Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2016

Para Priyayi

Courtesy: www.goodreads.com

Catatan Pembuka
Another monumental works from Umar Kayam. Saya harus akui bahwa buku ini punya daya jangkau yang luas dan lintas generasi.

Sudah lama sekali saya mengidamkan buku ini. Terlebih setelah berhasil mendapatkan "Mangan Ora Mangan Kumpul". "Para Priyayi" selalu menggelitik rasa penasaran saya. Tentang bagaimana status priyayi itu berkembang menjadi sebuah identitas yang memiliki tingkatan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Setidaknya, saya membutuhkan gambaran tentang hal itu, dimana priyayi telah menjadi semacam gengsi kelas dalam tatanan hidup bermasyarakat.

Saya belum sampai pada halaman setengah buku ini. Namun, sudah cukup memiliki gambaran bagaimana priyayi itu "dilestarikan". Saya juga belum sampai pada jawaban, apakah yang dimaksud dengan priyayi itu sendiri? Apakah sebuah status kelas dalam masyarakat? Apakah hanya sekedar istilah dan sebutan bagi para kaum elite birokrasi? Lantas apa bedanya dengan birokrat? Apakah priyayi ini jalan hidup atau hanya sebuah gaya hidup belaka?

Apapun itu jawabannya, saya masih harus menamatkan buku ini terlebih dahulu. Sebagai kewajiban untuk memahami secara utuh seorang priyayi menurut penuturan Umar Kayam.


Para Priyayi

Membaca beberapa halaman pembukaan buku ini sama rasanya dengan membaca karya-karya Ahmad Tohari. Perasaan khas pedesaan yang timbul turut menjadi satu nuansa yang tidak terlupakan. Tidak hanya itu saja. Para penulis seperti mereka pandai mengolah rasa dalam tulisannya sehingga gairah pedesaan itu begitu hidup dan remarkable. Mereka menjadikan desa menjadi sebesar dunia-dengan segala permasalahannya.

Saya lebih senang menandai "Para Priyayi" ini sebagai sebuah roman, bukan novel. Umar Kayam berhasil meletakkan segala macam permasalahan priyayi, sejak awal mula trah keluarga dibangun hingga perjalanan melintas masa. Dengan berbagai sudut pandang yang dinamis, "Para Priyayi" tidak memandang priyayi sebagai satu hal yang statis. Ia menjelma bukan hanya sebagai kata benda, tetapi juga menjadi sebuah kata kerja.

Kehidupan Ndoro Seten diceritakan begitu gamblang; lengkap dengan segala permasalahan kehidupan sehari-hari. Ketiga anaknya berhasil menjadi priyayi seperti yang didambakannya. Sebuah penghargaan dan status sosial yang punya tempat tersendiri di lingkup sosiologis masyarakat pedesaan.

Konflik mulai meninggi ketika keturunan para priyayi ini berkembang sesuai zamannya. Bahkan hingga ada yang tersangkut kasus G30S/PKI. Cara Umar Kayam mengakhiri kemelut-kemelut ini terkesan tidak tergesa-gesa, melainkan berhasil memunculkan solusi dalam konteks kepriyayian. Pun, dengan demikian kepriyayian yang sedari awal sudah dibangun tidak lantas hilang begitu saja diretas zaman. Just like any romantic roman, the stories ends with happy ending.

Memang dibutuhkan stamina membaca yang tinggi untuk menyelesaikan roman ini. Namun, itu semua akan terbayar dengan permainan alur cerita dan konflik yang apik. Umar Kayam memadukan filosofi Jawa dan kepriyayian sesuai dengan zamannya. Nilai-nilai yang tidak lekang dimakan usia adalah satu nilai tambah untuk karya-karya semacam ini.


Judul       : Para Priyayi
Penulis    : Umar Kayam
Penerbit   : Pustaka Utama Grafiti
Tahun      : 2008
Tebal       : 337 hal.
Genre      : Roman Klasik-Sastra Indonesia


Medan Merdeka Barat-Cipayung, 30 Oktober 2016.

Kamis, 29 September 2016

Kode Untuk Republik: Sejarah Kiprah Sandi Negara

"Ada benang merah antara kerahasiaan dan kemerdekaan, di Indonesia kita menyebutnya Sandi Negara."

Impresi pertama saya atas buku ini adalah buku ini harus saya miliki karena bicara tentang sejarah republik. Menilik judulnya, "Kode Untuk Republik" tentunya bicara soal peran kode-kode yang dihandle oleh sebuah Dinas perkodean pada masa perang kemerdekaan. Dinas perkodean tersebut selanjutnya dinamakan Dinas Kode. Kini, Dinas Kode telah berevolusi menjadi sebuah badan otonom dibawah komando Presiden yaitu Lembaga Sandi Negara.
 
Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini terhitung memiliki cakupan yang lengkap. Artinya, selain menggunakan sitasi referensi yang valid dan meyakinkan, penulisnya terampil untuk memasukkan sejarah penciptaan sandi. Tentunya, hal ini berguna bagi pembaca awam sebagai penyelaras konteks sebelum pembacaan detail mengenai peran kode dalam perang kemerdekaan. Awalnya, bagi sebagian pembaca mungkin terasa membosankan namun bisa tulisan tersebut diabaikan agak sulit untuk memahami beberapa istilah yang digunakan pada bab-bab berikutnya.

Penulis mengambil alur sejarah mulai dari Perang Dunia Kedua, dimana sebuah mesin bernama 'Enigma' menjadi sebuah kartu as bagi Pasukan Jerman dalam menaklukkan daerah-daerah incarannya. Dari Perang Dunia itu, imbas yang terasa pada Indonesia adalah drama kekalahan Jepang. Rencana operasi militer Jepang dapat diketahui Sekutu melalui mesin-mesin pemecah kode sehingga mereka bisa menyiapkan serangan untuk menghalau aksi Jepang.

"Perang Kode" antara pemerintahan Republik melawan pemerintahan Hindia Belanda yang berupaya untuk menduduki kembali Indonesia terjadi secara terbuka. Dinas Intelijen Militer Hindia Belanda, NEFIS, yang selama pendudukan Jepang hijrah ke Australia kembali ke Indonesia usai perjanjian-perjanjian antara Republik dengan Hindia Belanda. 

