Jumat, 13 Agustus 2010

Menantang Diktator, Menantang Takdir (Edisi Sejarawan Dadakan)

Judul Buku : Menantang Diktator: Konspirasi Rahasia Anti-Hitler
Penulis : Darma Aji
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2006
ISBN : 9789797091996
Genre : Sejarah Dunia










Conspiracy without solidity will be nothing

Membaca kembali catatan sejarah peninggalan Third Reich dengan simbol kejayaan Nazi dan Adolf Hitler tentu masih sangat menarik untuk diperbincangkan. Perlawanan terhadap rezim yang menjalankan kekuasaan dengan diktatorisme dan totalitarian menjadi sangat tdak mudah. Terlebih lagi, Angkatan Bersenjata Jerman terikat sumpah setia pada Fuehrer.

Menggalang kesatuan ide dan kesepakatan politis demi mencapai tujuan bersama, yaitu bersatunya kembali Jerman dan runtuhnya rezim Nazi seringkali gagal karena tidak kokohnya fondasi konspirasi yang mereka buat sendiri. Dengan demikian, sampailah mereka pada ide untuk membunuh Hitler dan Himmler. Namun, merencanakan pembunuhan Hitler pun bukan perkara yang mudah. Banyak Jenderal masih memegang sumpah setianya pada Fuehrer dan banyak pula yang beranggapan bahwa berkonspirasi membunuh pemimpin Negara adalah suatu tindakan pengkhianatan terhadap Negara.

Berbagai plot telah disiapkan guna menggulingkan rezim diktator yang semakin menenggelamkan Jerman dalam perang melawan Sekutu Barat dan Uni Soviet dibawah pimpinan Stalin. Plot pembunuhan Hitler disusun bersama dengan serangkaian rencana kudeta dan pengambilalihan kekuasaan di Ibukota Jerman saat itu, Berlin. Hanya saja, keberuntungan seringkali menaungi Hitler. Beberapa percobaan sempat mengalami kegagalan. Hitler pun semakin di atas angin dan semakin merasa bahwa tujuan mulia terhadap Third Reich adalah takdirnya.

Begitu pun usaha dari Kolonel Clauss von Stauffenberg pada 20 Juli 1944 yang membawa bom dalam koper dan meninggalkannya di ruang rapat markas Hitler di Wolfersschanze (Wolf’s Lair), Prusia Timur. Kisah heroik ini juga pernah difilmkan dengan judul Valkyrie (MGM, 2008) dan dibintangi oleh Tom Cruise yang memerankan sendiri Stauffenberg. Valkyrie sendiri adalah nama dewa dalam mitologi Jerman-Nordik yang juga namanya dijadikan sandi operasi pengambilalihan keamanan darurat dalam negeri bila sewaktu-waktu kepala Negara berada dalam keadaan bahaya.




Melalui buku ini, pembaca diajak lebih menyelami kejadian-kejadian konspirasi sepanjang berkuasanya Rezim Nazi dibawah komando Adolf Hitler, der Fuehrer. Pembaca juga akan mendapatkan wawasan tambahan sepanjang Perang Dunia II, tentang bagaimana taktik militer Jerman pasca D-Day di Normandia dan War of Stalingrad, dan juga apa dan siapa yang ikut berperan seputar masa-masa kelam dalam sejarah kemanusiaan. Lebih lengkap lagi bila pembaca juga menonton film dokumenter D Day 6.6.44 (2004) dan War of The Century: When Hitler Fought Stalin (2000) rilisan BBC Films sehingga objektivitas pembaca akan tetap terjaga dengan informasi dan arsip-arsip terbaru yang dirilis Rusia guna kepentingan riset.


