Tampilkan postingan dengan label Edisi Sepi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi Sepi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2011

The Lies We Live In (2)

Will you remember me the way i remember you...*

"Ada bagian masa lalumu yang belum selesai..."
"Bagian mana?"
"Tanya dirimu, hatimu lebih tahu..."
"Apa perlunya? Apa itu masalah untukmu?"
"Kadang-kadang itu jadi masalah buatku. Lagipula kamu tak peduli."
"Kamu cemburu...?"
"............"

Percakapan terakhir pada suatu senja penghabisan itu membuatku teringat lagi padanya. Aku masih mengingkari kenyataan bahwa memang ada bagian masa laluku yang belum selesai. Bagai noktah kecil dalam tirai hati. Aku tidak mau mengakui kalau aku masih belum bisa melepasakan semua ingatan tentang perempuan yang menangis ketika kutinggalkan sore itu. Dan kini, perempuan lain hadir dalam hidupku hanya untuk sekedar mengingatkan perihal masa lalu itu.

Aku yakin ia tidak sedang merasa seperti Inez yang batal menikah dengan Francis Lim, hanya gara-gara Francis masih punya masa lalu yang belum selesai dengan Retno.** Ah, sudahlah. Hidup ini tidak seperti novel walau kadang diperlukan waktu yang panjang untuk menyudahinya dan kejutan-kejutan hebat sebagai bumbu cerita.

"Kadang tidak perlu benar-benar jahat untuk jadi penjahat..."
"Kata siapa? Apa itu sindiran buatku?"
"Ya, jika kau merasa..."
"Lantas?"
"Tidak perlu memaksa melupakan bila memang tak sanggup"
"Kamu cemburu?"
"........."

Lagi-lagi hanya diam. Perempuan yang ada dihadapanku itu membuang mukanya. Tidak lagi menghiraukan aku yang dengan gantengnya melirik wanita di meja sebelah.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lagu itu. Lelah, lelah hati ini... Menggapai hatimu tak juga menyatu...*** Beberapa hari terakhir ini sepertinya tidak ada lagu lain buat dirinya. Entah, aku tidak peduli mengapa sebabnya yang jelas kini matanya tidak mau lagi menatapku.

Aku rasa berkomitmen itu mudah dan bukan sesuatu yang 'sakral'. Dalam komitmen yang dibutuhkan hanya kesungguhan untuk menjalani hidup bersama tanpa harus melupakan diri masing-masing. Toh, kita masih bisa tetap jadi diri sendiri. Tetapi, apakah meninggalkan segala ingatan tentang masa lalu adalah bagian dari komitmen itu juga?

Semua orang punya rahasia masing-masing. Aku dan dia sama saja. Kita sama-sama pernah punya lubang di hati. Aku rasa kita berdua telah sama dewasa. Bicara dengan logika walau perempuan itu cenderung melibatkan emosinya.

"Sudah berapa lama kamu berhenti menemuinya?"
"Sejak aku mengenalmu"
"Gombal"

Aku memang pernah menginginkannya. Aku memang selalu rindu padanya. Pada tatap hangat dan senyuman yang merekah indah setiap pagi. Pada semua momen bersama yang terlalu indah dilepaskan. Sampai akhirnya, aku pula yang menghentikan perasaan itu. Aku memang meninggalkan luka padanya, itu memang salahku. Lagipula, aku tidak akan memaafkan diriku bila aku sampai hati memainkan perasaannya. Aku sedang tidak ingin serius apalagi sampai harus memegang komitmen. Untuk apa? Dengan diriku saja aku masih belum bisa berkomitmen apalagi dengan dia. Sudahlah, aku pergi.

"Kamu masih ingat perjumpaan kita?"
"Masih, bagaimana bisa aku lupa?"
"Apakah itu suatu penyangkalan?"
"Tentu tidak. Kamu tentu tahu betapa hebatnya ingatanku."
"Apa itu sebabnya kamu masih belum bisa lepas darinya?"
"Apakah kamu minta penjelasan?"
"Things happens for a reason..."
"Not everything in common..."
"Ah, tentu kamu masih ada rasa..."
"Itu untukmu..."
"Is that a compliment?"
"Akuilah, kamu cemburu?"