Dinas Kode mulai mendapati peran pentingnya ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I dan II. Dengan siasat gerilya kolaboratif, petugas-petugas sandi setidaknya berhasil menyampaikan beberapa pesan penting, untuk membuktikan bahwa Republik benar-benar masih ada. Mereka adalah pahlawan-pahlawan perang kemerdekaan yang sayangnya kini tidak banyak dikenal. Bersyukur sekali, buku ini mampu menghadirkan kembali kenangan atas mereka sebagai usaha apresiasi atas segala daya upaya dan usaha mereka untuk Republik.

Dinas Kode sendiri mengalami beberapa perubahan nomenklatur sejak berada di Djawatan Sandi Angkatan Perang, Djawatan Sandi, hingga menjadi Lembaga Sandi Negara yang berurusan dengan segala macam tetek bengek kriptografi untuk kepentingan pemerintah NKRI.

Saya tidak kesulitan menamatkan buku ini. Buku ini menyitir kembali buku-buku yang telah saya tamatkan yaitu "Doorstoot naar Djokdja" karya Julius Pour dan biografi Jenderal Spoor karya J. A. de Moor. Buku ini ditulis dengan sistematis dan memiliki daftar pustaka sebagaimana layaknya buku-buku sejarah. Untuk saya, hal ini adalah sangat penting. Agar "Kode Untuk Republik" tidak hanya menjadi penghias di perpustakaan Lembaga Sandi Negara semata. Tetapi juga, menjadi lentera bagi republik.

Judul        : Kode Untuk Republik
Penulis        : Pratama D. Prasadha
Penerbit    : PT. Marawa Tiga Warna
Tahun        : 2015
Tebal        : 237 hal.
Genre        : Sejarah Indonesia

Cipayung, 23 Agustus 2016.

Selasa, 28 Juli 2015

Gelandangan di Kampung Sendiri

"Orang lebih takut kepada ketakutan dibanding kepada Tuhan." 
Hal. 233


Dinamika sosial berlangsung dari waktu ke waktu. Sejak negeri ini mulai berdialektika dengan kemerdekaannya sendiri. Melalui buku ini, agaknya Emha masih melontarkan kritik sosialnya pada berbagai persoalan pembangunan. Buku ini menghimpun catatan-catatan Emha yang terbit pada rentang tahun 1991-1994 di berbagai media cetak seperti Suara Pembaruan, Suara Karya, dan Surya serta beberapa dokumentasi pribadinya. 

Dilema pembangunan yang membawa arus modernitas tidak bisa tidak berhadapan dengan arus kehidupan masyarakat yang masih agraristik. Hal itu masih dapat dirasakan pada konteks kekinian, dimana tidak banyak perubahan yang terjadi sejak buku ini terbit pertama kali pada tahun 1995 hingga kini. Kalaupun boleh menambahi, arus modernisasi dan globalisasi saja yang semakin membawa pengaruh.

Bagian pertama dan kedua buku dinamakan sebagai "Pengaduan I" dan "Pengaduan II". Emha mengumpulkan berbagai pengalaman dan keluh-kesah orang-orang yang mendatanginya. Kemungkinan besar, kalau dilihat dari bahasa penyampaiannya, berasal dari rubrik yang diasuhnya  di harian Surya. 

Esai-esainya memberi banyak pencerahan sekaligus refleksi tentang nilai dan hubungan kemanusiaan yang kian pudar. Riuh pembangunan telah mengikis kesadaran manusiawi menjadi kepatuhan yang berdasar pada ketakutan. Personally, buku ini juga membuat saya teringat pada kalimat pembuka lirik lagu "Tombo Ati" gubahan Emha dan Kiai Kanjeng. 

Dua bab selanjutnya diberi judul "Ekspresi" dan "Visi". Pada bagian inilah Emha menyatakan ketidaksetujuannya pada tatanan birokratik yang terus menerus mewajibkan rakyat berpartisipasi dalam pembangunan. Benturan-benturan dalam masyarakat yang sengaja diciptakan dan dikondisikan dalam menyambut Pemilu 1992 hanyalah contoh kecil. 

Emha juga menyertakan contoh bagaimana mahasiswa KKN yang datang dari kota dengan segala keilmuan dan arus modern yang dibawanya berhadapan dengan masyarakat pedesaan yang diwakili Pak Mataki, Bu Limah, dan Pak Dayik. Dialektika antara keduanya menjadi hal yang patut direnungkan bersama.

Apakah semua kemajuan pembangunan ini lantas membuat kita jadi gelandangan di kampung sendiri? 


Judul        : Gelandangan di Kampung Sendiri: Pengaduan Orang-Orang Pinggiran
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 292 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Sosial-Budaya


Dharmawangsa, 31 Mei 2015. 

Kamis, 16 April 2015

Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu

“Tuhan, berikanlah zaman kala bendhu setiap hari, supaya besok pagi saya bisa tetap berkarya.”

Kira-kira begitulah bunyi doa seorang karikaturis setiap hari. Pengharapan setiap harinya adalah sebuah inspirasi baru dari suatu zaman atau masa yang ditinggali dan dijalaninya. Karya yang dibuatnya setiap hari adalah bukan hanya sebuah pesan belaka. Gambar yang dibuatnya menjadi sebuah saluran untuk menyuarakan pendapat dan menyebarluaskannya pada khalayak ramai.

Ketika saluran untuk menyampaikan pendapat atau kritik tersumbat, maka karikatur merupakan salah satu jawabannya. Satir yang dituangkan ke dalam gambar membuat daya kritik menjadi tidak langsung, sehingga tidak terlalu terasa menyakitkan. Sejak kemunculannya yang pertama, Panji Koming menjadi saluran untuk mengemukakan ketidakberdayaan. Saat zaman membuat sulit untuk menyampaikan pendapat atau kritik, karikatur menjadi penting dan bermakna.



Kritikan melalui karikatur tetap mempunyai tempatnya sendiri. Hanya, pengukuran kualitas menjadi lebih berat karena yang dituntut bukan hanya alur cerita yang mengalir ataupun komposisi gambar yang lebih mengena tetapi kualitas kritikan yang lebih cerdas.