Paninggilan, 13 Agustus 2010. 10.33

Selasa, 10 Agustus 2010

Inception: Kehidupan Ide dalam Pikiran


Judul : Inception
Sutradara : Christopher Nolan
Tahun : 2010
Produksi : Warner Bros Pictures
Genre : Action Thriller
Pemain : Leonardo Dicaprio, Tom Hardy, Ken Watanabe, Ellen Page, Joseph Gordon-Levitt

Your mind is the scene of crime

Awalnya adalah ide, suatu hal yang kecil dan menjadi fokus utama dalam film garapan Christopher Nolan yang juga menyutradarai The Dark Knight. Ide secara langsung berkaitan dengan pikiran. Begitu ide terlintas, pikiran pun akan segera merekamnya dan menentukan akan diapakan ide tersebut. Masalahnya, terkadang berbagai ide yang muncul hanya terlintas sesaat dalam kenyataan. Begitu jiwa dan raga ini beristirahat dalam tidur makan ide itu akan segera hilang, seperti Koes Plus bilang dalam lirik lagu Perasaan, “...betapa megah hidupku kau bilang, dalam tidurmu semua akan hilang...”.

Namun, siapa sangka kalau ide itu ternyata masih diputar ulang oleh pikiran melalui alam bawah sadar. Agaknya, untuk membahas hal ini lebih jauh diperlukan analisis mendalam dengan berbagai referensi dari Psikonanalisis yang dielu-elukan oleh Kaum Freudian, mereka pengikut sang juru alam bawah sadar, Sigmund Freud.

Menyimak film ini rasanya tidak berbeda jauh dengan The Ocean Gangs (Ocean’s Eleven, Ocean’s Twelve, dan Ocean’s Thirteen). Pemimpin aksi yang mendapatkan tugas istimewa harus mengumpulkan anggota tim terbaiknya agar misi dapat berhasil dan sukses. Bedanya, dalam Inception, Dom Cobb (Leonardo Dicaprio) dikisahkan masih menyimpan bayang-bayang masa lalu dari keahliannya bersama istrinya. Ingatan masa lalu yang belum sepenuhnya dihapus dan risiko pekerjaannya menjadi hal yang menarik dalam film ini.

Dom Cobb adalah seorang pencuri yang bekerja di dunia yang tidak nyata: dunia mimpi dan alam bawah sadar. Dom Cobb memiliki kelebihan untuk mencuri lewat kemampuan ekstraksi, yang memungkinkannya untuk mengambil berbagai informasi dan rahasia melalui alam bawah sadar. Dengan cara itulah, ketika pikiran berada dalam kondisi vulnerable Dom Cobb menjalankan aksinya.

Kemampuan itulah yang menyebabkannya memasuki dunia baru spionase korporat. Melalui usahanya, ia kemudian menjadi sorang pelarian internasional sehingga harus membayar semuanya dengan kehilangan keluarganya. Menyadari usahanya untuk terus berlari dan bersembunyi akan sia-sia, Cobb pun menerima tawaran Saito, pengusaha dari Jepang, yang membuat kesepakatan supaya Cobb bisa kembali pada kehidupan dan keluarganya seperti semula.

Pekerjaan yang diberikan Saito adalah sederhana. Cobb diminta untuk menanamkan ide didalam pikiran Robert Fischer (Cillian Murphy), sang pewaris kerajaan bisnis ayahnya, Walter Fischer (Pete Postlethwaite), yang juga saingan bisnis Saito. Saito khawatir ekspansi bisnis Fischer akan berpengaruh dalam pasaran energi internasional. Cobb harus menanamkan ide bahwa Fischer Jr tidak akan melakukan kebijakan untuk mengikuti jejak ayahnya.

Sepintas pekerjaan itu terlihat sangat mudah. Namun, Cobb harus menembus sampai 3 lapis mimpi agar ide yang ditanamkan itu menancap sempurna pada target. Bersama tim bentukan yang terdiri dari berbagai spesialis (bukan dokter spesialis) Cobb merancang suatu misi. Kali ini bukan misi pencurian ide tetapi penanaman ide. Pekerjaan ini adalah pekerjaan terakhir untuknya. Pekerjaan yang disebut impossible-inception. Jika mereka berhasil maka itu akan jadi kejahatan yang illegally perfect. Kesalahan dalam perencanaan dan perhitungan malah justru tidak hanya akan menimbulkan bahaya tetapi juga keselamatan mereka semua.


