum selesai. Saya sadari itu tak lama setelah menghela napas saat duduk di bangku tamu sambil menyantap jatah makan dari yang punya hajat. Saya berniat untuk langsung pulang ke Jakarta dengan naik bis terakhir paling malam dari Purwokerto. Itupun dengan resiko bukan bis AC, tapi bis ekonomi. Mau naik kereta, rasanya saya tidak punya waktu lebih banyak untuk mencoba semua kemungkinan yang ada walau saya masih berkuasa penuh atas diri saya.

Suasana Terminal Bis (Baru) Purwokerto

Kembali ke Purwokerto dengan bis ¾ yang tanpa nama, maksudnya nama PO bis itu tidak terlihat kecuali seluruh bodi yang dipulas coklat. Ongkosnya lebih murah 2 ribu dibandingkan dengan pada saat berangkat tadi. Ini menjadi pertanyaan bagi saya, apakah saya terlihat sebagai pendatang baru di kota ini sehingga si kondektur menarik ongkos pada perjalanan pertama? Bisa saja. Pelajaran lagi untuk saya, daripada tidak tahu sama sekali mendingan sok tahu dan jangan banyak tanya kondektur.

Mendung menggelayuti langit Purbalingga, pertanda bagi awan untuk segera menumpahkan air dari bak penampungannya. Sepanjang jalan, saya teringat sesuatu. Saya teringat pada episode A Trip to Surabaya Oktober 2007. Ya, saya pernah lewati kota ini, Bukateja yang sepi. Ingatan itu tiba-tiba menyeruak begitu saja ketika melihat pemandangan dan pohon-pohon yang berjajar sepanjang jalan Purbalingga-Purwokerto.

Suasana Terminal Bis (Baru) Purwokerto (2)

Hujan semakin menangis. Meninggalkan embun di kaca jendela. Kota yang sudah terlanjur sepi jadi semakin sepi. Purwokerto menyambut senja dalam guyuran hujan. Getuk goreng yang semula masuk daftar oleh-oleh terpaksa dicoret. Biar di terminal banyak yang jual tapi tetap rasanya nggak sreg kalau nggak beli di tempat oleh-oleh yang beneran.

Menjelang senja penutupan, aktivitas terminal benar-benar berkurang. Bis antar kota tujuan Wonosobo tinggal menyisakan bis pamungkas. Kecuali tujuan Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung dimana pemain utama jalur itu mulai bersiap-siap. Sinar Jaya, Dewi Sri, Aladdin, dan Harum mulai memasuki apron. Aroma buangan mesin diesel menyeruak ke udara yang basah. Malam datang begitu saja membawa gelap tanpa guratan matahari senja yang biasanya selalu mengagumkan.

Saya bisa saja pulang ke Jakarta dengan bis AC terakhir jam 9 malam dan masih punya waktu 2,5 jam untuk sekedar melihat-lihat Ibukota Republik Banyumas itu. Tetapi, apa yang bisa dilakukan seorang pengembara dalam hujan deras seperti itu? Akhirnya, saya memutuskan untuk mampir dulu ke Bandung saja. Lagipula, Aladdin sudah menunggu dan siap untuk berangkat ke Bandung. Kalau Aladdin bisa melaju tanpa hambatan berarti saya bisa tiba di Bandung sekitar tengah malam, atau paling lambat jam 00.30. Kejadian seperti ini berulang lagi sama halnya ketika Tour de Pangandaran Desember 2008, saya datang naik bis AC dan pulang naik bis ekonomi. :D

Aladdin, Purwokerto-Bandung

Keluar terminal bis berhenti sejenak untuk mengisi angin ban. Tak hanya itu saja, rupanya saringan udara pun ikut dibersihkan oleh tukang semprot angin dan hasilnya, Omaigat, debunya banyak banget. Tandanya saringan sudah lama tidak dibersihkan. Tidak ada jaminan bis ini akan sampai dengan selamat sentosa tanpa hambatan berarti dan hal itu semakin membuat waswas. Ingin rasanya saya turun dan ganti naik bis AC yang datang jam 7 kurang. Ketika saya akan beranjak turun, bis jalan lagi dan saya pun urung turun. Tidak seperti ketika di bis ekonomi Perkasa Jaya Jakarta-Pangandaran yang semakin membuat saya ingin cepat-cepat turun kabur dan segera bersembunyi di balik jendela Budiman Jakarta-Banjar.

