Tampilkan postingan dengan label memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memoar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2016

Kode Untuk Republik: Sejarah Kiprah Sandi Negara

"Ada benang merah antara kerahasiaan dan kemerdekaan, di Indonesia kita menyebutnya Sandi Negara."

Impresi pertama saya atas buku ini adalah buku ini harus saya miliki karena bicara tentang sejarah republik. Menilik judulnya, "Kode Untuk Republik" tentunya bicara soal peran kode-kode yang dihandle oleh sebuah Dinas perkodean pada masa perang kemerdekaan. Dinas perkodean tersebut selanjutnya dinamakan Dinas Kode. Kini, Dinas Kode telah berevolusi menjadi sebuah badan otonom dibawah komando Presiden yaitu Lembaga Sandi Negara.
 
Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini terhitung memiliki cakupan yang lengkap. Artinya, selain menggunakan sitasi referensi yang valid dan meyakinkan, penulisnya terampil untuk memasukkan sejarah penciptaan sandi. Tentunya, hal ini berguna bagi pembaca awam sebagai penyelaras konteks sebelum pembacaan detail mengenai peran kode dalam perang kemerdekaan. Awalnya, bagi sebagian pembaca mungkin terasa membosankan namun bisa tulisan tersebut diabaikan agak sulit untuk memahami beberapa istilah yang digunakan pada bab-bab berikutnya.

Penulis mengambil alur sejarah mulai dari Perang Dunia Kedua, dimana sebuah mesin bernama 'Enigma' menjadi sebuah kartu as bagi Pasukan Jerman dalam menaklukkan daerah-daerah incarannya. Dari Perang Dunia itu, imbas yang terasa pada Indonesia adalah drama kekalahan Jepang. Rencana operasi militer Jepang dapat diketahui Sekutu melalui mesin-mesin pemecah kode sehingga mereka bisa menyiapkan serangan untuk menghalau aksi Jepang.

"Perang Kode" antara pemerintahan Republik melawan pemerintahan Hindia Belanda yang berupaya untuk menduduki kembali Indonesia terjadi secara terbuka. Dinas Intelijen Militer Hindia Belanda, NEFIS, yang selama pendudukan Jepang hijrah ke Australia kembali ke Indonesia usai perjanjian-perjanjian antara Republik dengan Hindia Belanda. 

Dinas Kode mulai mendapati peran pentingnya ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I dan II. Dengan siasat gerilya kolaboratif, petugas-petugas sandi setidaknya berhasil menyampaikan beberapa pesan penting, untuk membuktikan bahwa Republik benar-benar masih ada. Mereka adalah pahlawan-pahlawan perang kemerdekaan yang sayangnya kini tidak banyak dikenal. Bersyukur sekali, buku ini mampu menghadirkan kembali kenangan atas mereka sebagai usaha apresiasi atas segala daya upaya dan usaha mereka untuk Republik.

Dinas Kode sendiri mengalami beberapa perubahan nomenklatur sejak berada di Djawatan Sandi Angkatan Perang, Djawatan Sandi, hingga menjadi Lembaga Sandi Negara yang berurusan dengan segala macam tetek bengek kriptografi untuk kepentingan pemerintah NKRI.

Saya tidak kesulitan menamatkan buku ini. Buku ini menyitir kembali buku-buku yang telah saya tamatkan yaitu "Doorstoot naar Djokdja" karya Julius Pour dan biografi Jenderal Spoor karya J. A. de Moor. Buku ini ditulis dengan sistematis dan memiliki daftar pustaka sebagaimana layaknya buku-buku sejarah. Untuk saya, hal ini adalah sangat penting. Agar "Kode Untuk Republik" tidak hanya menjadi penghias di perpustakaan Lembaga Sandi Negara semata. Tetapi juga, menjadi lentera bagi republik.

Judul        : Kode Untuk Republik
Penulis        : Pratama D. Prasadha
Penerbit    : PT. Marawa Tiga Warna
Tahun        : 2015
Tebal        : 237 hal.
Genre        : Sejarah Indonesia

Cipayung, 23 Agustus 2016.

Senin, 30 November 2015

Catatan Seorang Ahli Forensik

Kebenaran, sedalam apapun disembunyikan ia akan menampakkan dirinya. Kesan itulah yang saya dapat dari pembacaan buku ahli forensik yang sangat berpengalaman mengolah berbagai kasus besar di Indonesia. Saya kagum, bahwa dengan kesibukannya beliau masih mampu menuliskan pengalamannya menangani kasus-kasus besar. Sebut saja Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi. Lagi, mengenai kasus kematian aktivis HAM, Munir. Usaha beliau dalam menyibak fakta-fakta tersembunyi patut diacungi jempol dan diapresiasi setinggi-tingginya, ditengah usaha pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyembunyikannya.



Buku ini dibuka dengan pengantar dari pengacara kondang (yang kini tersandung kasus) O. C. Kaligis dan kriminolog Adrianus Meliala. Pendapat mereka sangat membantu dalam pembacaan kisah-kisah penulis karena dapat menjembatani pengalaman awam pembaca terhadap penulis. Penulis sendiri dengan pengalaman yang cukup panjang dalam berkiprah di bidang kedokteran forensik menyuguhkan tulisan-tulisan yang logis, ilmiah, dan faktual.
Menarik untuk menyimak penuturan penulis pada bab pertama. Penulis mengungkapkan berbagai temuannya seputar tragedi Semanggi, kematian aktivis buruh Marsinah, keanehan seputar peristiwa meninggalnya Bung Karno, hingga tragedi penembakan Nasruddin dan misteri dibalik meninggalnya aktivis HAM, Munir. Beliau menulis banyak soal kejanggalan-kejanggalan dan fakta tersembunyi dalam semua kasus tersebut. Ada banyak temuan-temuan yang faktual namun entah bagaimana mereka tidak pernah tersampaikan atau tampil menghiasi media massa. Dengan begitu, hilangnya nyawa dan selesainya kasus berhenti pada kesimpulan sementara semata. Tanpa mengindahkan fakta-fakta yang menyebabkan terjadinya kejadian-kejadian tersebut.
Memasuki bab selanjutnya, penulis menghadirkan sekelumit kisah tentang keterlibatan bidang kedokteran forensik dengan perkara kepolisian. Penulis agaknya sengaja membuat pendekatan yang lebih ilmiah agar peran kedokteran forensik dapat diterima sebagai sesuatu yang wajar dan masuk akal dalam mengungkapkan satu kasus kejahatan/kriminal atau kecelakaan. Penulis mengambil contoh kasus dari beberapa kejadian penting yang melibatkan kasus kematian karena penembakan, ledakan, dan kecelakaan pesawat. Pada bab kedua ini, penulis lebih memberikan penekanan terhadap manfaat dan kegunaan kedokteran forensik.
Penulis juga tidak melepaskan perhatiannya kepada kasus kejahatan narkotika dan psikotropika serta pengaruh alkohol dalam kedokteran forensik. Penulis mengungkap juga satu kasus besar soal narkotika yang melibatkan Zarina, sang Ratu Ekstasi. Pada bab ketiga ini, penulis tidak terlalu banyak menulis pengalamannya.

