Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

Lupa Endonesa

"Saya yakin orang Indonesia masih percaya pada kebaikan dan kejujuran. Tapi, saya nggak yakin mereka percaya bahwa kebaikan dan kejujuran bisa mereka jadikan jalan untuk mencapai cita-cita..." - Hal.138

Personally, ini adalah buku Sujiwo Tejo pertama yang saya tamatkan. Saya beli sepaket dengan dua buku lainnya yaitu dwicarita Rahvayana. Saya kira buku ini merupakan kumpulan artikel atau cerita soal lunturnya rasa berbangsa dan bertanah air Indonesia dari Sang Dalang Edan yang rupanya pernah mengenyam hidup sebagai wartawan. Namun, saya menemukan satu bentuk pengalaman yang baru dalam mentafakuri kehidupan sejarah bangsa melalui buku ini. 



Lupa Endonesa menggugat kehidupan bangsa ini pada satu periode sejarah yang dilambangkan dengan sosok seorang Presiden dari tanah Pacitan. Segenap persoalan negeri kala itu digamblangkan sedemikian rupa. Sujiwo dengan gagah menulis hal-hal yang malu-malu, memalukan, dan tidak memalukan tentang persoalan kehidupan bangsa Indonesia. Semua ceritanya, menyiratkan bahwa kita ini memang lupa berbangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Sujiwo menggunakan banyak perumpamaan dalam menyampaikan kritiknya atas satu keadaan tertentu. Kemunculan tokoh-tokoh punakawan dan main cast Mahabharata-Ramayana adalah satu unsur penyeimbang cerita. Betapa kenyataan masih bisa bermain dengan fiksi. Lepas dari pakem pewayangan pada umumnya. Penulisnya juga tidak lupa melibatkan para tokoh pewayangan itu dengan unsur modernitas yang kekinian.

Sepintas, cerita-cerita dalam buku ini terlihat sebagai cerita pendek karena selain habis dibaca sekali duduk mereka juga mempunyai unsur fiksi yang kental. Andai pun tidak dianggap sebagai cerpen, tidak salah juga bila kisah-kisah tuturan Sujiwo ini masuk kategori memoar. Memoar bergerak, dari satu kisah ke kisah lain dalam titimangsa yang sama.

Ada dua cerita yang jadi favorit saya disini. “Lakone Hanuman Ambassador” sebagai tandingan dari lakon “Hanuman Duta” dan “Jajak Pendapat para Dewa”. Sujiwo menjadikan seluruh tulisannya sebagai kritik sosial atas segenap peristiwa dengan mengawinkan unsur hiburan dan politik. Tulisannya ini bisa jadi hiburan bagi rakyat yang memang sudah kekurangan bahan tertawaan sekaligus kritik bagi pemimpin bangsa ini kelak di masa mendatang, agar sejarah tidak kembali terulang.

Judul        : Lupa Endonesa
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 218 hal.
Tahun       : 2012
Genre       : Cerita Pendek-Memoar


Dharmawangsa - Medan Merdeka Barat, 11 Mei 2015.

Selasa, 03 Maret 2015

Sepotong Hati Yang Baru

Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna
(Sepotong Hati Yang Baru, hal. 51)


Awalnya

Sudah lama saya tahu bahwa Tere Liye adalah seorang penulis yang cukup produktif. Saya sendiri tidak begitu tahu persis kapan Tere Liye merilis karyanya yang pertama. Yang jelas, hingga saya menamatkan pembacaan buku ini, kesannya sebagai penulis produktif belum berubah dalam imaji saya.

“Sepotong Hati Yang Baru” adalah perkenalan saya yang pertama dengan sosok kepenulisan Tere Liye. Terima kasih kepada istri saya yang mengantarkan saya pada karya-karya Tere Liye. Ada beberapa buku yang judulnya saya cukup kenal menghiasi rak di kamarnya. Akhirnya, akhir bulan ini saya putuskan untuk mulai membaca buku-buku itu satu per satu. Dimulai dari yang paling tipis.

Edisi Perkenalan

Kumpulan cerpen ini berisi delapan cerita pendek yang lumayan panjang. Maksudnya, tanpa mengurangi takdir cerpen yang hanya habis dibaca sekali duduk, beberapa cerita didalamnya punya alur yang sangat detail dan dinamis. Saya kagum pada kekuatan penceritaan dan gaya bahasa sang penulis. Dengan begitu padu, menjadikan buku ini tidak sekedar kumpulan cerpen biasa.

Cerpen pertama “Hiks, Kupikir Itu Sungguhan” berkisah tentang kisah muda-mudi yang berada di ambang kegalauan masa mudanya. Tere Liye berhasil mengangkat sebuah fenomena kecil menjadi objek cerita yang ringan namun nyata dan ada dalam keseharian kita. Terlebih dengan boomingnya media sosial, terutama Facebook, membuat cerita ini begitu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang sebuah perasaan bernama GR alias gede rasa.

“Kisah Sie Sie”
adalah cerpen yang menurut saya cukup dinamis dan lugas dalam penceritaan. Dengan alurnya yang demikian, saya merasa seperti membaca sebuah kisah nyata di tabloid khusus perempuan. Penulis mengangkat satu fenomena yang telah terjadi berulang-ulang di Singkawang, Kalimantan Barat. Soal pernikahan WNI keturunan/peranakan Tionghoa dengan WNA yang sengaja datang kesana. Alasan ekonomi seringkali menjadi faktor yang menyebabkan para perempuan muda disana rela untuk diperistri orang asing dan dibawa ke negaranya. Saya kagum dengan tokoh Sie Sie yang menepati janjinya untuk mencintai suaminya apa adanya walau harus mengalami berbagai penolakan dan siksaan.

“Sepotong Hati Yang Baru” kiranya mewakili seluruh penjiwaan atas penulisan buku ini. Banyak alasan yang menyebabkan seseorang patah hati. Tak terkecuali, satu keputusan yang diambil menjelang hari pernikahan yang menghancurkan semua imaji tentang cinta dan kebahagiaan itu sendiri. Bagaimanapun susahnya, si Aku dalam cerita ini berhasil menumbuhkan sepotong hati yang baru untuk mengganti sepotong lainnya yang terlanjur dibawa pergi sang mantan kekasih. Dengan potongan hatinya yang baru ini, ia berhasil menolak si mantan untuk kembali mengikat janji. Sebuah pembalasan yang setimpal. Siapa menabur, maka dia akan menuai.