Mudah-mudahan setelah disemprot dan dibersihkan bis tua Aladdin ini mampu berlari di jalur selatan. Kondektur menagih dan saya bayar tiket seharga 45 ribu. Saya rasa cukup mahal untuk tujuan Bandung dengan bis ekonomi seperti ini. Saya pikir harganya sekitar 35 ribu atau 40 ribu. Barangkali, bayar mahal sedikit tidak apa-apa kalau untuk sesekali saja mengingat armada yang digunakan Aladdin juga menyerap biaya operasional (yang tentunya) sangat tidak sedikit.

Perjalanan masih panjang. Itulah yang ada di pikiran saya. Apalagi bis yang saya naiki bis kelas eksekusi eh ekonomi, dengan segala macam ketidaknyamanannya. Rasanya tidak fair juga kalau saya membandingkan Aladdin dengan Sinar Jaya 79 DX. Tetapi, karena hujan masih akan turun sepanjang perjalanan tidak banyak penumpang yang membuka jendelanya. Maka saya membuat suasana senyaman mungkin. Saya nyalakan Si Ngipod, MP3 player yang dibeli setelah pensiun dari SIS. Sisa baterainya tinggal setengah lagi dan itu pasti tidak akan cukup untuk memutar lagu sampai di Bandung nanti sekalipun Aladdin ngeblong habis-habisan.

Saya pasang headset dan mulai menikmati lagu ketika sepasang mata menatap tajam ke arah saya. Seorang anak kecil perempuan duduk diapit kedua orang tuanya yang tertidur pulas-hingga celangap. Sepintas saya balas menatapnya lalu saya biarkan saja anak kecil itu. Mungkin yang ada dipikirannya adalah ada seorang aneh yang berkomat-kamit sambil menatap kosong dalam keremangan bis malam ekonomi. Itu kalau saya tidak salah selebihnya hanya Tuhan yang tahu.

Generally, bis melaju tidak terlalu kencang. Mungkin efek dari raungan mesin yang membuat bis ini serasa berjalan kencang. Hanya sesekali pak supir menggenjot gas dalam-dalam ketika disusul Budiman dari Wonosobo, Sinar Jaya dan Doa Ibu dari Majenang dan Wangon. Hujan pun belum enggan reda. Alhasil, entah karena perasaan saja, perjalanan terasa semakin panjang, seperti hidup ini.

Selepas Majenang menjelang perbatasan Jateng-Jabar seharusnya pemandangan indah itu jelas terlihat andai saja matahari bersedia bertukar tempat dengan malam. Bis terus melaju sambil terus menurunkan dan menaikkan penumpang. Sampai di Banjar Aladdin masuk terminal, yang jelas bukan untuk mencari si Abu atau Jin yang bersemayam di lampu wasiat. Lajur keberangkatan diisi oleh Doa Ibu Banjar-Jakarta Ekonomi via Cianjur-Puncak dan Budiman dengan stiker khas di jendelanya: EURO 2 BANJAR-JAKARTA Eksekutif.

Setiap lewat Banjar saya selalu teringat pada Rumah Makan Beti yang terletak di sebelah kanan jalan arah Jateng/Pangandaran (dari Bandung) 200 m sebelum pertigaan yang belok kanan arah Pangandaran. Waktu saya kesana (A Trip to Surabaya, Oktober 2007) memang tidak ada sesuatu yang wah dan spesial dari rumah makan ini. Tetapi, paman saya yang sering mampir kalau mudik ke Magelang punya alasan sendiri. “Masakan ikannya gak bau tanah dan hanyir. Kopinya juga bikin melek kok. Terus ikan bakarnya enak.”