Panji Koming membuat kita jadi semakin melek informasi. Panji Koming selalu cerdik dalam menemukan sudut pandang yang unik dalam menatap sebuah peristiwa sosial dan politik. Walaupun, mengambil rentetan peristiwa Zaman Majapahit, tetap saja dengan mudah kita mengaitkannya dengan fakta-fakta kontemporer.

Sejak Orde Baru masih bertahta, Panji Koming cenderung tampil serba tersamar dan cenderung tiarap. Ada kesengajaan adegan untuk dikaitkan kepada penguasa negara. Hingga masa orde reformasi dengan segala keterbukaan saat ini, Panji Koming tidak serta merta mengubah tutur ucapnya. Panji Koming tetap hadir dalam kemasan yang bijaksana, santun, nylekit, dan mengusung atmosfir budaya Jawa, guyon parikeno.

Kala Bendhu merupakan keberadaan dalam pemikiran masyarakat Jawa tentang zaman yang terkutuk dan sangat tidak menyenangkan. Kurang lebih, masyarakat secara umum dikuasai kebendaan. Dalam pandangan kartunal, zaman Kala Bendhu disebutkan sebagai zaman culun dan menyebalkan. Bagi kartunis, hal ini jadi lahan berkembangnya kreativitas yang sangat luas, aneh dan beragam. 

Pada edisi ini, Panji Koming mengambil plot Indonesia tahun 2003 hingga 2007. Zaman yang lebih memekik daripada Orde Baru, dimana peninggalan sisa-sisa Orde Baru belum sepenuhnya surut. Tahun-tahun yang penuh dengan tebaran peraturan dan tuaian pelanggaran. Penuh dengan lagu tanpa nada, penuh dengan nada tanpa suara. Penuh dengan penyanyi tanpa manusia. Ibarat telur diujung tanduk. Panji Koming menggiring kita untuk melihat keatas, bagiamana para pengatur negeri ini...membiarkan telur nangkring di ujung tanduk.

Judul        : Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu
Penulis     : Dwi Koendoro Br
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tebal        : 144 Hal.
Tahun       : 2008
Genre       : Karikatur-Komedi


Dharmawangsa, 26 Maret 2015.

Sabtu, 28 September 2013

Cinta di Atas Perahu Cadik


Mukadimah

Sudah sejak 2008 lalu saya memendam keinginan untuk membaca buku ini. Maklum, dalam kumpulan cerpen terbaik ini ada cerpen dari penulis favorit. Sebut saja, Seno Gumira Ajidarma dan Budi Darma. Serta tidak ketinggalan, Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu. Seringkali saya hanya mampu menatapi buku ini setiap mampir ke toko buku langganan di Palasari. Tanpa mampu menggenggamnya hingga ke meja kasir.

Lima tahun kemudian, saya berhasil menamatkan pembacaan buku ini. Saya rasa ada alasan mengapa Tuhan baru mempertemukan kembali kami sekarang ini. Agaknya, saya telah membuktikan apa yang pernah ditulis SGA dalam cerpen 'Linguae': Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lama pun selama aku mencintainya.

Catatan Empat Cerpen

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen terbaik dari Seno Gumira Ajidarma yang berjudul sama dengan judul buku. Kisah seorang Sukab dan Hayati yang saling mencintai walau keduanya telah sama berpasangan. Berlatar kehidupan masyarakat nelayan pesisir, cerita ini seakan-akan mewakili kenyataan hidup yang berlangsung sehari-hari. Kecuali, bila pembaca menggugat hilangnya Sukab dan Hayati selama tujuh hari itu sebagai hal yang tidak masuk akal.

Cerpen lain yang menjadi favorit dalam buku ini adalah 'Kisah Pilot Bejo' yang ditulis oleh Budi Darma. Kisah seorang pilot bernama Bejo yang selalu 'bejo' dalam menerbangkan pesawat. Budi Darma agaknya mengambil sebuah realita yang kemudian dituangkannya kembali dalam bentuk sebuah cerita pendek. Pembaca tentu sudah lebih paham bila membaca metafora dan analogi yang disajikan oleh Budi Darma. 'Kisah Pilot Bejo' memberikan kita gambaran bahwa dunia penerbangan di negeri kita pernah mengalami hal yang demikian.

'Gerhana Mata', dari Djenar Maesa Ayu adalah cerita yang saya sukai dari segi penuturan dan bahasa. Pemilihan diksi yang tepat menjadi kunci cerpen ini untuk merebut hati saya.

"Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan." 

Betapa sebuah dunia dapat menjadi nyata dalam gelap. Hanya dalam gelap sang narator dalam cerita dapat merasakan cinta. Selebihnya, saya mendapat nuansa realitas yang kental dalam cerpen ini. Pertemuan sepasang kekasih yang terlarang adalah sebuah bumbu kehidupan metropolitan. Atas nama cinta, semuanya terjadi.

Cerpen 'Tukang Jahit' dari Agus Noor sudah menyentak sejak paragraf awal. Jarum dan benang si tukang jahit yang konon diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya adalah satu unsur kejutan yang mau tidak mau sukses menggiring pembaca untuk terus melanjutkan pembacaan atas cerpen ini. Tukang jahit ini bukan tukang jahit sembarangan. Tukang jahit ini adalah satu-satunya yang tersisa dari sekian banyak tukang jahit yang pernah berjaya di kota itu. Ia tidak hanya menjahitkan pakaian. ia juga mampu menjahit kebahagiaan.

Sepintas, cerita ini mengingatkan saya pada cerpen SGA lainnya yaitu 'Manusia Gerobak'. Baik SGA maupun Agus Noor menceritakan manusia gerobak dan tukang jahit yang sama-sama muncul setiap menjelang lebaran. Saya tidak heran akan hal seperti ini. Kalau pembaca sudah sering menbaca karya mereka, tentu akan dapat menarik suatu benang merah atas keduanya.