Legenda Sam Pek dan Eng Tay yang tersohor itu kini diceritakan kembali dalam “Mimpi-Mimpi Sampek Engtay”. Tere Liye menulis kembali cerita ini dengan detail yang cukup istimewa. Saya teringat kembali sebuah yel yel wajib di kalangan mahasiswa, “Mahasiswa Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Khusus untuk Sam Pek dan Eng Tay berlaku “Dua Cinta Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” walau kadang maut akhirnya memisahkan. Moral dari cerita tentang ketulusan adalah hal yang selalu menarik untuk diceritakan kembali, apapun bentuknya.

“Itje Noerbaja & Kang Djalil” adalah cerpen yang unik. Saya kembali teringat pada kalimat-kalimat pengantar cerpen dalam kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Sepotong Senja Untuk Pacarku” dimana terdapat kalimat dengan ejaan lama. Hal ini saya temukan kembali pada cerpen ini. Cerpen yang berkisah tentang usaha pergerakan dari para babu dan centeng di zaman kolonial Belanda. Kisah romantis dan heroik ini seakan mengingatkan kita kembali pada sejarah yang tak tercatat.

“Kalau Semua Wanita Jelek” adalah cerita yang berbau feminin. Seorang perempuan tentu mendambakan tubuh ideal yang diterjemahkan dalam bahasa umum sebagai langsing atau kurus. Terkadang, hal yang demikian itu menyesatkan. Bahwa sesungguhnya kecantikan itu relatif. Mungkin benar adanya pepatah lama itu, kecantikan sesungguhnya terpancar dari hati.

Seperti halnya legenda Sam Pek dan Eng Tay, kisah Sri Rama dan Shinta tidak pernah selalu kadaluwarsa untuk diceritakan kembali. “Percayakah Kau Padaku?” adalah gugatan untuk Rama. Ketulusan cinta rama pada Shinta diuji disini. Personally, kisah Rama-Shinta sejatinya adalah kisah romantis karena mereka saling mencintai. Namun, belakangan ini saya memang meragukan ketulusan Rama pada Shinta. Bisa jadi Rahwana lah yang benar-benar mencintai Shinta dengan tulus. Kalau Rama masih cinta pada Shinta , mengapa ia mesti meragu pada Shinta yang telah diculik dan diselamatkannya dari api cinta Rahwana?

“Buat Apa Disesali...”
adalah sebuah kisah cinta klasik (entah juga klise) yang menimpa Hesty dan Tigor. Bagian terbaik cerita ini adalah sisipan lirik lagu yang dinyanyikan sepenuh jiwa oleh Rita Effendy, ‘Selamat Jalan Kekasih”.

Konklusi

Secara keseluruhan, saya menikmati pembacaan perkenalan saya dengan Tere Liye. Buku ini adalah buku sekuel dari serial ‘Berjuta Rasanya’. Tak harus membaca edisi pertama untuk memahami edisi sekuel ini. Tulisannya tidak hanya mengalir dengan bahasa yang mudah dipahami. Penulis pun piawai dalam memainkan karakter sekaligus menyertakan beberapa pelajaran dan makna yang hidup ini sediakan.

Judul        : Sepotong Hati Yang Baru
Penulis     : Tere Liye
Penerbit    : Mahaka Publishing
Tahun       : 2012
Tebal        : 206 hal.
Genre       : Kumpulan Cerpen



Dharmawangsa, 28 Februari 2015.

Minggu, 31 Agustus 2014

Mereka Bilang, Saya Monyet!

Kesan pertama dalam pembacaan kumpulan cerpen ini adalah sebuah kelugasan dalam bertutur cerita. Melihat rentang waktu penulisan cerpen-cerpen didalamnya, bisa dikatakan bahwa semua cerpen tersebut adalah sebuah breakthrough dalam ranah sastra Indonesia, pada saat itu. Bentuk penceritaan yang kemudian menjadi satu alternatif dalam penuturan cerita. Kisah-kisah kelam yang tak pernah tersampaikan hingga kebahagiaan semu adalah sepenggal saja dari kiasan eksploratif yang disampaikan si penulis.



Selain "Waktu Nayla" yang menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2003, kumpulan cerpen ini tidak henti-henti menghadirkan kejutan. Saya kagum ketika penulisnya mampu membuat cerita seperti dalam cerpen "Namanya, ...". Tokoh si penulis yang dinamai 'Memek' sangat berada diluar kelaziman, bahkan tabu untuk beberapa kalangan. Namun, sekali lagi, dunia fiksi adalah ruang yang memungkinkan terjadinya kemungkinan semacam itu. Fiksi hidup dalam kepala pembacanya.

Cerpen lain yang tidak lazim adalah "SMS". Cerpen berisi petikan SMS dari sepasang kekasih yang saling bermain api adalah satu bentuk penulisan yang tidak umum. Keluwesan fiksi berhasil dimainkan dengan apik oleh si penulis. Gaya penulisan semacam ini tidak menyalahi kodrat cerpen sebagai turunan fiksi.

Cerpen "Asmoro" kiranya mengingatkan saya pada satu cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul "Sukab Menggiring Bola". Adjani terus berlari bagai Sukab yang terus menggiring bola hingga ke ujung dunia. Adakah hubungan diantara keduanya? Selain karena SGA disebut dalam halaman pembuka dari sang penulis. SGA yang telah memberikan "ilmu" dan keberanian untuk menulis cerpen-cerpen yang demikian.

Begitupun dengan cerpen "Wong Asu" yang terinspirasi dari cerpen "Legenda Wongasu" milik SGA. Keduanya tidak menceritakan hal yang sama. Namun, pada akhirnya pembaca dapat menilai mengapa tokoh-tokoh mereka mesti menjadi 'asu'.

Kiranya, pembaca dapat membaca kedua cerpen SGA tersebut dan menguji kebenaran hipotesa saya.

Daftar Cerita:

- Mereka Bilang, Saya Monyet!
- Lintah
- Durian
- Melukis Jendela
- SMS
- Menepis Harapan
- Waktu Nayla
- ... Wong Asu
- Namanya,...
- Asmoro
- Manusya dan Dia

Judul        : Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penulis     : Djenar Maesa Ayu
Penerbit    :Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2012
Tebal        : 150 hal.
Genre       : Kumpulan Cerpen


Medan Merdeka Barat, 18 Agustus 2014.

Sabtu, 26 Oktober 2013

2

And when the daylight comes I'll have to go
But tonight I'm gonna hold you so close

“Tuh kan, lagu itu lagi. Ngaku deh, loe lagi LDR-an kan?” Bimo membuatku kaget.