Pengalaman penulis tidak terbatas hanya pada kasus kriminal yang melibatkan orang dewasa. Penulis juga mengungkap beberapa kasus yang pernah ditanganinya dalam hal kekerasan seksual dan kejahatan terhadap anak. Dalam bab ini, penulis banyak mengungkapkan pendapatnya mengenai kasus bayi tertukar, bayi hasil dari aborsi, pedofilia. Termasuk, kasus mutilasi anak dengan modus yang sama sekali baru dimana pelaku memotong korbannya dalam beberapa bagian dan disebar di berbagai tempat.
Bab 5 ditandai dengan judul yang menyatakan kedokteran forensik sebagai “pisau” ilmiah. Namun, bab ini lebih membahas seputar hal-hal teknis dari kedokteran forensik itu sendiri. Untuk membedakannya dengan bab-bab sebelumnya. Pada bab terakhir, penulis memberikan keterangannya sekali lagi pada beberapa kasus pembunuhan, mutilasi, kematian Marsinah, hingga kematian Fathurahman Al Ghozi, tertuduh teroris yang meninggal di Filipina dan sempat membuat hubungan Jakarta-Manila menegang beberapa tahun silam.
Harus diakui bahwa tidak banyak ahli yang mampu menuliskan berbagai pengalamannya selama berkecimpung dalam satu bidang keahliannya. Adalah satu kekhususan dimana penulis mampu menuliskan beberapa kasus penting yang turut melibatkannya dalam pemeriksaan forensik. Perlu dicermati bahwa penulis menyertakan fakta-fakta yang jarang atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh publik. Saya mencermati pada kasus Munir, keterangan yang diberikan pada buku adalah sama dengan keterangan yang penulis berikan pada wawancara atau pun coverage media cetak lainnya. Dengan demikian, tidaklah terlalu salah bila buku dilabeli voice of voiceless.

Judul          : Indonesia X-Files
Penulis       : Abdul Mun'im Idries
Penerbit      : Noura Books
Tahun         : 2013
Tebal          : 359 hal.
Genre         : Memoar-Kedokteran Forensik


Halim Perdanakusuma, 26 November 2015.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Rahvayana 2: Ada Yang Tiada

Sebaiknya dunia yang tak ada harus tetap kita adakan. Kalau perlu, kita ada-adakan. Caranya, yang tidak ada itu harus kita ada-adakan manfaatnya.



Kisah lanjutan dari Rahvayana edisi perdana, Aku Lala Padamu ini masih bercerita soal si ‘Aku’ yang tak henti-hentinya mengagumi Sinta. Sejak pertemuan pertama pada gerimis di Borobudur hingga Rahvayana akhirnya benar-benar melanglang buana tampil di gedung pertunjukan legendaris dunia. ‘Aku’ masih menulis surat-suratnya pada Sinta walau kadang Sinta tak lantas langsung membalasnya.

Saya tidak perlu menjelaskan lagi soal pembebasan pakem Rama-Sinta dari cerita Ramayana yang sudah terlanjur beredar dan kita semua maklum dibuatnya. Rama mengumpulkan pasukannya untuk merebut kembali Dewi Sinta. Pada “Rahvayana 2”, permainan sang Resi Sujiwo Tejo semakin mendetail untuk mengungkapkan apa saja yang terjadi diantara Rama-Sinta. Ia berhasil membuat kedua tokoh itu menampakkan sisi hitam-putihnya.

Pengalaman bersama ”Rahvayana 2” ini benar-benar menjadi suatu perjalanan yang menyenangkan. Menyenangkan karena akhirnya saya dapat gambaran mengenai sosok seorang Indrajit bila memang benar ada dalam kehidupan nyata. Sang pemilik Aji Sirep yang lebih sakti dari milik Wibisana ini menemani si ‘Aku’ sejak dari dalam kereta dari Guangzhou, lalu ke Tembok China dimana si ‘Aku’ mendalang untuk lakon Rahwana dan Sinta diiringi  repertoar yang sakral dan kuno, Gending Ayak-Ayak Slendo Manyuro.

Sinta Gugat

Seluruh perjalanan dan petualangan dalam “Rahvayana 2”; Guangzhou, Tembok Cina, Bali, Siberia, Anna Karenina, Himalaya, dst. Pada ujungnya memang hanya soal Rahwana, Sinta, dan Rama. Menjelang akhir cerita, mulai halaman 233 hingga 234, usai Rama berhasil menemui Sinta setelah dibuat tidak berdaya oleh Lawa dan Kusa, dua anak kembarnya yang ikut Sinta mengasingkan diri ke hutan Dandaka, Sinta ‘menggugat’ eksistensi Rama dalam seluruh lakon Rama-Sinta ini.

“Katanya, Rama hanyalah buih. Ia bergerak atas kehendak samudra Siwa. Kenapa cinta Tuhan kepadaku melalui Rama begitu naif? Masih ia syak wasangkai kesucianku setelah 12 tahun hidup bersama Rahwana di Alengka?”

Sinta masih melanjutkan gugatannya.

“Apakah cinta tak ubahnya dengan pengadilan, yang setiap pihak harus membuktikan segalanya?”

Gugatan Sinta menarik simpati para siluman di Dandaka. Bahkan ada yang mulai menangis.

“Rama, sebetulnya kau mencintaiku atau mencintai dirimu sendiri sehingga kau begitu hirau dengan gosip rakyatmu bahwa aku sudah tak suci lagi setelah hidup bersama Rahwana”

Gugatan Sinta pun berakhir.

“Perang Alengka-Kosala kau canangkan bukan demi cintamu kepadaku, Rama, melainkan demi ketersinggungganmu sebagai seorang lelaki dan seorang kesatria!”

Lagi-lagi, saya harus mempertanyakan Rama. Mengapa Dewi Sinta yang dicurigai sudah tidak suci lagi? Apakah karena dominasi maskulinitas terhadap feminitas Sinta? Lantas, mengapa Rama sendiri menangis di balik bukit kala Hanuman membawakan kalung titipan Sinta  untuk dipakai olehnya sekaligus untuk membuktikan kesetiaannya? Dalam hal ini, memang cinta Rama kepada Sinta perlu dipertanyakan. Bila perlu, diadakan lagi penelitian lebih jauh mengenai hal ini. Apakah sebegitu bersyaratnya cinta Sri Rama terhadap Dewi Sinta.

Barangkali memang Rahwana yang tetap bisa mencintai Sinta, apapun keadaannya. Rahwana memang menyembah dan memuji titisan Dewi Widowati itu dengan caranya sendiri. Rahwana menyembah Zat yang ada itu melalui segenap tirakatnya. Rahwana tetap menjunjung dan mencintai Sinta, walau Sinta berubah menjadi Janaki dan Waidehi.

