Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2016

In Bed with Models

Courtesy: www.goodreads.com
Back to year 2006, terbit sebuah buku yang menurut saya fenomenal. Buku ini tidak berada di deretan Best Seller toko buku namun masuk kriteria fenomenal. Mengapa? Mau tidak mau harus diakui Moammar Emka-si penulis buku- memang menulis sesuatu yang benar-benar terjadi dan mengangkat realitas yang sedang terjadi dalam dunia permodelan sejagad republik. Ditambah gimmick judul yang benar-benar provokatif dan merangsang setiap pembaca ingin tahu lebih dalam seluk beluk jagad permodelan.

Setidaknya,  buat saya pembacaan buku ini mengandung beberapa makna. ‘In Bed With Model$’ mengandung makna “sesuatu” yang bersifat di balik layar. Tertutup dan tersembunyi. Kamar adalah ruang pribadi untuk segala macam aktivitas yang pribadi pula. Sehingga, paduan kata dalam judul diatas adalah sebuah realitas yang distempeli cap “RAHASIA” atawa “CONFIDENTIAL”. 

Penggunaan kata “Model$” yang menggunakan simbol dolar ($) adalah satu bentuk penggambaran sisi-sisi gelap dan rahasia dari sejumlah model yang ia temui selalu melibatkan unsur uang, dalam jumlah kecil maupun besar. Sebuah kegiatan transaksional.

Buku ini ditulis dalam waktu yang cukup singkat. Menurut penulisnya sendiri, ia hanya memerlukan waktu 20 hari. Itu sudah termasuk mengorek ingatan dan reka ulang adegan sepanjang pengalaman penulis bersama model-model. Oh ya, tulisan Emka juga enak dibaca secara random karena tidak ada sekuensial pada setiap judul. Sehingga, tidak masalah bila pembaca membaca “Party With Model$” lebih dahulu dan mengakhirinya dengan “Money Talks”.

Judul           : In Bed With Model$
Penulis        : Moammar Emka
Penerbit      : GagasMedia
Tahun          : 2006
Tebal           : 252 hal.
Genre          : Gaya Hidup

Cipayung, 24 Juli 2016

Kode Untuk Republik: Sejarah Kiprah Sandi Negara

"Ada benang merah antara kerahasiaan dan kemerdekaan, di Indonesia kita menyebutnya Sandi Negara."

Impresi pertama saya atas buku ini adalah buku ini harus saya miliki karena bicara tentang sejarah republik. Menilik judulnya, "Kode Untuk Republik" tentunya bicara soal peran kode-kode yang dihandle oleh sebuah Dinas perkodean pada masa perang kemerdekaan. Dinas perkodean tersebut selanjutnya dinamakan Dinas Kode. Kini, Dinas Kode telah berevolusi menjadi sebuah badan otonom dibawah komando Presiden yaitu Lembaga Sandi Negara.
 
Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini terhitung memiliki cakupan yang lengkap. Artinya, selain menggunakan sitasi referensi yang valid dan meyakinkan, penulisnya terampil untuk memasukkan sejarah penciptaan sandi. Tentunya, hal ini berguna bagi pembaca awam sebagai penyelaras konteks sebelum pembacaan detail mengenai peran kode dalam perang kemerdekaan. Awalnya, bagi sebagian pembaca mungkin terasa membosankan namun bisa tulisan tersebut diabaikan agak sulit untuk memahami beberapa istilah yang digunakan pada bab-bab berikutnya.

Penulis mengambil alur sejarah mulai dari Perang Dunia Kedua, dimana sebuah mesin bernama 'Enigma' menjadi sebuah kartu as bagi Pasukan Jerman dalam menaklukkan daerah-daerah incarannya. Dari Perang Dunia itu, imbas yang terasa pada Indonesia adalah drama kekalahan Jepang. Rencana operasi militer Jepang dapat diketahui Sekutu melalui mesin-mesin pemecah kode sehingga mereka bisa menyiapkan serangan untuk menghalau aksi Jepang.

"Perang Kode" antara pemerintahan Republik melawan pemerintahan Hindia Belanda yang berupaya untuk menduduki kembali Indonesia terjadi secara terbuka. Dinas Intelijen Militer Hindia Belanda, NEFIS, yang selama pendudukan Jepang hijrah ke Australia kembali ke Indonesia usai perjanjian-perjanjian antara Republik dengan Hindia Belanda. 