Aku segera menyembunyikan ponselku. Aku tidak ingin Bimo tahu kalau aku benar-benar sedang memutar lagu itu.

“Ih, sok tau banget deh! Aku lagi seneng aja, secara Maroon 5 gitu.” Jawabku sebisanya.
“Udah deh ngaku aja. Loe kangen sama dia kan?” Bimo tidak mau kalah.
“Apaan sih, Bim. Cabut duluan ya. Bye” Aku segera menghindar.
“Yee, gue dateng malah pergi.”

Bim, kok kamu tahu banget sih aku lagi kangenin dia. Aku bicara pada diriku sendiri. Setidaknya, Bimo telah menjawab satu keraguan dalam benakku. Aku mulai ragu dengan keputusanku untuk menjalani long distance relationship bersama Dimas. Untuk sebuah alasan standar kami harus berpisah. Dimas masih ingin sekolah, jadi ia melanjutkan studinya di Groningen sana. Apalah yang aku tahu soal Groningen? Tidak ada satupun. Kecuali klub sepakbola FC Groningen yang nampaknya selalu jadi tim penggembira di Hollandsche Eredivisie.

Aku tidak pernah merasa bahwa ini adalah keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Sudah jelas, ini adalah yang terbaik yang aku bisa untuk Dimas. Dimas sendiri tidak pernah bicara banyak soal rencananya ke depan. Pun, ketika harus membicarakan soal ini denganku. Dimas sudah siap menerima kenyataan untuk saat ini dan yang akan tiba. Dimas sepertinya tidak pernah berpikir sedikitpun tentang aku.

Aku heran dengan sikap Dimas yang seperti itu. Dimas tidak menyadari bahwa perpisahan kemarin sungguh berat untukku. Apakah aku yang terlalu cinta? Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin selalu bersamanya. Tidak lebih. Kini, aku harus melintasi dimensi ruang dan waktu hanya untuk mendapatkan kabar terbaru darinya.

Bimo, apa yang dia tahu soal hubunganku dengan Dimas? Mengapa dia seakan begitu tahu perasaanku. Aku tidak mengerti mengapa Bimo bisa tiba-tiba menohokku dengan pertanyaan seperti tadi pagi.

We knew this day would come
We knew it all along
How did it come so fast?

Dearest Dimas,

Udah seminggu ini kamu nggak kirim kabar, how are you there? Everything’s fine?

Ik het jou lief,
Dina

Aku hanya mampu menafsirkan rindu sebatas kalimat pendek dalam email. Aku sadari betapa berat beban menahan rindu ini. Aku ingin mengatakan semuanya. Namun, jemariku hanya mampu sebatas itu saja. Sisanya, berkecamuk dalam pikiran belaka.

Apakah kamu sudah tidak punya waktu untukku? Tidak adakah waktu luangmu untukku? Aku hanya mohon padamu untuk mengabariku secepat mungkin kau bisa, karena aku tidak mungkin mengharapkan kedatanganmu. Aku mohon sekali ini saja. Ada yang ingin aku sampaikan.

Aku ingin marah. Aku ingin melampiaskan semua rasa rindu yang selalu tertahan ini. Aku ingin marah. Aku sadari kemudian bahwa aku hanyalah sendiri disini. Tidak ada gunanya tanpa hadirmu disini. Aku ingin berkata pada siapa saja bahwa aku....

Aku terkesiap dari lamunanku. Seketika kata-kata itu buyar dan menghilang begitu saja. Kendati aku tidak pernah meragukan kesungguhan Dimas kepadaku, aku tetap merasa lelah.


*

Pratidina Pramesti. Sayang sekali, kamu hanya membuang-buang waktu hanya untuk mencintai seseorang yang jauh disana. Let me tell you something. Mencintai itu adalah ada. Untuk apa mencintai sedang dia tidak ada untukmu, bersamamu disampingmu?

Aku hanya menggelengkan kepala sambil mengamati Dina dari kejauhan. Ia tampak sendirian di bangku taman itu. Hanya berteman sebuah buku bersampul ungu. Mungkin sebuah novel pengobat rindu untuk kekasihnya yang jauh di Negeri Londo sana.

“Din, kamu tahu nggak sih kalau kebutaan sejati itu ketika kamu sedang jatuh cinta?” Aku menghampirinya.

Dina tersentak dan seketika menutup buku bacaannya. Wajahnya tampak kesal.

“Maaf ya, Bim. Aku ada urusan apa sama kamu ya?”
“Nggak ada. Nggak ada apa-apa.”
“Please, mulai sekarang kamu nggak usah nanya lagi soal gituan. Cukup aku aja yang ngerasa. Kamu nggak sah ikut-ikutan sok care lah.”

Aku hanya tersenyum mendapati perlakuan Dina seperti itu. Ia tidak melanjutkan pembacaannya. Dina menunduk dan memejamkan matanya. Seakan menahan amarah yang siap meledak. Aku kira Dina akan menangis. Ternyata tidak. Dina membetulkan letak kacamatanya dan mengemas bukunya.

“Din, mau kemana?”
“Bukan urusan kamu!”
“Din, tidak ada tempat persembunyian luka sebaik air mata. So, kalau masih kangen kamu mending nangis aja. Nggak apa-apa kok.”

Dina langsung memukulku dengan tasnya. Dina kelihatan marah sekali.

“Kamu tahu apa soal Dimas? Pake ngajarin aku buat nangis segala. Emangnya aku ini perempuan apaan heh?” Dina terus merangsek.
“Din, sebentar Din.” Aku mengelak.
“Kamu pikir kamu lebih tahu dari aku? Kamu pikir gampang buat lupain orang? Kamu pikir kamu hebat? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu masih gagal move-on dari Arina.”

Arina. Dina menyebut nama Arina. Sebuah nama yang membuatku tersirap dari sadarku dan membiarkan Dina terus memukuliku. Hingga akhirnya berhenti dan nafasnya terengah-engah.

“Kamu harus sadar Bim, kalau Arina itu sudah menikah dan bahagia dengan hidupnya. Kamu nggak perlu lagi mengharap apa-apa dari dia. Kalaupun Arina nggak bahagia, itu urusan dia. Biarin dia urus urusannya sendiri. Kamu nggak perlu lakuin apa-apa buat dia. Enough is enough, Bim. Game over when she said it’s over!”

*

Seminggu kemudian, aku dan Dina pergi bersama. Dina tampak cantik dengan kerudung hitam yang membalut rambutnya yang sebahu. Tak lama kami sudah sampai di sebuah acara pemakaman. Para pelayat mulai berlalu, meninggalkan kami berdua yang menatap sebuah pusara.

“Bim, make your last wish for her.”


Pharmindo, 26 Oktober 2013.

1

“Only by meeting you, warm feeling completely filled my heart.”

Nina mengirim email singkat padaku. Seketika mendung diluar berubah menjadi pagi dengan semburat mentari yang menakjubkan. Ah, itu hanya khayalanku saja. Hanya imajinasi pengalih perhatian. Aku mendadak kangen pada Nina. Aku merindukan kembali pagi dimana aku dan Nina saling berkirim pesan pendek lewat ponsel.

“You text, and i instantly smile.”

Satu jawaban dari Nina yang selalu kurindukan.

*

Aku menikmati secangkir kopi hitam pagi ini sembari menatap jendela dari pantry. Pagi di Jakarta adalah sebuah keajaiban bagi mereka yang tidak pernah berharap apapun. Terlalu banyak kejutan disana.

“Pagi, Gus. Nanti malem, ada waktu?” Erika menyapaku.
“Eh, kamu Rik. Kenapa? Ada yang penting?”aku balik bertanya.
“Nggak sih. Tapi,...” Erika terlihat ragu
“Tapi apa, Rik?”
“Nggak jadi deh. Lain kali,..”

Belum selesai kalimat Erika, aku sudah menggamit lengannya. Sebuah awkward moment lain diantara aku dan Erika. Erika mematung sambil perlahan menatap tanganku yang memegangi lengannya. Mungkin, Erika pikir mirip adegan di drama-drama Korea.

“Oke, kita duduk dulu bentar.” Aku mengajak Erika duduk.
“Aku nggak ada waktu sekarang, Gus.” Erika mulai merasa tak nyaman.
“Kenapa? Kamu mau ngajak aku nemenin kamu kemana lagi?  ” nada suaraku mulai meninggi.
“Bukan gitu, Gus.”
“Terus apa? Mana Arga yang selalu kamu banggain itu? Dia jalan sama perempuan lain?”

Diam. Hanya diam. Erika tidak bicara sepatah kata pun. Erika beranjak menuju jendela tak jauh dari tempatku berdiri. Erika mulai menangis. Aku bisa melihat bulir air mata mulai berjatuhan di pipinya. Andai ini bukan kantor, barangkali Erika sudah kurangkul atau kupeluk. Akan kubisikkan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku pun sama termangu. Tak mampu berucap apapun untuk menenangkan Erika. Aku mengalihkan pandanganku lagi ke luar sana.

Erika mulai mengangis terisak. Aku tidak ingin terjebak dalam situasi sulit seperti ini. Jadi, aku beranikan diri untuk menatap Erika. Erika balik menghadapku. Matanya seakan berkata, “Dengerin aku, Gus.”

Erika berada di pelukanku sekarang. Air matanya semakin mengalir deras.

“Gus. Arga nikah, Gus... Tapi....gak sama aku...” Erika bicara sambil terisak.

Aku menenangkan Erika dan membuatkannya secangkir teh hangat. Matanya kini sembap ketika tangisnya reda.

“Aku masih belum bisa terima kenyataan ini, Gus. Makanya, aku mau kamu anterin aku.”
“Anterin kemana? Ketemu Arga? Bah, males banget. Udah tinggalin aja sih.”
“Aku masih sayang dia, Gus.”
“Ah, Erika. Kamu masih sayang dia, terus dia nikah sama orang lain, gitu?”

 Erika terdiam lagi.

“Erika, sayang. Look at yourself. Aku yakin kamu deserve more than him.”

Ada jeda sebelum Erika kembali bicara,

“Nanti anterin aku pulang ya, Gus.”
“Apa sih yang nggak buat kamu?” kataku sambil tersenyum.
“Ih, gombaaal.”

*

Erika tertidur di pangkuanku usai menamatkan “Bridget Jones’s Diary”. Erika memintaku untuk memilihkan film yang kami tonton malam ini. Malam sudah larut dan aku harus kembali bekerja besok. Begitu juga Erika. Namun, aku tidak kuasa meninggalkan Erika.

“Halo, Nin.”
“Kamu lagi dimana, Gus? Kata Mama kamu belum pulang. Lembur?”
“Nggak, Nin. Aku lagi di rumah temen nih. Kamu udah selesai? Jemput aku dong.”
“Nggak bisa pulang sendiri?”
“Aku jelasin semuanya pas kamu dateng, Nin.”
“You’re not in a big shit, right?”
“Absolutely no. Ntar aku bbm alamatnya ya. I’m waiting.”
“Cepetan. Jangan lama!”

Perlahan aku melepaskan genggaman tangan Erika. Aku mulai menata diriku lagi dan berkaca pada semua yang terjadi hari ini. Lebih baik seperti ini, Erika tidak perlu cari pelarian untuk hatinya yang terluka. Cukup menemaninya nonton semalaman tanpa kissing or even quickie. Catat.

Aku berkeliling di ruang tamu. Perhatianku tertuju pada sebuah amplop coklat.

Suatu saat nanti jika aku yang pergi, engkau baiknya memilih tidak percaya pada kehilangan.
Erika, maafkan aku.

Arga

Kalimat pembuka di secarik kertas yang terselip dalam sebuah undangan pernikahan. Mungkin inilah mengapa Erika begitu dramatis hari ini.

Bel pintu rumah Erika berbunyi. Aku mengintip lewat jendela depan. Nina sudah berdiri di depan pagar. Raut mukanya terlihat seperti seorang kekasih yang marah dan akan menyemprot selingkuhan kekasihnya.

Rupanya, bel itu membangunkan Erika.

“Siapa, Gus. Kok ada tamu malem gini, sih?”Erika memelukku dari belakang
“Maaf, Rik. Aku minta Nina jemput aku kesini.”
“Jadi, kamu nggak akan nginep malem ini? Ya udah deh.” Erika tampak kecewa sambil membukakan pintu pagar.

Nina langsung menghampiriku. Aku tidak suka tatapannya pada Erika. Erika terlihat berantakan usai bangun tidur.

“Malem. Mbak Nina ya? Kenalin, saya Erika.” Erika mencoba bersikap ramah pada Nina.
“Bagus udah cerita soal aku?” jawab Nina ketus.
“Baru dikasih tahu tadi kok, Mbak?” jawab Erika.
“Terus, ngapain si Bagus kamu ajak ke sini?” Nina mulai marah

Aku mencoba menahan Nina.

