Tampilkan postingan dengan label Edisi Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi Galau. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2013

Kerinduan Yang Rapuh - Serial #CerpenSMA Eps.1

Pengantar

Sebagai pembuka, beberapa hari lalu saya sengaja menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk membuka kembali file-file tugas sekolah SMA. Menarik, karena saya menemukan sebuah kumpulan cerpen yang pernah saya buat waktu itu. Tidak terlalu banyak memang, namun saya rasa sudah waktunya cerpen-cerpen itu menemukan pembaca mereka yang sesungguhnya.

Serial #CerpenSMA ini akan dimulai sejak tulisan pertama ini terbit. Semua cerpen telah mengalami  proses editing yang terbatas pada kesalahan penempatan tanda baca dan tipografi. Tidak ada perubahan dalam alur dan pemilihan kata-kata. Saya serahkan pada pembaca untuk menilai tulisan saya. Bagi saya, kumpulan cerpen itu tadi adalah tonggak awal sejarah kepenulisan saya, jauh sebelum blog ini dibuat.

Saya berharap pembaca dapat menikmatinya. Khusus untuk ini, terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih.

Paninggilan, 12 Juli 2013


KERINDUAN YANG RAPUH

Andhita tercinta,

Didalam surat ini aku tuliskan sebuah cerita saat aku telah jauh darimu. Suratku ini akan berisikan kerinduanku padamu. Andhita, apakah kamu akan ikhlas untuk menerima dan membacanya?.

Andhita, akan kuceritakan  betapa rindunya diriku saat kau tak disisiku menemaniku. Mengapa? Karena aku sangat mengharapkanmu untuk kembali bersama menikmati segala kenangan yang pernah kita lalui.


 
27 Juni 2001, tahukah Dhita, hari itu aku sungguh-sungguh kecewa, hari itu aku sadar bahwa kita tak akan pernah bertemu kembali. Aku tak bisa menerima kenyataan itu. Tetapi Andhita, kaupun tahu aku harus terus maju untuk meraih masa depanku. Tak hanya diriku saja tapi dirimu juga.
 
Aku juga masih ingat saat kau melihatku berjalan berdua dengan seseorang yang kini telah menjadi mantan kekasihku. Akupun mengerti perasaanmu Andhita, aku juga tahu kalau hatimu menyimpan sedikit luka karena kejadian itu. Apakah kamu tahu juga kalau selama ini aku pun terluka? Seseorang itulah yang sering membuatku terluka, terluka karena ia berusaha untuk menjauhkan dirimu dari hatiku. Andai waktu itu aku dapat menemanimu, maka tak akan ada lagi luka bagi kita berdua.
 
Namun kini Andhita, aku kehilangan perasaan itu. Aku kehilangan jejak cerita kita, saat kita masih bersama. Aku bahkan tak tahu kini dimana dirimu berada, entah di belahan dunia mana. Tetapi Andhita, aku takkan pernah kehilangan sesuatu dari dirimu yang sampai saat ini menjadi sesuatu yang berharga bagi diriku. Apakah kamu tahu Andhita? Senyummu. Senyummu itulah yang selalu menguatkanku dan mengabadikan dirimu di hatiku.
 
Andhita tersayang,
 
Didalam hatiku kaulah yang terindah kau telah menjadi sekuntum bunga yang mekar tiada hentinya didalam hatiku sampai kapanpun, karena kaulah bunga pertama yang kusimpan di dalam ladang cinta hatiku. Andhita, pernah kucoba untuk menepis bayanganmu yang selalu memaksaku 'tuk merindumu, namun ku tak pernah bisa. Belum lagi dalam kesendirianku ini, belum kutemukan bunga-bunga lain sebagai pendampingmu, aku belum bisa Andhita.
 
Andhita yang manis,
 
Aku ingin bertanya padamu, “ Masihkah kau menyimpan hadiah yang kuberikan?”, aku yakin kamu tentu masih menyimpannya. Andhita, untuk mendapatkan  sesuatu itu aku harus menempuh perjalanan yang tak pernah kuharapkan, tapi demi seorang Andhita, aku tak peduli. Andhita, saat itu hujan seakan ditumpahkan dari langit, akupun resah karena belum kutemukan sesuatu itu, aku takut mengecewakanmu, demi kebahagiaanmu Andhita, aku pun terus mencari walau dalam keadaan basah kuyup. Saat telah kutemukan langit mendung pergi dan matahari kembali bersinar dan menghidupkan kembali harapanku pada dirimu.Akhirnya aku pun bahagia melihatmu menerima dan menyukainya. Dari caramu mengucapkan terima kasih, aku tahu kamu sangat senang.
 