Sekilas, memang menunya kurang lebih sama dengan rumah makan khas Sunda sejenis yang ada di jalur lintasan antar kota. Barangkali, nilai lebihnya si Beti terletak pada apa yang disebutkan paman saya. Untuk pembaca yang kebetulan sering lewat jalur selatan saya rekomendasikan untuk istirahat mengisi perut di Rumah Makan Beti. Dari jalan raya, anda sekalian tidak akan kesulitan menemukan RM Beti karena papan namanya “ngajeblag” (baca: cukup besar) dan ada efek spotlightnya bila tersorot cahaya.

*

Setelah melewati terminal Ciamis yang sepi, waktu tepat menunjukkan pukul 23.00 WITA (Waktu Indonesia Bagian Tasik). Hujan tinggal menyisakan gerimis di Kota Tasik yang sudah sepi. Yang tertinggal di terminal hanyalah para penjual rokok dan mi instan yang tertidur dekat kiosnya masing-masing. Di lajur apron Budiman, dua bis eksekutif tujuan Jakarta sudah bersiap. Yang satu akan berangkat 23.30 dan satu lagi 01.00 ke Kampung Rambutan tentu saja.

Kalau saya boleh menyarankan, seandainya pembaca jalan-jalan ke daerah selatan Jabar-Jateng dan akan kembali ke Jakarta, banyak alternatif yang bisa ditempuh. Saya pelajari dan merangkum hal ini dari pengalaman Tour de Pangandaran sebelumnya. Apabila anda ingin menghabiskan malam di jalan supaya sampai pagi/subuh ke Jakarta, usahakan untuk tiba di Terminal Banjar sebelum jam 23.00 karena saat itu ada bis terakhir Budiman tujuan Jakarta, AC Eksekutif dengan tarif 55 ribu, tidak include makan dan istirahat di Rumah Makan Grupnya Budiman di Nagreg. Kalau mau lewat Tasik, seperti sudah saya tulis diatas, Budiman Tasik-Jakarta Eksekutif AC masih melayani sampai pukul 01.00 dini hari. Tarifnya 45/50 ribu. Asumsi ini saya buat berdasarkan pengamatan saya di lapangan terutama pada waktu weekend. Mudah-mudahan berguna bagi pembaca yang senang jalan-jalan apalagi kalau juga senang naik bis seperti saya ini.

Kembali ke perjalanan. Aladdin berhenti sekalian istirahat sekitar 40 menit. Saya kira Aladdin akan berhenti di rumah makan atau tempat jajan oleh-oleh bukan di terminal. Saya hanya bisa mengangguk ketika menyadari yang dimaksud Tasik oleh kondektur tadi itu adalah Terminal Tasik bukan tempat istirahat di Tasik. Memang setelah membayar tiket saya sempat bertanya akan istirahat dimana. Dan seharusnya saya sudah tahu dari jawaban kondektur yang tidak meyakinkan itu bahwa akan ada sesuatu yang terjadi, dan itu terjadi saat istirahat ini.

Saya tidak keberatan bila Aladdin beristirahat di terminal. Lagipula saya masih punya bekal makanan dari Neni. Hal ini menimbulkan perasaan was-was apakah bis akan istirahat lagi nanti. Tetapi, saya juga semakin menyadari bahwa saya sekarang sedang ada dalam perjalanan dimana masih banyak variabel yang mungkin berubah. Saya berada jauh dari zona nyaman yang sudah terlanjur melekat belakangan ini. Itulah pelajaran yang saya rasakan di perjalanan saya kali ini. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Purbalingga sendirian. Kalau diingat kembali jarak yang sudah saya tempuh sejak dari Metro Mini Ciledug-Blok M, Sinar Jaya 79DX, hingga PO Tanpa Nama, saya hanya bisa mensyukuri bahwa saya masih sehat wal afiat dan masih sanggup mengakhiri perjalanan edisi Solitaire Tour*** ini.

Perjalanan dilanjutkan. Berdasarkan pengalaman, hambatan selanjutnya adalah Nagreg. Ada selentingan yang beredar dari orang-orang terminal kalau di Nagreg sedang macet. Suatu hal yang lumrah sekaligus aneh di tengah malam seperti ini. Mungkin saja, barangkali ada trailer/tronton nggak kuat nanjak. Keluar terminal, saya langsung tidur. Berhubung tidak ada pemandangan lagi dan si Ngipod juga kehabisan tenaga. Sempat terbangun sebentar, dan memang benar saudara-saudara sekalian, Nagreg Macet! Saya tidur lagi.