Cerpen Lainnya

Cerpen lain dalam buku ini juga memiliki nilai dan pesannya masing-masing. 'Lampu Ibu' yang ditulis Adek Alwi bercerita tentang kekuatan dan ketegaran seorang Ibu. Terutama, ketika satu anaknya tersangkut kasus korupsi dan jatuh sakit. Ada nilai moral yang dapat diambil dari cerita itu. Terlebih, kasih Ibu tiada batasnya, tak terhingga sepanjang masa.

Cerita tentang legenda tukang nasi goreng bernama Koh Su pun tak kalah menariknya. Kerinduan akan rasa dan segenap misteri yang menyelubungi Koh Su menjadi bumbu yang membuat cerpen ini semakin menarik dan penasaran. Cerpen 'Koh Su' tulisan Puthut EA ini harus disimak betul sampai akhir cerita bila memang pembaca penasaran soal asal usul Koh Su dan bumbu nasi goreng ajaibnya.

Romantisme masa lalu turut juga dihadirkan oleh Wilson Nadeak lewat 'Serdadu Tua dan Jipnya'. Kisah seorang pensiunan yang menghabiskan sisa hidupnya dengan memelihara sebuah jip Willys tua ini menjadi suatu romantika tersendiri. Romantika itu hadir dalam segenap konflik antara si serdadu tua dengan istrinya. Namun, penulisnya berhasil mengubah haluan sehingga akhir (ending) dari cerita ini tidak selesai disitu.

'Sinai' dari Dewi Ria Utari dan 'Belenggu Salju' dari Triyanto Tiwikromo adalah dua cerpen satir yang cenderung gelap. Keduanya bercerita tentang gelapnya jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah keabadian. Sedang, 'Bigau' yang ditulis Damhuri Muhammad, lebih mengangkat unsur dan nilai legenda tradisional. 'Bigau' bercerita tentang seorang jagoan yang memiliki kesaktian yang diperolehnya lewat sebuah cara yang hanya dia saja yang mampu melakukannya. Konflik muncul ketika ia harus mewariskannya.

'Lak-Uk Kam' dari Gus Tf Sakai bercerita soal penjaga mercusuar yang selalu sendirian setiap bertugas. Tiga bulan sekali ia dirotasi ke mercusuar-mercusuar lain. Tiga bula sekali pula ia merasakan kesendirian yang sama.

GM Sudarta muncul dalam kumpulan cerpen ini. Sebagaimana telah kita kenal sebelumnya, GM Sudarta adalah seorang kartunis dengan karyanya yang mashur yaitu 'Oom Pasikom'. Cerpen 'Candik Ala' yang ditulisnya mengingatkan saya pada lirik pembuka pada lagu Koes Plus, "Melati Biru'. Cerpen ini bercerita soal kenangan seorang anak terhadap ayahnya. Dibumbui dengan candikala, suatu titimangsa dimana batas-batas gaib menjadi samar.

'Sepatu Tuhan' yang ditulis Ugoran Prasad, seketika mengingatkan kita kepada sepakbola, terutama soal piala dunia. Simak kisah sepatu Franz Beckenbauer dan si 'Tangan Tuhan' Maradona. Romantisme sepakbola dan melankoli persahabatan adalah dua unsur yang berpadu dalam cerpen ini.

Dua cerpen terakhir pun agaknya juga mengesankan bagi saya. 'Hari Terakhir Mei Lan' yang ditulis Soeprijadi  Tomodihardjo membawa pembaca pada suasana China dimasa penuh pergolakan. Sedangkan, 'Gerimis Yang Sederhana' dari Eka Kurniawan, yang sekaligus jadi cerpen terakhir, bercerita soal pertemuan dua orang. Yang membuat saya menyunggingkan senyum adalah kenyataan bahwa si pria menyembunyikan cincin kawinnya dan tak sengaja tercampur dengan recehan yang ia berikan pada pengemis. Betapa naifnya hidup ini bahwa masih saja ada cerita soal pria beristri yang menyembunyikan identitasnya setiap akan menemui seorang perempuan yang baru dikenalnya.

Konklusi

Sebuah cerpen berpacu dengan keterbatasan ruang cerita. Apalagi, ketika harus muncul dalam ruang media cetak koran. Penulis dituntut mampu membuat cerita pendek yang kaya dengan sintesa pengalaman dengan cara yang meyakinkan. Oleh karena itu, setiap cerpen yang muncul di hari Minggu ini memiliki konflik dari dunianya sendiri. Dunia yang terbentuk dalam keterbatasan ruang cerita. Sekalipun begitu, semuanya membuktikan bahwa dalam sebuah keterbatasan ada banyak ruang untuk sebuah cerita.


Paninggilan, 14 September 2013.


Minggu, 10 Maret 2013

Zero Dark Thirty: An American Revenge

“I'm going to smoke everyone involved in this op and then I'm going to kill bin Laden.” 
 – Maya (Jessica Chastain)

Osama bin Laden adalah sosok yang mengubah konstelasi peradaban dunia sejak peristiwa 9/11. Rentetan peristiwa yang tak urung mengubah kondisi geopolitik dunia, dimulai dengan invasi ke Afghanistan tahun 2001, dan penyerbuan terhadap Irak tahun 2003. Okupansi yang masih terus berlangsung hingga hari ini. Segenap pemboman dibelahan dunia lain seperti di London 2005 pun dikaitkan dengan tokoh utama Al Qaeda ini. Sehingga kepalanya dihargai sangat tinggi oleh para pemburunya.


Zero Dark Thirty menampilkan thriller khas Amerika. Konspiratif dan provokatif. Ketegangan dimulai sejak scene pertama. Interogasi atas tahanan yang dianggap sebagai penyiksaan ditampilkan sebagai sesuatu yang biasa terjadi. Sang interogator tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik.

Cerita terus berlanjut. Kegagalan demi kegagalan mengikuti misi CIA dalam melindungi ‘homeland’. Serangan bom bunuh diri kian marak. Al Qaeda mengaku bertanggungjawab atas semua kejadian itu. Puncaknya, bom bunuh diri yang dilakukan seorang martir Al Qaeda di field base operation CIA. CIA semakin dibuat kebingungan dalam menentukan target besar yang mereka cari, Osama bin Laden.