Itulah Andhita, seberkas kerinduanku padamu. Andhita setelah membaca suratku ini, kuharap kau dapat membalasnya. Ceritakanlah padaku tentang indah warna-warni duniamu.
 
Sebelum kuakhiri suratku ini, maafkanlah aku Andhita yang telah tega membiarkanmu pergi begitu saja. Pergilah Andhita, kejarlah keinginanmu karena masih banyak waktu, dan tak usah kau pikirkan lagi lelaki ini yang tebaik dan sangat sayang padamu. Maafkan aku sekali lagi, karena kata-kataku ini yang mungkin terlalu gombal bagimu.
 
Andhita, izinkanlah aku mengirimkan kerinduanku padamu dengan cium, peluk dan bisikan terhangat dari tempat yang terindah di dunia.
 

Bandung, 22 September 2003

Kamis, 05 Januari 2012

Tentang Kita


Kalau syarat untuk mencintaimu adalah seperti yang Lea bilang, aku pasti sudah jadi kekasih terbaik: aku tahu nama tengahmu, aku juga tahu tanggal lahirmu.


Lagipula, tak ada syarat istimewa bagimu untuk memiliki hati dan segenap jiwaku. Cukup bagiku hadirmu: membawa cinta selalu.

Barangkali, sambil mengendap makna dalam lirik Bee Gees kau kan temukan makna berartinya diriku.

Ingat, aku takkan pernah meletakkan cinta pada bait yang paling suci hingga jadi rahasia yang justru tak mampu kau ungkap dengan kata.

 

Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 2 Januari 2012

Rabu, 07 Desember 2011

Catatan Mahasiswa Gila: Bacaan Wajib Menuju Indonesia Cerdas 2020

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membaca catatan mahasiswa seganteng Adhitya Mulya rasanya Seperti membaca kembali buku Kejar Jakarta (2005) dan Travelers Tale (2007). Nuansa komedi dramatis mulai terasa dari cover buku yang cukup konyol. Sepertinya mudah saja untuk menebak isi buku ini. Namun, jangan salah. Don't judge a book by its cover sangat berlaku untuk Catatan bapaknya Aldebaran dan Arzachel ini.


Diambil dari catatan blog dalam rentang waktu 2002-2005 yang sebagian masih bisa dibaca kembali di situs aslinya, www.suamigila.com. Walaupun terkesan ringan tetapi buku yang habis dibaca sekali duduk ini menyimpan banyak hikmah. Belum lagi, semua tulisan didalamnya dibuat berseri dengan judul Seri Penelitian Ilmiah dari seorang Profesor yang nampak tidak bersahabat dengan nasib.

Yang mengesankan adalah fakta bahwa mahasiswa ganteng (baca: gila) ini mampu menghadirkan suasana santai penuh kelucuan sambil memberi kita banyak pelajaran. Misalnya, pada saat akan membuat tiang pancang untuk domba kurban. Sungguh suatu pelajaran hidup yang sepele namun kadang terlupakan.

Simak cerita tentang pertemuan si ganteng dengan kawan lamanya, Hendar. Apakah pembaca setuju bila si ganteng ini berhasil membantu Hendar maka akan menambah kegantengannya? Belum lagi kisah dengan Wiwin, Titin, Mimin, Dimsen, cerita PKL di Batam dan masih banyak kejanggalan semasa kuliah yang berkorelasi dengan menurunnya IP (indeks prestasi).

Favorit saya adalah catatan yang berjudul "Life Happens". Saya sempat membacanya di suamigila.com. Bahkan sampai mengulang beberapa kali. Kalau boleh, dari sekian catatan, saya nobatkan tulisan ini sebagai tulisan paling bermakna untuk saya.

Momen favorit lainnya adalah ketika pemeran Jusuf di Travelers Tale ini bertualang seharian hanya untuk mencari Majalah Pria terbitan Maret 1999 dengan Nyla Bernadette sebagai covernya. Untung saja, Adithya* masih waras untuk tidak meniru gaya Nyla dalam bukunya ini. Salut untuk Dimsen yang rela meninggalkan kelas kuliah demi menemani sahabat gilanya ini.