Angin yang berhembus dari jendela yang terbuka membangunkan saya. Saya segera menyadari bahwa sekarang sudah berada di Cipacing dekat Cileunyi. Saya tertidur lagi karena mungkin setengah jam lagi bis tiba di Cicaheum. Saya kembali terbangun tepat di depan LP Sukamiskin. Saya segera bersiap untuk turun tapi mata ini masih berat akhirnya saya tidur lagi sebentar. Klakson bis di terminal yang sepi membangunkan saya. Hawa dingin Bandung kembali menusuk seperti biasa. Tidak ada aktivitas di terminal. Bis Aladdin segera parkir di jalurnya, ditemani Sami Djaya. Dekat pintu keluar, supir angkot ramai berkumpul di depan TV. Brazil VS Pantai Gading. 02.45 WIB (Waktu Indonesia bagian Bandung).

*

Kalau pembaca mengira perjalanan saya selesai sampai di Cicaheum maka anda semua salah. I still have a long way to go after all the long road on this trip. Sambil terkantuk-kantuk saya naik angkot Cicaheum-Ciroyom yang hanya butuh waktu setengah jam saja untuk sampai di Jl. Pajajaran. Di suatu daerah dekat situ yang sering disebut Pandu, saya turun, masih dengan rasa kantuk namun angin dinginnya memaksa mata saya untuk selalu waspada. Maklum, dini hari begini banyak hal yang biasanya terjadi. Saya berjalan menyusuri Jl. Samiaji dan berbelok di Jl. Teluk Buyung. Walaupun bukan di rumah sendiri, still feels like home. 02.20 WIB. Rupanya yang punya kamar sudah tahu kalau saya bakal datang sehingga saya tidak menemui banyak kesulitan untuk menyaksikan pertandingan Brazil VS Pantai Gading. This is the end beautiful friend****.

*

Catatan Setelah Perjalanan

Perjalanan adalah petualangan menuju diri sendiri. Bagi saya pribadi, melakukan perjalanan sendirian adalah pekerjaan yang tidak ringan sama sekali. Betapa banyak pergolakan dalam pikiran ini. Karena bagimanapun dan apapun yang terjadi saya bertanggungjawab atas sukses atau gagalnya perjalanan. Selain itu, menjadi tidak gampang karena saya melakukan perjalanan ke suatu bagian dunia yang saya hanya tahu letaknya saja dalam peta dan cerita dari kawan-kawan di forum www.bismania.com. Namun, ketika saya sudah melangkah saya semakin tahu kemana tujuan saya dan apa saja yang harus saya lakukan untuk mencapai tujuan itu.

Saya semakin belajar bahwa bagian terpenting dari perjalanan adalah tujuannya, bukan caranya. Tujuan itulah yang seharusnya jadi fokus perhatian karena tanpa fokus, perjalanan akan kehilangan esensinya. Dalam perjalanan itupun betapa masih banyak variabel yang akan berubah dan kadang-kadang terjadi begitu cepat. Misalnya, jadwal keberangkatan bis yang berubah. Hal itu tentu saja menyulitkan tetapi dengan persiapan yang matang saya yakin semua itu hanya akan jadi bumbu cerita dan bahan pelajaran untuk perjalanan selanjutnya.

Ketersediaan informasi melalui berbagai media harus dimanfaatkan dengan baik sebagai persiapan terlebih ketika tujuan perjalanan adalah daerah yang pertama kali dikunjungi. Supaya tetap bisa fokus pada tujuan, saya sarankan lebih baik mengadakan riset kecil-kecilan. Untuk bekal di jalan, selain makanan dan snack, saya juga sarankan untuk membawa peta. Tidak usah peta besar/lengkap, cukup peta ukuran saku yang biasanya dibagikan secara gratis setiap musim mudik. Hal ini sangat berguna untuk memperhitungkan jarak dan waktu perjalanan. Apabila anda senang bercerita, siapkan juga catatan untuk menuliskan cerita perjalanan anda.

