Tampilkan postingan dengan label cerita bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita bebas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2016

In Bed with Models

Courtesy: www.goodreads.com
Back to year 2006, terbit sebuah buku yang menurut saya fenomenal. Buku ini tidak berada di deretan Best Seller toko buku namun masuk kriteria fenomenal. Mengapa? Mau tidak mau harus diakui Moammar Emka-si penulis buku- memang menulis sesuatu yang benar-benar terjadi dan mengangkat realitas yang sedang terjadi dalam dunia permodelan sejagad republik. Ditambah gimmick judul yang benar-benar provokatif dan merangsang setiap pembaca ingin tahu lebih dalam seluk beluk jagad permodelan.

Setidaknya,  buat saya pembacaan buku ini mengandung beberapa makna. ‘In Bed With Model$’ mengandung makna “sesuatu” yang bersifat di balik layar. Tertutup dan tersembunyi. Kamar adalah ruang pribadi untuk segala macam aktivitas yang pribadi pula. Sehingga, paduan kata dalam judul diatas adalah sebuah realitas yang distempeli cap “RAHASIA” atawa “CONFIDENTIAL”. 

Penggunaan kata “Model$” yang menggunakan simbol dolar ($) adalah satu bentuk penggambaran sisi-sisi gelap dan rahasia dari sejumlah model yang ia temui selalu melibatkan unsur uang, dalam jumlah kecil maupun besar. Sebuah kegiatan transaksional.

Buku ini ditulis dalam waktu yang cukup singkat. Menurut penulisnya sendiri, ia hanya memerlukan waktu 20 hari. Itu sudah termasuk mengorek ingatan dan reka ulang adegan sepanjang pengalaman penulis bersama model-model. Oh ya, tulisan Emka juga enak dibaca secara random karena tidak ada sekuensial pada setiap judul. Sehingga, tidak masalah bila pembaca membaca “Party With Model$” lebih dahulu dan mengakhirinya dengan “Money Talks”.

Judul           : In Bed With Model$
Penulis        : Moammar Emka
Penerbit      : GagasMedia
Tahun          : 2006
Tebal           : 252 hal.
Genre          : Gaya Hidup

Cipayung, 24 Juli 2016

Kamis, 26 Mei 2016

Komik Edukasi Perencanaan Keuangan

Courtesy: www.goodreads.com
Eksistensi komik sebagai media penyampai pesan yang efektif kembali diuji melalui komik ini. Setidaknya itu hipotesis yang saya ajukan usai pembacaan komik ini. Komik ini saya beli empat tahun yang lalu, dan baru beberapa hari kemarin ditemukan sehingga saya baru bisa tulis di blog sekarang. Padahal saya sempat membuat review singkat di Goodreads.

Perencanaan keuangan. Sesuatu yang selalu menjadi topik pembicaraan seputar masalah manajemen keuangan. Apalagi, booming kelas menengah yang sedang melanda negeri ini membuat segala tetek bengek soal perencanaan keuangan mendapat tempat sendiri dalam masyarakat. Peran perencana keuangan mulai dibutuhkan untuk menanggulangi kecemasan di masa depan.

Perencanaan keuangan yang baik tentu dimulai dari kesadaran yang timbul sebagai akibat dari ekspektasi. Pada suatu kondisi dimana uang menjadi barang yang langka, tentu dibutuhkan strategi khusus untuk tetap memilikinya. Masalahnya, hingga saat ini masyarakat belum memiliki suatu guidance/petunjuk yang jelas soal investasi dan instrumen keuangan lainnya agar uang yang mereka miliki dapat tumbuh dan berkembang. 

Media komik sebagai media komunikasi visual dapat membantu kesenjangan informasi mengenai hal tersebut. Penyampaian gagasan dari Financial Planner terkemuka di negeri ini menjadi satu nilai tambah tersendiri bagi muatan pesan yang ingin disampaikan. Saya pun harus kembali menguji hipotesis saya, apakah pembaca mampu menerapkan pelajaran manajemen keuangan setelah membaca komik ini? Saya kira nanti saja, di tulisan yang lain. Entah kapan.

Akhir kata, selamat belajar merencanakan keuangan.

Judul        : Komik Perencanaan Keuangan Mr. Edu
Penulis     : Mike Rini Sutikno
Penerbit   : PT. Elex Media Komputindo
Tahun       : 2010
Tebal        : 120 hal.
Genre       : Manajemen-Keuangan

Medan Merdeka Barat, 26 April 2016.

Senin, 19 Oktober 2015

Ted 2: Ted is BACK!

There are no chicks with dicks, Johnny, only guys with tits.  
Ted

Courtesy: www.imdb.com
Sejak menonton seri perdana ‘Ted’, film ini sudah menyita perhatian dengan explicit content dalam ceritanya. Teddy Bear yang sangat spesial ini bukan sekedar boneka yang bisa bicara dan berinteraksi dengan manusia. Lebih dari itu, Ted kelihatan sebagai sosok manusia dalam bentuk boneka Teddy Bear yang lucu. Hanya saja, beruang lucu nan imut ini bukanlah sosok yang tepat untuk teman tidur anak-anak.

Sekuel ini menyoal personifikasi Ted. Masih diperankan oleh Seth MacFarlane, Ted dan kekasihnya, Tami-Lynn (Jessica Barth), akhirnya menikah. Setahun pertama pernikahan mereka berjalan normal. Memasuki tahun berikutnya, masalah mulai banyak mendera mereka. Serangkaian perselisihan dan cekcok adalah keseharian mereka hingga keduanya tidak saling bicara di tempat kerja.

Atas saran seorang teman, Ted berbicara mengenai keinginannya untuk memiliki seorang bayi. Sejak saat itu, keduanya mulai rukun kembali dan menjalani berbagai program demi mendapatkan keturunan. Masalah utama yang harus mereka hadapi selain Ted yang tidak memiliki penis adalah Ted dinyatakan sebagai properti, bukan sebagai manusia yang memiliki akal dan jiwa.

Courtesy: www.imdb.com
 Masalah yang pertama bisa selesai karena John (Mark Wahlberg) bisa membantu menjadi donor sperma setelah mereka gagal mendapat sperma milik Tom Brady, pemain NFL terkenal. Namun, tidak secepat itu. Ternyata, usaha yang mereka lakukan menjadi sia-sia karena tidak dibenarkan oleh undang-undang. Semua dokter yang mereka datangi menganggap Ted bukanlah manusia melainkan hanya sebuah properti sehingga tidak bisa mendapatkan donor sperma.

Atas dasar itulah mereka mengajukan tuntutan ke pengadilan agar Ted bisa mendapatkan pengakuan sebagai manusia. Usaha mereka berlanjut hingga menemukan sosok Samantha (Amanda Seyfried), pengacara yang mau membantu mereka atas dasar kesetaraan (equality). Sebelum persidangan dimulai, sudah ada konspirasi untuk memenangkan pihak tergugat dimana nanti bila Ted dinyatakan secara resmi sebagai properti, sebuah perusahaan mainan akan mengakuisisi hak ciptanya dan menjualnya ke seluruh dunia.

Ted kembali bertemu dengan musuh lamanya. Bila pembaca masih ingat di seri sebelumnya, si pengagum misterius ini hadir lagi dan menjadi bagian dari konspirator. Ted berhasil lolos dan melanjutkan persidangan lanjutan dengan mendapat bantuan dari seorang pengacara dengan reputasi meyakinkan, Patrick Meighan (Morgan Freeman). Teddy Bear memang dibuat untuk membuat bahagia semua anak-anak di dunia. Begitupun sekuel Ted ini, Ted mengalami sebuah happy ending. Ted dinyatakan sebagai manusia dan secara resmi diberikan hak-hak dan kewajiban warga negara kepadanya.

Catatan Singkat Kolumnis Dadakan

Anyway, ending semacam ini tentu mudah ditebak oleh para penggemar film. Tidak ada pula hal lain yang istimewa pada film yang dirilis tanggal 26 Juni lalu ini. Sayangnya, film ini bernasib sama seperti ‘Fifty Shades of Grey’ yang tidak tayang di Indonesia. Penikmat film khususnya penggemar Ted harus maklum karena tidak lulus sensor (menurut standar Badan Sensor Film).

Saya cukup menikmati setiap scene ‘Ted 2’. Kekonyolan tingkah laku Ted dan John Bennett adalah hiburan tersendiri bagi setiap penggemar Ted. Hal itu semakin menjadi-jadi kala Samantha si pengacara juga adalah penikmat ganja sehingga mereka bisa menikmatinya bersama-sama.

And you know what, jangan menonton film ini bersama anak di bawah umur. Saya khawatir mereka akan dewasa sebelum waktunya.


Judul           : Ted 2
Sutradara    : Seth MacFarlane
Cast            : Mark Wahlberg, Jessica Barth, Seth MacFarlane, Amanda Seyfried, Morgan Freeman
Durasi        : 115 menit
Tahun         : 2015
Produksi     : Universal Pictures
Genre         : Komedi Dewasa


Sentul, 27 Juli 2015.

Senin, 14 September 2015

Dekade Kejayaan Luftwaffe



28 Juni 1919, Jerman resmi menandatangani Perjanjian Versailles yang disusun oleh negara-negara Sekutu pemenang Perang Dunia I. Perjanjian ini mengharuskan Angkatan Udara Jerman dibubarkan dan peralatannya dihancurkan. Suatu harga mahal yang harus dibayar setelah satu perang yang menghasilkan pilot-pilot tempur dengan kemenangan terbanyak dan mendominasi berbagai front pertempuran. Juga diperkenalkannya pesawat pemburu pertama yang memiliki senjata yang dapat menembak melalui baling-baling.