Sudah jadi rahasia umum bahwa Osama bin Laden bersembunyi di suatu tempat yang rahasia. Suatu tempat terpencil yang tetap masih bisa membuatnya berhubungan dengan dunia luar. Persembunyian Osama di Abbottabad, Pakistan pun akhirnya berhasil ditemukan oleh CIA. Namun, butuh waktu sekitar 100 hari lebih sebelum akhirnya para pemimpin CIA mengambil tindakan atas informasi intelijen itu.

Atas prakarsa Maya (Jessica Chastain) informasi keberadaan Osama dapat ditindaklanjuti. Serangan ke Abbottabad akan dilakukan oleh pasukan khusus NAVY SEAL dengan menggunakan dua helikopter Apache yang telah dimodifikasi ‘stealth mode’. Menarik, karena dua helikopter ini disimpan di Area 51 Nevada AFB.



Penyerbuan pun dilakukan. Satu helikopter gagal mendarat dengan sempurna. Walau begitu, tanpa kehilangan personil, NAVY SEAL tetap menerobos markas persembunyian Osama. Tidak ada perlawanan berarti. Kecuali, beberapa tembakan dari pengawal Osama. Adegan kekerasan muncul sepanjang penyerbuan dan pembunuhan terhadap terrorists suspect. Hingga akhirnya NAVY SEAL berhasil memastikan Osama bin Laden telah berhasil dibunuh.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Pertama kali mengetahui peristiwa penyerbuan untuk memburu Osama bin Laden pada Mei 2011 ini akan difilmkan yaitu waktu saya menonton “Habibie dan Ainun” awal bulan Januari kemarin. Dalam trailer film, sudah nampak beberapa adegan yang jelas-jelas bakal menunjukkan rating film ini sebagai Restricted, Parental Guidance. Sejak itu, saya berspekulasi bahwa Zero Dark Thirty adalah sebuah film dokumenter. Ternyata, saya salah. Film ini adalah sebuah thriller.


Sayangnya, saya tidak menemukan banyak adegan tembak menembak seperti dalam serial film intelijen seperti The Bourne Quartology dan James Bond. Kebanyakan adegan dalam film ini menampilkan beberapa persoalan internal CIA, seperti kapan mereka akan mengambil tindakan, dan segenap kegagalan CIA dalam menemukan ancaman ‘imminent threat’.

Zero Dark Thirty adalah sebuah istilah “slang language” dalam konteks militer, untuk waktu yang disebut sebagai “early hours of the morning before dawn”. Relevansinya dengan film ini adalah bahwa peristiwa penyerbuan ke markas terakhir Osama dilakukan pada tengah malam hingga pukul 2 pagi pada tanggal 2 Mei 2011. Istilah ini juga melambangkan selubung kegelapan dan kerahasiaan yang merundungi satu dekade usaha penangkapan Osama bin Laden.

Zero Dark Thirty seakan menjadi legitimasi bagi tindakan Amerika Serikat dalam memberantas  terorisme global. Segala tindakan yang mengancam keamanan dalam negeri sekaligus hegemoni Amerika Serikat di panggung dunia akan mereka lumat habis, tak terkecuali. Sebuah balas dendam a la Amerika terhadap semua yang Al Qaeda pernah lakukan atas mereka. Bagaimanapun, sejarah tetap mencatat bahwa perburuan terhadap Osama bin Laden adalah sebuah perjalanan panjang dalam sejarah umat manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Judul           : Zero Dark Thirty
Sutradara    : Kathryn Bigelow
Cast            : Jessica Chastain, Jason Clarke, Reda Kateeb, Joel Edgerton, Jennifer Ehle
Tahun         : 2013
Produksi     : Columbia Pictures

Paninggilan, 9 Maret 2013.

Rabu, 09 Januari 2013

Anak Tanah Air: Sebuah Kronik Kebudayaan

“Karena itu, lebih baik jangan ikut-ikutan politik. Yang penting bagi seniman....”
“Mencipta!”


Tidak banyak roman yang berlatar sejarah perjalanan bangsa. Apalagi sampai harus menceritakan segala persoalan yang menyangkut kesenian. Perkembangan kesenian di Indonesia mengalami pasang surut pada masa-masa awal kemerdekaan. Pergolakan ideologis antara kaum nasionalis, agamis, dan komunis menjadikan kesenian sebagai peluru bagi perjuangan ideologis mereka.

Pergulatan antar wacana kesenian dari masing-masing golongan menyebabkan para seniman yang berkecimpung di dalamnya harus menentukan sikap. Sebuah pilihan atas keberpihakan pada tujuan kesenian itu sendiri. Tak pelak, kenyataan tersebut menjadi duduk persoalan yang menarik untuk dibahas.


Roman ini dengan jenius mengangkat problematika kesenian di masa itu. Lukisan sebagai objek dari kesenian yang menginduk pada seni lukis telah lebih dulu mendapat tempat bila dibandingkan dengan khazanah seni lainnya di negeri kita.

Tersebutlah, Ardi, seorang anak muda yang rela meninggalkan kampungnya untuk menempuh kehidupan barunya di kota bersama pamannya. Di kota itu, Ardi tumbuh sebagai pemuda yang mencintai seni terutama seni lukis. Dengan bakatnya itu, tidak terlalu sulit bagi kawan-kawan di sekelilingnya untuk menemukan mutiara yang terpendam. Kelak, Ardi pun mendapati jalannya sendiri untuk menjadi seorang pelukis.

Kehidupan sekolah yang dijalaninya tidak menghalangi upayanya. Bersama komunitas pelukis, Ardi mengembangkan bakatnya. Tahun demi tahun berlalu. Ardi telah mengalami metamorfosa. Impian untuk sekolah lebih tinggi ditinggalkannya. Ia hanya mau melukis dan jadi pelukis saja. Sebuah pilihan yang sampai saat ini masih dipandang sebelah mata.

