Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2015

Catatan Hati Pengantin

Barangkali benar, tidak ada yang bisa menyiapkan diri kita lahir batin sebelum memasuki gerbang pernikahan. Karena memang tidak pernah ada institusi pendidikan yang membekali seseorang untuk benar-benar siap mengarungi bahteranya.



Harus saya akui bahwa membaca buku bertema pernikahan adalah satu persiapan yang baik bagi calon pengantin. Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami gambaran perjalanan kehidupan pernikahan. Segenap jatuh bangun usaha, turun naik gelombang kehidupan, pasang surut kasih sayang, dalam keseharian pernikahan digambarkan disini.

Ada beberapa nama yang saya kenal yang berkontribusi dalam kumpulan cerita ini. Sebut saja, Novia Syahidah, penulis buku "Titip Rindu Buat Ibu" dan Sinta Yudisia yang juga penulis beberapa buku bestseller. 

Saya mendapatkan gambaran yang lebih nyata bila dibandingkan dengan buku bertema serupa "Sakinah Bersamamu", masih dari penulis yang sama. Ada sepuluh bab yang menghimpun keseharian kehidupan pernikahan. Dimulai dengan hal-hal yang utama dalam pernikahan, yaitu kesehatan dan perekonomian keluarga. Kemudian, perihal rindu terhadap pasangan dan pekerjaan rumah tangga pun jadi bab tersendiri. Selanjutnya, tidak kalah dalam penting adalah pentingnya memilih tempat tinggal serta adanya orang ketiga dalam kehidupan pernikahan.

Memasuki bab-bab akhir, pembaca dihadapkan pada hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi situasional dalam pernikahan. Betapa komunikasi antar individu sangat berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga pernikahan. Komunikasi yang terjalin pun tidak hanya dalam lingkup keluarga kecil saja, komunikasi dengan mertua dan kerabat juga menjadi fokus yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan. Hingga akhirnya, ditutup oleh bab mengenai kehilangan yang disebabkan oleh maut.

Pada setiap akhir bab, ada satu konklusi sebagai bahan renungan dari penulis. Perbandingan pengalaman penulis dan para pengisi cerita menjadi satu nilai plus tersendiri. Saya mengambil banyak manfaat dari buku ini. Saya jadi lebih sadar akan hal-hal yang akan saya hadapi dalam kehidupan pernikahan nanti. Terakhir, saya berterima kasih karena buku ini telah membantu saya menghadapi berbagai kekhawatiran menjelang pernikahan yang tinggal menghitung hari.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 30 November 2014.

Sabtu, 01 Maret 2014

Love Classic

Kisah cinta dalam komik ini adalah sebuah kisah cinta klasik antara dua manusia. Mereka ditakdirkan selalu bersama hingga keduanya membohongi perasaan mereka masiing-masing.

Aoi dan Reiichirou saling memendam rasa hingga perpisahan nampak di depan mata. Reiichirou yang selama ini bekerja sebagai guru pribadi bagi Aoi harus pindah ke Tokyo atas perintah Maruya Kikuji, ayah Aoi. Aoi yang tidak ingin kehilangan Reiichirou berusaha membuktikan pada ayahnya bahwa pelajaran yang selama ini diberikan oleh Reiichirou tidak sia-sia. Walaupun begitu, Reiichirou tetap harus pergi. Ia tidak pergi sendirian, ia mengajak Aoi turut serta. Sebuah kisah cinta yang klasik.

It can happens to anyone of us. You are getting close with somebody new, you may hate him as you go deeper, but yet you will love him very much by the way he/she treats you.


 
Komik ini juga punya 'bonus' kecil seputar penciptaan karakter-karakter yang ikut bermain. Chie Shimada menceritakan bagaimana proses penciptaan Reiichirou dan Aoi, juga si kembar adik Aoi dan Samasuke, karakter tandingan untuk Reiichirou. Tak hanya itu, adegan rapat penentuan supaya komik ini bisa terbit pun menjadi gimmick menarik. Tidak hanya sekedar membaca komik, pembaca pun sengaja diedukasi untuk mengetahui sedikit cerita dibalik layar sebuah penerbitan komik.

Judul        : Love Classic
Penulis     : Chie Shimada
Penerbit    : m&c! Comic
Tahun       : 2012
Genre        : Komik-Romance


Paninggilan, 1 Maret 2014.

Sabtu, 26 Oktober 2013

2

And when the daylight comes I'll have to go
But tonight I'm gonna hold you so close

“Tuh kan, lagu itu lagi. Ngaku deh, loe lagi LDR-an kan?” Bimo membuatku kaget.

Aku segera menyembunyikan ponselku. Aku tidak ingin Bimo tahu kalau aku benar-benar sedang memutar lagu itu.

“Ih, sok tau banget deh! Aku lagi seneng aja, secara Maroon 5 gitu.” Jawabku sebisanya.
“Udah deh ngaku aja. Loe kangen sama dia kan?” Bimo tidak mau kalah.
“Apaan sih, Bim. Cabut duluan ya. Bye” Aku segera menghindar.
“Yee, gue dateng malah pergi.”

Bim, kok kamu tahu banget sih aku lagi kangenin dia. Aku bicara pada diriku sendiri. Setidaknya, Bimo telah menjawab satu keraguan dalam benakku. Aku mulai ragu dengan keputusanku untuk menjalani long distance relationship bersama Dimas. Untuk sebuah alasan standar kami harus berpisah. Dimas masih ingin sekolah, jadi ia melanjutkan studinya di Groningen sana. Apalah yang aku tahu soal Groningen? Tidak ada satupun. Kecuali klub sepakbola FC Groningen yang nampaknya selalu jadi tim penggembira di Hollandsche Eredivisie.

Aku tidak pernah merasa bahwa ini adalah keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Sudah jelas, ini adalah yang terbaik yang aku bisa untuk Dimas. Dimas sendiri tidak pernah bicara banyak soal rencananya ke depan. Pun, ketika harus membicarakan soal ini denganku. Dimas sudah siap menerima kenyataan untuk saat ini dan yang akan tiba. Dimas sepertinya tidak pernah berpikir sedikitpun tentang aku.

Aku heran dengan sikap Dimas yang seperti itu. Dimas tidak menyadari bahwa perpisahan kemarin sungguh berat untukku. Apakah aku yang terlalu cinta? Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin selalu bersamanya. Tidak lebih. Kini, aku harus melintasi dimensi ruang dan waktu hanya untuk mendapatkan kabar terbaru darinya.

Bimo, apa yang dia tahu soal hubunganku dengan Dimas? Mengapa dia seakan begitu tahu perasaanku. Aku tidak mengerti mengapa Bimo bisa tiba-tiba menohokku dengan pertanyaan seperti tadi pagi.

We knew this day would come
We knew it all along
How did it come so fast?

Dearest Dimas,

Udah seminggu ini kamu nggak kirim kabar, how are you there? Everything’s fine?

Ik het jou lief,
Dina

Aku hanya mampu menafsirkan rindu sebatas kalimat pendek dalam email. Aku sadari betapa berat beban menahan rindu ini. Aku ingin mengatakan semuanya. Namun, jemariku hanya mampu sebatas itu saja. Sisanya, berkecamuk dalam pikiran belaka.

Apakah kamu sudah tidak punya waktu untukku? Tidak adakah waktu luangmu untukku? Aku hanya mohon padamu untuk mengabariku secepat mungkin kau bisa, karena aku tidak mungkin mengharapkan kedatanganmu. Aku mohon sekali ini saja. Ada yang ingin aku sampaikan.

Aku ingin marah. Aku ingin melampiaskan semua rasa rindu yang selalu tertahan ini. Aku ingin marah. Aku sadari kemudian bahwa aku hanyalah sendiri disini. Tidak ada gunanya tanpa hadirmu disini. Aku ingin berkata pada siapa saja bahwa aku....

Aku terkesiap dari lamunanku. Seketika kata-kata itu buyar dan menghilang begitu saja. Kendati aku tidak pernah meragukan kesungguhan Dimas kepadaku, aku tetap merasa lelah.


*

Pratidina Pramesti. Sayang sekali, kamu hanya membuang-buang waktu hanya untuk mencintai seseorang yang jauh disana. Let me tell you something. Mencintai itu adalah ada. Untuk apa mencintai sedang dia tidak ada untukmu, bersamamu disampingmu?

Aku hanya menggelengkan kepala sambil mengamati Dina dari kejauhan. Ia tampak sendirian di bangku taman itu. Hanya berteman sebuah buku bersampul ungu. Mungkin sebuah novel pengobat rindu untuk kekasihnya yang jauh di Negeri Londo sana.

“Din, kamu tahu nggak sih kalau kebutaan sejati itu ketika kamu sedang jatuh cinta?” Aku menghampirinya.

Dina tersentak dan seketika menutup buku bacaannya. Wajahnya tampak kesal.

“Maaf ya, Bim. Aku ada urusan apa sama kamu ya?”
“Nggak ada. Nggak ada apa-apa.”
“Please, mulai sekarang kamu nggak usah nanya lagi soal gituan. Cukup aku aja yang ngerasa. Kamu nggak sah ikut-ikutan sok care lah.”

Aku hanya tersenyum mendapati perlakuan Dina seperti itu. Ia tidak melanjutkan pembacaannya. Dina menunduk dan memejamkan matanya. Seakan menahan amarah yang siap meledak. Aku kira Dina akan menangis. Ternyata tidak. Dina membetulkan letak kacamatanya dan mengemas bukunya.

“Din, mau kemana?”
“Bukan urusan kamu!”
“Din, tidak ada tempat persembunyian luka sebaik air mata. So, kalau masih kangen kamu mending nangis aja. Nggak apa-apa kok.”

Dina langsung memukulku dengan tasnya. Dina kelihatan marah sekali.

“Kamu tahu apa soal Dimas? Pake ngajarin aku buat nangis segala. Emangnya aku ini perempuan apaan heh?” Dina terus merangsek.
“Din, sebentar Din.” Aku mengelak.
“Kamu pikir kamu lebih tahu dari aku? Kamu pikir gampang buat lupain orang? Kamu pikir kamu hebat? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu masih gagal move-on dari Arina.”

Arina. Dina menyebut nama Arina. Sebuah nama yang membuatku tersirap dari sadarku dan membiarkan Dina terus memukuliku. Hingga akhirnya berhenti dan nafasnya terengah-engah.

“Kamu harus sadar Bim, kalau Arina itu sudah menikah dan bahagia dengan hidupnya. Kamu nggak perlu lagi mengharap apa-apa dari dia. Kalaupun Arina nggak bahagia, itu urusan dia. Biarin dia urus urusannya sendiri. Kamu nggak perlu lakuin apa-apa buat dia. Enough is enough, Bim. Game over when she said it’s over!”

*

Seminggu kemudian, aku dan Dina pergi bersama. Dina tampak cantik dengan kerudung hitam yang membalut rambutnya yang sebahu. Tak lama kami sudah sampai di sebuah acara pemakaman. Para pelayat mulai berlalu, meninggalkan kami berdua yang menatap sebuah pusara.

“Bim, make your last wish for her.”


Pharmindo, 26 Oktober 2013.

1

“Only by meeting you, warm feeling completely filled my heart.”

Nina mengirim email singkat padaku. Seketika mendung diluar berubah menjadi pagi dengan semburat mentari yang menakjubkan. Ah, itu hanya khayalanku saja. Hanya imajinasi pengalih perhatian. Aku mendadak kangen pada Nina. Aku merindukan kembali pagi dimana aku dan Nina saling berkirim pesan pendek lewat ponsel.

“You text, and i instantly smile.”

Satu jawaban dari Nina yang selalu kurindukan.

*

Aku menikmati secangkir kopi hitam pagi ini sembari menatap jendela dari pantry. Pagi di Jakarta adalah sebuah keajaiban bagi mereka yang tidak pernah berharap apapun. Terlalu banyak kejutan disana.

“Pagi, Gus. Nanti malem, ada waktu?” Erika menyapaku.
“Eh, kamu Rik. Kenapa? Ada yang penting?”aku balik bertanya.
“Nggak sih. Tapi,...” Erika terlihat ragu
“Tapi apa, Rik?”
“Nggak jadi deh. Lain kali,..”

Belum selesai kalimat Erika, aku sudah menggamit lengannya. Sebuah awkward moment lain diantara aku dan Erika. Erika mematung sambil perlahan menatap tanganku yang memegangi lengannya. Mungkin, Erika pikir mirip adegan di drama-drama Korea.

“Oke, kita duduk dulu bentar.” Aku mengajak Erika duduk.
“Aku nggak ada waktu sekarang, Gus.” Erika mulai merasa tak nyaman.
“Kenapa? Kamu mau ngajak aku nemenin kamu kemana lagi?  ” nada suaraku mulai meninggi.
“Bukan gitu, Gus.”
“Terus apa? Mana Arga yang selalu kamu banggain itu? Dia jalan sama perempuan lain?”

Diam. Hanya diam. Erika tidak bicara sepatah kata pun. Erika beranjak menuju jendela tak jauh dari tempatku berdiri. Erika mulai menangis. Aku bisa melihat bulir air mata mulai berjatuhan di pipinya. Andai ini bukan kantor, barangkali Erika sudah kurangkul atau kupeluk. Akan kubisikkan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku pun sama termangu. Tak mampu berucap apapun untuk menenangkan Erika. Aku mengalihkan pandanganku lagi ke luar sana.

Erika mulai mengangis terisak. Aku tidak ingin terjebak dalam situasi sulit seperti ini. Jadi, aku beranikan diri untuk menatap Erika. Erika balik menghadapku. Matanya seakan berkata, “Dengerin aku, Gus.”

Erika berada di pelukanku sekarang. Air matanya semakin mengalir deras.

“Gus. Arga nikah, Gus... Tapi....gak sama aku...” Erika bicara sambil terisak.

Aku menenangkan Erika dan membuatkannya secangkir teh hangat. Matanya kini sembap ketika tangisnya reda.

“Aku masih belum bisa terima kenyataan ini, Gus. Makanya, aku mau kamu anterin aku.”
“Anterin kemana? Ketemu Arga? Bah, males banget. Udah tinggalin aja sih.”
“Aku masih sayang dia, Gus.”
“Ah, Erika. Kamu masih sayang dia, terus dia nikah sama orang lain, gitu?”

 Erika terdiam lagi.

“Erika, sayang. Look at yourself. Aku yakin kamu deserve more than him.”

Ada jeda sebelum Erika kembali bicara,

“Nanti anterin aku pulang ya, Gus.”
“Apa sih yang nggak buat kamu?” kataku sambil tersenyum.
“Ih, gombaaal.”

*

Erika tertidur di pangkuanku usai menamatkan “Bridget Jones’s Diary”. Erika memintaku untuk memilihkan film yang kami tonton malam ini. Malam sudah larut dan aku harus kembali bekerja besok. Begitu juga Erika. Namun, aku tidak kuasa meninggalkan Erika.

“Halo, Nin.”
“Kamu lagi dimana, Gus? Kata Mama kamu belum pulang. Lembur?”
“Nggak, Nin. Aku lagi di rumah temen nih. Kamu udah selesai? Jemput aku dong.”
“Nggak bisa pulang sendiri?”
“Aku jelasin semuanya pas kamu dateng, Nin.”
“You’re not in a big shit, right?”
“Absolutely no. Ntar aku bbm alamatnya ya. I’m waiting.”
“Cepetan. Jangan lama!”

Perlahan aku melepaskan genggaman tangan Erika. Aku mulai menata diriku lagi dan berkaca pada semua yang terjadi hari ini. Lebih baik seperti ini, Erika tidak perlu cari pelarian untuk hatinya yang terluka. Cukup menemaninya nonton semalaman tanpa kissing or even quickie. Catat.

Aku berkeliling di ruang tamu. Perhatianku tertuju pada sebuah amplop coklat.

Suatu saat nanti jika aku yang pergi, engkau baiknya memilih tidak percaya pada kehilangan.
Erika, maafkan aku.

Arga

Kalimat pembuka di secarik kertas yang terselip dalam sebuah undangan pernikahan. Mungkin inilah mengapa Erika begitu dramatis hari ini.

Bel pintu rumah Erika berbunyi. Aku mengintip lewat jendela depan. Nina sudah berdiri di depan pagar. Raut mukanya terlihat seperti seorang kekasih yang marah dan akan menyemprot selingkuhan kekasihnya.

Rupanya, bel itu membangunkan Erika.

“Siapa, Gus. Kok ada tamu malem gini, sih?”Erika memelukku dari belakang
“Maaf, Rik. Aku minta Nina jemput aku kesini.”
“Jadi, kamu nggak akan nginep malem ini? Ya udah deh.” Erika tampak kecewa sambil membukakan pintu pagar.

Nina langsung menghampiriku. Aku tidak suka tatapannya pada Erika. Erika terlihat berantakan usai bangun tidur.

“Malem. Mbak Nina ya? Kenalin, saya Erika.” Erika mencoba bersikap ramah pada Nina.
“Bagus udah cerita soal aku?” jawab Nina ketus.
“Baru dikasih tahu tadi kok, Mbak?” jawab Erika.
“Terus, ngapain si Bagus kamu ajak ke sini?” Nina mulai marah

Aku mencoba menahan Nina.

“Nin, masuk dulu yuk. Kita ngobrol di dalem.” Kataku sambil merangkul Nina.
“Mari, Mbak Nina. Silakan.” Erika mengikuti kami di belakang.
“Awas ya Gus kalo kamu macem-macem sama dia.” Nina mengancamku.

*

Erika menjelaskan semuanya kepada Nina. Aku dengan sabar duduk disamping Nina. Menjaganya jangan sampai lepas kendali. Aku tahu, itu semua karena Nina sayang padaku. Erika tampak seperti pagi tadi. Ia menangis lagi.

Nina memandangiku.

“Gus, bilangin dia dong, kamu mau anter aku mau ke toilet dulu.” Nina berbisik.

Aku dan Nina meninggalkan Erika yang masih menangis sendu di sofa yang sama saat ia tidur di pangkuanku. Aku dan Nina tak henti memandanginya dari kejauhan. Usai kembali dari toilet, Nina membawakan amplop coklat yang tadi aku baca.

“Gus, bagus banget undangannya. Menurut kamu bagus gak buat undangan nikahan kita nanti.”

Aku terkejut. Aku tidak ingin Erika tahu soal ini. Aku yakin Erika akan menghabiskan air matanya malam ini bila sampai dia tahu bahwa aku dan Nina membaca undangan itu.

“Hmm... Bagus, Nin. Kamu simpen lagi sana, ntar ketahuan Erika. Kasihan dia.”
“Sebentar, aku mau baca dari siapa ini.” kata Nina.

Erika masih menangis. Tangisannya kini terasa begitu pilu. Bagai tangis Sinta ketika ditawan Rahwana.

“Gus..” Nina menggumam.

Aku berbalik menghadap Nina yang tampak tertegun.

“Kenapa, Nin?”

Nina seketika pingsan. Tanpa menyisakan penjelasan.
 

Pharmindo, 25 Oktober 2013.

Jumat, 18 Oktober 2013

The Naked Kitchen (2008)

Can you love two people at same time?


Ahn Mo-Rae (Shin Min-Ah) sedang berusaha mencari hadiah diberikan pada suaminya, Han Sang-In (Kim Tae-Woo) pada hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Mo-Rae pergi melihat-lihat ke sebuah galeri seni untuk menemukan sebuah hadiah sempurna untuk selalu mereka kenang. Di galeri, Mo-Rae bertemu dengan seseorang tak dikenal yang baru sekali itu dijumpainya. Entah apa yang merasuki mereka, keduanya bercinta. Mo-Rae tidak dapat menahan godaan dari si pria tak dikenal ini. Kelak mereka akan saling mengenal.

Mo-Rae terus dihantui perasaan bersalah. Mo-Rae dilanda kebimbangan, antara menyimpan rapat-rapat rahasia itu atau malah berkata jujur pada Sang-In. Keakraban dan kedekatan yang terjalin sejak mereka masih kecil membuat Mo-Rae tidak punya pilihan selain berkata jujur. Sang-In rupanya mau mendengarkan, namun ia tidak mau mendengar cerita itu lebih jauh dan tidak mau membahasnya sama sekali. Kontan, hal itu membuat Mo-Rae semakin merasa bersalah. Bagaimanapun, Mo-Rae menyadari bahwa Sang-In akan mengetahuinya suatu hari nanti.

Usai makan malam di hari jadi perkawinan mereka, datanglah sahabat lama Sang-In. Park Do-Ree (Joo Ji Hoon), seorang chef yang kembali ke Korea atas inisiatif Sang-In yang mengajaknya untuk membuka restoran. Sang-In sendiri telah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai pialang saham untuk menjalani passionnya selama ini, yaitu menjadi seorang juru masak dan membuka restoran sendiri. Untuk itulah Sang-In membutuhkan Do-Ree. Sang-In sengaja memanggil Do-Ree pulang dari Paris untuk tinggal di rumahnya.

Sebuah kebetulan bahwa pada saat perkenalan itulah Mo-Rae menyadari bahwa Do-Ree adalah pria yang bercinta dengannya di galeri seni. Mo-Rae semakin merasa tidak nyaman. Kini, tugasnya bukan hanya menyimpan rapat-rapat rahasia antara dirinya dengan Do-Ree, tapi juga harus menahan perasaan aneh yang terjadi antara mereka berdua.


Kisah cinta segitiga dalam satu atap dimulai. Sang-In sengaja memberi keleluasaan pada Mo-Rae untuk menemani Do-Ree berkeliling di sekitar tempat tinggal mereka. Kedekatan mereka berdua akhirnya terjalin semakin akrab. Berkali-kali Do-Ree mengungkapkan cintanya pada Mo-Rae. Do-Ree mencoba meyakinkan Mo-Rae bahwa cinta antara dirinya dengan Sang-In bukan cinta yang sebenarnya. Do-Ree meyakini cinta Mo-Rae kepada Sang-In adalah sesuatu yang ‘given’, terbentuk dari perasaan yang pelan-pelan tumbuh sejak mereka kecil. Do-Ree meragukan cinta Sang-In pada Mo-Rae. Namun, Mo-Rae tetap pada pendiriannya. Ia merasakan sesuatu yang lain pada Do-Ree namun ia tidak mau mengungkapkannya.

Pada satu kesempatan, Sang-In mulai mencurigai affair antara Mo-Rae dengan Do-Ree. Sang-In juga memiliki bukti kedekatan mereka akibat kecerobohan Kim Seon-Woo (Jeon Hye Jin II), sahabat Mo-Rae. Hal itu langsung membuat Sang-In menghajar Do-Ree habis-habisan. Do-Ree pun menyerang balik Sang-In dengan mengakui apa yang telah dilakukannya lalu mengungkapan perasaanya kepada Mo-Rae. Usai berkelahi habis-habisan, Sang-In menyadari bahwa semua pilihan ada pada Mo-Rae. Mo-Rae harus memilih, Sang-In yang telah bersama dengannya sejak lama atau pada totally complete stranger seperti Do-Ree. Mo-Rae tidak memilih namun ia memiliki pilihan hatinya sendiri.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


The Naked Kitchen adalah film pertama Shin Min-Ah yang saya tonton. Sebelumnya, saya sudah dibuat jatuh cinta pada Min-Ah dengan aktingnya di seri drama ‘My Girlfriend is A Gumiho’ dan ‘Ahrang and The Magistrate’ lalu pada suaranya yang ikut mengisi soundtrack Gumiho.

Pelajaran pertama dari film ini adalah: Live your passion. Sang-In sengaja meninggalkan pekerjaannya yang mapan hanya untuk menjalani kehendak hatinya yang lain, yang akan membuat dirinya sepenuhnya utuh dengan menjalankan bisnis barunya di bidang kuliner.

Selanjutnya, kemelut cinta segitiga Sang In-Mo Rae-Do Ree memberikan suatu sudut pandang bahwa mencintai seseorang adalah sebuah proses yang tak hanya ‘given’ saja. Tetapi juga membutuhkan hubungan dua arah, dimana keduanya saling merasa terikat dan saling mencintai sepenuh hati.

Anyway, kehebatan unsur film ini terletak pada inti cerita yang berpusat pada kisah cinta segitiga, tanpa mengurangi esensi dari sebuah culinary passion. Keduanya merupakan perpaduan bumbu utama yang menghadirkan perasaan geregetan dan penasaran.

Judul           : The Naked Kitchen
Sutradara    : Hong Ji Young
Cast            : Shin Min Ah, Kim Tae Woo, Joo Ji Hoon, Jeon Hye Jin II
Tahun         : 2008
Produksi     : CJ Entertainment


Pharmindo, 24 Agustus 2013.

Note: images taken from www.hancinema.net

Sabtu, 28 September 2013

Cinta di Atas Perahu Cadik


Mukadimah

Sudah sejak 2008 lalu saya memendam keinginan untuk membaca buku ini. Maklum, dalam kumpulan cerpen terbaik ini ada cerpen dari penulis favorit. Sebut saja, Seno Gumira Ajidarma dan Budi Darma. Serta tidak ketinggalan, Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu. Seringkali saya hanya mampu menatapi buku ini setiap mampir ke toko buku langganan di Palasari. Tanpa mampu menggenggamnya hingga ke meja kasir.

Lima tahun kemudian, saya berhasil menamatkan pembacaan buku ini. Saya rasa ada alasan mengapa Tuhan baru mempertemukan kembali kami sekarang ini. Agaknya, saya telah membuktikan apa yang pernah ditulis SGA dalam cerpen 'Linguae': Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lama pun selama aku mencintainya.

Catatan Empat Cerpen

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen terbaik dari Seno Gumira Ajidarma yang berjudul sama dengan judul buku. Kisah seorang Sukab dan Hayati yang saling mencintai walau keduanya telah sama berpasangan. Berlatar kehidupan masyarakat nelayan pesisir, cerita ini seakan-akan mewakili kenyataan hidup yang berlangsung sehari-hari. Kecuali, bila pembaca menggugat hilangnya Sukab dan Hayati selama tujuh hari itu sebagai hal yang tidak masuk akal.

Cerpen lain yang menjadi favorit dalam buku ini adalah 'Kisah Pilot Bejo' yang ditulis oleh Budi Darma. Kisah seorang pilot bernama Bejo yang selalu 'bejo' dalam menerbangkan pesawat. Budi Darma agaknya mengambil sebuah realita yang kemudian dituangkannya kembali dalam bentuk sebuah cerita pendek. Pembaca tentu sudah lebih paham bila membaca metafora dan analogi yang disajikan oleh Budi Darma. 'Kisah Pilot Bejo' memberikan kita gambaran bahwa dunia penerbangan di negeri kita pernah mengalami hal yang demikian.

'Gerhana Mata', dari Djenar Maesa Ayu adalah cerita yang saya sukai dari segi penuturan dan bahasa. Pemilihan diksi yang tepat menjadi kunci cerpen ini untuk merebut hati saya.

"Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan." 

Betapa sebuah dunia dapat menjadi nyata dalam gelap. Hanya dalam gelap sang narator dalam cerita dapat merasakan cinta. Selebihnya, saya mendapat nuansa realitas yang kental dalam cerpen ini. Pertemuan sepasang kekasih yang terlarang adalah sebuah bumbu kehidupan metropolitan. Atas nama cinta, semuanya terjadi.

Cerpen 'Tukang Jahit' dari Agus Noor sudah menyentak sejak paragraf awal. Jarum dan benang si tukang jahit yang konon diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya adalah satu unsur kejutan yang mau tidak mau sukses menggiring pembaca untuk terus melanjutkan pembacaan atas cerpen ini. Tukang jahit ini bukan tukang jahit sembarangan. Tukang jahit ini adalah satu-satunya yang tersisa dari sekian banyak tukang jahit yang pernah berjaya di kota itu. Ia tidak hanya menjahitkan pakaian. ia juga mampu menjahit kebahagiaan.

Sepintas, cerita ini mengingatkan saya pada cerpen SGA lainnya yaitu 'Manusia Gerobak'. Baik SGA maupun Agus Noor menceritakan manusia gerobak dan tukang jahit yang sama-sama muncul setiap menjelang lebaran. Saya tidak heran akan hal seperti ini. Kalau pembaca sudah sering menbaca karya mereka, tentu akan dapat menarik suatu benang merah atas keduanya.

Cerpen Lainnya

Cerpen lain dalam buku ini juga memiliki nilai dan pesannya masing-masing. 'Lampu Ibu' yang ditulis Adek Alwi bercerita tentang kekuatan dan ketegaran seorang Ibu. Terutama, ketika satu anaknya tersangkut kasus korupsi dan jatuh sakit. Ada nilai moral yang dapat diambil dari cerita itu. Terlebih, kasih Ibu tiada batasnya, tak terhingga sepanjang masa.

Cerita tentang legenda tukang nasi goreng bernama Koh Su pun tak kalah menariknya. Kerinduan akan rasa dan segenap misteri yang menyelubungi Koh Su menjadi bumbu yang membuat cerpen ini semakin menarik dan penasaran. Cerpen 'Koh Su' tulisan Puthut EA ini harus disimak betul sampai akhir cerita bila memang pembaca penasaran soal asal usul Koh Su dan bumbu nasi goreng ajaibnya.

Romantisme masa lalu turut juga dihadirkan oleh Wilson Nadeak lewat 'Serdadu Tua dan Jipnya'. Kisah seorang pensiunan yang menghabiskan sisa hidupnya dengan memelihara sebuah jip Willys tua ini menjadi suatu romantika tersendiri. Romantika itu hadir dalam segenap konflik antara si serdadu tua dengan istrinya. Namun, penulisnya berhasil mengubah haluan sehingga akhir (ending) dari cerita ini tidak selesai disitu.

'Sinai' dari Dewi Ria Utari dan 'Belenggu Salju' dari Triyanto Tiwikromo adalah dua cerpen satir yang cenderung gelap. Keduanya bercerita tentang gelapnya jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah keabadian. Sedang, 'Bigau' yang ditulis Damhuri Muhammad, lebih mengangkat unsur dan nilai legenda tradisional. 'Bigau' bercerita tentang seorang jagoan yang memiliki kesaktian yang diperolehnya lewat sebuah cara yang hanya dia saja yang mampu melakukannya. Konflik muncul ketika ia harus mewariskannya.

'Lak-Uk Kam' dari Gus Tf Sakai bercerita soal penjaga mercusuar yang selalu sendirian setiap bertugas. Tiga bulan sekali ia dirotasi ke mercusuar-mercusuar lain. Tiga bula sekali pula ia merasakan kesendirian yang sama.

GM Sudarta muncul dalam kumpulan cerpen ini. Sebagaimana telah kita kenal sebelumnya, GM Sudarta adalah seorang kartunis dengan karyanya yang mashur yaitu 'Oom Pasikom'. Cerpen 'Candik Ala' yang ditulisnya mengingatkan saya pada lirik pembuka pada lagu Koes Plus, "Melati Biru'. Cerpen ini bercerita soal kenangan seorang anak terhadap ayahnya. Dibumbui dengan candikala, suatu titimangsa dimana batas-batas gaib menjadi samar.

