Rabu, 11 April 2012

Winter to Summer; 11.369 km untuk satu cinta

Pernahkah kita membayangkan berada jauh dari rumah, merasa terasing, lalu kemudian bertemu dengan seseorang yang benar-benar mencintai kita sepenuh hati. Seseorang yang sangat begitu memahami perbedaan yang membentang dalam jarak dua dimensi budaya. Seseorang yang begitu tulus menerima segenap perbedaan itu tanpa kehilangan sedikit pun perasaan sayangnya

Berada 11.369 KM dari bumi pertiwi membawa satu pengalaman baru bagi Kirana. Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional yang mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Geneva. Pengalaman itu juga yang mengantarnya pada suasana dan kawan-kawan baru. Hingga pada akhirnya menemukan satu cinta pada sosok Manu.


Jatuh cinta di negeri orang rasanya bukan hal yang mudah. Jurang perbedaan antara timur dan barat yang begitu dalam terkadang jadi penghalang untuk sebuah perasaan atas nama cinta. Berbagai ujian siap menghadang. Ruang dan waktu takkan lagi sama kala jarak membentang.

Kirana, harus merelakan perasaan yang tertinggal untuk Manu di Paris ketika waktu itu tiba. Kirana harus kembali ke Indonesia untuk melanjutkan studinya. Sementara, Manu pun hanya bisa berjanji untuk menemui Kirana. Entah kapan, Kirana memegang janji Manu untuk menemuinya di Indonesia.

Perjalanan Euro Trip dengan Manu sebelum kepulangannya ke Indonesia adalah satu-satunya hal berharga yang akan terus diingat. Dalam perjalanan itulah Kirana dan Manu mengenal lebih dalam pribadi masing-masing. Manu, yang sejak awal menaruh hati pada Kirana, akhirnya menyatakan cintanya. Sementara, Kirana yang memang jatuh cinta, menerima Manu sepenuh hati. Cinta tidak pernah salah sejak saat itu. Cinta telah menemukan jalannya. Menuju pelabuhan kecil di sudut hati Manu dan Kirana.

Perpisahan selama empat tahun semakin menimbulkan gejolak dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang hubungan mereka. Apapun usaha keduanya untuk saling melupakan tidaklah cukup. Hati mereka memang tidak sanggup lagi berbohong. Bahwa mereka masih saling mencintai.

Kedatangan Manu ke Indonesia pun tidak berpengaruh banyak bagi perjalanan cinta mereka. Pertemuan dengan keluarga Kirana pun bukan malah memperbaiki semuanya seketika, cinta mereka menjadi anasir yang rumit. Kirana, dengan segenap pertimbangannya telah memutuskan untuk mengakhiri perasaan yang terlanjur larut dalam kebahagiaannya dengan Manu. Suatu akhir yang terus menghadirkan tanya di benak Manu. Suatu akhir yang tidak pernah bagi keduanya. Kirana tidak ingin Manu kehilangan prinsipnya walaupun Manu telah meyakinkan Kirana untuk menerima segalanya: asalkan bisa selalu bersama.

Membaca debut novel dari Icha Ayu ini sama juga dengan menikmati sebagian belahan Eropa. Pembaca tidak harus benar-benar menginjakkan kaki di benua biru itu. Lewat detail-detail yang tersaji dalam cerita, pembaca dihadapkan pada penjelajahan imajinasi tentang Eropa itu sendiri. Tentang seribu cahaya di Trocadero dan Eiffel, hujan musim dingin di Geneva, suasana musim semi di Brugge, hingga pojok-pojok sunyi kota Paris. Sentuhan-sentuhan seperti detail latar cerita yang mengambil tempat pada ruang-ruang publik yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya ikut memberi warna tersendiri.

Lebih jauh, novel ini setidaknya menghadirkan jawaban-jawaban untuk takdir cinta yang tak pernah adil karena terhalang sekian banyak perbedaan. Penerimaan terhadap diri sendiri, memaknai pilihan masing-masing atas dasar saling menghargai saja tidak pernah cukup. Cinta yang terjalin atas dasar saling membutuhkan dan saling memiliki yang diuji dengan konflik-konflik yang muncul dari luar individu. Persoalan keluarga dan latar belakang budaya seringkali jadi kerikil tajam yang harus dilalui. Suatu keadaan yang sering kali dijadikan alasan untuk menyerah lalu berpisah.