Perempuan itu terdiam lagi. Senyum tipisnya merekah seakan penuh kemenangan. Perlahan ia hirup aroma kopi Aceh pesanannya. Betapa sederhananya menemukan kebahagiaan dalam hidup ini walau hanya dalam aroma kopi.

"Kadang terlintas untuk cemburu, tapi buat apa? Toh aku tahu kamu tidak akan kembali pada masa lalumu."
"Mengapa kamu begitu yakin? Aku bisa saja melakukannya."
"Aku percaya kamu takkan bisa melakukannya"
"Mengapa tidak?"
"Aku ini bukan apa-apa sehingga seandainya kehilangan dirimu pun aku rela, tak ada yang abadi walau memang kadang terlalu sulit menerima kenyataan..."

Kalimat terakhirnya cukup membuatku merasa bersalah. Aku tidak pernah meragukan dirinya. Sudah terlalu banyak 'pertengkaran' semacam ini. Suatu proses atas nama pendewasaan. Kami pun cukup sadar untuk melewati gerimis berkerikil tajam ini. Bukan suatu alasan untuk menyerah dan berpisah.

Dalam keremangan senja gerimis benar-benar menutup hari. Lampu temaram jalanan mulai menghiasi sudut kota. Para pekerja kantoran mulai berhamburan, sebagian menutupi kepala sebisa mereka. Pertanda episode kehidupan dimulai kembali.

"Memang sulit untuk menutup masa lalu, apalagi tentang dia.."
"Maksud kamu?"
"Selesai tidak selesai itu hanya dipikiranmu saja. Aku tidak tahu apa-apa."
"Apakah itu mengubah sesuatu?"
"Mungkin saja!"
"Apa itu?"
"Mungkin tidak ada bedanya. You do well and i'll live mine."

Ingatanku kembali pada Inez, yang mungkin punya sejuta tanya tentang mengapa Francis meninggalkannya hanya demi sebuah masa lalu yang tertinggal dan belum selesai. Bukanlah masa lalu itu adalah akhir dan kita hanya diperbolehkan untuk menengok sebentar. Bukan lantas tinggal kembali dan menjalaninya sementara melupakan hari ini.

Aku tersadar ketika perempuan itu memelukku erat dalam guyuran gerimis. Aroma perpisahan mulai mewangi. Aku harap bukan, mungkin itu sisa parfumnya. Perempuan itu bergegas mengejar taksi. Dalam hitungan detik, perempuan itu menuju belantara kemacetan. Macet di Jakarta adalah bagai dosa yang takkan berakhir. Kulangkahkan kaki, sambil bergumam dalam hati: i'm all alone, and life is very long.

Ponselku berbunyi. Yup. Malam ini aku ada kencan dengan Cinta. Yeah!


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 13 Juni 2011.


* dari lirik lagu "Remember My Sweet Moments", soundtrack iklan Tropicana Slim
** baca novel"Travelers Tale", Adhitya Mulya dkk, Gagasmedia, 2007
*** dari lirik lagu "Lelah" dinyanyikan oleh Rafika Duri

Selasa, 31 Mei 2011

Suatu Malam Aku Menulis

Airplane, take you away again...
Are you flying above where we live...*)

Ya. Pesawat buatan Perancis itu pula yang membawamu ke peraduan. Kembali ke pelukan Bunda. Merangkai rindu dalam akhir pekan yang terlalu singkat. Tak kulihat dulu barang sejenak. Manis senyum diatas bibir bergincu tipis yang melambaikan salam perpisahan.

Aku dengar lagu di radio butut itu. Aku akan pergi tuk selamanya. Bukan tuk meninggalkanmu sementara. Aku pasti tak kembali pada dirimu. Tapi kau jangan harap, aku takkan kembali.**) Mirip lagu yang pernah kita nyanyikan. Dulu, waktu kita masih bersama. Saling membuka rasa dan bercerita cita.

Kini, hanya pesan darimu yang jadi penanda rindu. Pesan-pesan yang tertinggal di kotak masuk dan masih enggan kuhapus satu per satu. Ternyata kusadari satu hal. Bahwa lebih mudah untuk mengusap wajahmu dan menyeka air mata daripada menghapus semua pesan itu.