“Nin, masuk dulu yuk. Kita ngobrol di dalem.” Kataku sambil merangkul Nina.
“Mari, Mbak Nina. Silakan.” Erika mengikuti kami di belakang.
“Awas ya Gus kalo kamu macem-macem sama dia.” Nina mengancamku.

*

Erika menjelaskan semuanya kepada Nina. Aku dengan sabar duduk disamping Nina. Menjaganya jangan sampai lepas kendali. Aku tahu, itu semua karena Nina sayang padaku. Erika tampak seperti pagi tadi. Ia menangis lagi.

Nina memandangiku.

“Gus, bilangin dia dong, kamu mau anter aku mau ke toilet dulu.” Nina berbisik.

Aku dan Nina meninggalkan Erika yang masih menangis sendu di sofa yang sama saat ia tidur di pangkuanku. Aku dan Nina tak henti memandanginya dari kejauhan. Usai kembali dari toilet, Nina membawakan amplop coklat yang tadi aku baca.

“Gus, bagus banget undangannya. Menurut kamu bagus gak buat undangan nikahan kita nanti.”

Aku terkejut. Aku tidak ingin Erika tahu soal ini. Aku yakin Erika akan menghabiskan air matanya malam ini bila sampai dia tahu bahwa aku dan Nina membaca undangan itu.

“Hmm... Bagus, Nin. Kamu simpen lagi sana, ntar ketahuan Erika. Kasihan dia.”
“Sebentar, aku mau baca dari siapa ini.” kata Nina.

Erika masih menangis. Tangisannya kini terasa begitu pilu. Bagai tangis Sinta ketika ditawan Rahwana.

“Gus..” Nina menggumam.

Aku berbalik menghadap Nina yang tampak tertegun.

“Kenapa, Nin?”

Nina seketika pingsan. Tanpa menyisakan penjelasan.
 

Pharmindo, 25 Oktober 2013.

Sabtu, 28 September 2013

Cinta di Atas Perahu Cadik


Mukadimah

Sudah sejak 2008 lalu saya memendam keinginan untuk membaca buku ini. Maklum, dalam kumpulan cerpen terbaik ini ada cerpen dari penulis favorit. Sebut saja, Seno Gumira Ajidarma dan Budi Darma. Serta tidak ketinggalan, Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu. Seringkali saya hanya mampu menatapi buku ini setiap mampir ke toko buku langganan di Palasari. Tanpa mampu menggenggamnya hingga ke meja kasir.

Lima tahun kemudian, saya berhasil menamatkan pembacaan buku ini. Saya rasa ada alasan mengapa Tuhan baru mempertemukan kembali kami sekarang ini. Agaknya, saya telah membuktikan apa yang pernah ditulis SGA dalam cerpen 'Linguae': Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lama pun selama aku mencintainya.

Catatan Empat Cerpen

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen terbaik dari Seno Gumira Ajidarma yang berjudul sama dengan judul buku. Kisah seorang Sukab dan Hayati yang saling mencintai walau keduanya telah sama berpasangan. Berlatar kehidupan masyarakat nelayan pesisir, cerita ini seakan-akan mewakili kenyataan hidup yang berlangsung sehari-hari. Kecuali, bila pembaca menggugat hilangnya Sukab dan Hayati selama tujuh hari itu sebagai hal yang tidak masuk akal.

Cerpen lain yang menjadi favorit dalam buku ini adalah 'Kisah Pilot Bejo' yang ditulis oleh Budi Darma. Kisah seorang pilot bernama Bejo yang selalu 'bejo' dalam menerbangkan pesawat. Budi Darma agaknya mengambil sebuah realita yang kemudian dituangkannya kembali dalam bentuk sebuah cerita pendek. Pembaca tentu sudah lebih paham bila membaca metafora dan analogi yang disajikan oleh Budi Darma. 'Kisah Pilot Bejo' memberikan kita gambaran bahwa dunia penerbangan di negeri kita pernah mengalami hal yang demikian.

'Gerhana Mata', dari Djenar Maesa Ayu adalah cerita yang saya sukai dari segi penuturan dan bahasa. Pemilihan diksi yang tepat menjadi kunci cerpen ini untuk merebut hati saya.

"Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan." 

Betapa sebuah dunia dapat menjadi nyata dalam gelap. Hanya dalam gelap sang narator dalam cerita dapat merasakan cinta. Selebihnya, saya mendapat nuansa realitas yang kental dalam cerpen ini. Pertemuan sepasang kekasih yang terlarang adalah sebuah bumbu kehidupan metropolitan. Atas nama cinta, semuanya terjadi.

Cerpen 'Tukang Jahit' dari Agus Noor sudah menyentak sejak paragraf awal. Jarum dan benang si tukang jahit yang konon diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya adalah satu unsur kejutan yang mau tidak mau sukses menggiring pembaca untuk terus melanjutkan pembacaan atas cerpen ini. Tukang jahit ini bukan tukang jahit sembarangan. Tukang jahit ini adalah satu-satunya yang tersisa dari sekian banyak tukang jahit yang pernah berjaya di kota itu. Ia tidak hanya menjahitkan pakaian. ia juga mampu menjahit kebahagiaan.

Sepintas, cerita ini mengingatkan saya pada cerpen SGA lainnya yaitu 'Manusia Gerobak'. Baik SGA maupun Agus Noor menceritakan manusia gerobak dan tukang jahit yang sama-sama muncul setiap menjelang lebaran. Saya tidak heran akan hal seperti ini. Kalau pembaca sudah sering menbaca karya mereka, tentu akan dapat menarik suatu benang merah atas keduanya.

Cerpen Lainnya

Cerpen lain dalam buku ini juga memiliki nilai dan pesannya masing-masing. 'Lampu Ibu' yang ditulis Adek Alwi bercerita tentang kekuatan dan ketegaran seorang Ibu. Terutama, ketika satu anaknya tersangkut kasus korupsi dan jatuh sakit. Ada nilai moral yang dapat diambil dari cerita itu. Terlebih, kasih Ibu tiada batasnya, tak terhingga sepanjang masa.

Cerita tentang legenda tukang nasi goreng bernama Koh Su pun tak kalah menariknya. Kerinduan akan rasa dan segenap misteri yang menyelubungi Koh Su menjadi bumbu yang membuat cerpen ini semakin menarik dan penasaran. Cerpen 'Koh Su' tulisan Puthut EA ini harus disimak betul sampai akhir cerita bila memang pembaca penasaran soal asal usul Koh Su dan bumbu nasi goreng ajaibnya.