The Cobb's Winning Six Team

Overall, Inception menawarkan thrilling action plus imaginative sci-fi khas film-film Hollywood. Lengkap dengan adegan kejar-kejaran dan tembak-menembak. Juga tidak lepas dari plot cerita dengan alur yang berulang-ulang maju mundur sehingga penonton wajib mengikuti cerita dari awal hingga tamat. Konflik personal pelaku utama juga membuat penonton menebak-nebak. Menurut penulis, acting Dicaprio memang punya ciri khas dan cita rasa tersendiri.

Kalau saja pemeran utamanya diperankan oleh Brad Pitt, Matt Damon, atau Ben Affleck yang sering tampil dalam film bergenre sama akan terasa lebih gagah dan tegas. Barangkali, image yang terlanjur melekat pada pribadi masing-masing mereka memberikan daya tarik dan nilai tawar tersendiri juga bagi produser film. Terakhir, Kalau boleh menyarankan, film ini juga layak dibuat jadi game RPG dengan multi-ending seperti Legend of Legaia yang punya 5 ending di akhir cerita.



Catatan Akhir Seorang Kritikus Dadakan

Ide itu seperti virus. Ide bisa berkembang atau menghancurkanmu.

Quote yang menurut saya sangat bermakna. Bahwa seringkali ide-ide kecil dalam pikiran justru malah tidak kita sadari berawal dari inspirasi murni yang diterjemahkan oleh penulis script sebagai Pure Inspiration. Ide adalah hal kecil yang akan merubah segalanya. Simply little thing that changes everything. Sering juga tidak disadari bahwa ada ide atau gagasan berharga sangat mahal.

Jangan lupakan juga tentang pikiran (mind). Tanpa pikiran, suatu ide atau gagasan tadi hanya akan jadi kesia-siaan belaka. Pikiranlah yang sebenarnya menentukan kemana ide itu menuju dan akan jadi seperti apa ide nantinya. Pikiran memegang peranan yang sentral karena dapat membahayakan kepentingan luas. Ada semacam hukum kekekalan yang melingkupinya. Bila memang pikiran itu baik maka baik pula hasilnya, begitupun sebaliknya. Hal lainnya yang patut diwaspadai adalah kematian ide dalam pikiran. Barangkali karena pikiran sudah memang terlanjur menelan racun peradaban sehingga sulit sekali untuk mencerna ide menjadi sesuatu.

Hingga pada akhirnya, kita akan mengakui bahwa ide sekecil apapun akan tetap berharga. Itulah yang menyebabkan mahalnya isi kepala seseorang yang berhasil mengolah ide atau gagasan menjadi sesuatu yang bermakna dan berarti. Karena didalamnya, pikiran dan ide berhasil membentuk sebuah formasi kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan lekang oleh zaman.



Paninggilan, 10 Agustus 2010. 23.31


*dengan ingatan pada siang di XXI Gandaria City, St. 6- F9
** Image hasil repro dari www.imdb.com


Minggu, 08 Agustus 2010

Tentang Mimpi-mimpi di Pakutik

Ada mimpi datang dan pergi
Pada senja selintas di musim basah
Sedang kau pun tahu
Tak satu pun menuju padamu

Kau juga tahu
Tak ada rindu meluruh
Saat mimpi menyebut namamu
Hanya kosong yang entah semu




Sedang malam masih merambat
Menambat harap pada bintang
Di pojok langit utara
Gelap, dingin, (dan lagi-lagi) sepi



Pakutik, Sungai Pinang, 4 Agustus 2010. 22.19 WITA
*) dengan ingatan pada sekuen mimpi-mimpi yang berkejaran 3 hari berturut-turut