Hanya Sekedar Komentar

Muatan lain yang jadi titik berat lanjutan ‘Aku Lala Padamu’ ini adalah satu soal filosofis tentang ada dan tiada. Pembaca bisa menilai sendiri persoalan filosofis yang rupanya sempat hinggap di kepala sang Resi Sujiwo Tejo. Soal cover buku, saya rasa ‘Aku Lala Padamu’ memang cenderung ‘lebih serius’ dalam menggarap hubungan antara cover dengan jalan cerita.

“Ada Yang Tiada” punya cover yang cenderung lebih ngepop dan santai. Tiga orang gadis naik mobil sedan kap terbuka. Mungkin, mereka naik sedan Mercy Tiger tahun 70-an dan melintasi jalanan Melawai hingga pinggiran pantai California sana. Entah mengapa, saya membayangkan perempuan-perempuan itu adalah Gwen Stefani, Mariana Renata, dan Katy Perry, sang pelantun ‘California Girls’. Entah. Entah mengapa. Seperti ada yang tiada.


Judul        : Rahvayana2: Ada Yang Tiada
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 304 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Fiksi-Novel Sejarah


Medan Merdeka Barat, 18 Juni 2015
hari pertama shaum 1436H, ditemani Tragedy dari Bee Gees

Selasa, 03 Maret 2015

Catatan Hati Pengantin

Barangkali benar, tidak ada yang bisa menyiapkan diri kita lahir batin sebelum memasuki gerbang pernikahan. Karena memang tidak pernah ada institusi pendidikan yang membekali seseorang untuk benar-benar siap mengarungi bahteranya.



Harus saya akui bahwa membaca buku bertema pernikahan adalah satu persiapan yang baik bagi calon pengantin. Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami gambaran perjalanan kehidupan pernikahan. Segenap jatuh bangun usaha, turun naik gelombang kehidupan, pasang surut kasih sayang, dalam keseharian pernikahan digambarkan disini.

Ada beberapa nama yang saya kenal yang berkontribusi dalam kumpulan cerita ini. Sebut saja, Novia Syahidah, penulis buku "Titip Rindu Buat Ibu" dan Sinta Yudisia yang juga penulis beberapa buku bestseller. 

Saya mendapatkan gambaran yang lebih nyata bila dibandingkan dengan buku bertema serupa "Sakinah Bersamamu", masih dari penulis yang sama. Ada sepuluh bab yang menghimpun keseharian kehidupan pernikahan. Dimulai dengan hal-hal yang utama dalam pernikahan, yaitu kesehatan dan perekonomian keluarga. Kemudian, perihal rindu terhadap pasangan dan pekerjaan rumah tangga pun jadi bab tersendiri. Selanjutnya, tidak kalah dalam penting adalah pentingnya memilih tempat tinggal serta adanya orang ketiga dalam kehidupan pernikahan.

Memasuki bab-bab akhir, pembaca dihadapkan pada hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi situasional dalam pernikahan. Betapa komunikasi antar individu sangat berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga pernikahan. Komunikasi yang terjalin pun tidak hanya dalam lingkup keluarga kecil saja, komunikasi dengan mertua dan kerabat juga menjadi fokus yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan. Hingga akhirnya, ditutup oleh bab mengenai kehilangan yang disebabkan oleh maut.

Pada setiap akhir bab, ada satu konklusi sebagai bahan renungan dari penulis. Perbandingan pengalaman penulis dan para pengisi cerita menjadi satu nilai plus tersendiri. Saya mengambil banyak manfaat dari buku ini. Saya jadi lebih sadar akan hal-hal yang akan saya hadapi dalam kehidupan pernikahan nanti. Terakhir, saya berterima kasih karena buku ini telah membantu saya menghadapi berbagai kekhawatiran menjelang pernikahan yang tinggal menghitung hari.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 30 November 2014.

Kamis, 13 Februari 2014

Bukan Sakit Biasa

"Orang emang nggak selamanya ada di bawah. Nggak selamanya kalo udah jatuh mesti tertimpa tangga. nggak selamanya juga lagi lari dikejar musuh, akhirnya nyusruk ke lubang. Ada kalanya nasib di bawah, terus bisa naik lagi sedikit-sedikit."

Setidaknya, paragraf diatas adalah satu dari sekian banyak quote dalam buku ini. Inti persoalannya sederhana. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari keluarga Lupus pun ada banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Courtesy: www.goodreads.com

Anyway, Lupus ABG kembali hadir dengan 12 kisah baru. Plus, tips-tips keren yang bakal bikin kamu tambah kece. Cerita-cerita jayus khas Lupus sudah pasti jadi menu utama buku ini. Jangan heran kalau kelakuan Papi yang superpedit itu berubah disini. Selain itu, konteks cerita juga mulai menyesuaikan dengan laju zaman. Ada cerita tentang Papi yang hampir menabrak seorang Nenek, yang menyebrang jalan sambil mendengarkan lagu Raisa, Apalah (Arti Menunggu).

Cerita berjudul "Perpustakaan Kita" barangkali jadi satu bagian eksepsional disini. Bersama "Aids, Aids, Aids... Ciaaat!" kedua cerita ini merangkum kegelisahan dan respon kaum muda atas yang terjadi dalam lingkungannya. Kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dan upaya mengembalikan fungsi rekreasional dari perpustakaan. Khusus untuk ini, perlu diberikan apresiasi tersendiri karena Lupus berhasil mengikuti roda zaman sekaligus menggugah kepedulian kaum muda.



Pharmindo, 18 Januari 2014.

Jumat, 12 Juli 2013

Kerinduan Yang Rapuh - Serial #CerpenSMA Eps.1

Pengantar

Sebagai pembuka, beberapa hari lalu saya sengaja menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk membuka kembali file-file tugas sekolah SMA. Menarik, karena saya menemukan sebuah kumpulan cerpen yang pernah saya buat waktu itu. Tidak terlalu banyak memang, namun saya rasa sudah waktunya cerpen-cerpen itu menemukan pembaca mereka yang sesungguhnya.

Serial #CerpenSMA ini akan dimulai sejak tulisan pertama ini terbit. Semua cerpen telah mengalami  proses editing yang terbatas pada kesalahan penempatan tanda baca dan tipografi. Tidak ada perubahan dalam alur dan pemilihan kata-kata. Saya serahkan pada pembaca untuk menilai tulisan saya. Bagi saya, kumpulan cerpen itu tadi adalah tonggak awal sejarah kepenulisan saya, jauh sebelum blog ini dibuat.

Saya berharap pembaca dapat menikmatinya. Khusus untuk ini, terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih.

Paninggilan, 12 Juli 2013


KERINDUAN YANG RAPUH

Andhita tercinta,

Didalam surat ini aku tuliskan sebuah cerita saat aku telah jauh darimu. Suratku ini akan berisikan kerinduanku padamu. Andhita, apakah kamu akan ikhlas untuk menerima dan membacanya?.