Tekad kuatnya itu lantas menjadikannya seorang ilustrator handal. Walau begitu, Ardi tetap ingin mendapat pengakuan dan apresiasi terhadap dirinya sebagai pelukis. Lika-liku perjalanan hidup mengantarkan dirinya pada Hermin. Seorang gadis penikmat seni yang tahu betul menghargai sebuah karya seni lukis. Setelah mengenal beberapa lama, mereka menjalin suatu hubungan tanpa status (mengikuti istilah keren ABG saat ini). Pergumulan cinta dan perasaanya dengan Hermin tidak berlangsung lama. Hermin lantas mencampakkan Ardi karena ia sendiri telah terikat pada pria yang lain. Seseorang dari masa lalu yang tumbuh bersama Ardi, Asep Suwangsa.

Dalam kegamangannya, Ardi mulai surut langkah. Terlebih, usai menerima tawaran Suryo untuk bersama-sama menandatangani persetujuan atas Konsepsi Presiden. Ardi mulai berpolitik tanpa ia sadari. Keadaan ini menyebabkan berbagai kesulitan datang bertubi-tubi menghampirinya. Ardi masih tidak sadar bahwa sebagian kawannya menganggap ia bergabung dengan sayap organisasi partai politik yang saat itu didominasi partai komunis. Ardi kehilangan peluang untuk menyelenggarakan pameran tunggal karena sikap politiknya itu. Lantas, Ardi pun kehilangan pekerjaannya. Tidak ada lagi majalah, tabloid, atau penerbit buku yang meminta ilustrasinya.

Ketika harapan hampir padam, Suryo datang kembali padanya. Menawarinya untuk tetap mengadakan pameran tunggal sekaligus memberi pekerjaan pada suatu majalah bulanan.
Perhelatan pameran tunggal Ardi pun sukses. Pameran tunggalnya banyak mendapat apresiasi dari para seniman penggiat Lekra. Ardi merasa telah mendapat apresiasi yang sepantasnya. Ideologi kesenian yang harus berpihak pada rakyat telah menjadi ciri karya-karya lukisannya.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Tidaklah salah apabila karya Ajip Rosidi ini disebut sebuah roman. Anak Tanah Air dengan jelas menggambarkan detail-detail penceritaan Ajip Rosidi terhadap suatu fenomena tertentu. Masalah utama dari roman ini sudah jelas dapat ditemukan pada paragraf ini:
“Tetapi, apakah seniman harus tetap tak ambil peduli kepada keadaan tanah airnya? Keadaan bangsanya? Apakah seniman harus merasa cukup asal dia dapat mencipta dan mendapat tepuk tangan dari pengagumnya, padahal tanah airnya sendiri menuju jurang kehancuran?” (hal. 285)

Inilah yang menjadikan roman ini istimewa. Setidaknya, sampai menjelang setengah buku, belum nampak persoalan utama. Pembaca digiring untuk menerka-nerka apa yang menjadi subjek utama cerita dalam roman ini. Pengalaman pembaca akan diuji hingga tiga per empat buku terlampaui. Hingga menemukan berbagai persoalan tentang kesenian di masa revolusi pasca kemerdekaan.

Persoalan kebudayaan pada masa revolusi pasca kemerdekaan atau dengan kata lain pada saat Demokrasi Terpimpin mengerucut pada pertikaian dua kelompok besar: Manifes Kebudayaan (Manikebu) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Mengacu pada MLBL, telah terjadi pembakaran dan pelarangan atas karya-karya seniman Manikebu dan juga penahanan terhadap mereka.

Kesenian pada saat itu hanya menjadi satu peluru bagi perjuangan ideologis belaka. Kesenian menjadi satu alat bagi Presiden Sukarno untuk tetap memantapkan kekuasaannya. Untuk itu, ia tentu membutuhkan segenap dukungan tak terkecuali dari kaum kiri/komunis. Termasuk para seniman yang sepaham dengan jalan perjuangannya yang dituangkan dalam Konsepsi Presiden. Keadaan ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan masyarakat yang menuntut Presiden untuk segera membenahi hal-hal mendasar soal kehidupan berbangsa

Relevansi sejarah pun mengatakan demikian. Sukarno yang dengan istilah-istilah besarnya malah tidak berhasil membuat satu kemajuan apapun. Tidak ada kemajuan dalam semua bidang kehidupan.   Laju inflasi tidak tertahankan sehingga rakyat pun sangat sulit untuk makan menyebabkan pergolakan-pergolakan paada semua bidang kehidupan. Mengenai hal ini agaknya pembaca yang budiman dapat membuka kembali memoar Mohammad Hatta yang terkumpul dalam buku “Demokrasi Kita”.

Karena saya terlebih dahulu menamatkan Kubah (Ahmad Tohari) dan Mochtar Lubis Bicara Lurus (Ramadhan KH-ed), saya menemukan suatu benang merah atas segala peristiwa yang terjadi saat itu. Bila Kubah membahas persoalan seorang tahanan politik yang ingin kembali ke tengah masyarakat usai komunis dimusnahkan dari bumi pertiwi maka relevansinya dengan MLBL dan roman ini menjadi satu substansi yang saling melengkapi. Latar belakang waktu dalam Kubah dan realitas yang disampaikan Mochtar Lubis dalam bukunya dapat menjadi narasi pendukung bagi roman Anak Tanah Air ini. Bahwa pada suatu tertentu dalam perjalanan sejarah bangsa kita telah terjadi hal yang demikian. Dan itu adalah persoalan kesenian.

Melalui roman ini, Ajip Rosidi mencoba mengungkapkan kembali segala peristiwa penting yang terjadi pada masa Revolusi Kemerdekaan. Ajip Rosidi mengangkat kembali persoalan kehidupan seniman-utamanya pelukis- serta hubungannya dengan situasi dan kondisi politik di Indonesia pada tahun-tahun itu. Ajip Rosidi meninggalkan penanda bagi kita, generasi penerus bangsa, untuk tetap membaca dan mengkaji sejarah republik demi masa depan kesatuan dan keutuhan bangsa.

Judul        : Anak Tanah Air
Penulis        : Ajip Rosidi
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 2008 (cet. 2)
Tebal        : 374 hal.
Genre        : Roman
Pharmindo, 24 Desember 2012.