Hal lainnya, saya juga semakin sadar bahwa saya harus belajar bahasa Jawa. Alasannya sederhana, kemanapun saya pergi saya selalu bertemu dengan orang Jawa. Alangkah baiknya bila saya mampu berkomunikasi dengan mereka walau hanya untuk sekedar bertanya. Selain itu, saya tidak ingin dianggap sebagai orang asing terutama di tanah mereka sendiri sehingga saya harus bisa menjalin keakraban dengan mereka.

Akhirul kalam, setiap perjalanan adalah membuka segala kemungkinan yang masih dimungkinkan oleh takdir karena segala sesuatunya bisa berubah begitu cepat. Manusia melakukan perjalanan karena ada yang dituju, seperti hidup ini juga. Tinggal bagaimana caranya untuk mencapai tujuan itu. Cara yang baik akan menghasilkan kebaikan, begitu juga sebaliknya.



Paninggilan-Banjarbaru-Bandung, 29 Juni 2010. 23.18


*** Nama Solitaire diambil dari kata Soltero/Soltera yang dalam bahasa Spanyol berarti Single. Namun, penulis kemudian menyadari bahwa Solitaire berarti card game, single gemstone, dan songbird (Kamus Encarta DVD 2009). Selain itu, alasan lainnya adalah karena lagu Solitaire (Carpenters) versi Clay Aiken selalu terngiang sepanjang perjalanan. Barangkali setelah cerita ini selesai ditulis judulnya akan diganti menjadi “Solitary Tour”.

****dari lirik lagu The Dorrs, “The End”

*) Foto Terminal Bis Purwokerto courtesy Reski Harimurti, Aladdin courtesy Julian Bismania taken from www.bismania.com


The Diary of a Traveler: Solitary Tour

Seperti yang pernah saya baca, perjalanan adalah petualangan menuju diri sendiri*. Dan kini, saya sedang mengalami perjalanan itu. Tujuan saya sudah jelas, Desa Kedungjati, Bukateja, Purbalingga. Semalaman, saya mengalami kebingungan yang lumayan mengganggu. Saya tak henti berpikir untuk menentukan terminal keberangkatan. Namun, saya segera tersadar bahwa dalam perjalanan yang terpenting adalah tujuan akhir, bukan dari mana kita berangkat. Berangkat bisa dari mana saja sepanjang pengetahuan kita memang memadai untuk mencapai tujuan itu. Maka, alternatif keberangkatan pun diputuskan antara terminal Grogol atau Pulogadung.

Mengingat saya harus bangun lebih pagi untuk mengejar bis yang berangkat pagi saya berusaha untuk menghindari pertandingan Inggris kontra Aljazair. Tetapi seringkali kenyataan berkata lain, saya malah bangun kesiangan sehingga mau tidak mau harus berangkat naik bis dari Pulogadung. Ya, pilihan paling logis untuk berangkat ke arah timur (Jawa Tengah dan Jawa Timur) adalah dari Pulogadung karena bis selalu tersedia dengan jadwal yang fleksibel.

Walaupun saya sudah sering bolak-balik ke terminal Pulogadung, saya belum pernah sekalipun naik bis arah timur dari sana. Tadinya, saya mau beli tiket lewat loket-loket yang tersedia. Namun, sebelum dihadang calo-calo yang berkeliaran saya memutuskan untuk berjalan kaki agak jauh hampir mendekati pool PO Dewi Sri sambil berharap ada bis Sinar Jaya lewat siap berangkat. Tak lama kemudian, Sinar Jaya AC Eksekutif Jurusan Jakarta-Tegal-Slawi nomor bodi 79 DX bermesin Hino RG dan dilengkapi air suspension menghampiri saya. Saya pun naik dan berharap sampai tujuan tepat waktu. Walau masterplan tetap Bukateja, Purbalingga, saya akan mampir dulu di rumah seorang kawan di Losari, Brebes. Mudah-mudahan, bis ini mengantarkan saya sampai sana sampai ceritanya berubah, nanti kau akan simak ceritanya.