Masa kuliah adalah masa pengukuhan jati diri. Masa dimana hidup akan ditentukan. Saya rasa, tidak ada salahnya untuk tidak terlalu serius dalam menggarap kuliah. Toh, mahasiswa semacam Aditya* dan Dimsen mampu melakukan reverse engineering untuk meyakinkan dosen pembimbing mereka bahwa mereka layak mendapatkan nilai A tanpa presentasi. Ada momen-momen tertentu yang mengharuskan kita untuk fokus. Namun, ada kalanya hidup tidak melulu serius. Toh, mereka juga akhirnya bisa lulus.

Memasuki akhir buku ini, penulis mengajarkan kita bahwa kuliah itu tidak hanya untuk sekedar kuliah. Ada sesuatu yang harus kita pelajari ditempat lain dengan cara yang lain pula. Ada pergeseran dari nuansa komedi ke nuansa yang lebih kontemplatif. Life is so fantastic. Fortunes available anywhere and it's inevitable.

Judul: Catatan Mahasiswa Gila
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Mahaka Publishing
Tahun: 2011
Tebal: x + 181 hal.
Genre: Memoar

 Paninggilan, 29 November 2011.

* Sengaja disalah-salahin, pengen tau kenapa? Baca aja bukunya. Tapi harus beli lho ya supaya bisa jadi Best Seller lagi.

Jumat, 28 Oktober 2011

Sunday Morning Call

Barangkali, bila musik bisa jadi suatu terapi mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi satu terapi bagi saya. Semoga lekas sembuh.

*

Dekade lalu, sekitar tahun 2000, Oasis kembali meluncurkan album terbaru mereka saat itu: Standing in the Shoulder of a Giants dengan merilis single terbaru dari album tersebut yaitu Go Let It Out dan Sunday Morning Call. Waktu itu saya masih SMP dan memang sedang menggandrungi band-band beraliran alternative. Apalagi, teman sekelas banyak juga yang ngefans dengan band-band Britpop seperti Blur dan Oasis.

Ada beberapa momen yang entah secara sengaja atau tidak malah terasosiasikan dengan lagu Sunday Morning Call. Pertama kali nonton video klip Sunday Morning Call, saya sudah jatuh cinta dengan liriknya. Itu terjadi dalam masa peralihan sekitar tengah tahun 2001, ketika saya lulus SMP dan secara resmi dipanggil anak SMA!

Karena belum terbiasa dengan lingkungan pergaulan di SMA yang masih SMP-sentris, maksudnya hanya berteman dengan teman yang satu SMP, maka saya pun masih melakukan hal yang sama dengan sering main ke rumah seorang sahabat. Biar sekolah kami berbeda namun rumahnya dekat dengan sekolah saya sehingga setiap hari Jumat saya selalu mampir. Seperti biasa, sambil bermain komputer dan ngulik gitar saya selalu request lagu Sunday Morning Call, apalagi sahabat saya ini punya versi akustiknya. Hail The Gallagher's!

Selanjutnya, ada dua momen (seingat saya) yang soundtracknya adalah Sunday Morning Call. Pertama, pada hari dimana Masa Orientasi Siswa (MOS) berakhir. Entah kenapa kok saya jadi terngiang-ngiang lagu ini padahal waktu penutupan sempet naik panggung full band dengan memainkan lagu Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki setelah batal bawain lagu I Will Survive. Sembari berjalan pulang saya hanya memainkan lagu itu saja dalam kepala yang jengah ini. Saya merasa akan kehilangan suatu perasaan. Perasaan kagum yang entah apa namanya pada tutor kelompok kami. Do you feel what you're not supposed to feel?

Kedua, sekitar awal tahun 2002 dimana saya mengalami hari yang "sangat buruk" dengan Guru Matematika yang dengan suksesnya menempatkan angka 4 di kolom nilai Matematika. Mirip dengan nomor rumah saya. Setelah kejadian itu (kebetulan malam minggu) saya hanya bisa melamun galau menatap dinding kosong sambil bertanya-tanya: "Mengapa ini terjadi pada saya?". Saya datang ke sekolah untuk belajar dan mendapatkan sesuatu. Then, i was realized that i'm coming for nothing! Lagu itu mengalun pelan. ...Slip your shoes on and then out you crawl.... into the day that couldn't give you more.

*
Oasis - Sunday Morning Call

Here's another sunday morning call
You hear yer head-a-banging on the door
Slip your shoes on and then out you crawl
Into the day that couldn't give you more
But what for?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you don't get it for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever work out right
But it's ok, it's all right

When you're lonely and you start to hear
The little voices in your head at night
You will only sniff away the tears
So you can dance until the morning light
But at what price?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you can't get all for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
And I'm not sure if it'll ever work out right
If it'll ever, ever, ever works out right
Cos it never, never, never works out right

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you won't get help for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever, ever, ever work out right
if it will ever, ever, ever work out right
will it ever, ever, ever work out right





Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 28 Oktober 2011.


* Oasis's lyric provided by LetsSingIt

Rabu, 10 Agustus 2011

Lonely Loner Symphony (2)


Aku bukan siapa-siapa dan tak seharusnya merasa apa.
Satu peristiwa sejarah terlewati.
Tentang sebuah nama.
Bahagiamu... Bahagiaku pasti...
Selamat mengarungi warna-warni gelombang dunia satu kayuh berdua.
Just like i used to be,
I'm all alone...
And, life is very long...


Cirebon-Jakarta, 11 Juli 2011

Lonely Loner Symphony



A Great Loner walking alone and made a journey himself
Walking through the memory lane of her
Shattering the sky
God always knows why
Life happens,
Everytime, everywhere


Paninggilan, 8 Juli 2011.


Masihkah Sahabat?

Sahabat itu seseorang yang tak pernah mengecewakan anda. Seseorang yang bertepuk tangan paling keras dan tak pernah menertawakan mimpi-mimpi anda. Seseorang yang mengerti anda, kadang lebih dari anda sendiri. Seseorang yang menyimpan rahasia dan selalu ada di saat-saat tersulit.*

Pertanyaan: Apakah wajar bila seorang sahabat masih menyimpan rahasia tentangnya sedang engkau sudah pasrahkan rahasiamu padanya? Apakah wajar bila memang ada rahasia dalam persahabatan?


Paninggilan, 15 Juli 2011.

* dikutip dari iklan perusahaan asuransi, Harian Kompas, 15 Juli 2011.

Selasa, 19 Juli 2011

Quote of The Day

"Hidup itu kadang tentang menghargai pilihan."

Kadang kita orang hidup ini harus bisa dan mampu menghargai pilihan, apalagi yang dipilih sendiri. Apapun konsekuensinya, pilihan harus ditetapkan. Suka atau tidak, benar atau salah, baik atau buruk sekalipun.

Memang benar hati ini masih mengharapkan dan tak ingin usai begitu saja. Benar juga hati ini masih ingin menyapa. Masa kan tiba bawa waktu tinggal harap cemas. Saya telah memilih sikap demikian. Entah hanya untuk pembenaran sepihak atau untuk mengurangi perasaan bersalah. Mungkin juga sangat tidak adil bagi seseorang. Tetapi begitulah hidup. Kadang kenyataan tidak selalu menyenangkan.


Diatas bis jemputan, Tomang. 14 Juli 2011.

Selasa, 21 Juni 2011

The Lies We Live In (2)

Will you remember me the way i remember you...*

"Ada bagian masa lalumu yang belum selesai..."
"Bagian mana?"
"Tanya dirimu, hatimu lebih tahu..."
"Apa perlunya? Apa itu masalah untukmu?"
"Kadang-kadang itu jadi masalah buatku. Lagipula kamu tak peduli."
"Kamu cemburu...?"
"............"

Percakapan terakhir pada suatu senja penghabisan itu membuatku teringat lagi padanya. Aku masih mengingkari kenyataan bahwa memang ada bagian masa laluku yang belum selesai. Bagai noktah kecil dalam tirai hati. Aku tidak mau mengakui kalau aku masih belum bisa melepasakan semua ingatan tentang perempuan yang menangis ketika kutinggalkan sore itu. Dan kini, perempuan lain hadir dalam hidupku hanya untuk sekedar mengingatkan perihal masa lalu itu.

Aku yakin ia tidak sedang merasa seperti Inez yang batal menikah dengan Francis Lim, hanya gara-gara Francis masih punya masa lalu yang belum selesai dengan Retno.** Ah, sudahlah. Hidup ini tidak seperti novel walau kadang diperlukan waktu yang panjang untuk menyudahinya dan kejutan-kejutan hebat sebagai bumbu cerita.

"Kadang tidak perlu benar-benar jahat untuk jadi penjahat..."
"Kata siapa? Apa itu sindiran buatku?"
"Ya, jika kau merasa..."
"Lantas?"
"Tidak perlu memaksa melupakan bila memang tak sanggup"
"Kamu cemburu?"
"........."

Lagi-lagi hanya diam. Perempuan yang ada dihadapanku itu membuang mukanya. Tidak lagi menghiraukan aku yang dengan gantengnya melirik wanita di meja sebelah.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lagu itu. Lelah, lelah hati ini... Menggapai hatimu tak juga menyatu...*** Beberapa hari terakhir ini sepertinya tidak ada lagu lain buat dirinya. Entah, aku tidak peduli mengapa sebabnya yang jelas kini matanya tidak mau lagi menatapku.

Aku rasa berkomitmen itu mudah dan bukan sesuatu yang 'sakral'. Dalam komitmen yang dibutuhkan hanya kesungguhan untuk menjalani hidup bersama tanpa harus melupakan diri masing-masing. Toh, kita masih bisa tetap jadi diri sendiri. Tetapi, apakah meninggalkan segala ingatan tentang masa lalu adalah bagian dari komitmen itu juga?

Semua orang punya rahasia masing-masing. Aku dan dia sama saja. Kita sama-sama pernah punya lubang di hati. Aku rasa kita berdua telah sama dewasa. Bicara dengan logika walau perempuan itu cenderung melibatkan emosinya.

"Sudah berapa lama kamu berhenti menemuinya?"
"Sejak aku mengenalmu"
"Gombal"

Aku memang pernah menginginkannya. Aku memang selalu rindu padanya. Pada tatap hangat dan senyuman yang merekah indah setiap pagi. Pada semua momen bersama yang terlalu indah dilepaskan. Sampai akhirnya, aku pula yang menghentikan perasaan itu. Aku memang meninggalkan luka padanya, itu memang salahku. Lagipula, aku tidak akan memaafkan diriku bila aku sampai hati memainkan perasaannya. Aku sedang tidak ingin serius apalagi sampai harus memegang komitmen. Untuk apa? Dengan diriku saja aku masih belum bisa berkomitmen apalagi dengan dia. Sudahlah, aku pergi.

"Kamu masih ingat perjumpaan kita?"
"Masih, bagaimana bisa aku lupa?"
"Apakah itu suatu penyangkalan?"
"Tentu tidak. Kamu tentu tahu betapa hebatnya ingatanku."
"Apa itu sebabnya kamu masih belum bisa lepas darinya?"
"Apakah kamu minta penjelasan?"
"Things happens for a reason..."
"Not everything in common..."
"Ah, tentu kamu masih ada rasa..."
"Itu untukmu..."
"Is that a compliment?"
"Akuilah, kamu cemburu?"

Perempuan itu terdiam lagi. Senyum tipisnya merekah seakan penuh kemenangan. Perlahan ia hirup aroma kopi Aceh pesanannya. Betapa sederhananya menemukan kebahagiaan dalam hidup ini walau hanya dalam aroma kopi.

"Kadang terlintas untuk cemburu, tapi buat apa? Toh aku tahu kamu tidak akan kembali pada masa lalumu."
"Mengapa kamu begitu yakin? Aku bisa saja melakukannya."
"Aku percaya kamu takkan bisa melakukannya"
"Mengapa tidak?"
"Aku ini bukan apa-apa sehingga seandainya kehilangan dirimu pun aku rela, tak ada yang abadi walau memang kadang terlalu sulit menerima kenyataan..."

Kalimat terakhirnya cukup membuatku merasa bersalah. Aku tidak pernah meragukan dirinya. Sudah terlalu banyak 'pertengkaran' semacam ini. Suatu proses atas nama pendewasaan. Kami pun cukup sadar untuk melewati gerimis berkerikil tajam ini. Bukan suatu alasan untuk menyerah dan berpisah.

Dalam keremangan senja gerimis benar-benar menutup hari. Lampu temaram jalanan mulai menghiasi sudut kota. Para pekerja kantoran mulai berhamburan, sebagian menutupi kepala sebisa mereka. Pertanda episode kehidupan dimulai kembali.