Luftwaffe dulunya adalah Die Fliegertruppen des Deutschen Kaisserreichs (Jawatan Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jerman) yang disingkat Fliegertruppe. Pada Oktober 1916, namanya berubah menjadi Deutsche Luftstreitkräfte, Angkatan Udara Jerman. 

Selama Perang Dunia I, AU Jerman meraih nama harum dengan menggunakan pesawat-pesawat pemburu Albatros dan Fokker lalu menghasilkan para ace termasyhur. Diantaranya adalah Manfred von Richtofen, Ernst Udet, Oswald Bölcke, Werner Voss, Max Immelman, dan Hermann Göring. Beberapa diantara mereka pun sempat menjadi petinggi Luftwaffe. Luftstreitkräfte juga menggunakan pesawat pembom Gotha dan kapal udara Zeppelin untuk membom Prancis, Belgia, dan Inggris. 

Setelah kalah perang, AU Jerman dibubarkan pada 8 Mei 1920. Seluruh pesawat terbang militer Jerman dihancurkan. Keadaan demikian menimbulkan kemarahan pada awak penerbang tempur Jerman. 

Keadaan itu tetap berlangsung hingga Hitler merebut kekuasaan dan naik tahta. Hitler melihat nilai lebih Hermann Göring, pengikut setianya itu. Seorang ace perang dengan Pour le Merite. Hitler kemudian memberi Göring kekuasaan yang besar. Pada tahun 1933, Göring menjadi pemimpin Reichluftfahrtministrium (RLM), Kementerian Udara Reich.

Kendati masih terikat dengan Perjanjian Versailles, sebuah departemen penerbangan disusun secara rahasia dan dilatih sebagai bagian dari Angkatan Darat. Sekutu kemudian mencabut larangan pembuatan pesawat terbang sipil pada 3 Mei 1922. Dengan demikian, Jerman kembali memproduksi sejumlah pesawat seperti Dornier, Heinkel, Junkers, Arado, dan Messerschmitt. Keberadaan Luftwaffe tidak dibuka kepada dunia hingga Maret 1935 dan disamarkan sebagai Kementerian Udara. 

Messerschmitt Bf-109. Courtesy: www.promare.co.uk

Luftwaffe mendapatkan misi pertamanya ketika Perang Saudara Spanyol pecah pada bulan Juli 1936. Kesempatan ini dijadikan ujian bagi peralatan, personil, maupun teori militer mereka. Hitler mengirim bantuan untuk pasukan pemberontak sayap kanan pimpinan Jenderal Franco. Korps sukarelawan Luftwaffe itu dinamakan Legiun Kondor. 

Perang di Spanyol itu memberikan pelajaran berharga bagi Luftwaffe. Teknik formasi terbang longgar, nilai pemboman tepat dengan menukik, dan efek pemboman karpet dicatat dan digunakan kembali ketika Perang Dunia II pecah.

Luftwaffe turun dalam medan perang sesungguhnya pada saat Reich menyerbu Polandia lewat serangan Blitzkrieg, 1 September 1939. Serangan itu sebenarnya menimbulkan kerugian besar karena Luftwaffe kehilangan 285 pesawat dan 279 lainnya rusak. Walaupun begitu, reputasi kehebatan mereka di udara tidak lantas pudar. Prancis dan Inggris pun tidak berani melawan sekalipun telah menyatakan perang. 

April 1940 Reich menyerang Skandinavia dengan sasaran Denmark, Norwegia, dan Swedia. Dominasi Luftwaffe membuat mereka leluasa menyerang armada sekutu. Selanjutnya, invasi berlanjut ke Prancis dan negara-negara rendah. 

Usai takluknya Prancis, Hitler makin bersemangat menyerbu Inggris. Inggris sendiri memang khawatir serangan Luftwaffe dapat meruntuhkan pertahanan udara mereka. Dengan kekuatan yang ada, Royal Air Force masih mampu menahan serangan Luftwaffe.

Junkers Ju-87 Sturzkampfflugzeug "Stuka". Courtesy: www.homebuiltairplanes.com

Selain bertempur di Front Barat, Hitler juga membuka wilayah pertempuran lainnya yaitu di Afrika Utara dan Rusia. Hitler dan sekutunya, Mussolini, berusaha merebut koloni Inggris dan Prancis di Afrika Utara dan Laut Tengah. Pertempuran yang kelak jadi masalah bagi pertempuran di Front Timur menghadapi Tentara Merah Stalin. 

Dengan jumlah armada pesawat tempur yang berkurang Jerman tidak lantas meningkatkan kapasitas produksinya. Mereka menghasilkan pesawat dengan jumlah yang sama seperti di masa damai. Berbeda dengan Inggris yang langsung menggenjot produksi hingga titik maksimal. Faktor inilah yang kemudian menyebabkan gagalnya Luftwaffe memberikan bantuan optimal bagi Wehrmacht dalam merebut Stalingrad dan Moskow. 

Pertahanan udara Jerman sendiri sangat rapuh dengan keadaan tersebut. Insting Hitler yang hanya mengandalkan perhitungannya semaa terbukti gagal menyelamatkan Berlin dari serbuan pesawat tempur Sekutu.  Kendati pesawat tempur bermesin jet telah diperkenalkan hal itu tidak banyak membantu. Kebijakan Hitler yang menginginkan banyak pesawat pembom menyebabkan produksi pesawat pemburu model baru tidak mencapai kapasitas yang seharusnya. Hitler kemudian menyadarinya namun semua sudah terlambat. Jerman diambang kekalahan. 

Bulan Mei 1945 yang tersisa dari sebuah kekuatan udara modern pada zamannya hanyalah rongsokan pesawat terbang yang bertebaran di berbagai lapangan terbang di Jerman. Luftwaffe dibubarkan pada tahun 1946. Luftwaffe dibangun kembali ketika Angkatan Perang Republik Federal Jerman disiapkan pada medio 1950-an untuk menghadapi konflik model baru. Perang Dingin. 

Sebagai bagian serial sejarah Perang Dunia, buku ini cukup komprehensif dalam menyajikan peristiwa perang yang melibatkan Luftwaffe. Didukung dengan daftar pustaka yang lengkap. Beberapa gambar dan ilustrasi dalam buku pun bersumber dari referensi yang relevan. 

Tinjauan mengenai kekuatan armada Luftwaffe pun disajikan secara lengkap dan detail. Tidak saja hanya pesawat-pesawat pemburu dan pembom legendaris seperti Dornier Do-17, Junkers Ju-52/3m, Junkers Ju-87 Sturzkampfflugzeug 'Stuka', Heinkel He-111, Messerschmitt Bf-109, Bf-110C4, 

Kisah-kisah lain seputar personil operasi Luftwaffe pun menjadi nilai lebih tersendiri. Terutama ketika menemukan fakta bahwa ada sebuah kebajikan dalam perang. Ketika itu, pesawat pembom Sekutu dikawal keluar medan pertempuran oleh pesawat pemburu Luftwaffe. Hingga kedua pilot pesawat meninggal, mereka tetap bersahabat. 

Buku ini hadir untuk melengkapi khazanah pengetahuan mengenai sejarah perang. Khususnya, Perang Dunia II. Selebihnya, buku ini pun dapat menjadi ensiklopedia mini tentang kehebatan dan kejayaan sebuah Angkatan Udara, sejak kemunculannya hingga batas nasib yang mampu dicapainya.


Judul        : Luftwaffe: Kisah Angkatan Udara Jerman Nazi 1935-1945
Penulis     : Nino Oktorino
Penerbit   : Elex Media Komputindo
Tebal        : 238 hal.
Tahun       : 2013
Genre       : Sejarah-Militer


Dharmawangsa, 29 Juni 2015. 



Sabtu, 22 Agustus 2015

Rahvayana 2: Ada Yang Tiada

Sebaiknya dunia yang tak ada harus tetap kita adakan. Kalau perlu, kita ada-adakan. Caranya, yang tidak ada itu harus kita ada-adakan manfaatnya.



Kisah lanjutan dari Rahvayana edisi perdana, Aku Lala Padamu ini masih bercerita soal si ‘Aku’ yang tak henti-hentinya mengagumi Sinta. Sejak pertemuan pertama pada gerimis di Borobudur hingga Rahvayana akhirnya benar-benar melanglang buana tampil di gedung pertunjukan legendaris dunia. ‘Aku’ masih menulis surat-suratnya pada Sinta walau kadang Sinta tak lantas langsung membalasnya.

Saya tidak perlu menjelaskan lagi soal pembebasan pakem Rama-Sinta dari cerita Ramayana yang sudah terlanjur beredar dan kita semua maklum dibuatnya. Rama mengumpulkan pasukannya untuk merebut kembali Dewi Sinta. Pada “Rahvayana 2”, permainan sang Resi Sujiwo Tejo semakin mendetail untuk mengungkapkan apa saja yang terjadi diantara Rama-Sinta. Ia berhasil membuat kedua tokoh itu menampakkan sisi hitam-putihnya.

Pengalaman bersama ”Rahvayana 2” ini benar-benar menjadi suatu perjalanan yang menyenangkan. Menyenangkan karena akhirnya saya dapat gambaran mengenai sosok seorang Indrajit bila memang benar ada dalam kehidupan nyata. Sang pemilik Aji Sirep yang lebih sakti dari milik Wibisana ini menemani si ‘Aku’ sejak dari dalam kereta dari Guangzhou, lalu ke Tembok China dimana si ‘Aku’ mendalang untuk lakon Rahwana dan Sinta diiringi  repertoar yang sakral dan kuno, Gending Ayak-Ayak Slendo Manyuro.

