Tampilkan postingan dengan label sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepakbola. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 September 2013

Cinta di Atas Perahu Cadik


Mukadimah

Sudah sejak 2008 lalu saya memendam keinginan untuk membaca buku ini. Maklum, dalam kumpulan cerpen terbaik ini ada cerpen dari penulis favorit. Sebut saja, Seno Gumira Ajidarma dan Budi Darma. Serta tidak ketinggalan, Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu. Seringkali saya hanya mampu menatapi buku ini setiap mampir ke toko buku langganan di Palasari. Tanpa mampu menggenggamnya hingga ke meja kasir.

Lima tahun kemudian, saya berhasil menamatkan pembacaan buku ini. Saya rasa ada alasan mengapa Tuhan baru mempertemukan kembali kami sekarang ini. Agaknya, saya telah membuktikan apa yang pernah ditulis SGA dalam cerpen 'Linguae': Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lama pun selama aku mencintainya.

Catatan Empat Cerpen

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen terbaik dari Seno Gumira Ajidarma yang berjudul sama dengan judul buku. Kisah seorang Sukab dan Hayati yang saling mencintai walau keduanya telah sama berpasangan. Berlatar kehidupan masyarakat nelayan pesisir, cerita ini seakan-akan mewakili kenyataan hidup yang berlangsung sehari-hari. Kecuali, bila pembaca menggugat hilangnya Sukab dan Hayati selama tujuh hari itu sebagai hal yang tidak masuk akal.

Cerpen lain yang menjadi favorit dalam buku ini adalah 'Kisah Pilot Bejo' yang ditulis oleh Budi Darma. Kisah seorang pilot bernama Bejo yang selalu 'bejo' dalam menerbangkan pesawat. Budi Darma agaknya mengambil sebuah realita yang kemudian dituangkannya kembali dalam bentuk sebuah cerita pendek. Pembaca tentu sudah lebih paham bila membaca metafora dan analogi yang disajikan oleh Budi Darma. 'Kisah Pilot Bejo' memberikan kita gambaran bahwa dunia penerbangan di negeri kita pernah mengalami hal yang demikian.

'Gerhana Mata', dari Djenar Maesa Ayu adalah cerita yang saya sukai dari segi penuturan dan bahasa. Pemilihan diksi yang tepat menjadi kunci cerpen ini untuk merebut hati saya.

"Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan." 

Betapa sebuah dunia dapat menjadi nyata dalam gelap. Hanya dalam gelap sang narator dalam cerita dapat merasakan cinta. Selebihnya, saya mendapat nuansa realitas yang kental dalam cerpen ini. Pertemuan sepasang kekasih yang terlarang adalah sebuah bumbu kehidupan metropolitan. Atas nama cinta, semuanya terjadi.

Cerpen 'Tukang Jahit' dari Agus Noor sudah menyentak sejak paragraf awal. Jarum dan benang si tukang jahit yang konon diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya adalah satu unsur kejutan yang mau tidak mau sukses menggiring pembaca untuk terus melanjutkan pembacaan atas cerpen ini. Tukang jahit ini bukan tukang jahit sembarangan. Tukang jahit ini adalah satu-satunya yang tersisa dari sekian banyak tukang jahit yang pernah berjaya di kota itu. Ia tidak hanya menjahitkan pakaian. ia juga mampu menjahit kebahagiaan.

Sepintas, cerita ini mengingatkan saya pada cerpen SGA lainnya yaitu 'Manusia Gerobak'. Baik SGA maupun Agus Noor menceritakan manusia gerobak dan tukang jahit yang sama-sama muncul setiap menjelang lebaran. Saya tidak heran akan hal seperti ini. Kalau pembaca sudah sering menbaca karya mereka, tentu akan dapat menarik suatu benang merah atas keduanya.

Cerpen Lainnya

Cerpen lain dalam buku ini juga memiliki nilai dan pesannya masing-masing. 'Lampu Ibu' yang ditulis Adek Alwi bercerita tentang kekuatan dan ketegaran seorang Ibu. Terutama, ketika satu anaknya tersangkut kasus korupsi dan jatuh sakit. Ada nilai moral yang dapat diambil dari cerita itu. Terlebih, kasih Ibu tiada batasnya, tak terhingga sepanjang masa.