"Memang sulit untuk menutup masa lalu, apalagi tentang dia.."
"Maksud kamu?"
"Selesai tidak selesai itu hanya dipikiranmu saja. Aku tidak tahu apa-apa."
"Apakah itu mengubah sesuatu?"
"Mungkin saja!"
"Apa itu?"
"Mungkin tidak ada bedanya. You do well and i'll live mine."

Ingatanku kembali pada Inez, yang mungkin punya sejuta tanya tentang mengapa Francis meninggalkannya hanya demi sebuah masa lalu yang tertinggal dan belum selesai. Bukanlah masa lalu itu adalah akhir dan kita hanya diperbolehkan untuk menengok sebentar. Bukan lantas tinggal kembali dan menjalaninya sementara melupakan hari ini.

Aku tersadar ketika perempuan itu memelukku erat dalam guyuran gerimis. Aroma perpisahan mulai mewangi. Aku harap bukan, mungkin itu sisa parfumnya. Perempuan itu bergegas mengejar taksi. Dalam hitungan detik, perempuan itu menuju belantara kemacetan. Macet di Jakarta adalah bagai dosa yang takkan berakhir. Kulangkahkan kaki, sambil bergumam dalam hati: i'm all alone, and life is very long.

Ponselku berbunyi. Yup. Malam ini aku ada kencan dengan Cinta. Yeah!


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 13 Juni 2011.


* dari lirik lagu "Remember My Sweet Moments", soundtrack iklan Tropicana Slim
** baca novel"Travelers Tale", Adhitya Mulya dkk, Gagasmedia, 2007
*** dari lirik lagu "Lelah" dinyanyikan oleh Rafika Duri

Selasa, 31 Mei 2011

Suatu Malam Aku Menulis

Airplane, take you away again...
Are you flying above where we live...*)

Ya. Pesawat buatan Perancis itu pula yang membawamu ke peraduan. Kembali ke pelukan Bunda. Merangkai rindu dalam akhir pekan yang terlalu singkat. Tak kulihat dulu barang sejenak. Manis senyum diatas bibir bergincu tipis yang melambaikan salam perpisahan.

Aku dengar lagu di radio butut itu. Aku akan pergi tuk selamanya. Bukan tuk meninggalkanmu sementara. Aku pasti tak kembali pada dirimu. Tapi kau jangan harap, aku takkan kembali.**) Mirip lagu yang pernah kita nyanyikan. Dulu, waktu kita masih bersama. Saling membuka rasa dan bercerita cita.

Kini, hanya pesan darimu yang jadi penanda rindu. Pesan-pesan yang tertinggal di kotak masuk dan masih enggan kuhapus satu per satu. Ternyata kusadari satu hal. Bahwa lebih mudah untuk mengusap wajahmu dan menyeka air mata daripada menghapus semua pesan itu.

Senja perlahan menghampiri. Butiran gerimis menambah resah yang selalu hadirkan kenangan. Kenapa kita menciptakan kenangan kalau ternyata malah tidak bisa melepasnya? Harusnya kita, aku dan kamu mampu hadapi semua.

Ketika malam semakin larut, aku coba menulis. Entah sajak, puisi, atau hanya catatan biasa. Mungkin untukmu, mungkin untuknya.

Masihkah aku menginginkanmu? Bila setiap pagi masih berharap senyummu
Masihkah aku menginginkanmu? Bila masih tega mengharapkanmu

Masihkah aku menginginkanmu? Bila asa itu masih ada

Masihkah aku menginginkanmu? Bila harap tak pasti resah tak peduli

Masihkah aku menginginkanmu? Takkan ku menanti bila harus mengerti

Masihkah aku menginginkanmu?
Sedang cinta aku tak punya



Sudirman-Thamrin, 27 April 2011.


*) dari lirik lagu Sleeps With Butterfly, dinyanyikan oleh Tori Amos
**) adaptasi dari lagu Aku Pasti Kembali, ciptaan Maia, direcycle oleh Pasto

Sabtu, 16 April 2011

Sisa Hujan Semalam

sisa hujan semalam masih terasa
pada lengkung pucat bulan sabit
sebelah bintang pagi langit selatan
gerimis menawan pagi

sisa hujan semalam tinggalkan mimpi pada rumput basah
pada harap selintas
senyummu pagi ini
ada kesan tertinggal


Parung, 31 Maret 2011

Kamis, 10 Maret 2011

Friend Said This! Eps.3

"turut sedih .... tapi orang hidup harus ada pilihan"


Paninggilan, 3 Maret 2011. 22.01

* mengenang percakapan dengan seorang kawan, dikutip dari inbox e-mail tertanggal 26 April 2010.