Sinta Gugat

Seluruh perjalanan dan petualangan dalam “Rahvayana 2”; Guangzhou, Tembok Cina, Bali, Siberia, Anna Karenina, Himalaya, dst. Pada ujungnya memang hanya soal Rahwana, Sinta, dan Rama. Menjelang akhir cerita, mulai halaman 233 hingga 234, usai Rama berhasil menemui Sinta setelah dibuat tidak berdaya oleh Lawa dan Kusa, dua anak kembarnya yang ikut Sinta mengasingkan diri ke hutan Dandaka, Sinta ‘menggugat’ eksistensi Rama dalam seluruh lakon Rama-Sinta ini.

“Katanya, Rama hanyalah buih. Ia bergerak atas kehendak samudra Siwa. Kenapa cinta Tuhan kepadaku melalui Rama begitu naif? Masih ia syak wasangkai kesucianku setelah 12 tahun hidup bersama Rahwana di Alengka?”

Sinta masih melanjutkan gugatannya.

“Apakah cinta tak ubahnya dengan pengadilan, yang setiap pihak harus membuktikan segalanya?”

Gugatan Sinta menarik simpati para siluman di Dandaka. Bahkan ada yang mulai menangis.

“Rama, sebetulnya kau mencintaiku atau mencintai dirimu sendiri sehingga kau begitu hirau dengan gosip rakyatmu bahwa aku sudah tak suci lagi setelah hidup bersama Rahwana”

Gugatan Sinta pun berakhir.

“Perang Alengka-Kosala kau canangkan bukan demi cintamu kepadaku, Rama, melainkan demi ketersinggungganmu sebagai seorang lelaki dan seorang kesatria!”

Lagi-lagi, saya harus mempertanyakan Rama. Mengapa Dewi Sinta yang dicurigai sudah tidak suci lagi? Apakah karena dominasi maskulinitas terhadap feminitas Sinta? Lantas, mengapa Rama sendiri menangis di balik bukit kala Hanuman membawakan kalung titipan Sinta  untuk dipakai olehnya sekaligus untuk membuktikan kesetiaannya? Dalam hal ini, memang cinta Rama kepada Sinta perlu dipertanyakan. Bila perlu, diadakan lagi penelitian lebih jauh mengenai hal ini. Apakah sebegitu bersyaratnya cinta Sri Rama terhadap Dewi Sinta.

Barangkali memang Rahwana yang tetap bisa mencintai Sinta, apapun keadaannya. Rahwana memang menyembah dan memuji titisan Dewi Widowati itu dengan caranya sendiri. Rahwana menyembah Zat yang ada itu melalui segenap tirakatnya. Rahwana tetap menjunjung dan mencintai Sinta, walau Sinta berubah menjadi Janaki dan Waidehi.

Hanya Sekedar Komentar

Muatan lain yang jadi titik berat lanjutan ‘Aku Lala Padamu’ ini adalah satu soal filosofis tentang ada dan tiada. Pembaca bisa menilai sendiri persoalan filosofis yang rupanya sempat hinggap di kepala sang Resi Sujiwo Tejo. Soal cover buku, saya rasa ‘Aku Lala Padamu’ memang cenderung ‘lebih serius’ dalam menggarap hubungan antara cover dengan jalan cerita.

“Ada Yang Tiada” punya cover yang cenderung lebih ngepop dan santai. Tiga orang gadis naik mobil sedan kap terbuka. Mungkin, mereka naik sedan Mercy Tiger tahun 70-an dan melintasi jalanan Melawai hingga pinggiran pantai California sana. Entah mengapa, saya membayangkan perempuan-perempuan itu adalah Gwen Stefani, Mariana Renata, dan Katy Perry, sang pelantun ‘California Girls’. Entah. Entah mengapa. Seperti ada yang tiada.


Judul        : Rahvayana2: Ada Yang Tiada
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 304 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Fiksi-Novel Sejarah


Medan Merdeka Barat, 18 Juni 2015
hari pertama shaum 1436H, ditemani Tragedy dari Bee Gees

Kamis, 16 April 2015

Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu

“Tuhan, berikanlah zaman kala bendhu setiap hari, supaya besok pagi saya bisa tetap berkarya.”

Kira-kira begitulah bunyi doa seorang karikaturis setiap hari. Pengharapan setiap harinya adalah sebuah inspirasi baru dari suatu zaman atau masa yang ditinggali dan dijalaninya. Karya yang dibuatnya setiap hari adalah bukan hanya sebuah pesan belaka. Gambar yang dibuatnya menjadi sebuah saluran untuk menyuarakan pendapat dan menyebarluaskannya pada khalayak ramai.

Ketika saluran untuk menyampaikan pendapat atau kritik tersumbat, maka karikatur merupakan salah satu jawabannya. Satir yang dituangkan ke dalam gambar membuat daya kritik menjadi tidak langsung, sehingga tidak terlalu terasa menyakitkan. Sejak kemunculannya yang pertama, Panji Koming menjadi saluran untuk mengemukakan ketidakberdayaan. Saat zaman membuat sulit untuk menyampaikan pendapat atau kritik, karikatur menjadi penting dan bermakna.



Kritikan melalui karikatur tetap mempunyai tempatnya sendiri. Hanya, pengukuran kualitas menjadi lebih berat karena yang dituntut bukan hanya alur cerita yang mengalir ataupun komposisi gambar yang lebih mengena tetapi kualitas kritikan yang lebih cerdas.

Panji Koming membuat kita jadi semakin melek informasi. Panji Koming selalu cerdik dalam menemukan sudut pandang yang unik dalam menatap sebuah peristiwa sosial dan politik. Walaupun, mengambil rentetan peristiwa Zaman Majapahit, tetap saja dengan mudah kita mengaitkannya dengan fakta-fakta kontemporer.

Sejak Orde Baru masih bertahta, Panji Koming cenderung tampil serba tersamar dan cenderung tiarap. Ada kesengajaan adegan untuk dikaitkan kepada penguasa negara. Hingga masa orde reformasi dengan segala keterbukaan saat ini, Panji Koming tidak serta merta mengubah tutur ucapnya. Panji Koming tetap hadir dalam kemasan yang bijaksana, santun, nylekit, dan mengusung atmosfir budaya Jawa, guyon parikeno.

Kala Bendhu merupakan keberadaan dalam pemikiran masyarakat Jawa tentang zaman yang terkutuk dan sangat tidak menyenangkan. Kurang lebih, masyarakat secara umum dikuasai kebendaan. Dalam pandangan kartunal, zaman Kala Bendhu disebutkan sebagai zaman culun dan menyebalkan. Bagi kartunis, hal ini jadi lahan berkembangnya kreativitas yang sangat luas, aneh dan beragam. 

Pada edisi ini, Panji Koming mengambil plot Indonesia tahun 2003 hingga 2007. Zaman yang lebih memekik daripada Orde Baru, dimana peninggalan sisa-sisa Orde Baru belum sepenuhnya surut. Tahun-tahun yang penuh dengan tebaran peraturan dan tuaian pelanggaran. Penuh dengan lagu tanpa nada, penuh dengan nada tanpa suara. Penuh dengan penyanyi tanpa manusia. Ibarat telur diujung tanduk. Panji Koming menggiring kita untuk melihat keatas, bagiamana para pengatur negeri ini...membiarkan telur nangkring di ujung tanduk.

Judul        : Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu
Penulis     : Dwi Koendoro Br
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tebal        : 144 Hal.
Tahun       : 2008
Genre       : Karikatur-Komedi


Dharmawangsa, 26 Maret 2015.

Minggu, 29 Maret 2015

Islam Hari Ini



Sejak pertama kali melihat sampul komik ini, saya menebak bahwa muatan isi dan gambarnya tidak jauh berbeda dari komik serupa karya vbi_djenggotten. Ternyata, saya salah. Komikusnya, Alisnaik bin  Kiansila, punya gaya gambar dan peceritaan sendiri.

Komik ini dibagi kedalam beberapa judul kecil. Jadi, terlihat seperti semacam sketsa pendek. Walau begitu, muatan isi komik ini penuh dengan pesan yang menohok.Sebagian pengalaman si komikus dituangkan sebagai refleksi. Alhasil, pengalaman tersebut terasa lebih kaya dan mengena.

Sketsa pendek berjudul "Berhala Modern" terasa begitu nyata karena ada dalam keseharian kita. Agaknya, yang dibahas dalam komik ini memang menyadarkan kta kembali untuk tidak melupakan hal-hal kecil dan mengabaikan hal-hal atau urusan yang lebih besar .

Dukung terus komik dan komikus Indonesia!

Judul        : Islam Hari Ini: Yang Kecil Terlupakan, Yang Besar Terabaikan
Penulis     : Alisnaik
Penerbit   : Qultummedia
Tebal        : 140 Hal.
Tahun       : 2013
Genre       : Komik Islami


Dharmawangsa, 24 Maret 2015.

Minggu, 08 Maret 2015

Sang Penghasut

Asterix lagi-lagi berhasil menggagalkan penyerbuan Romawi ke Galia kendati Julius Caesar telah mengutus seorang penghasut. Si Penghasut ditugaskan untuk merusak tatanan masyarakat Galia dengan taktik adu domba. Si Penghasut berhasil menjalankan tugasnya. Bahkan Asterix dan Obelix sendiri hampir menjadi korbannya kalau bukan karena keakraban mereka.