'Sepatu Tuhan' yang ditulis Ugoran Prasad, seketika mengingatkan kita kepada sepakbola, terutama soal piala dunia. Simak kisah sepatu Franz Beckenbauer dan si 'Tangan Tuhan' Maradona. Romantisme sepakbola dan melankoli persahabatan adalah dua unsur yang berpadu dalam cerpen ini.

Dua cerpen terakhir pun agaknya juga mengesankan bagi saya. 'Hari Terakhir Mei Lan' yang ditulis Soeprijadi  Tomodihardjo membawa pembaca pada suasana China dimasa penuh pergolakan. Sedangkan, 'Gerimis Yang Sederhana' dari Eka Kurniawan, yang sekaligus jadi cerpen terakhir, bercerita soal pertemuan dua orang. Yang membuat saya menyunggingkan senyum adalah kenyataan bahwa si pria menyembunyikan cincin kawinnya dan tak sengaja tercampur dengan recehan yang ia berikan pada pengemis. Betapa naifnya hidup ini bahwa masih saja ada cerita soal pria beristri yang menyembunyikan identitasnya setiap akan menemui seorang perempuan yang baru dikenalnya.

Konklusi

Sebuah cerpen berpacu dengan keterbatasan ruang cerita. Apalagi, ketika harus muncul dalam ruang media cetak koran. Penulis dituntut mampu membuat cerita pendek yang kaya dengan sintesa pengalaman dengan cara yang meyakinkan. Oleh karena itu, setiap cerpen yang muncul di hari Minggu ini memiliki konflik dari dunianya sendiri. Dunia yang terbentuk dalam keterbatasan ruang cerita. Sekalipun begitu, semuanya membuktikan bahwa dalam sebuah keterbatasan ada banyak ruang untuk sebuah cerita.


Paninggilan, 14 September 2013.


Kamis, 06 Juni 2013

Sang Penari dari Dukuh Paruk

Saya memang agak telat untuk menonton ‘Sang Penari’ setelah resmi dirilis 10 November 2011. Itu pun lewat hasil unduhan dari sebuah forum. Pun, membaca buku ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ sebelum edisi kompilasi trilogi bersama ‘Jantera Bianglala’ dan ‘Lintang Kemukus Dini Hari’, pemberian seorang sahabat. Pengalaman membaca buku kini tidak akan lagi sama. Maraknya visualisasi dan adaptasi cerita dari sebuah judul buku akhir-akhir ini menghadirkan suatu pengalaman lain dalam konteks pemaknaan sebuah karya, terutama sastra.


Tak terkecuali pada ‘Sang Penari’. Film yang digarap oleh Ifa Isfansyah dan skenario yang digarap bersama oleh Salman Aristo dan Shanty Harmayn ini menghadirkan sebuah pencitraan, pemaknaan, dan visualisasi gagasan atas apa yang penah dituliskan Ahmad Tohari dalam bukunya. Perlu dicatat, bahwa menampilkan kembali isi dari buku yang pernah mengalami pelarangan edar oleh Orde Baru ini bukanlah sesuatu yang mudah, as it is or as given.Terutama, menyesuaikan alur cerita agar tampil lebih singkat dari jalan cerita pada buku aslinya. Re-interpretasi terhadap karya Ahmad Tohari mutlak diperlukan.


‘Sang Penari’ bertutur tentang cerita cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Indonesia pada pertengahan 1960-an. Dukuh Paruk namanya. Pedukuhan yang masih menganut nilai-nilai lokal-tradisional dalam tata kehidupannya ini menganggap ‘ronggeng’ bukan sekedar seni dan tradisi belaka. Ronggeng dalam tata hidup masyarakat Dukuh Paruk adalah sebuah bentuk pengabdian terhadap leluhur mereka, Eyang Sacamenggala. Maka begitu Srintil kehilangan ibunya yang ronggeng itu karena insiden ‘tempe bongkrek’, Dukuh Paruk mengalami stagnansi dalam kehidupannya. Gairah penduduk seakan hilang, tidak ada lagi berkah Eyang Sacamenggala.

Srintil (Prisia Nasution) hanyalah seorang anak kecil biasa yang senang bermain bersama dengan teman-temannya, Rasus (Oka Antara) dan kawan-kawan. Kadang, Srintil menari kala sedang bersama Rasus. Sejak itu, Srintil semakin lekat bersama Rasus. Diam-diam, Nyai Kartaredja (Dewi Irawan) pun menaruh hati bahwa suatu saat kelak cucunya itu menjadi ronggeng. Rasus tidak bisa menahan Srintil.


Rasus tahu bahwa Srintil akan menjadi ronggeng. Rasus mencoba menerima kenyataan dengan memberikan keris peninggalan Ibu Srintil kepada Srintil. Keris itu dipercaya sebagai pertanda bahwa Srintil dipercaya leluhurnya untuk menjadi ronggeng. Kehidupan Dukuh Paruk kembali bergairah setelah Srintil didaulat menjadi ronggeng dan harus menjalani ritual ‘bukak klambu’.

Rasus semakin tidak bisa menerima kenyataan itu. Beruntung, Srintil pun tidak rela keperawanannya diserahkan pada orang lain. Maka, mereka pun bercinta sebelum ‘bukak lambu’ digelar. Rasus sekali lagi menyatakan keberatannya pada Srintil. Namun, keputusan Srintil untuk menjadi ronggeng sudah bulat. Tidak ada kata mundur. Zaman pun kemudian bergerak, di mana Rasus harus memilih; loyalitas kepada negara atau cintanya kepada Srintil.


Dalam situasi yang semarak kembali itu, menyusuplah seorang antek partai komunis, Bakar (Lukman Sardi). Bakar mencoba melakukan propaganda di Dukuh Paruk. Warga yang pengetahuannya terbatas itu sedikit-sedikit dan perlahan mulai melakukan apa yang dikehendaki Bakar. Rasus merasa ada yang aneh saat kembali mengunjungi Dukuh Paruk. Pengaruh komunis bawaan Bakar telah begitu kuat di Dukuh Paruk. 


Bakar dengan cerdik memanfaatkan ronggeng untuk propaganda partainya. Kartaredja sempat dibuat ragu dengan pementasan ronggeng yang didukung oleh partai komunis walau akhirnya berhasil meyakinkan kakek Srintil agar mau tampil di kota. Apalagi setelah makam Eyang Sacamenggala dirusak sekelompok orang tidak dikenal. Padahal, itu merupakan fitnah yang dilakukan oleh Bakar dan partainya.

Sampai adegan ini, saya sangat terkesan dengan visualiasi teks pada bab yang sama. Perusakan makam itu dianggap sebagai pertanda bahwa Srintil harus kembali meronggeng. Sebuah keputusan yang kelak membawa Dukuh Paruk pada pergolakan sejarah.


Roda waktu pun berputar. Dukuh Paruk dinyatakan ‘merah’. Dengan demikian, operasi penumpasan pun digelar. Warga Dukuh Paruk yang tidak tahu apa-apa itu apalagi soal pergolakan di ibukota negara menjadi korban. Mereka dipaksa meninggalkan Dukuh Paruk dan resmi menjadi tahanan politik. Seluruhnya menjadi tersangka kecuali Sakum, si penabuh kendang.

Rasus, yang masih memendam rindu pada Srintil mencoba untuk kembali ke Dukuh Paruk. Usai menghadapi ‘gempuran’ dan komandannya (Tio Pakusadewo), Rasus tidak menemukan apa-apa lagi di Dukuh Paruk, kecuali Sakum. Lewat beberapa petunjuk, Rasus pergi ke tempat para tahanan dari Dukuh Paruk ditahan. Setibanya disana, Rasus berhasil menemukan Srintil. Malang, Rasus hanya dapat melihat Srintil pergi. Srintil digiring untuk dibawa ke tempat lain.

Sebagai penutupan, dikisahkan bertahun-tahun kemudian Rasus telah mendapat kenaikan pangkat. Namun, kenangan tentang Srintil tidak pernah padam. Rasus tahu dimana harus mencari Srintil. Saat itu, pemerintahan telah beralih ke tangan Orde Baru. Dukuh Paruk pun tinggal cerita, tak terkecuali ronggeng yang hanya sebuah tontonan yang dijajakan belaka. Dalam sebuah kesempatan di Pasar Dawuan, Rasus bertemu kembali dengan Srintil yang sedang ‘ditanggap’ oleh beberapa orang saja. Srintil merasa ketakutan dan segera pergi dengan Sakum. Namun, Rasus sempat menggenggam tangan Srintil, menyelipkan kembali keris pusaka yang dulu pernah ia berikan pada Srintil.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Kisah cinta Srintil dan Rasus awalnya adalah sebuah cerita cinta sederhana. Namun, akhirnya terpisah oleh jalinan takdir itu sendiri. Rasus yang merasa kecewa karena Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng menemukan pelariannya dalam wujud ketentaraan. Rasus dan Srintil pernah mencoba untuk mengkompromikan takdir mereka. Srintil tidak mampu menghindar dari ‘indang’ ronggeng yang diyakini telah memilihnya. Rasus sendiri tidak dapat berbuat banyak karena ia telah menjadi seorang tentara.

Saya bisa memberi nilai sempurna untuk interpreasi teks ke dalam citra visual untuk film ini. Latar belakang pengambilan gambar dan adegan yang menghadirkan nuansa alami khas Banyumasan tidak bisa dipisahkan dengan konteks ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ dan melekat kepadanya sebagai sebuah kesatuan identitas. Terlebih, ada beberapa detail dalam buku yang diangkat ke dalam cerita. Hebatnya, visualisasi dalam film persis dengan yang saya bayangkan dalam imajinasi personal. Sebagai contoh, potongan dialog dengan kata-kata seperti “asu buntung” kerap muncul sebagai sumpah serapah. Tak ketinggalan, adegan ketika Srintil mengencingi jampi-jampi yang ditanam di dekat kamarnya.  Overall, film ini tidak kehilangan detail dalam teks ‘Ronggeng Dukuh Paruk’.

Saya juga melihat totalitas akting yang diberikan oleh pemeran-pemeran film ini yang very exceptional. Prisia Nasution mampu mendalami karakter seorang Srintil yang tumbuh dewasa dan menjadi ronggeng. Sementara, Oka Antara konon ‘mempersiapkan’ dirinya dengan diet ketat dalam jangka waktu yang lama untuk memerankan Rasus, agar dapat memaknai karakter Rasus sebagai bocah yang sering kelaparan, tidak bisa membaca, dan memiliki tatapan nanar. Termasuk menyesuaikan logat bicara Banyumasan. Pun, sama halnya dengan Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, dan Tio Pakusadewo.

Tidak heran, bila kemudian ‘Sang Penari’ mendulang berbagai pujian dari kritikus. Tak lupa, Ahmad Tohari menyebut ‘Sang Penari’ sebagai adaptasi yang layak untuk karyanya. Pada Festival Film Indonesia 2011, film ini meraih 10 nominasi dan berhasil memenangkan 4 piala citra. Semuanya untuk penghargaan utama. Penghargaan Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Ifa Isfansyah, Aktris Terbaik untuk Prisia Nasution, dan Aktris Pendukung Terbaik untuk Dewi Irawan. Hebatnya lagi, ‘Sang Penari’ pun muncul di situs database film imdb.com. Walau sinopsisnya tidak selengkap di Wikipedia, namun bagi saya itu sudah cukup. Informasi yang dimuat IMDB sudah cukup lengkap untuk sebuah film terbaik dari Indonesia.

Walaupun ‘Sang Penari’ berangkat dari suatu sejarah masa yang sudah lama terlupakan (untuk tidak menyebutnya sengaja diabaikan) namun relevansinya dengan keadaan saat ini tetap terjaga. Kisah percintaan, dari mana pun asal dan sumbernya, tetap membawa suatu nuansa tersendiri. Pergolakan yang mewarnai perjalanan bangsa pun sama dengan gejolak dalam hati. Kadang, cinta tidak hanya sebatas perasaan. Terlalu banyak dimensi yang menaunginya. Seperti kisah cinta Rasus dan Srintil.



Judul        : Sang Penari
Sutradara  : Ifa Isfansyah
Cast          : Prisia Nasution, Oka Antara, Dewi Irawan, Slamet Rahardjo,
                  Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Happy Salma
Tahun        : 2011
Produksi    : Salto Films



Paninggilan, 6 April 2013.

Selasa, 05 Februari 2013

Un Soir du Paris: Menguak Rahasia Perempuan

Sangat jarang sebuah buku yang diterbitkan penerbit besar mengangkat tema lesbian. Seakan menuntut pengakuan melalui kumpulan cerpen ini. Hal ini tentu menarik sebab hal yang demikian itu masih dianggap tabu untuk masyarakat beradat ketimuran. Diluar semua perdebatan mengenai tema lesbian, kumpulan cerpen ini hadir untuk menguak sebuah dunia yang belum terjamah. Ini menjadi bukti bahwa imajinasi dan interpretasi atas kaum lesbian muncul sebagai refleksi realitas sehari-hari.



Beragam cerita dituliskan dan menghadirkan imajinya masing-masing. Tentang sebuah cinta yang "terlarang". Sebagai favorit saya memilih cerpen dengan judul "Tahi Lalat di Punggung Istriku". Selain cerpen dari Seno Gumira Ajidarma tentunya yang sudah duluan dibaca.Mata Indah karya @clara_ng pun tidak kalah dalam menghadirkan nuansa cinta terlarang dengan konflik yang apik. Sedikit horor namun tetap menarik.

Overall, segenap cerita tentang lesbian dalam buku ini menguak sisi-sisi yang belum sepenuhnya terkuak oleh tabu khayalak luas. Walaupun dalam pengantar buku telah disebutkan bahwa kebanyakan cerita belum tampil "menggigit" untuk menghadirkan lebih banyak konflik. Dengan demikian, sastra telah menampakkan wujudnya sebagai refleksi realita kehidupan. Dengan mencatatnya kedalam kumpulan cerpen ini, usaha untuk mendokumentasikan kaum lesbian menjadi lebih bermakna dalam menghadapi hegemoni konstruksi sosial yang berlaku di tengah masyarakat.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Awalnya, saya pikir saya akan menemukan sebuah imaji terindah untuk sebuah petang di kota Paris. Ternyata saya salah. Kumpulan cerpen ini mengangkat sebuah fenomena yang selama ini hanya terdengar hembusannya saja tanpa pernah nampak di permukaan. Sebuah fenomena yang benar-benar ada namun tidak lantas lantang diteriakkan. Entah karena konstruksi sosial dalam masyarakat yang belum mengizinkannya.

Menikmati tulisan-tulisan tentang cinta sesama perempuan buat saya bukanlah hal yang pertama. Pernah saya menulis sebuah cerpen bertema sama yang lantas diterbitkan oleh sebuah penerbit independen. Pun, ketika ternyata cerpen SGA tentang dua perempuan dengan HP-nya dimuat disini. Mengingatkan saya pada cerpen SGA lainnya (yang juga bertema sama) yaitu Lelaki Terindah.

Khusus untuk buku ini saya memberikan apresiasi khusus karena tidak banyak karya serupa.


Bogor, 5 Februari 2013.

