Tampilkan postingan dengan label Story of a Moment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story of a Moment. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2013

Kisah Lainnya

Jadi, hidup telah memilih, menurunkan aku ke bumi

Buku ini dimulai dengan penggalan lirik lagu “Langit Tak Mendengar”. Satu lagu Peterpan favorit saya sepanjang masa bersama satu lagu lain, “Mungkin Nanti”. “Langit Tak Mendengar” adalah lagu terbaik Peterpan semasa formasi lengkap. Komposisi musiknya penuh. Liriknya juga tidak dangkal. Lagu itu bersama ‘Mungkin Nanti” yang telah direcycle dijadikan pengisi soundtrack film "Alexandria". Lagu itu sempat muncul pula dalam iklan sebuah operator telepon selular.


Membaca ‘Kisah Lainnya’ sama juga dengan bernostalgia kembali ke era keemasan Peterpan. Perjalanan Peterpan disajikan secara lengkap mulai sejak dirilisnya single “Mimpi Yang Sempurna” dari album kompilasi ‘Kisah 2002 Malam’ hingga pergantian anggota dan segenap sensasi yang melingkupinya tidak luput dari rekaman peristiwa ini. Tidak hanya itu saja, segenap latar belakang di balik berdirinya band ini juga turut mengambil bagian. Juga bagaimana proses personil dalam mengawali karir mereka masing-masing bersama Peterpan.

Walaupun cerita dalam buku didominasi oleh narasi Ariel, tetapi “Kisah Lainnya” tetap menampilkan band ini dalam komposisinya yang utuh. Masing-masing personil pun menyuarakan segala kegelisahannya di masa istirahat panjang itu. Termasuk cerita dibalik kolaborasi mereka dengan musisi kenamaan lainnya seperti Idris Sardi dan Henri Lamiri, serta Karinding Attack dan Momo 'Geisha'.

Buku ini ibarat catatan pribadi dari sang vokalis. Ariel tidak hanya piawai dalam menulis lagu. Ariel pun pandai merangkai kata. Selama menjalani masa penahanannya di Rutan Bareskrim dan LP Kebon Waru, Ariel banyak menulis dan membuat sketsa. Buku ini pun diwarnai catatan Ariel yang serupa dengan prosa maupun gambar sketsa karyanya.

Pada saat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati
Itu adalah pasangan hidupmu
Itu adalah takdirmu
Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan
Itu adalah pelengkap hidupmu
Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

Catatan Personal

Saya melihat kembalinya anggota Peterpan ke kancah musik Indonesia tersusun dengan rapi. Walaupun sang frontman mendekam di penjara, beberapa anggota lainnya masih bisa berkarya. Bahkan, naik panggung lagi bersama vokalis-vokalis dari band lain dalam rangkaian tur mengunjungi komunitas penggemar mereka. Single ‘Dara’ milik Ariel terbukti mampu menjembatani proses kembalinya Peterpan. Harapan penggemar serta kebutuhan untuk meraih rasa percaya diri yang sempat hilang berhasil menumbuhkan keyakinan mereka untuk kembali ke panggung.

Proses pembuatan album “Suara Lainnya” membuktikan bahwa mereka masih mampu berkarya. Ketika album itu dirilis, Ariel memang belum bebas dan tidak hadir. Ada perasaan kosong yang menghinggapi mereka karena sang vokalis tidak ada disitu. Namun, sukses besar malam itu semakin membuat percaya diri mereka kembali. Hidup terus berjalan. Ariel bebas. Perjalanan pun mereka mulai lagi. Belakangan, mereka membuat identitas baru, NOAH.

Overall, “Kisah Lainnya” tidak hanya menawarkan sebuah ‘pengakuan’ dan cerita mereka sepanjang 2010-2012. “Kisah Lainnya” membawa pembaca pada sebuah dimensi labirin proses perjalanan kehidupan yang tidak selalu menyenangkan. Kata Tommy Page, life is full with lots of up and down. Selalu ada hikmah dibalik sebuah cerita.

Judul       : Kisah Lainnya
Penulis     : Ariel, Uki, Lukman, Reza, David
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun      : 2012
Tebal       : 228 hal.
Genre      : Memoar-Musik

Medan Merdeka Barat, 7 November 2013.

Rabu, 28 Agustus 2013

Tips Nonton Konser

Setelah mengalami berbagai keajaiban sepanjang tahun ini, termasuk nonton Sixpence None The Richer dan Metallica, lalu jadi pemenang tiket gratis konser @ProjectPe , belum lagi next upcoming concert 'Yovie and His Friends' , saya rasa sudah waktunya untuk berbagi soal tips nonton konser. 


Jangan kaget dulu. Saya tidak berniat menggurui. Lagipula, jam terbang saya masih tergolong rendah soal jagad perkonseran. Jadi, pembaca tidak perlu khawatir soal validitasnya. Anggap saja ini hanya saran seorang kawan belaka.

  • Pastikan konser yang akan kamu tonton adalah konser artis/band favorit kamu. Cari informasi lewat laman resmi Facebook atau Twitter mereka (because you’re a good fans). Jadi, kamu punya waktu untuk prepare. Termasuk soal pendanaan.   
  • Kosongkan semua jadwal pada hari konser kecuali konser itu sendiri. Ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terlambat menukar voucher dengan tiket masuk atau venue yang sudah terlalu penuh. You don’t want to miss it, right? Baca juga informasi lengkap soal konser di laman web yang disediakan promotor.

  • Siapa bilang cuma tiket kereta api yang bisa dipesan jauh-jauh hari (H-90). Beberapa promotor konser bahkan sudah mulai membuka presale untuk konser-konser mereka jauh sebelum D-Day. Cek ketersediaan tiket via laman web dan hotline. Intip juga informasi di Facebook atau Twitter. Bila memang sedang beruntung, ada potongan harga yang lumayan.

  • Kalau sudah dapat tanggal main konser, pastikan kamu punya uang yang cukup untuk membeli tiket. Kalau pun belum cukup, boleh pinjam kartu kredit sahabat kamu. Siapa tahu ada promo menarik dari provider kartu kredit untuk pembelian lebih dari 1 tiket. (Biasanya kena charge 3% sih :p )
  • Follow official page Facebook atau Twitter artis/band favorit kamu. Biasanya, ada informasi soal promo tiket hingga lucky draw atau kuis berhadiah tiket konser. Kalau menang, lumayan.
  • Bila memang harus membeli tiket pada saat D Day, pastikan kamu bawa uang lebih. Soalnya, tidak menutup kemungkinan kategori tiket yang kamu incar sudah habis dan harus cari kategori yang lain.
  • Istirahat yang cukup sehari sebelum konser. Kamu nggak mau kecapekan pas lagi nyanyiin lagu mereka kan? Kalau konser digelar malam hari, usahakan tidur siang secukupnya. Supaya bisa tetap on semalaman.
  • Bawa barang seperlunya. Ponsel, smartphone, powerbank, dan dompet is a must. Jangan bawa barang yang dilarang promotor/panitia. Informasi soal hal ini bisa dilihat di laman web atau lembaran tiket. Jangan sampai kamu kehilangan barang kesayangan kamu hanya gara-gara teledor pada saat nonton konser.
  • Jadilah penonton yang baik dan bertanggungjawab. Kalau memang yang kamu tonton adalah artis/band favorit kamu, tentu nggak susah buat nyanyiin semua lagunya kan? Kecuali kamu hanya berniat #modus PDKT dengan nemenin cewek/cowok incaran kamu nonton konser.
  • Jangan nonton konser sendirian. Memangnya mau dengerin Nightmare Side? Percayalah, hal ini rasanya sedikit tidak menyenangkan. Minimal, ada yang bisa ambil foto kamu kalau-kalau ketemu si artis di venue. Kecuali, kamu sudah bisa foto-foto sendirian. Tanpa tripod, catat!
  • Bila venue konser sudah sesak dengan penonton, jangan memaksa untuk mengambil foto dengan Tab/iPad. Jelas menganggu pandangan penonton lain di belakang kamu. Jadilah penonton yang pengertian. Yang mau nonton bukan cuma kamu.
  • Belajar mengambil foto tanpa lampu kilat (flash). Beberapa artis/band merasa keberatan dan terganggu dengan lampu kilat kamera. Hal ini juga memabantu mengasah skill fotografi kamu. Jadi bukan hanya menang gaya dengan bawa DLSR doang.
  • Beli merchandise artis/band favorit kamu yang ada di sekitar venue. Sebagai bukti kalau kamu memang pernah datang ke konser itu. Apalagi kalau sampai bisa bagi-bagi merchandise buat oleh-oleh. Hal itu bisa menaikkan derajat keeksisan kamu di depan teman-teman kamu.