Dinas Kode mulai mendapati peran pentingnya ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I dan II. Dengan siasat gerilya kolaboratif, petugas-petugas sandi setidaknya berhasil menyampaikan beberapa pesan penting, untuk membuktikan bahwa Republik benar-benar masih ada. Mereka adalah pahlawan-pahlawan perang kemerdekaan yang sayangnya kini tidak banyak dikenal. Bersyukur sekali, buku ini mampu menghadirkan kembali kenangan atas mereka sebagai usaha apresiasi atas segala daya upaya dan usaha mereka untuk Republik.

Dinas Kode sendiri mengalami beberapa perubahan nomenklatur sejak berada di Djawatan Sandi Angkatan Perang, Djawatan Sandi, hingga menjadi Lembaga Sandi Negara yang berurusan dengan segala macam tetek bengek kriptografi untuk kepentingan pemerintah NKRI.

Saya tidak kesulitan menamatkan buku ini. Buku ini menyitir kembali buku-buku yang telah saya tamatkan yaitu "Doorstoot naar Djokdja" karya Julius Pour dan biografi Jenderal Spoor karya J. A. de Moor. Buku ini ditulis dengan sistematis dan memiliki daftar pustaka sebagaimana layaknya buku-buku sejarah. Untuk saya, hal ini adalah sangat penting. Agar "Kode Untuk Republik" tidak hanya menjadi penghias di perpustakaan Lembaga Sandi Negara semata. Tetapi juga, menjadi lentera bagi republik.

Judul        : Kode Untuk Republik
Penulis        : Pratama D. Prasadha
Penerbit    : PT. Marawa Tiga Warna
Tahun        : 2015
Tebal        : 237 hal.
Genre        : Sejarah Indonesia

Cipayung, 23 Agustus 2016.

Kamis, 26 Mei 2016

Komik Edukasi Perencanaan Keuangan

Courtesy: www.goodreads.com
Eksistensi komik sebagai media penyampai pesan yang efektif kembali diuji melalui komik ini. Setidaknya itu hipotesis yang saya ajukan usai pembacaan komik ini. Komik ini saya beli empat tahun yang lalu, dan baru beberapa hari kemarin ditemukan sehingga saya baru bisa tulis di blog sekarang. Padahal saya sempat membuat review singkat di Goodreads.

Perencanaan keuangan. Sesuatu yang selalu menjadi topik pembicaraan seputar masalah manajemen keuangan. Apalagi, booming kelas menengah yang sedang melanda negeri ini membuat segala tetek bengek soal perencanaan keuangan mendapat tempat sendiri dalam masyarakat. Peran perencana keuangan mulai dibutuhkan untuk menanggulangi kecemasan di masa depan.

Perencanaan keuangan yang baik tentu dimulai dari kesadaran yang timbul sebagai akibat dari ekspektasi. Pada suatu kondisi dimana uang menjadi barang yang langka, tentu dibutuhkan strategi khusus untuk tetap memilikinya. Masalahnya, hingga saat ini masyarakat belum memiliki suatu guidance/petunjuk yang jelas soal investasi dan instrumen keuangan lainnya agar uang yang mereka miliki dapat tumbuh dan berkembang. 

Media komik sebagai media komunikasi visual dapat membantu kesenjangan informasi mengenai hal tersebut. Penyampaian gagasan dari Financial Planner terkemuka di negeri ini menjadi satu nilai tambah tersendiri bagi muatan pesan yang ingin disampaikan. Saya pun harus kembali menguji hipotesis saya, apakah pembaca mampu menerapkan pelajaran manajemen keuangan setelah membaca komik ini? Saya kira nanti saja, di tulisan yang lain. Entah kapan.

Akhir kata, selamat belajar merencanakan keuangan.

Judul        : Komik Perencanaan Keuangan Mr. Edu
Penulis     : Mike Rini Sutikno
Penerbit   : PT. Elex Media Komputindo
Tahun       : 2010
Tebal        : 120 hal.
Genre       : Manajemen-Keuangan

Medan Merdeka Barat, 26 April 2016.

Senin, 30 November 2015

Catatan Seorang Ahli Forensik

Kebenaran, sedalam apapun disembunyikan ia akan menampakkan dirinya. Kesan itulah yang saya dapat dari pembacaan buku ahli forensik yang sangat berpengalaman mengolah berbagai kasus besar di Indonesia. Saya kagum, bahwa dengan kesibukannya beliau masih mampu menuliskan pengalamannya menangani kasus-kasus besar. Sebut saja Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi. Lagi, mengenai kasus kematian aktivis HAM, Munir. Usaha beliau dalam menyibak fakta-fakta tersembunyi patut diacungi jempol dan diapresiasi setinggi-tingginya, ditengah usaha pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyembunyikannya.



Buku ini dibuka dengan pengantar dari pengacara kondang (yang kini tersandung kasus) O. C. Kaligis dan kriminolog Adrianus Meliala. Pendapat mereka sangat membantu dalam pembacaan kisah-kisah penulis karena dapat menjembatani pengalaman awam pembaca terhadap penulis. Penulis sendiri dengan pengalaman yang cukup panjang dalam berkiprah di bidang kedokteran forensik menyuguhkan tulisan-tulisan yang logis, ilmiah, dan faktual.
Menarik untuk menyimak penuturan penulis pada bab pertama. Penulis mengungkapkan berbagai temuannya seputar tragedi Semanggi, kematian aktivis buruh Marsinah, keanehan seputar peristiwa meninggalnya Bung Karno, hingga tragedi penembakan Nasruddin dan misteri dibalik meninggalnya aktivis HAM, Munir. Beliau menulis banyak soal kejanggalan-kejanggalan dan fakta tersembunyi dalam semua kasus tersebut. Ada banyak temuan-temuan yang faktual namun entah bagaimana mereka tidak pernah tersampaikan atau tampil menghiasi media massa. Dengan begitu, hilangnya nyawa dan selesainya kasus berhenti pada kesimpulan sementara semata. Tanpa mengindahkan fakta-fakta yang menyebabkan terjadinya kejadian-kejadian tersebut.
Memasuki bab selanjutnya, penulis menghadirkan sekelumit kisah tentang keterlibatan bidang kedokteran forensik dengan perkara kepolisian. Penulis agaknya sengaja membuat pendekatan yang lebih ilmiah agar peran kedokteran forensik dapat diterima sebagai sesuatu yang wajar dan masuk akal dalam mengungkapkan satu kasus kejahatan/kriminal atau kecelakaan. Penulis mengambil contoh kasus dari beberapa kejadian penting yang melibatkan kasus kematian karena penembakan, ledakan, dan kecelakaan pesawat. Pada bab kedua ini, penulis lebih memberikan penekanan terhadap manfaat dan kegunaan kedokteran forensik.
Penulis juga tidak melepaskan perhatiannya kepada kasus kejahatan narkotika dan psikotropika serta pengaruh alkohol dalam kedokteran forensik. Penulis mengungkap juga satu kasus besar soal narkotika yang melibatkan Zarina, sang Ratu Ekstasi. Pada bab ketiga ini, penulis tidak terlalu banyak menulis pengalamannya.

Pengalaman penulis tidak terbatas hanya pada kasus kriminal yang melibatkan orang dewasa. Penulis juga mengungkap beberapa kasus yang pernah ditanganinya dalam hal kekerasan seksual dan kejahatan terhadap anak. Dalam bab ini, penulis banyak mengungkapkan pendapatnya mengenai kasus bayi tertukar, bayi hasil dari aborsi, pedofilia. Termasuk, kasus mutilasi anak dengan modus yang sama sekali baru dimana pelaku memotong korbannya dalam beberapa bagian dan disebar di berbagai tempat.
Bab 5 ditandai dengan judul yang menyatakan kedokteran forensik sebagai “pisau” ilmiah. Namun, bab ini lebih membahas seputar hal-hal teknis dari kedokteran forensik itu sendiri. Untuk membedakannya dengan bab-bab sebelumnya. Pada bab terakhir, penulis memberikan keterangannya sekali lagi pada beberapa kasus pembunuhan, mutilasi, kematian Marsinah, hingga kematian Fathurahman Al Ghozi, tertuduh teroris yang meninggal di Filipina dan sempat membuat hubungan Jakarta-Manila menegang beberapa tahun silam.
Harus diakui bahwa tidak banyak ahli yang mampu menuliskan berbagai pengalamannya selama berkecimpung dalam satu bidang keahliannya. Adalah satu kekhususan dimana penulis mampu menuliskan beberapa kasus penting yang turut melibatkannya dalam pemeriksaan forensik. Perlu dicermati bahwa penulis menyertakan fakta-fakta yang jarang atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh publik. Saya mencermati pada kasus Munir, keterangan yang diberikan pada buku adalah sama dengan keterangan yang penulis berikan pada wawancara atau pun coverage media cetak lainnya. Dengan demikian, tidaklah terlalu salah bila buku dilabeli voice of voiceless.

Judul          : Indonesia X-Files
Penulis       : Abdul Mun'im Idries
Penerbit      : Noura Books
Tahun         : 2013
Tebal          : 359 hal.
Genre         : Memoar-Kedokteran Forensik


Halim Perdanakusuma, 26 November 2015.

Senin, 14 September 2015

Dekade Kejayaan Luftwaffe



28 Juni 1919, Jerman resmi menandatangani Perjanjian Versailles yang disusun oleh negara-negara Sekutu pemenang Perang Dunia I. Perjanjian ini mengharuskan Angkatan Udara Jerman dibubarkan dan peralatannya dihancurkan. Suatu harga mahal yang harus dibayar setelah satu perang yang menghasilkan pilot-pilot tempur dengan kemenangan terbanyak dan mendominasi berbagai front pertempuran. Juga diperkenalkannya pesawat pemburu pertama yang memiliki senjata yang dapat menembak melalui baling-baling.

Luftwaffe dulunya adalah Die Fliegertruppen des Deutschen Kaisserreichs (Jawatan Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jerman) yang disingkat Fliegertruppe. Pada Oktober 1916, namanya berubah menjadi Deutsche Luftstreitkräfte, Angkatan Udara Jerman. 

Selama Perang Dunia I, AU Jerman meraih nama harum dengan menggunakan pesawat-pesawat pemburu Albatros dan Fokker lalu menghasilkan para ace termasyhur. Diantaranya adalah Manfred von Richtofen, Ernst Udet, Oswald Bölcke, Werner Voss, Max Immelman, dan Hermann Göring. Beberapa diantara mereka pun sempat menjadi petinggi Luftwaffe. Luftstreitkräfte juga menggunakan pesawat pembom Gotha dan kapal udara Zeppelin untuk membom Prancis, Belgia, dan Inggris. 

Setelah kalah perang, AU Jerman dibubarkan pada 8 Mei 1920. Seluruh pesawat terbang militer Jerman dihancurkan. Keadaan demikian menimbulkan kemarahan pada awak penerbang tempur Jerman. 

Keadaan itu tetap berlangsung hingga Hitler merebut kekuasaan dan naik tahta. Hitler melihat nilai lebih Hermann Göring, pengikut setianya itu. Seorang ace perang dengan Pour le Merite. Hitler kemudian memberi Göring kekuasaan yang besar. Pada tahun 1933, Göring menjadi pemimpin Reichluftfahrtministrium (RLM), Kementerian Udara Reich.

Kendati masih terikat dengan Perjanjian Versailles, sebuah departemen penerbangan disusun secara rahasia dan dilatih sebagai bagian dari Angkatan Darat. Sekutu kemudian mencabut larangan pembuatan pesawat terbang sipil pada 3 Mei 1922. Dengan demikian, Jerman kembali memproduksi sejumlah pesawat seperti Dornier, Heinkel, Junkers, Arado, dan Messerschmitt. Keberadaan Luftwaffe tidak dibuka kepada dunia hingga Maret 1935 dan disamarkan sebagai Kementerian Udara. 

Messerschmitt Bf-109. Courtesy: www.promare.co.uk

Luftwaffe mendapatkan misi pertamanya ketika Perang Saudara Spanyol pecah pada bulan Juli 1936. Kesempatan ini dijadikan ujian bagi peralatan, personil, maupun teori militer mereka. Hitler mengirim bantuan untuk pasukan pemberontak sayap kanan pimpinan Jenderal Franco. Korps sukarelawan Luftwaffe itu dinamakan Legiun Kondor. 

Perang di Spanyol itu memberikan pelajaran berharga bagi Luftwaffe. Teknik formasi terbang longgar, nilai pemboman tepat dengan menukik, dan efek pemboman karpet dicatat dan digunakan kembali ketika Perang Dunia II pecah.

Luftwaffe turun dalam medan perang sesungguhnya pada saat Reich menyerbu Polandia lewat serangan Blitzkrieg, 1 September 1939. Serangan itu sebenarnya menimbulkan kerugian besar karena Luftwaffe kehilangan 285 pesawat dan 279 lainnya rusak. Walaupun begitu, reputasi kehebatan mereka di udara tidak lantas pudar. Prancis dan Inggris pun tidak berani melawan sekalipun telah menyatakan perang. 

April 1940 Reich menyerang Skandinavia dengan sasaran Denmark, Norwegia, dan Swedia. Dominasi Luftwaffe membuat mereka leluasa menyerang armada sekutu. Selanjutnya, invasi berlanjut ke Prancis dan negara-negara rendah. 

Usai takluknya Prancis, Hitler makin bersemangat menyerbu Inggris. Inggris sendiri memang khawatir serangan Luftwaffe dapat meruntuhkan pertahanan udara mereka. Dengan kekuatan yang ada, Royal Air Force masih mampu menahan serangan Luftwaffe.

Junkers Ju-87 Sturzkampfflugzeug "Stuka". Courtesy: www.homebuiltairplanes.com

Selain bertempur di Front Barat, Hitler juga membuka wilayah pertempuran lainnya yaitu di Afrika Utara dan Rusia. Hitler dan sekutunya, Mussolini, berusaha merebut koloni Inggris dan Prancis di Afrika Utara dan Laut Tengah. Pertempuran yang kelak jadi masalah bagi pertempuran di Front Timur menghadapi Tentara Merah Stalin. 

Dengan jumlah armada pesawat tempur yang berkurang Jerman tidak lantas meningkatkan kapasitas produksinya. Mereka menghasilkan pesawat dengan jumlah yang sama seperti di masa damai. Berbeda dengan Inggris yang langsung menggenjot produksi hingga titik maksimal. Faktor inilah yang kemudian menyebabkan gagalnya Luftwaffe memberikan bantuan optimal bagi Wehrmacht dalam merebut Stalingrad dan Moskow. 

Pertahanan udara Jerman sendiri sangat rapuh dengan keadaan tersebut. Insting Hitler yang hanya mengandalkan perhitungannya semaa terbukti gagal menyelamatkan Berlin dari serbuan pesawat tempur Sekutu.  Kendati pesawat tempur bermesin jet telah diperkenalkan hal itu tidak banyak membantu. Kebijakan Hitler yang menginginkan banyak pesawat pembom menyebabkan produksi pesawat pemburu model baru tidak mencapai kapasitas yang seharusnya. Hitler kemudian menyadarinya namun semua sudah terlambat. Jerman diambang kekalahan. 

Bulan Mei 1945 yang tersisa dari sebuah kekuatan udara modern pada zamannya hanyalah rongsokan pesawat terbang yang bertebaran di berbagai lapangan terbang di Jerman. Luftwaffe dibubarkan pada tahun 1946. Luftwaffe dibangun kembali ketika Angkatan Perang Republik Federal Jerman disiapkan pada medio 1950-an untuk menghadapi konflik model baru. Perang Dingin. 

Sebagai bagian serial sejarah Perang Dunia, buku ini cukup komprehensif dalam menyajikan peristiwa perang yang melibatkan Luftwaffe. Didukung dengan daftar pustaka yang lengkap. Beberapa gambar dan ilustrasi dalam buku pun bersumber dari referensi yang relevan. 

Tinjauan mengenai kekuatan armada Luftwaffe pun disajikan secara lengkap dan detail. Tidak saja hanya pesawat-pesawat pemburu dan pembom legendaris seperti Dornier Do-17, Junkers Ju-52/3m, Junkers Ju-87 Sturzkampfflugzeug 'Stuka', Heinkel He-111, Messerschmitt Bf-109, Bf-110C4, 

Kisah-kisah lain seputar personil operasi Luftwaffe pun menjadi nilai lebih tersendiri. Terutama ketika menemukan fakta bahwa ada sebuah kebajikan dalam perang. Ketika itu, pesawat pembom Sekutu dikawal keluar medan pertempuran oleh pesawat pemburu Luftwaffe. Hingga kedua pilot pesawat meninggal, mereka tetap bersahabat. 

Buku ini hadir untuk melengkapi khazanah pengetahuan mengenai sejarah perang. Khususnya, Perang Dunia II. Selebihnya, buku ini pun dapat menjadi ensiklopedia mini tentang kehebatan dan kejayaan sebuah Angkatan Udara, sejak kemunculannya hingga batas nasib yang mampu dicapainya.


Judul        : Luftwaffe: Kisah Angkatan Udara Jerman Nazi 1935-1945
Penulis     : Nino Oktorino
Penerbit   : Elex Media Komputindo
Tebal        : 238 hal.
Tahun       : 2013
Genre       : Sejarah-Militer


Dharmawangsa, 29 Juni 2015. 



Senin, 31 Agustus 2015

Di Kaki Bukit Cibalak




Saya termasuk pembaca yang bersyukur dengan terbitnya edisi cetak ulang dari karya-karya Ahmad Tohari. Sebut saja, Kubah, Senyum Karyamin, Mata Yang Enak Dipandang, hingga Di Kaki Bukit Cibalak. Saya tidak lagi perlu bertanya-tanya kapan bisa membaca karya beliau yang dulu hanya bisa ditemui dalam bibliografi. Judul lainnya, saya rasa tinggal hanya menunggu waktu saja untuk diterbitkan kembali. Republished atau reprinted. 

Secara umum, Ahmad Tohari masih meninggalkan signature individunya yang khas dan detail mengenai latar belakang cerita dalam konteks kehidupan di pedesaan yang sederhana. Latar yang digunakan untuk bukunya ini kurang lebih sama dengan suasana alam yang kental dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-Jantera Bianglala-Lintang Kemukus Dini Hari. Novel ini terhitung novel singkat. Tentu bagi pembaca yang sudah mafhum dengan novel lain karya beliau. 

Berlatar pada tahun 1970-an dimana pembangunan yang digaungkan Orde Baru terasa hingga ke desa Tanggir. Desa yang begitu damai hingga akhirnya penuh kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur. Imbasnya, desa Tanggir menjadi sorotan setelah seorang warganya yang tidak mampu berobat mendapat simpati begitu besar usai kemunculan beritanya di sebuah harian lokal yang terbit di Yogyakarta. 

Adalah Pambudi, putra desa Tanggir yang tersingkir usai berselisih dengan Kepala Desa yang berhasil mengantar Mbok Ralem menuju kesembuhan penyakitnya. Usahanya di kota besar itu kemudian malah menjadi pukulan baginya karena sang Kepala Desa tidak senang dengan teguran dari Pak Camat, yang juga mendapat teguran dari atasannya, Pak Bupati.

Sekembalinya dari urusan dengan Mbok Ralem, Pambudi juga menemui dirinya dalam ancaman fitnah yang dilancarkan mantan koleganya di Koperasi Desa, Poyo. Ia membuat pencatatan laporan keuangan palsu yang membebankan hilangnya kas Koperasi atas nama Pambudi. 

Pambudi merasa tidak ada lagi gunanya untuk melalukan 'perlawanan' di desanya sendiri. Ia dengan berat hati meninggalkan desanya dan pergi ke Yogyakarta. Sebuah keputusan yang tidak mudah karena harus meninggalkan tambatan hatinya, Sanis. 

Petualangannya di Yogyakarta membawa Pambudi pada petualangan baru dalam hidupnya. Ia sudah bertekad untuk ikut ujian masuk kuliah. Ia juga sempat bekerja pada seorang pedagang arloji dan akhirnya berlabuh kembali ke harian 'Kalawarta'. 

Keberhasilannya di Yogya bukan tanpa tragedi. Pambudi harus merelakan Sanis diperistri oleh sang Kepala Desa yang culas dan bajul itu. Kendati begitu, Pambudi lagi-lagi harus mengalami pergulatan batin yang juga tidak mudah kala berhadapan dengan Mulyani, anak pemilik toko arloji majikannya dulu. 

Ahmad Tohari menyajikan sebuah cerita ringan yang sarat konflik tanpa meninggalkan ciri khasnya: alam pedesaan, tokoh anti-hero, dan kesewenangan penguasa. Sekilas, rasanya seperti membaca 'Orang-Orang Proyek' namun dengan jalan cerita yang lebih pendek. Novel ini seakan ingin bercerita bahwa sekecil apapun pengorbanan akan mendapatkan hasil walaupun menuntut pengorbanan lainnya.


Judul        : Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis     : Ahmad Tohari
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Tebal        : 192 hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Fiksi-Nove

Dharmawangsa, 28 Juni 2015