Kamis, 24 Februari 2011

Le Memoire du Nuit

My tea's gone cold I'm wondering why, I got out of bed at all...*

Usai mengumpulkan nyawa dan menggeliat, aku nyalakan radio. Betul, teh manis yang Ibu buatkan sudah terlanjur dingin. Barangkali beliau bangun lebih pagi. Ternyata, memang aku yang telat. Tak biasanya pagi secerah ini.

Aku minum teh buatan Ibu. Rasanya masih sama seperti teh yang selalu beliau buatkan sebelum aku berangkat sekolah dulu. Sambil memegangi kepala aku menatap keluar. It’s not a bad day anyway. The sun is ready to burn, yeah!

Ibu bilang semalam tidurku lelap sekali. Well, mungkin saja. I really had a bad bad bad day yesterday, but i won’t let her know. Beliau juga sempat bertanya kenapa. Tapi rasanya aku belum siap dan enggan ceritakan semuanya. It's Sunday anyway and the sun might be having all this day.

*

I drank too much last night got bills to pay, my head just feels in pain...*

Rasanya, aku terlalu mabuk malam ini. Bukan Jack Ding atau Joni Walkman yang kutenggak. Mungkin seharian ini aku terlalu banyak menenggak bir kekecewaan. Aku terlalu kecewa seharian ini. Jadi untuk sekedar melupakannya aku tidur saja seharian penuh. Termasuk ketika dengan cueknya tidur di kamar Ibu.

Aku sempat terjaga untuk pindah ke kamarku. Entah pukul berapa ketika kulihat Ibu masih bekerja dengan laporan dan berkas-berkas sialan itu. Aku segera keluar kamar Ibu dan bergegas. Kepalaku masih berat. Mulutku terasa sangat masam. Lalu bisa kau tebak, aku teruskan lagi tidurku. Tentu saja sambil memarkir radio di channel paling favorit yang buka 24 jam. Mirip warung punya temanku, Circle @ (dulu sekali :D ).

Rasanya mataku makin susah diajak berdamai. Entah pukul berapa sekarang. Seperti ada galau menggantung di pelupuk. Sambil terus berusaha masuki alam mimpi aku mendengarkan lagu-lagu yang mengalun pelan.

Till you do me right, I don’t even wanna talk to you...**

After tonight, I’ll never will be the same again... ***

Yeah, it’s gonna be a long long long night.

*

Pharmindo-Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 22 Februari 2011.


* dari lirik lagu “Thank You” dinyanyikan oleh Dido
** dari lirik lagu “Till You Do Me Right” dinyanyikan oleh After 7
*** dari lirik lagu “After Tonight” dinyanyikan oleh REO Speedwagon

Selasa, 22 Februari 2011

Le Memoire du Soir (3)

Semarak langit semburat keemasan menyambut kepergianku. Ya, senja di kotamu benar-benar semarak. Dengan kilap langit keemasan dan bara mentari di ujung sana. Sungguh senja yang sempurna untuk memulai suatu perjalanan.

Sayang, engkau sedang tidak disampingku. Tidak ada pertemuan antara rinduku dengan indah binar dua matamu. Hanya ada peluh rindu yang berkejaran dengan resah serupa gelisah. Dalam ingatan yang pekat. Saling berkejaran dalam memori.

Engkau serupa melati dibalik pelangi. Mewangi isi relung hati. Kadang kau rasa tak peduli, tentang dirimu yang selalu kukagumi. Engkau menawan, engkau rupawan. Lincah buatku penasaran.

Menjelang malam, aku lihat bulan menggantung penuh. Cahayanya semburat terangi langit Ibukota yang tak pernah terlalu tua. Adakah sama denganmu, di kotamu? Apakah kau tatap juga purnama yang sedang kupandangi?

Aku rasa, inilah penutupan terindah untuk semua cita hari ini. Pintaku, jalani terus impianmu hingga kau yakini betul jalan yang kau tempuh. Raih semua harap yang pernah kau sebut dalam doamu. Aku masih tetap ada, untukmu mengadu bila kelak hilang arah.

Ik het jou lief, felicita.



Pharmindo-Karawang-Paninggilan. 20 Feb 2011.