Sudah jadi rahasia umum, persiapan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula. Maka, persiapkan dirimu semaksimal mungkin sebelum menonton konser artis/band favorit. Because, every second counts and you don’t have any chance to be missed.

Paninggilan, 27 Agustus 2013

* ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis

Jumat, 07 Desember 2012

Angklung: Sebuah Kritik Budaya

Heran. Katanya angklung sudah masuk ke dalam warisan dari budaya dunia. Tetapi mengapa masih sulit untuk menemukan pengejawantahan karya angklung tersebut.

Bukankah kita juga yang selalu out of mind setiap tahu kebudayaan kita akan dicaplok bangsa lain. So, saya kira wajar saja kalau kebudayaan kita selalu dicaplok orang-utamanya tetangga sendiri. Disaat negara tetangga bersedia melakukan apa saja dengan budget besar untuk mengumpulkan khazanah kebudayaan dunia, kita, bangsa Indonesia, bangsa yang mengklaim batik sebagai warisan budaya dunia, bangsa yang marah saat Reog Ponorogo dicaplok Malaysia, malah hanya bisa jadi penonton. 

Kita tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan, hanya untuk sekedar membuat CD berisi rekaman lagu-lagu daerah yang dimainkan dengan angklung.


Ribuan orang memainkan Angklung di halaman Gedung Sate, Bandung. Image courtesy: @thejakartapost

Maka tak heran bila nanti 10 atau 20 tahun lagi, kita harus pergi ke National Museum of Singapore hanya untuk menonton pagelaran wayang kulit, menyimak kembali film karya Usmar Ismail: Lewat Djam Malam, atau sekedar mendengar lagu Manuk Dadali yang dimainkan dengan komposisi angklung.

Sungguh sangat mengherankan bagi bangsa yang katanya punya aneka ragam kebudayaan tetapi malah sulit menemukan khazanah kebudayaan negeri sendiri.

Hari-hari ini kita terlalu sibuk dibuai mimpi. Kita terlalu sibuk untuk menyimak Sang Pahlawan yang rela blusukan demi membangun kotanya. Kita terlalu sibuk untuk memastikan koruptor-koruptor itu mendapat hukuman yang setimpal. Kita terlalu sibuk menggunjing soal artis yang itu-itu juga. Pun kita terlalu serius soal aksi buruh yang semakin mengancam pergerakan Homo Jakartensis dan harga daging sapi yang semakin menggila.

Agaknya, kita perlu juga mengoreksi atau malah mempertanyakan keindonesiaan kita ditengah himpitan arus modernitas yang menghadirkan sejuta impian artifisial. Manusia Indonesia sudah sepantasnya dewasa dan bersikap konsekuen terhadap apa yang sudah menjadi miliknya. Bukan lantas menikmati, lalu menangguk keuntungan dari komoditas budaya tersebut, hingga menjadikannya bagian dari fashion dan lifestyle semata.

Kita patut bertanya, apakah yang bisa Indonesia pamerkan dalam festival kebudayaan antar negara? Apakah kita hanya mau menampilkan batik yang itu-itu juga? Apakah kita tetap mau menyajikan tarian yang itu-itu juga? Atau kita mau menampilkan sisi keragaman budaya lainnya. Entah itu sekedar balas-membalas pantun ala Betawi, Karapan Sapi khas Madura taiyee.., atau hanya sebuah atraksi Lompat Batu ala Nias.

Indonesia pun masih menyimpan potensi budaya tulis yang amat mengakar. Sudah berapa kali penulis Indonesia mampu bersuara di ajang regional South East Asia Award? Banyak penulis negeri ini telah memubuktikan kepiawaiannya dalam merangkai suatu fenomena dalam bentuk tulisan yang dibukukan.