Senja perlahan menghampiri. Butiran gerimis menambah resah yang selalu hadirkan kenangan. Kenapa kita menciptakan kenangan kalau ternyata malah tidak bisa melepasnya? Harusnya kita, aku dan kamu mampu hadapi semua.

Ketika malam semakin larut, aku coba menulis. Entah sajak, puisi, atau hanya catatan biasa. Mungkin untukmu, mungkin untuknya.

Masihkah aku menginginkanmu? Bila setiap pagi masih berharap senyummu
Masihkah aku menginginkanmu? Bila masih tega mengharapkanmu

Masihkah aku menginginkanmu? Bila asa itu masih ada

Masihkah aku menginginkanmu? Bila harap tak pasti resah tak peduli

Masihkah aku menginginkanmu? Takkan ku menanti bila harus mengerti

Masihkah aku menginginkanmu?
Sedang cinta aku tak punya



Sudirman-Thamrin, 27 April 2011.


*) dari lirik lagu Sleeps With Butterfly, dinyanyikan oleh Tori Amos
**) adaptasi dari lagu Aku Pasti Kembali, ciptaan Maia, direcycle oleh Pasto

Sabtu, 16 April 2011

Doaku Malam Itu

(untuk pria yang mengaku kekasihmu itu)

Semoga ada bagian dari masa lalunya yang belum selesai.
Ada cerita tak terujar
Tentang suatu masa dan bukan tentangmu
Kelak nanti kau minta jelaskan padanya.

Parung, 30 Maret 2011

Kamis, 10 Maret 2011

Sepasang Mata di Halte Busway

Sepasang mata menatapku tajam
Pada pagi selintas, mentari di ujung mega

Sepasang mata menatapku tajam
Entah karena seragam lusuh ini
atau headset ponsel butut itu

Sepasang mata menatapku tajam
Memaksa mencari makna
Bagai cinta tak terlacak, di bait-bait acak*


Medan Merdeka Barat,8 Maret 2011

* dari judul puisi Hasan Aspahani, "Cinta Tak Terlacak, di Bait-bait Acak", Harian Kompas Minggu, 6 Maret 2011.

Rabu, 26 Januari 2011

Usai Merenda Malam

Rindu yang mereda
Tinggal gelisah dalam tanya
Akankah sama jadinya
Mengenang dahulu
Atau, selesai dari masa lalu


Paninggilan, 23 Januari 2011. 23.46

Sabtu, 22 Januari 2011

The Wishes



It's been a year since those wishes
Nothing's been written
Keeping silence
in reminiscing places


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 19 Januari 2010.

Rabu, 19 Januari 2011

Le Memoir du Soir

Aninda,

Entah cepat atau lambat, aku tahu saat seperti ini akan terjadi. Saat meninggalkan kota ini dengan segenap perasaan yang tertinggal. Tertinggal pada hatimu atau malah disela-sela rerumputan di perbukitan Utara itu. Ini bukan pertama kali, tapi sudah untuk kesekian kalinya. Kini, semua itu kembali menyeruak dalam ingatan. Mengiringi deru mesin-mesin, pada suatu sore di terminal yang tak rapi.

Aku pernah membayangkan bahwa saat ini memang akan tiba. Melaju mengejar mimpi-mimpi kosmopolis-artifisial buatan ibukota dengan bis paling eksekutif yang pernah ada. Impianku melaju didera deru mesin yang saling berkejaran dengan parau suaramu. Usai kau ucapkan salam perpisahan kita di ujung jalan itu. Menangiskah kau kemarin?

Aninda,

Tahukah engkau? Dulu, aku selalu menatap getir matahari sore yang selalu mengantar senja. Dibalik jendela bis sambil menatap keluasan semesta. Sesekali terbayang wajah-wajah sahabat dan semua yang pernah mengisi hati ini. Ah, betapa kenyataan memang tidak selalu menyenangkan.

Rasanya sangat tidak pantas bila aku mengeluh pada Tuhan. Ini hanya bagian kecil dari jutaan potongan scene kehidupan yang tentu masih berlanjut. Kalau aku menyerah dan kalah saat ini, aku justru malu pada diriku sendiri. Betapa masih banyak orang yang pernah lebih menderita dibandingkan dengan aku yang disiksa perasaanku sendiri. Yeah, sometimes i'm afraid of myself.

Aninda,

Aku belum pahami betul apa maksud semua ini. Apakah ini hanya ujian godaan religi ataukah hanya sekedar momen penguras rasa? Rasa dimana gelisah tak pernah pudar.



Pharmindo-Leuwi Panjang-Paninggilan 16-18 Januari 2011.



Kamis, 13 Januari 2011

Una Verso y Poema Esta Manana

Bolehkah aku duduk disini?
Sendiri menemani sendiri
Mengurai resah menambal sepi
Menandai mimpi memindai hari

Bolehkah aku duduk disini?
Sendiri meyakini arti hari
Merangkai jarak rindu pada kepingan mimpi
Tiga musim basah dalam lembaran sepi

Bolehkah aku duduk disini?

*

Sementara menunggu jawabmu, kuhadirkan seribu tanya, mengapa pelangi enggan nampak di ujung langit utara. Usai hujan gelisah melanda kota yang tak pernah terlalu tua, tempat labuhan mimpi-mimpi kosmopolis-artifisial.

Ah, sementara duduk, akan kubuatkan juga rumah untukmu dari sisa-sisa dinding hati. Menjelmakan mahakarya. Rumah terindah untuk anak-anak kita nanti. Tempat mereka bermain dan belajar mengucap "Ibu...".

Sementara pada dinding kamar kulukis engkau disitu. Peretas rindu sejak dari kalbu. Pada gerimis selintas, kau tak tahu. Jarak merentang hanya sejengkal tatap sayu.

Karena itu, biarkan aku belajar mencintai resahmu*). Ketika hidup telah dikatakan pada lembar-lembar sepi. Ketika aku merasa lelah berjuang dengan kata-kata dan suara.

Bagai rintik (entah hujan, entah gelisah) yang saling berkejaran di jalan-jalan kota, kata-kata ingin mencintaimu bertebaran sebebas puisi menjelma paragraf bisu.



Medan Merdeka Barat, 13 Januari 2010

*) Adaptasi dari puisi Sulaiman Djaya, Silence Memoir, Majalah Sastra Horison, Desember 2010.

Minggu, 02 Januari 2011

Jumat, 15 Oktober 2010

Kapan Lagi Saya Nyanyikan Lagu Ini Sambil Menatap Wajahnya?

7. Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang dia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah melupakannya, karena saat-saat itu ialah saat yang berharga untuknya. dan saat itu, matanya pasti berkaca. karena saat bersamamu tidak selalu terulang.*


Belum juga seminggu perasaan itu pergi. Belum juga seminggu rasa itu usai. Entah kenapa, tiba-tiba pula, saya jadi begitu ingin menyanyikan lagu ini. Sambil menatap wajahnya, di layar ponsel, di album facebook.



Moshimo Negai ga kanau nara
Toiki o Shiroi bara ni Kaete
Aenai hi ni wa
Heya jyuu ni Kazarimasyou
Anata wo omoi nagara

Darling, I want you Aitakute
Tokimeku koi ni Kakedashi sou nano
Maigo no you ni Tachisukumu
Watashi o sugu ni Todoketakute

Daiyaru mawashite Te o tometa
I’m just a woman fall in love

If my wishes can be true
Will you change my sighs
To roses, whiter roses
Decorate them for you
Thinking ’bout you every night
And find out where I am
I am not livin’ in your heart

Darling, I need you Doushitemo
Kuchi ni dasenai Negai ga aru no yo
Doyou no yoru to nichiyou no
Anata ga itsumo hoshii kara

Darling, you love me Ima sugu ni
Anata no koe ga Kikitaku naru no yo
Ryoute de Hoo o Osaetemo
Tohou ni kureru Yoru ga kirai



A song and lyric from Olivia Ong, Koini Ochite (Fall In Love). Album Koini Ochite (Japanese Domestic Market, 2008)



Paninggilan, 15 Oktober 2010. 19.03


*) dikutip dari sini

Sabtu, 18 September 2010

Lagu Itu

Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu...*)

Betul benar itu terjadi padaku. Saat yang paling menyenangkan dalam hidupku itu pula yang rupanya menghantarkan lagu itu melewati gendang telingaku. Begitulah, entah mengapa selalu terbayang wajahmu setiap saat lagu itu diputar. Aku tidak pernah tahu sejak kapan itu terjadi padaku. Kiranya, apa karena aku masih ada rasa padamu.

Lagu itu bukanlah lagu syahdu sebagaimana lantunan suara merdu Christine Panjaitan, Dian Pisesha, atau Iis Sugianto yang selalu mengantarku ke peraduan. Bukan. Bukan itu kan? Tentu saja. Mungkin saja telinga dan lidahmu bakal kelu kalau terlalu sering nguplek dengan lagu jadul.

Aku pikir kau memang menyukai lagumu itu bukan saja karena kau memang menyukai musikalitasnya tetapi juga barangkali terselip memori indah dibalik liriknya. Seperti rasa bahagia milikku yang menyangkut dalam setiap bait lagu On My Own milik Whitney Houston pada makan siang bersama kita waktu itu.


And i am not afraid to try it on my own...
I don't care if i'm right or wrong...



Ah, rasanya tidak perlu kuceritakan kembali perihal kejadian siang itu. Bukankah kita berdua sama-sama menikmati makan siang yang paling spesial? Walau menunya cuma ayam bakar dan jus mangga tetapi tetap kesan itu tak berubah hingga hari ini.

*

Tentu aku tidak perlu tahu kenangan macam apa pula yang ikut menempel lekat dalam lagumu itu. Aku juga tidak perlu tahu apakah lagu itu juga tentang dirinya. Sebuah nama laki-laki lain dalam secarik surat** yang pernah tak sengaja kau sebutkan di depan hidungku. Hadirkan resah. Sentuh rasa tiba-tiba. Mungkinkah aku cemburu?



Pharmindo, 14 September 2010. 21:43


*) dari lirik lagu ''Kugadaikan Cintaku'', dinyanyikan oleh Gombloh.

** dari judul buku Budi Darma, ''Laki-laki Lain Dalam Secarik Surat'', Bentang Pustaka, 2008.

Selasa, 14 September 2010

Malam Pembuka

Hujan belum juga reda seperti perasaanku padamu. Dingin menjemput kehangatan malam yang tercipta dari sisa-sisa kenangan bersamamu. Malam terus merambat. Menutup gelisah musim yang basah.

Aku bayangkan dirimu berselimut mimpi. Tentang hari dimana rasa belum juga pudar. Tentang rasa yang dulu kau simpan semisal senja di musim yang basah.

Musim terus berganti membawa ceritamu. Entah kapan lagi kau ceritakan padaku. duduk bersama sambil menunjuk satu bintang dilangit kelam. Menambatkan rasa pada dinding hati.

Mungkin ini hanya khayalku sendiri. Aku yang tak mampu sembunyikan mimpi dari imaji keinginan. Bagai puisi yang lepas dari kata-kata. Begitulah cintaku, nikmatilah malam ini bagaikan senja terakhir di pulau tanpa nama. Hirup dan rasakanlah aroma hidup ini. Hingga saat nanti, hingga ujung waktu.


Teluk Buyung 17, 8.9.10: 22.37

Minggu, 08 Agustus 2010

Tentang Mimpi-mimpi di Pakutik

Ada mimpi datang dan pergi
Pada senja selintas di musim basah
Sedang kau pun tahu
Tak satu pun menuju padamu

Kau juga tahu
Tak ada rindu meluruh
Saat mimpi menyebut namamu
Hanya kosong yang entah semu




Sedang malam masih merambat
Menambat harap pada bintang
Di pojok langit utara
Gelap, dingin, (dan lagi-lagi) sepi



Pakutik, Sungai Pinang, 4 Agustus 2010. 22.19 WITA
*) dengan ingatan pada sekuen mimpi-mimpi yang berkejaran 3 hari berturut-turut

