Kamis, 08 Juli 2010

Setangkai Mawar di Dahan Lain (Cinta Monyet #2)

Setiap ku memandangmu merana hatiku... Terulang kisah rupa wajah sayu...*)

Sejak saya menulis tentang E di edisi perdana, tiba-tiba ingatan saya tentang masa-masa itu kembali mengalir begitu saja memenuhi benak ini. Sehingga saya harus menata kembali ingatan yang tidak seragam itu. Mengingat kembali tentang E berarti saya wajib mengenang juga sebuah nama. Nama yang kurang lebih sama dengan saya. Hanya saja, nama perempuan yang ini harus ditambah lagi satu huruf vokal dibelakangnya.

Entah sejak kapan saya memperhatikan A, anak perempuan berkacamata di SD tetangga itu. A SD I, saya SD II. Saya tidak tahu tepatnya namun harus saya akui saya memang diam-diam memperhatikannya. Dari kejauhan seringkali saya mengintip keluar jendela. Terutama kalau sekolah pagi karena kami akan bertukar kelas sehingga A pasti sedang menunggu diluar. Maka dari itu, disela-sela keinginan bersama E, kadang terlintas A begitu saja. Saya hanya menikmati kisah ini sendirian. Sebisa mungkin saya pendam supaya hanya saya dan Tuhan saja yang tahu.

Sepanjang pengamatan saya, A seringkali duduk sendirian menunggu kelas bubar. Jarang sekali A berbaur dengan teman sekelasnya. Memang ada beberapa orang yang sering dekat bersamanya, namun itu tidak banyak. Buat saya itu tidak menjadi soal yang penting saya bisa lebih fokus bila suatu saat tidak menemukannya di halaman sekolah. Asumsi saya waktu itu, A adalah seorang penyendiri, loner, solitary minded. Untuk ukuran anak SD saat itu ternyata hal seperti itu bisa jadi desas-desus tanpa sebab.


Saya menemukan kenyataan yang kurang mendukung perasaan saya. Sebab itu pula saya tidak bisa terang-terangan membiarkan perasaan saya untuk A karena E masih terlalu menarik untuk dilepas begitu saja. Dari percakapan dengan teman-teman, saya menyimpulkan bahwa mereka mempunyai pandangan lain terhadap A. Kasarnya, A mengidap suatu kelainan dan kata mereka juga itu bisa tercermin dari kacamatanya. Saya tidak percaya itu. Namun, dorongan untuk mengikuti omongan mereka terlanjur lebih besar untuk menghindari fakta bahwa saya menaruh perhatian pada A.

Padahal, untuk standar saya waktu itu, A tidaklah terlalu mengecewakan. Tidak terlalu tinggi bahkan terkesan pendek dengan tubuhnya yang mungil. Memakai tas punggung warna pink atau biru muda. Rambutnya panjang terurai, kadang dibuat buntut kuda sehingga menyerupai Deo Mi. Terakhir, bagian yang paling saya suka adalah fakta bahwa A berkacamata. Suatu kebiasaan yang kelak belum bisa saya hindari sampai saya menemukan A yang lain.

Keinginan saya untuk sekedar bisa mengobrol atau hanya sekedar berbasa-basi harus saya kubur pelan-pelan. Saya masih tetap menjaga rahasia terpendam ini. Terlebih lagi jangan sampai ada anggapan bahwa saya mengalihkan perhatian pada A hanya karena E terlanjur tidak mau bicara apa-apa lagi pada saya-bahkan untuk tugas kelompok sekalipun.

Ada banyak kesempatan supaya saya bisa kenal dengan A. Sepulang sekolah sambil menuggu bel masuk atau saat les malam di sekolah dimana tidak ada lagi hijab antara anak SD I dan SD II. Sejak saat itu, setiap kali les malam digelar saya lebih sering membuktikan asumsi teman-teman saya itu. She’s not a loner tapi kenyataan bahwa tidak banyak orang yang dekat sebagaimana teman pada biasanya juga membuat saya goyah. Apakah betul A mengidap suatu kelainan, penyakit aneh misalnya. Saya belum bisa membuktikannya karena saya pun tidak yakin A seperti itu.

*

Biarlah aku menyimpan bayangmu
Dan biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih, namun tetap selalu ada
Disini....**)

Selebihnya, yang tersisa dari A hanyalah memori tentang sebuah nama. Sebuah nama yang selalu sendiri, jalani hari dalam keriangan masa anak-anak yang akan segera hilang. Sebuah nama yang entah sama berartinya dengan E. Tidak ada perpisahan dengan A. Bahkan dulu, saya tidak mau bertanya pada temannya yang lain, yang satu kelas dengan saya di SMP. Tetapi, seiring berjalannya waktu, kalau saat ini saya masih menginginkannya saya akan lebih tidak peduli lagi pada omongan orang tentang A.



Paninggilan, 8 Juli 2010. 21.46

*) dari lirik lagu “Bila Saya”, dinyanyikan oleh Kahitna, album Permaisuri (2000)
**) dari lirik lagu “Biar Menjadi Kenangan”. Dinyanyikan oleh Reza Artamevia dan Masaki Ueda
^judul tulisan diadaptasi dari judul yang sama di blog selendang warna

Tidak ada komentar: