Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2016

Para Priyayi

Courtesy: www.goodreads.com

Catatan Pembuka
Another monumental works from Umar Kayam. Saya harus akui bahwa buku ini punya daya jangkau yang luas dan lintas generasi.

Sudah lama sekali saya mengidamkan buku ini. Terlebih setelah berhasil mendapatkan "Mangan Ora Mangan Kumpul". "Para Priyayi" selalu menggelitik rasa penasaran saya. Tentang bagaimana status priyayi itu berkembang menjadi sebuah identitas yang memiliki tingkatan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Setidaknya, saya membutuhkan gambaran tentang hal itu, dimana priyayi telah menjadi semacam gengsi kelas dalam tatanan hidup bermasyarakat.

Saya belum sampai pada halaman setengah buku ini. Namun, sudah cukup memiliki gambaran bagaimana priyayi itu "dilestarikan". Saya juga belum sampai pada jawaban, apakah yang dimaksud dengan priyayi itu sendiri? Apakah sebuah status kelas dalam masyarakat? Apakah hanya sekedar istilah dan sebutan bagi para kaum elite birokrasi? Lantas apa bedanya dengan birokrat? Apakah priyayi ini jalan hidup atau hanya sebuah gaya hidup belaka?

Apapun itu jawabannya, saya masih harus menamatkan buku ini terlebih dahulu. Sebagai kewajiban untuk memahami secara utuh seorang priyayi menurut penuturan Umar Kayam.


Para Priyayi

Membaca beberapa halaman pembukaan buku ini sama rasanya dengan membaca karya-karya Ahmad Tohari. Perasaan khas pedesaan yang timbul turut menjadi satu nuansa yang tidak terlupakan. Tidak hanya itu saja. Para penulis seperti mereka pandai mengolah rasa dalam tulisannya sehingga gairah pedesaan itu begitu hidup dan remarkable. Mereka menjadikan desa menjadi sebesar dunia-dengan segala permasalahannya.

Saya lebih senang menandai "Para Priyayi" ini sebagai sebuah roman, bukan novel. Umar Kayam berhasil meletakkan segala macam permasalahan priyayi, sejak awal mula trah keluarga dibangun hingga perjalanan melintas masa. Dengan berbagai sudut pandang yang dinamis, "Para Priyayi" tidak memandang priyayi sebagai satu hal yang statis. Ia menjelma bukan hanya sebagai kata benda, tetapi juga menjadi sebuah kata kerja.

Kehidupan Ndoro Seten diceritakan begitu gamblang; lengkap dengan segala permasalahan kehidupan sehari-hari. Ketiga anaknya berhasil menjadi priyayi seperti yang didambakannya. Sebuah penghargaan dan status sosial yang punya tempat tersendiri di lingkup sosiologis masyarakat pedesaan.

Konflik mulai meninggi ketika keturunan para priyayi ini berkembang sesuai zamannya. Bahkan hingga ada yang tersangkut kasus G30S/PKI. Cara Umar Kayam mengakhiri kemelut-kemelut ini terkesan tidak tergesa-gesa, melainkan berhasil memunculkan solusi dalam konteks kepriyayian. Pun, dengan demikian kepriyayian yang sedari awal sudah dibangun tidak lantas hilang begitu saja diretas zaman. Just like any romantic roman, the stories ends with happy ending.

Memang dibutuhkan stamina membaca yang tinggi untuk menyelesaikan roman ini. Namun, itu semua akan terbayar dengan permainan alur cerita dan konflik yang apik. Umar Kayam memadukan filosofi Jawa dan kepriyayian sesuai dengan zamannya. Nilai-nilai yang tidak lekang dimakan usia adalah satu nilai tambah untuk karya-karya semacam ini.


Judul       : Para Priyayi
Penulis    : Umar Kayam
Penerbit   : Pustaka Utama Grafiti
Tahun      : 2008
Tebal       : 337 hal.
Genre      : Roman Klasik-Sastra Indonesia


Medan Merdeka Barat-Cipayung, 30 Oktober 2016.

Senin, 31 Agustus 2015

Di Kaki Bukit Cibalak




Saya termasuk pembaca yang bersyukur dengan terbitnya edisi cetak ulang dari karya-karya Ahmad Tohari. Sebut saja, Kubah, Senyum Karyamin, Mata Yang Enak Dipandang, hingga Di Kaki Bukit Cibalak. Saya tidak lagi perlu bertanya-tanya kapan bisa membaca karya beliau yang dulu hanya bisa ditemui dalam bibliografi. Judul lainnya, saya rasa tinggal hanya menunggu waktu saja untuk diterbitkan kembali. Republished atau reprinted. 

Secara umum, Ahmad Tohari masih meninggalkan signature individunya yang khas dan detail mengenai latar belakang cerita dalam konteks kehidupan di pedesaan yang sederhana. Latar yang digunakan untuk bukunya ini kurang lebih sama dengan suasana alam yang kental dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-Jantera Bianglala-Lintang Kemukus Dini Hari. Novel ini terhitung novel singkat. Tentu bagi pembaca yang sudah mafhum dengan novel lain karya beliau. 

Berlatar pada tahun 1970-an dimana pembangunan yang digaungkan Orde Baru terasa hingga ke desa Tanggir. Desa yang begitu damai hingga akhirnya penuh kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur. Imbasnya, desa Tanggir menjadi sorotan setelah seorang warganya yang tidak mampu berobat mendapat simpati begitu besar usai kemunculan beritanya di sebuah harian lokal yang terbit di Yogyakarta. 

Adalah Pambudi, putra desa Tanggir yang tersingkir usai berselisih dengan Kepala Desa yang berhasil mengantar Mbok Ralem menuju kesembuhan penyakitnya. Usahanya di kota besar itu kemudian malah menjadi pukulan baginya karena sang Kepala Desa tidak senang dengan teguran dari Pak Camat, yang juga mendapat teguran dari atasannya, Pak Bupati.

Sekembalinya dari urusan dengan Mbok Ralem, Pambudi juga menemui dirinya dalam ancaman fitnah yang dilancarkan mantan koleganya di Koperasi Desa, Poyo. Ia membuat pencatatan laporan keuangan palsu yang membebankan hilangnya kas Koperasi atas nama Pambudi. 

Pambudi merasa tidak ada lagi gunanya untuk melalukan 'perlawanan' di desanya sendiri. Ia dengan berat hati meninggalkan desanya dan pergi ke Yogyakarta. Sebuah keputusan yang tidak mudah karena harus meninggalkan tambatan hatinya, Sanis. 

Petualangannya di Yogyakarta membawa Pambudi pada petualangan baru dalam hidupnya. Ia sudah bertekad untuk ikut ujian masuk kuliah. Ia juga sempat bekerja pada seorang pedagang arloji dan akhirnya berlabuh kembali ke harian 'Kalawarta'. 

Keberhasilannya di Yogya bukan tanpa tragedi. Pambudi harus merelakan Sanis diperistri oleh sang Kepala Desa yang culas dan bajul itu. Kendati begitu, Pambudi lagi-lagi harus mengalami pergulatan batin yang juga tidak mudah kala berhadapan dengan Mulyani, anak pemilik toko arloji majikannya dulu. 

Ahmad Tohari menyajikan sebuah cerita ringan yang sarat konflik tanpa meninggalkan ciri khasnya: alam pedesaan, tokoh anti-hero, dan kesewenangan penguasa. Sekilas, rasanya seperti membaca 'Orang-Orang Proyek' namun dengan jalan cerita yang lebih pendek. Novel ini seakan ingin bercerita bahwa sekecil apapun pengorbanan akan mendapatkan hasil walaupun menuntut pengorbanan lainnya.


Judul        : Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis     : Ahmad Tohari
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Tebal        : 192 hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Fiksi-Nove

Dharmawangsa, 28 Juni 2015

Sabtu, 22 Agustus 2015

Rahvayana 2: Ada Yang Tiada

Sebaiknya dunia yang tak ada harus tetap kita adakan. Kalau perlu, kita ada-adakan. Caranya, yang tidak ada itu harus kita ada-adakan manfaatnya.



Kisah lanjutan dari Rahvayana edisi perdana, Aku Lala Padamu ini masih bercerita soal si ‘Aku’ yang tak henti-hentinya mengagumi Sinta. Sejak pertemuan pertama pada gerimis di Borobudur hingga Rahvayana akhirnya benar-benar melanglang buana tampil di gedung pertunjukan legendaris dunia. ‘Aku’ masih menulis surat-suratnya pada Sinta walau kadang Sinta tak lantas langsung membalasnya.

Saya tidak perlu menjelaskan lagi soal pembebasan pakem Rama-Sinta dari cerita Ramayana yang sudah terlanjur beredar dan kita semua maklum dibuatnya. Rama mengumpulkan pasukannya untuk merebut kembali Dewi Sinta. Pada “Rahvayana 2”, permainan sang Resi Sujiwo Tejo semakin mendetail untuk mengungkapkan apa saja yang terjadi diantara Rama-Sinta. Ia berhasil membuat kedua tokoh itu menampakkan sisi hitam-putihnya.

Pengalaman bersama ”Rahvayana 2” ini benar-benar menjadi suatu perjalanan yang menyenangkan. Menyenangkan karena akhirnya saya dapat gambaran mengenai sosok seorang Indrajit bila memang benar ada dalam kehidupan nyata. Sang pemilik Aji Sirep yang lebih sakti dari milik Wibisana ini menemani si ‘Aku’ sejak dari dalam kereta dari Guangzhou, lalu ke Tembok China dimana si ‘Aku’ mendalang untuk lakon Rahwana dan Sinta diiringi  repertoar yang sakral dan kuno, Gending Ayak-Ayak Slendo Manyuro.