* crossposting dari tetangga, selendangwarna.blogspot.com

Sabtu, 24 Juli 2010

Nyanyian Sepanjang Hari #2

06.00 Meja Kerja
Pinokio Instrumental played following Winter Games melody


07.00 Meja Kerja
...cinta satu malam, oh indahnya...


07.30 Meja Kerja
... it came over me in a rush, when i realize that i love you so much...


09.00 Kantin Minerba
... semua terserah padamu, aku begini adanya...


10.00 Ruang Rapat Minerba lt.4
... the winner takes it all, the looser standing small...


12.00 Masjid di daerah Tebet Barat
... Tuhan aku ingin mencurahkan isi hatiku kepada-Mu...




13.59 Meja Kerja (wangi menthol dari Starmild)
... katakanlah, katakan sejujurnya, apa mungkin kita bersatu...


19.30 Meja Kerja
...but you were history with the slamming of the door, and I made myself so strong again somehow...


21.45 Meja Kerja (menghisap Surya Slims Red Label)
...andaikan mungkin ingin aku mengajak kau kembali...


23.55 Meja Kerja (mulai dungdeng,)
...meskipun jauh, ku kan selalu merindukannya...


00.55 Meja Kerja (mata mulai berat, angka-angka sialan terpampang di LCD)
...now the drugs don't work, they just make you worse, but i know i'll see your face again...


Paninggilan, 24 Juli 2010. 01.03

*Pinokio Instrumental, dari album Kahitna, Sampai Nanti (1998), track #5

*Winter Games melody, theme from Winter Olympics Canada 1988, ada di album The Best of David Foster (1992)

*penggalan lirik lagu "Cinta Satu Malam", dinyanyikan oleh Melinda

*penggalan lirik lagu "In A Rush", dinyanyikan oleh Blackstreet

*penggalan lirik lagu "Jangan Ada Dusta Diantara Kita", dinyanyikan oleh Dewi Yull & Broery Pesolima

*penggalan lirik lagu "The Winner Takes It All", dinyanyikan oleh ABBA

*penggalan lirik lagu "Terbalik", dinyanyikan oleh Delon Idol

*penggalan lirik lagu "Katakan Sejujurnya", dinyanyikan oleh Christine Panjaitan

*penggalan lirik lagu "It's All Coming Back To Me Now", dinyanyikan oleh Celine Dion

*penggalan lirik lagu "Mungkinkah", dinyanyikan oleh Kris Biantoro

*penggalan lirik lagu "Meskipun Jauh", dinyanyikan oleh Apel Band

*penggalan lirik lagu "The Drugs Don't Work", dinyanyikan oleh The Verve

Kamis, 22 Juli 2010

Nyanyian Sepanjang Hari

10.07 Meja Kerja

...dingin, dingin, hati ini tambah dingin entah mengapa...


12.00 Busway Blok M-Kota

...show me the meaning of being lonely, this is the feeling I need to walk with...


13.40 Toko Donat depan Wisma Hayam Wuruk

...mengapa ku selalu sendiri, akankah hidupku tiada berarti...




16.30 PPD Cililitan-Blok M

...Cause all of the stars, have faded away, just try not to worry, you'll see it someday...


21.29 Meja Kerja

...biarlah bulan bicara sendiri, biarlah bintang kan menjadi saksi...



Paninggilan, 22 Juli 2010. 22.24

- penggalan lirik lagu "Dingin", dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang
- penggalan lirik lagu “Show Me The Meaning of Being Lonely”, dinyanyikan oleh Backstreet Boys
- penggalan lirik lagu “Langit Tak Mendengar”, dinyanyikan oleh Peterpan
- penggalan lirik lagu “Stop Crying Your Heart”, dinyanyikan oleh Oasis
- penggalan lirik lagu “Biarlan Bulan Bicara”, dinyanyikan oleh Broery Marantika

Perjalanan

Setelah mampir dan membaca kembali pesan-pesan yang berseliweran di milis indobackpacker@yahoogroups.com, saya kemudian mengembalikan ingatan saya pada beberapa perjalanan yang pernah saya lakukan. Bersama teman-teman, ataupun sendirian, termasuk ketika menembus belantara Jakarta berduaan dengan teman yang belum pernah ke Jakarta sekalipun.

Rasanya, saya masih akan bisa memenuhi target saya. Minimal, setahun sekali saya harus melakukan perjalanan. AKAP. Antar Kota Antar Provinsi, Antar Kota Antar Pulau., atau Antar Kota Antar Negara. Mengapa begitu? Saya yakin bahwa dengan perjalanan akan membuka pikiran kita dan menghantarkan diri pada pengalaman-pengalaman baru. Hal ini sangat diperlukan mengingat aktivitas padat setahun penuh.

Kadangkala, perjalanan saya perlukan seperti Ramadhan, untuk mengistirahatkan jiwa dan menenangkan pikiran serta membuka hati, bahwa dunia ini masih luas dan menunggu kita. Tuhan pun pasti tidak ingin bumi dan seisinya yang dia ciptakan ini disiakan begitu saja karena Tuhan tentu masih menginginkan hambanya ini menikmati perjalanan sambil mensyukuri tanda-tanda kebesaranNya.

Kalaupun ada tiket perjalanan menuju kesepian terindah maka saya akan membeli dan menghadapinya. Seperti sekarang ini.


Paninggilan, 29 Juni 2010. 16.55
diedit ulang 22 Juli 2010. 00.30

Senin, 19 Juli 2010

Hujan dan Hal-hal yang (Belum) Selesai

Aninda,
Diluar masih hujan. Rintiknya masih bisa kudengar sangat jelas. Menghantam ruang sunyi disekitar dinding hati. Entah hatiku yang sebelah mana. Pekaknya pun semakin perih kurasa, menimbulkan prahara. Membangunkanku dari lamunan panjang.

Aninda, betapa kuingin mendendangkan lagu bisu sepanjang jalan sunyi. Nyanyian yang hanya bisa kau dengar lewat setiap detak jantungmu. Dalam hujan yang selebat ini kadang-kadang aku selalu membayangkan sesuatu. Aku melihat kau bersama anak-anak kita menyanyikan lagu hujan itu “tik tik tik... bunyi hujan di atas genting...”. Kalau sudah begitu, giliran aku yang merinding. Betapa lirik lagu masa kecil kita dahulu itu berubah jadi momen-momen mengerikan. Aku selalu terbayang matinya seseorang oleh penembak misterius yang entah darimana asalnya. Barangkali, aku hanya terbawa cerita dalam buku itu saja*.

Aninda. Betapa derasnya hujan siang ini mengingatkanku pada dirimu. Usai hujan yang selalu basah di pinggir kota itu. Senja belum merambat, hanya wanginya kadang tercium. Begitulah, menjelang senja terakhir di batas kota, aku cium keningmu sambil berkata selamat tinggal. Kau tidak mengelak sedikitpun. Air mata yang sempat meluncur pun tak kau hiraukan. Kau hanya menatapku dalam. Mungkin hatimu menyanyikan lagu Dian Pisesha itu, “malam ini tak ingin aku sendiri, kucari damai bersama bayanganmu...**”. Tentu kau harap aku juga menyanyikan lagu lain, “bila kau seorang diri, jangan engkau bersedih... bila kau seorang diri, kuingin menemani... kan kuceritakan tentang sekuntum mawar merah... kan kunyanyikan lagu tentang asmara...***”.

*****

Tahukah kau Aninda, bahwa aku pun sama adanya dengan dirimu. Diantara lembaran-lembaran terbuka dan Horison yang menggelepar di atas kasur lipat itu, aku semakin kesulitan menuliskan cerita untukmu. Padahal, aku punya banyak cerita yang hanya kusimpan di kepalaku saja. Bukankah kau selalu ingin tahu konspirasi-konspirasi untuk menentang Hitler, lalu tentang kenapa tiba-tiba Petruk jadi Guru? Belum lagi bedanya Orang dan Bambu Jepang dengan heterogenitas masyarakat kita dan kenapa laki-laki lain dalam secarik surat selalu membuatku resah hingga berujung pada gelisah terindah.

Aku tahu semua tapi aku belum tahu kapan harus menuntaskannya. Hingga kau bisa beristirahat dengan tenang setiap malam. Tanpa harus risau menunggu cerita-cerita yang kukirimkan lewat angin malam. Aku hanya tidak ingin kau hanya mengendus bau rokokku saja setiap malam tanpa ada cerita untuk dibaca menjelang tidurmu. Hujan mulai mereda. Senja belum akan tiba. Aku masih disini, mencoba mengikat makna. Diantara melodi-melodi harmoni Diego Modena dan Jean-Phillipe Audin hingga nyanyian sunyi Olivia Ong. Masih teringat pada butir embun yang mampir di kacamatamu, aku menulis:

Antara hujan, basah, dan gelisah
Mana yang kau restui
Merangkai untaian paling indah
Menghujam sepi, meretas sunyi



Paninggilan, 19 Juli 2010. 15.15


*”Penembak Misterius”, Kumpulan Cerpen Seno Gumira Ajidarma

** dari lagu “Tak Ingin Sendiri”, dinyanyikan oleh Dian Pisesha

*** dari lagu “Bila Kau Seorang Diri”, dinyanyikan oleh Nur Afni Octavia


Dengan ingatan pada hal-hal yang belum selesai:

Ajip Rosidi, Orang dan Bambu Jepang, Pustaka Jaya, 2003

Darma Aji, Menantang Diktator, Penerbit Buku Kompas, 2006

Sindhunata, Petruk Jadi Guru, Penerbit Buku Kompas, 2006

Budi Darma, Laki-laki Lain dalam Secarik Surat, Bentang Pustaka, 2008

Majalah Horison, Juni-Juli 2010


Sabtu, 17 Juli 2010

Setelah Malam Ini

Setelah malam ini
Ratu Sofia masih harus berpikir
Akankah Catalan dimerdekakan
Seperti Habibie melepas Timor Timur

Setelah malam ini
Hanya tinggal sisa cerita
Tentang keinginan-keinginan tanpa batas
Menuju horison terasing*


Setelah malam ini
Masih ada rasa mengusik
Tentang nama yang tersirat
Laki-laki lain dalam secarik surat**

Setelah malam ini
Angin berdebar menyebar impresi
Dan malam kian mendendangkan sunyi
Aku (masih) sendiri



Paninggilan, 12 Juli 2010. 03.59


ditulis usai Spanyol mengalahkan Belanda, 1-0 di Final Piala Dunia 2010

* Horison Terasing, satu judul pameran yang pernah diselenggarakan di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung
** Laki-laki Lain dalam Secarik Surat, Kumpulan Cerpen Budi Darma, Bentang Pustaka, 2008


NB: judul diatas sama dengan judul lagu Kahitna, Setelah Malam Ini, album Permaisuri (2000)

Jumat, 16 Juli 2010

If I Never See You Again (#1)

Kata orang, kalau lagi sepi kau punya banyak waktu untuk berpikir. Entah untuk hidupmu sendiri atau untuk hal-hal lain yang belum selesai. Penyesalan Bulan Juni belum juga selesai kutulis. Hanya jadi penanda semata dalam kalender tanpa makna. Juni menyisakan terlalu banyak kata.

Aku masih belum mau memejamkan mata. Usai hujan yang turun sore ini di suatu kota yang tidak pernah sepi. Diantara citra landsat dan keheningan malam. Diantara lengkingan Lea Simanjuntak dan kegalauan Sophia Latjuba. Maka, ketika malam ini tak berwarna dan anginnya pun tidak karuan, aku menulis surat. Tertuju pada seseorang, yang (seharusnya) jadi bagian cerita di Bulan Juni itu.

Dear Celline,

I know that it might be hard for me to write all these memories behind. It’s been a year now. But, I can still remind the moments we had work together. You’ve spent a week in the Library. Yeah, sounds good to me and it might felt like hell to you. Well, you clearly known that I mustn’t go far with this memoir. You know my English. Just to remembering you. The one I always admiring.


Well, since that day you left, I’m all alone like I used to. I used to play all the songs that still reminding me to that week. To all those books you’ve placed. Every mandarin’s words you’ve read it for me. As conclusion, I’ve spent an unforgettable week along with you. I still remind your face while you were covering those books. Maybe there were some annoying sounds from the speaker when I asked you to play all the songs about my graduation day.


Did I missing something from you? Well, I have one. I still don’t know about the look in your face. Your smile was blown away by the air when I asked you about the Tiananmen Massacre-TIME magazine’s headline. I thought you’re just too young to understand the circumstances behind the political intrigue inside. But later, on the day we’ll meet again, I’ll ask the same question. I don’t want to see any objection. Hope you don’t mind.


Warm smile,

Librarian




Paninggilan, 16 Juli 2010. 01.27

*dengan ingatan menjelang Summer Break 2009 di Kelapa Gading