Kamis, 24 Januari 2013

Prelude to Grace The Series

Pengalaman membaca Amos Lee: The Series (1-3) membuat saya penasaran untuk membaca bacaan semacam itu. Pilihan saya jatuh pada buku ini. At first sight, saya tertarik pada judulnya. Mengingatkan saya pada seorang murid bernama Grace, lalu Grace Natalie, dan lagu The Amazing Grace. Namun, sulit untuk menulis catatan tentang buku ini tanpa membuat perbandingan dengan serial Amos Lee. 

Secara rentang waktu alur penceritaan, keduanya memiliki persamaan. Pemuatan ilustrasi yang memberi dukungan visual bagi pengalaman pembaca turut membantu dalam memahami beberapa lelucon yang timbul. Bedanya, serial Amos Lee memakai sudut pandang seorang penulis diary. Berbeda dengan Grace The Series ini.

Saya melihat ada tiga masalah utama dalam buku ini. Pertama, soal asal usul nama Grace Aja. Hal seperti ini sangat dimungkinkan bila ada empat orang dengan nama yang sama dalam satu kelas. Kedua, soal Mrs. Luther dan Crinkles kucingnya. Crinkles mengalami trauma karena pernah tertimpa jatuhan badan Mrs. Luther. Persoalan ini membawa Grace pada petualangan kecil bersama temannya, Mimi. Ide untuk mengirimkan kartu pos itu tidak berjalan mulus. Grace malah mendapatkan hukuman dari Dad, untuk beberapa unauthorized acts.

Terakhir, partnership diantara Grace dan musuh sejatinya, Sammy Stringer. Ketika Crinkles hilang, Grace diminta Dad membantu Sammy untuk mencari dan menemukan Crinkles. Keduanya berusaha menjadi teman kerja yang aku-gak-akan-pernah-mau-kerja-sama-kamu-sampai-kapanpun. Hasilnya nihil. Namun, ketika Crinkles ditemukan berada dalam apartemen Augustine Dupre semuanya berubah. Mereka menjelma menjadi rekan kerja yang bisa saling diandalkan.

Entah kebetulan atau tidak, kedua buku yang saya baca hari ini sama-sama memuat nilai sebuah kerjasama (teamwork) dan pencapaian hasil kerjasama dalam ceritanya. Dan keduanya juga diawali dengan sentimen aku-gak-akan-pernah-mau-kerja-sama-kamu-sampai-kapanpun. Amos Lee dengan Michael, dan Grace dengan Sammy. Mungkin mereka pernah sama-sama mendengar slogan kampanye Capres RI 2009 lalu; Bersama Kita Bisa.

Judul       : Namaku, Grace Aja!
Penulis     : Charise Mericle Harper
Penerbit   : Penerbit Atria
Tahun      : 2008
Tebal       : 107 hal.
Genre      : Teenlit


Paninggilan, 24 Januari 2013

Senin, 14 Januari 2013

Sebuah Lorong di Kotaku

Sabar dan lapangkanlah dadamu. Jangan selalu mau cepat marah. Ambillah bumi ini sebagai contoh. Dia kita injak, kita ludahi, kita belah, kita tusuk dan kita lukai dengan berbagai alat. Tetapi dia selalu sabar dan diam, selalu memberi kita makanan lezat dan berguna. (hal.76)

Sebagai pembuka Serial Kenangan, Sebuah Lorong di Kotaku menceritakan masa-masa awal kehidupan seorang Nh. Dini yang terekam kuat dalam memorinya. Dini bercerita dengan gaya bertutur yang jujur. Membuka semua tabir yang menyelimuti dirinya. Segala kenangan masa kecil yang terekam masih jelas dalam benaknya. Kelak, semua cerita yang disajikan dalam buku beliau lainnya, akan menemukan benang merah historis dengan memoar dari serial kenangan ini.


Cerita dimulai sejak Dini menempati rumah yang dipilih ibunya di Semarang. Rumah yang menyimpan banyak cerita itu meninggalkan kenangan yang mengakar kuat pada Dini. Dini kecil tumbuh sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Dini besar di lingkungan keluarga besar yang memegang teguh adat istiadat tradisi Jawa halus. Mungkin itu sebabnya, ada pengaruh dari hal itu pada gaya menulis yang serba teratur.

Permasalahan utama dalam diri Dini mencuat menjelang pertengahan buku ini. Ketika itu, Dini sekeluarga pergi berlibur ke rumah Kakeknya di desa Tegalrejo. Semua kejadian yang berlangsung sejak keberangkatan seluruh anggota keluarga hingga selesainya liburan itu sangat membekas dalam diri Dini. Betapa Kakeknya ternyata menaruh perhatian terhadapnya. Tidak seperti yang Dini bayangkan sebelumnya.

Kehidupan alam pedesaan di desa Tegalrejo menarik perhatian Dini. Barangkali pula itu sebabnya, Nh. Dini menulis serial berikutnya yang berjudul “Langit dan Bumi Sahabat Kami”. Kemudian, Dini mulai masuk sekolah. Bekal pendidikan yang dienyamnya di rumah dari sang Ibu turut dibawanya serta ke sekolah sehingga tak pelak Dini menjelma menjadi anak  yang penurut, penuh dengan tata krama.

Kekuatan ingatan Dini teruji ketika melukiskan kembali suasana perang. Pada saat itu, Jepang mencanangkan Perang Pasifik dengan pengeboman ke Pearl Harbour. Jepang berusaha menaklukkan sebanyak mungkin kekuatan Sekutu yang bercokol di Asia Tenggara. Belanda berusaha sekuat mungkin untuk menahan gempuran Jepang. Namun, pada akhirnya Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati.

Menjelang datangnya serangan yang sudah ramai diramalkan akan terjadi, Dini sekeluarga mengungsi ke kampung sebelah. Sementara, sang Ayah tinggal di rumah mereka guna memastikan keamanan disana. Perang secara besar-besaran tidak (atau belum) terjadi di Semarang. Semua kejadian dimana Dini mendengar desing-desing bom yang jatuh dari pesawat pembom, kemudian dentuman dari tangsi-tangsi polisi Belanda yang dibom Jepang, terekam dalam memori Dini. Hal ini sangat penting untuk mencoba menggali kembali sudut pandang sejarah dari seorang penutur yang mengalami masa perang tersebut.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Sampul buku edisi pertama, 1978

Sebuah Lorong di Kotaku membuka daftar bacaan saya pada tahun 2013 ini. Agaknya, pengalaman dengan karya Nh. Dini sebelumnya membuat saya terangsang untuk kembali menikmatik karya berikutnya. Saya sengaja memilih buku pembuka Serial Kenangan ini untuk mendapatkan imaji tentang sosok Nh. Dini, tentang hal-hal apa saja yang berkecamuk dalam pikirannya sejak awal. Bisa dikatakan, saya sedang mencari bentuk prototipe pertama karya seorang Nh. Dini. Hal ini saya anggap perlu untuk kemudian bisa melanjutkan pembacaan atas karya Nh. Dini lainnya.

Sebuah Lorong di Kotaku adalah buku ketiga dari Nh. Dini yang saya baca setelah "Argenteuil" dan "Namaku Hiroko". Yang paling berkesan sepanjang pengalaman membaca buku ini adalah (lagi-lagi) gaya penulisan Nh. Dini yang mengalir. Segala latar dan kejadian diceritakan dengan detail yang mengagumkan. Tentu, ini merupakan kekuatan tersendiri bagi seorang Nh. Dini. Pengalaman serupa memang masih saya rasakan. Pengalaman tersebut selalu membuat rasa penasaran itu muncul lagi. 

Saya ingin menemukan interkoneksi dari buku-buku Nh. Dini. Baik dari Seri Kenangan maupun seri Novelet. Saya yakin ada hubungan antara keduanya. Bila boleh membuat hipotesis sementara, Seri Kenangan sebagai memoar perjalanan kehidupan Nh. Dini memuat kisah sepanjang episode kehidupan merupakan suatu landasan/kerangka bagi Seri Novelet. Fragmen-fragmen dari Seri Kenangan dimunculkan kembali secara detil melalui Seri Novelet. Jadi, keduanya tampil sebagai suatu esensi yang terpisah tetapi sesungguhnya merupakan satu bagian entitas yang tak terpisahkan.