Jangan lantas keragaman budaya bangsa kita didominasi hegemoni budaya tertentu yang kemudian menyeragamkan identitas keindonesiaan kita. Kesusasteraan Indonesia pun masih menyimpan khazanah keindonesiaan yang erat melekat dengan keseharian kita.

Peran kebudayaan sebagai identitas eksistensial bagi Bangsa Indonesia sangatlah vital. Kita sesungguhnya mampu mewujudkan hegemoni budaya bangsa dihadapan masyarakatnya sendiri. Hanya perlu sedikit semangat. Semangat individu-individu didalamnya untuk mau berbuat dan mencari khazanah kebudayaan bangsa lain yang belum terekspos agar lantas tidak menjadi komoditas kapital semata.


Pancoran, 23 November 2012.

Kamis, 05 Januari 2012

Tentang Kita


Kalau syarat untuk mencintaimu adalah seperti yang Lea bilang, aku pasti sudah jadi kekasih terbaik: aku tahu nama tengahmu, aku juga tahu tanggal lahirmu.


Lagipula, tak ada syarat istimewa bagimu untuk memiliki hati dan segenap jiwaku. Cukup bagiku hadirmu: membawa cinta selalu.

Barangkali, sambil mengendap makna dalam lirik Bee Gees kau kan temukan makna berartinya diriku.

Ingat, aku takkan pernah meletakkan cinta pada bait yang paling suci hingga jadi rahasia yang justru tak mampu kau ungkap dengan kata.

 

Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 2 Januari 2012

Jumat, 28 Oktober 2011

Sunday Morning Call

Barangkali, bila musik bisa jadi suatu terapi mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi satu terapi bagi saya. Semoga lekas sembuh.

*

Dekade lalu, sekitar tahun 2000, Oasis kembali meluncurkan album terbaru mereka saat itu: Standing in the Shoulder of a Giants dengan merilis single terbaru dari album tersebut yaitu Go Let It Out dan Sunday Morning Call. Waktu itu saya masih SMP dan memang sedang menggandrungi band-band beraliran alternative. Apalagi, teman sekelas banyak juga yang ngefans dengan band-band Britpop seperti Blur dan Oasis.

Ada beberapa momen yang entah secara sengaja atau tidak malah terasosiasikan dengan lagu Sunday Morning Call. Pertama kali nonton video klip Sunday Morning Call, saya sudah jatuh cinta dengan liriknya. Itu terjadi dalam masa peralihan sekitar tengah tahun 2001, ketika saya lulus SMP dan secara resmi dipanggil anak SMA!

Karena belum terbiasa dengan lingkungan pergaulan di SMA yang masih SMP-sentris, maksudnya hanya berteman dengan teman yang satu SMP, maka saya pun masih melakukan hal yang sama dengan sering main ke rumah seorang sahabat. Biar sekolah kami berbeda namun rumahnya dekat dengan sekolah saya sehingga setiap hari Jumat saya selalu mampir. Seperti biasa, sambil bermain komputer dan ngulik gitar saya selalu request lagu Sunday Morning Call, apalagi sahabat saya ini punya versi akustiknya. Hail The Gallagher's!

Selanjutnya, ada dua momen (seingat saya) yang soundtracknya adalah Sunday Morning Call. Pertama, pada hari dimana Masa Orientasi Siswa (MOS) berakhir. Entah kenapa kok saya jadi terngiang-ngiang lagu ini padahal waktu penutupan sempet naik panggung full band dengan memainkan lagu Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki setelah batal bawain lagu I Will Survive. Sembari berjalan pulang saya hanya memainkan lagu itu saja dalam kepala yang jengah ini. Saya merasa akan kehilangan suatu perasaan. Perasaan kagum yang entah apa namanya pada tutor kelompok kami. Do you feel what you're not supposed to feel?

Kedua, sekitar awal tahun 2002 dimana saya mengalami hari yang "sangat buruk" dengan Guru Matematika yang dengan suksesnya menempatkan angka 4 di kolom nilai Matematika. Mirip dengan nomor rumah saya. Setelah kejadian itu (kebetulan malam minggu) saya hanya bisa melamun galau menatap dinding kosong sambil bertanya-tanya: "Mengapa ini terjadi pada saya?". Saya datang ke sekolah untuk belajar dan mendapatkan sesuatu. Then, i was realized that i'm coming for nothing! Lagu itu mengalun pelan. ...Slip your shoes on and then out you crawl.... into the day that couldn't give you more.

*
Oasis - Sunday Morning Call

Here's another sunday morning call
You hear yer head-a-banging on the door
Slip your shoes on and then out you crawl
Into the day that couldn't give you more
But what for?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you don't get it for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever work out right
But it's ok, it's all right

When you're lonely and you start to hear
The little voices in your head at night
You will only sniff away the tears
So you can dance until the morning light
But at what price?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you can't get all for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
And I'm not sure if it'll ever work out right
If it'll ever, ever, ever works out right
Cos it never, never, never works out right

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you won't get help for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever, ever, ever work out right
if it will ever, ever, ever work out right
will it ever, ever, ever work out right





Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 28 Oktober 2011.


* Oasis's lyric provided by LetsSingIt

Rabu, 10 Agustus 2011

Lonely Loner Symphony (2)


Aku bukan siapa-siapa dan tak seharusnya merasa apa.
Satu peristiwa sejarah terlewati.
Tentang sebuah nama.
Bahagiamu... Bahagiaku pasti...
Selamat mengarungi warna-warni gelombang dunia satu kayuh berdua.
Just like i used to be,
I'm all alone...
And, life is very long...


Cirebon-Jakarta, 11 Juli 2011

Lonely Loner Symphony



A Great Loner walking alone and made a journey himself
Walking through the memory lane of her
Shattering the sky
God always knows why
Life happens,
Everytime, everywhere


Paninggilan, 8 Juli 2011.


Masihkah Sahabat?

Sahabat itu seseorang yang tak pernah mengecewakan anda. Seseorang yang bertepuk tangan paling keras dan tak pernah menertawakan mimpi-mimpi anda. Seseorang yang mengerti anda, kadang lebih dari anda sendiri. Seseorang yang menyimpan rahasia dan selalu ada di saat-saat tersulit.*

Pertanyaan: Apakah wajar bila seorang sahabat masih menyimpan rahasia tentangnya sedang engkau sudah pasrahkan rahasiamu padanya? Apakah wajar bila memang ada rahasia dalam persahabatan?


Paninggilan, 15 Juli 2011.

* dikutip dari iklan perusahaan asuransi, Harian Kompas, 15 Juli 2011.

Selasa, 19 Juli 2011

Quote of The Day

"Hidup itu kadang tentang menghargai pilihan."

Kadang kita orang hidup ini harus bisa dan mampu menghargai pilihan, apalagi yang dipilih sendiri. Apapun konsekuensinya, pilihan harus ditetapkan. Suka atau tidak, benar atau salah, baik atau buruk sekalipun.

Memang benar hati ini masih mengharapkan dan tak ingin usai begitu saja. Benar juga hati ini masih ingin menyapa. Masa kan tiba bawa waktu tinggal harap cemas. Saya telah memilih sikap demikian. Entah hanya untuk pembenaran sepihak atau untuk mengurangi perasaan bersalah. Mungkin juga sangat tidak adil bagi seseorang. Tetapi begitulah hidup. Kadang kenyataan tidak selalu menyenangkan.


Diatas bis jemputan, Tomang. 14 Juli 2011.

Selasa, 21 Juni 2011

Le Memoir du Soir (4)

Lamun enya cintana, lamun enya hayangna... Moal rek aya nu bisa misahkeunana....*

Once we're happy, the next we're crying. Kadang-kadang perasaan itu bisa berubah seketika. Itu benar terjadi. Seperti yang kubilang tadi. Sekali ini kita begitu mesra, bicara tentang pengharapan masa depan dan segala yang membuatnya kian indah. Sedetik kemudian semua itu bisa sirna begitu saja. Tanpa sisa. Meninggalkan aroma tak sedap dari senyum masing-masing.

Diantara riuh rendah demonstran di sekitar Ring 1 pengamanan objek vital kepresidenan hanya diam yang keluar dari bibirnya. Tentunya sambil membelakangiku. Seperti tak sudi. Mungkin aku telah menjelma jadi setan berhala baginya.

Pernah sekali waktu kita begitu dekat. Begitu dekat. Hanya tinggal sebatas benang merah kainnya. Begitu rasa itu terus ada. Maka, bila sekarang begini keadaannya tentulah sangat tidak mengejutkan. Buatku, tentu saja. Buatnya, mungkin ya, biasa saja. Toh, memang tidak pernah ada apa-apa diantara kita. Entah siapa yang merasa kalau jadinya seperti ini.

Bukannya mau sombong tapi kalau cuma hal yang beginian aku tentu sudah lebih jago dari dia. Aku selalu menghitung semua kemungkinan. Aku juga selalu membaca tanda-tanda yang selalu takdir bawa. Dan aku selalu siap bila memang terjadi sesuatu karena pertanda itu memang sudah ada. Seperti kelakuannya sekarang, aku sudah menduga begini jadinya.

Till we say our next hello, it's not goodbye...
**

Aku selalu ingat bagian lagu itu. Berapa hari kemarin dia selalu nyanyikan lagu itu. Aku tidak berharap hal itu benar-benar kejadian. Tapi aku tahu sesuatu. Dia terlalu lemah untuk meyakinkan dirinya sendiri. Aku yakin, cepat atau lambat dia akan segera memilih dan buat keputusan.

Aku tidak akan meminta maaf atau menyapanya duluan. Toh, aku tidak membuat kesalahan padanya. Kalau ada kesalahan tentu hanya dia saja yang merasa. Biar saja dia yang merasa dan puas bermain-main dengan perasaannya. Aku masih begini dan akan tetap begini. Walau kadang dia anggap aku ini hanya mercusuar, yang selalu memandunya bila kehilangan arah. Terserah dia, aku tidak peduli.

Dalam semburat matahari ibukota di sore yang cerah, aku dengar lagu dari radio: those were such happy times and not so long ago, how i wondered where they'd gone...***



Thamrin-Sudirman, 21 Juni 2011.


* dari lirik lagu "Bogoh Kasaha" dinyanyikan oleh Rya Fitria
** potongan lirik lagu "It's Not Goodbye" dari Laura Pausini
*** potongan lirik lagu "Yesterday Once More" dari The Carpenters


note: dibuat sambil mendengarkan lagu Letto - Lubang Di Hati, Java Jive-Menikah, Bruno Mars-Just The Way You Are, Savage Garden - To The Moon and Back, dan Yovie and Nuno - Maukah Denganku

Selasa, 31 Mei 2011

Suatu Malam Aku Menulis

Airplane, take you away again...
Are you flying above where we live...*)

Ya. Pesawat buatan Perancis itu pula yang membawamu ke peraduan. Kembali ke pelukan Bunda. Merangkai rindu dalam akhir pekan yang terlalu singkat. Tak kulihat dulu barang sejenak. Manis senyum diatas bibir bergincu tipis yang melambaikan salam perpisahan.

Aku dengar lagu di radio butut itu. Aku akan pergi tuk selamanya. Bukan tuk meninggalkanmu sementara. Aku pasti tak kembali pada dirimu. Tapi kau jangan harap, aku takkan kembali.**) Mirip lagu yang pernah kita nyanyikan. Dulu, waktu kita masih bersama. Saling membuka rasa dan bercerita cita.

Kini, hanya pesan darimu yang jadi penanda rindu. Pesan-pesan yang tertinggal di kotak masuk dan masih enggan kuhapus satu per satu. Ternyata kusadari satu hal. Bahwa lebih mudah untuk mengusap wajahmu dan menyeka air mata daripada menghapus semua pesan itu.

Senja perlahan menghampiri. Butiran gerimis menambah resah yang selalu hadirkan kenangan. Kenapa kita menciptakan kenangan kalau ternyata malah tidak bisa melepasnya? Harusnya kita, aku dan kamu mampu hadapi semua.

Ketika malam semakin larut, aku coba menulis. Entah sajak, puisi, atau hanya catatan biasa. Mungkin untukmu, mungkin untuknya.

Masihkah aku menginginkanmu? Bila setiap pagi masih berharap senyummu
Masihkah aku menginginkanmu? Bila masih tega mengharapkanmu

Masihkah aku menginginkanmu? Bila asa itu masih ada

Masihkah aku menginginkanmu? Bila harap tak pasti resah tak peduli

Masihkah aku menginginkanmu? Takkan ku menanti bila harus mengerti

Masihkah aku menginginkanmu?
Sedang cinta aku tak punya



Sudirman-Thamrin, 27 April 2011.


*) dari lirik lagu Sleeps With Butterfly, dinyanyikan oleh Tori Amos
**) adaptasi dari lagu Aku Pasti Kembali, ciptaan Maia, direcycle oleh Pasto

Sabtu, 16 April 2011

Sisa Hujan Semalam

sisa hujan semalam masih terasa
pada lengkung pucat bulan sabit
sebelah bintang pagi langit selatan
gerimis menawan pagi

sisa hujan semalam tinggalkan mimpi pada rumput basah
pada harap selintas
senyummu pagi ini
ada kesan tertinggal


Parung, 31 Maret 2011

Doaku Malam Itu

(untuk pria yang mengaku kekasihmu itu)

Semoga ada bagian dari masa lalunya yang belum selesai.
Ada cerita tak terujar
Tentang suatu masa dan bukan tentangmu
Kelak nanti kau minta jelaskan padanya.

Parung, 30 Maret 2011

Sabtu, 12 Maret 2011

My Animal Color's Revealed


You are Purple Tiger, whose comments tend to be imposing, and you possess vigor and your presence is strong.

Your gentleman like atmosphere makes others feel you are rather cold person.

But that is because they only see your sensitive side.

Really, you are warm and honest and considerate person.

You are optimistic, and you will not to give up any little work that you have started, even if the circumstance become unfavorable and difficult.

You possess great persistence.

You possess a wonderful quality of a good leader.

You can show flexible mind towards new things and ideas.

Because you are quick minded, you can develop logical theory while listening to the other person.
You have a tendency to follow your ideals.

If this side of your personality comes out strongly, your thoughts and actions seems too over reacting to others.

If you talk too big, people around you may find it difficult to follow your way.

You are a proud person, and think high of honor.

You cannot change your mind suddenly and according to circumstances.

Nevertheless, it means that you are keeping control of yourself, and helps you from failures.


Paninggilan, 12 Maret 2011.

* mau coba? klik disini

Kamis, 10 Maret 2011

Sepasang Mata di Halte Busway

Sepasang mata menatapku tajam
Pada pagi selintas, mentari di ujung mega

Sepasang mata menatapku tajam
Entah karena seragam lusuh ini
atau headset ponsel butut itu

Sepasang mata menatapku tajam
Memaksa mencari makna
Bagai cinta tak terlacak, di bait-bait acak*


Medan Merdeka Barat,8 Maret 2011

* dari judul puisi Hasan Aspahani, "Cinta Tak Terlacak, di Bait-bait Acak", Harian Kompas Minggu, 6 Maret 2011.

Friend Said This! Eps.3

"turut sedih .... tapi orang hidup harus ada pilihan"


Paninggilan, 3 Maret 2011. 22.01

* mengenang percakapan dengan seorang kawan, dikutip dari inbox e-mail tertanggal 26 April 2010.

Kamis, 24 Februari 2011

Le Memoire du Nuit

My tea's gone cold I'm wondering why, I got out of bed at all...*

Usai mengumpulkan nyawa dan menggeliat, aku nyalakan radio. Betul, teh manis yang Ibu buatkan sudah terlanjur dingin. Barangkali beliau bangun lebih pagi. Ternyata, memang aku yang telat. Tak biasanya pagi secerah ini.

Aku minum teh buatan Ibu. Rasanya masih sama seperti teh yang selalu beliau buatkan sebelum aku berangkat sekolah dulu. Sambil memegangi kepala aku menatap keluar. It’s not a bad day anyway. The sun is ready to burn, yeah!

Ibu bilang semalam tidurku lelap sekali. Well, mungkin saja. I really had a bad bad bad day yesterday, but i won’t let her know. Beliau juga sempat bertanya kenapa. Tapi rasanya aku belum siap dan enggan ceritakan semuanya. It's Sunday anyway and the sun might be having all this day.

