Tampilkan postingan dengan label perang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2016

Kode Untuk Republik: Sejarah Kiprah Sandi Negara

"Ada benang merah antara kerahasiaan dan kemerdekaan, di Indonesia kita menyebutnya Sandi Negara."

Impresi pertama saya atas buku ini adalah buku ini harus saya miliki karena bicara tentang sejarah republik. Menilik judulnya, "Kode Untuk Republik" tentunya bicara soal peran kode-kode yang dihandle oleh sebuah Dinas perkodean pada masa perang kemerdekaan. Dinas perkodean tersebut selanjutnya dinamakan Dinas Kode. Kini, Dinas Kode telah berevolusi menjadi sebuah badan otonom dibawah komando Presiden yaitu Lembaga Sandi Negara.
 
Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini terhitung memiliki cakupan yang lengkap. Artinya, selain menggunakan sitasi referensi yang valid dan meyakinkan, penulisnya terampil untuk memasukkan sejarah penciptaan sandi. Tentunya, hal ini berguna bagi pembaca awam sebagai penyelaras konteks sebelum pembacaan detail mengenai peran kode dalam perang kemerdekaan. Awalnya, bagi sebagian pembaca mungkin terasa membosankan namun bisa tulisan tersebut diabaikan agak sulit untuk memahami beberapa istilah yang digunakan pada bab-bab berikutnya.

Penulis mengambil alur sejarah mulai dari Perang Dunia Kedua, dimana sebuah mesin bernama 'Enigma' menjadi sebuah kartu as bagi Pasukan Jerman dalam menaklukkan daerah-daerah incarannya. Dari Perang Dunia itu, imbas yang terasa pada Indonesia adalah drama kekalahan Jepang. Rencana operasi militer Jepang dapat diketahui Sekutu melalui mesin-mesin pemecah kode sehingga mereka bisa menyiapkan serangan untuk menghalau aksi Jepang.

"Perang Kode" antara pemerintahan Republik melawan pemerintahan Hindia Belanda yang berupaya untuk menduduki kembali Indonesia terjadi secara terbuka. Dinas Intelijen Militer Hindia Belanda, NEFIS, yang selama pendudukan Jepang hijrah ke Australia kembali ke Indonesia usai perjanjian-perjanjian antara Republik dengan Hindia Belanda. 

Dinas Kode mulai mendapati peran pentingnya ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I dan II. Dengan siasat gerilya kolaboratif, petugas-petugas sandi setidaknya berhasil menyampaikan beberapa pesan penting, untuk membuktikan bahwa Republik benar-benar masih ada. Mereka adalah pahlawan-pahlawan perang kemerdekaan yang sayangnya kini tidak banyak dikenal. Bersyukur sekali, buku ini mampu menghadirkan kembali kenangan atas mereka sebagai usaha apresiasi atas segala daya upaya dan usaha mereka untuk Republik.

Dinas Kode sendiri mengalami beberapa perubahan nomenklatur sejak berada di Djawatan Sandi Angkatan Perang, Djawatan Sandi, hingga menjadi Lembaga Sandi Negara yang berurusan dengan segala macam tetek bengek kriptografi untuk kepentingan pemerintah NKRI.

Saya tidak kesulitan menamatkan buku ini. Buku ini menyitir kembali buku-buku yang telah saya tamatkan yaitu "Doorstoot naar Djokdja" karya Julius Pour dan biografi Jenderal Spoor karya J. A. de Moor. Buku ini ditulis dengan sistematis dan memiliki daftar pustaka sebagaimana layaknya buku-buku sejarah. Untuk saya, hal ini adalah sangat penting. Agar "Kode Untuk Republik" tidak hanya menjadi penghias di perpustakaan Lembaga Sandi Negara semata. Tetapi juga, menjadi lentera bagi republik.

Judul        : Kode Untuk Republik
Penulis        : Pratama D. Prasadha
Penerbit    : PT. Marawa Tiga Warna
Tahun        : 2015
Tebal        : 237 hal.
Genre        : Sejarah Indonesia

Cipayung, 23 Agustus 2016.