Romantisme masa lalu turut juga dihadirkan oleh Wilson Nadeak lewat 'Serdadu Tua dan Jipnya'. Kisah seorang pensiunan yang menghabiskan sisa hidupnya dengan memelihara sebuah jip Willys tua ini menjadi suatu romantika tersendiri. Romantika itu hadir dalam segenap konflik antara si serdadu tua dengan istrinya. Namun, penulisnya berhasil mengubah haluan sehingga akhir (ending) dari cerita ini tidak selesai disitu.

'Sinai' dari Dewi Ria Utari dan 'Belenggu Salju' dari Triyanto Tiwikromo adalah dua cerpen satir yang cenderung gelap. Keduanya bercerita tentang gelapnya jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah keabadian. Sedang, 'Bigau' yang ditulis Damhuri Muhammad, lebih mengangkat unsur dan nilai legenda tradisional. 'Bigau' bercerita tentang seorang jagoan yang memiliki kesaktian yang diperolehnya lewat sebuah cara yang hanya dia saja yang mampu melakukannya. Konflik muncul ketika ia harus mewariskannya.

'Lak-Uk Kam' dari Gus Tf Sakai bercerita soal penjaga mercusuar yang selalu sendirian setiap bertugas. Tiga bulan sekali ia dirotasi ke mercusuar-mercusuar lain. Tiga bula sekali pula ia merasakan kesendirian yang sama.

GM Sudarta muncul dalam kumpulan cerpen ini. Sebagaimana telah kita kenal sebelumnya, GM Sudarta adalah seorang kartunis dengan karyanya yang mashur yaitu 'Oom Pasikom'. Cerpen 'Candik Ala' yang ditulisnya mengingatkan saya pada lirik pembuka pada lagu Koes Plus, "Melati Biru'. Cerpen ini bercerita soal kenangan seorang anak terhadap ayahnya. Dibumbui dengan candikala, suatu titimangsa dimana batas-batas gaib menjadi samar.

'Sepatu Tuhan' yang ditulis Ugoran Prasad, seketika mengingatkan kita kepada sepakbola, terutama soal piala dunia. Simak kisah sepatu Franz Beckenbauer dan si 'Tangan Tuhan' Maradona. Romantisme sepakbola dan melankoli persahabatan adalah dua unsur yang berpadu dalam cerpen ini.

Dua cerpen terakhir pun agaknya juga mengesankan bagi saya. 'Hari Terakhir Mei Lan' yang ditulis Soeprijadi  Tomodihardjo membawa pembaca pada suasana China dimasa penuh pergolakan. Sedangkan, 'Gerimis Yang Sederhana' dari Eka Kurniawan, yang sekaligus jadi cerpen terakhir, bercerita soal pertemuan dua orang. Yang membuat saya menyunggingkan senyum adalah kenyataan bahwa si pria menyembunyikan cincin kawinnya dan tak sengaja tercampur dengan recehan yang ia berikan pada pengemis. Betapa naifnya hidup ini bahwa masih saja ada cerita soal pria beristri yang menyembunyikan identitasnya setiap akan menemui seorang perempuan yang baru dikenalnya.

Konklusi

Sebuah cerpen berpacu dengan keterbatasan ruang cerita. Apalagi, ketika harus muncul dalam ruang media cetak koran. Penulis dituntut mampu membuat cerita pendek yang kaya dengan sintesa pengalaman dengan cara yang meyakinkan. Oleh karena itu, setiap cerpen yang muncul di hari Minggu ini memiliki konflik dari dunianya sendiri. Dunia yang terbentuk dalam keterbatasan ruang cerita. Sekalipun begitu, semuanya membuktikan bahwa dalam sebuah keterbatasan ada banyak ruang untuk sebuah cerita.


Paninggilan, 14 September 2013.


Jumat, 12 Juli 2013

Kerinduan Yang Rapuh - Serial #CerpenSMA Eps.1

Pengantar

Sebagai pembuka, beberapa hari lalu saya sengaja menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk membuka kembali file-file tugas sekolah SMA. Menarik, karena saya menemukan sebuah kumpulan cerpen yang pernah saya buat waktu itu. Tidak terlalu banyak memang, namun saya rasa sudah waktunya cerpen-cerpen itu menemukan pembaca mereka yang sesungguhnya.

Serial #CerpenSMA ini akan dimulai sejak tulisan pertama ini terbit. Semua cerpen telah mengalami  proses editing yang terbatas pada kesalahan penempatan tanda baca dan tipografi. Tidak ada perubahan dalam alur dan pemilihan kata-kata. Saya serahkan pada pembaca untuk menilai tulisan saya. Bagi saya, kumpulan cerpen itu tadi adalah tonggak awal sejarah kepenulisan saya, jauh sebelum blog ini dibuat.

Saya berharap pembaca dapat menikmatinya. Khusus untuk ini, terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih.

Paninggilan, 12 Juli 2013


KERINDUAN YANG RAPUH

Andhita tercinta,

Didalam surat ini aku tuliskan sebuah cerita saat aku telah jauh darimu. Suratku ini akan berisikan kerinduanku padamu. Andhita, apakah kamu akan ikhlas untuk menerima dan membacanya?.

Andhita, akan kuceritakan  betapa rindunya diriku saat kau tak disisiku menemaniku. Mengapa? Karena aku sangat mengharapkanmu untuk kembali bersama menikmati segala kenangan yang pernah kita lalui.


 
27 Juni 2001, tahukah Dhita, hari itu aku sungguh-sungguh kecewa, hari itu aku sadar bahwa kita tak akan pernah bertemu kembali. Aku tak bisa menerima kenyataan itu. Tetapi Andhita, kaupun tahu aku harus terus maju untuk meraih masa depanku. Tak hanya diriku saja tapi dirimu juga.
 
Aku juga masih ingat saat kau melihatku berjalan berdua dengan seseorang yang kini telah menjadi mantan kekasihku. Akupun mengerti perasaanmu Andhita, aku juga tahu kalau hatimu menyimpan sedikit luka karena kejadian itu. Apakah kamu tahu juga kalau selama ini aku pun terluka? Seseorang itulah yang sering membuatku terluka, terluka karena ia berusaha untuk menjauhkan dirimu dari hatiku. Andai waktu itu aku dapat menemanimu, maka tak akan ada lagi luka bagi kita berdua.
 