Sinta Gugat

Seluruh perjalanan dan petualangan dalam “Rahvayana 2”; Guangzhou, Tembok Cina, Bali, Siberia, Anna Karenina, Himalaya, dst. Pada ujungnya memang hanya soal Rahwana, Sinta, dan Rama. Menjelang akhir cerita, mulai halaman 233 hingga 234, usai Rama berhasil menemui Sinta setelah dibuat tidak berdaya oleh Lawa dan Kusa, dua anak kembarnya yang ikut Sinta mengasingkan diri ke hutan Dandaka, Sinta ‘menggugat’ eksistensi Rama dalam seluruh lakon Rama-Sinta ini.

“Katanya, Rama hanyalah buih. Ia bergerak atas kehendak samudra Siwa. Kenapa cinta Tuhan kepadaku melalui Rama begitu naif? Masih ia syak wasangkai kesucianku setelah 12 tahun hidup bersama Rahwana di Alengka?”

Sinta masih melanjutkan gugatannya.

“Apakah cinta tak ubahnya dengan pengadilan, yang setiap pihak harus membuktikan segalanya?”

Gugatan Sinta menarik simpati para siluman di Dandaka. Bahkan ada yang mulai menangis.

“Rama, sebetulnya kau mencintaiku atau mencintai dirimu sendiri sehingga kau begitu hirau dengan gosip rakyatmu bahwa aku sudah tak suci lagi setelah hidup bersama Rahwana”

Gugatan Sinta pun berakhir.

“Perang Alengka-Kosala kau canangkan bukan demi cintamu kepadaku, Rama, melainkan demi ketersinggungganmu sebagai seorang lelaki dan seorang kesatria!”

Lagi-lagi, saya harus mempertanyakan Rama. Mengapa Dewi Sinta yang dicurigai sudah tidak suci lagi? Apakah karena dominasi maskulinitas terhadap feminitas Sinta? Lantas, mengapa Rama sendiri menangis di balik bukit kala Hanuman membawakan kalung titipan Sinta  untuk dipakai olehnya sekaligus untuk membuktikan kesetiaannya? Dalam hal ini, memang cinta Rama kepada Sinta perlu dipertanyakan. Bila perlu, diadakan lagi penelitian lebih jauh mengenai hal ini. Apakah sebegitu bersyaratnya cinta Sri Rama terhadap Dewi Sinta.

Barangkali memang Rahwana yang tetap bisa mencintai Sinta, apapun keadaannya. Rahwana memang menyembah dan memuji titisan Dewi Widowati itu dengan caranya sendiri. Rahwana menyembah Zat yang ada itu melalui segenap tirakatnya. Rahwana tetap menjunjung dan mencintai Sinta, walau Sinta berubah menjadi Janaki dan Waidehi.

Hanya Sekedar Komentar

Muatan lain yang jadi titik berat lanjutan ‘Aku Lala Padamu’ ini adalah satu soal filosofis tentang ada dan tiada. Pembaca bisa menilai sendiri persoalan filosofis yang rupanya sempat hinggap di kepala sang Resi Sujiwo Tejo. Soal cover buku, saya rasa ‘Aku Lala Padamu’ memang cenderung ‘lebih serius’ dalam menggarap hubungan antara cover dengan jalan cerita.

“Ada Yang Tiada” punya cover yang cenderung lebih ngepop dan santai. Tiga orang gadis naik mobil sedan kap terbuka. Mungkin, mereka naik sedan Mercy Tiger tahun 70-an dan melintasi jalanan Melawai hingga pinggiran pantai California sana. Entah mengapa, saya membayangkan perempuan-perempuan itu adalah Gwen Stefani, Mariana Renata, dan Katy Perry, sang pelantun ‘California Girls’. Entah. Entah mengapa. Seperti ada yang tiada.


Judul        : Rahvayana2: Ada Yang Tiada
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 304 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Fiksi-Novel Sejarah


Medan Merdeka Barat, 18 Juni 2015
hari pertama shaum 1436H, ditemani Tragedy dari Bee Gees

Selasa, 28 Juli 2015

Gelandangan di Kampung Sendiri

"Orang lebih takut kepada ketakutan dibanding kepada Tuhan." 
Hal. 233


Dinamika sosial berlangsung dari waktu ke waktu. Sejak negeri ini mulai berdialektika dengan kemerdekaannya sendiri. Melalui buku ini, agaknya Emha masih melontarkan kritik sosialnya pada berbagai persoalan pembangunan. Buku ini menghimpun catatan-catatan Emha yang terbit pada rentang tahun 1991-1994 di berbagai media cetak seperti Suara Pembaruan, Suara Karya, dan Surya serta beberapa dokumentasi pribadinya. 

Dilema pembangunan yang membawa arus modernitas tidak bisa tidak berhadapan dengan arus kehidupan masyarakat yang masih agraristik. Hal itu masih dapat dirasakan pada konteks kekinian, dimana tidak banyak perubahan yang terjadi sejak buku ini terbit pertama kali pada tahun 1995 hingga kini. Kalaupun boleh menambahi, arus modernisasi dan globalisasi saja yang semakin membawa pengaruh.

Bagian pertama dan kedua buku dinamakan sebagai "Pengaduan I" dan "Pengaduan II". Emha mengumpulkan berbagai pengalaman dan keluh-kesah orang-orang yang mendatanginya. Kemungkinan besar, kalau dilihat dari bahasa penyampaiannya, berasal dari rubrik yang diasuhnya  di harian Surya. 

Esai-esainya memberi banyak pencerahan sekaligus refleksi tentang nilai dan hubungan kemanusiaan yang kian pudar. Riuh pembangunan telah mengikis kesadaran manusiawi menjadi kepatuhan yang berdasar pada ketakutan. Personally, buku ini juga membuat saya teringat pada kalimat pembuka lirik lagu "Tombo Ati" gubahan Emha dan Kiai Kanjeng. 

Dua bab selanjutnya diberi judul "Ekspresi" dan "Visi". Pada bagian inilah Emha menyatakan ketidaksetujuannya pada tatanan birokratik yang terus menerus mewajibkan rakyat berpartisipasi dalam pembangunan. Benturan-benturan dalam masyarakat yang sengaja diciptakan dan dikondisikan dalam menyambut Pemilu 1992 hanyalah contoh kecil. 

Emha juga menyertakan contoh bagaimana mahasiswa KKN yang datang dari kota dengan segala keilmuan dan arus modern yang dibawanya berhadapan dengan masyarakat pedesaan yang diwakili Pak Mataki, Bu Limah, dan Pak Dayik. Dialektika antara keduanya menjadi hal yang patut direnungkan bersama.

Apakah semua kemajuan pembangunan ini lantas membuat kita jadi gelandangan di kampung sendiri? 


Judul        : Gelandangan di Kampung Sendiri: Pengaduan Orang-Orang Pinggiran
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 292 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Sosial-Budaya


Dharmawangsa, 31 Mei 2015. 

Senin, 27 Juli 2015

Slilit Sang Kiai

Courtesy: www.caknun.com

Saya agak keheranan waktu pertama kali menjumpai buku Emha dengan judul seperti ini. Tadinya, saya pikir slilit milik Sang Kiai ini punya kesaktian atau makrifat. Entah digunakan untuk apa. Barulah saya pahami kemudian ketika benar-benar membaca tulisan yang diangkat jadi judul seluruh buku ini. Ternyata, gara-gara slilit seorang Kiai batal masuk surga.

Begini ceritanya. Seorang Kiai telah makan daging di sebuah kenduri, waktu itu ia sibuk meladeni orang yang ingin bersalaman dengan dirinya, ia tak sempat untuk menyingkirkan slilit daging di giginya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Pak Kiai mengambil seujung potongan bambu dari pagar tetangganya untuk membuang slilit daging di gigi Pak Kiai, layaknya tusuk gigi.

Kemudian, Pak Kiai meninggal dunia. Lalu ada seorang santri yang mimpi bertemu dengan Pak Kiai yang tertahan di pintu surga. Dalam mimpinya Pak Kiai berkata, "Dosa-dosaku telah Allah ampuni kecuali satu. Aku tidak sempat meminta izin pemilik rumah untuk mengambil sedikit dari bambunya untuk kujadikan tusuk gigi. itu membuatku sangat repot di alam kubur."

Tulisan ini punya muatan pesan yang amat dalam. Betapa slilit yang remeh itu telah merepotkan seorang Kiai yang selalu dipersepsikan mudah menggapai surga. Betapa hal kecil yang amat remeh pun ternyata dapat menghalangi kita dari jalan kebaikan bila diperolah dengan cara yang tidak benar dan tidak disukai Allah SWT. Bayangkan saja bagaimana runyamnya para koruptor dan para maling duit rakyat ketika menghadapi hari penghisaban.

Dari kisah tersebut, kemudian Emha menjelaskan perkara-perkara lainnya semacam itu yang tidak saja melulu habluminallah tetapi juga habluminannas. Tulisan Emha muncul dengan cermat dan cerdas dalam menganalisa etika sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

"Slilit Sang Kiai" hadir kembali dalam wujud cetak ulang setelah lahir pertama kali pada tahun 1991. Buku ini tetap memiliki nilai relevansi yang tinggi dengan kondisi saat ini. Bagaimanapun adanya, kehidupan ini tidak bersifat parsial-statis tetapi kontekstual dinamis. Walaupun sudah tidak lagi aktual, namun nilai kontekstualnya tetap terjaga.

Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 29 Mei 2015.

Kamis, 28 Mei 2015

Lupa Endonesa

"Saya yakin orang Indonesia masih percaya pada kebaikan dan kejujuran. Tapi, saya nggak yakin mereka percaya bahwa kebaikan dan kejujuran bisa mereka jadikan jalan untuk mencapai cita-cita..." - Hal.138

Personally, ini adalah buku Sujiwo Tejo pertama yang saya tamatkan. Saya beli sepaket dengan dua buku lainnya yaitu dwicarita Rahvayana. Saya kira buku ini merupakan kumpulan artikel atau cerita soal lunturnya rasa berbangsa dan bertanah air Indonesia dari Sang Dalang Edan yang rupanya pernah mengenyam hidup sebagai wartawan. Namun, saya menemukan satu bentuk pengalaman yang baru dalam mentafakuri kehidupan sejarah bangsa melalui buku ini. 