Sinar Jaya dari Pulo Gadung
79DX yang saya naiki karoseri model Setra bukan Travego seperti ini


Sedikit kembali ke awal. Perjalanan ke Pulogadung hingga selepas tol JORR Cakung-Cikunir adalah tentang kenangan. Kenangan yang terlintas ketika hanya mampu berdiri menunggu Metro Mini P42 sedangkan Sinar Jaya dan bis AKAP lainnya hanya menyisakan debu-debu yang bertebaran and semburat dihajar asap knalpot yang hitam pekat. Kenangan lainnya saling beradu ketika terbayang segala ingatan tentang bis kecil dan Primajasa yang selalu keluar-masuk pintu tol Bekasi Timur. Untuk saya pribadi, pertama kalinya saya melintas jalur Pantura (dari Jakarta) dan pertama kalinya pula (nanti) merasakan jalan tol Kanci-Pejagan yang kemarin baru diresmikan.

Perjalanan ini terasa sangat menyenangkan karena saya hanya sendirian. Saya memiliki kebebasan dan kuasa penuh atas diri saya sendiri. Sendirian tanpa teman bagi saya bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan. Itu adalah konsekuensi logis dari tindakan seseorang seperti saya. Sebelumnya, Desember 2008 saya pun melakukan perjalanan sendirian ke Pangandaran, berbekal sedikit pengetahuan tentang bis Budiman. Jadi, hal ini mestinya tidak menyulitkan karena saya sudah pernah mengalami sebelumnya. Apapun yang terjadi, ada ataupun tanpa teman, saya akan tetap berangkat. Saya akan sampaikan salam dari teman-teman semua untuk kebahagiaan kedua mempelai walau harus menempuh perjalanan sendirian.

Sepanjang perjalanan, saya ditemani lantunan suara emas bossa nova dari Olivia Ong dan Susan Wong. Lain kali akan saya ceritakan perjumpaan saya dengan mereka. Lagu-lagu yang terkesan soft dan calm itu tidak berhasil membuat saya tertidur. Saya tetap terjaga. Barangkali, karena saya duduk di bangku paling depan sehingga tidak mau ketinggalan untuk melihat pemandangan khas Pantura. Kalaupun ada yang membuat saya sedikit gemas adalah ketika bis Sinar Jaya yang saya naiki disusul bis lainnya seperti Kramat Djati dan Dewi Sri jurusan Jakarta-Pekalongan serta Primajasa tujuan Garut, Tasik, dan Bandung.

Pantura yang gersang namun tetap memberi suatu perasaan yang menenteramkan dengan hamparan sawah yang menghijau luas. Tidak banyak titik kemacetan barangkali karena tengah bulan sehingga tidak terlalu banyak aktivitas kendaraan yang melewati jalur Pantura. Memasuki daerah Lohbener Utara, Indramayu, bis istirahat. Usai makan dan menunaikan shalat, saya mengamati bis yang saya naiki. Mendengarkan suara mesinnya dan melihat dari dekat kaki-kaki air suspension. Sejenak saya diam sambil menggumam “You’ve got a long way to go, Son.”.

Bis kembali berangkat. Setelah melewati daerah Arjawinangun, bis masuk tol Kanci-Pejagan. Saya kira hal ini tidak akan berpengaruh pada rute yang akan saya lalui sampai Losari sampai saya sadar kalau ternyata saya salah. SMS dari Budi, kawan saya, segera mengingatkan saya bahwa bis tidak akan lewat Losari, melainkan langsung bablas sampai Pejagan lalu lanjut ke Tegal. Mengetahui demikian, saya tidak bisa tidur sepanjang jalan tol. Jalan Tol Kanci-Pejagan yang baru diresmikan dan diurus oleh Bakrie Toll Road rupanya masih terlalu baru. Cor-coran jalannya masih terasa keras seperti pertama kali Tol Cipularang dibuka tahun 2005. Yang lebih membosankan adalah jalurnya yang lurus membentang hampir 39 KM. Bagi pengemudi tentu hal ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kantuk. Lagipula, tidak ada tempat istirahat seperi di tol Cikampek-Jakarta. Rasanya bagaikan a long road to heaven**.