Dengan keadaan kacau balau di Galia, pasukan Romawi akhirnya menyerbu. apalagi setelah Si Penghasut berhasil meyakinkan Panglima Romawi bahwa ia telah menemukan ramuan jamu ajaib buatan dukun Galia. Menyadari kelengahannya, Galia kembali bersatu. Mereka tidak akan membiarkan pasukan Romawi mengacak-acak mereka.

Benar saja, pasukan Romawi mengalami kekalahan telak. Kontra intelejen yang dilakukan Asterix dan Obelix ke kamp pasukan Romawi menghasilkan strategi pertahanan yang bagus. Setelah kalah telak, Si Penghasut kembali dipenjara. Kali ini, dengan kesalahan yang berlipat: menyebabkan kekalahan Romawi.

Dharmawangsa, 8 Maret 2015.

Selasa, 03 Maret 2015

Mengenang Rinto Harahap

Bila kau seorang diri, jangan engkau bersedih...

Sebelum saya menyelesaikan memoar perjalanan tiga negeri bersama Istri, datang sebuah kabar duka. Rinto Harahap tutup usia. Beberapa tahun lalu ketika Robin Gibbs tutup usia, saya menulis obituari untuknya disini.  Agaknya, kehilangan yang sama juga saya rasakan. Dengan demikian, tak berlebihan rasanya bila saya mengapresiasi beberapa karya beliau yang melekat dalam ingatan. Saya berterima kasih pada Bapak karena telah mengenalkan saya pada hal yang demikian.



Penyanyi dan pencipta lagu legendaris ini meninggal di Singapura 9 Februari lalu pada usia ke-65. Legenda musik kelahiran Sibolga, 10 Maret 1949 ini adalah maestro jagad musik Indonesia. Kita semua tidak asing lagi dengan lagu-lagu ciptaanya yang tak lekang dimakan zaman. Sebagai legenda, Rinto Harahap telah mengalami pengalaman-pengalaman bermusik yang lengkap sepanjang hidupnya. Mulai dari menjadi pemain band bersama The Mercy’s, mendirikan perusahaan rekaman Lollypop Record, hingga menjadi pencipta lagu.
Lagu-lagu Kenangan

Banyak lagu Rinto Harahap yang juga melegenda. Lirik yang puitis dengan makna yang dalam serta mudah diingat menjadikan lagu-lagu tersebut tetap abadi di hati para penggemarnya. Thanks to Youtube. Mudah saja untuk kita untuk bernostalgia sejenak ke masa lalu, pada satu masa dimana lagu-lagu itu mencapai masa keemasannya.

Katakan Sejujurnya



Lagu ini dinyanyikan oleh Christine Panjaitan dan segera menjadi hits. Personally, saya suka liriknya. Bercerita tentang kisah dua manusia yang saling mencinta namun akhirnya terpisah juga karena satu perbedaan. Pada satu kolom komentar di Youtube, lagu ini seakan mengisahkan kandasnya kisah cinta Christine Panjaitan dengan Ikang Fawzi. Saya sendiri belum mengkonfirmasi kebenaran isu itu. Andai saja dulu sudah ada Cek & Ricek atau Silet, tentu jadi lebih mudah untuk mengetahui kebenaran dan kesesuaian hal itu.

Hati Yang Luka

Siapa yang tak kenal lagu ini? Lagu Betharia Sonata ini terkenal di kalangan kami yang anak-anak dengan lirik ‘uo uo’-nya. Dulu..bersumpah janji di depan saksi..uo...uo... Tidak diragukan lagi bila lagu ini adalah masterpiece Rinto Harahap untuk yang kesekian kalinya.

Dingin

Kau janjikan berbulan madu ke ujung dunia...
Kau janjikan sepatu baru dari kulit rusa...

Hetty Koes Endang pun turut merasakan sentuhan tangan dingin Rinto Harahap. Lagu ini juga sempat jadi hits. Entah karena liriknya atau karena memang dari dulu yang namanya galau itu sudah ada dan melanda beberapa orang dari generasi orang tua kita. Who knows? :D

Benci Tapi Rindu

Lagu ini tidak hanya membawa Diana Nasution pada pencapaian karir musiknya. Lagu ini juga kian abadi karena sering dijadikan pameo (tulisan) di balik bak truk pasir. Liriknya pun sederhana namun menghadirkan paradoks. Sakitnya hati ini....namun aku rindu....

Jangan Sakiti Hatinya
Masihkah kau ingat, sayang...
Gadis yang pernah kau sayang...

Lirik sederhana dan mudah diingat ini menjadi hits milik Iis Sugianto. Lagu mellow yang punya pesan sangat jelas ini bahkan dinyanyikan kembali dengan beat rock hasil recycle dari Andi /rif.

Gelas Gelas Kaca

Aroma kesedihan dalam penantian yang sendu adalah ciri khas yang melekat pada Nia Daniaty dengan hits miliknya ini.  Dulu, Bapak sering memutar lagu ini. Entah karena apa atau memang hanya ingin mengajari saya bahwa suara Nia Daniaty memang merdu.

Bila Kau Seorang Diri

Satu lagu yang jadi favorit terakhir dalam tulisan ini adalah lagu hits yang dinyanyikan oleh Nur Afni Octavia. Liriknya romantis, serasa Rinto benar-benar mengeksplorasi perasaan seorang kekasih yang sedang dilanda sepi.
Konklusi

Seorang penulis mati ketika karyanya terbit. Dan seperti layaknya seorang musisi, karya mereka akan terus hidup dalam ingatan pembaca dan pendengarnya. Karyanya akan terus dikenang dan dinyanyikan kembali dengan partitur yang sama. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Selamat jalan, Rinto Harahap. Terima kasih telah mengenalkan kami pada cinta yang merdu.

Dharmawangsa, 15 Februari 2015.

Minggu, 31 Agustus 2014

Mereka Bilang, Saya Monyet!

Kesan pertama dalam pembacaan kumpulan cerpen ini adalah sebuah kelugasan dalam bertutur cerita. Melihat rentang waktu penulisan cerpen-cerpen didalamnya, bisa dikatakan bahwa semua cerpen tersebut adalah sebuah breakthrough dalam ranah sastra Indonesia, pada saat itu. Bentuk penceritaan yang kemudian menjadi satu alternatif dalam penuturan cerita. Kisah-kisah kelam yang tak pernah tersampaikan hingga kebahagiaan semu adalah sepenggal saja dari kiasan eksploratif yang disampaikan si penulis.



Selain "Waktu Nayla" yang menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2003, kumpulan cerpen ini tidak henti-henti menghadirkan kejutan. Saya kagum ketika penulisnya mampu membuat cerita seperti dalam cerpen "Namanya, ...". Tokoh si penulis yang dinamai 'Memek' sangat berada diluar kelaziman, bahkan tabu untuk beberapa kalangan. Namun, sekali lagi, dunia fiksi adalah ruang yang memungkinkan terjadinya kemungkinan semacam itu. Fiksi hidup dalam kepala pembacanya.

Cerpen lain yang tidak lazim adalah "SMS". Cerpen berisi petikan SMS dari sepasang kekasih yang saling bermain api adalah satu bentuk penulisan yang tidak umum. Keluwesan fiksi berhasil dimainkan dengan apik oleh si penulis. Gaya penulisan semacam ini tidak menyalahi kodrat cerpen sebagai turunan fiksi.

Cerpen "Asmoro" kiranya mengingatkan saya pada satu cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul "Sukab Menggiring Bola". Adjani terus berlari bagai Sukab yang terus menggiring bola hingga ke ujung dunia. Adakah hubungan diantara keduanya? Selain karena SGA disebut dalam halaman pembuka dari sang penulis. SGA yang telah memberikan "ilmu" dan keberanian untuk menulis cerpen-cerpen yang demikian.

Begitupun dengan cerpen "Wong Asu" yang terinspirasi dari cerpen "Legenda Wongasu" milik SGA. Keduanya tidak menceritakan hal yang sama. Namun, pada akhirnya pembaca dapat menilai mengapa tokoh-tokoh mereka mesti menjadi 'asu'.

Kiranya, pembaca dapat membaca kedua cerpen SGA tersebut dan menguji kebenaran hipotesa saya.

Daftar Cerita:

- Mereka Bilang, Saya Monyet!
- Lintah
- Durian
- Melukis Jendela
- SMS
- Menepis Harapan
- Waktu Nayla
- ... Wong Asu
- Namanya,...
- Asmoro
- Manusya dan Dia

Judul        : Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penulis     : Djenar Maesa Ayu
Penerbit    :Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2012
Tebal        : 150 hal.
Genre       : Kumpulan Cerpen


Medan Merdeka Barat, 18 Agustus 2014.

Senin, 30 Juni 2014

Hanya Salju dan Pisau Batu

Habis lalap terbitlah terong

Sebuah Kesan Pembacaan


Membaca judulnya saya sudah dibuat bingung. Apakah ada hubungan antara salju yang selalu turun di musim dingin dengan sebuah pisau batu? Apakah benar pisau batu itu bisa digunakan memotong sebuah batu? Atau malah hanya sebuah judul iseng yang mengambil inisial dari nama mereka berdua. Bagi pembaca yang mulai bingung, sila abaikan saja kalimat pembuka saya tadi.

Secara sederhana, Happy Salma dan Pidi Baiq memulai sebuah proses yang entah mereka namakan apa. Saling bersahutan, mungkin saja. Korespondensi, bisa juga. Saya tidak mampu mendefinisikan kategori fiksi dalam buku ini. Bila mau dimasukkan ke dalam golongan novel, ceritanya mampu berdiri sendiri sebagai sebuah cerita pendek. Mau dibilang kumpulan cerpen, semua cerita pendek didalamnya malah membentuk satu kesatuan unsur yang tidak bisa dipisahkan. Kesulitan semacam ini mengingatkan saya pada buku “9 dari Nadira” tulisan Leila S. Chudori.