Lupa Endonesa menggugat kehidupan bangsa ini pada satu periode sejarah yang dilambangkan dengan sosok seorang Presiden dari tanah Pacitan. Segenap persoalan negeri kala itu digamblangkan sedemikian rupa. Sujiwo dengan gagah menulis hal-hal yang malu-malu, memalukan, dan tidak memalukan tentang persoalan kehidupan bangsa Indonesia. Semua ceritanya, menyiratkan bahwa kita ini memang lupa berbangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Sujiwo menggunakan banyak perumpamaan dalam menyampaikan kritiknya atas satu keadaan tertentu. Kemunculan tokoh-tokoh punakawan dan main cast Mahabharata-Ramayana adalah satu unsur penyeimbang cerita. Betapa kenyataan masih bisa bermain dengan fiksi. Lepas dari pakem pewayangan pada umumnya. Penulisnya juga tidak lupa melibatkan para tokoh pewayangan itu dengan unsur modernitas yang kekinian.

Sepintas, cerita-cerita dalam buku ini terlihat sebagai cerita pendek karena selain habis dibaca sekali duduk mereka juga mempunyai unsur fiksi yang kental. Andai pun tidak dianggap sebagai cerpen, tidak salah juga bila kisah-kisah tuturan Sujiwo ini masuk kategori memoar. Memoar bergerak, dari satu kisah ke kisah lain dalam titimangsa yang sama.

Ada dua cerita yang jadi favorit saya disini. “Lakone Hanuman Ambassador” sebagai tandingan dari lakon “Hanuman Duta” dan “Jajak Pendapat para Dewa”. Sujiwo menjadikan seluruh tulisannya sebagai kritik sosial atas segenap peristiwa dengan mengawinkan unsur hiburan dan politik. Tulisannya ini bisa jadi hiburan bagi rakyat yang memang sudah kekurangan bahan tertawaan sekaligus kritik bagi pemimpin bangsa ini kelak di masa mendatang, agar sejarah tidak kembali terulang.

Judul        : Lupa Endonesa
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 218 hal.
Tahun       : 2012
Genre       : Cerita Pendek-Memoar


Dharmawangsa - Medan Merdeka Barat, 11 Mei 2015.

Kamis, 16 April 2015

Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu

“Tuhan, berikanlah zaman kala bendhu setiap hari, supaya besok pagi saya bisa tetap berkarya.”

Kira-kira begitulah bunyi doa seorang karikaturis setiap hari. Pengharapan setiap harinya adalah sebuah inspirasi baru dari suatu zaman atau masa yang ditinggali dan dijalaninya. Karya yang dibuatnya setiap hari adalah bukan hanya sebuah pesan belaka. Gambar yang dibuatnya menjadi sebuah saluran untuk menyuarakan pendapat dan menyebarluaskannya pada khalayak ramai.

Ketika saluran untuk menyampaikan pendapat atau kritik tersumbat, maka karikatur merupakan salah satu jawabannya. Satir yang dituangkan ke dalam gambar membuat daya kritik menjadi tidak langsung, sehingga tidak terlalu terasa menyakitkan. Sejak kemunculannya yang pertama, Panji Koming menjadi saluran untuk mengemukakan ketidakberdayaan. Saat zaman membuat sulit untuk menyampaikan pendapat atau kritik, karikatur menjadi penting dan bermakna.



Kritikan melalui karikatur tetap mempunyai tempatnya sendiri. Hanya, pengukuran kualitas menjadi lebih berat karena yang dituntut bukan hanya alur cerita yang mengalir ataupun komposisi gambar yang lebih mengena tetapi kualitas kritikan yang lebih cerdas.

Panji Koming membuat kita jadi semakin melek informasi. Panji Koming selalu cerdik dalam menemukan sudut pandang yang unik dalam menatap sebuah peristiwa sosial dan politik. Walaupun, mengambil rentetan peristiwa Zaman Majapahit, tetap saja dengan mudah kita mengaitkannya dengan fakta-fakta kontemporer.

Sejak Orde Baru masih bertahta, Panji Koming cenderung tampil serba tersamar dan cenderung tiarap. Ada kesengajaan adegan untuk dikaitkan kepada penguasa negara. Hingga masa orde reformasi dengan segala keterbukaan saat ini, Panji Koming tidak serta merta mengubah tutur ucapnya. Panji Koming tetap hadir dalam kemasan yang bijaksana, santun, nylekit, dan mengusung atmosfir budaya Jawa, guyon parikeno.

Kala Bendhu merupakan keberadaan dalam pemikiran masyarakat Jawa tentang zaman yang terkutuk dan sangat tidak menyenangkan. Kurang lebih, masyarakat secara umum dikuasai kebendaan. Dalam pandangan kartunal, zaman Kala Bendhu disebutkan sebagai zaman culun dan menyebalkan. Bagi kartunis, hal ini jadi lahan berkembangnya kreativitas yang sangat luas, aneh dan beragam. 

Pada edisi ini, Panji Koming mengambil plot Indonesia tahun 2003 hingga 2007. Zaman yang lebih memekik daripada Orde Baru, dimana peninggalan sisa-sisa Orde Baru belum sepenuhnya surut. Tahun-tahun yang penuh dengan tebaran peraturan dan tuaian pelanggaran. Penuh dengan lagu tanpa nada, penuh dengan nada tanpa suara. Penuh dengan penyanyi tanpa manusia. Ibarat telur diujung tanduk. Panji Koming menggiring kita untuk melihat keatas, bagiamana para pengatur negeri ini...membiarkan telur nangkring di ujung tanduk.

Judul        : Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu
Penulis     : Dwi Koendoro Br
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tebal        : 144 Hal.
Tahun       : 2008
Genre       : Karikatur-Komedi


Dharmawangsa, 26 Maret 2015.

Minggu, 29 Maret 2015

Islam Hari Ini



Sejak pertama kali melihat sampul komik ini, saya menebak bahwa muatan isi dan gambarnya tidak jauh berbeda dari komik serupa karya vbi_djenggotten. Ternyata, saya salah. Komikusnya, Alisnaik bin  Kiansila, punya gaya gambar dan peceritaan sendiri.

Komik ini dibagi kedalam beberapa judul kecil. Jadi, terlihat seperti semacam sketsa pendek. Walau begitu, muatan isi komik ini penuh dengan pesan yang menohok.Sebagian pengalaman si komikus dituangkan sebagai refleksi. Alhasil, pengalaman tersebut terasa lebih kaya dan mengena.

Sketsa pendek berjudul "Berhala Modern" terasa begitu nyata karena ada dalam keseharian kita. Agaknya, yang dibahas dalam komik ini memang menyadarkan kta kembali untuk tidak melupakan hal-hal kecil dan mengabaikan hal-hal atau urusan yang lebih besar .

Dukung terus komik dan komikus Indonesia!

Judul        : Islam Hari Ini: Yang Kecil Terlupakan, Yang Besar Terabaikan
Penulis     : Alisnaik
Penerbit   : Qultummedia
Tebal        : 140 Hal.
Tahun       : 2013
Genre       : Komik Islami


Dharmawangsa, 24 Maret 2015.

Selasa, 03 Maret 2015

Mengenang Rinto Harahap

Bila kau seorang diri, jangan engkau bersedih...

Sebelum saya menyelesaikan memoar perjalanan tiga negeri bersama Istri, datang sebuah kabar duka. Rinto Harahap tutup usia. Beberapa tahun lalu ketika Robin Gibbs tutup usia, saya menulis obituari untuknya disini.  Agaknya, kehilangan yang sama juga saya rasakan. Dengan demikian, tak berlebihan rasanya bila saya mengapresiasi beberapa karya beliau yang melekat dalam ingatan. Saya berterima kasih pada Bapak karena telah mengenalkan saya pada hal yang demikian.



Penyanyi dan pencipta lagu legendaris ini meninggal di Singapura 9 Februari lalu pada usia ke-65. Legenda musik kelahiran Sibolga, 10 Maret 1949 ini adalah maestro jagad musik Indonesia. Kita semua tidak asing lagi dengan lagu-lagu ciptaanya yang tak lekang dimakan zaman. Sebagai legenda, Rinto Harahap telah mengalami pengalaman-pengalaman bermusik yang lengkap sepanjang hidupnya. Mulai dari menjadi pemain band bersama The Mercy’s, mendirikan perusahaan rekaman Lollypop Record, hingga menjadi pencipta lagu.
Lagu-lagu Kenangan

Banyak lagu Rinto Harahap yang juga melegenda. Lirik yang puitis dengan makna yang dalam serta mudah diingat menjadikan lagu-lagu tersebut tetap abadi di hati para penggemarnya. Thanks to Youtube. Mudah saja untuk kita untuk bernostalgia sejenak ke masa lalu, pada satu masa dimana lagu-lagu itu mencapai masa keemasannya.

Katakan Sejujurnya



Lagu ini dinyanyikan oleh Christine Panjaitan dan segera menjadi hits. Personally, saya suka liriknya. Bercerita tentang kisah dua manusia yang saling mencinta namun akhirnya terpisah juga karena satu perbedaan. Pada satu kolom komentar di Youtube, lagu ini seakan mengisahkan kandasnya kisah cinta Christine Panjaitan dengan Ikang Fawzi. Saya sendiri belum mengkonfirmasi kebenaran isu itu. Andai saja dulu sudah ada Cek & Ricek atau Silet, tentu jadi lebih mudah untuk mengetahui kebenaran dan kesesuaian hal itu.

Hati Yang Luka

Siapa yang tak kenal lagu ini? Lagu Betharia Sonata ini terkenal di kalangan kami yang anak-anak dengan lirik ‘uo uo’-nya. Dulu..bersumpah janji di depan saksi..uo...uo... Tidak diragukan lagi bila lagu ini adalah masterpiece Rinto Harahap untuk yang kesekian kalinya.

Dingin

Kau janjikan berbulan madu ke ujung dunia...
Kau janjikan sepatu baru dari kulit rusa...