Andhita, akan kuceritakan  betapa rindunya diriku saat kau tak disisiku menemaniku. Mengapa? Karena aku sangat mengharapkanmu untuk kembali bersama menikmati segala kenangan yang pernah kita lalui.


 
27 Juni 2001, tahukah Dhita, hari itu aku sungguh-sungguh kecewa, hari itu aku sadar bahwa kita tak akan pernah bertemu kembali. Aku tak bisa menerima kenyataan itu. Tetapi Andhita, kaupun tahu aku harus terus maju untuk meraih masa depanku. Tak hanya diriku saja tapi dirimu juga.
 
Aku juga masih ingat saat kau melihatku berjalan berdua dengan seseorang yang kini telah menjadi mantan kekasihku. Akupun mengerti perasaanmu Andhita, aku juga tahu kalau hatimu menyimpan sedikit luka karena kejadian itu. Apakah kamu tahu juga kalau selama ini aku pun terluka? Seseorang itulah yang sering membuatku terluka, terluka karena ia berusaha untuk menjauhkan dirimu dari hatiku. Andai waktu itu aku dapat menemanimu, maka tak akan ada lagi luka bagi kita berdua.
 
Namun kini Andhita, aku kehilangan perasaan itu. Aku kehilangan jejak cerita kita, saat kita masih bersama. Aku bahkan tak tahu kini dimana dirimu berada, entah di belahan dunia mana. Tetapi Andhita, aku takkan pernah kehilangan sesuatu dari dirimu yang sampai saat ini menjadi sesuatu yang berharga bagi diriku. Apakah kamu tahu Andhita? Senyummu. Senyummu itulah yang selalu menguatkanku dan mengabadikan dirimu di hatiku.
 
Andhita tersayang,
 
Didalam hatiku kaulah yang terindah kau telah menjadi sekuntum bunga yang mekar tiada hentinya didalam hatiku sampai kapanpun, karena kaulah bunga pertama yang kusimpan di dalam ladang cinta hatiku. Andhita, pernah kucoba untuk menepis bayanganmu yang selalu memaksaku 'tuk merindumu, namun ku tak pernah bisa. Belum lagi dalam kesendirianku ini, belum kutemukan bunga-bunga lain sebagai pendampingmu, aku belum bisa Andhita.
 
Andhita yang manis,
 
Aku ingin bertanya padamu, “ Masihkah kau menyimpan hadiah yang kuberikan?”, aku yakin kamu tentu masih menyimpannya. Andhita, untuk mendapatkan  sesuatu itu aku harus menempuh perjalanan yang tak pernah kuharapkan, tapi demi seorang Andhita, aku tak peduli. Andhita, saat itu hujan seakan ditumpahkan dari langit, akupun resah karena belum kutemukan sesuatu itu, aku takut mengecewakanmu, demi kebahagiaanmu Andhita, aku pun terus mencari walau dalam keadaan basah kuyup. Saat telah kutemukan langit mendung pergi dan matahari kembali bersinar dan menghidupkan kembali harapanku pada dirimu.Akhirnya aku pun bahagia melihatmu menerima dan menyukainya. Dari caramu mengucapkan terima kasih, aku tahu kamu sangat senang.
 
Itulah Andhita, seberkas kerinduanku padamu. Andhita setelah membaca suratku ini, kuharap kau dapat membalasnya. Ceritakanlah padaku tentang indah warna-warni duniamu.
 
Sebelum kuakhiri suratku ini, maafkanlah aku Andhita yang telah tega membiarkanmu pergi begitu saja. Pergilah Andhita, kejarlah keinginanmu karena masih banyak waktu, dan tak usah kau pikirkan lagi lelaki ini yang tebaik dan sangat sayang padamu. Maafkan aku sekali lagi, karena kata-kataku ini yang mungkin terlalu gombal bagimu.
 
Andhita, izinkanlah aku mengirimkan kerinduanku padamu dengan cium, peluk dan bisikan terhangat dari tempat yang terindah di dunia.
 

Bandung, 22 September 2003

Minggu, 30 September 2012

The Lies We Live In


 
"Ada bagian masa lalumu yang belum selesai..."
"Bagian mana?"
"Tanya dirimu, hatimu lebih tahu..."
"Apa perlunya? Apa itu masalah untukmu?"
"Kadang-kadang itu jadi masalah buatku. Lagipula kamu tak peduli."
"Kamu cemburu...?"
"............"

Percakapan terakhir pada suatu senja penghabisan itu membuatku teringat lagi padanya. Aku masih mengingkari kenyataan bahwa memang ada bagian masa laluku yang belum selesai. Bagai noktah kecil dalam tirai hati. Aku tidak mau mengakui kalau aku masih belum bisa melepaskan semua ingatan tentang perempuan yang menangis ketika kutinggalkan sore itu. Ketika semua yang mampu dihadirkan mimpi perlahan membias dalam keremangan senja. Dan kini, perempuan lain hadir dalam hidupku hanya untuk sekedar mengingatkan perihal masa lalu itu.

Aku yakin ia tidak sedang merasa seperti Inez yang batal menikah dengan Francis Lim, hanya gara-gara Francis masih punya masa lalu yang belum selesai dengan Retno.* Ah, sudahlah. Hidup ini tidak seperti novel walau kadang diperlukan waktu yang panjang untuk menyudahinya dan kejutan-kejutan hebat sebagai bumbu cerita.

"Kadang tidak perlu benar-benar jahat untuk jadi penjahat..."
"Kata siapa? Apa itu sindiran buatku?"
"Ya, jika kau merasa..."
"Lantas?"
"Tidak perlu memaksa melupakan bila memang tak sanggup"
"Kamu cemburu?"
"........."

Aku rasa berkomitmen itu mudah dan bukan sesuatu yang 'sakral'. Komitmen adalah bagaikan memilih barang di etalase toko. Kalau suka, ambil. Kalau memang tidak, ya sudah jangan dibeli. Dalam komitmen, yang dibutuhkan hanya kesungguhan untuk menjalani hidup bersama tanpa harus melupakan diri masing-masing. Toh, kita masih bisa tetap jadi diri sendiri. Tetapi, apakah meninggalkan segala ingatan tentang masa lalu adalah bagian dari komitmen itu juga?

Semua orang punya rahasia masing-masing. Aku dan dia sama saja. Kita sama-sama pernah punya lubang di hati. Aku rasa kita berdua telah sama dewasa. Bicara dengan logika walau terkadang perempuan itu cenderung melibatkan emosinya.

"Sudah berapa lama kamu berhenti menemuinya?"
"Sejak aku mengenalmu"
"Gombal"

Aku memang pernah menginginkannya. Aku memang selalu rindu padanya. Pada tatap hangat dan senyuman yang merekah indah setiap pagi. Pada semua momen bersama yang terlalu indah dilepaskan. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa aku pula yang menghentikan perasaan itu. Aku memang meninggalkan luka padanya, itu memang salahku. Lagipula, aku tidak akan memaafkan diriku bila aku sampai hati memainkan perasaannya. Aku sedang tidak ingin serius apalagi sampai harus memegang komitmen. Untuk apa? Dengan diriku saja aku masih belum bisa berkomitmen apalagi dengan dia.