Agaknya, buku yang ditulis dengan hasil korenspondensi penulisnya memang sangat jarang. Terlebih, bila banyak hal-hal absurd yang tidak penting ikut mengemuka dan anehnya bisa membuat pembaca tertawa. Happy Salma dengan sabar menulis semua yang ingin dituliskannya. Sedang, Pidi Baiq hanya membalas semampu dan semaunya. Agak tidak imbang memang, namun dengan begitu keseimbangan dapat tercapai.

Pidi Baiq mampu mengimbangi permainan kata Happy Salma. Berbagai metafor yang Happy Salma gunakan dapat dicounter Pidi Baiq dengan lebih lugas. Bila pembaca mengharapkan sesuatu yang lebih cerdas dari buku ini niscaya tidak akan berhasil. Lebih parah, membaca buku ini agak menggoyang tingkat kecerdasan. Syukur-syukur pembaca tidak mengalami penurunan tingkat kecerdasan mendadak.
 
Buku ini juga mengingatkan saya pada film “The Lakehouse” yang diperankan oleh Keanu Reeves dan cinta-gue-sepanjang-masa Sandra Bullock. Keduanya saling berbalas surat hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka. Entah, apakah Pidi Baiq dapat bertemu dengan Happy Salma di akhir cerita atau malah pada saat buku ini dirillis. Yang jelas, hanya lewat kata, keduanya mampu mempertemukan hal-hal yang cenderung absurd dan tidak pernah kita bayangkan atau alami sebelumnya.

Judul           : Hanya Salju dan Pisau Batu
Penulis        : Happy Salma dan Pidi Baiq
Penerbit      : Qanita
Tahun          : 2010
Tebal          : 225 hal.
Genre         : Fiksi 

Paninggilan, 18 Juni 2014

Sabtu, 19 April 2014

The Person I Want To Eat

Belakangan ini, saya mulai membaca komik lagi. Bedanya, bukan lagi serial komik Jepang seperti waktu masih sekolah dulu. Industri komik tanah air yang sampai saat ini masih dijejali komoditas komik asing memberikan banyak pilihan pada pembaca. Termasuk saya, saya lebih memilih komik yang tamat dibaca sekali duduk. Artinya, tidak harus menunggu edisi selanjutnya dirilis.



Komik terbaru yang saya baca berjudul”The Person I Want To Eat” yang diadaptasi dari judul aslinya “Tabetai Hito”. Komik karya Shin Yumachi ini berisi empat cerita. Temanya sama, masih soal kisah cinta remaja. Overall, keempat cerita dalam komik ini punya benang merah yang sama. Kata cinta yang seringkali tak mampu terucapkan.

The Person I Want To Eat
bercerita tentang Yuu yang mendapat pernyataan cinta dari teman kelas sebelahnya. Kei-chan, sahabat dekat Yuu, yang selalu menganggap Yuu seperti anak kecil tiba-tiba berubah usai kejadian itu. Kei-chan tidak mampu lagi membendung perasaannya. Yuu pun akhirnya menerima Kei-chan.

Afterschool Honey
mengisahkan Satsuki-chan yang ditugaskan gurunya untuk memberi bimbingan pelajaran tambahan kepada Kiyoharu, playboy sekolah yang terkenal. Satsuki-chan menjalankan tugasnya itu dengan rasa terpaksa sebelum akhirnya ia mengakui dalam hati kecilnya bahwa Kiyoharu memang lelaki yang menarik. Seiring jalannya waktu, kedekatan mereka berujung pada pengakuan Satsuki-chan tentang perasaannya.

Let Her Go, mirip satu judul lagu sing-this-song-to-move-on. Yamashita masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kekasihnya memutuskannya begitu saja demi lelaki lain. Kinoshita yang tahu kejadian itu berusaha untuk mendekati Yamashita. Kinoshita tahu bahwa ia bertindak bodoh. Namun, justru kebodohannya itu mengakhiri penantiannya selama 2 tahun 14 bulan dan 18 hari.

I Fall in Love Over the Window Sill
mengisahkan Fumika yang selalu mendapat kiriman pesawat kertas dari anak lelaki yang memperhatikannya ketika sedang membersihkan halaman sekolah. Lelaki itu selalu muncul setiap gilirannya tiba. Ia bahka menuliskan alamat email pada pesawat kertas kirimannya. Fumika yang begitu senang tidak sengaja mengirimkan pernyataan cinta pada Mibu-kun, anak paling populer di sekolah. Alhasil, Mibu-kun langsung mengajaknya pacaran sehingga membuat heboh satu sekolah.

At the end, kisah cinta yang ditampilkan dalam komik ini memang agak sedikit absurd. Wajar memang rasanya mengingat keterbatasan ruang cerita. Apapun itu, cinta adalah cerita abadi sepanjang masa.

Judul        : The Person I Want to Eat
Penulis    : Shin Yumachi
Penerbit   : PT. Tiga Lancar Semesta
Tahun      : 2013
Genre      : Komik-Romance
 

Pharmindo, 19 April 2014.

Sabtu, 01 Maret 2014

Love Classic

Kisah cinta dalam komik ini adalah sebuah kisah cinta klasik antara dua manusia. Mereka ditakdirkan selalu bersama hingga keduanya membohongi perasaan mereka masiing-masing.

Aoi dan Reiichirou saling memendam rasa hingga perpisahan nampak di depan mata. Reiichirou yang selama ini bekerja sebagai guru pribadi bagi Aoi harus pindah ke Tokyo atas perintah Maruya Kikuji, ayah Aoi. Aoi yang tidak ingin kehilangan Reiichirou berusaha membuktikan pada ayahnya bahwa pelajaran yang selama ini diberikan oleh Reiichirou tidak sia-sia. Walaupun begitu, Reiichirou tetap harus pergi. Ia tidak pergi sendirian, ia mengajak Aoi turut serta. Sebuah kisah cinta yang klasik.

It can happens to anyone of us. You are getting close with somebody new, you may hate him as you go deeper, but yet you will love him very much by the way he/she treats you.


 
Komik ini juga punya 'bonus' kecil seputar penciptaan karakter-karakter yang ikut bermain. Chie Shimada menceritakan bagaimana proses penciptaan Reiichirou dan Aoi, juga si kembar adik Aoi dan Samasuke, karakter tandingan untuk Reiichirou. Tak hanya itu, adegan rapat penentuan supaya komik ini bisa terbit pun menjadi gimmick menarik. Tidak hanya sekedar membaca komik, pembaca pun sengaja diedukasi untuk mengetahui sedikit cerita dibalik layar sebuah penerbitan komik.

Judul        : Love Classic
Penulis     : Chie Shimada
Penerbit    : m&c! Comic
Tahun       : 2012
Genre        : Komik-Romance


Paninggilan, 1 Maret 2014.

Kamis, 13 Februari 2014

Bukan Sakit Biasa

"Orang emang nggak selamanya ada di bawah. Nggak selamanya kalo udah jatuh mesti tertimpa tangga. nggak selamanya juga lagi lari dikejar musuh, akhirnya nyusruk ke lubang. Ada kalanya nasib di bawah, terus bisa naik lagi sedikit-sedikit."

Setidaknya, paragraf diatas adalah satu dari sekian banyak quote dalam buku ini. Inti persoalannya sederhana. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari keluarga Lupus pun ada banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Courtesy: www.goodreads.com

Anyway, Lupus ABG kembali hadir dengan 12 kisah baru. Plus, tips-tips keren yang bakal bikin kamu tambah kece. Cerita-cerita jayus khas Lupus sudah pasti jadi menu utama buku ini. Jangan heran kalau kelakuan Papi yang superpedit itu berubah disini. Selain itu, konteks cerita juga mulai menyesuaikan dengan laju zaman. Ada cerita tentang Papi yang hampir menabrak seorang Nenek, yang menyebrang jalan sambil mendengarkan lagu Raisa, Apalah (Arti Menunggu).

Cerita berjudul "Perpustakaan Kita" barangkali jadi satu bagian eksepsional disini. Bersama "Aids, Aids, Aids... Ciaaat!" kedua cerita ini merangkum kegelisahan dan respon kaum muda atas yang terjadi dalam lingkungannya. Kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dan upaya mengembalikan fungsi rekreasional dari perpustakaan. Khusus untuk ini, perlu diberikan apresiasi tersendiri karena Lupus berhasil mengikuti roda zaman sekaligus menggugah kepedulian kaum muda.



Pharmindo, 18 Januari 2014.

Kamis, 14 November 2013

Kisah Lainnya

Jadi, hidup telah memilih, menurunkan aku ke bumi

Buku ini dimulai dengan penggalan lirik lagu “Langit Tak Mendengar”. Satu lagu Peterpan favorit saya sepanjang masa bersama satu lagu lain, “Mungkin Nanti”. “Langit Tak Mendengar” adalah lagu terbaik Peterpan semasa formasi lengkap. Komposisi musiknya penuh. Liriknya juga tidak dangkal. Lagu itu bersama ‘Mungkin Nanti” yang telah direcycle dijadikan pengisi soundtrack film "Alexandria". Lagu itu sempat muncul pula dalam iklan sebuah operator telepon selular.