Cerita tentang legenda tukang nasi goreng bernama Koh Su pun tak kalah menariknya. Kerinduan akan rasa dan segenap misteri yang menyelubungi Koh Su menjadi bumbu yang membuat cerpen ini semakin menarik dan penasaran. Cerpen 'Koh Su' tulisan Puthut EA ini harus disimak betul sampai akhir cerita bila memang pembaca penasaran soal asal usul Koh Su dan bumbu nasi goreng ajaibnya.

Romantisme masa lalu turut juga dihadirkan oleh Wilson Nadeak lewat 'Serdadu Tua dan Jipnya'. Kisah seorang pensiunan yang menghabiskan sisa hidupnya dengan memelihara sebuah jip Willys tua ini menjadi suatu romantika tersendiri. Romantika itu hadir dalam segenap konflik antara si serdadu tua dengan istrinya. Namun, penulisnya berhasil mengubah haluan sehingga akhir (ending) dari cerita ini tidak selesai disitu.

'Sinai' dari Dewi Ria Utari dan 'Belenggu Salju' dari Triyanto Tiwikromo adalah dua cerpen satir yang cenderung gelap. Keduanya bercerita tentang gelapnya jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah keabadian. Sedang, 'Bigau' yang ditulis Damhuri Muhammad, lebih mengangkat unsur dan nilai legenda tradisional. 'Bigau' bercerita tentang seorang jagoan yang memiliki kesaktian yang diperolehnya lewat sebuah cara yang hanya dia saja yang mampu melakukannya. Konflik muncul ketika ia harus mewariskannya.

'Lak-Uk Kam' dari Gus Tf Sakai bercerita soal penjaga mercusuar yang selalu sendirian setiap bertugas. Tiga bulan sekali ia dirotasi ke mercusuar-mercusuar lain. Tiga bula sekali pula ia merasakan kesendirian yang sama.

GM Sudarta muncul dalam kumpulan cerpen ini. Sebagaimana telah kita kenal sebelumnya, GM Sudarta adalah seorang kartunis dengan karyanya yang mashur yaitu 'Oom Pasikom'. Cerpen 'Candik Ala' yang ditulisnya mengingatkan saya pada lirik pembuka pada lagu Koes Plus, "Melati Biru'. Cerpen ini bercerita soal kenangan seorang anak terhadap ayahnya. Dibumbui dengan candikala, suatu titimangsa dimana batas-batas gaib menjadi samar.

'Sepatu Tuhan' yang ditulis Ugoran Prasad, seketika mengingatkan kita kepada sepakbola, terutama soal piala dunia. Simak kisah sepatu Franz Beckenbauer dan si 'Tangan Tuhan' Maradona. Romantisme sepakbola dan melankoli persahabatan adalah dua unsur yang berpadu dalam cerpen ini.

Dua cerpen terakhir pun agaknya juga mengesankan bagi saya. 'Hari Terakhir Mei Lan' yang ditulis Soeprijadi  Tomodihardjo membawa pembaca pada suasana China dimasa penuh pergolakan. Sedangkan, 'Gerimis Yang Sederhana' dari Eka Kurniawan, yang sekaligus jadi cerpen terakhir, bercerita soal pertemuan dua orang. Yang membuat saya menyunggingkan senyum adalah kenyataan bahwa si pria menyembunyikan cincin kawinnya dan tak sengaja tercampur dengan recehan yang ia berikan pada pengemis. Betapa naifnya hidup ini bahwa masih saja ada cerita soal pria beristri yang menyembunyikan identitasnya setiap akan menemui seorang perempuan yang baru dikenalnya.

Konklusi

Sebuah cerpen berpacu dengan keterbatasan ruang cerita. Apalagi, ketika harus muncul dalam ruang media cetak koran. Penulis dituntut mampu membuat cerita pendek yang kaya dengan sintesa pengalaman dengan cara yang meyakinkan. Oleh karena itu, setiap cerpen yang muncul di hari Minggu ini memiliki konflik dari dunianya sendiri. Dunia yang terbentuk dalam keterbatasan ruang cerita. Sekalipun begitu, semuanya membuktikan bahwa dalam sebuah keterbatasan ada banyak ruang untuk sebuah cerita.