"Kamu masih ingat perjumpaan kita?"
"Masih, bagaimana bisa aku lupa?"
"Apakah itu suatu penyangkalan?"
"Tentu tidak. Kamu tentu tahu betapa hebatnya ingatanku."
"Apa itu sebabnya kamu masih belum bisa lepas darinya?"
"Apakah kamu minta penjelasan?"
"Things happens for a reason..."
"Not everything in common..."
"Ah, tentu kamu masih ada rasa..."
"Itu untukmu..."
"Is that a compliment?"
"Akuilah, kamu cemburu?"

Perempuan itu terdiam lagi. Senyum tipisnya merekah seakan penuh kemenangan. Perlahan ia hirup aroma kopi Aceh pesanannya. Betapa sederhananya menemukan kebahagiaan dalam hidup ini walau hanya dalam aroma kopi.

"Kadang terlintas untuk cemburu, tapi buat apa? Toh aku tahu kamu tidak akan kembali pada masa lalumu."
"Mengapa kamu begitu yakin? Aku bisa saja melakukannya."
"Aku percaya kamu takkan pernah bisa melakukannya"
"Mengapa tidak?"
"Aku ini bukan apa-apa sehingga seandainya kehilangan dirimu pun aku rela, tak ada yang abadi walau memang kadang terlalu sulit menerima kenyataan... Sebab jarum jam tak pernah berputar ke kiri."

Kalimat terakhirnya cukup membuatku merasa bersalah. Aku tidak pernah meragukan dirinya. Sudah terlalu banyak 'pertengkaran' semacam ini. Suatu proses atas nama pendewasaan. Kami pun cukup sadar untuk melewati gerimis berkerikil tajam ini. Bukan suatu alasan untuk menyerah dan berpisah.

Ada ribuan tanya. Bukankah mencintainya adalah hal terbaik yang bisa kulakukan? Setelah reda semua gelisah, aku berhasil memenangkan hatinya. Sebuah pertempuran rasa yang tak mudah. Aku adalah kepingan hatinya yang berserakan. Kepingan-kepingan yang kini menyatu menjadi puzzle yang utuh dan menjelma dalam sosok diriku.

Dalam keremangan senja gerimis benar-benar menutup hari serupa tirai bioskop tanda usai pertunjukan. Lampu temaram jalanan mulai menghiasi sudut kota. Pekerja kantoran mulai berhamburan, sebagian menutupi kepala sebisa mereka. Pertanda episode kehidupan segera dimulai kembali.

"Memang sulit untuk menutup masa lalu, apalagi tentang dia.."
"Maksud kamu?"
"Selesai tidak selesai itu hanya dipikiranmu saja. Aku tidak tahu apa-apa."
"Apakah itu mengubah sesuatu?"
"Mungkin saja!"
"Apa itu?"
"Mungkin tidak ada bedanya. You do well and I'll live mine."

Ingatanku kembali pada Inez, yang mungkin punya sejuta tanya tentang mengapa Francis meninggalkannya hanya demi sebuah masa lalu yang tertinggal dan belum selesai. Bukanlah masa lalu itu adalah akhir dan kita hanya diperbolehkan untuk menengok sebentar. Bukan lantas tinggal kembali dan menjalaninya sementara melupakan hari ini. Masa lalu hanyalah sejarah kecil dalam rangkaian perjalanan panjang bernama hidup.

Aku tersadar ketika perempuan itu memelukku erat dalam guyuran gerimis. Aroma perpisahan mulai mewangi. Aku harap bukan, mungkin itu sisa parfumnya. Perempuan itu bergegas mengejar taksi. Dalam hitungan detik, perempuan itu menuju belantara kemacetan. Macet di Jakarta adalah bagai dosa yang takkan berakhir. Kulangkahkan kaki, sambil bergumam dalam hati: I'm all alone, and life is very long.

Ponselku berbunyi. Yup. Malam ini aku ada kencan dengan Cinta. Yeah!


 Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 14 Februari 2012.

*baca cerita Francis Lim dan Retno dalam buku “Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona!” karya Adhitya Mulya (et.al), Gagasmedia, 2007.
 *cerpen dimuat dalam "The Greatest Love of All: Tribute to Whitney Vol. 2"

Senin, 26 Maret 2012

Antologi Rasa



Persahabatan dan cinta adalah bumbu yang saling melengkapi. Dimana ada sahabat disana ada cinta. Kisah persahabatan empat orang sahabat karib, Keara, Harris, Ruly, dan Denise mengingatkan pada empat sahabat di Traveler's Tale. Farah, Retno, Francis, dan Jusuf. Kisah mereka pun tidak jauh berbeda. Hanya saja, empat sahabat di Antologi Rasa ini tidak mengalami cinta yang melingkar diantara sesama karakter. Keara mencintai Ruly, Ruly mencintai Denise, Harris mencintai Keara, Denise mencintai suaminya. Ada link yang putus disitu. Sedangkan, Traveler's Tale melibatkan perasaan yang saling bertautan antara tokoh-tokohnya. Farah mencintai Francis, Francis mencintai Retno, Jusuf mencintai Farah, Retno mencintai Francis tapi terhalang keyakinan.

Keara, Harris, Ruly, Denise, Panji, Dinda dan para pemeran pendukung lainnya terlibat dalam suatu kompleksitas manusia modern khas kaum urban metropolitan. Rutinitas pekerjaan dan rumitnya hubungan persahabatan ketika cinta mulai menancap pada rasa adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dihindari dan selalu menuntut untuk dijalani.

Keara, mencintai seorang Rully Wilantaga. Lelaki sempurna yang hanya ada dalam pikirannya. Sama seperti Farah Babedan, Keara menyimpan perasaannya saja tanpa mampu mengungkap satu kalimat sederhana. Sesederhana, i love you. Itu adalah hal yang mustahil. Sayangnya, Rully hanya menyimpan cintanya pada Denise. Walau Denise telah menikah.

Begitupun, Haris Risjad. Sahabat Keara yang jatuh cinta juga pada sosok Keara, sahabatnya. Semua yang Harris lakukan untuk Keara tak lain karena perasaannya. Sebagai bentuk atau perwujudan rasa sayang pada Keara yang hanya dia tahu saja. Menemani Keara untuk pindah dari panggung ke panggung di sela-sela F1 Grand Prix di Singapore, membawakan sarapan bubur ayam dan menikmatinya di mobil bersama Keara sebelum bekerja. Itu hanyalah sedikit dari wujud perasaannya.

Siapa bilang persahabatan tidak menemukan ujian atas kesetiaan seorang sahabat. Harris melakukan sebuah kesalahan dalam persahabatan yang mereka bina selama ini. Ada semacam aturan. Sahabat tidak akan meniduri sahabatnya sendiri. But, Harris just did that to Keara. Satu scene yang cukup menaikkan tensi cerita.