Judul           : Sebuah Lorong di Kotaku
Penulis        : Nh. Dini
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2009 (terbit pertama kali tahun 1978)
Tebal           : 108 hal.
Genre          : Novel Memoar – Seri Kenangan Nh. Dini #1

Paninggilan, 9 Januari 2013.
di hari ulang tahun seorang perempuan yang pernah mengisi hati

Minggu, 30 September 2012

The Lies We Live In


 
"Ada bagian masa lalumu yang belum selesai..."
"Bagian mana?"
"Tanya dirimu, hatimu lebih tahu..."
"Apa perlunya? Apa itu masalah untukmu?"
"Kadang-kadang itu jadi masalah buatku. Lagipula kamu tak peduli."
"Kamu cemburu...?"
"............"

Percakapan terakhir pada suatu senja penghabisan itu membuatku teringat lagi padanya. Aku masih mengingkari kenyataan bahwa memang ada bagian masa laluku yang belum selesai. Bagai noktah kecil dalam tirai hati. Aku tidak mau mengakui kalau aku masih belum bisa melepaskan semua ingatan tentang perempuan yang menangis ketika kutinggalkan sore itu. Ketika semua yang mampu dihadirkan mimpi perlahan membias dalam keremangan senja. Dan kini, perempuan lain hadir dalam hidupku hanya untuk sekedar mengingatkan perihal masa lalu itu.

Aku yakin ia tidak sedang merasa seperti Inez yang batal menikah dengan Francis Lim, hanya gara-gara Francis masih punya masa lalu yang belum selesai dengan Retno.* Ah, sudahlah. Hidup ini tidak seperti novel walau kadang diperlukan waktu yang panjang untuk menyudahinya dan kejutan-kejutan hebat sebagai bumbu cerita.

"Kadang tidak perlu benar-benar jahat untuk jadi penjahat..."
"Kata siapa? Apa itu sindiran buatku?"
"Ya, jika kau merasa..."
"Lantas?"
"Tidak perlu memaksa melupakan bila memang tak sanggup"
"Kamu cemburu?"
"........."

Aku rasa berkomitmen itu mudah dan bukan sesuatu yang 'sakral'. Komitmen adalah bagaikan memilih barang di etalase toko. Kalau suka, ambil. Kalau memang tidak, ya sudah jangan dibeli. Dalam komitmen, yang dibutuhkan hanya kesungguhan untuk menjalani hidup bersama tanpa harus melupakan diri masing-masing. Toh, kita masih bisa tetap jadi diri sendiri. Tetapi, apakah meninggalkan segala ingatan tentang masa lalu adalah bagian dari komitmen itu juga?

Semua orang punya rahasia masing-masing. Aku dan dia sama saja. Kita sama-sama pernah punya lubang di hati. Aku rasa kita berdua telah sama dewasa. Bicara dengan logika walau terkadang perempuan itu cenderung melibatkan emosinya.

"Sudah berapa lama kamu berhenti menemuinya?"
"Sejak aku mengenalmu"
"Gombal"

Aku memang pernah menginginkannya. Aku memang selalu rindu padanya. Pada tatap hangat dan senyuman yang merekah indah setiap pagi. Pada semua momen bersama yang terlalu indah dilepaskan. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa aku pula yang menghentikan perasaan itu. Aku memang meninggalkan luka padanya, itu memang salahku. Lagipula, aku tidak akan memaafkan diriku bila aku sampai hati memainkan perasaannya. Aku sedang tidak ingin serius apalagi sampai harus memegang komitmen. Untuk apa? Dengan diriku saja aku masih belum bisa berkomitmen apalagi dengan dia.

"Kamu masih ingat perjumpaan kita?"
"Masih, bagaimana bisa aku lupa?"
"Apakah itu suatu penyangkalan?"
"Tentu tidak. Kamu tentu tahu betapa hebatnya ingatanku."
"Apa itu sebabnya kamu masih belum bisa lepas darinya?"
"Apakah kamu minta penjelasan?"
"Things happens for a reason..."
"Not everything in common..."
"Ah, tentu kamu masih ada rasa..."
"Itu untukmu..."
"Is that a compliment?"
"Akuilah, kamu cemburu?"

Perempuan itu terdiam lagi. Senyum tipisnya merekah seakan penuh kemenangan. Perlahan ia hirup aroma kopi Aceh pesanannya. Betapa sederhananya menemukan kebahagiaan dalam hidup ini walau hanya dalam aroma kopi.

"Kadang terlintas untuk cemburu, tapi buat apa? Toh aku tahu kamu tidak akan kembali pada masa lalumu."
"Mengapa kamu begitu yakin? Aku bisa saja melakukannya."
"Aku percaya kamu takkan pernah bisa melakukannya"
"Mengapa tidak?"
"Aku ini bukan apa-apa sehingga seandainya kehilangan dirimu pun aku rela, tak ada yang abadi walau memang kadang terlalu sulit menerima kenyataan... Sebab jarum jam tak pernah berputar ke kiri."

Kalimat terakhirnya cukup membuatku merasa bersalah. Aku tidak pernah meragukan dirinya. Sudah terlalu banyak 'pertengkaran' semacam ini. Suatu proses atas nama pendewasaan. Kami pun cukup sadar untuk melewati gerimis berkerikil tajam ini. Bukan suatu alasan untuk menyerah dan berpisah.

Ada ribuan tanya. Bukankah mencintainya adalah hal terbaik yang bisa kulakukan? Setelah reda semua gelisah, aku berhasil memenangkan hatinya. Sebuah pertempuran rasa yang tak mudah. Aku adalah kepingan hatinya yang berserakan. Kepingan-kepingan yang kini menyatu menjadi puzzle yang utuh dan menjelma dalam sosok diriku.

Dalam keremangan senja gerimis benar-benar menutup hari serupa tirai bioskop tanda usai pertunjukan. Lampu temaram jalanan mulai menghiasi sudut kota. Pekerja kantoran mulai berhamburan, sebagian menutupi kepala sebisa mereka. Pertanda episode kehidupan segera dimulai kembali.

"Memang sulit untuk menutup masa lalu, apalagi tentang dia.."
"Maksud kamu?"
"Selesai tidak selesai itu hanya dipikiranmu saja. Aku tidak tahu apa-apa."
"Apakah itu mengubah sesuatu?"
"Mungkin saja!"
"Apa itu?"
"Mungkin tidak ada bedanya. You do well and I'll live mine."

Ingatanku kembali pada Inez, yang mungkin punya sejuta tanya tentang mengapa Francis meninggalkannya hanya demi sebuah masa lalu yang tertinggal dan belum selesai. Bukanlah masa lalu itu adalah akhir dan kita hanya diperbolehkan untuk menengok sebentar. Bukan lantas tinggal kembali dan menjalaninya sementara melupakan hari ini. Masa lalu hanyalah sejarah kecil dalam rangkaian perjalanan panjang bernama hidup.

Aku tersadar ketika perempuan itu memelukku erat dalam guyuran gerimis. Aroma perpisahan mulai mewangi. Aku harap bukan, mungkin itu sisa parfumnya. Perempuan itu bergegas mengejar taksi. Dalam hitungan detik, perempuan itu menuju belantara kemacetan. Macet di Jakarta adalah bagai dosa yang takkan berakhir. Kulangkahkan kaki, sambil bergumam dalam hati: I'm all alone, and life is very long.

Ponselku berbunyi. Yup. Malam ini aku ada kencan dengan Cinta. Yeah!


 Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 14 Februari 2012.

*baca cerita Francis Lim dan Retno dalam buku “Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona!” karya Adhitya Mulya (et.al), Gagasmedia, 2007.
 *cerpen dimuat dalam "The Greatest Love of All: Tribute to Whitney Vol. 2"