Namun kini Andhita, aku kehilangan perasaan itu. Aku kehilangan jejak cerita kita, saat kita masih bersama. Aku bahkan tak tahu kini dimana dirimu berada, entah di belahan dunia mana. Tetapi Andhita, aku takkan pernah kehilangan sesuatu dari dirimu yang sampai saat ini menjadi sesuatu yang berharga bagi diriku. Apakah kamu tahu Andhita? Senyummu. Senyummu itulah yang selalu menguatkanku dan mengabadikan dirimu di hatiku.
 
Andhita tersayang,
 
Didalam hatiku kaulah yang terindah kau telah menjadi sekuntum bunga yang mekar tiada hentinya didalam hatiku sampai kapanpun, karena kaulah bunga pertama yang kusimpan di dalam ladang cinta hatiku. Andhita, pernah kucoba untuk menepis bayanganmu yang selalu memaksaku 'tuk merindumu, namun ku tak pernah bisa. Belum lagi dalam kesendirianku ini, belum kutemukan bunga-bunga lain sebagai pendampingmu, aku belum bisa Andhita.
 
Andhita yang manis,
 
Aku ingin bertanya padamu, “ Masihkah kau menyimpan hadiah yang kuberikan?”, aku yakin kamu tentu masih menyimpannya. Andhita, untuk mendapatkan  sesuatu itu aku harus menempuh perjalanan yang tak pernah kuharapkan, tapi demi seorang Andhita, aku tak peduli. Andhita, saat itu hujan seakan ditumpahkan dari langit, akupun resah karena belum kutemukan sesuatu itu, aku takut mengecewakanmu, demi kebahagiaanmu Andhita, aku pun terus mencari walau dalam keadaan basah kuyup. Saat telah kutemukan langit mendung pergi dan matahari kembali bersinar dan menghidupkan kembali harapanku pada dirimu.Akhirnya aku pun bahagia melihatmu menerima dan menyukainya. Dari caramu mengucapkan terima kasih, aku tahu kamu sangat senang.
 
Itulah Andhita, seberkas kerinduanku padamu. Andhita setelah membaca suratku ini, kuharap kau dapat membalasnya. Ceritakanlah padaku tentang indah warna-warni duniamu.
 
Sebelum kuakhiri suratku ini, maafkanlah aku Andhita yang telah tega membiarkanmu pergi begitu saja. Pergilah Andhita, kejarlah keinginanmu karena masih banyak waktu, dan tak usah kau pikirkan lagi lelaki ini yang tebaik dan sangat sayang padamu. Maafkan aku sekali lagi, karena kata-kataku ini yang mungkin terlalu gombal bagimu.
 
Andhita, izinkanlah aku mengirimkan kerinduanku padamu dengan cium, peluk dan bisikan terhangat dari tempat yang terindah di dunia.
 

Bandung, 22 September 2003

Selasa, 05 Februari 2013

Un Soir du Paris: Menguak Rahasia Perempuan

Sangat jarang sebuah buku yang diterbitkan penerbit besar mengangkat tema lesbian. Seakan menuntut pengakuan melalui kumpulan cerpen ini. Hal ini tentu menarik sebab hal yang demikian itu masih dianggap tabu untuk masyarakat beradat ketimuran. Diluar semua perdebatan mengenai tema lesbian, kumpulan cerpen ini hadir untuk menguak sebuah dunia yang belum terjamah. Ini menjadi bukti bahwa imajinasi dan interpretasi atas kaum lesbian muncul sebagai refleksi realitas sehari-hari.



Beragam cerita dituliskan dan menghadirkan imajinya masing-masing. Tentang sebuah cinta yang "terlarang". Sebagai favorit saya memilih cerpen dengan judul "Tahi Lalat di Punggung Istriku". Selain cerpen dari Seno Gumira Ajidarma tentunya yang sudah duluan dibaca.Mata Indah karya @clara_ng pun tidak kalah dalam menghadirkan nuansa cinta terlarang dengan konflik yang apik. Sedikit horor namun tetap menarik.

Overall, segenap cerita tentang lesbian dalam buku ini menguak sisi-sisi yang belum sepenuhnya terkuak oleh tabu khayalak luas. Walaupun dalam pengantar buku telah disebutkan bahwa kebanyakan cerita belum tampil "menggigit" untuk menghadirkan lebih banyak konflik. Dengan demikian, sastra telah menampakkan wujudnya sebagai refleksi realita kehidupan. Dengan mencatatnya kedalam kumpulan cerpen ini, usaha untuk mendokumentasikan kaum lesbian menjadi lebih bermakna dalam menghadapi hegemoni konstruksi sosial yang berlaku di tengah masyarakat.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Awalnya, saya pikir saya akan menemukan sebuah imaji terindah untuk sebuah petang di kota Paris. Ternyata saya salah. Kumpulan cerpen ini mengangkat sebuah fenomena yang selama ini hanya terdengar hembusannya saja tanpa pernah nampak di permukaan. Sebuah fenomena yang benar-benar ada namun tidak lantas lantang diteriakkan. Entah karena konstruksi sosial dalam masyarakat yang belum mengizinkannya.

Menikmati tulisan-tulisan tentang cinta sesama perempuan buat saya bukanlah hal yang pertama. Pernah saya menulis sebuah cerpen bertema sama yang lantas diterbitkan oleh sebuah penerbit independen. Pun, ketika ternyata cerpen SGA tentang dua perempuan dengan HP-nya dimuat disini. Mengingatkan saya pada cerpen SGA lainnya (yang juga bertema sama) yaitu Lelaki Terindah.

Khusus untuk buku ini saya memberikan apresiasi khusus karena tidak banyak karya serupa.


Bogor, 5 Februari 2013.

Minggu, 30 September 2012

The Lies We Live In


 
"Ada bagian masa lalumu yang belum selesai..."
"Bagian mana?"
"Tanya dirimu, hatimu lebih tahu..."
"Apa perlunya? Apa itu masalah untukmu?"
"Kadang-kadang itu jadi masalah buatku. Lagipula kamu tak peduli."
"Kamu cemburu...?"
"............"

Percakapan terakhir pada suatu senja penghabisan itu membuatku teringat lagi padanya. Aku masih mengingkari kenyataan bahwa memang ada bagian masa laluku yang belum selesai. Bagai noktah kecil dalam tirai hati. Aku tidak mau mengakui kalau aku masih belum bisa melepaskan semua ingatan tentang perempuan yang menangis ketika kutinggalkan sore itu. Ketika semua yang mampu dihadirkan mimpi perlahan membias dalam keremangan senja. Dan kini, perempuan lain hadir dalam hidupku hanya untuk sekedar mengingatkan perihal masa lalu itu.