Selasa, 25 Desember 2012

Mochtar Lubis Bicara Lurus

"Sastrawan tak akan pernah ketinggalan bila dibanding wartawan! Karena sastrawan memang tidak berlomba dengan wartawan, dan sia-sialah usaha seorang wartawan, yang hendak berlomba dengan sastrawan." *)

Buku ini merangkum wawancara Mochtar Lubis dengan beberapa wartawan dari berbagai media cetak negeri ini. Kumpulan ini secara tidak langsung mendokumentasikan buah pikiran, ide, dan gagasan Mochtar Lubis dalam rentang waktu 20 tahun. Dimulai dengan artikel wawancara tertanggal 18 April 1975 dan berakhir dengan artikel tertanggal 23 November 1995.

Sampul Buku

Sesuai dengan judulnya, Mochtar Lubis benar-benar bicara lurus. Artinya, Mochtar bicara secara gamblang dengan gayanya, penuh dengan konsistensi atas segenap permasalahan yang dijadikan topik dan pertanyaan wawancara. Buku ini seakan membuka tabir Mochtar Lubis dalam perannya sebagai wartawan dan sastrawan.

Banyak hal disinggung dalam buku ini, mulai dari persoalan yang dihadapi bangsa ini sejak pra-kemerdekaan hingga masa kejayaan Orde Baru pada 80-90an. Dalam kesemuanya itu, sikap konsistensi Mochtar Lubis tidak pernah berubah. Sebagai contoh, simak tanggapan beliau soal kemerdekaan Indonesia yang tidak memerdekakan manusia Indonesia itu sendiri. Pernyataan beliau soal kemerdekaan itu selalu muncul berulang-ulang dalam berbagai judul artikel. Bagi Mochtar Lubis, pengejawantahan demokrasi Pancasila dan hak azasi manusia masih jadi isu retoris belaka dan tidak pernah benar-benar diamalkan.

Tidak hanya itu, Mochtar Lubis juga menyinggung soal kehidupan sastra di Indonesia. Terutama, beliau menyorot persoalan yang muncul antara Manikebu dan LEKRA. Tidak hanya sampai disitu, beliau membahas juga kontroversi yang muncul seputar dirinya dengan Pram (Pramoedya Ananta Toer), dan juga soal penganugerahan Magsaysay Award yang secara terang-terangan ditolaknya. Yang menarik, ada nama lain yang juga muncul selain penguasa Orde Lama dan Orde Baru, yaitu Budi Darma. 

Sebagai sesama sastrawan, Mochtar Lubis menganggap bahwa tidak sepantasnya Budi Darma melakukan kritik sastra. Dengan kata lain, Budi Darma tidak sepantasnya melakukan kritik atas karya sastra orang lain agar tidak kehilangan objektivitas dalam penilaian karya sastra tersebut. Alasan tersebut cukup masuk akal mengingat sikap Mochtar Lubis sendiri yang tidak pernah melakukan timbangan atau kritik sastra. Perlu dicatat juga bahwa mungkin saja alasan Budi Darma berperan sebagai kritikus dipengaruhi oleh latar belakang akademik yang mengharuskannya melakukan kajian-kajian sastra.

Buku ini setidaknya menggambarkan sikap seseorang yang teguh memegang prinsip dan setia pada amanat perjuangannya. Mochtar Lubis dengan 'lurus' bicara segala macam persoalan bangsa ini dengan konsistensi yang tidak tergoyahkan. Membacanya, justru akan menambah khazanah pengetahuan khalayak melalui penuturan seorang tokoh bangsa yang mengakhiri perjuangannya dengan paripurna.

Insert halaman buku: Foto-foto kenangan Mochtar Lubis
 
Insert halaman buku: Mochtar Lubis bersama anak angkat di Vietnam

Insert halaman buku: Mochtar Lubis di Vietnam

Insert halaman buku: Mochtar Lubis dengan anak angkat di Vietnam


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Ada beberapa hal yang saya cermati dalam buku Mochtar Lubis ini. FYI, buku ini adalah buku Mohctar Lubis kesekian yang saya baca setelah Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, dan Harimau-Harimau (tidak tamat). 

Saya tidak tahu apakah Mochtar Lubis ini juga tergolong ke dalam 'kaum futuris' yang selalu memimpikan tatanan baru Indonesia dalam Demokrasi Pancasila. Hal ini tersirat dalam satu petikan wawancara soal suksesi kepemimpinan tahun 1998 lalu. Mochtar Lubis telah lama memprediksi bahwa akan ada suksesi setelah tahun 1998 karena konstelasi politik dan tuntutan rakyat. Nyatanya, seperti yang telah kita alami sendiri, Soeharto mengakhiri masa kekuasaannya pada tahun 1998 tersebut.

Dalam catatan yang saya selipkan selama membaca buku ini muncul beberapa topik yang relevansinya masih tinggi dengan keadaan negeri kita saat ini. Sudah dari zamannya Mochtar Lubis bahwa partai dan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) yang seringkali mengaku sebagai penyambung lidah rakyat kehilangan kepercayaan dari rakyat itu sendiri. Kecenderungan tersebut menyebabkan keadaan politik yang tidak pernah stabil dan rawan KKN. Keadaan seperti itu masih berlangsung setidaknya sampai saat ini. Dengan demikian, sejarah telah menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang berulang. Entah bangsa kita yang gagal belajar darinya.

Soal kehidupan sastra di negeri ini, saya angkat topi pada sikap Mochtar Lubis yang 'menahan' dirinya untuk tidak tampil sebagai sastrawan sekaligus kritikus sastra. Sila simak beberapa wawancara, Mochtar Lubis beberapa kali menyatakan bahwa ia tidak akan mau untuk menulis suatu kritik atas suatu karya tertentu sesama sastrawan. Tentu saja, hal itu dilakukannya demi menjaga objektivitas.

Persoalan lain yang muncul soal sastra  adalah perseteruannya dengan Pram. Mochtar Lubis mengecam sikap Pram yang mengangkangi kebebasan berekspresi dalam sastra melalui segenap intimidasi pada harian Lentera yang dipimpin Pram. Menurut Mochtar Lubis, Pram telah melakukan kesalahan dalam sejarah sastra Indonesia dengan 'membakar' semua karya sastrawan anggota Manifest Kebudayaan. Harapannya hanya satu, agar mengingatkan kaum muda untuk tidak begitu saja melupakan sejarah yang terjadi pada masa itu.