Hetty Koes Endang pun turut merasakan sentuhan tangan dingin Rinto Harahap. Lagu ini juga sempat jadi hits. Entah karena liriknya atau karena memang dari dulu yang namanya galau itu sudah ada dan melanda beberapa orang dari generasi orang tua kita. Who knows? :D

Benci Tapi Rindu

Lagu ini tidak hanya membawa Diana Nasution pada pencapaian karir musiknya. Lagu ini juga kian abadi karena sering dijadikan pameo (tulisan) di balik bak truk pasir. Liriknya pun sederhana namun menghadirkan paradoks. Sakitnya hati ini....namun aku rindu....

Jangan Sakiti Hatinya
Masihkah kau ingat, sayang...
Gadis yang pernah kau sayang...

Lirik sederhana dan mudah diingat ini menjadi hits milik Iis Sugianto. Lagu mellow yang punya pesan sangat jelas ini bahkan dinyanyikan kembali dengan beat rock hasil recycle dari Andi /rif.

Gelas Gelas Kaca

Aroma kesedihan dalam penantian yang sendu adalah ciri khas yang melekat pada Nia Daniaty dengan hits miliknya ini.  Dulu, Bapak sering memutar lagu ini. Entah karena apa atau memang hanya ingin mengajari saya bahwa suara Nia Daniaty memang merdu.

Bila Kau Seorang Diri

Satu lagu yang jadi favorit terakhir dalam tulisan ini adalah lagu hits yang dinyanyikan oleh Nur Afni Octavia. Liriknya romantis, serasa Rinto benar-benar mengeksplorasi perasaan seorang kekasih yang sedang dilanda sepi.
Konklusi

Seorang penulis mati ketika karyanya terbit. Dan seperti layaknya seorang musisi, karya mereka akan terus hidup dalam ingatan pembaca dan pendengarnya. Karyanya akan terus dikenang dan dinyanyikan kembali dengan partitur yang sama. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Selamat jalan, Rinto Harahap. Terima kasih telah mengenalkan kami pada cinta yang merdu.

Dharmawangsa, 15 Februari 2015.

Sabtu, 19 April 2014

The Person I Want To Eat

Belakangan ini, saya mulai membaca komik lagi. Bedanya, bukan lagi serial komik Jepang seperti waktu masih sekolah dulu. Industri komik tanah air yang sampai saat ini masih dijejali komoditas komik asing memberikan banyak pilihan pada pembaca. Termasuk saya, saya lebih memilih komik yang tamat dibaca sekali duduk. Artinya, tidak harus menunggu edisi selanjutnya dirilis.



Komik terbaru yang saya baca berjudul”The Person I Want To Eat” yang diadaptasi dari judul aslinya “Tabetai Hito”. Komik karya Shin Yumachi ini berisi empat cerita. Temanya sama, masih soal kisah cinta remaja. Overall, keempat cerita dalam komik ini punya benang merah yang sama. Kata cinta yang seringkali tak mampu terucapkan.

The Person I Want To Eat
bercerita tentang Yuu yang mendapat pernyataan cinta dari teman kelas sebelahnya. Kei-chan, sahabat dekat Yuu, yang selalu menganggap Yuu seperti anak kecil tiba-tiba berubah usai kejadian itu. Kei-chan tidak mampu lagi membendung perasaannya. Yuu pun akhirnya menerima Kei-chan.

Afterschool Honey
mengisahkan Satsuki-chan yang ditugaskan gurunya untuk memberi bimbingan pelajaran tambahan kepada Kiyoharu, playboy sekolah yang terkenal. Satsuki-chan menjalankan tugasnya itu dengan rasa terpaksa sebelum akhirnya ia mengakui dalam hati kecilnya bahwa Kiyoharu memang lelaki yang menarik. Seiring jalannya waktu, kedekatan mereka berujung pada pengakuan Satsuki-chan tentang perasaannya.

Let Her Go, mirip satu judul lagu sing-this-song-to-move-on. Yamashita masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kekasihnya memutuskannya begitu saja demi lelaki lain. Kinoshita yang tahu kejadian itu berusaha untuk mendekati Yamashita. Kinoshita tahu bahwa ia bertindak bodoh. Namun, justru kebodohannya itu mengakhiri penantiannya selama 2 tahun 14 bulan dan 18 hari.

I Fall in Love Over the Window Sill
mengisahkan Fumika yang selalu mendapat kiriman pesawat kertas dari anak lelaki yang memperhatikannya ketika sedang membersihkan halaman sekolah. Lelaki itu selalu muncul setiap gilirannya tiba. Ia bahka menuliskan alamat email pada pesawat kertas kirimannya. Fumika yang begitu senang tidak sengaja mengirimkan pernyataan cinta pada Mibu-kun, anak paling populer di sekolah. Alhasil, Mibu-kun langsung mengajaknya pacaran sehingga membuat heboh satu sekolah.

At the end, kisah cinta yang ditampilkan dalam komik ini memang agak sedikit absurd. Wajar memang rasanya mengingat keterbatasan ruang cerita. Apapun itu, cinta adalah cerita abadi sepanjang masa.

Judul        : The Person I Want to Eat
Penulis    : Shin Yumachi
Penerbit   : PT. Tiga Lancar Semesta
Tahun      : 2013
Genre      : Komik-Romance
 

Pharmindo, 19 April 2014.

Kamis, 14 November 2013

Kisah Lainnya

Jadi, hidup telah memilih, menurunkan aku ke bumi

Buku ini dimulai dengan penggalan lirik lagu “Langit Tak Mendengar”. Satu lagu Peterpan favorit saya sepanjang masa bersama satu lagu lain, “Mungkin Nanti”. “Langit Tak Mendengar” adalah lagu terbaik Peterpan semasa formasi lengkap. Komposisi musiknya penuh. Liriknya juga tidak dangkal. Lagu itu bersama ‘Mungkin Nanti” yang telah direcycle dijadikan pengisi soundtrack film "Alexandria". Lagu itu sempat muncul pula dalam iklan sebuah operator telepon selular.


Membaca ‘Kisah Lainnya’ sama juga dengan bernostalgia kembali ke era keemasan Peterpan. Perjalanan Peterpan disajikan secara lengkap mulai sejak dirilisnya single “Mimpi Yang Sempurna” dari album kompilasi ‘Kisah 2002 Malam’ hingga pergantian anggota dan segenap sensasi yang melingkupinya tidak luput dari rekaman peristiwa ini. Tidak hanya itu saja, segenap latar belakang di balik berdirinya band ini juga turut mengambil bagian. Juga bagaimana proses personil dalam mengawali karir mereka masing-masing bersama Peterpan.

Walaupun cerita dalam buku didominasi oleh narasi Ariel, tetapi “Kisah Lainnya” tetap menampilkan band ini dalam komposisinya yang utuh. Masing-masing personil pun menyuarakan segala kegelisahannya di masa istirahat panjang itu. Termasuk cerita dibalik kolaborasi mereka dengan musisi kenamaan lainnya seperti Idris Sardi dan Henri Lamiri, serta Karinding Attack dan Momo 'Geisha'.

Buku ini ibarat catatan pribadi dari sang vokalis. Ariel tidak hanya piawai dalam menulis lagu. Ariel pun pandai merangkai kata. Selama menjalani masa penahanannya di Rutan Bareskrim dan LP Kebon Waru, Ariel banyak menulis dan membuat sketsa. Buku ini pun diwarnai catatan Ariel yang serupa dengan prosa maupun gambar sketsa karyanya.

Pada saat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati
Itu adalah pasangan hidupmu
Itu adalah takdirmu
Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan
Itu adalah pelengkap hidupmu
Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

Catatan Personal

Saya melihat kembalinya anggota Peterpan ke kancah musik Indonesia tersusun dengan rapi. Walaupun sang frontman mendekam di penjara, beberapa anggota lainnya masih bisa berkarya. Bahkan, naik panggung lagi bersama vokalis-vokalis dari band lain dalam rangkaian tur mengunjungi komunitas penggemar mereka. Single ‘Dara’ milik Ariel terbukti mampu menjembatani proses kembalinya Peterpan. Harapan penggemar serta kebutuhan untuk meraih rasa percaya diri yang sempat hilang berhasil menumbuhkan keyakinan mereka untuk kembali ke panggung.

Proses pembuatan album “Suara Lainnya” membuktikan bahwa mereka masih mampu berkarya. Ketika album itu dirilis, Ariel memang belum bebas dan tidak hadir. Ada perasaan kosong yang menghinggapi mereka karena sang vokalis tidak ada disitu. Namun, sukses besar malam itu semakin membuat percaya diri mereka kembali. Hidup terus berjalan. Ariel bebas. Perjalanan pun mereka mulai lagi. Belakangan, mereka membuat identitas baru, NOAH.

Overall, “Kisah Lainnya” tidak hanya menawarkan sebuah ‘pengakuan’ dan cerita mereka sepanjang 2010-2012. “Kisah Lainnya” membawa pembaca pada sebuah dimensi labirin proses perjalanan kehidupan yang tidak selalu menyenangkan. Kata Tommy Page, life is full with lots of up and down. Selalu ada hikmah dibalik sebuah cerita.

Judul       : Kisah Lainnya
Penulis     : Ariel, Uki, Lukman, Reza, David
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun      : 2012
Tebal       : 228 hal.
Genre      : Memoar-Musik

Medan Merdeka Barat, 7 November 2013.

Rabu, 28 Agustus 2013

Tips Nonton Konser

Setelah mengalami berbagai keajaiban sepanjang tahun ini, termasuk nonton Sixpence None The Richer dan Metallica, lalu jadi pemenang tiket gratis konser @ProjectPe , belum lagi next upcoming concert 'Yovie and His Friends' , saya rasa sudah waktunya untuk berbagi soal tips nonton konser. 


Jangan kaget dulu. Saya tidak berniat menggurui. Lagipula, jam terbang saya masih tergolong rendah soal jagad perkonseran. Jadi, pembaca tidak perlu khawatir soal validitasnya. Anggap saja ini hanya saran seorang kawan belaka.