Aku yakin ia tidak sedang merasa seperti Inez yang batal menikah dengan Francis Lim, hanya gara-gara Francis masih punya masa lalu yang belum selesai dengan Retno.* Ah, sudahlah. Hidup ini tidak seperti novel walau kadang diperlukan waktu yang panjang untuk menyudahinya dan kejutan-kejutan hebat sebagai bumbu cerita.

"Kadang tidak perlu benar-benar jahat untuk jadi penjahat..."
"Kata siapa? Apa itu sindiran buatku?"
"Ya, jika kau merasa..."
"Lantas?"
"Tidak perlu memaksa melupakan bila memang tak sanggup"
"Kamu cemburu?"
"........."

Aku rasa berkomitmen itu mudah dan bukan sesuatu yang 'sakral'. Komitmen adalah bagaikan memilih barang di etalase toko. Kalau suka, ambil. Kalau memang tidak, ya sudah jangan dibeli. Dalam komitmen, yang dibutuhkan hanya kesungguhan untuk menjalani hidup bersama tanpa harus melupakan diri masing-masing. Toh, kita masih bisa tetap jadi diri sendiri. Tetapi, apakah meninggalkan segala ingatan tentang masa lalu adalah bagian dari komitmen itu juga?

Semua orang punya rahasia masing-masing. Aku dan dia sama saja. Kita sama-sama pernah punya lubang di hati. Aku rasa kita berdua telah sama dewasa. Bicara dengan logika walau terkadang perempuan itu cenderung melibatkan emosinya.

"Sudah berapa lama kamu berhenti menemuinya?"
"Sejak aku mengenalmu"
"Gombal"

Aku memang pernah menginginkannya. Aku memang selalu rindu padanya. Pada tatap hangat dan senyuman yang merekah indah setiap pagi. Pada semua momen bersama yang terlalu indah dilepaskan. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa aku pula yang menghentikan perasaan itu. Aku memang meninggalkan luka padanya, itu memang salahku. Lagipula, aku tidak akan memaafkan diriku bila aku sampai hati memainkan perasaannya. Aku sedang tidak ingin serius apalagi sampai harus memegang komitmen. Untuk apa? Dengan diriku saja aku masih belum bisa berkomitmen apalagi dengan dia.

"Kamu masih ingat perjumpaan kita?"
"Masih, bagaimana bisa aku lupa?"
"Apakah itu suatu penyangkalan?"
"Tentu tidak. Kamu tentu tahu betapa hebatnya ingatanku."
"Apa itu sebabnya kamu masih belum bisa lepas darinya?"
"Apakah kamu minta penjelasan?"
"Things happens for a reason..."
"Not everything in common..."
"Ah, tentu kamu masih ada rasa..."
"Itu untukmu..."
"Is that a compliment?"
"Akuilah, kamu cemburu?"

Perempuan itu terdiam lagi. Senyum tipisnya merekah seakan penuh kemenangan. Perlahan ia hirup aroma kopi Aceh pesanannya. Betapa sederhananya menemukan kebahagiaan dalam hidup ini walau hanya dalam aroma kopi.

"Kadang terlintas untuk cemburu, tapi buat apa? Toh aku tahu kamu tidak akan kembali pada masa lalumu."
"Mengapa kamu begitu yakin? Aku bisa saja melakukannya."
"Aku percaya kamu takkan pernah bisa melakukannya"
"Mengapa tidak?"
"Aku ini bukan apa-apa sehingga seandainya kehilangan dirimu pun aku rela, tak ada yang abadi walau memang kadang terlalu sulit menerima kenyataan... Sebab jarum jam tak pernah berputar ke kiri."

Kalimat terakhirnya cukup membuatku merasa bersalah. Aku tidak pernah meragukan dirinya. Sudah terlalu banyak 'pertengkaran' semacam ini. Suatu proses atas nama pendewasaan. Kami pun cukup sadar untuk melewati gerimis berkerikil tajam ini. Bukan suatu alasan untuk menyerah dan berpisah.

Ada ribuan tanya. Bukankah mencintainya adalah hal terbaik yang bisa kulakukan? Setelah reda semua gelisah, aku berhasil memenangkan hatinya. Sebuah pertempuran rasa yang tak mudah. Aku adalah kepingan hatinya yang berserakan. Kepingan-kepingan yang kini menyatu menjadi puzzle yang utuh dan menjelma dalam sosok diriku.

Dalam keremangan senja gerimis benar-benar menutup hari serupa tirai bioskop tanda usai pertunjukan. Lampu temaram jalanan mulai menghiasi sudut kota. Pekerja kantoran mulai berhamburan, sebagian menutupi kepala sebisa mereka. Pertanda episode kehidupan segera dimulai kembali.

"Memang sulit untuk menutup masa lalu, apalagi tentang dia.."
"Maksud kamu?"
"Selesai tidak selesai itu hanya dipikiranmu saja. Aku tidak tahu apa-apa."
"Apakah itu mengubah sesuatu?"
"Mungkin saja!"
"Apa itu?"
"Mungkin tidak ada bedanya. You do well and I'll live mine."

Ingatanku kembali pada Inez, yang mungkin punya sejuta tanya tentang mengapa Francis meninggalkannya hanya demi sebuah masa lalu yang tertinggal dan belum selesai. Bukanlah masa lalu itu adalah akhir dan kita hanya diperbolehkan untuk menengok sebentar. Bukan lantas tinggal kembali dan menjalaninya sementara melupakan hari ini. Masa lalu hanyalah sejarah kecil dalam rangkaian perjalanan panjang bernama hidup.

Aku tersadar ketika perempuan itu memelukku erat dalam guyuran gerimis. Aroma perpisahan mulai mewangi. Aku harap bukan, mungkin itu sisa parfumnya. Perempuan itu bergegas mengejar taksi. Dalam hitungan detik, perempuan itu menuju belantara kemacetan. Macet di Jakarta adalah bagai dosa yang takkan berakhir. Kulangkahkan kaki, sambil bergumam dalam hati: I'm all alone, and life is very long.

Ponselku berbunyi. Yup. Malam ini aku ada kencan dengan Cinta. Yeah!


 Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 14 Februari 2012.

*baca cerita Francis Lim dan Retno dalam buku “Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona!” karya Adhitya Mulya (et.al), Gagasmedia, 2007.
 *cerpen dimuat dalam "The Greatest Love of All: Tribute to Whitney Vol. 2"