Menurutnya, Pram tidak pernah mengakui kesalahannya itu. Mochtar Lubis dapat menerima karya-karya Pram tetapi tidak untuk sikapnya yang hanya diam ketika disinggung soal pembakaran tersebut. Mochtar Lubis tidak menuntut apa-apa kecuali Pram mau mengakui kesalahannya itu. Hingga saat Pram dianugerahi Ramon Magsaysay Award, sikap yang demikian itu tidak berubah. Sebagai protes atas penghargaan tersebut, Mochtar Lubis mengembalikan semua hadiah yang ia terima ketika mendapatkan penghargaan serupa yang diterimanya jauh sebelum Pram dinominasikan.

Entah pembaca mau menganggap Mochtar Lubis sebagai seorang utopis, idealis, sekaligus realis, yang jelas konsistensi sikapnya itu perlu jadi teladan. Mochtar Lubis tidak sembarang berkata. Semua yang diucapkannya dalam 'rekaman wawancara' ini menunjukkan konsekuen dan konsistensinya. Dan yang terpenting semua itu diungkapkannya sebagai sintesa sebuah pengalaman karena ia sendiri telah mengalami semua yang ia katakan itu. Kesesuaian tingkah laku dan ucapannya menjadi semacam 'trademark' yang sudah melekat bagi sebuah simbol atas nama: Mochtar Lubis.


Judul                     : Mochtar Lubis Bicara Lurus: Menjawab Pertanyaan Wartawan
Penulis                 : Ramadhan K. H (editor)
Penerbit                : Yayasan Obor Indonesia
Tahun                   : 1995
Tebal                     :315 hal.
Genre                   : Memoar-Tokoh


Paninggilan, 18 Desember 2012.


*) Petikan wawancara redaksi Memorandum, halaman 4.

Selasa, 29 November 2011

Potret Bangsa dari Empat Musim Presiden

Agak telat rasanya bila harus membandingkan kumpulan kartun yang terbit di empat zaman presiden dan mewarnai harian Kontan ini dengan kartun lain sebut saja Benny & Mice misalkan. Namun, disadari atau tidak, kehadiran kartun semacam itu telah menjadi suatu penanda zaman atas berbagai macam peristiwa dan fenomena yang mewarnai kehidupan masyarakat (utamanya kelas bawah).

Karya lain dari Benny Rachmadi ini agaknya lebih banyak bercerita dalam konteks ekonomi kebangsaan. Maksudnya, keadaan ekonomi yang berimbas pada seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa. Berbagai fenomena yang diangkat adalah tema yang dekat dengan keseharian rakyat kecil.

Walaupun secara "ideologis", harian Kontan ditujukan untuk segmen menengah atas yang bisa saja tidak tersentuh oleh beberapa fenomena tersebut. Tema-tema seputar langkanya BBM, gas 3kg, melemahnya rupiah, aksi spekulan hingga isu impor bahan pokok pangan adalah isu-isu yang sangat dekat dengan keseharian kita. Isu-isu ekonomi yang diangkat merupakan cerminan keadaan sosial masyarakat di negeri ini selama kurun waktu 2000-2009.

Kartun yang habis dibaca sekali duduk ini tidak menampilkan visualisasi grafis melalui panel-panel mirip komik. Hanya cukup dengan satu panel per halaman kartun itu seakan sudah bercerita sendiri tentang masalah kehidupan yang diangkatnya. Sometimes, a whisper louder than The Offspring*.

Konon, bisa menertawakan diri sendiri adalah hal yang luar biasa. Benny Rachmadi mengajak kita untuk melakukannya sekaligus berkaca dan mentafakkuri bahwa permasalahan yang demikian itu tidaklah seharusnya terjadi di negeri yang (katanya) gemah ripah loh jinawi.

Judul: Dari Presiden ke Presiden: Karut Marut Ekonomi (Buku 2)
Penulis: Benny Rachmadi
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2009
Tebal: x + 267 hal.
Genre: Kartun

Paninggilan, 15 November 2011.

* dari lirik lagu "Life is Free" dinyanyikan oleh Arkarna

Minggu, 02 Mei 2010

Pertanyaan Awal Bulan

Apa benar bahwa buruh yang berdemo itu tahu asal muasal dan sejarah peringatan Hari Buruh Sedunia?

Kalau memang pendidikan diciptakan untuk meningkatkan taraf hidup kenapa sekarang hanya jadi alat untuk cari makan?

Apakah Deo Mi lebih memilih Dong Young daripada Jang Bin? Lalu bagaimana dengan Joon Hee?

Apakah benar Hantu Hellenio Herrera yang ikut membantu memenangkan Italia di World Cup 1982 juga turut berperan dalam kemenangan Internazionale Milan atas Barcelona? Kalau benar begitu, apakah ia juga membisikkan teknik Catenaccio yang sama yang berhasil diterjemahkan oleh Mourinho?

Apakah Hitler ikut menuangkan sampanye ke gelas Mussolini untuk merayakan perjumpaan Bayern Muenchen dan Inter Milan di Final Liga Champions Eropa? Sementara, mungkin Joseph Goebbels, ajudannya bersiap-siap mengerahkan persenjataan ke arah Santiago Bernabeu untuk membalaskan dendam Jenderal Franco.

Apakah benar bahwa Jenderal Franco dan Churchill tidak akan terlalu sedih mengingat Fulham dan Atletico Madrid masuk Final UEFA Cup?

Kalau memang mau membongkar Kasus Century kenapa harus selalu Sri Mulyani?

Kalau sudah jadi tersangka akibat minta kredit dari Century kenapa harus berpikir kejadian itu dipolitisir?

Kenapa orang jujur selalu disingkirkan? Apakah karena ia tidak terlalu pintar?

Jaminan apa yang membuat IMF dan Uni Eropa akhirnya bersedia menggelontorkan kredit untuk menyelamatkan krisis keuangan di Yunani? Apakah sama berdampak sistemik juga?

Jaringan Teroris mana yang sedang mengancam India? MILFnya Abu Sayyaf atau pecahan kelompok Noordin M. Top?