*

I drank too much last night got bills to pay, my head just feels in pain...*

Rasanya, aku terlalu mabuk malam ini. Bukan Jack Ding atau Joni Walkman yang kutenggak. Mungkin seharian ini aku terlalu banyak menenggak bir kekecewaan. Aku terlalu kecewa seharian ini. Jadi untuk sekedar melupakannya aku tidur saja seharian penuh. Termasuk ketika dengan cueknya tidur di kamar Ibu.

Aku sempat terjaga untuk pindah ke kamarku. Entah pukul berapa ketika kulihat Ibu masih bekerja dengan laporan dan berkas-berkas sialan itu. Aku segera keluar kamar Ibu dan bergegas. Kepalaku masih berat. Mulutku terasa sangat masam. Lalu bisa kau tebak, aku teruskan lagi tidurku. Tentu saja sambil memarkir radio di channel paling favorit yang buka 24 jam. Mirip warung punya temanku, Circle @ (dulu sekali :D ).

Rasanya mataku makin susah diajak berdamai. Entah pukul berapa sekarang. Seperti ada galau menggantung di pelupuk. Sambil terus berusaha masuki alam mimpi aku mendengarkan lagu-lagu yang mengalun pelan.

Till you do me right, I don’t even wanna talk to you...**

After tonight, I’ll never will be the same again... ***

Yeah, it’s gonna be a long long long night.

*

Pharmindo-Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 22 Februari 2011.


* dari lirik lagu “Thank You” dinyanyikan oleh Dido
** dari lirik lagu “Till You Do Me Right” dinyanyikan oleh After 7
*** dari lirik lagu “After Tonight” dinyanyikan oleh REO Speedwagon

Selasa, 22 Februari 2011

Le Memoire du Soir (3)

Semarak langit semburat keemasan menyambut kepergianku. Ya, senja di kotamu benar-benar semarak. Dengan kilap langit keemasan dan bara mentari di ujung sana. Sungguh senja yang sempurna untuk memulai suatu perjalanan.

Sayang, engkau sedang tidak disampingku. Tidak ada pertemuan antara rinduku dengan indah binar dua matamu. Hanya ada peluh rindu yang berkejaran dengan resah serupa gelisah. Dalam ingatan yang pekat. Saling berkejaran dalam memori.

Engkau serupa melati dibalik pelangi. Mewangi isi relung hati. Kadang kau rasa tak peduli, tentang dirimu yang selalu kukagumi. Engkau menawan, engkau rupawan. Lincah buatku penasaran.

Menjelang malam, aku lihat bulan menggantung penuh. Cahayanya semburat terangi langit Ibukota yang tak pernah terlalu tua. Adakah sama denganmu, di kotamu? Apakah kau tatap juga purnama yang sedang kupandangi?

Aku rasa, inilah penutupan terindah untuk semua cita hari ini. Pintaku, jalani terus impianmu hingga kau yakini betul jalan yang kau tempuh. Raih semua harap yang pernah kau sebut dalam doamu. Aku masih tetap ada, untukmu mengadu bila kelak hilang arah.

Ik het jou lief, felicita.



Pharmindo-Karawang-Paninggilan. 20 Feb 2011.

Sabtu, 12 Februari 2011

Saya Tidak Percaya Bahwa Saya Menulis Hal Yang Demikian Eps. 6

Alangkah hidup ini bisa menyenangkan kalau memang kita menghendakinya.


Pharmindo, 18 Januari 2010, 00.29

Broken Vow



Tell me his name, I want to know
The way he looks and where you go

I need to see his face, I need to understand

Why you and I came to an end


Tell me again, I want to hear

Who broke my faith in all these years

Who lays with you at night while I'm here all alone

Remembering when I was your own


I let you go, I let you fly
Why do I keep on asking why?
I let you go, now that I've found a way to keep somehow

More than a broken vow


Tell me the words I never said

Show me the tears you never shed

Give me the touch, the one you promised to be mine

Or has it vanished for all time?


I let you go, I let you fly

Why do I keep on asking why?

I let you go, now that I've found a way to keep somehow

More than a broken vow


I close my eyes

And dream of you and I and then I realise

There's more to love than only bitterness and lies

I close my eyes


I'd give away my soul to hold you once again

And never let this promise end


I let you go, I let you fly

Now that I know, I'm asking why

I let you go, now that I've found a way to keep somehow

More than a broken vow