Setelah keluar dari pintu tol, bis menuju pertigaan jalan Losari-Tegal. Belok kiri Losari, Belok kanan Tegal. Atas petunjuk Budi, saya turun di pertigaan itu, 100 meter sebelum rel kereta api yang membentang sejajar dengan jalan raya utama. Saya pun segera menghampiri sahabat lama yang kini kembali pulang ke rumahnya di Losari. Jabat tangannya masih hangat dan mantap seperti waktu di Bumi Jatinangor dulu. Sore yang indah dan senja yang masih seperti biasa menutup hari tatkala perut telah terisi masakan rumahan khas Losari.

Malam minggu di Losari adalah malam yang biasa namun hangat. Anak-anak sudah pulang dan tidur di rumahnya masing-masing. Remaja-remaji yang masih mencari jat diri mencoba menghibur hati dengan keliling kota bersama kekasih. Menikmati malam minggu di Losari yang mungkin hanya sekali ini saja dalam episode hidup, saya mencoba untuk menikmati sate longong atau sate blengo, begitu kata Budi, teman saya itu. Blengo adalah hasil persilangan bebek dan mentog, dan hanya jantannya saja yang dagingnya enak buat dimakan. Kenyal-kenyal bebek dan daging sapi. Ditambah nasi atau lontong yang disiram sayur kari. Disajikan dengan tusukan sate yang panjangnya sekitar 30 cm. walau hanya makan 3 tusuk tetapi sudah cukup rasanya. Cukup nikmat dan cukup puas.

Sambil menikmati Tahu Tegal yang tampilannya mirip tahu batagor kami menghabiskan malam. Bulan setengah purnama tersenyum di langit. Angin berdesir pelan. Aroma kopi panas mewangi beradu dengan aroma cengkeh Djarum Super dan Surya Slims. Ada sedikit penyesalan malam itu. Mungkin itu kesalahan saya karena saya tidak cukup responsif untuk meyakinkan Perempuan dari Babakan itu agar mau dan percaya pada saya untuk bersama pergi berdua sampai tempat hajatan. Tiket kereta sialan yang sudah dipesan itu kali ini jadi penghalang rindu. Tetapi, itu tak jadi soal. Seperti yang sudah saya bilang di awal tadi, With or without her, saya akan tetap pergi kesana. Malam semakin meninggi, raungan truk barang terdengar semakin nyaring, persis seperti malam-malam di Jatinangor.

*

Hari Minggu. Lagi-lagi saya underestimate. Saya pikir saya akan sudah berangkat jam 7 pagi. Tetapi kesiangan lagi sehingga harus check-out dari rumah Budi jam 8.30. Itu pun masih sempat sarapan. Rencananya, saya akan lanjut ke Tegal untuk naik bis tujuan Purwokerto. Biasanya, Tegal menjadi transit bis tujuan Purwokerto sehingga akan mudah bagi saya untuk mencapai tujuan. Setelah ketinggalan bis Sahabat jurusan Cirebon-Tegal-Semarang karena terhambat di kasir mini market seberang agen PO. Dewi Sri, akhirnya tiba bis Goodwill trayek Bandung-Tegal-Purwokerto AC Ekonomi. Setelah berdiri sampai pertigaan Pejagan (tempat saya turun kemarin) saya membayar tiket seharga 25 ribu. Lumayan murah untuk perjalanan yang cukup memakan waktu ini.

Goodwill, Bandung-Tegal-Purwokerto, AC Ekonomi

Selanjutnya, perjalanan menuju Purwokerto diselingi dengan pemandangan indah khas Banyumasan selepas perbatasan Kab. Brebes dan Kab. Banyumas. Pemandangan hijau tanah subur alam makmur semakin menandakan kekayaan alam Indonesia ini. Entah karena memang jaraknya masih jauh atau bis yang tidak terlalu ngebut perjalanan terasa panjang. Tepat pukul 13.35 Goodwill masuk terminal Purwokerto. Penampilan terminal tidak jauh berbeda dengan yang saya lihat sebelumnya di website www.bismania.com. Dengan perasaan lega saya turun dari bis sambil plengak-plengok kiri kanan atas bawah, timur ke barat, selatan ke utara. Maklum, ini kali pertama saya menginjakkan kaki di bumi Banyumas.