Paninggilan, 14 September 2013.


Senin, 19 September 2011

Pelajaran Sejarah: 18 "Penjahat" Paling Dimusuhi dalam Piala Dunia





Sepakbola adalah suatu wahana kehidupan. Entah benar atau tidak, tetapi sepakbola telah menjelma menjadi satu entitas yang akan selalu hidup dalam benak dan sanubari penggemarnya. Adalah sepakbola juga yang menggambarkan berbagai realita kehidupan. Sejatinya adalah tentang betapa tipisnya sekat pemisah antara kemenangan-kekalahan, pahlawan-pecundang, kerja keras-keberuntungan dan beberapa hal menarik lainnya yang mampu disajikan oleh hidup ini.

Simak saja beberapa penjelasan tentang siapa yang mengusulkan adanya asisten wasit yang berlari kesana-kemari seperti setrika, atau siapa pula yang berinisiatif mengadakan hukuman dengan kartu merah dan kartu kuning. Tidak hanya itu, buku ini juga menyajikan cerita-cerita tentang tokoh sepakbola pada zamannya. Ditulis dengan memperhatikan timeline, maka pembaca tidak akan terlalu sulit untuk membayangkan lorong waktu dalam cerita beserta tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya. Semua tokoh itu tampil dengan sensasinya masing-masing. Eropasentris Sir Stanley Rous, Maradona dengan ke"dewa"annya, glamorisme David Ginola, kebodohan David Beckham, kedipan maut Cristiano Ronaldo, hingga anomali kesalahan terhadap Marco Materazzi. Temukan juga alasan lain selain Battle of Tiera del Fuego, tentang mengapa pertandingan Inggris VS Argentina selalu jadi "perang suci" bagi kedua tim.

Semua kisah mengajarkan pada kita bahwa sepakbola pun tak ubahnya seperti hidup yang biasa kita jalani. Semua ingin menuju puncak kejayaannya, entah bagaimana caranya, yang pasti kita semua selalu ingin jadi pemenang. Walau kadang, (seperti sudah ditulis diatas) batas antara pemenang dan pecundang, sangatlah tipis.


Judul : Football Villains: Kisah Seru 18 "Penjahat" Paling Dimusuhi dalam Sejarah Piala Dunia
Penulis : Owen A. McBall
Penerbit : B-first
Tahun : 2010
Tebal : 202 hal.
Genre : Olahraga-Sepakbola


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 19 September 2011.

Kamis, 30 Desember 2010

Our Garuda Has Landed

...we hate it when our friend become succesful...*

Euforia publik sepakbola nasional kembali meninggi setelah Timnas Indonesia berhasil masuk Final AFF Cup 2010. Usai pertandingan melawan Filipina dimana Indonesia memang sudah duluan kalah 12-0 (dalam hal kegantengan dan ketampanan) publik seakan dibuai bahwa meraih piala AFF yang pertama kalinya adalah bukan keniscayaan semata. Tingkat keyakinan hyper-confident seakan dialami skuad Garuda yang kini dihuni pemain-pemain baru (yang kelak jadi idola baru) macam Irfan Bachdim, Achmad Bustomi, dan Cristian Gonzales.

Ketika wasit meniup peluit panjang tanda Indonesia akan mencoba mengganyang Malaysia di Final, saya sudah menduga bahwa dua partai final itu akan jadi antiklimaks untuk Indonesia. Saya tidak begitu yakin Timnas akan meraih mahkota AFF. Terserah anda mau sebut sekalian menjuluki saya seorang nihilis-pesimis yang antinasionalis.


Memang demikian adanya. Anda boleh kaget, kecewa dan jadi orang pertama yang tidak menerima kenyataan ini. Entah kebetulan atau memang sudah takdirnya mesti begini ternyata memang betul kejadian. Garuda jatuh tertembak laser Melaise. Tanda-tanda itu sudah tersirat. Bukan hanya dari membludaknya jumlah penonton sehingga menimbulkan kerusuhan soal tiket. Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak yakin bahwa Timnas akan juara tahun ini.