* crossposting dari tetangga, selendangwarna.blogspot.com

Sabtu, 24 Juli 2010

Nyanyian Sepanjang Hari #2

06.00 Meja Kerja
Pinokio Instrumental played following Winter Games melody


07.00 Meja Kerja
...cinta satu malam, oh indahnya...


07.30 Meja Kerja
... it came over me in a rush, when i realize that i love you so much...


09.00 Kantin Minerba
... semua terserah padamu, aku begini adanya...


10.00 Ruang Rapat Minerba lt.4
... the winner takes it all, the looser standing small...


12.00 Masjid di daerah Tebet Barat
... Tuhan aku ingin mencurahkan isi hatiku kepada-Mu...




13.59 Meja Kerja (wangi menthol dari Starmild)
... katakanlah, katakan sejujurnya, apa mungkin kita bersatu...


19.30 Meja Kerja
...but you were history with the slamming of the door, and I made myself so strong again somehow...


21.45 Meja Kerja (menghisap Surya Slims Red Label)
...andaikan mungkin ingin aku mengajak kau kembali...


23.55 Meja Kerja (mulai dungdeng,)
...meskipun jauh, ku kan selalu merindukannya...


00.55 Meja Kerja (mata mulai berat, angka-angka sialan terpampang di LCD)
...now the drugs don't work, they just make you worse, but i know i'll see your face again...


Paninggilan, 24 Juli 2010. 01.03

*Pinokio Instrumental, dari album Kahitna, Sampai Nanti (1998), track #5

*Winter Games melody, theme from Winter Olympics Canada 1988, ada di album The Best of David Foster (1992)

*penggalan lirik lagu "Cinta Satu Malam", dinyanyikan oleh Melinda

*penggalan lirik lagu "In A Rush", dinyanyikan oleh Blackstreet

*penggalan lirik lagu "Jangan Ada Dusta Diantara Kita", dinyanyikan oleh Dewi Yull & Broery Pesolima

*penggalan lirik lagu "The Winner Takes It All", dinyanyikan oleh ABBA

*penggalan lirik lagu "Terbalik", dinyanyikan oleh Delon Idol

*penggalan lirik lagu "Katakan Sejujurnya", dinyanyikan oleh Christine Panjaitan

*penggalan lirik lagu "It's All Coming Back To Me Now", dinyanyikan oleh Celine Dion

*penggalan lirik lagu "Mungkinkah", dinyanyikan oleh Kris Biantoro

*penggalan lirik lagu "Meskipun Jauh", dinyanyikan oleh Apel Band

*penggalan lirik lagu "The Drugs Don't Work", dinyanyikan oleh The Verve

Kamis, 22 Juli 2010

Nyanyian Sepanjang Hari

10.07 Meja Kerja

...dingin, dingin, hati ini tambah dingin entah mengapa...


12.00 Busway Blok M-Kota

...show me the meaning of being lonely, this is the feeling I need to walk with...


13.40 Toko Donat depan Wisma Hayam Wuruk

...mengapa ku selalu sendiri, akankah hidupku tiada berarti...




16.30 PPD Cililitan-Blok M

...Cause all of the stars, have faded away, just try not to worry, you'll see it someday...


21.29 Meja Kerja

...biarlah bulan bicara sendiri, biarlah bintang kan menjadi saksi...



Paninggilan, 22 Juli 2010. 22.24

- penggalan lirik lagu "Dingin", dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang
- penggalan lirik lagu “Show Me The Meaning of Being Lonely”, dinyanyikan oleh Backstreet Boys
- penggalan lirik lagu “Langit Tak Mendengar”, dinyanyikan oleh Peterpan
- penggalan lirik lagu “Stop Crying Your Heart”, dinyanyikan oleh Oasis
- penggalan lirik lagu “Biarlan Bulan Bicara”, dinyanyikan oleh Broery Marantika

Perjalanan

Setelah mampir dan membaca kembali pesan-pesan yang berseliweran di milis indobackpacker@yahoogroups.com, saya kemudian mengembalikan ingatan saya pada beberapa perjalanan yang pernah saya lakukan. Bersama teman-teman, ataupun sendirian, termasuk ketika menembus belantara Jakarta berduaan dengan teman yang belum pernah ke Jakarta sekalipun.