Membaca ‘Kisah Lainnya’ sama juga dengan bernostalgia kembali ke era keemasan Peterpan. Perjalanan Peterpan disajikan secara lengkap mulai sejak dirilisnya single “Mimpi Yang Sempurna” dari album kompilasi ‘Kisah 2002 Malam’ hingga pergantian anggota dan segenap sensasi yang melingkupinya tidak luput dari rekaman peristiwa ini. Tidak hanya itu saja, segenap latar belakang di balik berdirinya band ini juga turut mengambil bagian. Juga bagaimana proses personil dalam mengawali karir mereka masing-masing bersama Peterpan.

Walaupun cerita dalam buku didominasi oleh narasi Ariel, tetapi “Kisah Lainnya” tetap menampilkan band ini dalam komposisinya yang utuh. Masing-masing personil pun menyuarakan segala kegelisahannya di masa istirahat panjang itu. Termasuk cerita dibalik kolaborasi mereka dengan musisi kenamaan lainnya seperti Idris Sardi dan Henri Lamiri, serta Karinding Attack dan Momo 'Geisha'.

Buku ini ibarat catatan pribadi dari sang vokalis. Ariel tidak hanya piawai dalam menulis lagu. Ariel pun pandai merangkai kata. Selama menjalani masa penahanannya di Rutan Bareskrim dan LP Kebon Waru, Ariel banyak menulis dan membuat sketsa. Buku ini pun diwarnai catatan Ariel yang serupa dengan prosa maupun gambar sketsa karyanya.

Pada saat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati
Itu adalah pasangan hidupmu
Itu adalah takdirmu
Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan
Itu adalah pelengkap hidupmu
Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

Catatan Personal

Saya melihat kembalinya anggota Peterpan ke kancah musik Indonesia tersusun dengan rapi. Walaupun sang frontman mendekam di penjara, beberapa anggota lainnya masih bisa berkarya. Bahkan, naik panggung lagi bersama vokalis-vokalis dari band lain dalam rangkaian tur mengunjungi komunitas penggemar mereka. Single ‘Dara’ milik Ariel terbukti mampu menjembatani proses kembalinya Peterpan. Harapan penggemar serta kebutuhan untuk meraih rasa percaya diri yang sempat hilang berhasil menumbuhkan keyakinan mereka untuk kembali ke panggung.

Proses pembuatan album “Suara Lainnya” membuktikan bahwa mereka masih mampu berkarya. Ketika album itu dirilis, Ariel memang belum bebas dan tidak hadir. Ada perasaan kosong yang menghinggapi mereka karena sang vokalis tidak ada disitu. Namun, sukses besar malam itu semakin membuat percaya diri mereka kembali. Hidup terus berjalan. Ariel bebas. Perjalanan pun mereka mulai lagi. Belakangan, mereka membuat identitas baru, NOAH.

Overall, “Kisah Lainnya” tidak hanya menawarkan sebuah ‘pengakuan’ dan cerita mereka sepanjang 2010-2012. “Kisah Lainnya” membawa pembaca pada sebuah dimensi labirin proses perjalanan kehidupan yang tidak selalu menyenangkan. Kata Tommy Page, life is full with lots of up and down. Selalu ada hikmah dibalik sebuah cerita.

Judul       : Kisah Lainnya
Penulis     : Ariel, Uki, Lukman, Reza, David
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun      : 2012
Tebal       : 228 hal.
Genre      : Memoar-Musik

Medan Merdeka Barat, 7 November 2013.

Sabtu, 26 Oktober 2013

2

And when the daylight comes I'll have to go
But tonight I'm gonna hold you so close

“Tuh kan, lagu itu lagi. Ngaku deh, loe lagi LDR-an kan?” Bimo membuatku kaget.

Aku segera menyembunyikan ponselku. Aku tidak ingin Bimo tahu kalau aku benar-benar sedang memutar lagu itu.

“Ih, sok tau banget deh! Aku lagi seneng aja, secara Maroon 5 gitu.” Jawabku sebisanya.
“Udah deh ngaku aja. Loe kangen sama dia kan?” Bimo tidak mau kalah.
“Apaan sih, Bim. Cabut duluan ya. Bye” Aku segera menghindar.
“Yee, gue dateng malah pergi.”

Bim, kok kamu tahu banget sih aku lagi kangenin dia. Aku bicara pada diriku sendiri. Setidaknya, Bimo telah menjawab satu keraguan dalam benakku. Aku mulai ragu dengan keputusanku untuk menjalani long distance relationship bersama Dimas. Untuk sebuah alasan standar kami harus berpisah. Dimas masih ingin sekolah, jadi ia melanjutkan studinya di Groningen sana. Apalah yang aku tahu soal Groningen? Tidak ada satupun. Kecuali klub sepakbola FC Groningen yang nampaknya selalu jadi tim penggembira di Hollandsche Eredivisie.

Aku tidak pernah merasa bahwa ini adalah keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Sudah jelas, ini adalah yang terbaik yang aku bisa untuk Dimas. Dimas sendiri tidak pernah bicara banyak soal rencananya ke depan. Pun, ketika harus membicarakan soal ini denganku. Dimas sudah siap menerima kenyataan untuk saat ini dan yang akan tiba. Dimas sepertinya tidak pernah berpikir sedikitpun tentang aku.

Aku heran dengan sikap Dimas yang seperti itu. Dimas tidak menyadari bahwa perpisahan kemarin sungguh berat untukku. Apakah aku yang terlalu cinta? Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin selalu bersamanya. Tidak lebih. Kini, aku harus melintasi dimensi ruang dan waktu hanya untuk mendapatkan kabar terbaru darinya.

Bimo, apa yang dia tahu soal hubunganku dengan Dimas? Mengapa dia seakan begitu tahu perasaanku. Aku tidak mengerti mengapa Bimo bisa tiba-tiba menohokku dengan pertanyaan seperti tadi pagi.

We knew this day would come
We knew it all along
How did it come so fast?

Dearest Dimas,

Udah seminggu ini kamu nggak kirim kabar, how are you there? Everything’s fine?

Ik het jou lief,
Dina

Aku hanya mampu menafsirkan rindu sebatas kalimat pendek dalam email. Aku sadari betapa berat beban menahan rindu ini. Aku ingin mengatakan semuanya. Namun, jemariku hanya mampu sebatas itu saja. Sisanya, berkecamuk dalam pikiran belaka.

Apakah kamu sudah tidak punya waktu untukku? Tidak adakah waktu luangmu untukku? Aku hanya mohon padamu untuk mengabariku secepat mungkin kau bisa, karena aku tidak mungkin mengharapkan kedatanganmu. Aku mohon sekali ini saja. Ada yang ingin aku sampaikan.

Aku ingin marah. Aku ingin melampiaskan semua rasa rindu yang selalu tertahan ini. Aku ingin marah. Aku sadari kemudian bahwa aku hanyalah sendiri disini. Tidak ada gunanya tanpa hadirmu disini. Aku ingin berkata pada siapa saja bahwa aku....

Aku terkesiap dari lamunanku. Seketika kata-kata itu buyar dan menghilang begitu saja. Kendati aku tidak pernah meragukan kesungguhan Dimas kepadaku, aku tetap merasa lelah.


*

Pratidina Pramesti. Sayang sekali, kamu hanya membuang-buang waktu hanya untuk mencintai seseorang yang jauh disana. Let me tell you something. Mencintai itu adalah ada. Untuk apa mencintai sedang dia tidak ada untukmu, bersamamu disampingmu?

Aku hanya menggelengkan kepala sambil mengamati Dina dari kejauhan. Ia tampak sendirian di bangku taman itu. Hanya berteman sebuah buku bersampul ungu. Mungkin sebuah novel pengobat rindu untuk kekasihnya yang jauh di Negeri Londo sana.

“Din, kamu tahu nggak sih kalau kebutaan sejati itu ketika kamu sedang jatuh cinta?” Aku menghampirinya.

Dina tersentak dan seketika menutup buku bacaannya. Wajahnya tampak kesal.

“Maaf ya, Bim. Aku ada urusan apa sama kamu ya?”
“Nggak ada. Nggak ada apa-apa.”
“Please, mulai sekarang kamu nggak usah nanya lagi soal gituan. Cukup aku aja yang ngerasa. Kamu nggak sah ikut-ikutan sok care lah.”

Aku hanya tersenyum mendapati perlakuan Dina seperti itu. Ia tidak melanjutkan pembacaannya. Dina menunduk dan memejamkan matanya. Seakan menahan amarah yang siap meledak. Aku kira Dina akan menangis. Ternyata tidak. Dina membetulkan letak kacamatanya dan mengemas bukunya.

“Din, mau kemana?”
“Bukan urusan kamu!”
“Din, tidak ada tempat persembunyian luka sebaik air mata. So, kalau masih kangen kamu mending nangis aja. Nggak apa-apa kok.”

Dina langsung memukulku dengan tasnya. Dina kelihatan marah sekali.

“Kamu tahu apa soal Dimas? Pake ngajarin aku buat nangis segala. Emangnya aku ini perempuan apaan heh?” Dina terus merangsek.
“Din, sebentar Din.” Aku mengelak.
“Kamu pikir kamu lebih tahu dari aku? Kamu pikir gampang buat lupain orang? Kamu pikir kamu hebat? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu masih gagal move-on dari Arina.”

Arina. Dina menyebut nama Arina. Sebuah nama yang membuatku tersirap dari sadarku dan membiarkan Dina terus memukuliku. Hingga akhirnya berhenti dan nafasnya terengah-engah.

“Kamu harus sadar Bim, kalau Arina itu sudah menikah dan bahagia dengan hidupnya. Kamu nggak perlu lagi mengharap apa-apa dari dia. Kalaupun Arina nggak bahagia, itu urusan dia. Biarin dia urus urusannya sendiri. Kamu nggak perlu lakuin apa-apa buat dia. Enough is enough, Bim. Game over when she said it’s over!”