Dengan sedikit bingung saya susuri satu per satu apron terminal antar kota. Tujuannya jelas: Wonosobo. Seorang calo yang menolak disebutkan namanya memberitahu jalur keberangkatan ke Wonosobo. Sebelum kesana, saya melewati jalur bis lainnya. Ada PO Efisiensi yang lebih popular dengan sebutan “Mbak Efi” dengan armada barunya melayani trayek Purwokerto-Jogja kelas Patas AC, sedangkan saingannya ada Sumber Alam yang menawarkan paket kelas eksekusi maaf kelas ekonomi. Ada juga bis tujuan Solo, Pemalang, dan Surabya. Nah, barulah mendekati ujung sebelum line bis arah Sumatra, yang pada hari itu dikuasai Lorena terselip bis-bis kecil mirip Trans Metro Bandung dengan tujuan Wonosobo.

Saya naik dan tak lama beberapa penumpang yang tadinya bersama saya di Goodwill ikut naik sehingga bis terisi penuh dan langsung meninggalkan terminal. Saya kira bis ini akan melaju dengan kecepatan normal tetapi ternyata saya salah. Karena biarpun kecil dan muatannya penuh, Pak Supir yang entah namanya siapa itu terus memacu bis dengan kecepatan diatas Metro Mini. Alhasil, perjalanan Purwokerto-Bukateja cukup ditempuh dengan waktu 45 menit dan ongkos 8 ribu rupiah saja. Saya turun di Perempatan Pasar Bukateja, tepat seperti SMS dari Neni. Melanjutkan perjalanan, opsi terakhir hanyalah becak. Bukateja hanyalah kota kecil di lintasan Purwokerto-Purwodadi-Wonosobo. Kehidupan kotanya pun masih bercorak tradisional agraris, tidak terlalu semarak dibandingkan Losari atau Cirebon.

Sesuai petunjuk Neni, saya bilang ke penarik becak minta diantarkan ke tempat hajatan di Desa Kedungjati lengkap dengan nama Bapaknya Neni yang saya kira bakal jadi semacam password yang akan mempermudah saya untuk mencapai TKP. Ternyata saya salah (lagi). Bapak penarik becak rupanya tidak tahu dan malah mengantarkan saya ke depan rumah Yang Terhormat Bapak Kepala Desa. Setelah memperkenalkan diri sebagai tamu dari yang punya hajat dan menyebutkan asal dari Jakarta barulah Pak Kepala Desa yang baik hati menunjukkan arahnya. Tak lama kemudian, saya berhasil menuju TKP. Orang terakhir yang saya tanyai adalah tetangga yang punya hajat yang menyambut saya dengan ramah sambil menunjukkan lokasi.

Naik becak membuat saya keringatan namun itu segera terbayar karena Neni rupanya menyambut saya di pintu masuk TKP. Saya langsung bercengkerama dengan orang tua yang punya hajat, Bapak dan Ibunya Neni. Setelah itu, kami saling bertukar cerita tentang apa yang terjadi selama ini diantara teman-teman kuliah sambil menikmati hidangan. Ada fakta yang menarik, bahwa setiap hajatan pernikahan di daerah itu akan berlangsung terus menerus sepanjang hari sampai besoknya walau tenda sudah diturunkan. Menarik, karena saya pikir saya sudah terlalu kesorean dan mungkin saja hajatan sudah selesai. Tetapi, kenyataan bahwa apa yang Budi bilang semalam itu memang kenyataan. Hajatan masih berlangsung dan saya tidak terlambat. I made to the FINISH LINE, but still, you have a long way to go, Son!


(end of Part I: klik untuk sambungan cerita to be continued)


Paninggilan-Banjarbaru-Bandung, 29 Juni 2010. 23.08



*kalau tidak salah ada dalam kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Atas Nama Malam”, Gramedia Pustaka Utama, 1999

** dari satu judul film yang bercerita tentang teroris bom bali, dibintangi Surya Saputra dan Alex Komang. Disutradarai oleh Enison Sinaro. Dirilis Januari 2007, produksi Kalyana Shira Films.

*)foto bis courtesy Rado Sinaga, Julian Bismania, www.bismania.com