Lewat novel ini, kita disadarkan bahwa apapun pilihannya cinta akan menemukan dirinya sendiri dalam pergulatan takdir. Cinta akan menemukan jalan menuju kebahagiaannya sendiri. Karena sejatinya, cinta tak akan pernah bohong saat ia memutuskan dimana akan berlabuh.


Medan Merdeka Barat, 2 April 2012.

Senin, 26 Maret 2012

Antologi Rasa



Persahabatan dan cinta adalah bumbu yang saling melengkapi. Dimana ada sahabat disana ada cinta. Kisah persahabatan empat orang sahabat karib, Keara, Harris, Ruly, dan Denise mengingatkan pada empat sahabat di Traveler's Tale. Farah, Retno, Francis, dan Jusuf. Kisah mereka pun tidak jauh berbeda. Hanya saja, empat sahabat di Antologi Rasa ini tidak mengalami cinta yang melingkar diantara sesama karakter. Keara mencintai Ruly, Ruly mencintai Denise, Harris mencintai Keara, Denise mencintai suaminya. Ada link yang putus disitu. Sedangkan, Traveler's Tale melibatkan perasaan yang saling bertautan antara tokoh-tokohnya. Farah mencintai Francis, Francis mencintai Retno, Jusuf mencintai Farah, Retno mencintai Francis tapi terhalang keyakinan.

Keara, Harris, Ruly, Denise, Panji, Dinda dan para pemeran pendukung lainnya terlibat dalam suatu kompleksitas manusia modern khas kaum urban metropolitan. Rutinitas pekerjaan dan rumitnya hubungan persahabatan ketika cinta mulai menancap pada rasa adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dihindari dan selalu menuntut untuk dijalani.

Keara, mencintai seorang Rully Wilantaga. Lelaki sempurna yang hanya ada dalam pikirannya. Sama seperti Farah Babedan, Keara menyimpan perasaannya saja tanpa mampu mengungkap satu kalimat sederhana. Sesederhana, i love you. Itu adalah hal yang mustahil. Sayangnya, Rully hanya menyimpan cintanya pada Denise. Walau Denise telah menikah.

Begitupun, Haris Risjad. Sahabat Keara yang jatuh cinta juga pada sosok Keara, sahabatnya. Semua yang Harris lakukan untuk Keara tak lain karena perasaannya. Sebagai bentuk atau perwujudan rasa sayang pada Keara yang hanya dia tahu saja. Menemani Keara untuk pindah dari panggung ke panggung di sela-sela F1 Grand Prix di Singapore, membawakan sarapan bubur ayam dan menikmatinya di mobil bersama Keara sebelum bekerja. Itu hanyalah sedikit dari wujud perasaannya.

Siapa bilang persahabatan tidak menemukan ujian atas kesetiaan seorang sahabat. Harris melakukan sebuah kesalahan dalam persahabatan yang mereka bina selama ini. Ada semacam aturan. Sahabat tidak akan meniduri sahabatnya sendiri. But, Harris just did that to Keara. Satu scene yang cukup menaikkan tensi cerita.

Keara, yang mencoba bangkit setelah memutuskan persahabatan dengan Harris, mencoba bermain-main dengan perasaannya.  Bukan untuk serius. Hanya sebagai pelepasan dan sekedar lari dengan kenyataan. Bahwa dirinya masih bisa bermain dengan Panji adalah suatu kenikmatan tersendiri. Ketika Rully tidak lagi menjadi pilihan dan hanya jadi angan semu belaka. Terlebih, ketika sahabat terbaiknya, Harris Risjad telah mengecewakannya.

Setelah melalui berbagai peristiwa takdir, cinta memang akan selalu menemukan jalannya sendiri. Denise, akan selalu dicintai suaminya. Kegigihan Harris untuk mengembalikan kepercayaan Keara membuahkan hasil yang sempurna. Semua orang akan kembali pada takdirnya masing-masing. Seperti Rully, yang entah sadar atau tidak bahwa cintanya pada Denise sudah gagal sejak pertama kali bertemu. Seperti cinta Komako pada Shimamura*.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membuka halaman awal Antologi Rasa, pikiran saya langsung merujuk buku Traveler's Tale karya kolaboratif empat penulis (@adhityamulya , @istribawel , Alaya Setya, Iman Hidajat). Kisah empat orang sahabat yang saling mencintai namun sama-sama terlalu takut untuk mengungkapkannya. Suatu kenyataan yang sangat realita pun ternyata mampu hadir dalam ranah fiksi. Suatu kenyataan yang justru menyimpan core values dari Antologi Rasa. Ika Natassa sangat berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dalam ceritanya, sendirian. Pembaca tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya seorang penulis menciptakan empat tokoh berbeda dalam satu kepalanya saja. Termasuk detail cerita menjadi nilai tambah dalam membangun kerangka dan konteks cerita dalam imajinasi pembaca.

Melalui latar cerita berbumbu gaya hidup dan tren kosmopolis urban metropolitan, Ika Natassa berhasil menggambarkan detail cerita menjadi lebih hidup dan meriah. Seakan kita semua mengalaminya sehari-hari. Tidak salah bila Antologi Rasa seakan selalu 'memaksa' pembacanya untuk membuka halaman demi halaman. Selalu penasaran untuk mengetahui kelanjutan cerita sampai akhir. Menikmati sketsa adegan-adegan cerita yang filmis ditambah iringan lagu-lagu dari The Cardigans dan John Mayer semakin menambah kemeriahan rasa.

Saya pribadi lebih menyukai detail-detail dalam cerita yang membuat buku ini layak mendapatkan tag sebagai 'page turner'. Diantaranya adalah pada saat Harris dan Keara berangkat ke Singapore saat berlangsungnya Singapore F1 Grand Prix. Maklum, sampai saat ini saya masih jadi Fans McLaren Mercedes. Semua detail disana cukup membuat saya tersenyum sendiri saat membaca kelakuan mereka berdua disana. Scene favorit saya adalah menjelang ending cerita. Ketika Harris memeluk Keara di mobil usai membuatnya menangis karena pertanyaannya pada Keara. tentang kenapa Keara tidak berterus terang pada Rully.

Persahabatan tetaplah suatu entitas sederhana yang kolektif, dimana individu yang terlibat didalamnya, dengan segenap kompleksitasnya, turut berbaur memberi warna dalam ikatan kebersamaan. Mungkin terselip cinta didalamnya. Tetapi, itu bukan sumber masalah utamanya. Jujur terhadap perasaan sendiri, hal sederhana lainnya yang justru sulit terungkap. Antologi Rasa, setidaknya mengajarkan kita bagaimana memaknai cinta dan berdamai dengan segenap perasaan lainnya dalam ikatan persahabatan.

Judul: Antologi Rasa
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Tebal: 328 hal.
Genre: Novel Pop

Pharmindo-Paninggilan, 14 Maret 2012.

*baca novel "Snow Country" karya Yasunari Kawabata.

Selasa, 13 Maret 2012

Kereta Tidur


"Aku lebih takut pada hidup yang seperti lotre. Hidup adalah beratus-ratus mungkin. Mati, itu sesuatu yang pasti." - Hal. 43


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membaca karya Avianti Armand untuk pertama kalinya sungguh menghadirkan pengalaman yang berbeda dalam memaknai sepuluh cerpen yang disajikan Kereta Tidur. Kumpulan cerpen yang habis dibaca sekali duduk ini mengandung kekayaan terpendam dalam setiap rangkaian kata. Sederhana, lugas, dan banyak mengandung unsur kejutan. Mengingatkan pada kumpulan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, dimana imajinasi menjadi bahan bakar utama cerita sehingga tidak pernah kehilangan kejutan yang menakar pengalaman pembaca.

Agaknya, imajinasi pula yang membuat Kereta Tidur menjadi lebih hidup. Cerita-cerita didalamnya dituliskan dengan kekuatan fiksi imajinatif sehingga mengundang pemaknaan baru atas sebuah cerita. Sekalipun cerita-cerita itu adalah kenyataan dan realitas yang biasa ditemui sehari-hari.

Hal-hal yang mudah dijumpai seperti konflik cinta, masalah keluarga, pencarian diri melalui pertanyaan atas eksistensi manusia tersaji unik, indah, dan mengusik. Nilai-nilai kehidupan yang sangat biasa hadir dalam kenyataan sehari-hari. Bahkan telah menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari yang biasa dialami.

Dari segi penceritaan, kejutan yang tak pernah bisa diduga adalah satu bagian lain yang akan menguji pengalaman pembaca. Unsur-unsur kejutan dalam cerpen ini mencirikan gelombang baru dalam kepenulisan di Indonesia. Ketika konteks berpadu dalam realitas kenyataan sehari-hari dan dituliskan kembali dengan proses fiksi yang fiktif dan imajinatif. Tanpa sedikit pun kehilangan muatan pesan dan kesan yang ingin ditampilkan si penulis dalam karyanya.

Cerita yang menjadi favorit saya adalah cerpen berjudul "Tentang Tak Ada". Ditulis dengan sketsa penggalan adegan-adegan terpisah tetapi masih dalam batas keutuhan cerita. Isu tentang cinta, romantisme, dan perselingkuhan masih jadi tren penulisan untuk menggugat realitas kaum urban. Lainnya, kutipan tembang Jawa "Ilir-ilir" yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga dan diselipkan dalam cerita ikut memperkuat konteks cerita. Lompatan pengalaman dan alur cerita dari konflik cinta hingga kebudayaan membawa suatu pemaknaan baru atas sebuah cerita pendek yang utuh.

Avianti Armand, peraih cerpen terbaik versi Kompas tahun 2009 dengan cerpen "Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian", dalam kumpulan cerpen kedua miliknya ini mampu mengolah rasa dalam horison imajinasi. Menakar pengalaman pembaca lewat interaksi cerita-cerita yang dituliskan dalam berbagai konteks dan dimensi. Sehingga, tidak pernah kehabisan ruang jelajah untuk menemukan makna-makna yang tersirat dalam sepuluh cerita yang saling berkejaran.

Judul: Kereta Tidur
Penulis: Avianti Armand
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Tebal: 129 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen

Pharmindo, 11 Maret 2012.
Ditemani semilir hawa dingin Bandung

Jumat, 24 Februari 2012

Books That Have Shaped Your Life

Terinspirasi dari tulisan Rene Suhardono dalam pojok rubrik di sebuah harian nasional, ada beberapa buku yang secara tidak langsung ikut berpengaruh dan berkontribusi terhadap pembentukan kehidupan yang sekarang sedang saya jalani. Utamanya, dalam hal karir dan pekerjaan. Ada beberapa koleksi buku yang memang masuk dalam kriteria tersebut. Sebut saja, Komunikasi Organisasi misalnya. Buku wajib zaman kuliah di kampus Jatinangor tercinta, hanya untuk memahami bagaimana model dan implementasi komunikasi di lingkungan organisasi. Ada juga aneka buku manajemen ringkas yang membahas bagaimana memanage suatu pekerjaan di lingkungan lembaga/perusahaan. Misalkan, “Change!” karya Rhenald Kasali, Jack Welch on Management, What the Best CEOs Knows, Serial Buku Manajemen MarkPlus, dkk.
Buku lama berjudul “Manajemen Perusahaan” yang sudah lama sekali saya tidak sentuh lagi adalah buku pertama yang saya coba adopsi ke dalam manajemen diri, terutama dalam hal “leadership” atau kepemimpinan. Sampai kemudian saya menemukan buku lainnya, seperti “Setengah Isi, Setengah Kosong” dan “Kerja Oke, Hasil Santai”. Kedua buku itu, sejauh penilaian saya sampai saat ini cukup memberikan sudut pandang dalam membentuk perilaku kerja dalam karir pribadi.

Setengah Isi, Setengah Kosong

Terlepas dari pemaknaan judul, buku ini berisi kumpulan cerita (saya lebih suka menyebutnya hikmah) dimana pembaca diharapkan mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah yang dituturkan dalam buku. Ditulis oleh Parlindungan Marpaung, seorang psikolog yang telah berpengalaman dalam menangani berbagai macam kasus psikologi industri.

Buku ini dibaca pertama kali sekitar medio 2005, waktu masih berstatus mahasiswa sehingga dengan wawasan kemahasiswaan yang masih terbatas saya hanya mampu mempelajari beberapa hal yang dibutuhkan dalam hubungan inter-relasi di pekerjaan. Pun ketika sempat bergabung dalam organisasi kecil (maksudnya tidak punya banyak staf) ada beberapa pengalaman dalam buku itu yang saya alami. Barulah ketika saya bergabung dengan sebuah company yang melibatkan banyak kepala untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dan meraih tujuan bersama, hampir semua hikmah dalam buku itu saya alami.
Saya rasakan sendiri manfaat dari buku itu. Saya mempunyai langkah-langkah preventif guna mengantisipasi hambatan dan menyiapkan langkah panjang karir yang saya rintis perlahan.

Kerja Santai, Hasil Oke
Kerja Santai, Hasil Oke versi bahasa Inggris
Berawal dari hadiah suatu kuis di radio, saya memilih buku ini. Karena memang tidak ada pilihan lain. Lagipula, judulnya tidak terlalu mengecewakan. Kerja Santai, Hasil Oke. Sepintas terdengar seperti kicauan para dedengkot multi-level marketing dan cukup mendemotivasi pekerja yang masih merangkak dalam karirnya.
Buku ini saya dapat sekitar medio 2007 (lagi-lagi masih berstatus sebagai mahasiswa). Dengan bekal pengalaman seadanya di organisasi kecil diatas, saya mulai membandingkan antara isi buku dengan realita pengalaman yang telah saya alami. Hasilnya, tidak terlalu mengecewakan.
Ditulis oleh Corinne Maier, seorang ekonom di PLN-nya Perancis, buku ini berhasil mengungkap mengapa pekerjaan berubah menjadi suatu hal yang membosankan dan tidak ada pengaruhnya terhadap kesejahteraan pribadi. Tentu, ini sangat bertentangan dengan buku-buku motivasi khas Amerika yang menekankan pada motivas untuk produktivitas. Sehingga, dianggap sebagai buku provokatif yang cukup menuai kontroversi.
Lebih jauh, diluar semua kontroversi, buku ini tetap mampu dijadikan acuan pengembangan diri karena menggambarkan realita yang sesungguhnya. Realita yang tak mampu diungkapkan secara gamblang oleh kaum pekerja yang selalu dituntut alasan produktivitas. Dengan begitu, kita dibuat mampu melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda tanpa kehilangan esensi.
Quote yang selalu saya ingat dari buku ini adalah: “Anda Hanyalah Pion Kecil.” Jadi, bila anda adalah pendatang baru dalam dunia kerja, mohon berhati-hati. Tanpa keluasan hati, anda hanya akan menerima pesan yang tidak hanya dekonstruktif untuk karir tetapi juga efek demotivasi yang yang perlahan menggerogoti jiwa dan semangat anda. Be positive.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 5 Februari 2012.

Minggu, 05 Februari 2012

Tentang Aku, Kamu, dan Rasa dalam Empat Musim Cinta

Judul: Empat Musim Cinta: tentang aku, kamu, dan rasa
Penulis: Adhitya Mulya and friends
Penerbit: GagasMedia
Tahun: 2010
Tebal: vi + 174 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen
Delivery date: December 2010


Ada yang selalu dinanti dari setiap karya penulis. Apalagi kalau penulis itu sudah pernah berhasil membangun reputasi dengan meraih predikat “Best Seller”. Entah itu kekhasan rasa dalam setiap tulisan yang dihasilkan atau hanya sekedar perasaan kangen untuk membaca karya selanjutnya. Semenjak saya mulai follow Adhitya Mulya di twitter (@adhityamulya) saya mendapat banyak informasi yang lebih bersifat personal. Sehingga, saya bisa tahu juga bahwa penulis ini menjual sendiri karyanya. Bedanya dengan di toko buku, setiap pembeli akan mendapat tanda tangan asli dari penulisnya. Sebuah kebanggan yang tak terhingga bagi seorang penggemar. Mungkin 100 tahun lagi buku bertandatangan asli ini akan jadi barang langka, antik, unik dan mahal harganya.

Saya tertarik membaca buku ini karena judulnya. Empat musim cinta. Selama ini kita hanya mengenal empat musim cuaca. Bukan cinta. Namun, saya kira cuaca pun masih ada hubungan dengan cinta. Cuaca layaknya cinta adalah sesuatu yang bisa diprediksi sebelumnya tetapi membutuhkan pengalaman tersendiri untuk merasakan keadaan yang sebenarnya. Itu menurut tafsir saya karena selama ini saya pun belum tahu alasan dibalik pemilihan judul buku ini.
Sayangnya, saya belum mampu menuliskan sepatah dua patah kata untuk sekedar menerjemahkan isi buku ini menurut tafsir saya. Saya dilanda ketakutan luar biasa apabila ternyata salah dalam mendefinisikan makna Empat Musim Cinta. Ketakutan yang semakin saya sadari semakin tidak beralasan.

Ya tabe kahayu. Aishiteru. Ti amo. Wo ai ni. Mi aime jou. Volim te. Ik hou van jou. Ek hef jou lief. Mi amas vin je. Ich liebe dich. Te dua ai.  Begitulah cinta menyebut namanya dalam berbagai bahasa.

Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini, apalagi buku ini termasuk makanan ringan bagi penikmat sastra cerpen. Cerpen dengan rasa dan bumbu cinta didalamnya. Fenomena cinta yang disajikan para penulis ditafsirkan dalam makna yang lebih general. Tidak sebatas percintaan dan kasih sayang dua manusia semata. Cinta bisa dimaknai secara luas karena pada hakikatnya cinta ada dalam setiap jejak langkah manusia.
Aura cinta sudah terasa sebelum membaca dan merasakan cerita cinta dari setiap cerpenis. Cinta menemukan jalannya sendiri. Cinta memiliki bahasanya sendiri.  Bagai empat musim yang selalu berganti begitu pula cinta. Cinta memiliki musimnya sendiri. Ia bisa hadir setiap hari dalam setiap jiwa yang merindukannya. Pengalaman cinta yang berbeda dari masing-masing penulis membuat kumpulan tulisan ini terasa lebih hidup dan semarak. Perasaan kehilangan dan bahagia menyublim dalam rasa.



Pharmindo, 31 Desember 2011.

9 dari Nadira




Bagaimanakah hubungan antara masa lalu dengan masa kini yang menghadirkan gejolak dalam diri seseorang?

Catatan Seorang Kritikus Dadakan

Agak sedikit mengusik ketika membaca 'perdebatan' antara yang mengelompokkan buku ini kedalam kumpulan cerpen dan yang satunya lagi kedalam novel. Perdebatan memang tidak dapat dihindarkan dalam penafsiran buku ini mengingat keunikannya. Memang lumayan mengejutkan ketika mendapatkan kembali sebuah cerpen yang pernah tampil sendiri sebagai sebuah cerpen lalu kemudian menjadi bagian dalam buku ini. Dari situlah saya sedikit memahami isu-isu yang menjadi bahan 'perdebatan' terutama mengenai batasan-batasan antara novel dan kumpulan cerpen.

Apabila 9 Dari Nadira ini dikelompokkan ke dalam genre bacaan sebagai kumpulan cerpen maka tak ada salahnya. Karena, dari bentuknya kesemua cerita disajikan seperti tulisan cerpen pada umumnya. Sedangkan, bila pembaca ingin menganggap buku ini sebagai novel maka hal itu sah-sah saja. Jalinan cerita memang menyajikan suatu sekuensial yang mengikat keseluruhan fragmen cerita.

Bagi saya pribadi, agaknya karya dari Leila S. Chudori ini menjadi semacam refleksi atas kehidupan pribadi penulisnya. Potret kehidupan seorang jurnalis berhasil digambarkan sedemikian rupa lengkap dengan berbagai konflik dan pertentangan antar tokoh. Entah itu terjadi pada Nadira  dengan orang lain maupun dirinya sendiri. Sehingga tidak berlebihan bila berbagai macam situasi yang mungkin pernah dialami dan dirasakan sendiri oleh penulisnya mampu menghasilkan fragmen-fragmen yang kemudian berpadu menjadi satu kumpulan karya yang mengagumkan dan eksepsional.

Judul: 9 Dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun: 2009
Tebal: xi + 270 hal.
Genre: Kumpulan Cerita

 
Pharmindo-Teluk Buyung-Medan Merdeka Barat, September 2011-Januari 2012.

Kamis, 05 Januari 2012

Tentang Kita


Kalau syarat untuk mencintaimu adalah seperti yang Lea bilang, aku pasti sudah jadi kekasih terbaik: aku tahu nama tengahmu, aku juga tahu tanggal lahirmu.


Lagipula, tak ada syarat istimewa bagimu untuk memiliki hati dan segenap jiwaku. Cukup bagiku hadirmu: membawa cinta selalu.

Barangkali, sambil mengendap makna dalam lirik Bee Gees kau kan temukan makna berartinya diriku.

Ingat, aku takkan pernah meletakkan cinta pada bait yang paling suci hingga jadi rahasia yang justru tak mampu kau ungkap dengan kata.

 

Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 2 Januari 2012