So, inilah alasan-alasan itu:

1. Setiap Timnas main, masjid selalu sepi. Kadang hanya tinggal muadzin yang merangkap jadi imam sekaligus makmum. Kemana Pak Kiai atau Pak Haji yang biasa berdoa dengan khusyuk itu? Barangkali kalau beliau-baliau itu mau lebih khusyuk dan mampu menggiring umat untuk sama-sama mendoakan Timnas di masjid maka tidak perlulah Timnas diistighosahkan. Semoga Tuhan selalu memberkahi para Muadzin.

2. Suporter yang banyaknya bukan main itu sholatnya dimana? Apakah ada waktu barang sebentar saja untuk sekedar meluangkan waktu sholat? Tentu ada berbagai macam alasan dan juga pembenaran. Entah fasilitasnya memang tidak mencukupi hingga takut tidak kebagian tempat duduk. Bagaimana Timnas mau menang kalau yang mendoakannya saja nggak sholat?

3. Kaos timnas mirip dengan Timnas Portugal. Mantan penjajah juga. Bedanya jelas, mereka punya Cristiano Ronaldo, kita punya Irfan Bachdim. Portugal adalah tim hebat which is nggak pernah juara! Entah di Eropa ataupun dunia. Paling banter, ikut merasakan final. Makanya, Indonesia juga cukup sampai final saja!

Addendum: Ngurus tiket aja nggak bisa kok mau jadi juara?

Itulah beberapa alasan yang cukup simple bagi saya. Tentang kenapa Timnas belum diridhoi Tuhan untuk menggenggam piala AFF tahun ini. Terserah anda, apakah anda punya analisis, pembenaran, atau pendapat sendiri. Ini murni celoteh saya. Buat yang protes, ingat ini blog saya.

Paninggilan, 29 Desember 2010.

* Morissey, We Hate It When Our Friend Become Succesful

mengenang kalahnya Timnas Indonesia secara agregat 4-2 dari Melaise di Turnamen AFF Cup 2010.

Rabu, 13 Oktober 2010

Saya Tidak Percaya Bahwa Saya Menulis Hal Yang Demikian (Eps. 2)

Dia:
Dunia berputar, semua itu menjadi kenangan.Ini mungkin karena perasaan yang palsu. Haha.

Saya:
Ya, begitulah hidup dengan segala konsekuensinya. Picture fade away, memory is forever.

Dia:
Benar fren.
Karena hidup adalah pilihan.

Saya:
Karena hidup kadang terlalu banyak memberi pilihan...

Dia:
Setiap pilihan ada keuntungan dan resiko, kita harus bisa mengetahui dan menerimanya.

Saya:
Once u took it, there's no way back.... But memory will linger forever...

Dia:
Kuingin perasaan ini pergi.

Saya:
Jalani yg ada, walau kadang sulit... Momen-momen itu akan kembali... Bukan sekedar reuni akbar belaka.

Dia:
Benar kawan, tapi terkadang perasaan itu datang tanpa tak diduga.

Saya:
Perasaan, betapapun adanya sungguh bisa menipu, semoga kau benar... Awalnya adalah pikiran... So, manage your minds...



Paninggilan, 12 Oktober 2010. 23.17


* mengenang satu percakapan yang berlangsung ketika Persib Bandung takluk dari Deltras Sidoarjo, 4-1, di Kota Lumpur, Sidoarjo.

** telah mengalami editing sebelumnya dari bahasa SMS, tanpa mengurangi esensi isi.

Sabtu, 17 Juli 2010

Setelah Malam Ini

Setelah malam ini
Ratu Sofia masih harus berpikir
Akankah Catalan dimerdekakan
Seperti Habibie melepas Timor Timur

Setelah malam ini
Hanya tinggal sisa cerita
Tentang keinginan-keinginan tanpa batas
Menuju horison terasing*


Setelah malam ini
Masih ada rasa mengusik
Tentang nama yang tersirat
Laki-laki lain dalam secarik surat**

Setelah malam ini
Angin berdebar menyebar impresi
Dan malam kian mendendangkan sunyi
Aku (masih) sendiri



Paninggilan, 12 Juli 2010. 03.59


ditulis usai Spanyol mengalahkan Belanda, 1-0 di Final Piala Dunia 2010

* Horison Terasing, satu judul pameran yang pernah diselenggarakan di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung
** Laki-laki Lain dalam Secarik Surat, Kumpulan Cerpen Budi Darma, Bentang Pustaka, 2008


NB: judul diatas sama dengan judul lagu Kahitna, Setelah Malam Ini, album Permaisuri (2000)

Minggu, 02 Mei 2010

Olićianist

Perkenalan saya dengan Ivica Olic dimulai media Januari 2004 ketika menukangi Bayern Muenchen musim 2003-2004 di Championship Manager 03, game yang kini berevolusi menjadi Football Manager. Waktu itu, Olic masih merumput bersama CSKA Moskow. Sebenarnya waktu itu Muenchen sudah punya penyerang hebat seperti Roy Makaay, Claudio Pizarro, dan Roque Santa Cruz. Namun, mengingat Muenchen harus tampil di turnamen Eropa maka saya membawa Olic untuk jadi pelapis skuad utama bersama Robert Prosinecki yang sekarang sudah pensiun dan Milan Obradovic, midfielder Real Zaragoza.

Agaknya, keputusan saya tidaklah terlalu salah. Muenchen juara DFB Pokal/Piala Jerman, runner-up UEFA Champions League karena kalah dengan gol injury time Trezeguet, dan finish ketiga di Championship. Suatu saat nanti, di dunia nyata saya berharap pemain dengan bakat seperti Olic mampu menembus skuad utama tim-tim mapan di Eropa.

Pemain kelahiran Davor dekat Nova Gradiška, Kroasia, 14 September 1979, yang memulai karirnya di klub lokal NK Marsonia sejak 1996 ini sempat singgah di Bundesliga pada musim 1998 bersama Hertha Berlin BSC. Tahun 2000, Olic kembali merumput bersama NK Marsonia sebelum pindah NK Zagreb pada tahun 2001. Bersama NK Zagreb ia meraih gelar juara Liga Kroasia. Musim 2002, Olic merumput bersama Dinamo Zagreb dan menjadi top skorer.

Pada tahun 2003, Olic pindah lagi ke CSKA Moskow. Saya rasa disinilah puncak karirnya sebagai pemain professional. Bersama CSKA, Olic sukses meraih gelar UEFA CUP (2005), Liga Rusia (2003, 2005, 2006), Piala Rusia (2005, 2006) dan Super Cup Rusia (2004, 2006). Musim 2006-2007, Olic kembali ke Bundesliga dengan berseragam Hamburg SV dan menjadi kekuatan inti bersama Rafael van der Vaart. Pencapaian Olic dengan Hamburg adalah Emirates Cup pada 2008. Selama di Hamburg, Olic mencatat 78 kali tampil dengan 29 gol.


Musim panas 2009 lalu akhirnya saya benar-benar melihat Ivica Olic berseragam merah khas FC Hollywood. Sebuah impian yang benar-benar terwujud walau nyaris 5 tahun menanti. Masuknya Olic diharapkan sebagai back-up untuk duet penyerang Muenchen lainnya, Miroslav Klose dan Mario Gomez. Di atas kertas boleh dikatakan seperti itu namun saya tetap yakin bahwa pemain seperti Olic ini lebih pantas masuk skuad utama dibandingkan Klose atau Gomez.

Saat itu benar-benar terjadi. Pada babak per delapan final melawan Manchester United, Olic ikut menyumbang 1 gol yang membangkitkan semangat The Bavarians. Saya pikir pertandingan sudah selesai ketika Luis Nani mencetak gol ketiga United. Namun, semangat petarung yang pantang menyerah khas orang-orang Balkan mampu menjadi titik balik Muenchen. Seandainya Robben tidak membuat gol spektakuler yang menyingkirkan United, saya yakin Oliclah yang akan melakukannya.