  • Pastikan konser yang akan kamu tonton adalah konser artis/band favorit kamu. Cari informasi lewat laman resmi Facebook atau Twitter mereka (because you’re a good fans). Jadi, kamu punya waktu untuk prepare. Termasuk soal pendanaan.   
  • Kosongkan semua jadwal pada hari konser kecuali konser itu sendiri. Ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terlambat menukar voucher dengan tiket masuk atau venue yang sudah terlalu penuh. You don’t want to miss it, right? Baca juga informasi lengkap soal konser di laman web yang disediakan promotor.

  • Siapa bilang cuma tiket kereta api yang bisa dipesan jauh-jauh hari (H-90). Beberapa promotor konser bahkan sudah mulai membuka presale untuk konser-konser mereka jauh sebelum D-Day. Cek ketersediaan tiket via laman web dan hotline. Intip juga informasi di Facebook atau Twitter. Bila memang sedang beruntung, ada potongan harga yang lumayan.

  • Kalau sudah dapat tanggal main konser, pastikan kamu punya uang yang cukup untuk membeli tiket. Kalau pun belum cukup, boleh pinjam kartu kredit sahabat kamu. Siapa tahu ada promo menarik dari provider kartu kredit untuk pembelian lebih dari 1 tiket. (Biasanya kena charge 3% sih :p )
  • Follow official page Facebook atau Twitter artis/band favorit kamu. Biasanya, ada informasi soal promo tiket hingga lucky draw atau kuis berhadiah tiket konser. Kalau menang, lumayan.
  • Bila memang harus membeli tiket pada saat D Day, pastikan kamu bawa uang lebih. Soalnya, tidak menutup kemungkinan kategori tiket yang kamu incar sudah habis dan harus cari kategori yang lain.
  • Istirahat yang cukup sehari sebelum konser. Kamu nggak mau kecapekan pas lagi nyanyiin lagu mereka kan? Kalau konser digelar malam hari, usahakan tidur siang secukupnya. Supaya bisa tetap on semalaman.
  • Bawa barang seperlunya. Ponsel, smartphone, powerbank, dan dompet is a must. Jangan bawa barang yang dilarang promotor/panitia. Informasi soal hal ini bisa dilihat di laman web atau lembaran tiket. Jangan sampai kamu kehilangan barang kesayangan kamu hanya gara-gara teledor pada saat nonton konser.
  • Jadilah penonton yang baik dan bertanggungjawab. Kalau memang yang kamu tonton adalah artis/band favorit kamu, tentu nggak susah buat nyanyiin semua lagunya kan? Kecuali kamu hanya berniat #modus PDKT dengan nemenin cewek/cowok incaran kamu nonton konser.
  • Jangan nonton konser sendirian. Memangnya mau dengerin Nightmare Side? Percayalah, hal ini rasanya sedikit tidak menyenangkan. Minimal, ada yang bisa ambil foto kamu kalau-kalau ketemu si artis di venue. Kecuali, kamu sudah bisa foto-foto sendirian. Tanpa tripod, catat!
  • Bila venue konser sudah sesak dengan penonton, jangan memaksa untuk mengambil foto dengan Tab/iPad. Jelas menganggu pandangan penonton lain di belakang kamu. Jadilah penonton yang pengertian. Yang mau nonton bukan cuma kamu.
  • Belajar mengambil foto tanpa lampu kilat (flash). Beberapa artis/band merasa keberatan dan terganggu dengan lampu kilat kamera. Hal ini juga memabantu mengasah skill fotografi kamu. Jadi bukan hanya menang gaya dengan bawa DLSR doang.
  • Beli merchandise artis/band favorit kamu yang ada di sekitar venue. Sebagai bukti kalau kamu memang pernah datang ke konser itu. Apalagi kalau sampai bisa bagi-bagi merchandise buat oleh-oleh. Hal itu bisa menaikkan derajat keeksisan kamu di depan teman-teman kamu.

Sudah jadi rahasia umum, persiapan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula. Maka, persiapkan dirimu semaksimal mungkin sebelum menonton konser artis/band favorit. Because, every second counts and you don’t have any chance to be missed.

Paninggilan, 27 Agustus 2013

* ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis

Minggu, 10 Maret 2013

Zero Dark Thirty: An American Revenge

“I'm going to smoke everyone involved in this op and then I'm going to kill bin Laden.” 
 – Maya (Jessica Chastain)

Osama bin Laden adalah sosok yang mengubah konstelasi peradaban dunia sejak peristiwa 9/11. Rentetan peristiwa yang tak urung mengubah kondisi geopolitik dunia, dimulai dengan invasi ke Afghanistan tahun 2001, dan penyerbuan terhadap Irak tahun 2003. Okupansi yang masih terus berlangsung hingga hari ini. Segenap pemboman dibelahan dunia lain seperti di London 2005 pun dikaitkan dengan tokoh utama Al Qaeda ini. Sehingga kepalanya dihargai sangat tinggi oleh para pemburunya.


Zero Dark Thirty menampilkan thriller khas Amerika. Konspiratif dan provokatif. Ketegangan dimulai sejak scene pertama. Interogasi atas tahanan yang dianggap sebagai penyiksaan ditampilkan sebagai sesuatu yang biasa terjadi. Sang interogator tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik.

Cerita terus berlanjut. Kegagalan demi kegagalan mengikuti misi CIA dalam melindungi ‘homeland’. Serangan bom bunuh diri kian marak. Al Qaeda mengaku bertanggungjawab atas semua kejadian itu. Puncaknya, bom bunuh diri yang dilakukan seorang martir Al Qaeda di field base operation CIA. CIA semakin dibuat kebingungan dalam menentukan target besar yang mereka cari, Osama bin Laden.


Sudah jadi rahasia umum bahwa Osama bin Laden bersembunyi di suatu tempat yang rahasia. Suatu tempat terpencil yang tetap masih bisa membuatnya berhubungan dengan dunia luar. Persembunyian Osama di Abbottabad, Pakistan pun akhirnya berhasil ditemukan oleh CIA. Namun, butuh waktu sekitar 100 hari lebih sebelum akhirnya para pemimpin CIA mengambil tindakan atas informasi intelijen itu.

Atas prakarsa Maya (Jessica Chastain) informasi keberadaan Osama dapat ditindaklanjuti. Serangan ke Abbottabad akan dilakukan oleh pasukan khusus NAVY SEAL dengan menggunakan dua helikopter Apache yang telah dimodifikasi ‘stealth mode’. Menarik, karena dua helikopter ini disimpan di Area 51 Nevada AFB.



Penyerbuan pun dilakukan. Satu helikopter gagal mendarat dengan sempurna. Walau begitu, tanpa kehilangan personil, NAVY SEAL tetap menerobos markas persembunyian Osama. Tidak ada perlawanan berarti. Kecuali, beberapa tembakan dari pengawal Osama. Adegan kekerasan muncul sepanjang penyerbuan dan pembunuhan terhadap terrorists suspect. Hingga akhirnya NAVY SEAL berhasil memastikan Osama bin Laden telah berhasil dibunuh.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Pertama kali mengetahui peristiwa penyerbuan untuk memburu Osama bin Laden pada Mei 2011 ini akan difilmkan yaitu waktu saya menonton “Habibie dan Ainun” awal bulan Januari kemarin. Dalam trailer film, sudah nampak beberapa adegan yang jelas-jelas bakal menunjukkan rating film ini sebagai Restricted, Parental Guidance. Sejak itu, saya berspekulasi bahwa Zero Dark Thirty adalah sebuah film dokumenter. Ternyata, saya salah. Film ini adalah sebuah thriller.


Sayangnya, saya tidak menemukan banyak adegan tembak menembak seperti dalam serial film intelijen seperti The Bourne Quartology dan James Bond. Kebanyakan adegan dalam film ini menampilkan beberapa persoalan internal CIA, seperti kapan mereka akan mengambil tindakan, dan segenap kegagalan CIA dalam menemukan ancaman ‘imminent threat’.

Zero Dark Thirty adalah sebuah istilah “slang language” dalam konteks militer, untuk waktu yang disebut sebagai “early hours of the morning before dawn”. Relevansinya dengan film ini adalah bahwa peristiwa penyerbuan ke markas terakhir Osama dilakukan pada tengah malam hingga pukul 2 pagi pada tanggal 2 Mei 2011. Istilah ini juga melambangkan selubung kegelapan dan kerahasiaan yang merundungi satu dekade usaha penangkapan Osama bin Laden.

Zero Dark Thirty seakan menjadi legitimasi bagi tindakan Amerika Serikat dalam memberantas  terorisme global. Segala tindakan yang mengancam keamanan dalam negeri sekaligus hegemoni Amerika Serikat di panggung dunia akan mereka lumat habis, tak terkecuali. Sebuah balas dendam a la Amerika terhadap semua yang Al Qaeda pernah lakukan atas mereka. Bagaimanapun, sejarah tetap mencatat bahwa perburuan terhadap Osama bin Laden adalah sebuah perjalanan panjang dalam sejarah umat manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Judul           : Zero Dark Thirty
Sutradara    : Kathryn Bigelow
Cast            : Jessica Chastain, Jason Clarke, Reda Kateeb, Joel Edgerton, Jennifer Ehle
Tahun         : 2013
Produksi     : Columbia Pictures

Paninggilan, 9 Maret 2013.

Minggu, 17 Februari 2013

Karamazov Bersaudara dan Sejarah Kecil Rusia

Komik ini mungkin sengaja dihadirkan ke hadapan saya agar saya bisa melakukan pembacaan awal dan mengambil suatu awalan cerita bagi penamatan buku aslinya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Memang tidak tepat untuk membandingkan keduanya secara langsung. Yang satu hadir sebagai manga representatif sedangkan satu lagi tampil sebagai wujud aslinya. Menarik. Untuk kemudian melakukan perbandingan atas keduanya secara singkat.



Setidaknya, gambaran keadaan kehidupan di Rusia semasa masa kekaisaran ditampilkan dalam bentuk populis sesuai dengan kaidah manga. Dimana penggambaran dan karakterisasi yang disesuaikan dengan figur orang-orang Rusia. Beberapa scene bahkan lazim dijumpai seperti dalam komik Jepang. Komik ini dibuat dengan kaidah membaca yang mirip manga aslinya dengan 300-an lebih halaman. Cukup atau tidak untuk merepresentasikan buku aslinya, saya belum bisa berpendapat karena saya pun belum menamatkan buku aslinya.

Cerita kehidupan di Rusia tidak jauh berbeda dengan negara maju lainnya. Dimana orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Kesenjangan yang jauh antara tuan tanah dan kalangan proletar membawa Rusia pada suatu pergolakan pemikiran. Aksi untuk menentang kemapanan dan kebobrokan birokrasi diekspresikan dalam berbagai macam aktivitas. Kalangan rohaniawan pun tidak kalah memiliki andil sebagai penyeimbang di dalam masyarakat yang semakin materialistis. Agaknya, sampai disini kita dapat melakukan penafsiran awal tentang akar-akar sosialisme dan komunisme.

Fyodor Karamazov sebagai Tuan Tanah sekaligus bangsawan kaya yang selalu berbuat seenaknya terbunuh. Kisah terbunuhnya bangsawan bejat ini menarik seisi kota untuk menghadiri persidangan atas kematiannya. Dimitri, anak sulung Fyodor dituding sebagai pembunuhnya, sesuai kesaksian Gregor, pembantu setia Fyodor. Alyosha, si bungsu Karamazov, tidak percaya bahwa Dimitri melakukannya. Alyosha hadir sebagai saksi yang meringankan tuduhan. Lain halnya dengan Ivan, adik Dimitri dan kakak dari Alyosha. Ivan tiba-tiba hadir untuk menyatakan siapa pembunuh ayahnya itu. 

Semljakov, anak dari hasil perkosaan Fyodor dengan seorang perempuan tidak dikenal adalah pelaku pembunuhan itu. Kesaksiannya itu tidak berakibat bagus bagi nasib Dimitri maupun Ivan sendiri. Dimitri tetap dihukum atas tuduhan pembunuhan terhadap ayahnya dan dibuang ke Siberia bersama kekasihnya, Grushenka. Sedangkan, Ivan menjadi gila karena tekanan bertubi-tubi yang muncul dari dalam dirinya. Perlu dicatat, Ivan ini seorang atheis yang tidak percaya sama sekali akan Tuhan. Tuhan tidak ada, katanya. Alyosha kembali pada kehidupannya yang semula sebagai rahib.

Sangat menarik untuk membaca sebuah tafsiran atas sebuah karya masterpiece dunia. Menarik pula untuk melihat bagaimana sebuah buku dengan tebal hampir 800-an halaman lebih dirangkum menjadi kurang dari setengah halaman buku aslinya. Tentu dibutuhkan kejelian dan ketelitian untuk memperingkas semua jalan cerita.

Sejarah Kecil Rusia

Pada intinya, sebagai karya sastra yang ditulis pada masa dimana Rusia tidak lagi mengalami pengekangan atas ekspresi individu, The Karamazov Brothers hadir untuk membawa kembali ingatan pada suatu masa yang telah lama dilewati. Tentang ketidakadilan kehidupan yang dialami sebagian besar masyarakat kecil petani. Kemajuan yang dicapai dalam bidang pertanian hanyalah kedok semata untuk memperkaya kaum bangsawan pemilik tanah. Pemerintah pun tidak mampu berbuat apa-apa karena desakan kaum borjuis yang begitu menggeliat. Agama yang selama ini selalu menjadi penyeimbang antara kebendaan dengan kehidupan kadang hanya menjadi "pelarian" bagi kaum proletar tertindas. Agama hadir sebagai jalan keluar bagi mereka untuk tetap memiliki harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Melalui komik ini, realitas kehidupan sosial kemasyarakatan Rusia ditampilkan secara sederhana sebagai refleksi atas keadaan pada waktu itu serta imbasnya terhadap pengaruh besar Negeri Tirai Besi pada perkembangan paham sosialisme dan komunisme di seluruh dunia. Tiga bersaudara Karamazov adalah sebuah contoh kecil dari sebuah figur besar yang lazim di Rusia saat itu. Betapa sejarah telah mencatat Revolusi di Rusia telah mengalami beberapa periode dengan pencapaiannya masing-masing sejak kematian Tsar Nicholas II. Sebut saja, misalnya Revolusi Bolsyhevik hingga kemudian glasnost dan prestroika yang merdu didengungkan Mikhail Gorbachev.

Terakhir, Dimitri, Ivan, dan Alyosha; Tiga bersaudara Karamazov ini saya anggap layaknya trio "Tiga Penguak Takdir" Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Tiga bersaudara ini adalah tokoh utama dalam permainan cerita kehidupan di Rusia, dengan segala permasalahannya dan berusaha menguak takdir masing-masing.

Judul        : Karamazov Bersaudara
Penulis     : Fyodor Dostoevsky, Variety Art Works
Penerbit   : Elex Media Komputindo
Tahun      : 2010
Tebal       : 384 hal.
Genre      : Komik

Paninggilan, 17 Februari 2013.
-di hari ulang tahun Ibu-

Sabtu, 09 Februari 2013

Dua Sastrawan Jepang

Menarik untuk mengetahui selayang pandang literatur Jepang melalui tulisan Edwin McClellan. Penulis secara khusus memang menempuh jalur studi di bidang literatur Jepang. Sehingga, penyampaian tentang kedua tokoh besar dalam sejarah perkembangan sastra Jepang dapat diulas dengan objektif.


Buku ini cenderung berkesan sebagai buku semi-biografi. Natsume Soseki dan Shimazaki Toson dihadirkan dalam fragmen-fragmen kecil mengenai sejarah kehidupan personal mereka. Pengalaman-pengalaman mereka disajikan kembali ke hadapan pembaca mulai pengaruh restorasi Meiji hingga kehidupan mereka selama menempuh pendidikan gaya barat di luar negeri. Beberapa karya mereka menampilkan muatan-muatan perasaan mereka selama periode tersebut. Tak heran bila kemudian Botchan karya Soseki meraih banyak penghargaan dan banyak diterjemahkan di berbagai negara.

Walaupun tulisan penulis tidak secara utuh menghadirkan imaji atas kedua sastrawan Jepang itu namun pembaca memperoleh gambaran penuh tentang kedua sosok sastrawan Jepang itu. Misal saja, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan karya-karya mereka. Menarik karena Edwin McClellan sepertinya sengaja membongkar semua hal yang berkaitan dengan cerita lain dibalik penciptaan karya mereka. Hal ini menjadi nilai tambah bagi pembaca untuk memahami pribadi personal dan karya mereka secara lebih detil.

Judul        : Two Japanese Novelists: Soseki & Toson
Penulis     : Edwin McClellan
Penerbit   : Tuttle Publishing
Tahun      : 2004
Tebal       : 180 hal.
Genre      : Kesusasteraan Jepang

Bogor, 6 Februari 2013.

Jumat, 11 Januari 2013

Markesot Bertutur

Artikel dalam Markesot Bertutur ini hadir rutin seminggu sekali dan dimuat di harian Surabaya Post dari tanggal 26 Februari 1989 hingga 1 Januari 1992. Markesot Bertutur menangkap fenomena kehidupan sosial kemasyarakatan yang terjadi saat itu. Misal saja, pembangunan waduk, hingga persoalan sosial lainnya seperti SDSB dan korupsi yang selalu jadi lagu lama. Markesot tidak hanya bertutur soal urusan dalam negeri saja. Urusan konstelasi politik di luar negeri turut menjadi sorotannya. Pembaca bisa ‘menikmati’ celoteh Markesot seputar persoalan Perang Teluk, George Bush, Saddam Hussein, hingga hubungan antara Kuwait dengan Irak. Dibagi ke dalam delapan bab, tuturan Markesot ini disusun sesuai konteks tertentu sejalan dengan bahan perbincangan yang menyorot berbagai problematika bangsa yang belum terpecahkan.



Dalam buku ini dapat dijumpai beberapa judul aneh, maksudnya diluar kelaziman. Namun justru itulah yang kemudian menjadi ciri khas guyonan ala Markesot serta memperkuat karakter Markesot, seperti:
- Man Rabbuka: Mercy, Rabbi (tulisan ini mengingatkan saya pada cerpen ‘Man Rabbuka’ karya AA Navis)
- Pangeran Samber Proyek
- Korupsi Struktural
- Undang-Undang Tidak Sama dengan Firman Tuhan
- Ilmu Tangan Kosong, Ilmu Kantong Bolong
- Diana yang Priayi, Charles yang Njawani

Markesot tidak selalu membahas hal-hal yang ‘berat’ saja. Sebagai lelaki ia juga tidak jarang membahas hal-hal yang berhubungan dengan sifat laki-laki. Seperti dicontohkan dalam potongan berikut:
“Makin malam biasanya mereka makin cantik. Terutama pada jam-jam mereka akan pulang, wah, cantiknya bukan main. Pokoknya ketika perempuan akan pergi dari kita, jadi cantik. Juga cantik tidaknya wanita itu tergantung situasi batin kita. Kalau pas gairah berumah tangga menggebu-gebu, memancar kecantikan kaum wanita. Apalagi pas punya uang lebihan yang kira-kira bisa untuk nonton, rasanya mereka cantik-cantik bukan main. Tapi anehnya, kalau sudah beberapa kali diajak nonton, cantiknya berkurang. Kalau sudah lama tidak diajak, kok cantik lagi...” (hal. 80)

Pada lain waktu, ketika sedang sangat serius merenungi sesuatu yang diluar jangkauan kemampuannya, Markesot pun piawai dalam menempatkan filsafat mbambung yang melingkupinya.
"Orang berhak hidup dengan pandangannya sendiri sepanjang dia sanggup menjaga jarak, tenggang rasa, dan toleran terhadap pandangan lain di sekitarnya. Kamu boleh beranggapan bahwa hidup ini tidak ada manfaatnya sehingga mati itu lebih baik. Akan tetapi, kamu mulai bersalah jika pendapatmu itu kamu paksakan umpamanya dengan cara membunuhi orang lain". (Hal. 94)

Markesot pun mampu mendeteksi dan membuat sebuah sintesis atas permasalahan korupsi yang tidak pernah selesai hingga saat ini ia dilahirkan kembali.
"Jadi ada tiga macam pendorong korupsi: keterpaksaan, hukum korupsi struktural, serta hedonisme, yakni keinginan untuk bermewah-mewah. Di Indonesia ini, ada ketimpangan yang sangat njomplang antara perolehan ekonomi normal dan iming-iming hidup mewah." (Hal. 162)


Menemukan kembali nilai-nilai kehidupan melalui sekumpulan tulisan tidak jarang kembali mengasah rasa. Mengasah kepekaan jiwa untuk istiroh sejenak, menata hati dan kembali menjiwai makna-makna illahiyah dalam setiap hikmah. Begitulah, Markesot Bertutur hadir kembali dalam wujud tata rupa yang baru ini.

Markesot Bertutur kaya akan nilai-nilai kehidupan sosial kemasyarakatan. Nilai-nilai itu adalah fondasi yang kuat bagi siapa saja yang mau memaknainya sebagai suatu ikhtiar menuju kesalehan sosial. Relevansi konteksnya dengan keadaan saat ini juga lantas menjadikan The Tale of Markesot ini panduan untuk kita dalam menata kembali konstruksi kehidupan sosial kemasyarakatan kita.

Walau tanpa disertai keterangan waktu dari setiap artikelnya, dengan delapan bab yang disajikan, Markesot Bertutur tetap menunjukkan relevansinya dengan konteks keadaan kekinian. Memang disayangkan, karena dengan keterangan waktu tersebut pembaca dapat lebih mudah menyesuaikan frame of reference dan field of experience mereka dengan konteks waktu saat artikel itu ditulis sehingga lebih mudah untuk melakukan pemaknaan kontekstual terhadap artikel-artikel Emha. Namun, hal itu tidak lantas menjadi cacat Markesot Bertutur. Penyusunan artikel dalam delapan bab dan korelasinya dengan subjek tertentu yang tertata dengan sistematis tetap menjamin kontekstualitas antar teks.

Suasana Diskusi Markesotan. Image courtesy: www.caknun.com
 
Emha Ainun Nadjib dalam diskusi Markesotan. Image courtesy: www.caknun.com

Penerbitan kembali Markesot Bertutur ini disambut dengan diskusi Markesotan yang digelar di Pendopo Kadipiro Yogyakarta pada 5 November 2012. Diskusi ini menampilkan Emha Ainun Nadjib sebagai penulis buku, Kuskridho Ambardi (Dosen Fisipol UGM) dan Andityas Prabantoro (Chief Editor Penerbit Mizan) dan diskusi dipandu oleh Toto Rahardjo (Progress).

Hadirnya Markesot Bertutur pada tahun 2012 ini untuk menyapa kembali para pembaca, karena obrolan Markesot dan kawan-kawan Konsorsium Para Mbambung (KPMb) ternyata tetap memiliki relevansi dengan berbagai peristiwa kekinian di negeri ini.

Judul        : Markesot Bertutur
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Penerbit Mizan
Tahun        : 2012
Tebal        : 471 hal.
Genre        : Sosial-Politik-Budaya


Pharmindo, 29 Desember 2012.

Rabu, 09 Januari 2013

Anak Tanah Air: Sebuah Kronik Kebudayaan

“Karena itu, lebih baik jangan ikut-ikutan politik. Yang penting bagi seniman....”
“Mencipta!”


Tidak banyak roman yang berlatar sejarah perjalanan bangsa. Apalagi sampai harus menceritakan segala persoalan yang menyangkut kesenian. Perkembangan kesenian di Indonesia mengalami pasang surut pada masa-masa awal kemerdekaan. Pergolakan ideologis antara kaum nasionalis, agamis, dan komunis menjadikan kesenian sebagai peluru bagi perjuangan ideologis mereka.

Pergulatan antar wacana kesenian dari masing-masing golongan menyebabkan para seniman yang berkecimpung di dalamnya harus menentukan sikap. Sebuah pilihan atas keberpihakan pada tujuan kesenian itu sendiri. Tak pelak, kenyataan tersebut menjadi duduk persoalan yang menarik untuk dibahas.


Roman ini dengan jenius mengangkat problematika kesenian di masa itu. Lukisan sebagai objek dari kesenian yang menginduk pada seni lukis telah lebih dulu mendapat tempat bila dibandingkan dengan khazanah seni lainnya di negeri kita.

Tersebutlah, Ardi, seorang anak muda yang rela meninggalkan kampungnya untuk menempuh kehidupan barunya di kota bersama pamannya. Di kota itu, Ardi tumbuh sebagai pemuda yang mencintai seni terutama seni lukis. Dengan bakatnya itu, tidak terlalu sulit bagi kawan-kawan di sekelilingnya untuk menemukan mutiara yang terpendam. Kelak, Ardi pun mendapati jalannya sendiri untuk menjadi seorang pelukis.

Kehidupan sekolah yang dijalaninya tidak menghalangi upayanya. Bersama komunitas pelukis, Ardi mengembangkan bakatnya. Tahun demi tahun berlalu. Ardi telah mengalami metamorfosa. Impian untuk sekolah lebih tinggi ditinggalkannya. Ia hanya mau melukis dan jadi pelukis saja. Sebuah pilihan yang sampai saat ini masih dipandang sebelah mata.

Tekad kuatnya itu lantas menjadikannya seorang ilustrator handal. Walau begitu, Ardi tetap ingin mendapat pengakuan dan apresiasi terhadap dirinya sebagai pelukis. Lika-liku perjalanan hidup mengantarkan dirinya pada Hermin. Seorang gadis penikmat seni yang tahu betul menghargai sebuah karya seni lukis. Setelah mengenal beberapa lama, mereka menjalin suatu hubungan tanpa status (mengikuti istilah keren ABG saat ini). Pergumulan cinta dan perasaanya dengan Hermin tidak berlangsung lama. Hermin lantas mencampakkan Ardi karena ia sendiri telah terikat pada pria yang lain. Seseorang dari masa lalu yang tumbuh bersama Ardi, Asep Suwangsa.

Dalam kegamangannya, Ardi mulai surut langkah. Terlebih, usai menerima tawaran Suryo untuk bersama-sama menandatangani persetujuan atas Konsepsi Presiden. Ardi mulai berpolitik tanpa ia sadari. Keadaan ini menyebabkan berbagai kesulitan datang bertubi-tubi menghampirinya. Ardi masih tidak sadar bahwa sebagian kawannya menganggap ia bergabung dengan sayap organisasi partai politik yang saat itu didominasi partai komunis. Ardi kehilangan peluang untuk menyelenggarakan pameran tunggal karena sikap politiknya itu. Lantas, Ardi pun kehilangan pekerjaannya. Tidak ada lagi majalah, tabloid, atau penerbit buku yang meminta ilustrasinya.

Ketika harapan hampir padam, Suryo datang kembali padanya. Menawarinya untuk tetap mengadakan pameran tunggal sekaligus memberi pekerjaan pada suatu majalah bulanan.
Perhelatan pameran tunggal Ardi pun sukses. Pameran tunggalnya banyak mendapat apresiasi dari para seniman penggiat Lekra. Ardi merasa telah mendapat apresiasi yang sepantasnya. Ideologi kesenian yang harus berpihak pada rakyat telah menjadi ciri karya-karya lukisannya.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Tidaklah salah apabila karya Ajip Rosidi ini disebut sebuah roman. Anak Tanah Air dengan jelas menggambarkan detail-detail penceritaan Ajip Rosidi terhadap suatu fenomena tertentu. Masalah utama dari roman ini sudah jelas dapat ditemukan pada paragraf ini:
“Tetapi, apakah seniman harus tetap tak ambil peduli kepada keadaan tanah airnya? Keadaan bangsanya? Apakah seniman harus merasa cukup asal dia dapat mencipta dan mendapat tepuk tangan dari pengagumnya, padahal tanah airnya sendiri menuju jurang kehancuran?” (hal. 285)

Inilah yang menjadikan roman ini istimewa. Setidaknya, sampai menjelang setengah buku, belum nampak persoalan utama. Pembaca digiring untuk menerka-nerka apa yang menjadi subjek utama cerita dalam roman ini. Pengalaman pembaca akan diuji hingga tiga per empat buku terlampaui. Hingga menemukan berbagai persoalan tentang kesenian di masa revolusi pasca kemerdekaan.

Persoalan kebudayaan pada masa revolusi pasca kemerdekaan atau dengan kata lain pada saat Demokrasi Terpimpin mengerucut pada pertikaian dua kelompok besar: Manifes Kebudayaan (Manikebu) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Mengacu pada MLBL, telah terjadi pembakaran dan pelarangan atas karya-karya seniman Manikebu dan juga penahanan terhadap mereka.

Kesenian pada saat itu hanya menjadi satu peluru bagi perjuangan ideologis belaka. Kesenian menjadi satu alat bagi Presiden Sukarno untuk tetap memantapkan kekuasaannya. Untuk itu, ia tentu membutuhkan segenap dukungan tak terkecuali dari kaum kiri/komunis. Termasuk para seniman yang sepaham dengan jalan perjuangannya yang dituangkan dalam Konsepsi Presiden. Keadaan ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan masyarakat yang menuntut Presiden untuk segera membenahi hal-hal mendasar soal kehidupan berbangsa

Relevansi sejarah pun mengatakan demikian. Sukarno yang dengan istilah-istilah besarnya malah tidak berhasil membuat satu kemajuan apapun. Tidak ada kemajuan dalam semua bidang kehidupan.   Laju inflasi tidak tertahankan sehingga rakyat pun sangat sulit untuk makan menyebabkan pergolakan-pergolakan paada semua bidang kehidupan. Mengenai hal ini agaknya pembaca yang budiman dapat membuka kembali memoar Mohammad Hatta yang terkumpul dalam buku “Demokrasi Kita”.

