Sabtu, 12 Februari 2011

Saya Tidak Percaya Bahwa Saya Menulis Hal Yang Demikian Eps. 6

Alangkah hidup ini bisa menyenangkan kalau memang kita menghendakinya.


Pharmindo, 18 Januari 2010, 00.29

Broken Vow



Tell me his name, I want to know
The way he looks and where you go

I need to see his face, I need to understand

Why you and I came to an end


Tell me again, I want to hear

Who broke my faith in all these years

Who lays with you at night while I'm here all alone

Remembering when I was your own


I let you go, I let you fly
Why do I keep on asking why?
I let you go, now that I've found a way to keep somehow

More than a broken vow


Tell me the words I never said

Show me the tears you never shed

Give me the touch, the one you promised to be mine

Or has it vanished for all time?


I let you go, I let you fly

Why do I keep on asking why?

I let you go, now that I've found a way to keep somehow

More than a broken vow


I close my eyes

And dream of you and I and then I realise

There's more to love than only bitterness and lies

I close my eyes


I'd give away my soul to hold you once again

And never let this promise end


I let you go, I let you fly

Now that I know, I'm asking why

I let you go, now that I've found a way to keep somehow

More than a broken vow

Senin, 31 Januari 2011

Le Memoir du Soir (2)

Akhirnya sore macam kemarin datang lagi. Membawa cerita yang silih berkejaran dalam rindu yang menghadang. Betapa langit mendung seperti sengaja menghalangi bias mentari senja. Tidak ada senja keemasan menutup hari. Usai puas menertawakan diri sendiri sepanjang akhir pekan di kotamu. Tinggal tanya dalam hati: masihkah kutemui asaku?

Ada rindu tersisa untukmu. Rindu padamu bagai rindu pada setiap lembaran cerita dalam buku-buku di rak kamarku untuk kemudian kutuliskan dalam sebuah esai pendek berlabel memoar. Sebagai tanda perekat memori tentang rasa. Suatu saat akan kutuliskan juga cerita tentang kita. Tentang wangi coklat dan tarian malam di hari itu atau malah tentang perasaan masing-masing.

Masih diiringi deru mesin bis yang mengaum menerkam aspal, aku tak juga bisa memejamkan mata mengistirahatkan pikiran barang sejenak. Entahlah, mungkin karena semua lagu tentangmu yang mengalun pelan itu atau karena rindu pada tatapan matamu lagi. Bukan aku meragukanmu, tapi sungguh ku tak ingin engkau jauh dariku.

Kupuisikan rindu di hatiku sambil membaca kembali surat-suratmu yang selalu meredakan gelisah ini. Apalagi ketika sampai pada baris uang palsu itu hingga pelajaran untuk ikhlas dan memaafkan. Terkadang kita perlu menghela nafas sejenak untuk berlari kembali.

Mungkin sulit untuk bisa dimengerti. Kenapa sore seperti ini turun dengan segala resahnya. Membawa rindu hanpa pada yang tertuju. Segalanya kian menyesak menyiksa. Tolong ikhlaskan dan maafkan aku.


Pharmindo-Purwakarta-Paninggilan. 30 Januari 2011.

Minggu, 30 Januari 2011

Beri Aku Alasan Untuk Pulang

beri aku alasan untuk pulang
pada senyum yang melekat rona wajahmu

beri aku alasan untuk pulang
membilas rindu pada teduh matamu

beri aku alasan untuk pulang
pada setiap nasihat Ibu

beri aku alasan untuk pulang
entah hanya untuk menatap gelisah wajahmu

*

beri aku alasan untuk pulang
menambat harap pada labuhan hatimu

beri aku alasan untuk pulang
menebar cita pada ladang harapmu

beri aku alasan untuk pulang
entah hanya untuk mencintai resahmu

beri aku alasan untuk pulang
alasan abadi bukan pembenaran


Cengkareng-Paninggilan. 26 Januari 2011.

Rabu, 26 Januari 2011

Usai Merenda Malam

Rindu yang mereda
Tinggal gelisah dalam tanya
Akankah sama jadinya
Mengenang dahulu
Atau, selesai dari masa lalu


Paninggilan, 23 Januari 2011. 23.46

Sabtu, 22 Januari 2011

The Wishes



It's been a year since those wishes
Nothing's been written
Keeping silence
in reminiscing places


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 19 Januari 2010.

Jumat, 21 Januari 2011

Angin Tolonglah Aku Sedang Jatuh Cinta

"Aku benci angin diluar sana...!"

*

Dia keluar ruanganku. Ada apa dengannya? Apa yang terjadi sehingga angin begitu dipersalahkan? Apakah angin berhembus terlalu kencang usai hujan sesaat pagi ini?

Angin yang berhembus kencang masih menyapu wajahnya. Suatu ketika akan ia rindukan kembali saat-saat seperti itu. Hanya angin yang masih setia menyapu dan membelainya. Dia sudah lupa tentang jemari kekasihnya yang selalu menyeka air mata dipipinya. Kekasihnya telah pergi jauh. Jauh sekali. Menyisakan kerinduan itu padanya.


*

Andai aku jadi angin. Aku akan berhembus menyapu wajahnya yang dibalut bedak tipis. Seperti angin malam yang selalu membelai lentik bulu matanya. Akan pula kuciumi bibir tipisnya itu. Dan yang pasti, aku akan jadi udara yang masih dan selalu dihirupnya.

Maka hanya aku saja yang akan menyapu wajah cantik itu.



Pegangsaan Dua, Kelapa Gading. 26 Februari 2009


* judul cerita ini diambil dari bait pertama lirik lagu "Angin" milik DEWA, Album Cintailah Cinta (2002).