Keara, yang mencoba bangkit setelah memutuskan persahabatan dengan Harris, mencoba bermain-main dengan perasaannya.  Bukan untuk serius. Hanya sebagai pelepasan dan sekedar lari dengan kenyataan. Bahwa dirinya masih bisa bermain dengan Panji adalah suatu kenikmatan tersendiri. Ketika Rully tidak lagi menjadi pilihan dan hanya jadi angan semu belaka. Terlebih, ketika sahabat terbaiknya, Harris Risjad telah mengecewakannya.

Setelah melalui berbagai peristiwa takdir, cinta memang akan selalu menemukan jalannya sendiri. Denise, akan selalu dicintai suaminya. Kegigihan Harris untuk mengembalikan kepercayaan Keara membuahkan hasil yang sempurna. Semua orang akan kembali pada takdirnya masing-masing. Seperti Rully, yang entah sadar atau tidak bahwa cintanya pada Denise sudah gagal sejak pertama kali bertemu. Seperti cinta Komako pada Shimamura*.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membuka halaman awal Antologi Rasa, pikiran saya langsung merujuk buku Traveler's Tale karya kolaboratif empat penulis (@adhityamulya , @istribawel , Alaya Setya, Iman Hidajat). Kisah empat orang sahabat yang saling mencintai namun sama-sama terlalu takut untuk mengungkapkannya. Suatu kenyataan yang sangat realita pun ternyata mampu hadir dalam ranah fiksi. Suatu kenyataan yang justru menyimpan core values dari Antologi Rasa. Ika Natassa sangat berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dalam ceritanya, sendirian. Pembaca tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya seorang penulis menciptakan empat tokoh berbeda dalam satu kepalanya saja. Termasuk detail cerita menjadi nilai tambah dalam membangun kerangka dan konteks cerita dalam imajinasi pembaca.

Melalui latar cerita berbumbu gaya hidup dan tren kosmopolis urban metropolitan, Ika Natassa berhasil menggambarkan detail cerita menjadi lebih hidup dan meriah. Seakan kita semua mengalaminya sehari-hari. Tidak salah bila Antologi Rasa seakan selalu 'memaksa' pembacanya untuk membuka halaman demi halaman. Selalu penasaran untuk mengetahui kelanjutan cerita sampai akhir. Menikmati sketsa adegan-adegan cerita yang filmis ditambah iringan lagu-lagu dari The Cardigans dan John Mayer semakin menambah kemeriahan rasa.

Saya pribadi lebih menyukai detail-detail dalam cerita yang membuat buku ini layak mendapatkan tag sebagai 'page turner'. Diantaranya adalah pada saat Harris dan Keara berangkat ke Singapore saat berlangsungnya Singapore F1 Grand Prix. Maklum, sampai saat ini saya masih jadi Fans McLaren Mercedes. Semua detail disana cukup membuat saya tersenyum sendiri saat membaca kelakuan mereka berdua disana. Scene favorit saya adalah menjelang ending cerita. Ketika Harris memeluk Keara di mobil usai membuatnya menangis karena pertanyaannya pada Keara. tentang kenapa Keara tidak berterus terang pada Rully.

Persahabatan tetaplah suatu entitas sederhana yang kolektif, dimana individu yang terlibat didalamnya, dengan segenap kompleksitasnya, turut berbaur memberi warna dalam ikatan kebersamaan. Mungkin terselip cinta didalamnya. Tetapi, itu bukan sumber masalah utamanya. Jujur terhadap perasaan sendiri, hal sederhana lainnya yang justru sulit terungkap. Antologi Rasa, setidaknya mengajarkan kita bagaimana memaknai cinta dan berdamai dengan segenap perasaan lainnya dalam ikatan persahabatan.

Judul: Antologi Rasa
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Tebal: 328 hal.
Genre: Novel Pop

Pharmindo-Paninggilan, 14 Maret 2012.

*baca novel "Snow Country" karya Yasunari Kawabata.

Selasa, 13 Maret 2012

Kereta Tidur


"Aku lebih takut pada hidup yang seperti lotre. Hidup adalah beratus-ratus mungkin. Mati, itu sesuatu yang pasti." - Hal. 43


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membaca karya Avianti Armand untuk pertama kalinya sungguh menghadirkan pengalaman yang berbeda dalam memaknai sepuluh cerpen yang disajikan Kereta Tidur. Kumpulan cerpen yang habis dibaca sekali duduk ini mengandung kekayaan terpendam dalam setiap rangkaian kata. Sederhana, lugas, dan banyak mengandung unsur kejutan. Mengingatkan pada kumpulan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, dimana imajinasi menjadi bahan bakar utama cerita sehingga tidak pernah kehilangan kejutan yang menakar pengalaman pembaca.

Agaknya, imajinasi pula yang membuat Kereta Tidur menjadi lebih hidup. Cerita-cerita didalamnya dituliskan dengan kekuatan fiksi imajinatif sehingga mengundang pemaknaan baru atas sebuah cerita. Sekalipun cerita-cerita itu adalah kenyataan dan realitas yang biasa ditemui sehari-hari.

Hal-hal yang mudah dijumpai seperti konflik cinta, masalah keluarga, pencarian diri melalui pertanyaan atas eksistensi manusia tersaji unik, indah, dan mengusik. Nilai-nilai kehidupan yang sangat biasa hadir dalam kenyataan sehari-hari. Bahkan telah menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari yang biasa dialami.

Dari segi penceritaan, kejutan yang tak pernah bisa diduga adalah satu bagian lain yang akan menguji pengalaman pembaca. Unsur-unsur kejutan dalam cerpen ini mencirikan gelombang baru dalam kepenulisan di Indonesia. Ketika konteks berpadu dalam realitas kenyataan sehari-hari dan dituliskan kembali dengan proses fiksi yang fiktif dan imajinatif. Tanpa sedikit pun kehilangan muatan pesan dan kesan yang ingin ditampilkan si penulis dalam karyanya.

Cerita yang menjadi favorit saya adalah cerpen berjudul "Tentang Tak Ada". Ditulis dengan sketsa penggalan adegan-adegan terpisah tetapi masih dalam batas keutuhan cerita. Isu tentang cinta, romantisme, dan perselingkuhan masih jadi tren penulisan untuk menggugat realitas kaum urban. Lainnya, kutipan tembang Jawa "Ilir-ilir" yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga dan diselipkan dalam cerita ikut memperkuat konteks cerita. Lompatan pengalaman dan alur cerita dari konflik cinta hingga kebudayaan membawa suatu pemaknaan baru atas sebuah cerita pendek yang utuh.

Avianti Armand, peraih cerpen terbaik versi Kompas tahun 2009 dengan cerpen "Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian", dalam kumpulan cerpen kedua miliknya ini mampu mengolah rasa dalam horison imajinasi. Menakar pengalaman pembaca lewat interaksi cerita-cerita yang dituliskan dalam berbagai konteks dan dimensi. Sehingga, tidak pernah kehabisan ruang jelajah untuk menemukan makna-makna yang tersirat dalam sepuluh cerita yang saling berkejaran.

Judul: Kereta Tidur
Penulis: Avianti Armand
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Tebal: 129 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen

Pharmindo, 11 Maret 2012.
Ditemani semilir hawa dingin Bandung

Jumat, 24 Februari 2012

Books That Have Shaped Your Life

Terinspirasi dari tulisan Rene Suhardono dalam pojok rubrik di sebuah harian nasional, ada beberapa buku yang secara tidak langsung ikut berpengaruh dan berkontribusi terhadap pembentukan kehidupan yang sekarang sedang saya jalani. Utamanya, dalam hal karir dan pekerjaan. Ada beberapa koleksi buku yang memang masuk dalam kriteria tersebut. Sebut saja, Komunikasi Organisasi misalnya. Buku wajib zaman kuliah di kampus Jatinangor tercinta, hanya untuk memahami bagaimana model dan implementasi komunikasi di lingkungan organisasi. Ada juga aneka buku manajemen ringkas yang membahas bagaimana memanage suatu pekerjaan di lingkungan lembaga/perusahaan. Misalkan, “Change!” karya Rhenald Kasali, Jack Welch on Management, What the Best CEOs Knows, Serial Buku Manajemen MarkPlus, dkk.
Buku lama berjudul “Manajemen Perusahaan” yang sudah lama sekali saya tidak sentuh lagi adalah buku pertama yang saya coba adopsi ke dalam manajemen diri, terutama dalam hal “leadership” atau kepemimpinan. Sampai kemudian saya menemukan buku lainnya, seperti “Setengah Isi, Setengah Kosong” dan “Kerja Oke, Hasil Santai”. Kedua buku itu, sejauh penilaian saya sampai saat ini cukup memberikan sudut pandang dalam membentuk perilaku kerja dalam karir pribadi.

Setengah Isi, Setengah Kosong

Terlepas dari pemaknaan judul, buku ini berisi kumpulan cerita (saya lebih suka menyebutnya hikmah) dimana pembaca diharapkan mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah yang dituturkan dalam buku. Ditulis oleh Parlindungan Marpaung, seorang psikolog yang telah berpengalaman dalam menangani berbagai macam kasus psikologi industri.

Buku ini dibaca pertama kali sekitar medio 2005, waktu masih berstatus mahasiswa sehingga dengan wawasan kemahasiswaan yang masih terbatas saya hanya mampu mempelajari beberapa hal yang dibutuhkan dalam hubungan inter-relasi di pekerjaan. Pun ketika sempat bergabung dalam organisasi kecil (maksudnya tidak punya banyak staf) ada beberapa pengalaman dalam buku itu yang saya alami. Barulah ketika saya bergabung dengan sebuah company yang melibatkan banyak kepala untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dan meraih tujuan bersama, hampir semua hikmah dalam buku itu saya alami.
Saya rasakan sendiri manfaat dari buku itu. Saya mempunyai langkah-langkah preventif guna mengantisipasi hambatan dan menyiapkan langkah panjang karir yang saya rintis perlahan.

Kerja Santai, Hasil Oke
Kerja Santai, Hasil Oke versi bahasa Inggris
Berawal dari hadiah suatu kuis di radio, saya memilih buku ini. Karena memang tidak ada pilihan lain. Lagipula, judulnya tidak terlalu mengecewakan. Kerja Santai, Hasil Oke. Sepintas terdengar seperti kicauan para dedengkot multi-level marketing dan cukup mendemotivasi pekerja yang masih merangkak dalam karirnya.
Buku ini saya dapat sekitar medio 2007 (lagi-lagi masih berstatus sebagai mahasiswa). Dengan bekal pengalaman seadanya di organisasi kecil diatas, saya mulai membandingkan antara isi buku dengan realita pengalaman yang telah saya alami. Hasilnya, tidak terlalu mengecewakan.
Ditulis oleh Corinne Maier, seorang ekonom di PLN-nya Perancis, buku ini berhasil mengungkap mengapa pekerjaan berubah menjadi suatu hal yang membosankan dan tidak ada pengaruhnya terhadap kesejahteraan pribadi. Tentu, ini sangat bertentangan dengan buku-buku motivasi khas Amerika yang menekankan pada motivas untuk produktivitas. Sehingga, dianggap sebagai buku provokatif yang cukup menuai kontroversi.
Lebih jauh, diluar semua kontroversi, buku ini tetap mampu dijadikan acuan pengembangan diri karena menggambarkan realita yang sesungguhnya. Realita yang tak mampu diungkapkan secara gamblang oleh kaum pekerja yang selalu dituntut alasan produktivitas. Dengan begitu, kita dibuat mampu melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda tanpa kehilangan esensi.
Quote yang selalu saya ingat dari buku ini adalah: “Anda Hanyalah Pion Kecil.” Jadi, bila anda adalah pendatang baru dalam dunia kerja, mohon berhati-hati. Tanpa keluasan hati, anda hanya akan menerima pesan yang tidak hanya dekonstruktif untuk karir tetapi juga efek demotivasi yang yang perlahan menggerogoti jiwa dan semangat anda. Be positive.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 5 Februari 2012.

Minggu, 05 Februari 2012

Tentang Aku, Kamu, dan Rasa dalam Empat Musim Cinta

Judul: Empat Musim Cinta: tentang aku, kamu, dan rasa
Penulis: Adhitya Mulya and friends
Penerbit: GagasMedia
Tahun: 2010
Tebal: vi + 174 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen
Delivery date: December 2010


Ada yang selalu dinanti dari setiap karya penulis. Apalagi kalau penulis itu sudah pernah berhasil membangun reputasi dengan meraih predikat “Best Seller”. Entah itu kekhasan rasa dalam setiap tulisan yang dihasilkan atau hanya sekedar perasaan kangen untuk membaca karya selanjutnya. Semenjak saya mulai follow Adhitya Mulya di twitter (@adhityamulya) saya mendapat banyak informasi yang lebih bersifat personal. Sehingga, saya bisa tahu juga bahwa penulis ini menjual sendiri karyanya. Bedanya dengan di toko buku, setiap pembeli akan mendapat tanda tangan asli dari penulisnya. Sebuah kebanggan yang tak terhingga bagi seorang penggemar. Mungkin 100 tahun lagi buku bertandatangan asli ini akan jadi barang langka, antik, unik dan mahal harganya.

Saya tertarik membaca buku ini karena judulnya. Empat musim cinta. Selama ini kita hanya mengenal empat musim cuaca. Bukan cinta. Namun, saya kira cuaca pun masih ada hubungan dengan cinta. Cuaca layaknya cinta adalah sesuatu yang bisa diprediksi sebelumnya tetapi membutuhkan pengalaman tersendiri untuk merasakan keadaan yang sebenarnya. Itu menurut tafsir saya karena selama ini saya pun belum tahu alasan dibalik pemilihan judul buku ini.
Sayangnya, saya belum mampu menuliskan sepatah dua patah kata untuk sekedar menerjemahkan isi buku ini menurut tafsir saya. Saya dilanda ketakutan luar biasa apabila ternyata salah dalam mendefinisikan makna Empat Musim Cinta. Ketakutan yang semakin saya sadari semakin tidak beralasan.

Ya tabe kahayu. Aishiteru. Ti amo. Wo ai ni. Mi aime jou. Volim te. Ik hou van jou. Ek hef jou lief. Mi amas vin je. Ich liebe dich. Te dua ai.  Begitulah cinta menyebut namanya dalam berbagai bahasa.

Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini, apalagi buku ini termasuk makanan ringan bagi penikmat sastra cerpen. Cerpen dengan rasa dan bumbu cinta didalamnya. Fenomena cinta yang disajikan para penulis ditafsirkan dalam makna yang lebih general. Tidak sebatas percintaan dan kasih sayang dua manusia semata. Cinta bisa dimaknai secara luas karena pada hakikatnya cinta ada dalam setiap jejak langkah manusia.
Aura cinta sudah terasa sebelum membaca dan merasakan cerita cinta dari setiap cerpenis. Cinta menemukan jalannya sendiri. Cinta memiliki bahasanya sendiri.  Bagai empat musim yang selalu berganti begitu pula cinta. Cinta memiliki musimnya sendiri. Ia bisa hadir setiap hari dalam setiap jiwa yang merindukannya. Pengalaman cinta yang berbeda dari masing-masing penulis membuat kumpulan tulisan ini terasa lebih hidup dan semarak. Perasaan kehilangan dan bahagia menyublim dalam rasa.



Pharmindo, 31 Desember 2011.

9 dari Nadira




Bagaimanakah hubungan antara masa lalu dengan masa kini yang menghadirkan gejolak dalam diri seseorang?

Catatan Seorang Kritikus Dadakan

Agak sedikit mengusik ketika membaca 'perdebatan' antara yang mengelompokkan buku ini kedalam kumpulan cerpen dan yang satunya lagi kedalam novel. Perdebatan memang tidak dapat dihindarkan dalam penafsiran buku ini mengingat keunikannya. Memang lumayan mengejutkan ketika mendapatkan kembali sebuah cerpen yang pernah tampil sendiri sebagai sebuah cerpen lalu kemudian menjadi bagian dalam buku ini. Dari situlah saya sedikit memahami isu-isu yang menjadi bahan 'perdebatan' terutama mengenai batasan-batasan antara novel dan kumpulan cerpen.

Apabila 9 Dari Nadira ini dikelompokkan ke dalam genre bacaan sebagai kumpulan cerpen maka tak ada salahnya. Karena, dari bentuknya kesemua cerita disajikan seperti tulisan cerpen pada umumnya. Sedangkan, bila pembaca ingin menganggap buku ini sebagai novel maka hal itu sah-sah saja. Jalinan cerita memang menyajikan suatu sekuensial yang mengikat keseluruhan fragmen cerita.

Bagi saya pribadi, agaknya karya dari Leila S. Chudori ini menjadi semacam refleksi atas kehidupan pribadi penulisnya. Potret kehidupan seorang jurnalis berhasil digambarkan sedemikian rupa lengkap dengan berbagai konflik dan pertentangan antar tokoh. Entah itu terjadi pada Nadira  dengan orang lain maupun dirinya sendiri. Sehingga tidak berlebihan bila berbagai macam situasi yang mungkin pernah dialami dan dirasakan sendiri oleh penulisnya mampu menghasilkan fragmen-fragmen yang kemudian berpadu menjadi satu kumpulan karya yang mengagumkan dan eksepsional.

Judul: 9 Dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun: 2009
Tebal: xi + 270 hal.
Genre: Kumpulan Cerita

 
Pharmindo-Teluk Buyung-Medan Merdeka Barat, September 2011-Januari 2012.

Kamis, 05 Januari 2012

Tentang Kita


Kalau syarat untuk mencintaimu adalah seperti yang Lea bilang, aku pasti sudah jadi kekasih terbaik: aku tahu nama tengahmu, aku juga tahu tanggal lahirmu.


Lagipula, tak ada syarat istimewa bagimu untuk memiliki hati dan segenap jiwaku. Cukup bagiku hadirmu: membawa cinta selalu.

Barangkali, sambil mengendap makna dalam lirik Bee Gees kau kan temukan makna berartinya diriku.

Ingat, aku takkan pernah meletakkan cinta pada bait yang paling suci hingga jadi rahasia yang justru tak mampu kau ungkap dengan kata.

 

Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 2 Januari 2012

Sabtu, 31 Desember 2011

Test Pack


Judul: Test Pack
Penulis: Ninit Yunita
Penerbit: Gagasmedia
Tahun: 2005
Tebal: 230 hal.
Genre: Novel
Delivery date: Desember 2010

Sama seperti Empat Musim Cinta, buku ini juga ditandatangani oleh penulisnya langsung. Betapa bangganya saya saat menerima kiriman paket dua buku ini. Karena selain membantu meningkatkan penghasilan dan penjualan dari pasangan Suami Gila dan Istri Bawel ini saya juga punya sesuatu untuk dibanggakan: tanda tangan penulis. Sama rasanya ketika Prof. Budi Darma dan DR. Seno Gumira Ajidarma sudi menandatangani buku mereka yang saya punyai.
Test pack, sebuah novel metropolitan, ringan dan menghibur. Namun, makna yang dikandung novel ini sangatlah besar. Tidak sesederhana memaknai komitmen antar dua manusia demi janji setia yang telah terucap. Pembaca harus mampu sesensitif mungkin untuk merasakan perjuangan demi mempertahankan komitmen diluar semua pretensi, praduga, dan prasangka yang senantiasa lekat menghampiri. Cerita yang dikemas rapi ini adalah wujud representasi kehidupan manusia modern dengan segala kompleksitasnya sehingga fiksi ini dianggap mewakili suatu realitas kenyataan yang benar-benar dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Sepanjang tahun ini, saya belum mampu juga untuk membuat resensi buku ini karena yang ada di pikiran saya saat itu adalah kebingungan yang sangat.* Saya tidak ingin lantas menjadi orang yang sok tahu dengan hanya menafsir sebuah novel yang membahas kehidupan rumah tangga. Padahal, saya hanya perlu membaca makna dan pertanda akan arti sebuah kesetiaan dalam komitmen berumah tangga. Beberapa pertanyaan yang sepertinya sengaja diselipkan dalam cerita rasanya sayang bila dilewatkan begitu saja. Barangkali, pembaca harus lebih dari siap untuk jujur pada diri sendiri untuk menjawab pertanyaan tersebut.


Pharmindo, 31 Desember 2011.

*cerita ini selesai ditulis hanya beberapa jam menjelang pergantian tahun 2011.