Karena saya terlebih dahulu menamatkan Kubah (Ahmad Tohari) dan Mochtar Lubis Bicara Lurus (Ramadhan KH-ed), saya menemukan suatu benang merah atas segala peristiwa yang terjadi saat itu. Bila Kubah membahas persoalan seorang tahanan politik yang ingin kembali ke tengah masyarakat usai komunis dimusnahkan dari bumi pertiwi maka relevansinya dengan MLBL dan roman ini menjadi satu substansi yang saling melengkapi. Latar belakang waktu dalam Kubah dan realitas yang disampaikan Mochtar Lubis dalam bukunya dapat menjadi narasi pendukung bagi roman Anak Tanah Air ini. Bahwa pada suatu tertentu dalam perjalanan sejarah bangsa kita telah terjadi hal yang demikian. Dan itu adalah persoalan kesenian.

Melalui roman ini, Ajip Rosidi mencoba mengungkapkan kembali segala peristiwa penting yang terjadi pada masa Revolusi Kemerdekaan. Ajip Rosidi mengangkat kembali persoalan kehidupan seniman-utamanya pelukis- serta hubungannya dengan situasi dan kondisi politik di Indonesia pada tahun-tahun itu. Ajip Rosidi meninggalkan penanda bagi kita, generasi penerus bangsa, untuk tetap membaca dan mengkaji sejarah republik demi masa depan kesatuan dan keutuhan bangsa.

Judul        : Anak Tanah Air
Penulis        : Ajip Rosidi
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 2008 (cet. 2)
Tebal        : 374 hal.
Genre        : Roman
Pharmindo, 24 Desember 2012.

Selasa, 25 Desember 2012

Mochtar Lubis Bicara Lurus

"Sastrawan tak akan pernah ketinggalan bila dibanding wartawan! Karena sastrawan memang tidak berlomba dengan wartawan, dan sia-sialah usaha seorang wartawan, yang hendak berlomba dengan sastrawan." *)

Buku ini merangkum wawancara Mochtar Lubis dengan beberapa wartawan dari berbagai media cetak negeri ini. Kumpulan ini secara tidak langsung mendokumentasikan buah pikiran, ide, dan gagasan Mochtar Lubis dalam rentang waktu 20 tahun. Dimulai dengan artikel wawancara tertanggal 18 April 1975 dan berakhir dengan artikel tertanggal 23 November 1995.

Sampul Buku

Sesuai dengan judulnya, Mochtar Lubis benar-benar bicara lurus. Artinya, Mochtar bicara secara gamblang dengan gayanya, penuh dengan konsistensi atas segenap permasalahan yang dijadikan topik dan pertanyaan wawancara. Buku ini seakan membuka tabir Mochtar Lubis dalam perannya sebagai wartawan dan sastrawan.

Banyak hal disinggung dalam buku ini, mulai dari persoalan yang dihadapi bangsa ini sejak pra-kemerdekaan hingga masa kejayaan Orde Baru pada 80-90an. Dalam kesemuanya itu, sikap konsistensi Mochtar Lubis tidak pernah berubah. Sebagai contoh, simak tanggapan beliau soal kemerdekaan Indonesia yang tidak memerdekakan manusia Indonesia itu sendiri. Pernyataan beliau soal kemerdekaan itu selalu muncul berulang-ulang dalam berbagai judul artikel. Bagi Mochtar Lubis, pengejawantahan demokrasi Pancasila dan hak azasi manusia masih jadi isu retoris belaka dan tidak pernah benar-benar diamalkan.

Tidak hanya itu, Mochtar Lubis juga menyinggung soal kehidupan sastra di Indonesia. Terutama, beliau menyorot persoalan yang muncul antara Manikebu dan LEKRA. Tidak hanya sampai disitu, beliau membahas juga kontroversi yang muncul seputar dirinya dengan Pram (Pramoedya Ananta Toer), dan juga soal penganugerahan Magsaysay Award yang secara terang-terangan ditolaknya. Yang menarik, ada nama lain yang juga muncul selain penguasa Orde Lama dan Orde Baru, yaitu Budi Darma. 

Sebagai sesama sastrawan, Mochtar Lubis menganggap bahwa tidak sepantasnya Budi Darma melakukan kritik sastra. Dengan kata lain, Budi Darma tidak sepantasnya melakukan kritik atas karya sastra orang lain agar tidak kehilangan objektivitas dalam penilaian karya sastra tersebut. Alasan tersebut cukup masuk akal mengingat sikap Mochtar Lubis sendiri yang tidak pernah melakukan timbangan atau kritik sastra. Perlu dicatat juga bahwa mungkin saja alasan Budi Darma berperan sebagai kritikus dipengaruhi oleh latar belakang akademik yang mengharuskannya melakukan kajian-kajian sastra.

Buku ini setidaknya menggambarkan sikap seseorang yang teguh memegang prinsip dan setia pada amanat perjuangannya. Mochtar Lubis dengan 'lurus' bicara segala macam persoalan bangsa ini dengan konsistensi yang tidak tergoyahkan. Membacanya, justru akan menambah khazanah pengetahuan khalayak melalui penuturan seorang tokoh bangsa yang mengakhiri perjuangannya dengan paripurna.

Insert halaman buku: Foto-foto kenangan Mochtar Lubis
 
Insert halaman buku: Mochtar Lubis bersama anak angkat di Vietnam

Insert halaman buku: Mochtar Lubis di Vietnam

Insert halaman buku: Mochtar Lubis dengan anak angkat di Vietnam


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Ada beberapa hal yang saya cermati dalam buku Mochtar Lubis ini. FYI, buku ini adalah buku Mohctar Lubis kesekian yang saya baca setelah Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, dan Harimau-Harimau (tidak tamat). 

Saya tidak tahu apakah Mochtar Lubis ini juga tergolong ke dalam 'kaum futuris' yang selalu memimpikan tatanan baru Indonesia dalam Demokrasi Pancasila. Hal ini tersirat dalam satu petikan wawancara soal suksesi kepemimpinan tahun 1998 lalu. Mochtar Lubis telah lama memprediksi bahwa akan ada suksesi setelah tahun 1998 karena konstelasi politik dan tuntutan rakyat. Nyatanya, seperti yang telah kita alami sendiri, Soeharto mengakhiri masa kekuasaannya pada tahun 1998 tersebut.

Dalam catatan yang saya selipkan selama membaca buku ini muncul beberapa topik yang relevansinya masih tinggi dengan keadaan negeri kita saat ini. Sudah dari zamannya Mochtar Lubis bahwa partai dan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) yang seringkali mengaku sebagai penyambung lidah rakyat kehilangan kepercayaan dari rakyat itu sendiri. Kecenderungan tersebut menyebabkan keadaan politik yang tidak pernah stabil dan rawan KKN. Keadaan seperti itu masih berlangsung setidaknya sampai saat ini. Dengan demikian, sejarah telah menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang berulang. Entah bangsa kita yang gagal belajar darinya.

Soal kehidupan sastra di negeri ini, saya angkat topi pada sikap Mochtar Lubis yang 'menahan' dirinya untuk tidak tampil sebagai sastrawan sekaligus kritikus sastra. Sila simak beberapa wawancara, Mochtar Lubis beberapa kali menyatakan bahwa ia tidak akan mau untuk menulis suatu kritik atas suatu karya tertentu sesama sastrawan. Tentu saja, hal itu dilakukannya demi menjaga objektivitas.

Persoalan lain yang muncul soal sastra  adalah perseteruannya dengan Pram. Mochtar Lubis mengecam sikap Pram yang mengangkangi kebebasan berekspresi dalam sastra melalui segenap intimidasi pada harian Lentera yang dipimpin Pram. Menurut Mochtar Lubis, Pram telah melakukan kesalahan dalam sejarah sastra Indonesia dengan 'membakar' semua karya sastrawan anggota Manifest Kebudayaan. Harapannya hanya satu, agar mengingatkan kaum muda untuk tidak begitu saja melupakan sejarah yang terjadi pada masa itu.

Menurutnya, Pram tidak pernah mengakui kesalahannya itu. Mochtar Lubis dapat menerima karya-karya Pram tetapi tidak untuk sikapnya yang hanya diam ketika disinggung soal pembakaran tersebut. Mochtar Lubis tidak menuntut apa-apa kecuali Pram mau mengakui kesalahannya itu. Hingga saat Pram dianugerahi Ramon Magsaysay Award, sikap yang demikian itu tidak berubah. Sebagai protes atas penghargaan tersebut, Mochtar Lubis mengembalikan semua hadiah yang ia terima ketika mendapatkan penghargaan serupa yang diterimanya jauh sebelum Pram dinominasikan.

Entah pembaca mau menganggap Mochtar Lubis sebagai seorang utopis, idealis, sekaligus realis, yang jelas konsistensi sikapnya itu perlu jadi teladan. Mochtar Lubis tidak sembarang berkata. Semua yang diucapkannya dalam 'rekaman wawancara' ini menunjukkan konsekuen dan konsistensinya. Dan yang terpenting semua itu diungkapkannya sebagai sintesa sebuah pengalaman karena ia sendiri telah mengalami semua yang ia katakan itu. Kesesuaian tingkah laku dan ucapannya menjadi semacam 'trademark' yang sudah melekat bagi sebuah simbol atas nama: Mochtar Lubis.


Judul                     : Mochtar Lubis Bicara Lurus: Menjawab Pertanyaan Wartawan
Penulis                 : Ramadhan K. H (editor)
Penerbit                : Yayasan Obor Indonesia
Tahun                   : 1995
Tebal                     :315 hal.
Genre                   : Memoar-Tokoh


Paninggilan, 18 Desember 2012.


*) Petikan wawancara redaksi Memorandum, halaman 4.