Kepantasan Olic bermain untuk tim sebesar Muenchen adalah pada semifinal kedua melawan Olympique Lyonnais. Hattrick Olic sudah lebih dari cukup untuk menancapkan panji Muenchen di Santiago Bernabeu. Setelah Messi terlebih dahulu membuat sensasi musim ini dengan mengandaskan Arsenal lewat 4 golnya, Olic pun mampu melakukan hal yang sama walau hanya berbeda jumlah saja.

Untuk Final 22 Mei nanti melawan Internazionale Milan, saya rasa posisi Olic sebagai striker tunggal atau pun diduetkan dengan salah satu dari Klose atau Gomez pun bisa jadi sangat berbahaya bagi gawang Julio Cesar. Semangat petarung dari Balkan serta campuran bakat Panser khas Jerman bisa jadi mesin yang sangat berbahaya bagi catenaccio ala Mourinho. Dan memang setiap tahunnya selalu terjadi perubahan peta kekuatan klub-klub Eropa.

Saat ini di Eropa memang Messi dengan pesona dan kelincahannya mampu menjelma menjadi the next Il Nostro Dio setelah Maradona. Messi menjadi lebih dari sekedar Messias yang menjadikan Nou Camp sebagai katedral sucinya. Andai saja Messi membawa Argentina juara dunia di Piala Dunia 2010 nanti barangkali Messi pun akan dianggap sebagai “Tuhan”. Sayang sekali, Messi tidak ada di Final tahun ini.

Bagi saya pribadi, memang rasanya seperti khayalan yang menjadi kenyataan ketika akhirnya melihat lagi Ivica Olic di Final European Champions League bersama Bayern Muenchen. Betapa banyak hal yang terjadi begitu cepat dan kadang-kadang mimpi pun bisa jadi kenyataan di dunia ini. Saya tidak tahu apakah memang Tuhan memperhatikan permainannya kala Olic masih menjadi skuad saya di Final Champions League musim 2003-2004. Sekalipun begitu, sebagai Olićianist, saya pun yakin Olic akan jadi sang juru selamat bagi Muenchen yang puasa gelar Eropa selama 9 tahun ini.



Paninggilan, 2 Mei 2010, 16.28

Pertanyaan Awal Bulan

Apa benar bahwa buruh yang berdemo itu tahu asal muasal dan sejarah peringatan Hari Buruh Sedunia?

Kalau memang pendidikan diciptakan untuk meningkatkan taraf hidup kenapa sekarang hanya jadi alat untuk cari makan?

Apakah Deo Mi lebih memilih Dong Young daripada Jang Bin? Lalu bagaimana dengan Joon Hee?

Apakah benar Hantu Hellenio Herrera yang ikut membantu memenangkan Italia di World Cup 1982 juga turut berperan dalam kemenangan Internazionale Milan atas Barcelona? Kalau benar begitu, apakah ia juga membisikkan teknik Catenaccio yang sama yang berhasil diterjemahkan oleh Mourinho?

Apakah Hitler ikut menuangkan sampanye ke gelas Mussolini untuk merayakan perjumpaan Bayern Muenchen dan Inter Milan di Final Liga Champions Eropa? Sementara, mungkin Joseph Goebbels, ajudannya bersiap-siap mengerahkan persenjataan ke arah Santiago Bernabeu untuk membalaskan dendam Jenderal Franco.

Apakah benar bahwa Jenderal Franco dan Churchill tidak akan terlalu sedih mengingat Fulham dan Atletico Madrid masuk Final UEFA Cup?

Kalau memang mau membongkar Kasus Century kenapa harus selalu Sri Mulyani?

Kalau sudah jadi tersangka akibat minta kredit dari Century kenapa harus berpikir kejadian itu dipolitisir?

Kenapa orang jujur selalu disingkirkan? Apakah karena ia tidak terlalu pintar?

Jaminan apa yang membuat IMF dan Uni Eropa akhirnya bersedia menggelontorkan kredit untuk menyelamatkan krisis keuangan di Yunani? Apakah sama berdampak sistemik juga?

Jaringan Teroris mana yang sedang mengancam India? MILFnya Abu Sayyaf atau pecahan kelompok Noordin M. Top?