Sabtu, 12 Februari 2011

Saya Tidak Percaya Bahwa Saya Menulis Hal Yang Demikian Eps. 6

Alangkah hidup ini bisa menyenangkan kalau memang kita menghendakinya.


Pharmindo, 18 Januari 2010, 00.29

Broken Vow



Tell me his name, I want to know
The way he looks and where you go

I need to see his face, I need to understand

Why you and I came to an end


Tell me again, I want to hear

Who broke my faith in all these years

Who lays with you at night while I'm here all alone

Remembering when I was your own


I let you go, I let you fly
Why do I keep on asking why?
I let you go, now that I've found a way to keep somehow

More than a broken vow


Tell me the words I never said

Show me the tears you never shed

Give me the touch, the one you promised to be mine

Or has it vanished for all time?


I let you go, I let you fly

Why do I keep on asking why?

I let you go, now that I've found a way to keep somehow

More than a broken vow


I close my eyes

And dream of you and I and then I realise

There's more to love than only bitterness and lies

I close my eyes


I'd give away my soul to hold you once again

And never let this promise end


I let you go, I let you fly

Now that I know, I'm asking why

I let you go, now that I've found a way to keep somehow

More than a broken vow

Senin, 31 Januari 2011

Le Memoir du Soir (2)

Akhirnya sore macam kemarin datang lagi. Membawa cerita yang silih berkejaran dalam rindu yang menghadang. Betapa langit mendung seperti sengaja menghalangi bias mentari senja. Tidak ada senja keemasan menutup hari. Usai puas menertawakan diri sendiri sepanjang akhir pekan di kotamu. Tinggal tanya dalam hati: masihkah kutemui asaku?

Ada rindu tersisa untukmu. Rindu padamu bagai rindu pada setiap lembaran cerita dalam buku-buku di rak kamarku untuk kemudian kutuliskan dalam sebuah esai pendek berlabel memoar. Sebagai tanda perekat memori tentang rasa. Suatu saat akan kutuliskan juga cerita tentang kita. Tentang wangi coklat dan tarian malam di hari itu atau malah tentang perasaan masing-masing.

Masih diiringi deru mesin bis yang mengaum menerkam aspal, aku tak juga bisa memejamkan mata mengistirahatkan pikiran barang sejenak. Entahlah, mungkin karena semua lagu tentangmu yang mengalun pelan itu atau karena rindu pada tatapan matamu lagi. Bukan aku meragukanmu, tapi sungguh ku tak ingin engkau jauh dariku.

Kupuisikan rindu di hatiku sambil membaca kembali surat-suratmu yang selalu meredakan gelisah ini. Apalagi ketika sampai pada baris uang palsu itu hingga pelajaran untuk ikhlas dan memaafkan. Terkadang kita perlu menghela nafas sejenak untuk berlari kembali.

Mungkin sulit untuk bisa dimengerti. Kenapa sore seperti ini turun dengan segala resahnya. Membawa rindu hanpa pada yang tertuju. Segalanya kian menyesak menyiksa. Tolong ikhlaskan dan maafkan aku.


Pharmindo-Purwakarta-Paninggilan. 30 Januari 2011.

Minggu, 30 Januari 2011

Beri Aku Alasan Untuk Pulang

beri aku alasan untuk pulang
pada senyum yang melekat rona wajahmu

beri aku alasan untuk pulang
membilas rindu pada teduh matamu

beri aku alasan untuk pulang
pada setiap nasihat Ibu

beri aku alasan untuk pulang
entah hanya untuk menatap gelisah wajahmu

*

beri aku alasan untuk pulang
menambat harap pada labuhan hatimu

beri aku alasan untuk pulang
menebar cita pada ladang harapmu

beri aku alasan untuk pulang
entah hanya untuk mencintai resahmu

beri aku alasan untuk pulang
alasan abadi bukan pembenaran


Cengkareng-Paninggilan. 26 Januari 2011.

Rabu, 26 Januari 2011

Usai Merenda Malam

Rindu yang mereda
Tinggal gelisah dalam tanya
Akankah sama jadinya
Mengenang dahulu
Atau, selesai dari masa lalu


Paninggilan, 23 Januari 2011. 23.46

Sabtu, 22 Januari 2011

The Wishes



It's been a year since those wishes
Nothing's been written
Keeping silence
in reminiscing places


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 19 Januari 2010.