Senin, 14 September 2015

Dekade Kejayaan Luftwaffe



28 Juni 1919, Jerman resmi menandatangani Perjanjian Versailles yang disusun oleh negara-negara Sekutu pemenang Perang Dunia I. Perjanjian ini mengharuskan Angkatan Udara Jerman dibubarkan dan peralatannya dihancurkan. Suatu harga mahal yang harus dibayar setelah satu perang yang menghasilkan pilot-pilot tempur dengan kemenangan terbanyak dan mendominasi berbagai front pertempuran. Juga diperkenalkannya pesawat pemburu pertama yang memiliki senjata yang dapat menembak melalui baling-baling.

Luftwaffe dulunya adalah Die Fliegertruppen des Deutschen Kaisserreichs (Jawatan Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jerman) yang disingkat Fliegertruppe. Pada Oktober 1916, namanya berubah menjadi Deutsche Luftstreitkräfte, Angkatan Udara Jerman. 

Selama Perang Dunia I, AU Jerman meraih nama harum dengan menggunakan pesawat-pesawat pemburu Albatros dan Fokker lalu menghasilkan para ace termasyhur. Diantaranya adalah Manfred von Richtofen, Ernst Udet, Oswald Bölcke, Werner Voss, Max Immelman, dan Hermann Göring. Beberapa diantara mereka pun sempat menjadi petinggi Luftwaffe. Luftstreitkräfte juga menggunakan pesawat pembom Gotha dan kapal udara Zeppelin untuk membom Prancis, Belgia, dan Inggris. 

Setelah kalah perang, AU Jerman dibubarkan pada 8 Mei 1920. Seluruh pesawat terbang militer Jerman dihancurkan. Keadaan demikian menimbulkan kemarahan pada awak penerbang tempur Jerman. 

Keadaan itu tetap berlangsung hingga Hitler merebut kekuasaan dan naik tahta. Hitler melihat nilai lebih Hermann Göring, pengikut setianya itu. Seorang ace perang dengan Pour le Merite. Hitler kemudian memberi Göring kekuasaan yang besar. Pada tahun 1933, Göring menjadi pemimpin Reichluftfahrtministrium (RLM), Kementerian Udara Reich.

Kendati masih terikat dengan Perjanjian Versailles, sebuah departemen penerbangan disusun secara rahasia dan dilatih sebagai bagian dari Angkatan Darat. Sekutu kemudian mencabut larangan pembuatan pesawat terbang sipil pada 3 Mei 1922. Dengan demikian, Jerman kembali memproduksi sejumlah pesawat seperti Dornier, Heinkel, Junkers, Arado, dan Messerschmitt. Keberadaan Luftwaffe tidak dibuka kepada dunia hingga Maret 1935 dan disamarkan sebagai Kementerian Udara. 

Messerschmitt Bf-109. Courtesy: www.promare.co.uk

Luftwaffe mendapatkan misi pertamanya ketika Perang Saudara Spanyol pecah pada bulan Juli 1936. Kesempatan ini dijadikan ujian bagi peralatan, personil, maupun teori militer mereka. Hitler mengirim bantuan untuk pasukan pemberontak sayap kanan pimpinan Jenderal Franco. Korps sukarelawan Luftwaffe itu dinamakan Legiun Kondor. 

Perang di Spanyol itu memberikan pelajaran berharga bagi Luftwaffe. Teknik formasi terbang longgar, nilai pemboman tepat dengan menukik, dan efek pemboman karpet dicatat dan digunakan kembali ketika Perang Dunia II pecah.

Luftwaffe turun dalam medan perang sesungguhnya pada saat Reich menyerbu Polandia lewat serangan Blitzkrieg, 1 September 1939. Serangan itu sebenarnya menimbulkan kerugian besar karena Luftwaffe kehilangan 285 pesawat dan 279 lainnya rusak. Walaupun begitu, reputasi kehebatan mereka di udara tidak lantas pudar. Prancis dan Inggris pun tidak berani melawan sekalipun telah menyatakan perang. 

April 1940 Reich menyerang Skandinavia dengan sasaran Denmark, Norwegia, dan Swedia. Dominasi Luftwaffe membuat mereka leluasa menyerang armada sekutu. Selanjutnya, invasi berlanjut ke Prancis dan negara-negara rendah. 

Usai takluknya Prancis, Hitler makin bersemangat menyerbu Inggris. Inggris sendiri memang khawatir serangan Luftwaffe dapat meruntuhkan pertahanan udara mereka. Dengan kekuatan yang ada, Royal Air Force masih mampu menahan serangan Luftwaffe.

Junkers Ju-87 Sturzkampfflugzeug "Stuka". Courtesy: www.homebuiltairplanes.com

Selain bertempur di Front Barat, Hitler juga membuka wilayah pertempuran lainnya yaitu di Afrika Utara dan Rusia. Hitler dan sekutunya, Mussolini, berusaha merebut koloni Inggris dan Prancis di Afrika Utara dan Laut Tengah. Pertempuran yang kelak jadi masalah bagi pertempuran di Front Timur menghadapi Tentara Merah Stalin. 

Dengan jumlah armada pesawat tempur yang berkurang Jerman tidak lantas meningkatkan kapasitas produksinya. Mereka menghasilkan pesawat dengan jumlah yang sama seperti di masa damai. Berbeda dengan Inggris yang langsung menggenjot produksi hingga titik maksimal. Faktor inilah yang kemudian menyebabkan gagalnya Luftwaffe memberikan bantuan optimal bagi Wehrmacht dalam merebut Stalingrad dan Moskow. 

Pertahanan udara Jerman sendiri sangat rapuh dengan keadaan tersebut. Insting Hitler yang hanya mengandalkan perhitungannya semaa terbukti gagal menyelamatkan Berlin dari serbuan pesawat tempur Sekutu.  Kendati pesawat tempur bermesin jet telah diperkenalkan hal itu tidak banyak membantu. Kebijakan Hitler yang menginginkan banyak pesawat pembom menyebabkan produksi pesawat pemburu model baru tidak mencapai kapasitas yang seharusnya. Hitler kemudian menyadarinya namun semua sudah terlambat. Jerman diambang kekalahan. 

Bulan Mei 1945 yang tersisa dari sebuah kekuatan udara modern pada zamannya hanyalah rongsokan pesawat terbang yang bertebaran di berbagai lapangan terbang di Jerman. Luftwaffe dibubarkan pada tahun 1946. Luftwaffe dibangun kembali ketika Angkatan Perang Republik Federal Jerman disiapkan pada medio 1950-an untuk menghadapi konflik model baru. Perang Dingin. 

Sebagai bagian serial sejarah Perang Dunia, buku ini cukup komprehensif dalam menyajikan peristiwa perang yang melibatkan Luftwaffe. Didukung dengan daftar pustaka yang lengkap. Beberapa gambar dan ilustrasi dalam buku pun bersumber dari referensi yang relevan. 

Tinjauan mengenai kekuatan armada Luftwaffe pun disajikan secara lengkap dan detail. Tidak saja hanya pesawat-pesawat pemburu dan pembom legendaris seperti Dornier Do-17, Junkers Ju-52/3m, Junkers Ju-87 Sturzkampfflugzeug 'Stuka', Heinkel He-111, Messerschmitt Bf-109, Bf-110C4, 

Kisah-kisah lain seputar personil operasi Luftwaffe pun menjadi nilai lebih tersendiri. Terutama ketika menemukan fakta bahwa ada sebuah kebajikan dalam perang. Ketika itu, pesawat pembom Sekutu dikawal keluar medan pertempuran oleh pesawat pemburu Luftwaffe. Hingga kedua pilot pesawat meninggal, mereka tetap bersahabat. 

Buku ini hadir untuk melengkapi khazanah pengetahuan mengenai sejarah perang. Khususnya, Perang Dunia II. Selebihnya, buku ini pun dapat menjadi ensiklopedia mini tentang kehebatan dan kejayaan sebuah Angkatan Udara, sejak kemunculannya hingga batas nasib yang mampu dicapainya.


Judul        : Luftwaffe: Kisah Angkatan Udara Jerman Nazi 1935-1945
Penulis     : Nino Oktorino
Penerbit   : Elex Media Komputindo
Tebal        : 238 hal.
Tahun       : 2013
Genre       : Sejarah-Militer


Dharmawangsa, 29 Juni 2015.