Rasanya, saya masih akan bisa memenuhi target saya. Minimal, setahun sekali saya harus melakukan perjalanan. AKAP. Antar Kota Antar Provinsi, Antar Kota Antar Pulau., atau Antar Kota Antar Negara. Mengapa begitu? Saya yakin bahwa dengan perjalanan akan membuka pikiran kita dan menghantarkan diri pada pengalaman-pengalaman baru. Hal ini sangat diperlukan mengingat aktivitas padat setahun penuh.

Kadangkala, perjalanan saya perlukan seperti Ramadhan, untuk mengistirahatkan jiwa dan menenangkan pikiran serta membuka hati, bahwa dunia ini masih luas dan menunggu kita. Tuhan pun pasti tidak ingin bumi dan seisinya yang dia ciptakan ini disiakan begitu saja karena Tuhan tentu masih menginginkan hambanya ini menikmati perjalanan sambil mensyukuri tanda-tanda kebesaranNya.

Kalaupun ada tiket perjalanan menuju kesepian terindah maka saya akan membeli dan menghadapinya. Seperti sekarang ini.


Paninggilan, 29 Juni 2010. 16.55
diedit ulang 22 Juli 2010. 00.30

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta: Elegi Hari Nanti

Seorang pemuda muslim. Seorang gadis katolik. Will they live happily ever after?

Intisari dari film ini kurang lebih seperti disebutkan diatas. Tetapi, kesan pertama saya terhadap film ini adalah: Henidar Amroe is Back! Stunning! Rupanya, ia membuktikan ucapannya pada suatu interview di acara Just Alvin! Henidar is on-screen, yeah!


Film garapan Mizan Production ini mengangkat tema yang universal dan masih membalas isu yang sama, perbedaan. Perbedaan keyakinan antar tokoh-tokoh utama dalam film ini menjadi tema sentral yang menjadi roh dalam film garapan Benni Setiawan ini. Diceritakan bagaimana Rosid (Reza Rahadian) yang terobsesi menjadi seorang sastrawan wannabe inspired by W.S Rendra berhubungan dekat dengan Delia (Laura Basuki), seorang mahasiswi dari keluarga berada. Keberadaan sastra sebagai bumbu lain di film ini juga cukup membangkitkan kenangan penonton terhadap syair-syair Rendra. Saya terkesan dengan potongan dialog antara Rosid dengan Martha (Ira Wibowo), Ibu dari Delia, “Mama pikir setelah Rendra nggak ada lagi yang mau jadi sastrawan...”.

Hubungan Rosid dan Delia pun semakin berjalan selayaknya kaum muda yang sedang bercinta. Mereka cenderung menjalani perbedaan dengan apa adanya dan saling menghargai satu sama lain. Akan tetapi, konflik baru timbul ketika kedekatan mereka mulai beralih menjadi sesuatu yang serius. Ada beberapa adegan yang menampilkan rapuhnya nilai-nilai dan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita. Betapa kecurigaan dan prasangka terhadap sesuatu yang terlanjur melekat dalam keseharian kita menimbulkan gejolak dalam masyarakat.

Dalam satu adegan digambarkan bagaimana keributan yang terjadi hanya karena perkumpulan yang dibentuk Rosid dan teman-temannya. Kejadian itu pun akhirnya diselesaikan dengan jalan keributan, jalan yang selalu ditempuh beberapa warga masyarakat kita untuk menyelesaikan masalah. Hal ini menampakkan bahwa kebenaran itu bukan sesuatu yang mutlak dan ada di masing-masing kepala. Sehingga, terjadilah benturan yang tidak diinginkan atas dasar prasangka dan kehendak umum-yang kadang-kadang menyesatkan. Bila dicermati lagi, scene itu terkesan mirip dengan beberapa kejadian yang pernah terjadi sebelumnya di Indonesia ini. Kekerasan telah jadi bagian hidup di Negara yang warganya dikenal ramah dan damai.

Konflik utama dari keseluruhan cerita adalah ketika keseriusan Rosid untuk menikah dengan Delia mendapat tentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan: keluarga. Sampai disini, penonton seakan disadarkan kembali bahwa pernikahan adalah bukan hanya sekedar ikatan dua anak manusia, tetapi lebih dari itu. Pernikahan pun melibatkan dimensi-dimensi lain dalam ruang kehidupan seseorang, keluarga itu jelas faktor utama selain lingkungan yang ikut menentukan. Maka, ketika dua dunia meminta dipersatukan timbullah berbagai persoalan. Mulai dari orang tua Delia, Frans (Robby Tumewu) dan Martha yang berniat menyekolahkan Delia ke Amerika dan orang tua Rosid dengan mencarikan jodoh yang sealiran dengan mereka.

Prahara pun kembali muncul ketika 3 hati yang terlanjur bermain dengan perasaan itu bertemu satu sama lain. Nabila (Arumi Bachsin) yang tampil anggun dibalik kerudungnya, rupanya berhasil memikat hari Rosid. Namun, ketika Delia menanyakan tentang kesungguhan Rosid, maka Rosid pun terperangkap pada kenangan masa lalunya bersama Delia. Kesungguhan mereka kembali diuji.

Akhir cerita, Delia dan Rosid akhirnya sepakat pada takdir. Mereka biarkan takdir membawa nasib mereka masing-masing. Delia dan Rosid sepakat pada kata-kata mereka dulu, “Kita liat aja nanti...”.


Catatan Akhir Seorang Kritikus Dadakan

Pada akhirnya, Rosid, Nabila, dan Delia menjalani takdirnya masing-masing. Tidak satupun dari mereka bersatu kembali dalam satu ikatan. Memang nasib takdir tidak menentu. Hal ini semakin menegaskan bahwa ketika anda berpikir bahwa anda bisa mengendalikan segalanya justru yang terjadi adalah kebalikannya: everything’s out of control.

Dalam diskusi seusai pemutaran film Romo Benny Susetyo dan satu pembicara yang saya lupa namanya, mempersoalkan tentang ending dari film yang konon diangkat dari Novel Best Seller dengan judul yang sama. Bagi kedua komentator, selain jalan cerita yang memang mencerminkan perilaku masyarakat kita ditengah himpitan dan benturan antara nilai-nilai modernitas dengan budaya serta tradisi, ending dari film tadi haruslah jelas dan berujung pada satu kesimpulan (conclusion) agar tidak menimbulkan berbagai macam pretensi. Akhir cerita yang demikian tersebut diharapkan mampu memberikan suatu gambaran atau solusi bagi penonton yang kebetulan mengalami kejadian yang sama.

Akan tetapi, saya yakin bahwa ending yang ditampilkan dalam film sudah merupakan suatu keindahan tersendiri. Dalam satu tulisan, saya pernah membaca bahwa karya sastra yang baik adalah karya yang memberikan kesempatan bagi pembaca untuk menentukan kesimpulan masing-masing. Rasanya tidak berlebihan bila ending dari film ini kemudian berakhir dengan memberikan wacana bagi penonton, sama halnya seperti ciri karya sastra yang baik diatas.

Mempersoalkan perbedaan kini bukan lagi hal yang tabu. Perbedaan itu lumrah karena pada dasarnya kita mengalami pengalaman demikian setiap harinya. Tinggal bagaimana menyikapi perbedaan sebagai keberagaman dalam masyarakat yang multikultur. Dibutuhkan lebih sekedar sekedar pengertian dan pemahaman terhadap konteks keberagaman. Kesenjangan yang menimbulkan gesekan antara nilai-nilai modernitas gaya barat dan nilai-nilai tradisional, seperti terdapat dalam novel Atheis, dapat diminimalisir dengan berbagai cara, diantaranya dialog antar budaya. Menyikapi perbedaan dalam heterogenitas masyarakat mutlak diperlukan untuk mengembalikan dan menegakkan kembali nilai-nilai humanisme universal yang terlanjur pudar dalam wajah masyarakat kita.


Paninggilan, 21 Juli 2010 23.56


*dengan ingatan pada Nonton Bareng & Diskusi Film, 3 Hati: dua dunia, satu cinta, 10 Juli 2010 di Pondok Indah Mall.

crossposting dari tetangga selendangwarna