*

Seminggu kemudian, aku dan Dina pergi bersama. Dina tampak cantik dengan kerudung hitam yang membalut rambutnya yang sebahu. Tak lama kami sudah sampai di sebuah acara pemakaman. Para pelayat mulai berlalu, meninggalkan kami berdua yang menatap sebuah pusara.

“Bim, make your last wish for her.”


Pharmindo, 26 Oktober 2013.

1

“Only by meeting you, warm feeling completely filled my heart.”

Nina mengirim email singkat padaku. Seketika mendung diluar berubah menjadi pagi dengan semburat mentari yang menakjubkan. Ah, itu hanya khayalanku saja. Hanya imajinasi pengalih perhatian. Aku mendadak kangen pada Nina. Aku merindukan kembali pagi dimana aku dan Nina saling berkirim pesan pendek lewat ponsel.

“You text, and i instantly smile.”

Satu jawaban dari Nina yang selalu kurindukan.

*

Aku menikmati secangkir kopi hitam pagi ini sembari menatap jendela dari pantry. Pagi di Jakarta adalah sebuah keajaiban bagi mereka yang tidak pernah berharap apapun. Terlalu banyak kejutan disana.

“Pagi, Gus. Nanti malem, ada waktu?” Erika menyapaku.
“Eh, kamu Rik. Kenapa? Ada yang penting?”aku balik bertanya.
“Nggak sih. Tapi,...” Erika terlihat ragu
“Tapi apa, Rik?”
“Nggak jadi deh. Lain kali,..”

Belum selesai kalimat Erika, aku sudah menggamit lengannya. Sebuah awkward moment lain diantara aku dan Erika. Erika mematung sambil perlahan menatap tanganku yang memegangi lengannya. Mungkin, Erika pikir mirip adegan di drama-drama Korea.

“Oke, kita duduk dulu bentar.” Aku mengajak Erika duduk.
“Aku nggak ada waktu sekarang, Gus.” Erika mulai merasa tak nyaman.
“Kenapa? Kamu mau ngajak aku nemenin kamu kemana lagi?  ” nada suaraku mulai meninggi.
“Bukan gitu, Gus.”
“Terus apa? Mana Arga yang selalu kamu banggain itu? Dia jalan sama perempuan lain?”

Diam. Hanya diam. Erika tidak bicara sepatah kata pun. Erika beranjak menuju jendela tak jauh dari tempatku berdiri. Erika mulai menangis. Aku bisa melihat bulir air mata mulai berjatuhan di pipinya. Andai ini bukan kantor, barangkali Erika sudah kurangkul atau kupeluk. Akan kubisikkan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku pun sama termangu. Tak mampu berucap apapun untuk menenangkan Erika. Aku mengalihkan pandanganku lagi ke luar sana.

Erika mulai mengangis terisak. Aku tidak ingin terjebak dalam situasi sulit seperti ini. Jadi, aku beranikan diri untuk menatap Erika. Erika balik menghadapku. Matanya seakan berkata, “Dengerin aku, Gus.”

Erika berada di pelukanku sekarang. Air matanya semakin mengalir deras.

“Gus. Arga nikah, Gus... Tapi....gak sama aku...” Erika bicara sambil terisak.

Aku menenangkan Erika dan membuatkannya secangkir teh hangat. Matanya kini sembap ketika tangisnya reda.

“Aku masih belum bisa terima kenyataan ini, Gus. Makanya, aku mau kamu anterin aku.”
“Anterin kemana? Ketemu Arga? Bah, males banget. Udah tinggalin aja sih.”
“Aku masih sayang dia, Gus.”
“Ah, Erika. Kamu masih sayang dia, terus dia nikah sama orang lain, gitu?”

 Erika terdiam lagi.

“Erika, sayang. Look at yourself. Aku yakin kamu deserve more than him.”

Ada jeda sebelum Erika kembali bicara,

“Nanti anterin aku pulang ya, Gus.”
“Apa sih yang nggak buat kamu?” kataku sambil tersenyum.
“Ih, gombaaal.”

*

Erika tertidur di pangkuanku usai menamatkan “Bridget Jones’s Diary”. Erika memintaku untuk memilihkan film yang kami tonton malam ini. Malam sudah larut dan aku harus kembali bekerja besok. Begitu juga Erika. Namun, aku tidak kuasa meninggalkan Erika.

“Halo, Nin.”
“Kamu lagi dimana, Gus? Kata Mama kamu belum pulang. Lembur?”
“Nggak, Nin. Aku lagi di rumah temen nih. Kamu udah selesai? Jemput aku dong.”
“Nggak bisa pulang sendiri?”
“Aku jelasin semuanya pas kamu dateng, Nin.”
“You’re not in a big shit, right?”
“Absolutely no. Ntar aku bbm alamatnya ya. I’m waiting.”
“Cepetan. Jangan lama!”

Perlahan aku melepaskan genggaman tangan Erika. Aku mulai menata diriku lagi dan berkaca pada semua yang terjadi hari ini. Lebih baik seperti ini, Erika tidak perlu cari pelarian untuk hatinya yang terluka. Cukup menemaninya nonton semalaman tanpa kissing or even quickie. Catat.

Aku berkeliling di ruang tamu. Perhatianku tertuju pada sebuah amplop coklat.

Suatu saat nanti jika aku yang pergi, engkau baiknya memilih tidak percaya pada kehilangan.
Erika, maafkan aku.

Arga

Kalimat pembuka di secarik kertas yang terselip dalam sebuah undangan pernikahan. Mungkin inilah mengapa Erika begitu dramatis hari ini.

Bel pintu rumah Erika berbunyi. Aku mengintip lewat jendela depan. Nina sudah berdiri di depan pagar. Raut mukanya terlihat seperti seorang kekasih yang marah dan akan menyemprot selingkuhan kekasihnya.

Rupanya, bel itu membangunkan Erika.

“Siapa, Gus. Kok ada tamu malem gini, sih?”Erika memelukku dari belakang
“Maaf, Rik. Aku minta Nina jemput aku kesini.”
“Jadi, kamu nggak akan nginep malem ini? Ya udah deh.” Erika tampak kecewa sambil membukakan pintu pagar.

Nina langsung menghampiriku. Aku tidak suka tatapannya pada Erika. Erika terlihat berantakan usai bangun tidur.

“Malem. Mbak Nina ya? Kenalin, saya Erika.” Erika mencoba bersikap ramah pada Nina.
“Bagus udah cerita soal aku?” jawab Nina ketus.
“Baru dikasih tahu tadi kok, Mbak?” jawab Erika.
“Terus, ngapain si Bagus kamu ajak ke sini?” Nina mulai marah

Aku mencoba menahan Nina.

“Nin, masuk dulu yuk. Kita ngobrol di dalem.” Kataku sambil merangkul Nina.
“Mari, Mbak Nina. Silakan.” Erika mengikuti kami di belakang.
“Awas ya Gus kalo kamu macem-macem sama dia.” Nina mengancamku.

*

Erika menjelaskan semuanya kepada Nina. Aku dengan sabar duduk disamping Nina. Menjaganya jangan sampai lepas kendali. Aku tahu, itu semua karena Nina sayang padaku. Erika tampak seperti pagi tadi. Ia menangis lagi.

Nina memandangiku.

“Gus, bilangin dia dong, kamu mau anter aku mau ke toilet dulu.” Nina berbisik.

Aku dan Nina meninggalkan Erika yang masih menangis sendu di sofa yang sama saat ia tidur di pangkuanku. Aku dan Nina tak henti memandanginya dari kejauhan. Usai kembali dari toilet, Nina membawakan amplop coklat yang tadi aku baca.

“Gus, bagus banget undangannya. Menurut kamu bagus gak buat undangan nikahan kita nanti.”

Aku terkejut. Aku tidak ingin Erika tahu soal ini. Aku yakin Erika akan menghabiskan air matanya malam ini bila sampai dia tahu bahwa aku dan Nina membaca undangan itu.

“Hmm... Bagus, Nin. Kamu simpen lagi sana, ntar ketahuan Erika. Kasihan dia.”
“Sebentar, aku mau baca dari siapa ini.” kata Nina.

Erika masih menangis. Tangisannya kini terasa begitu pilu. Bagai tangis Sinta ketika ditawan Rahwana.

“Gus..” Nina menggumam.

Aku berbalik menghadap Nina yang tampak tertegun.

“Kenapa, Nin?”

Nina seketika pingsan. Tanpa menyisakan penjelasan.
 

Pharmindo, 25 Oktober 2013.

Jumat, 18 Oktober 2013

The Naked Kitchen (2008)

Can you love two people at same time?


Ahn Mo-Rae (Shin Min-Ah) sedang berusaha mencari hadiah diberikan pada suaminya, Han Sang-In (Kim Tae-Woo) pada hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Mo-Rae pergi melihat-lihat ke sebuah galeri seni untuk menemukan sebuah hadiah sempurna untuk selalu mereka kenang. Di galeri, Mo-Rae bertemu dengan seseorang tak dikenal yang baru sekali itu dijumpainya. Entah apa yang merasuki mereka, keduanya bercinta. Mo-Rae tidak dapat menahan godaan dari si pria tak dikenal ini. Kelak mereka akan saling mengenal.

Mo-Rae terus dihantui perasaan bersalah. Mo-Rae dilanda kebimbangan, antara menyimpan rapat-rapat rahasia itu atau malah berkata jujur pada Sang-In. Keakraban dan kedekatan yang terjalin sejak mereka masih kecil membuat Mo-Rae tidak punya pilihan selain berkata jujur. Sang-In rupanya mau mendengarkan, namun ia tidak mau mendengar cerita itu lebih jauh dan tidak mau membahasnya sama sekali. Kontan, hal itu membuat Mo-Rae semakin merasa bersalah. Bagaimanapun, Mo-Rae menyadari bahwa Sang-In akan mengetahuinya suatu hari nanti.

Usai makan malam di hari jadi perkawinan mereka, datanglah sahabat lama Sang-In. Park Do-Ree (Joo Ji Hoon), seorang chef yang kembali ke Korea atas inisiatif Sang-In yang mengajaknya untuk membuka restoran. Sang-In sendiri telah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai pialang saham untuk menjalani passionnya selama ini, yaitu menjadi seorang juru masak dan membuka restoran sendiri. Untuk itulah Sang-In membutuhkan Do-Ree. Sang-In sengaja memanggil Do-Ree pulang dari Paris untuk tinggal di rumahnya.

Sebuah kebetulan bahwa pada saat perkenalan itulah Mo-Rae menyadari bahwa Do-Ree adalah pria yang bercinta dengannya di galeri seni. Mo-Rae semakin merasa tidak nyaman. Kini, tugasnya bukan hanya menyimpan rapat-rapat rahasia antara dirinya dengan Do-Ree, tapi juga harus menahan perasaan aneh yang terjadi antara mereka berdua.


Kisah cinta segitiga dalam satu atap dimulai. Sang-In sengaja memberi keleluasaan pada Mo-Rae untuk menemani Do-Ree berkeliling di sekitar tempat tinggal mereka. Kedekatan mereka berdua akhirnya terjalin semakin akrab. Berkali-kali Do-Ree mengungkapkan cintanya pada Mo-Rae. Do-Ree mencoba meyakinkan Mo-Rae bahwa cinta antara dirinya dengan Sang-In bukan cinta yang sebenarnya. Do-Ree meyakini cinta Mo-Rae kepada Sang-In adalah sesuatu yang ‘given’, terbentuk dari perasaan yang pelan-pelan tumbuh sejak mereka kecil. Do-Ree meragukan cinta Sang-In pada Mo-Rae. Namun, Mo-Rae tetap pada pendiriannya. Ia merasakan sesuatu yang lain pada Do-Ree namun ia tidak mau mengungkapkannya.

Pada satu kesempatan, Sang-In mulai mencurigai affair antara Mo-Rae dengan Do-Ree. Sang-In juga memiliki bukti kedekatan mereka akibat kecerobohan Kim Seon-Woo (Jeon Hye Jin II), sahabat Mo-Rae. Hal itu langsung membuat Sang-In menghajar Do-Ree habis-habisan. Do-Ree pun menyerang balik Sang-In dengan mengakui apa yang telah dilakukannya lalu mengungkapan perasaanya kepada Mo-Rae. Usai berkelahi habis-habisan, Sang-In menyadari bahwa semua pilihan ada pada Mo-Rae. Mo-Rae harus memilih, Sang-In yang telah bersama dengannya sejak lama atau pada totally complete stranger seperti Do-Ree. Mo-Rae tidak memilih namun ia memiliki pilihan hatinya sendiri.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


The Naked Kitchen adalah film pertama Shin Min-Ah yang saya tonton. Sebelumnya, saya sudah dibuat jatuh cinta pada Min-Ah dengan aktingnya di seri drama ‘My Girlfriend is A Gumiho’ dan ‘Ahrang and The Magistrate’ lalu pada suaranya yang ikut mengisi soundtrack Gumiho.

Pelajaran pertama dari film ini adalah: Live your passion. Sang-In sengaja meninggalkan pekerjaannya yang mapan hanya untuk menjalani kehendak hatinya yang lain, yang akan membuat dirinya sepenuhnya utuh dengan menjalankan bisnis barunya di bidang kuliner.

Selanjutnya, kemelut cinta segitiga Sang In-Mo Rae-Do Ree memberikan suatu sudut pandang bahwa mencintai seseorang adalah sebuah proses yang tak hanya ‘given’ saja. Tetapi juga membutuhkan hubungan dua arah, dimana keduanya saling merasa terikat dan saling mencintai sepenuh hati.

Anyway, kehebatan unsur film ini terletak pada inti cerita yang berpusat pada kisah cinta segitiga, tanpa mengurangi esensi dari sebuah culinary passion. Keduanya merupakan perpaduan bumbu utama yang menghadirkan perasaan geregetan dan penasaran.

Judul           : The Naked Kitchen
Sutradara    : Hong Ji Young
Cast            : Shin Min Ah, Kim Tae Woo, Joo Ji Hoon, Jeon Hye Jin II
Tahun         : 2008
Produksi     : CJ Entertainment


Pharmindo, 24 Agustus 2013.

Note: images taken from www.hancinema.net

Rabu, 28 Agustus 2013

Tips Nonton Konser

Setelah mengalami berbagai keajaiban sepanjang tahun ini, termasuk nonton Sixpence None The Richer dan Metallica, lalu jadi pemenang tiket gratis konser @ProjectPe , belum lagi next upcoming concert 'Yovie and His Friends' , saya rasa sudah waktunya untuk berbagi soal tips nonton konser. 


Jangan kaget dulu. Saya tidak berniat menggurui. Lagipula, jam terbang saya masih tergolong rendah soal jagad perkonseran. Jadi, pembaca tidak perlu khawatir soal validitasnya. Anggap saja ini hanya saran seorang kawan belaka.

  • Pastikan konser yang akan kamu tonton adalah konser artis/band favorit kamu. Cari informasi lewat laman resmi Facebook atau Twitter mereka (because you’re a good fans). Jadi, kamu punya waktu untuk prepare. Termasuk soal pendanaan.   
  • Kosongkan semua jadwal pada hari konser kecuali konser itu sendiri. Ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terlambat menukar voucher dengan tiket masuk atau venue yang sudah terlalu penuh. You don’t want to miss it, right? Baca juga informasi lengkap soal konser di laman web yang disediakan promotor.

  • Siapa bilang cuma tiket kereta api yang bisa dipesan jauh-jauh hari (H-90). Beberapa promotor konser bahkan sudah mulai membuka presale untuk konser-konser mereka jauh sebelum D-Day. Cek ketersediaan tiket via laman web dan hotline. Intip juga informasi di Facebook atau Twitter. Bila memang sedang beruntung, ada potongan harga yang lumayan.

  • Kalau sudah dapat tanggal main konser, pastikan kamu punya uang yang cukup untuk membeli tiket. Kalau pun belum cukup, boleh pinjam kartu kredit sahabat kamu. Siapa tahu ada promo menarik dari provider kartu kredit untuk pembelian lebih dari 1 tiket. (Biasanya kena charge 3% sih :p )
  • Follow official page Facebook atau Twitter artis/band favorit kamu. Biasanya, ada informasi soal promo tiket hingga lucky draw atau kuis berhadiah tiket konser. Kalau menang, lumayan.
  • Bila memang harus membeli tiket pada saat D Day, pastikan kamu bawa uang lebih. Soalnya, tidak menutup kemungkinan kategori tiket yang kamu incar sudah habis dan harus cari kategori yang lain.
  • Istirahat yang cukup sehari sebelum konser. Kamu nggak mau kecapekan pas lagi nyanyiin lagu mereka kan? Kalau konser digelar malam hari, usahakan tidur siang secukupnya. Supaya bisa tetap on semalaman.
  • Bawa barang seperlunya. Ponsel, smartphone, powerbank, dan dompet is a must. Jangan bawa barang yang dilarang promotor/panitia. Informasi soal hal ini bisa dilihat di laman web atau lembaran tiket. Jangan sampai kamu kehilangan barang kesayangan kamu hanya gara-gara teledor pada saat nonton konser.
  • Jadilah penonton yang baik dan bertanggungjawab. Kalau memang yang kamu tonton adalah artis/band favorit kamu, tentu nggak susah buat nyanyiin semua lagunya kan? Kecuali kamu hanya berniat #modus PDKT dengan nemenin cewek/cowok incaran kamu nonton konser.
  • Jangan nonton konser sendirian. Memangnya mau dengerin Nightmare Side? Percayalah, hal ini rasanya sedikit tidak menyenangkan. Minimal, ada yang bisa ambil foto kamu kalau-kalau ketemu si artis di venue. Kecuali, kamu sudah bisa foto-foto sendirian. Tanpa tripod, catat!
  • Bila venue konser sudah sesak dengan penonton, jangan memaksa untuk mengambil foto dengan Tab/iPad. Jelas menganggu pandangan penonton lain di belakang kamu. Jadilah penonton yang pengertian. Yang mau nonton bukan cuma kamu.
  • Belajar mengambil foto tanpa lampu kilat (flash). Beberapa artis/band merasa keberatan dan terganggu dengan lampu kilat kamera. Hal ini juga memabantu mengasah skill fotografi kamu. Jadi bukan hanya menang gaya dengan bawa DLSR doang.
  • Beli merchandise artis/band favorit kamu yang ada di sekitar venue. Sebagai bukti kalau kamu memang pernah datang ke konser itu. Apalagi kalau sampai bisa bagi-bagi merchandise buat oleh-oleh. Hal itu bisa menaikkan derajat keeksisan kamu di depan teman-teman kamu.

Sudah jadi rahasia umum, persiapan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula. Maka, persiapkan dirimu semaksimal mungkin sebelum menonton konser artis/band favorit. Because, every second counts and you don’t have any chance to be missed.

Paninggilan, 27 Agustus 2013

* ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis